Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DEMOKRASI

Oleh : Fildzah Badzlina (125070300111004) Nike Nurjannah (125070300111015) Andayu Nareswari (125070300111049)

Universitas Brawijaya 2012

I.

Demokrasi dan pendidikan demokrasi A. Pengertian Demokrasi i. Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi tak langsung). ii. Istilah demokrasi diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat). iii. Istilah demokrasi berasal dari bahasa Yunani demos artinya rakyat dan kratein artinya pemerintah. Secara sederhana, demokrasi berarti pemerintahan oleh rakyat, dalam hal ini kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat. iv. Menurut Abraham Lincoln demokrasi adalah pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. B. Macam-macam Demokrasi i. DEMOKRASI LIBERAL Demokrasi Liberal adalah suatu demokrasi yang menempatkan kedudukan badan legislatif lebih tinggi dari pada badan eksekutif. Kepala pemerintahan dipimpin oleh seorang Perdana Menteri. Perdana menteri dan menteri-menteri dalam kabinet diangkat dan diberhentikan oleh parlemen. Dalam demokrasi parlementer Presiden menjabat sebagai kepala negara. Demokrasi Liberal sering disebut sebagai demokrasi parlementer. Di Indonesia demokrasi ini dilaksanakan setelah keluarnya Maklumat Pemerintah NO.14 Nov. 1945. Menteri bertanggung jawab kepada parlemen. Demokrasi liberal lebih menekankan pada pengakuan terhadap hak-hak warga negara, baik sebagai individu ataupun masyarakat. Dan karenanya lebih bertujuan menjaga tingkat represetansi warganegara dan melindunginya dari tindakan kelompok atau negara lain. Ciri-ciri demokrasi liberal: 1. Kontrol terhadap negara, alokasi sumber daya alam dan manusiadapat terkontrol 2. Kekuasaan eksekutif dibatasi secara konstitusional, 3. Kekuasaan eksekutif dibatasi oleh peraturan perundangan, 4. Kelompok minoritas (agama, etnis) boleh berjuang, untuk memperjuangkan dirinya. ii. DEMOKRASI KOMUNIS Demokrasi Komunis adalah demokrasi yang sangat membatasi agama pada rakyatnya, dengan prinsip agama dianggap candu yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran yang rasional Demokrasi komunis muncul karena adanya komunisme. Awalnya komunisme lahir sebagai reaksi terhadap kapitalisme di abad ke-19, yang mana mereka itu mementingkan

individu pemilik dan mengesampingkan buruh. Komunisme adalah ideologi yang digunakan partai komunis di seluruh dunia. Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata. Komunisme sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya komunisme juga disebut anti liberalisme. Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan proletar, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil jika bernaung di bawah dominasi partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai thinktank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi "tumpul" dan tidak lagi diminati. Masyarakat sosialis-komunis mendefinisikan rakyat sebagai lapisan rakyat yang menurut mereka, adalah rakyat miskin dan tertindas di segala bidang kehidupan. Rakyat miskin (kaum proletar dan buruh) akan memimpin revolusi sosialis melalui wakil-wakil mereka dalam partai komunis. Kepentingan yang harus diperjuangkan bukanlah kemerdekaan pribadi. Bahkan, kemerdekaan pribadi menurut masyarakat sosialis-komunis harus ditiadakan karena satu-satunya kepentingan hanyalah kepentingan rakyat secara kolektif, yang dalam hal ini diwakili oleh partai komunis. Dengan demikian masyarakat sosialis-komunis, juga mengakui kedaulatan rakyat. Mereka pun menjunjung tinggi demokrasi, yang dikenal sebagai demokrasi komunis. 1. Komunis murni melarang : a. Adanya kepercayaan kepada Tuhan YME, b. Membenci kelompok intelektual dan cendekiawan. c. Mengagung-agungkan kelompok pekerja, buruh dan petani. iii. DEMOKRASI PANCASILA Demokrasi Pancasila adalah paham demokrasi yang bersumber kepada kepribadian dan filsafat bangsa Indonesia yang perwujudannya seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. 1. DASAR Demokrasi Pancasila Kedaulatan Rakyat (Pembukaan UUD 45) Negara yang berkedaulatan - Pasal 1 ayat (2) UUD 1945. 2. MAKNA Demokrasi Pancasila Keikutsertaan rakyat kehidupan bermasyarakat dan kehidupan bernegara ditentukan peraturan perundang-undangan. Di Indonesia, Demokrasi Pancasila berlaku semenjak Orde Baru. Demokrasi pancasila dijiwai, disemangati dan didasari

