P. 1
Sepeda Motor Indonesia

Sepeda Motor Indonesia

|Views: 711|Likes:
Dipublikasikan oleh BuddyDeep

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: BuddyDeep on Nov 08, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2014

pdf

text

original

54

GAMBARAN UMUM PERKEMBANGAN INDUSTRI SEPEDA MOTOR DI INDONESIA

I.

Sejarah Perkembangan Industri Sepeda Motor

Awal perkembangan industri sepeda motor di Indonesia dipelopori oleh suatu perhimpunan industri perakitan atau manufaktur sepeda motor yang dikenal dengan singkatan PASMI (Perhimpunan Assembler dan Manufaktur Sepeda Motor Indonesia). PASMI didirikan pada tanggal 28 Januari 1971 di Jakarta, bertujuan untuk memenuhi permintaan masyarakat akan kebutuhan alat transportasi darat beroda dua atau biasa disebut sepeda motor. PASMI juga turut berperan dalam membangun industri sepeda motor di Indonesia baik dalam lingkup nasional maupun internasional, contohnya adalah FAMI (Federation of

Asian Motorcycle Industries). Adanya kebijakan industrialisasi oleh pemerintah
Indonesia untuk memajukan industri sepeda motor dalam negeri maka pada tahun 1999 pemerintah mulai membuka impor sepeda motor dalam bentuk CBU (Completely Built Up), CKD (Completely Knock Down), penurunan tarif PPnBM, serta pemberian izin usaha baru. PASMI mulai melakukan diferensiasi dimana sebelumnya merupakan suatu perhimpunan pengimpor dan agen penjualan sepeda motor menjadi suatu asosiasi yang lebih berkonsentrasi lagi pada pembangunan industri sepeda motor di Indonesia. Sebagai langkah nyata PASMI melakukan perubahan nama menjadi AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia). Persyaratan untuk menjadi keanggotaan asosiasi ini pun juga mengalami perubahan dimana selain harus mempunyai kemampuan produksi rangka kendaraan juga harus mampu

55

memproduksi komponen-komponen mesin lokal. Pada awal berdirinya AISI hanya terdiri dari lima anggota perusahaan perakitan yang bergabung di dalam asosiasi ini yang terdiri dari pertama, PT. Astra Honda Motor (merupakan hasil merger antara PT. Federal Motor dan PT. Honda Federal, pada 1 Januari 2001); kedua, PT. Indomobil Suzuki International (50 persen kepemilikan saham dimiliki oleh perusahaan Suzuki Motor); ketiga, PT. Yamaha Indonesia Motor Mfg (mayoritas kepemilikan saham oleh perusahaan Yamaha Motor dan sisanya oleh perusahaan asing Jepang); keempat, PT. Kawasaki Motor Indonesia (51 persen kepemilikan saham oleh perusahaan Kawasaki); dan kelima, PT. Danmotors Vespa Indonesia (51 persen kepemilikan saham oleh perusahaan lokal). Selain asosiasi industri sepeda motor AISI juga terdapat asosiasi-asosiasi industri sepeda motor lain contohnya, HPMI adalah asosiasi pengimpor dan perakit sepeda motor asal negara Cina dan AIKI adalah asosiasi pengimpor otomotif dan sepeda motor perusahaan diluar anggota asosiasi AISI dan HPMI. Tetapi bagaimanapun juga asosiasi sepeda motor AISI merupakan pelaku dominan dalam industri sepeda motor yang terbukti masih menguasai lebih dari 85 persen pangsa pasar untuk penjualan sepeda motor dan lebih dari 95 persen pangsa pasar industri perakitan sepeda motor di Indonesia. Pada tahun 1999 jumlah keanggotaan AISI bertambah satu perusahaan yang merupakan perusahaan asing perakit dan sekaligus importir sepeda motor. Perusahaan tersebut bernama PT. Kymco Lippo Motor Indonesia yang sudah terdaftar pada Departemen Perindustrian pada tahun 1997 tetapi perusahaan tersebut mulai berproduksi pada tahun 2002. Selanjutnya pada tahun 2005,

56

anggota AISI bertambah satu perusahaan lokal yaitu, PT. Semesta Citra Motorindo yang merupakan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) sepeda motor merek Kanzen. Berdasarkan data Departemen Perindustrian terdapat sejumlah 71 perusahaan perakitan sepeda motor di luar keanggotaan AISI. Namun, tidak semua perusahaan perakitan sepeda motor tersebut melakukan kegiatan produksi, hal itu dikarenakan pelaku-pelaku usaha perakitan sepeda motor tersebut tidak efisien dalam berproduksi dan berinovasi (Prabowo, 2006).

II.

