Anda di halaman 1dari 33

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cabai (Capsicum annum. L) merupakan komoditas yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia.

Konsumsi cabai rata-rata penduduk Indonesia adalah 5.21 Kg/kapita/tahun. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah sebanyak 237.641.326 jiwa, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1.49 % per tahun (BPS, 2011). Berdasarkan kondisi tersebut dapat diketahui bahwa konsumsi cabai dalam negeri pada tahun 2010 mencapai 1.378.727 ton dengan luas panen 233.904 ha dan produktivitas rata-rata sebesar 5.89 ton/ha (BPS, 2011). Masyarakat Indonesia bisa dibilang penggemar cabai terbesar di dunia. Karenanya, cabai menjadi salah satu produk penting dalam pangan Indonesia, bahkan bisa berpengaruh terhadap laju inflasi. Pentingnya cabai telah menjadi perhatian bagi pemerintah dan para petani, terutama setelah melonjaknya harga cabai pada tahun 2010 hingga mencapai Rp 140.000/kg. Kegiatan Praktek Kerja Lapang diharapkan akan membekali mahasiswa dengan berbagai pengalaman sehingga nantinya mahasiswa tidak mengalami goncangan dengan adanya perbedaan antara teori yang diperoleh bangku kuliah dengan kenyataan di lapangan. Di Samping itu mahasiswa juga mempunyai ketrampilan khusus dalam suatu jenis komoditi dan mengetahui banyak permasalahannya dan kendalanya. B. Tujuan Kegiatan Magang 1. Tujuan Umum Kegiatan magang mahasiswa yang dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) memiliki beberapa tujuan khusus diantaranya : a. Mahasiswa mampu memadukan antara teori yang diperoleh di bangku perkuliahan dengan penerapannya di tempat magang

b. Mahasiswa memperoleh pengalaman melalui kegiatan-kegiatan di tempat magang yang berhubungan dengan bidang pertanian secara luas mulai dari budidaya sampai dengan pemasaran cabai merah. c. Mahasiswa memperoleh pengetahuan, ketrampilan, sikap dan pengembangan karir setelah lulus. d. Mahasiswa dapat bersosialisasi secara langsung dengan lingkungan sekitar tempat magang baik itu dengan pejabat instansi, karyawan, maupun masyarakat sekitar. e. Mempererat hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, instansi swasta, perusahaan dan masyarakat, sehingga dapat meningkatkan mutu pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. 2. Tujuan Khusus Kegiatan magang mahasiswa yang dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran diantaranya : a. Mengetahui dan memperoleh keterampilan secara langsung kegiatan produksi benih tanaman sayuran, khususnya sayuran cabai merah di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA). b. Mengetahui dan memperoleh keterampilan mengenai pengolahan lahan secara langsung kegiatan budidaya tanaman sayuran, khususnya sayuran c. cabai merah di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA). Mengetahui metode dan teknik yang digunakan dalam budidaya tanaman sayuran, khususnya sayuran cabai merah di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA). d. Mengetahui sistem pemasaran yang digunakan dalam pemasaran tanaman sayuran, khususnya sayuran cabai merah di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA). e. Mengetahui ekspor impor yang digunakan dalam pemasaran tanaman sayuran, khususnya sayuran cabai merah di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA). (BALITSA) memiliki beberapa tujuan khusus

C. Manfaat Kegiatan Magang Manfaat kegiatan magang mahasiswa di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) antara lain: 1. Bagi mahasiswa, kegiatan magang ini bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman antara teori dan aplikasi lapangan mengenai budidaya (pembibitan, penanaman, panen, pasca panen) dan sistem pemasaran cabai merah. 2. Bagi Fakultas, kegiatan magang ini merupakan strategi peningkatan kompetensi dan keterampilan lulusan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 3. Bagi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA), kegiatan magang ini diharapkan dapat menjadi hubungan kerja sama dalam pengembangan ilmu pertanian yang aplikatif serta teruji melalui penelitian-penelitian di bidang akademis. 4. Meningkatkan hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, instansi yang terkait dan masyarakat sehingga dapat meningkatkan mutu Tri Dharma Perguruan Tinggi.

TINJUAN PUSTAKA Tanaman cabai diklasifikasikan kedalam spesies Capsicum anuum. L. Berikut adalah penjelasan taksonomi tanaman cabai secara detail Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan) Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) Subdivisi : Angiospermae (berbiji tertutup) Kelas : Dicotyledonae (biji berkeping dua) Ordo : Tubiflorae Famili : Solanaceae

Genus : Capsicum Species : Capsicum annuum dan lain-lain Varietas : Capsicum annuum L. var. Annuum (USDA, 2011) : Menurut Siemonsma dan Piluek (1994), Capsicum annuum L. Merupakan tanaman semusim (annual) yang berbentuk semak dengan tinggi mencapai 0.5-1.5 m serta memiliki akar tunggang yang sangat kuat dan bercabang-cabang. Tanaman cabai mempunyai batang berkayu dengan tipe pertumbuhan tegak atau menyebar, diameter batang mencapai 1 cm, berwarna hijau sampai hijau kecoklatan dan umumnya terdapat bercak ungu di dekat node. Daun berbentuk ovate dengan ukuran 10 cm x 5 cm hingga 16 cm x 8 cm dan berwarna hijau muda sampai hijau tua. Mahkota bunga cabai berbentuk campanulate hingga rotate dengan 5-7 helai dan berwarna putih. Tanaman ini memiliki 5-7 benangsari yang berwarna biru hingga keunguan. Panjang buah cabai mencapai 30 cm, berwarna hijau, kuning, krim atau keunguan ketika masih muda, dan berwarna merah, oranye, kuning hingga coklat ketika sudah tua. Bunga cabai termasuk bunga hermaprodit dan bersifat kasmogami. Bunga hermaprodit adalah bunga yang mempunyai putik dan polen yang terdapat pada satu bunga, sedangkan bersifat kasmogami berarti waktu penyerbukan terjadi pada saat bunga sudah mekar. Oleh karena itu, pada cabai masih memungkinkan terjadipenyerbukan silang (Sujiprihati et al., 2008). Penyerbukan silang pada cabai secara alami dapat terjadi dengan bantuan lebah. Persentase penyerbukan silangnya dapat mencapai 7.6-36.8%, dengan rata-rata 16.5% (Greenleaf, 1986). Umumnya biji cabai berwarna putih kekuningan berbentuk ginjal dan keras (Kusandriani dan Permadi, 1996). Komponen rasa pedas pada cabai ditimbulkan oleh zat capsaicin (C18H27NO3) yang terkandung dalam jaringan sekat buah dan plasentanya, tetapi tidak terdapat di dalam dinding buah atau biji (Rutabatzky dan Yamaguchi, 1999). Kondisi fisik tanah yang baik untuk pertanaman cabai adalah tanah yang strukturnya remah dan kaya akan bahan organik, pH tanah antara 6.0-7.0, dan