nilai-nilai pancasila. Dalam demokrasi Pancasila Rakyat adalah Subjek demokrasi, yaitu rakyat sebagai keseluruhan berhak ikut serta aktif menentukan keinginan-keinginan dan juga sebagai pelaksana dari keinginan-keinginan itu. Keinginan rakyat tersebut disalurkan melalui lembaga-lembaga perwakilan yang ada yang dibentuk melalui Pemilihan Umum. Di samping itu perlu juga kita pahami bahwa demokrasi Pancasila dilaksanakan dengan bertumpu pada: a. demokrasi yang berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa; b. menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia; c. berkedaulatan rakyat; d. didukung oleh kecerdasan warga negara; e. sistem pemisahan kekuasaan negara; f. menjamin otonomi daerah; g. demokrasi yang menerapkan prinsip rule of law; h. sistem peradilan yang merdeka, bebas dan tidak memihak; i. mengusahakan kesejahteraan rakyat; dan j. berkeadilan sosial. C. Pendidikan Demokrasi dan Demokratisasi Pengakuan terhadap hak asasi setiap individu anak bangsa untuk menuntut pendidikan pada dasarnya telah mendapatkan pengakuan secara legal sebagai-mana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 (1) yang berbunyi bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Oleh karena itu seluruh komponen bangsa yang mencakupi orang tua, masyarakat, dan pemerintah memiliki kewajiban dalam bertanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan. Mengenai tanggung jawab pemerintah secara tegas telah dicantumkan di dalam UndangUndang Dasar 1945 pasal 31 ayat (3) yang menyatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menye-lenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Terkait dengan pernyataan tersebut, sejak tanggal 8 Juli 2003 pemerintah telah mengesahkan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menggantikan Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 yang dianggap sudah tidak memadai lagi. Pembaharuan Sistem Pendidikan Nasioanal dilakukan untuk memperbarui visi, misi, dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tersebut secara tegas memperkuat tentang amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 tentang pendidikan. Program wajib belajar secara menyeluruh pada level pendidikan dasar di Indonesia merupakan keputusan politik yang tak dapat diabaikan. Asumsi

yang mendasari pentingnya keputusan politik tersebut, secara legal formal tertuang dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 pasal 6 ayat (1) yang menyatakan bahwa :Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Hal ini penting sebagai suatu batas minimal bagi seseorang agar dapat hidup secara efektif, efisien dan produktif di dalam masyarakat. Melalui wajib belajar sembilan tahun berarti bahwa semua warga negara yang berumur 9-15 tahun akan dipersiapkan sedemikian rupa melalui pendidikan untuk kelak menjadi warga negara yang dapat memainkan perannya secara terbuka dan demokratis. Mengingat strata kelompok ini cukup besar dan cenderung bertambah, maka kehadirannya menjadi penting untuk diperhitungkan. Demokratisasi pendidikan merupakan suatu kebijakan yang sangat didamba-kan oleh masyarakat. Melalui kebijakan tersebut diharapkan peluang masyarakat untuk menikmati pendidikan menjadi semakin lebar sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki. Jurang pemisah antara kelompok terdidik dan belum terdidik menjadi semakin terhapus, sehingga informasi pembangunan tidak lagi menjadi hambatan. Ungkapan pendidikan untuk semua dan semuanya untuk pendidikan diharapkan bukan sekedar wacana tetapi sudah harus merupakan komitmen pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkannya.Dengan demikian isu tentang besarnya putus sekolah, elitisme, ketidakterjangkauan dalam meraih pendidikan, dan seterusnya dapat terhapus dengan sendirinya. II. Proses demokrasi menuju masyarakat madani Masyarakat madani (civil society) merupakan wujud masyarakat yang memiliki keteraturan hidup dalam suasana perikehidupan yang mandiri, berkeadilan sosial, dan sejahtera. Masyarakat madani mencerminkan sifat kemampuan dam kemajuan masyarakat yang tinggi untuk bersikap kritis dan partisipasi dalam menghadapi berbagai persoalan sosial. Civil society terbentuk dari kelompok-kelompok kecil dari luar lembaga negara dan lembaga lain yang berorientasi kekuasaan. Sebagai sebuah komunitas, posisi masyarakat madani berada di atas keluarga dan di bawah negara. Jadi, jika diandaikan bahwa kelompok terkecil dalam masyarakat adalah keluarga dan kelompok terbesr adalah negara, maka civil society berada diantara keduanya. Bentuk masyarakat madani dapat kita perhatikan pada kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat. Organisasi-organisasi seperti organisasi kepemudaan, organisasi perempuan, atau organisasi profesi adalah bentuk nyata masyarakat madani. Di Indonesia organisasi semacam itu sering disebut dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) atau juga lembaga swadaya masyarakat (LSM). Organisasi-organisasi tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut : i. Mandiri dalam hal pendanaan (tidak tergantung kepada negara) ii. Swadaya dalam kegiatannya (memanfaatkan berbagai sumber daya di lingkungannya) iii. Bersifat memberdayakan masyarakat dan bergerak dibidang sosial iv. Tidak terlibat dalam persaingan politik untuk merebut kekuasaan