Analisis Struktur Pasar Industri Sepeda Motor Indonesia

Analisis struktur pasar suatu produk merupakan hal yang perlu untuk diketahui karena struktur pasar pada umumnya dapat mempengaruhi kebijakan pemasaran atau penjualan yang akan dilakukan, misalnya dalam penentuan harga dan penentuan sikap dalam menghadapi pasar (Prabowo, 2006). Berdasarkan karakteristik-karakteristik struktur pasar yang sudah ada maka struktur pasar industri sepeda motor dikategorikan sebagai pasar oligopoli ketat. Adapun beberapa bukti yang menunjang bahwa struktur pasar sepeda motor di Indonesia adalah oligopoli yaitu sebagai berikut: 1. Terdapat banyaknya perusahaan sepeda motor yang turut serta dalam kegiatan pemasaran sepeda motor dengan jenis produk yang homogen. Contohnya, PT. Astra Honda Motor (AHM) adalah produsen sepeda motor merek Honda, PT. Yamaha Motor Kencana Indonesia, PT. Indomobil Suzuki International, PT. Kawasaki Motor Indonesia, PT. Danmotors

57

Indonesia (ATPM sepeda motor Vespa), PT. Kymco Lippo Motor Indonesia, PT. Buana Jialing Sakti Motor, PT. Global Lestari Motorindo (ATPM sepeda motor Beijing), PT. Semesta Citra Motorindo (ATPM sepeda motor Kanzen), PT. Bajaj Auto Indonesia, dan lain-lain. 2. Kebijaksanaan dari satu perusahaan umumnya selalu diikuti oleh perusahaan pesaing. Misalnya, periklanan produk (advertising) sepeda motor, pemberian hadiah dalam rangka promosi penjualan, dan pelayanan khusus tertentu baik dalam pembelian maupun dalam perbaikan atau pelayanan servis purna jual (after sales service), maka perusahaan yang lain juga akan melakukan hal yang sama. 3. Tingkat kesulitan untuk masuk ke dalam industri sepeda motor juga cukup besar karena selain diperlukan tingkat efisiensi yang tinggi dalam pengelolaan sumber daya faktor-faktor produksi juga dibutuhkan investasi modal yang besar untuk melakukan ekspansi atau perluasan pabrik dan penerapan teknologi produksi yang canggih. Tabel 4.2 dibawah memberikan gambaran lebih jelas mengenai struktur pasar sepeda motor di Indonesia dimana tabel tersebut menyediakan data pangsa pasar masing-masing perusahaan sepeda motor anggota AISI, data rasio konsentrasi empat perusahaan besar (CR4) dan data Hirschman Herfindahl Index (HHI) dari tahun 1993 sampai dengan bulan Oktober tahun 2007.

58

Data Pangsa Pasar, CR dan HHI Masing-masing Perusahaan 4 Sepeda Motor Anggota AISI Tahun 1993 – 2007
Tahun 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007* Rataan Honda 58.69 54.25 50.28 48.58 47.87 55.28 49.64 49.98 57.06 62.03 55.88 52.22 52.05 52.36 44.64 Kanzen 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.38 0.40 0.62 Kawasaki 0.00 0.00 2.10 3.63 4.32 3.12 5.16 5.38 4.04 2.32 2.36 2.75 1.52 1.15 0.88 Kymco 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.39 0.62 0.67 0.30 0.23 0.25 Piaggio 2.34 2.23 1.99 1.22 0.87 0.60 0.62 0.61 0.41 0.22 0.11 0.05 0.02 0.01 0.00 2.11 Suzuki 13.06 16.38 19.36 21.04 20.44 16.30 16.52 16.60 18.15 19.09 20.69 21.64 21.46 12.71 13.45 17.94 Yamaha 25.91 27.14 26.27 25.53 26.50 24.70 28.06 27.43 20.34 15.94 20.33 22.67 24.29 33.14 40.16 24.12 CR4 97.66 97.77 98.01 98.78 99.13 99.40 99.38 99.39 99.59 99.38 99.27 99.27 99.31 99.35 99.13 97.71 HHI 4292.06 3953.15 3601.73 3469.05 3430.93 3941.97 3551.18 3555.56 4015.94 4472.11 3970.13 3716.95 3761.62 4002.27 3787.98 3876.61

53.81 0.07 1.84 0.12 *) s.d bulan Oktober 2007 Sumber: Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), 2007

Dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2007 pangsa pasar terbesar selalu dikuasai oleh ATPM Honda, PT. Astra Honda Motor. Pangsa pasar terbesar diraih PT. Astra Honda Motor pada tahun 2002 (62.03 persen). Pangsa pasar kedua terbesar diraih oleh ATPM Yamaha, PT. Yamaha Motor Kencana Indonesia pada tahun 1993 sampai dengan tahun 2001 yang kemudian digantikan oleh ATPM Suzuki (PT. Indomobil Suzuki International) untuk periode tahun 2002 – 2003 dan diambil kembali oleh produsen Yamaha sampai dengan tahun 2007. Peringkat keempat pangsa pasar sepeda motor terbesar ditempati oleh ATPM sepeda motor Piaggio, PT. Danmotors Indonesia sampai dengan tahun 1994. Pada tahun 1995 sampai dengan tahun 2007, posisi keempat diambil oleh PT. Kawasaki Motor Indonesia.Untuk produsen sepeda motor lainnya diluar keanggotaan AISI hanya memiliki pangsa pasar sebesar kurang dari 10 persen dari jumlah total keseluruhan produksi sepeda motor di Indonesia.

59

Konsentrasi pangsa pasar dari masing-masing perusahaan dan pangsa pasar empat perusahaan terbesar (CR4) menunjukkan bahwa perusahaan besar sepeda motor yang ada di Indonesia sangat menguasai pasar. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata pangsa pasar PT. Astra Honda Motor (CR1) sebesar 53.81 persen sedangkan rata-rata CR4 dari empat perusahaan terbesar (Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki) sebesar 97.71 persen. Nilai rataan CR4 tersebut memberikan kesimpulan bahwa struktur pasar industri sepeda motor di Indonesia termasuk ke dalam kategori pasar oligopoli ketat, demikian juga nilai rataan dari data

Hirschman Herfindahl Index (HHI) yang sebesar 3,876.61 menyimpulkan bahwa
tingkat konsentrasi pasar sepeda motor di Indonesia tergolong tinggi untuk skala 0 sampai dengan 10,000.

III.

Profil Beberapa Perusahaan Industri Sepeda Motor

A. PT. Astra Honda Motor

Pada bulan Agustus tahun 2000 terjadi kerja sama usaha antara PT. Federal Motor (ATPM Honda sebelumnya) dengan PT. Honda Federal Inc., kemudian berganti nama menjadi PT. Honda Motor Co. Ltd.. Selanjutnya terjadi kerja sama usaha lagi antara PT. Astra International Tbk (50 persen) dengan Honda Motor Co. Ltd. (50 persen) dan resmi beroperasi secara komersial pada Januari 2001. AHM merupakan agen tunggal dan sekaligus sebagai perakit sepeda motor merek Honda di Indonesia. AHM memiliki jaringan distribusi dan layanan purna jual berupa agen suku cadang dan jaringan bengkel paling luas dibandingkan dengan distributor

60

sepeda motor lainnya. Sampai saat ini AHM memiliki sebanyak 907 distributor resmi yang tersebar di 28 propinsi. Secara keseluruhan AHM menguasai sepertiga dari jaringan distribusi (penjualan) sepeda motor di Indonesia. Perusahaan AHM telah menguasai sekitar 60 persen pangsa pasar sepeda motor di Indonesia.

B. PT. Yamaha Motor Kencana Indonesia

PT. Yamaha Motor Kencana Indonesia merupakan produsen sepeda motor merek Yamaha dimana hampir 100 persen sahamnya dimiliki oleh Yamaha Motor Co Ltd, Jepang. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1974 melalui kerjasama patungan antara Yamaha Motor Co. Ltd. (70 persen) dengan PT. Karya Sakti Utama Motor (30 persen) milik Harapan Grup. Jaringan pemasaran sepeda motor Yamaha berjumlah 434 distributor yang tersebar di seluruh Indonesia, dimana 58 persen (251 distributor) berlokasi di Jawa. Total distributor Yamaha yang berlokasi di Jawa sebesar 40 persen dikhususkan untuk daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagai contoh, ada beberapa distributor Yamaha di daerah-daerah (baik Jawa maupun luar pulau Jawa) yang memiliki jaringan cukup luas adalah sebagai berikut (Bisinfocus, 2004): 1. PT. Hasjrat Abadi (memiliki empat agen penjualan di Sulawesi). 2. PD. Jaya Makmur (memiliki empat agen penjualan di Jambi). 3. PT. Sabang Raya Motor (memiliki empat agen penjualan di Jambi).

61

4. PT. Sumber Baru Motor (memiliki sembilan agen penjualan di Jawa Tengah dan Yogyakarta). 5. PT. Thamrin Motors (memiliki enam agen penjualan di Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung).

