Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG MASALAH Hasil belajar siswa pada hakikatnya merupakan perubahan tingkah laku

setelah melalui proses pembelajaran. Hasil belajar dalam pengertian luas adalah kemampuan aktual yang diukur secara langsung yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil pengukuran belajar (Penilaian) inilah akhirnya akan mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah dicapai. Penilaian hasil belajar adalah kegiatan atau cara yang ditujukan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan juga proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pada tahap ini seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam menentukan pendekatan dan cara-cara evaluasi, penyusunan alat-alat evaluasi, pengolahan, dan penggunaan hasil evaluasi. Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berinteraksi dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Setiap proses pembelajaran berlangsung, penting bagi seorang guru maupun peserta didik untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan tersebut. Hal ini hanya dapat diketahui jika guru melakukan penilaian, baik penilaian terhadap proses maupun produk pembelajaran. Siapapun yang melakukan tugas mengajar, perlu mengetahui akibat dari pekerjaannya. Pendidik harus mengetahui sejauhmana peserta didik telah menyerap dan menguasai materi yang telah diajarkan. Sebaliknya, peserta didik juga membutuhkan informasi tentang hasil

pekerjaannya. Hal ini hanya dapat diketahui jika seorang pendidik (guru) melakukan penilaian/evaluasi. Sebelum melakukan evaluasi, maka guru harus melakukan penilaian yang didahului dengan pengukuran. Pengukuran hasil belajar adalah cara pengumpulan informasi yang hasilnya dapat dinyatakan dalam bentuk angka yang disebut skor. Penilaian hasil belajar adalah cara menginterpretasikan skor yang diperoleh dari pengukuran dengan mengubahnya menjadi nilai dengan prosedur tertentu dan menggunakannya untuk mengambil keputusan.

1|Assesment dan Evaluasi Hasil Belajar

Oleh karena itu, para guru ataupun calon guru hendaknya memahami lebih dalam mengenai pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penilaian, ruang lingkup penilaian hasil belajar, dan pengumpulan informasi hasil belajar yang sangat berguna dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Maka disusunlah makalah yang berjudul Pengumpulan dan Pengelolaan Informasi Hasil Belajar.

1.2

RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat disusun antara lain sebagai berikut : 1.2.1 Apa sajakah yang dimaksud dengan pendekatan penilaian ? 1.2.2 Bagaimakah ruang lingkup penilaian hasil belajar matematika ? 1.2.3 Bagaimanakah proses pengumpulan hasil belajar matematika ?

1.3

TUJUAN PENULISAN Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1.3.1 1.3.2 Mengetahui komponen-komponen pendekatan penilaian. Mengetahui ruang lingkup penilaian hasil belajar matematika siswa. 1.3.3 Mengetahui proses pengumpulan hasil belajar matematika siswa.

1.4

MANFAAT PENULISAN 1.4.1 Dapat dijadikan bahan/materi publikasi yang akan menambah pengetahuan tentang mekanisme penilaian bagi seluruh satuan pendidik di Indonesia. 1.4.2 Memberikan pengetahuan tentang pendekatan penilaian, ruang lingkup hasil belajar, dan proses pengumpulan hasil belajar matematika siswa, bagi penulis dan pembaca yang notabenya adalah calon tenaga pendidik, sehingga dapat menambah pemahaman tentang proses penilaian (assesment).

2|Assesment dan Evaluasi Hasil Belajar

BAB II PEMBAHASAN

2.1

PENDEKATAN PENILAIAN

Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional. Standar Penilaian Pendidikan diatur oleh Permendiknas Nomor 20