tempatnya terbuka atau sedikit ternaungi. Pada umumnya, cabai ditanam di sawah setelah panen padi, tetapi ada pula yang ditanam di tegalan. Apabila ditanam di sawah, biasanya ditanam pada akhir musim hujan, sedangkan di tegalan biasanya ditanam pada awal musim hujan. Pemilihan musim ini diharapkan agar di tanah sawah kandungan airnya tidak berlebihan dan di tanah tegalan cukup air untuk pertumbuhan cabai. Namun pada waktu tanaman berbunga dan berbuah, keadaannya sedang tidak hujan lebat, karena dapat mengakibatkan banyak bunga dan bakal buah yang gugur serta busuk (Suwandi, 1995) Tanaman cabai merupakan terna tahunan yang tumbuh tegak dengan batang berkayu dan memiliki banyak cabang. Tinggi tanaman dapat mencapai 100 cm dengan diameter tajuk sampai 50 cm. Daun cabai umumnya berwarna hijau muda sampai gelap; bentuk daun cabai umumnya bulat telur, lonjong, atau oval dengan ujung meruncing tergantung jenis dan varietasnya. Bunga cabai berbentuk terompet, sama dengan bunga pada tanaman Solanaceae lainnya; bunga cabai merupakan bunga lengkap yang terdiri dari kelopak, mahkota, benang sari, dan putik. Buah cabai memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda-beda tergantung jenis dan varietasnya. Tanaman cabai memiliki akar Tunggang yang terdiri atas akar utama dan akar lateral. Akar lateral mengeluarkan serabut, mampu menembus tanah sampai kedalaman 50 cm dan lebar sampai 45 cm (Wiryanta & Wahyu 2002). Buah cabai dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan bumbu masak, industri makanan, dan obat-obatan. Tanaman abai termasuk komoditas sayuran yang hemat lahan karena untuk produksinya lebih mengutamakan perbaikan teknologi budidaya. Cabai mengandung kapsaisin, dihidrokapsaisin, vitamin, damar, zat pewarnakapsantin, karoten, kapsarubin, zeasantin, kriptosantin, lanlutein; dan mineral, seperti zat besi, kalium, kalsium, fosfor, dan naisin. Zat aktif kapsisidin berkhasiat untuk memperlancar sekresi asam lambung dan mencegah infeksi sistem percernaan (Dermawan 2010).

III. A.

TATA LAKSANA KEGIATAN

Waktu Pelaksanaan, Nama dan Tempat Magang Waktu Pelaksanaan kegiatan magang mahasiswa ini dilaksanakan selama satu bulan yaitu pada 2 Juli 2012 sampai dengan 2 Agustus 2012 yang dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA), dengan alamat jalan Tangkuban Perahu No. 517, Lembang, Bandung, Jawa Barat.

B.

Metode Pelaksanaan Magang 1. Observasi Observasi lapang oleh mahasiswa magang dilakukan secara langsung dengan ikut bekerja di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) mulai dari deskripsi varietas cabai merah yang ada di BALITSA, teknik budidaya cabai merah, pembibitan (benih, persemaian dan pembumbunan), pengolahan lahan (jenis tanah, pengapuran lahan, pembuatan bedengan, pemupukan dasar, pemasangan mulsa dan pelubangan mulsa), penanaman (waktu tanam, penentuan jarak tanam, pembuatan lubang tanam, penanaman bibit, dan penyulaman), pemeliharaan (pemupukan, pengairan, pemasangan ajir, pengikatan tanaman, pemangkasan tunas dan penyiangan), pengendalian hama dan penyakit, panen dan pasca panen (sortasi, grading, pengepakan, penyimpnan dan transportasi), hingga sistem pemasaran cabai merah ( rantai pemasaran cabai merah, jenis pasar cabai merah, kemitraan pemasaraan cabai merah, analisis usaha tani cabai merah perHa dan analisis usaha tani benih cabai merah) dan ekspor cabai merah untuk memperoleh gambaran secara lebih jelas mengenai aspek yang dikaji. Seluruh peserta magang di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) juga mengamati kegiatan-kegiatan yang tidak dapat secara langsung dipraktekkan. Kegiatan ini dilakukan apabila peserta magang tidak memungkinkan ikut bekerja langsung sebagaimana halnya para pekerja sesuai kebijakan dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA). 11

2.

Wawancara Wawancara dilaksanakan dengan melakukan sesi tanya jawab secara langsung kepada mandor atau petani yang ada di kebun yang berkaitan dengan materi magang dan kegiatan yang dipelajari di lapangan kepada pembimbing lapang dan dengan pihak-pihak yang ditugaskan di setiap bagian-bagiannya.

3.

Studi pustaka Studi pustaka dilakukan dengan mencari referensi sebagai data pelengkap, pendukung dan pembanding serta konsep dalam alternatif pemecahan masalah. Referensi tersebut antara lain diperoleh dari bukubuku, jurnal, dan internet.

4.

Analisis data a) Metode dasar deskriptif analisis Metode ini berusaha memberi arti terhadap data dengan menggambarkannya sesuai keadaan teraktual. Data tersebut disusun, dianalisis, dijelaskan kemudian diambil kesimpulannya. b) Metode analisis kuantitatif Metode ini meliputi : 1) Penerimaan Penerimaan merupakan hasil kali antara jumlah produksi dengan harga jual produk yang bersangkutan. Adapun rumus penerimaan adalah sebagai berikut : TR = P x Q Keterangan : TR P Q 2) Biaya Biaya meliputi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk produksi, yakni biaya implisit dan biaya eksplisit. Biaya implisit adalah biaya yang tidak benar-benar dikeluarkan oleh petani selama : Total penerimaan (Rp) : Harga (Rp) : Total produksi (Kg)

proses produksi yang terdiri dari biaya tenaga kerja keluarga, biaya penyusutan alat, biaya sewa lahan, dan biaya bunga modal. Biaya eksplisit adalah biaya yang secara nyata dibayarkan selama proses produksi oleh petani yang berasal dari luar yang terdiri dari biaya tenaga kerja luar keluarga, biaya pembelian benih atau bibit, biaya pembelian pupuk, biaya pembelian pestisida, dan biaya pembelian pupuk kandang. 3) Pendapatan Untuk menghitung pendapatan usahatani yaitu dengan menghitung selisih penerimaan dan biaya usahatani, yang dirumuskan : = TR TC Keterangan : TR TC 4) : Pendapatan usahatani (Rp) : Total Penerimaan (Rp) : Total Biaya (Rp) Keuntungan Keuntungan dapat dihitung dengan rumus: Keuntungan = Penerimaan - Biaya Total Usahatani Biaya Total = Biaya eksplisit + Biaya implisit 5) R/C Ratio R/C ratio merupakan analisis untuk mengetahui tingkat efisiensi usahatani. Analisis ini dapat dihitung dari perbandingan antara jumlah penerimaan petani R/C Ratio dengan jumlah biaya yang digunakan untuk pengelolaan usahatani. = penerimaan usahatani biaya usahatani R/C Ratio > 1 berarti usahatani tersebut lebih efisien R/C Ratio = 1 berarti usahatani tersebut sama efisiennya R/C Ratio < 1 berarti usahatani tersebut kurang efisien

5.