C. PT. Indomobil Suzuki International

PT. Indomobil Suzuki International (ISI) merupakan perusahaan patungan antara PT. Sumber Artha Perdana (anak perusahaan PT. Indomobil Sukses International Tbk) dengan persentase kepemilikan sebesar 50 persen dan sisanya sebesar 50 persen dimiliki oleh Suzuki Motor Co. Ltd, Jepang. ISI merupakan ATPM sekaligus perakit sepeda motor merek Suzuki di Indonesia. Pemasaran sepeda motor Suzuki dipercayakan kepada PT. Indomobil Niaga International sebagai distributor tunggal. Pada tahun 2004, ATPM Suzuki memiliki 43 distributor resmi yang dikelola oleh 35 perusahaan. Selanjutnya dari distributor resmi tersebut disalurkan ke agen penjualan berjumlah 431 yang tersebar di seluruh Indonesia. Adapun agen penjualan independen Indomobil juga memiliki jaringan penjualan sendiri melalui perusahaan afiliasi yakni: 1. PT. Indojakarta Motor Gemilang (Jakarta & Jawa Barat). 2. PT. Indomobil Multi Trada (Jakarta & Jawa Barat). 3. PT. Indomadiun Wijaya Motor (Jawa Timur). 4. PT. Indosolo Motor Gemilang (Jawa Tengah). 5. PT. Rodamas Makmur Motor (Batam). 6. PT. Samekarindo Indah (Kalimantan).

62

Selain distributor milik afiliasi, ISI telah menunjuk sejumlah distributor independen yang tersebar di seluruh Indonesia. Di antaranya terdapat sejumlah distributor resmi yang potensial seperti: 1. PT. Sentrakarya Ekamegah (grup Sun Motor) melalui enam agen penjualan di wilayah Jabotabek. 2. PT. Sun Motor (grup Sun Motor) melalui empat agen penjualan di Yogyakarta. 3. PT. Duta Putra Sumatera (grup Sun Motor) melalui empat agen penjualan di Medan. 4. PT. Sinar Roda Kencana Mas dengan empat agen penjualan di wilayah Jabotabek. 5. PT. Mega Graha Milenium Karya melalui empat agen penjualan di wilayah Jabotabek. 6. PT. Mahkota Inti Sejahtera (grup Restu Mahkota Karya) melalui empat agen penjualan di Jakarta, Cilegon, Rangkas Bitung, dan Serang.

D. PT. Kawasaki Motor Indonesia

PT. Kawasaki Motor Indonesia (KMI) didirikan pada tahun 1994 yang merupakan perusahaan patungan antara Kawasaki Heavy Industries Ltd. dengan persentase kepemilikan sebesar 51 persen, PT. Danmotors Vespa Indonesia (sekarang PT. Danmotors Indonesia) sebesar 39 persen, PT. Bimantara Cakra Nusa sebesar lima persen dan PT. Sumber Selatan Nusantara sebesar lima persen. Pada bulan April tahun 1997 terjadi perubahan kepemilikan dimana Kawasaki

63

Heavy Industries menguasai sebesar 51 persen saham, sedangkan sisanya dimiliki oleh PT. Sumber Selatan Nusantara (milik Tabalujan) sebesar 34 persen dan PT. Bimantara Cakra Nusa sebesar 15 persen. KMI mulai meluncurkan sepeda motor Kawasaki jenis bebek tipe Kaze-R sejak awal tahun 1995. Sebenarnya ATPM Kawasaki sudah pernah memasarkan produknya sejak akhir 1970-an tetapi dikarenakan pasar sepeda motor pada waktu itu masih terbatas, maka sejak awal 1980-an Kawasaki dihentikan pemasarannya. Ketika kondisi pasar sepeda motor mulai membaik pada awal tahun 1990-an, maka Kawasaki Heavy Industries Ltd. memulai berproduksi kembali dengan memanfaatkan fasilitas pabrik Danmotors di Pulogadung, Jakarta Timur. Sementara itu pemasaran Kawasaki melalui 16 distributor resmi yang tersebar di Jawa (enam distributor), Bali (satu distributor), Sumatera (empat distributor), Kalimantan (empat distributor) dan Sulawesi (satu distributor).

E. PT. Danmotors Indonesia

PT. Danmotors Indonesia (DI) berdiri pada tahun 1969 dengan nama PT. Danmotors Vespa Indonesia yang merupakan produsen sepeda motor tertua di Indonesia. Perusahaan ini didirikan atas kerjasama antara Carlo Hein Tabalujan dengan The East Asiatic Co Ltd., Denmark dan merupakan satu-satunya produsen sepeda motor jenis skuter merek Vespa di Indonesia. Pada akhir 1999 saham kepemilikan The East Asiatic Co Ltd. diambil-alih oleh Martinations Ltd., Italia dengan menguasai 49 persen saham, sedangkan sisanya 51 persen tetap dikuasai oleh PT. Sumber Selatan Nusantara. Selanjutnya berganti nama menjadi PT.