Tahun 2007, yang dikemas dalam lima bab. Dalam aturan ini dinyatakan bahwa penilaian hasil belajar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah. Dengan digulirkannya Standar Penilaian Pendidikan maka pengelolaan penilaian hasil belajar oleh tiap guru hendaknya terstandar. Oleh karena itu para guru perlu memahami kewajiban dan tugasnya dalam mengelola penilaian hasil belajar yang terstandar. Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan penilaian hasil belajar, yaitu penilaian yang mengacu kepada norma (Penilaian Acuan Norma atau norm-referenced assessment) dan penilaian yang mengacu kepada kriteria (Penilaian Acuan Kriteria atau criterionreferencedassessment). Perbedaan kedua pendekatan tersebut terletak pada acuan yang dipakai. Pada penilaian yang mengacu kepada norma, interpretasi hasil penilaian siswa dikaitkan dengan hasil penilaian seluruh siswa yang dinilai dengan alat penilaian yang sama. Jadi hasil seluruh siswa digunakan sebagai acuan. Sedangkan, penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan, interpretasi hasil penilaian bergantung pada apakah atau sejauh mana seorang siswa mencapai atau menguasai kriteria atau patokan yang telah ditentukan. Kriteria atau patokan itu dirumuskan dalam kompetensi atau hasil belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi. Alur pengembangan kedua pendekatan dapat dilihat pada bagan berikut.

3|Assesment dan Evaluasi Hasil Belajar

Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan. Dalam hal ini prestasi siswa ditentukan oleh kriteria yang telah ditetapkan untuk penguasaan suatu kompetensi. Dengan kata lain, penilaian mengacu kepada kurikulum. Meskipun demikian, kadang-kadang dapat digunakan penilaian acuan norma, untuk maksud khusus tertentu sesuai dengan kegunaannya, seperti untuk memilih siswa masuk rombongan belajar yang mana, untuk mengelompokkan siswa dalam kegiatan belajar, dan untuk menyeleksi siswa yang mewakili sekolah dalam lomba antar-sekolah.

4|Assesment dan Evaluasi Hasil Belajar

Perbedaan antara Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Kriteria (PAK)

No 1

Aspek Pengertian

PAN Hasil penilaian

PAK prestasi Hasil penilaian prestasi dibandingkan kriteria hasil atau belajar

seorang siswa dibandingkan siswa dengan dengan

prestasi sebuah kelompok patokan siswa sebagai normatif

kelompok yang ditetapkan secara (mengacu nasional dalam dokumen Kriteria

kepada sekelompok siswa kurikulum. sebagai norma atau tolok ukur).

tersebut dijadikan acuan menilai sejauh

Kelompok untuk

normatif dapat berupa 1 mana kedudukan (posisi) kelompok siswa dalam 1 seorang siswa,

kelas, 1 kelas siswa, 1 sekelompok siswa, kelas sekolah, 1 gugus sekolah, siswa atau sekelompok atau 1 kelompok yang lebih lulusan terhadap kriteria besar. tersebut. Kriteria itu

dirumuskan

berupa

kompetensi atau hasil belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi.

Kriteria tersebut menjadi standar nasional. 2 Contoh Persyaratan untuk dapat Persyaratan untuk dapat club matematika siswa yang skor dalam

mengikuti club olimpiade mengikuti Matematika adalah siswa olimpiade yang mampu menjawab adalah

soal paling banyak dalam mendapatkan seleksi peserta olimpiade di minimal masing-masing 50

sekolah. seleksi peserta olimpiade

5|Assesment dan Evaluasi Hasil Belajar

(padahal syarat standar di di sekolah tersebut adalah sekolah.

masing-masing

mampu menjawab setengah dari keseluruhan soal) 3 Kegunaan PAN dipakai untuk: Menentukan siswa PAK dipakai untuk: ranking dalam Menentukan siswa sejauh telah target/

prestasi kelas.

1 mana mencapai

Mengelompokkan siswa kompetensi yang telah dalam satu kelas ditetapkan Memberikan dalam

berdasarkan prestasi belajar. kurikulum. Menentukan/ menyeleksi siswa ke dalam remidi

kelas atau

pengayaan

unggul dan kelas normal.