v. Bersifat inklusif (meliputi beragam kelompok) dan menghargai keragaman. Bentuk sederhana masyarakat madani dapat dilihat antarauji lain melalui budaya gotong royong yang mencerminkan kemandirian dan partisipasi masyarakat. Organisasi-organisasi soaial berperan penting dalam membentuk masyarakat yang kuat, yaitu masyarakat yang mandiri, memiliki pamahaman yang tinggi akan persoalan sosial, dan turut aktif dalam berbagai aktivitas sosial. Untuk itu perlu dibentuk kesadaran sosial yang tinggi dikalangan masyarakat agar mereka turut serta secara aktif dalam berbagai aktivitas. Hal ini penting mengungat mobilisasi politik (pengerahan massa) oleh pihak lain dengan imbalan tertentu juga dapat mendorong partisipasi politik. Tetapi, partisipasi politik yang didorong oleh mobilisasi biasanya bersifat eksternal, sementara partisipasi yang didasari oleh kasadaran politik menunjukkan adanya kecerdasan publik. Dalam hal ini kesadaran dan partisipasi akan membentuk masyarakat yang kuat dan mampu menentukan arah yang hendak mereka tuju untuk menunjukkan kehidupan yang berkeadilan dan sejahtera. III. Berbagai persoalan dan solusi implementasi demokrasi dan negara hukum Maraknya politik uang dan tingginya biaya politik yang harus dikeluarkan kandidat. Sering kandidat menebar uang atau sembako ke masyarakat. Setali tiga uang, masyarakat pun menerima dengan senang hati karena menganggap pemberian itu adalah bagian dari bagi-bagi rezeki. Lebih tragis lagi masyarakat berpikir mumpung pilkada. Toh, kalau sudah terpilih, akan lupa kepada pemilihnya!Masyarakat masih menerapkan demokrasi wani piro, memberikan suara pada calon yang berani membayar paling tinggi. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan para calon untuk membeli perahu partai politik.Persoalan pilkada lainnya adalah adanya aturan multitafsir. Misalnya, siapa yang berhak mengusung calon, pengurus partai politik di daerah atau pengurus pusat? Hal ini mengakibatkan pihak yang bersengketa mengajukan permohonan uji materiel atas undang-undang yang berkaitan dengan pilkada langsung. Sebagian besar permohonan uji materiel tersebut dikabulkan Mahkamah Konstitusi. Persyaratan calon kepala daerah juga terlalu umum dan menimbulkan perdebatan karena perbedaan penafsiran. Misalnya, tentang persyaratan dikenal dan mengenal daerah. Hal ini mengakibatkan hanya calon bermodal besar yang lolos pencalonan. Tampaknya, persoalan pilkada langsung terletak pada tiga hal. Pertama, budaya politik kita tidak kompatibel bagi pelaksanaan demokrasi liberal. Kedua, desain penyelenggaraan pilkada langsung. Ketiga, teknis penyelenggaraan pilkada.Karena itulah, desain pilkada langsung harus mampu meminimalisasi potensi munculnya problem terkait budaya politik masyarakat, regulasi, dan teknis penyelenggaraan. Undang-Undang Pilkada harus mampu membedakan antara politik uang dan biaya politik, meniadakan kapitalisasi pilkada, menekan biaya penyelenggaraan, dan pembiayaannya tidak membebani pemerintah daerah. UU Pilkada harus didesain untuk memastikan bahwa seluruh aktor politik, masyarakat, dan penyelenggara bertindak berdasarkan aturan, etika, dan kepantasan. Misalnya, dengan mengatur sanksi yang tegas bagi para pelanggarnya. Desain UU Pilkada juga harus mampu menjamin kepala daerah yang terpilih adalah calon yang

memiliki integritas dan kapasitas, punya rekam jejak tak tercela dalam kasus hukum dan moral, serta memahami dan memihak pada kepentingan publik.Terkait dengan budaya politik, UU Pilkada harus tegas mewajibkan pihak-pihak tertentu untuk melaksanakan pendidikan politik. KPU tidak direduksi hanya sebagai penyelenggara teknis pilkada, tetapi sebagai salah satu pilar demokrasi. KPU, partai politik, dan para calon tidak hanya menyosialisasikan teknis pilkada dan sosok calon, juga melakukan pendidikan politik.Jika desain pilkada mampu melahirkan pemimpin berkualitas dan mampu meniadakan ekses negatif, ada harapan bagi terwujudnya demokrasi yang lebih bermakna. Demokrasi mampu menjadi instrumen untuk mewujudkan kemakmuran rakyat, dan pilkada tidak sekadar ritual politik untuk memilih kepala daerah.Terbentuknya UU Pilkada langsung yang berkualitas akan berkaitan dengan komitmen para politisi di Senayan dan kompetensi aktor/politisi di partai politik. Partai politik perlu menyiapkan anggotanya untuk menjadi pejabat publik, tidak hanya melakukan rekrutmen, apalagi merekrut para politisi kutu loncat.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi http://sufyan93.blogspot.com/2009/10/pkn-macam-macam-demokrasi.html http://mkpd.wordpress.com/2007/10/30/demokratisasi-pendidikan-kajian-pada-jenjangpendidikan-dasar/ http://gagasanhukum.wordpress.com/2012/05/10/solusi-pilkada-langsung/