64

Danmotors Indonesia dengan menggunakan merek Piaggio. Saat ini PT. Danmotors Indonesia tidak hanya memasarkan jenis skuter, tetapi juga jenis bebek dan jantan. Meskipun motor merek ini sudah lama dipasarkan, namun perkembangan pasarnya masih tetap terbatas. Pangsa pasarnya terus merosot sejalan dengan ketatnya persaingan pasar dengan pangsa pasarnya tidak lebih dari lima persen. Secara keseluruhan Piaggio memiliki sekitar 100 distributor dengan dukungan sekitar 150 bengkel resmi. Pemasaran Piaggio dilakukan melalui sepuluh distributor resmi yang tersebar di 10 kota besar dan selanjutnya dari distributor resmi tersebut kemudian disalurkan ke agen-agen penjualan yang tersebar di seluruh Indonesia. Khusus untuk wilayah Jabotabek ditunjuk PT. Dutasemeru Utama dengan dukungan lima distributor resmi yang di antaranya PD. Gunung Slamet (dua agen penjualan) dan PT. Armada Ruang Motor. Untuk wilayah Jawa Timur dan Bali ditunjuk PT. Surapita Unitrans dan untuk wilayah Kalimantan (Balikpapan dan Banjarmasin) ditunjuk PT. Serba Mulia Abadi.

F. PT. Kymco Lippo Motor Indonesia

PT. Kymco Lippo Motor Indonesia adalah perusahaan hasil merger antara Lippo grup dengan Kwang Yang Motor Co., Taiwan. Pada awal tahun 2000 Kymco meluncurkan merek Kymco – Jetmatic yang merupakan perpaduan antara sepeda motor jenis bebek dan skuter. Kapasitas produksi Kymco mencapai 100,000 unit per tahun. Jaringan distribusi Kymco meliputi 82 agen penjualan yang tersebar di 25 kota.

65

G. PT. Buana Jialing Sakti Motor

PT. Buana Jialing Sakti Motor didirikan tahun 1997 merupakan perusahaan patungan antara China Jialing Industrial Co Ltd. dengan kepemilikan sebesar 30 persen dan PT. Buanajaya Makmur Sakti Motor (grup Argo Manunggal) sebesar 70 persen. Pabrik sepeda motor ini berlokasi di Tangerang dengan kapasitas 60,000 unit per tahun dengan menggunakan merek Jialing dan Bangau. Motor Jialing merupakan salah satu produsen terbesar dengan kualitas produk yang cukup baik. Sebagai gambaran di RRC, Jialing merupakan produsen sepeda motor terbesar kedua setelah Qingqi. Sementara itu jaringan distribusi Jialing melalui 22 agen penjualan yang tersebar di seluruh Indonesia.

H. PT. Vivamas Qingqi Motor

PT. Vivamas Qingqi Motor (VQM) juga merupakan perusahaan patungan antara mitra lokal grup Vivamas dengan Qingqi Motor Cycle General Corp (Cina). VQM merupakan ATPM dan perakit sepeda motor merek Qingqi dan Vivamas. Saat ini Vivamas memiliki 33 distributor yang tersebar di 22 kota di seluruh Indonesia. Distributor terbanyak di wilayah Jabotabek dengan 14 unit (42,4 persen). Sekitar 76 persen distributor Vivamas berlokasi di Jawa.

I. PT. Asiamotor Industries

PT. Asiamotor Industries merupakan ATPM sepeda motor Cina merek DAST yang mulai diluncurkan sejak Agustus 2000. Untuk membangun pabrik

66

perakitan Asiamotor menghabiskan dana sekitar US$ 5 juta yang berlokasi di Pasar Kemis, Tangerang.

J. PT. Bosowa Nusantara Motor

PT. Bosowa Nusantara Motor (BNM) berkerjasama dengan produsen sepeda motor asal Korea Selatan, Hyosung untuk memproduksi motor merek Hyosung. Di samping merek Hyosung, BNM juga mengembangkan merek sendiri yakni merek Bosowa. Total kapasitas produksi BNM mencapai 60,000 unit per tahun. Sementara itu jaringan distribusi BNM cukup luas, melalui 32 distributor yang tersebar di 21 kota di Indonesia.

K. PT. Kurnia Abadi Niaga Citra Indah Lestari

PT. Kurnia Abadi Niaga Citra Indah Lestari ditunjuk oleh produsen sepeda motor asal negeri India, Heru Puch untuk menjadi agen tunggal sepeda motor merek Mallika (berkapasitas mesin 75 cc). Jenis sepeda motor Mallika merupakan kombinasi antara jenis bebek dengan skuter.