Dokumentasi Dokumentasi diambil melalui pengambilan gambar komoditas di kebun BALITSA dan kegiatan yang dilakukan di instansi lokasi magang serta proses budidaya tanaman sampai pemasaran cabai merah.

C.

Rincian Kegiatan Magang Beberapa kegiatan yang dilakukan mahasiswa dalam kegiatan magang ini dapat dilihat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1. Rincian Kegiatan Magang Mahasiswa di BALITSA No Hari 1. Rabu Tanggal 4 Juli 2012 Jam Kerja 06.30-12.00 Macam Kegiatan Penyelesaian administrasi Perkenalan mandor kebun, pembimbing lapang Panen tomat Pembibitan bawang merah Panen petsay Pemeliharaan lahan Libur Libur Pemanenan tomat Koordinasi pembimbing Persemaian cabai merah Pemanenan cabai merah Penyortiran cabai merah Mencari literature ke perpustakaan Penyiraman cabai merah Pemeliharaan cabai merah Ke gudang dan wawancara Bandar sayuran di Lembang

2.

Kamis

5 Juli 2012

06.30-12.00

3. 4. 5. 6.

Jumat Sabtu Minggu Senin

6 Juli 2012 7 Juli 2012 8 Juli 2012 9 Juli 2012

06.30-12.00 06.30-12.00

7.

Selasa

10 Juli 2012

06.30-12.00

8.

Rabu

11 Juli 2012

06.30-12.00

9.

Kamis

12 Juli 2012

06.30-12.00

Panen kentang Mencari literature ke perpustakaan Konsultasi ke pembimbing Senam Penyortiran benih cabai Panen zhukini Penyortiran dan grading kentang Libur Wawancara ke mandor Survey ke bandar sayuran Kunjungan ke Kelompok Tani Mekar Tani Jaya, CV.Bimandiri dan pengepul sayuran Panen cabai merah Pemasangan mulsa Konsultasi ke pembimbing Survey pasar induk Caringin Pemotongan ajir untuk komoditas cabai merah Munggahan Ramadhan Penanaman benih cabai merah Persemaian cabai merah Libur Pemasangan ajir dan sanitasi cabai merah Konsultasi draft ke pembimbing Panen cabai merah Wawancara ke mandor Mencari literature

10 .

Jumat

13 Juli 2012

06.30-11.00

11 . 12 . 13 .

Sabtu Minggu Senin

14 Juli 2012 15 Juli 2012 16 Juli 2012

06.30-12.00 06.30-12.00

14 .

Selasa

17 Juli 2012

06.30-12.00

15 . 16 .

Rabu Kamis

18 Juli 2012 19 Juli 2012

06.30-12.00 06.30-12.00

17 . 18 . 19 20 .

Jumat Sabtu Minggu Senin

20 Juli 2012 21 Juli 2012 22 Juli 2012 23 Juli 2012

06.30-11.00 06.30-10.00 06.30-11.30

21 .

Selasa

24 Juli 2012

06.30-11.30

22 . 23 . 24 . 25 . 26 . 27 . 28 .

Rabu

25 Juli 2012

06.30-11.30

Kamis Jumat Sabtu Minggu Senin Selasa

26 Juli 2012 27 Juli 2012 28 Juli 2012 29 Juli 2012 30 Juli 2012 31 Juli 2012

06.30-11.30 06.30-11.00 06.30-10.00 06.30-11.30 06.30-11.30

Pemupukan susulan cabai merah Mencari literature Penyortiran kentang dan mencari literature Menghadiri seminar hasil magang dari UNS dan IPB Pemanenan jagung Libur Seminar hasil magang dengan pembimbing Perpisahan dan Menyelesaikan Administrasi

Sumber: Catatan Harian Kegiatan Magang Mahasiswa FP UNS IV. HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil BALITSA Lembang 1. Kondisi Wilayah a. Letak Geografis Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) terletak di Jl. Tangkuban Parahu No. 517 kampung Margahayu, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) memiliki areal seluas 40 hektar. Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) terletak 1250 meter di atas permukaan laut. Letak geografis BALITSA berada pada 107,30 BT dan 6,30LS. BALITSA memiliki batas-batas yaitu : sebelah timur berbatasan dengan jalan raya LembangSubang, sebelah selatan berbatasan dengan lahan petani Cibogo, sebelah barat berbatasan dengan sungai kecil kampung Cibedug, dan sebelah utara berbatasan dengan jalan b. Topografi Cibedug-Cikole.

Topografi Balai Penelitian Tanaman Sayuran memiliki tipe tanah Andisol yang berasal dari abu vulkanik Gunung Tangkuban Perahu, dengan struktur tanah remah dan gembur, sedangkan tekstur tanah berupa debu, lempung berdebu dan lempung. Warna tanah di lahan Balai Penelitian Tanaman Sayuran adalah hitam, abu-abu dan coklat dengan pH tanah sebesar 5,5-6. Lokasi ini mempunyai suhu 19 C-24 C dengan curah hujan 2207 mm/tahun, sedangkan kelembaban udara berkisar antara 7090 %. Kecepatan air tanah di tempat ini termasuk baik / porous. 2. Sejarah BALITSA Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) didirikan pada tahun 1940 dan berada dibawah naungan Balai Penelitian Teknologi Pertanian Bogor. Kegiatan penelitian di BALITSA mulai dilaksanakan di Kebun Percobaan Kp. Margahayu Lembang sejak tahun 1940 sampai tahun 1942. Tahun 1962, Kebun Percobaan Kp. Margahayu Lembang dialihkan dibawah Lembaga Penelitian Hortikultura yang berkedudukan di Pasar Minggu Jakarta Selatan. Tahun 1968 Kebun Percobaan berubah nama menjadi Lembaga Penelitian Hortikulura Cabang Lembang. Lembaga ini mulai tahun 1973 memiliki tenaga peneliti dibidang pemuliaan tanaman, sosial ekonomi, agronomi, hama penyakit dan pasca panen. Lembaga Penelitian Hortikulura Cabang Lembang berganti nama menjadi Balai Penelitian Tanaman Pangan pada tahun 1980. Sejak dikeluarkannya Keputusan Menteri Pertanian No. 861/kpts/org/12/1982 pada tahun 1982, status lembaga diubah menjadi Balai Penelitian Hortikultura (BPH) Lembang. Tanggal 1 April 1995, menyusul terjadinya reorganisasi di Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, terutama menyangkut mandat Balai serta Keputusan Menteri Pertanian RI No. 796/kpts/ot.210/12/1994. Balai Penelitian Hortikultura Lembang berubah nama menjadi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA). Hingga tahun 2012 BALITSA masih memiliki nama Balai Penelitian Tanaman Sayuran yang bertempat

