Anda di halaman 1dari 3

Insecticide Resistance in the Dengue Vector Aedes aegypti from Martinique: Distribution, Mechanisms and Relations with Environmental

Factors

Demam dengue adalah sebuah penyakit viral paling penting yang ditularkan nyamuk di Pulau Martinique. Virus yang bertanggung jawab dalam demam dengue ditransmisikan oleh Aedes aegypti, nyamuk rumah yang mempunyai kebiasaan menggigit saat siang hari. Metode paling efektif pada pencegahan penyakit ini selama ini adalah pengendalian vektor melalui berbagai cara kimiawi maupun biologis. Sayangnya resistensi terhadap insektisida telah ditemukan di pulau itu dan barubaru ini terbukti secara signifikan menurunkan keampuhan dari intervensi secara kontrol vektor. Pada studi ini, peneliti menyelidiki penyebaran resistensi dan mekanisme yang menyebabkannya pada 9 populasi Ae. aegypti. Pendekatan multifaktoral statistik digunakan untuk menyelidiki korelasi antara tingkatan resistensi insektisida, mekanisme-mekanisme yang berhubungan dan faktor-faktor lingkungan yang mencirikan populasi-populasi nyamuk tersebut. Uji biologis mengungkapkan resistensi tingkat tinggi terhadap temephos dan deltamethrin dan suspektibilitas terhadap Bti pada 9 populasi yang di uji. Uji biokimia menunjukkan peningkatan aktivitas enzim detoksifikasi monooxygenase, karboksilesterase dan glutathione S-transferasepada sebagian besar populasi. Skrining molekuler untuk mutasi situs target insektisida umum, menunjukkan adanya mutasi "knock-down resistance" V10161 Kdr dengan frekuensi tinggi (.87%). RT-PCR kuantitatif menunjukkan keterlibatan potensial dari bebrrapa kandidat gen detoksifikasi pada resistensi insektisida. Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis/PCA) dilakukan dengan variabel-variabel yang mencirikan Ae. aegypti dari Martinique dibolehkan untuk menggarisbawahi

hubungan potensial antara penyebaran resistensi dan variabel lainnya seperti praktek agrikultur, intervensi pengendalian vektor dan urbanisasi. Resitensi terhadap insektisida tersebar namun tidak secara merata di Martinique. Pengaruh faktor lingkungan dan operasional terhadap perkembangan resistensi dan mekanismenya akan didiskusikan pada studi ini.

Demam Dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat besar di Pulau Martinique dan terjadi dalam pola endemis-epidemis. Dekade terakhir menjadi saksi kebangkitan dramatis virus ini dengan 5 outbreak Dengue besar-besaran dan lebih dari 111.000 kasus yang dilaporkan di pulau dengan 400.000 penduduk. Karena sampai sekarang tidak ada penanganan spesifik dan vaksin yang efektif tersedia, kontrol vektor terhadap Aedes aegypti tetap menjadi solusi paling efektif untuk mencegah transmisi penyakit dengue. Manajemen lingkungan, program edukasional dan eliminasi mekanis dari habitat perkembangbiakan telah secara terus menerus dilakukan namun saat ini, penggunaan agen kimia dan biologis menjadi metode utama dalam mengurangi insidensi penyakit ini. Sayangnya, program kontrol vektor menghadapi tantangan operasional dengan muncul dan berkembangnya resistensi insektisida pada vektor dengue, khususnya Ae. aegypti. Di Martinique, resistensi terhadap organofosfat (OPs) dan pyrethroids (PYRs) telah dilaporkan sejak tahun 1980 dan 1990-an, dan resistensi ini telah memiliki dampak negatif pada keampuhan intervensi dengan cara kontrol vektor. Studi molekuler yang dilakukan Marcombe menunjukkan keterlibatan dua mekanisme resistensi berbasis metabolik dan situs target pada populasi liar Martinique bersifat sangat resisten terhadap OPs dan PYRs. Ujia biokimia mengungkap peningkatan signifikan aktivitas dari sitokrom P450 monooksigenase (P450s), glutathione S-transferase (GSTs) dan karboksi/kolinesterase (CCEs) pada fase larva dan dewasa. Uji mikro dan percobaan RT-qPCR kuantitatif menunjukkan over-transkripsi yang signifikan dari beberapa gen detoksifikasi pada fase larva dan dewasa.

Penggunaan besar-besaran dari famili insektisida berbeda beda pada kontrol vektor sejak tahun 1950an kemungkinan telah berkontribusi pada sifat resistensi insektisida pada nyamuk. Di Pulau Martinique, temephos (Abate) telah digunakan selama bertahun tahun untuk pengendalian larva (ditinggalkan pada tahun 2009 untuk menghormati legislasi biosida Eropa; European Commision Environment Biocidal Products, 1998) dan sekarang Bacillus thuringiensis var israelensis (Bti, Vectobac) merupakan satu satunya insektisida yang digunakan. Penanganan semprot dengan fogger termal baik yang diletakkan di kendaraan maupun portabel (penggunaan luar dan dalam, dalam urutan itu) diimplementasikan selama periode inter-epidemik (contohnya saat indikator entomologis tinggi dilaporkan) dan selama outbreak untuk secara cepat membunuh nyamuk dewasa yang terinfeksi. DDT dan beberapa OPs (contohnya malathion, fenitrothion) digunakan sejak tahun 1950an namun digantikan oleh PYRs pada awal 1990an karena bersifat mematikan dengan cepat dengan tingkat toksisitas terhadap mamalia yang rendah. Saat ini, deltamethrin (KOthrine 15/5) dan pyrethrins alami tersinergi (AquaPy) digunakan dalam kontrol nyamuk dewasa. Sebagai tambahan, Martinique adalah sebuah pulau dengan praktek agrikultur yang intensif (terutama tebu dan pisang) dimana pestisida dalam jumlah besar telah digunakan untuk perlindungan tanaman. Pestisida yang digunakan dalam agrikultur diantaranya organochlorines (OCs), OPs dan carbamates. Akhir akhir ini, Bocquene dan Franco melaporkan penyebaran luas kontaminasi sungai dan tanah di Martinique dengan pestisida dan khusunya dengan kadar tinggi OCs chlordecone dan lindane. Ekspos konstan populasi nyamuk terhadap berbagai pestisida ini dihubungkan dengan urbanisasi yang meningkat dapat berujung pada peningkatan toleransi terhadap pestisida.