4.3.12. PT. TVS Motor Company Indonesia

PT. TVS Motor Company Ltd merupakan bagian dari perusahaan induk TVS Group. TVS Group beraset US$ 2,7 miliar, dan merupakan produsen sepeda motor terbesar ketiga di India setelah Hero Honda dan Bajaj. TVS termasuk dalam urutan 10 besar dunia, dengan omset tahunan lebih dari US$ 740 juta. Biaya investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut mencapai US$ 45 juta dan

67

berlokasi di kawasan Surya Cipta Industrial Estate, Karawang, Jawa Barat seluas 20 Ha. Produsen sepeda motor asal India lain yang turut meramaikan pasar sepeda motor Indonesia yakni Bajaj (produknya yang bermerek Bajaj Pulsar). Dana yang diinvestasikan sebesar US$ 80 juta untuk bangunan pabrik yang berlokasi di Jawa Barat. Di negara asalnya (India) Bajaj dikenal sebagai produsen sepeda motor jantan (sporty) dengan menggunakan teknologi Kawasaki. Saat ini Bajaj adalah pabrikan sepeda motor kedua terbesar di India.

IV.

Studi Kasus Analisis Persaingan Perusahaan Sepeda Motor

A. Persaingan Penjualan Sepeda Motor Jepang Versus Cina

Kondisi industri sepeda motor di Indonesia kembali pulih pasca krisis moneter tidak terlepas dari kehadiran motor Cina (mocin) yang masuk ke Indonesia. Para importir mocin memanfaatkan momentum krisis moneter dimana harga jual sepeda motor merek Jepang melonjak sampai dengan tiga kali lipat. Sebagai contoh perbandingan dengan harga jual sepeda motor bebek merek Honda Supra dijual dengan harga Rp. 11 juta – Rp. 12 juta, sedangkan mocin dijual dengan harga Rp. 6.5 juta – Rp. 8 juta. Perbedaan harga yang sangat besar tersebut menyebabkan kehadiran mocin mempunyai pangsa pasar lebih besar untuk kelas harga sepeda motor yang lebih ekonomis. Selama tiga dasawarsa terakhir sepeda motor bermerek asal Jepang mendominasi pasar sepeda motor nasional, namun sejak krisis moneter pangsa pasarnya berkurang karena adanya persaingan dengan merek asal negara lain.

68

Penurunan penjualan sepeda motor merek asal Jepang pada tahun 2002 diakibatkan oleh hadirnya 60 merek sepeda motor asal Cina (mocin). Pada tahun 1998 – 1999 penjualan sepeda motor merek asal Jepang mencapai titik terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Selama kurun waktu tersebut diperkirakan mocin mampu menguasai sekitar 20 persen pangsa pasar sepeda motor domestik. Namun tidak semua kualitas mocin memenuhi standar internasional karena sebagian besar diproduksi oleh perusahaan menengah kecil di RRC. Keluhan akan kualitas mocin oleh konsumen mulai bermunculan dan hal ini mempengaruhi minat ketertarikan masyarakat terhadap produk mocin secara keseluruhan. Minat masyarakat terhadap mocin mulai berkurang seiring dengan menurunnya daya saing kualitas mocin tersebut, meskipun volume penjualan menunjukkan pertumbuhan. Jumlah Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) mocin mengalami penurunan pada tahun 2004 dari 60 perusahaan menjadi 40 perusahaan. Sedangkan, pada waktu yang sama sepeda motor merek asal Jepang kembali meningkat.

B. Strategi Persaingan Penjualan Yamaha Versus Honda

Pasar sepeda motor domestik yang selama ini selalu dikuasai oleh Honda dengan pangsa pasar rata-rata lebih dari 50 persen, menyebabkan struktur pasar oligopoli dalam industri sepeda motor semakin kuat. Segmen pasar Honda umumnya berada pada kelas motor bebek dan motor jantan berkapasitas mesin 125cc. Spesifikasi produksi Honda yang selalu berada pada kelas motor bebek dan jantan menjadikan Honda sebagai produsen dominan dalam industri sepeda motor, sedangkan ATPM Yamaha yang memiliki pangsa pasar rata-rata sebesar 20