tetap di Lembang. Kedudukan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) pada saat ini bernaung di bawah Kementerian Pertanian Republik Indonesia, yang berkedudukan di Jalan Margasatwa, Ragunan, Jakarta Selatan.Oleh karena itu lembaga ini merupakan salah satu Balai Penelitian Tanaman Sayuran yang berstatus sebagai instansi pemerintah. 3. Visi dan Misi Visi dan Misi dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (BALITSA) adalah sebagai berikut: a. Visi ( 2010-2014 ) Menjadi lembaga penelitian dan pengembangan sayuran berkelas dunia pada tahun 2014 yang menghasilkan dan mengembangkan inovasi teknologi sayuran untuk mewujudkan industrial yang memanfaatkan sumber daya lokal untuk meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, ekspor, dan kesejahteraan petani b. Misi ( 2010-2014 ) 1) Merakit, menghasilkan dan mengembangkan teknologi inovasi sayuran yang secara ilmiah dan teknis dapat meningkatkan produktivitas, daya saing dan nilai tambah, serta sesuai dengan kebutuhan pengguna. 2) 3) Meningkatkan diseminasi teknologi dalam mendukung Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, sarana pengembangan kawasan hortikultura. dan prasarana dalam pelayanan terhadap pengguna teknologi inovasi yang efektif dan efisien. 4) Menjalin jejaring kerjasama dalam negeri dan luar negeri dalam membangun kemitraan untuk membangun dan memecahkan masalah rawan pangan dan gizi komunitas dunia. 4. Tujuan BALITSA Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) mempunyai tugas pokok sesuai dengan keputusan menteri (Kep.Mentan No.74/Kpts/OT.210/1/2002) untuk melaksanakan Penelitian Sayuran.

Dalam

melaksanakan

tugas,

Balai

Penelitian

Tanaman

Sayuran

(BALITSA) memiliki fungsi: a.Melaksanakan penelitian genetika, pemuliaan, pembenihan dan pemanfaatan plasma nuftah tanaman sayuran b. Melaksanakan penelitian morfologi, ekologi, entomologi dan fitopatologi tanaman sayuran c.Melaksanakan penelitian komponen teknologi sistem dan usaha agribisnis tanaman sayuran d. sayuran e.Menyiapkan kerja sama, informasi dan dokumentasi serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil penelitian tanaman sayuran f. Melaksanakan urusan tata usaha dan rumah tangga Kepala Balai Memberikan pelayanan teknik kegiatan penelitian tanaman

5. Struktur Organisasi
Ka. (BALITSA) Struktur Organisasi dari Balai Penelitian Tanaman SayuranSub Tata Usaha

yaitu :

Seksi Jasa Penelitian Kepegawaian

Rumah Tangga

Keuangan

Seksi Pelayanan Teknik Kerjasama Diseminasi IT dan Pustakawan

Kebun

UPBS

Laboratorium

Kelompok Peneliti, Pemuliaan, & Plasma Nutfah

Kelompok Peneliti, Ekofisiologi

Kelompok Peneliti, Hama dan Penyakit

Kelompok Peneliti, Pasca Panen

Gambar 4.1. Struktur Organisasi BALITSA

Keterangan Struktur Organisasi Kepala Balai Ka. Sub Tata Usaha Kepegawaian Rumah Tangga Keuangan / Bendahara Ka. Seksi Jasa Penelitian Kerjasama Diseminasi IT dan Pustaka Seksi Pelayanan Teknik Kebun UPBS Laboratorium Kelti Pemuliaan,Plasma Nutfah Kelti Ekofisiologi Kelti Hama dan Penyakit : Dr. Liferdi, SP. M.Si : Mastur SP : Drs. Maman Suherman : Agus Rokhman : Wida Rahayu, SE : Drs. Luthfy : Astri Windia Wulandari, SP : Andi Supriadi, ST : Rinda Kirana, SP. MP : Subarlan :Rinda Kirana, SP. MP :Imas Suraya Dewi : Kusmana, SP : Ir. Subhan, APU : Dr. Laksminiwati Prabaningrum

Kelti Pasca Panen


6. Kualifikasi Staff dan Jumlah Staff

: Dr. Ali Asgar, M.S

Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) dipimpin oleh Seorang Kepala Balai yang membawahi Sub Bagian Tata Usaha, Seksi Jasa Penelitian, Seksi Pelayanan Teknik, dan Kelompok Jabatan Fungsional. Adapun fungsi dari bagian-bagian tersebut antara lain: 1. 2. Sub bagian Tata Usaha adalah bagian yang Seksi Jasa Penelitian adalah bagian yang melaksanakan urusan tata usaha dan rumah tangga. mempunyai tugas melakukan diseminasi teknologi tanaman sayuran, teknologi informasi, pelayanan perpustakaan, penyiapan bahan kerjasama, publikasi dan dokumentasi Seksi Jasa Penelitian juga membawahi bagian Teknologi Informasi dan Perpustakaan. a. Perpustakaan Perpustakaan mengurusi bagian perpustakaan mengenai buku-buku yang ada di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) dan juga mengurus tentang peminjaman buku serta mendata para pengunjung yang datang ke perpustakaan untuk kebutuhan membaca. Perpustakaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) sendiri sudah memiliki banyak koleksi buku, jurnal, serta laporan-laporan hasil penelitian.
b. Teknologi Informasi

Mengurusi bagian ilmu tekhnologi dan juga sistem komputerisasi di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA). 3. Seksi Pelayanan Teknis adalah bagian yang Seksi Pelayanan Teknis juga membawahi bagian UPBS, kebun, dan laboratorium.
a.

memberikan pelayanan teknis pada penelitian tanaman sayuran.

UPBS

Salah satu unit yang bertugas untuk mendayagunakan hasil penelitian tanaman sayuran adalah UPBS. UPBS (Unit produksi Benih Sumber) berfungsi untuk memproduksi dan menyediakan benih sumber. Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) merupakan balai penelitian yang memproduksi berbagai varietas benih sayuran.Beberapa benih sayuran yang diproduksi oleh BALITSA yaitu bawang merah, cabai, caisin, kangkung, bayam, kentang, buncis dll. Konsumen benih yang diproduksi oleh BALITSA antara lain BPTP, Dinas Pertanian, perusahaan (untuk dipasarkan), serta perorangan (untuk penelitian). Benih yang dihasilkan oleh BALITSA tidak dijual 100 %, tetapi disisakan sebagian untuk produksi tahun berikutnya dan untuk dikembangkan atau diteliti. Benih yang dipasarkan oleh BALITSA tidak memiliki kriteria tertentu, benih tersebut langsung bisa dipasarkan apabila telah lolos standart dan sertifikasi dari BPSB. Benih yang dihasilkan oleh BALITSA adalah Benih Sumber (BS) yaitu benih penjenis yag dapat ditangkarkan lagi sehingga kemurnian benih masih tinggi sehingga kurang baik/cocok untuk dikonsumsi. b. Kebun Kebun dikelola oleh para mandor kebun digunakan untuk tempat penanaman tanaman yang sedang diteliti. c. Laboratorium Laboratorium digunakan untuk meneliti benih ataupun kebutuhan penelitian lainnya.
4.

Kelompok Jabatan fungsional adalah bagian yang

melaksanakan kegiatan fungsional yang dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA), berupa kegiatan penelitian yang didukung oleh kelompok peneliti pemuliaan dan plasma nutfah, hama dan penyakit, ekofisiologi dan pasca panen. Fasilitas penunjang utama yang tersedia yaitu kebun percobaan seluas 40 hektar, laboratorium

(tanah, hama dan penyakit, kultur jaringan, teknologi pasca panen) rumah kasa atau kaca, gudang tempat penyimpanan benih dan ruangruang lainnya. Penjelasan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran antara lain: 1) Kegiatan Peneliti Pemuliaan dan Plasma Nutfah Kegiatan ini dilakukan oleh kelompok peneliti pemuliaan dan plasma nutfah dengan kegiatan melakukan perbaikan tanaman yang merupakan salah satu upaya peningkatan produksi dan keberlanjutannya usahatani daerah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) berusaha meminimalkan kendala biotik dan abiotik yang berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas hasil melalui pendekatan konvensional dan bioteknologi. 2) Kegiatan Peneliti Hama dan Penyakit Kelompok ini menekankan pada suatu teknik pengendalian hama dan penyakit yang menerapkan suatu kombinasi dari strategi yang bersandar pada faktor penyebab kematian alami dan strategi penggunaan pestisida. 3) Kegiatan Peneliti Ekofisiologi Kelompok ini merupakan gabungan antara agronomi dan sosial ekonomi pertanian. Kegiatannya yaitu merancang suatu paket teknologi untuk menanggulangi masalah yang ada dalam budidaya antara lain budidaya sayuran diluar musim, budidaya kentang dataran medium, budidaya di lahan marginal dan pemupukan berimbang. Peneliti Ekofisiologi melaksanakan pula penelitian mengenai sosial ekonomi pertanian. 4) Kegiatan Peneliti Pasca Panen Penanganan pra dan pasca panen merupakan rantai terakhir yang dapat memberikan intensif terhadap peningkatan kuantitas hasil dan nilai tambah komoditas sayuran. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain penanganan tanaman segar serta mendapatkan hasil olahan yang bermutu, teknik pengendalian

berbagai komoditas sayuran, penyimpanan kentang di ruang terang dan teknik penyimpanan umbi bawang merah untuk memperlambat pertunasan.

1. Teknik Budidaya Cabai Merah (Capsicum annuum)

a. Pengolahan Tanah Pengolahan tanah dilakukan bersamaan dengan penyemaian. Hal ini bertujuan agar pada saat pengerjaan tanah selesai, bibit cabai langsung dapat dipindah dari persemaian ke areal penanaman. Persiapan lahan yang pertamatama dilakukan pertama kali adalah pencangkulan lahan sekaligus pembersihan gulma. Lahan dicangkul hingga gembur dengan tujuan. Kemudian tanah diratakan dan dibuat bedengan dengan ukuran 1,2 m x 30 m. Setelah itu dibuat garian-garitan. Pemupukan dasar dilakukan yakni dengan menghamparkan pupuk kandang yang berasal dari kotoran kuda 30-40 ton/Ha dan pupuk majemuk NPK Mutiara 16-16-16 dengan dosis 7 kwintal/ha (70% dari kebutuhan pupuk buatan selama tanam cabai) pada garitan, kemudian ditutup dengan tanah. Pemberian pupuk ini 7-10 hari sebelum masa tanam. Selain pupuk tersebut, pemberian Regent tabur (insektisida) dan Furadan 3G (Nematisida-Insektisida) juga dilakukan, yang berfungsi untuk mengendalikan ulat tanah dan nematoda. Pengolahan tanah pada lahan untuk budidaya cabai merah di BALITSA bertujuan untuk memperbaiki drainase dan aerasi tanah, meratakan permukaan tanah dan mengendalikan gulma sehingga akar-akar tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan leluasa. Pemulsaan Penggunaan mulsa pada penanaman cabai merah merupakan salah satu usaha untuk memeberikan kondisi lingkungan Jenis mulsa yang digunakan di BALITSA adalah Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP). Warna perak pada mulsa akan