69

persen mulai melakukan inovasi dalam rangka mengalahkan dominasi Honda dalam industri sepeda motor. Strategi pemasaran yang diterapkan Yamaha dikenal dengan nama kombinasi 4P (Price, Product, Place, and Promotion) melalui jaringan distributor resmi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Strategi pemasaran tersebut mampu mengalahkan strategi pemasaran Honda. Berikut akan dibahas strategi pemasaran 4P dari Yamaha tersebut: 1. Strategi harga (price) Dari segi strategi harga sepeda motor Yamaha lebih murah dibandingkan sepeda motor Honda, contoh: 1. Honda Vario Vs Yamaha Mio, dimana Honda Vario dijual dengan harga Rp 13.15 juta sedangkan Yamaha Mio Rp 10.8 juta rupiah. 2. Honda Tiger vs Yamaha Scorpio, Honda Tiger dijual dengan harga Rp 20.4 juta sedangkan Yamaha Scorpio Rp 19.38 juta rupiah. 3. Honda Supra X 125R vs Yamaha Jupiter Z, Supra X 125R dengan Rp 15.4 juta sedangkan Jupiter Z Rp 13.8 juta rupiah, dan lain-lain. 2. Strategi produk (product) Dalam hal strategi produk Yamaha sebagai salah satu produsen sepeda motor asal Jepang berhasil menjadi pelopor pertama untuk segmen pasar sepeda motor bebek jenis skuter otomatis yang sebenarnya segmen tersebut belum dispesifikasikan oleh produsen sepeda motor Honda yang selalu mendominasi pangsa pasar sepeda motor di tanah air. Yamaha meluncurkan sepeda motor skuter otomatis dengan nama Mio, dimana segmentasi pasar Yamaha Mio pada

70

awalnya adalah wanita, tetapi ternyata kaum pria juga menyukai sepeda motor model skuter matik produksi Yamaha tersebut. Sebagai buktinya, dominasi konsumen Yamaha Mio adalah pria sebanyak 60 persen. Sehingga kemudian Yamaha mengeluarkan Yamaha Mio Sporty yang ditargetkan khusus untuk konsumen pria. Selain itu, Yamaha juga berinovasi pada segmen pasar 100 – 110cc dengan produknya Yamaha Vega R. Hal tersebut sebelumnya tidak dilakukan oleh Honda, meskipun ternyata menjanjikan. 3. Strategi lokasi (place) Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) sepeda motor melakukan kerja sama dengan pihak swasta membuka bengkel perbaikan resmi di lokasi atau daerah tertentu untuk memudahkan pelanggan dalam hal perbaikan sepeda motor atau penjualan suku cadang. Selama ini, bengkel resmi yang cukup terkenal dan jumlahnya mencapai ribuan adalah bengkel resmi Honda yang bernama AHASS (Astra Honda Authorized Service Station). Strategi Honda melalui bengkel AHASS dalam hal pelayanan purna jual dan distribusi suku cadang yang tersebar di Indonesia sesuai dengan persebaran jumlah sepeda motor Honda, diikuti oleh Yamaha dengan menambah jaringan distribusi pelayanan di berbagai daerah bahkan terus meningkatkan kualitas jaringan distribusi pelayanan. 4. Strategi promosi (promotion) Strategi promosi yang dilakukan Honda maupun Yamaha adalah melalui media elektronik komersial seperti iklan di televisi dan media cetak serta menggelar kegiatan-kegiatan sosial dan nasional. Contohnya, melakukan kegiatan

71

rohani seperti Yamaha Religi dan kegiatan balap motor nasional yang diadakan baik oleh Honda maupun Yamaha. Namun, tingkat penjualan Yamaha terus meningkat ketika pembalap motoGP Valentino Rossi pindah dari merek sepeda motor Honda ke merek sepeda motor Yamaha dan secara spontan pembalap motor tersebut langsung mempersembahkan gelar juara motoGP di musim perdana balap motor dengan membawa nama Yamaha. Strategi pemasaran 4P (Price, Product, Place, and Promotion) oleh produsen Yamaha pada segmen pasar skuter otomatis yang sebelumnya tidak dilakukan oleh Honda memberikan hasil yang nyata bahwa Yamaha akhirnya bisa mengalahkan pangsa pasar Honda pada tahun 2007 khususnya pada bulan Maret dimana produsen sepeda motor Yamaha telah berhasil menjadi pemimpin pasar sepeda motor nasional. Bukti persaingan ketat penjualan Yamaha yang mengalahkan Honda dapat dilihat dari angka penjualan nasional sepeda motor. Pada bulan Januari 2007 dari total penjualan sebanyak 342,773 unit, Yamaha menguasai 38.10 persen pangsa pasar atau mencapai angka penjualan sebesar 130,587 unit. Sementara Honda menguasai 44.87 persen atau sebanyak 153,806 unit. Di bulan berikutnya dimana total penjualan sepeda motor nasional mencapai 348,723 unit, pangsa pasar Yamaha naik menjadi 41.83 persen atau volumenya mencapai 145,872 unit, sedangkan pangsa pasar Honda menurun menjadi 43.29 persen atau hanya mampu menjual sebanyak 150,979 unit. Hal ini membuktikan bahwa Honda mulai tersaingi oleh Yamaha di pasar kendaraan roda dua, khususnya pasar motor bermesin empat langkah di Indonesia. Akhirnya pada bulan Maret di tahun yang