memantulkan cahaya matahari sehingga proses fotosintesis menjadi lebih optimal, kondisi pertanaman tidak terlalu lembab, mengurangi serangan penyakit, dan mengusir serangga-serangga penggangu tanaman seperti Thirps dan Aphids. Sedangkan warna hitam pada mulsa akan menyerap panas sehingga suhu di perakaran tanaman menjadi hangat. Akibatnya, perkembangan akar akan optimal. Selain itu warna hitam juga mencegah sinar matahari menembus ke dalam tanah sehingga benih-benih gulma tidak akan tumbuh. Penggunaan mulsa pada penanaman cabai merah juga bertujuan untuk memberikan kondisi lingkungan pertumbuhan tanaman yang lebih baik, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal. Setelah mulsa dipasang, dibuat lubang-lubang tanam dengan jarak tanam 40 cm x 60 cm. Pembuatan lubang tanam menggunakan alat pelubang mulsa yang berupa kaleng atau alumunium yang tajam pada bagian bawahnya. Pelubangan mulsa dengan cara alat pelubang berupa kaleng atau alumunium ditekan tegak lurus terhadap mulsa sesuai jarak tanam yang diinginkan (40 cm x 60 cm). Sebaiknya, pelubangan mulsa dilakukan pada pagi hari, agar mulsa telah terkena radiasi panas sinar matahari dan memuai sehingga mulsa lebih mudah untuk dilubangi. Pelubangan Mulsa Setelah mulsa dipasang, dibuat lubang-lubang tanam dengan jarak tanam 40 cm x 60 cm. Pembuatan lubang tanam menggunakan alat pelubang mulsa yang berupa kaleng atau alumunium yang di dalamnya terdapat arang sehingga mulsa mudah terlubangi denga panas arang tersebut. Pelubangan mulsa dengan cara alat pelubang berupa kaleng atau alumunium ditekan tegak lurus terhadap mulsa sesuai jarak tanam yang diinginkan (40 cm x 60 cm). Sebaiknya, pelubangan mulsa dilakukan pada siang

hari, agar mulsa telah terkena radiasi panas sinar matahari dan memuai sehingga mulsa lebih mudah untuk dilubangi. b. Penanaman 1) Penyemaian Sebelum disemai, benih cabai merah direndam dalam air hangat (500 C) atau larutan Previcur N (1 mi/I) selama 1 jam. Perendaman benih tersebut bertujuan untuk menghilangkan hama atau penyakit yang menempel pada biji dan untuk mempercepat perkecambahan. Kalau ada biji yang mengambang, berarti benih kurang baik, jadi harus disingkirkan. Benih-benih yang tenggelam bisa langsung disemai.. Benih disemai di tempat persemaian yang telah disiapkan berupa bedengan berukuran lebar 1 cm dan panjangnya tergantung pada kebutuhan. Media persemaian yang digunakan untuk menyemaikan benih cabai merah yaitu campuran tanah, pupuk kandang (pupuk kuda dan ayam) dan arang sekam dengan perbandingan 1:1:1, yang telah disterilkan dengan uap air panas selama 6 jam, sehingga komposisi media seimbang. Media semai menggunakan arang sekam agar perkembangan akar cepat merata. Bedengan persemaian diberi naungan (atap) berupa plastik transparan atau daun pisang untuk melindungi bibit yang masih muda dari air hujan dan matahari. Atap harus menghadap ke arah timur agar bibit mendapat sinar matahari yang cukup di pagi hari. Pemberian naungan juga berfungsi untuk menjaga kelembaban tanah. Akan lebih baik lagi apabila persemaian ditutupi dengan kasa nyamuk, agar dapat terhindar dari serangan kutu daun dan pentebaran virus, sehingga akan dihasilkan bibit yang seragam dan sehat (Vos, 1995). 2) Pembumbungan Bibit yang mengalami pembubungan atau penyapihan pada kantong plastik/daun pisang, setelah ditanam di lapangan dapat

lebih cepat beradaptasi, dan kematian tanaman tidak mudah terjadi dibandingkan dengan bibit yang tidak mengalami pembubungan. Hal ini berarti, pembubungan serta dapat hasil mengurangi buah cabai keterkejutan pemindahan bibit ke lapangan, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan (Kusumainderawati, 1979; Vos, 1995). Setelah disemai 7-8 hari, benih cabai merah akan berkecambah. Setelah benih berkecambah tutup pada benih dilepas. Setelah membentuk 2 helai daun 12-14 hari sejak semai, bibit dipindahkan ke dalam bumbungan daun pisang. Penggunaan bumbung daun pisang pada pembumbungan tanaman cabai merah di BALITSA memiliki beberapa keuntungan, yaitu tanaman lebih sehat/kekar, tanaman mudah dipindahkan ke lahan dan pada saat penanaman tidak perlu membuka bumbungan sehingga tidak berpengaruh ke perakaran. Penyiraman dilakukan secukupnya setiap pagi hari agar daun tanaman dan permukaan tanah menjadi kering sebelum malam hari dengan air yang secukupnya saja. Apabila terlalu banyak, bibit akan menjadi lemah dan peka terhadap jamur.

Gambar 4.7 Bumbungan Bibit Cabai Merah

Gambar 4.8 Bibit Cabai Merah Siap Dipindah


3)

Waktu Tanam Keadaan topografi di Lembang yaitu bersuhu 18-25 C

dengan curah hujan 2207 mm/tahun, sedangkan kelembaban udaranya berkisar antara 7090 % dan kecepatan air tanahnya termasuk baik / porous. Berdasarkan keadaan topografi tersebut, maka lahan di BALITSA cocok untuk budidaya tanaman sayursayuran, cabai merah salah satunya. Cabai merah membutuhkan suhu pada malam hari yang dingin dan suhu pada siang hari yang agak panas untuk pembungaannya. Untuk lahan kering/tegalan dengan drainase baik seperti lahan di BALITSA, waktu tanam yang tepat adalah awal musim hujan, agar tanaman cabai mendapatkan air yang cukup. Jika kekeringan terjadi pada saat pertumbuhan bunga dan buah, hasil buah akan menurun, bahkan tanaman tidak dapat dipanen. Sebaliknya, tanah yang terlalu becek juga dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan tanaman mudah terserang penyakit, terutama yang disebabkan oleh cendawan.
4)

Penentuan Jarak Tanam Jarak tanam untuk tanaman cabai adalah 40 cm x 60 cm.

Penentuan jarak disesuaikan dengan pelubangan mulsa. Untuk mulsa yang berukuran lebar 150 cm setiap bedengan maka dibuat 2 lubang tanam yang lebarnya sesuai dengan lebar mulsa. Kebutuhan benih untuk lahan seluas 1000 m2 dibutuhkan benih sebesar 3333 benih, dengan perhitungan sebagai berikut : Kebutuhan Benih = = = 3333,33
5)

Pembuatan Lubang Tanam

Pembuatan

lubang

tanam

segera

dilakukan

setelah

pemulsaan. Sama seperti pelubangan mulsa, pembuatan lubang tanam dengan menggunakan alat pelubang mulsa yang berupa kaleng atau terbuat dari alumunium dengan jarak tanam 40 cm x 60 cm. Setelah itu setiap lubang tanam ditugal dengan menggunakan bambung sedalam 10-15 cm. Pembuatan jarak tanam maupun lubang tanam dilakukan sesuai dengan lebar mulsa yaitu 150 cm. Dalam satu bedengan selebar 150 cm biasanya dibuat 2 lubang tanam.
6)

Penanaman Bibit Bibit yang sehat dan siap dipindahkan ke lapangan adalah

bibit yang telah berumur 3-4 minggu setelah dibumbung. Pada umur tersebut bibit sudah membentuk 4-5 helai daun dengan tinggi 5-10 cm (Kusumainderawati, 1979; Sunu 1998). Sebelum bibit dipindahkan ke lapangan, sebaiknya dilakukan penguatan bibit (hardening) dengan jalan membuka atap persemaian supaya bibit menerima langsung sinar matahari dan mengurangi penyiraman secara bertahap. Selama proses penguatan, proses pertumbuhan bibit menjadi lebih lambat tetapi jeringan menjadi lebih kyat. Penguatan bibit berlangsung kurang lebih 7 hari (Knott dan Deanon, 1970). Penanaman bibit cabai dilakukan pada pagi hari. Setiap lubang tanam ditanam satu tanaman. Bumbun yang terbuat dari daun pisang dapat langsung ditanam. Setelah bibit ditanam pada lubang tanam kemudian diuruk hingga menutupi batas pangkal. tanaman langsung disiram air dengan tujuan agar akarnya dapat melekat terhadap tanah.
1)

Pemangkasan Tunas ( Prooning ) Tunas yang tumbuh diketiak daun perlu dihilangkan dengan

menggunakan tangan yang bersih. Pemangkasan tunas dilakukan sampai terbentuk cabang utama (Primer) yang di tandai dengan

munculnya

bunga

pertama.

Tujuan

perempelan

untuk

mengoptimalkan pertumbuhan. Perempelan tunas air pada tanaman cabai bertujuan untuk memperkokoh tanaman, mengoptimalkan sinar matahari, serta mengurangi resiko terkena serangan penyakit. Semu tunas atau cabang air yang tumbuh di ketiak daun dan dibawah bunga pertama sebaiknya dihilangkan dengan menggunakan tanah yang steril. Pruning baiknya dilakuakn di pagi hari agar tunas air tersebut mudah dipatahkan. e. Pemeliharaan 1. Pemupukan susulan Pemupukan pada budidaya cabai merah bervariasi tergantung pada jenis tanah dan sistem penanamannya. Pada tanah bertekstur ringan, dibutuhkan pemupukan yang lebih tinggi daripada tanah yang bertekstur berat (Knott and Deanon, 1970). Pupuk susulan yang diberikan adalah NPK 16-16-16 300500 kg/Ha, diberikan dengan dicor, yaitu pupuk dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 2 g/l, kemudian disiramkan pada lubang tanaman (100-200 ml/tanaman). Pupuk susulan diaplikasikan setiap 14 hari yang dimulai sejak tanaman berumur 14 hari setelah tanam (HST). PENYIRAMAN Penyiraman tanaman cabai merah di BALITSA dilakukan setiap pagi hari. Penyiraman rutin dilakukan sehari satu kali karena tanaman cabai merah termasuk tanaman yang tidak tahan terhadap kekeringan, juga tidak tahan terhadap genangan air. Air tanah dalam keadaan kapasitas lapang (lembab tapi tidak becek) sangat mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai merah. PENGAJIRAN

PENGAJIRAN dilakuakan dengan cara memberi ajir pada tanaman cabai untuk menjaga tanaman agar tidak mudah rebah sehingga selalu tegak. PENYIANGAN Gulma selain sebagai tanaman kompetitor juga dapat sebagai tempat berkembangnya hama dan penyakit tanaman cabai oleh karenanya penyiangan harus dilakukan untuk membersihkan daerah sekitar tanaman dari gulma. Penyiangan dapat dilakukan secara manual dengan mencabut gulma secara hati-hati. Penyiangan gulma secara manual dikarenakan gulama yang tumbuh relatif sedikit dengan pemakaian mulsa. d. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Dengan menggunakan mulsa maka pertumbuhan gulma tidak dapat dikendalikan. Penyiangan gulma pada tanaman cabai yang ditanam dengan menggunakan mulsa cukup sekali saja dan penyemprotan herbisida sekali dalam sekali masa tanam. Beberapa hama dan penyakit utama yang menyerang tanaman cabai merah antara lain:
a) Thrips (Thriphs parvispinus)

Gejala serangan Thrips yang nampak pada tanaman cabai merah adalah mula-mula daun yang terserang memperlihatkan gejala noda keperakan yang tidak beraturan, akibatnya ada luka dari cara makn serangga tersebut. Setelah beberapa waktu, noda keperakan tersebut berubah menjadi coklat tembaga. Daun-daun mengeriting ke atas. Pengendaliaanya menggunakan Curacron 500 EC dengan konsentrasi 2 mL/L air.

Gambar 4.15 Hama Thrips (Thriphs parvispinus) pada Cabai Merah


b) Kutu daun persik (Myzus persicae)

Gambar 4.16 Kutu Daun Persik (Myzus persicae) pada Cabai Merah Kutu daun persik meyebabkan kerugian secara langsung yakni menghisap cairan tanaman, akibatnya tanaman yang terserang keriput, pertumbuhan tanaman terhambat (tumbuh kerdil), berwarna kekuningan, daun terpuntir, daun menguning, pertumbuhan lambat, sehingga tanaman menjadi layu kemudian mati. Secara tidak langsung kutu daun persik merupakan vektor penting penyakit virus menggulung daun kentang (PLVR) dan virus kentang Y. Gejala penyakit virus tersebut bervariasi mulai dari mozaik ringan sampai parah. Pengendaliannya menggunakan Curacron 500 EC dengan konsentrasi 2 ml/L air.
c) Ulat Tanah (A. Ipsilon)

Ulat tanah merupakan hama penting tanaman sayuran muda seperti kubis, petsai, tomat, dan cabai. Gejala serangan ditandai dengan terpotongnya tanaman pada pangkal batang. Akibatnya tanaman menjadi roboh. Kerusakan yang disebabkan oleh ulat tanah

dapat mengakibatkan kerugian yang berarti yaitu matinya tanaman mudasebesar 75-90% dari seluruh bibit yang ditanam (Sasrodihardjo, 1982).