72

sama dimana penjualan sepeda motor nasional mencapai 365 ribu unit, Yamaha menguasai 43.7 persen pangsa pasar atau sebesar 159,035 unit. Sementara itu, PT. Astra Honda Motor (AHM) yang selalu menjadi pemimpin pasar sepeda motor nasional hanya mencapai total penjualan sepeda motor Honda sebesar 151,074 unit atau meraih 41.5 persen. Di tengah ketatnya persaingan Honda dan Yamaha, Suzuki menempati posisi ketiga sebagai produsen sepeda motor dengan pangsa pasar sebesar 13 persen. Meskipun demikian, selama periode Januari – Maret 2007 Honda masih memimpin pangsa pasar penjualan sepeda motor nasional dimana total penjualan sepeda motor nasional mencapai 1,055,000 unit. Dari jumlah tersebut, posisi pertama masih ditempati Honda dengan total penjualan 455,859 unit, kemudian Yamaha dengan total penjualan sebesar 435,595 unit. Posisi berikutnya ditempati Suzuki, dengan total penjualan sebesar 145,607 unit dan Kawasaki meraih 10,559 unit.

V.

Kebijakan Standar Uji Emisi Kendaraan Bermotor

Pemerintah Indonesia di tingkat pusat maupun di tingkat daerah dalam rangka mewujudkan upaya perlindungan terhadap lingkungan hidup, khususnya pencemaran udara, telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan khususnya diperuntukkan bagi setiap sektor transportasi yang terkait dengan masalah pencemaran udara. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 141 Tahun 2003 merupakan tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999, khususnya tentang Standar Uji Emisi Kendaraan

73

Bermotor Tipe Baru dan yang sedang Diproduksi. Peraturan ini merupakan ratifikasi dari standar emisi gas buang (EURO I) kendaraan bermotor roda dua dan roda empat yang telah disepakati pada konferensi Uni Eropa – UN-ECE (United Nations Economic Comission for Europe) dalam rangka memperbaiki mutu bahan bakar dan teknologi mesin kendaraan. Hal ini dikarenakan mutu bahan bakar kendaraan selama ini masih mengandung senyawa kimia berbahaya seperti gas CO (Karbon Monoksida), NOx (Nitrogen Oksida), dan HC (Hidro Karbon) yang berdampak negatif bagi kesehatan manusia. Isi dari Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 141 Tahun 2003 yaitu, mengatur tentang: 1. Pengendalian pencemaran udara yang bersumber dari emisi gas buang kendaraan bermotor, maka perlu dilakukan upaya untuk menurunkan emisi gas buang yang berasal dari kendaraan bermotor tipe baru maupun kendaraan bermotor yang sedang diproduksi. 2. Menetapkan batas maksimum zat atau bahan pencemar yang boleh dikeluarkan langsung oleh pipa gas buang kendaraan bermotor tipe baru dan kendaraan bermotor yang sedang diproduksi di dalam negeri maupun impor dalam bentuk Completely Built Up (CBU) ataupun Completely

Knock Down (CKD).
3. Pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kebijakan ini adalah produsen kendaraan bermotor serta instansi yang bertugas di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. 4. Ruang lingkup dalam Keputusan Menteri ini meliputi ambang batas emisi gas buang, tata cara dan metode uji serta tata cara pelaporan uji emisi gas

74

buang kendaraan bermotor tipe baru dan kendaraan bermotor yang sedang diproduksi. 5. Pengujian emisi wajib menggunakan bahan bakar dengan spesifikasi standar uji resmi menurut Economic Commission of Europe (ECE) setara dengan bahan bakar bebas timbal, contoh bahan bakar jenis Pertamax Plus. Ketentuan-ketentuan tersebut juga didukung oleh beberapa Peraturan Pemerintah dan Undang-Undang terkait berikut ini: 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 4. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standarisasi Nasional. 8. Keputusan Presiden Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 tentang Kedudukan Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Menteri Negara.

75

Pemberlakuan Peraturan Pemerintah dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup sejak tahun 2003 tersebut terkait dengan upaya menekan dampak pembuangan gas beracun yang berasal dari asap knalpot kendaraan bermotor khususnya sepeda motor dengan memberikan batasan nilai standar parameter maksimal untuk gas Karbon Monoksida (CO) sebesar 5.5 gram per kilometer; gas Hidro Karbon (HC) sebesar 1.2 gram per kilometer; dan gas Nitrogen Oksida (NOx) maksimal sebesar 0.3 gram per kilometer. Hal tersebut dapat diantisipasi oleh industri sepeda motor hanya dengan melakukan pengaturan bagian piston atau mesin kendaraan bermotor roda dua.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->