Gambar 4.17 Ulat Tanah (A. Ipsilon) pada Cabai Merah Ulat tanah dapat dikendalikan secara mekanis, ulat tanah yang biasanya keluar pada sore dan malam hari dikumpulkan lalu dibunuh. Selain itu dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida sipermetrin (sherpa) dengan konsentrasi 0,5-1 cc/L.
d) Lalat buah (Bactrocera dorsalis)

Gambar 4.18 Lalat buah (Bactrocera dorsalis) pada Cabai Merah Gejala serangan lalat buah yaitu terdapat titik hitam pada pangkal buah. Jika buah dibelah, di dalamnya terdapat larva lalat buah. Kemudian larva hidup di dalam buah cabai, sehingga buah membusuk dan jatuh. Pengendaliaanya menggunakan Curacron 500 EC dengan konsentrasi 2 mL/L air.
e) Peyakit Bercak bakteri (Xanthomonas campestris)

Peyebab penyakit barcak bakteri adalah Xanthomonas campestris. bagian tanaman yang terserang ialah daun dan ranting.

Gejala awal penyakit bercak bakteri yang terjadi pada tanaman cabai merah adalah Bercak daun terlihat pertama kali berukuran kecil berbentuk sirkuler dan timbul bisul yang berwarna hijau dan pucat. Di bagian tengah bisul terdapat bagian yang melekuk ke dalam. Pada daun yang lebih tua, bercak tersebut berwarna hijau tua dan terjadi busuk basah. Apabila bercak daun cukup banyak maka terjadi gugur daun. Pada penyakit ini cenderung sulit untuk dikendalikan, pengendalian yang biasa dilakuka adalah dengan memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi.

Gambar 4.19 Bercak bakteri (Xanthomonas campestris) pada Cabai Merah


f) Penyakit Antraknose

Penyebab

penyakit

antraknose

adalah

cendawan

Colletotrichum capsici dan Colletotricum gleosporiodies. Pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk kemudian daun dan batang menjadi busuk kering dengan warna coklat kehitaman. Jika menyerang buah, maka buah akan menjadi busuk berwarana seperti terkena sengatan matahari dan diikuti busuk basah berwarna hitam, karena penuh dengan setae (rambut hitam) yang berbentuk

konsentrik pada umunya meyerang buah cabai yang berwarna merah. Pencegahan penyakit busuk buah antraknose menggunakan Score dengan konsentrasi 0,5-1 cc/L atau dengan Agristick dengan dosis 2 cc/L.

Gambar 4.20 Cabai Merah yang Terjangkit Penyakit Busuk Buah Antraknose
g) Penyakit layu fusarium (Fusarium spp.)

Gejala penyakit ini adalah menguning atau layunya daun bagian bawah dekat pangkal batang (daun tua) kemudian menjalar ke atas ke ranting-ranting tua. Bila pada bagian pangkal batang diiris akan terlihat warna coklat pada pembuluh kayunya. Akar tanaman yang diserang menjadi rusak dan busuk. Selanjutnya membuat tanaman menjadi layu dan mati. Berbeda dengan layu bakteri, layu fusarium ini tidak menyebabkan keluarnya lendir. Jika dijumpai gejala serangan ini dilakukan eradikasi secara selektif. Pencegahan penyakit busuk buah antraknose menggunakan Score dengan konsentrasi 0,5-1 cc/L.
h) Bercak Fitoftora (Phytopthora capsici)

Seluruh bagian tanaman cabai merah dapat terinfeksi oleh penyakit ini. Infeksi pada batang dimulai dari leher batang menjadi busuk bawah berwarna hijau setelah kering warna menjadi berwarna coklat. Serangan yang sama dapat terjadi pada

bagian batang lainnya. Penyakit ini mematikan tanaman muda, gejala lanjut busuk batang menjadi kering mengeras dan seluruh daun menjadi layu. Gejala pada daun diawali dengan bercak putih seperti tersiram air panas berbentuk sirkuler atau tidak beraturan. Bercak tersebut melebar mengering seperti kertas dan akhirnya memutih karena waarna masa spora yang putih.

Gambar 4.22 Cabai Merah yang Terjangkit Penyakit Bercak Phytopthora Gejala serangan penyakit antraknosa atau patek yang terjadi pada buah Gejala awal pada buah adalah bercak seperti tercelup dengan warna hijau buram, bercak ini dengan cepat menyebar pada luasan buah. Gejala berikutnya buah akan menjadi lembek dan berkerut. Tanaman muda dan bagian dapat diserang patogen ini. Pencegahan penyakit busuk buah antraknose menggunakan Score dengan konsentrasi 0,5-1 cc/L. e. Panen dan Pasca Panen 1) Panen Pemanenan cabai merah dilakukan setelah tanaman cabai merah berumur 90 hari setelah tanam, pada umur tersebut biasanya buah cabai telah berwarna merah tanda sudah matang. Panen dilakukan 7 hari sekali dan dapat dilakukan hingga 20 kali panen. Proses pemetikan buah cabai merah dengan cara manual yakni dengan memetik buah cabai merah yang telah matang dari pangkalnya tanpa membutuhkan alat bantu, sedangkan buah cabai yang berwarna hijau tidak dipanen

pada saat itu. Pemanenan cabai dipilih yang merah saja untuk memenuhi keinginan konsumen, juga dikarenakan cabai dikirim pada jarak yang dekat saja. 2) Pasca Panen a) Sortasi dan Grading Sortasi dilaksanakan langsung setelah panen. Buah cabai merah dipisahkan antara yang baik dan yang buruk bersamaan dengan panen. Buah cabai merah yang buruk dan tidak layak jual langsung dibuang. Proses grading biasanya dilaksanakan di bandar tempat dikumpulkannya hasil panen dari petani maupun BALITSA. Proses grading ini sendiri dilakukan dengan membagi cabai merah menjadi tiga grade yaitu grade A , B, dan C. b) Penyimpanan Penyimpanan cabai merah di BALITSA tidak pernah dilakukan. Sesaat setelah panen cabai langsung dikemas dan di jual. Hal ini dilakukan karena cabai merah dijual dalam keadaan segar sehingga tidak tahan lama, mudah rusak, dan mudah busuk,.
c) Pengepakan / Packaging

Pengepakan yang dilakukan untuk produk cabai merah adalah dengan menggunakan plastik besar dan transparan. Satu plastik dapat memuat cabai merah sebanyak 25 kg 30 kg. Sedangkan untuk Bandar yang menerima cabai dari BALITSA biasanya melakukan pengepakan dengan cara yang berbeda sesuai dengan pemesanan. Kemasan dibagi menjadi beberapa jenis seperti untuk yang curah menggunakan kantong plastik besar yang isinya 25 kg 30 kg, untuk di supermarket biasanya menggunakan sterofoam dengan ukuran antara 100 gram dan 250 gram.
d) Transportasi/Pengangkutan

Pengangkutan hasil pemanenan cabai merah di BALITSA kepada Bandar dengan menggunakan motor maupun mobil pick up

yang nantinya disalurkan ke pasar induk, supermarket, maupun di ekspor.