bagisiswa-siswa

Membandingkan antar- tertentuberdasarkan siswa. hasilpenilaian Memperkirakan mutu sekolah standar yang Menentukan/ menyeleksi diagnostik. siswa

yang mewakili lomba antar- suatu sekolah. berdasarkan nasional Menyeleksi siswa yang mutu

hendak ke jenjang sekolah tergambar dalam daftar lebih tinggi atau ke PT. kompetensi tercantum kurikulum. 4 Seleksi Elemen Seleksi elemen penilaian Seleksi elemen penilaian Penilaian bertujuan mendiskriminasi Bertujuan siswa, mendiferensiasi siswa melihat (posisi) siswa yang dalam

siapa yang lolos dan siapa untuk yang tidak lolos. kedudukan

Karena itu, taraf kesulitan masing-masing elemen-elemen penilaian terhadap

kompetensi

6|Assesment dan Evaluasi Hasil Belajar

cenderung

ditingkatkan. mata

pelajaran

yang

Daftar indikator penilaian dituntut dalam dalam kurikulum tidaklah kurikulum. penting. Kepada siswa siswa dapat Kepada

biasanya tidak disampaikan disampaikan/dibahas lebih dulu patokan penilaian lebih yang akan digunakan. dulu patokan

penilaian yang hendak digunakan guru.

Cara Meningkatkan Diri

Berusaha meningkatkan Semua siswa didorong prestasi untuk mencapai meningkatkan diri agar atau kompetensi

ranking lebih tinggi di atas mendekati pengorbanan lain. siswa-siswa mencapai

yang dituntut dalam

Para siswa yang berada kurikulum. pada ranking di bawah atau tidak masuk ranking dianggap gagal. 6 Cara Presentasi Skor-skor dalam urutan Pernyataan lulus Hasil ranking Pencatuman Pernyataan Pernyataan dicapai kriteria kriteria dalam

ranking yang dicapai

dalam rapor Umumnya berupa angka: 0 - 10 0 - 100 A-D Persentase

yang

batas-batas yang ditentukan sebelumnya Pernyataan unjuk kerja (penampilan)

7|Assesment dan Evaluasi Hasil Belajar

2.2

RUANG

LINGKUP

PENILAIAN

HASIL

BELAJAR

MATEMATIKA Hasil belajar siswa dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah (domain), yaitu (1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika - matematika), (2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan (3) domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal). Sejauh mana masing-masing domain tersebut memberi sumbangan terhadap sukses seseorang dalam pekerjaan dan kehidupan? Data hasil penelitian multi kecerdasan menunjukkan sebagai berikut:

Kecerdasan Bahasa Kecerdasan Logika Matematika

Domain Kognitif : 5%

Kecerdasan Antarpribadi Kecerdasan Intrapribadi Kecerdasan Kinestetik Kecerdasan Visual Spasial Kecerdasan Musikal

Domain Afektif (Kecerdasan Emosional) : 80% Domain Psikomotor : 15%

Data ini menunjukkan bahwa sukses seseorang baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan amat ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) atau kemampuan afektif (sekitar 80%). Sumbangan kecerdasan-kecerdasan yang tergolong kemampuan psikomotor terhadap sukses tersebut hanya sekitar 15% dan kercerdasan-kecerdasan yang tergolong kemampuan kognitif hanya sekitar 5%. Namun, dalam praxis pendidikan di Indonesia yang tercermin dalam proses belajar-mengajar dan penilaian, yang amat ditekankan justru domain kognitif. Domain ini terutama direfleksikan dalam 4 kelompok mata pelajaran, yaitu bahasa, matematika, sains, dan ilmu-ilmu sosial. Domain psikomotor yang terutama direfleksikan dalam mata-mata pelajaran pendidikan jasmani,

8|Assesment dan Evaluasi Hasil Belajar

keterampilan, dan kesenian cenderung disepelekan. Demikian pula, hal ini terjadi pada domain afektif yang terutama direfleksikan dalam mata pelajaran agama dan kewarganegaraan. Agar penekanan dalam pengembangan ketiga domain ini disesuaikan dengan proporsi sumbangan masing-masing domain terhadap sukses dalam pekerjaan dan kehidupan, para guru perlu memahami pengertian dan tingkatan tiap domain serta bagaimana menerapkannya dalam proses

pembelajaran dan penilaian. Sehubungan dengan hal itu, berikut ini dikemukakan arti tiap tingkatan dan contoh kegiatan pembelajaran pada domain kognitif, afektif, dan psikomotor.

Tingkatan Domain Kognitif ( Taksonomi Bloom ) Kategori & Proses Nama Lain Definisi dan Contoh Kognitif 1. Mengingat-menemukan kembali pengetahuan yang bersangkutan dari ingatan jangka panjang. 1.1 Mengenali Mengidentifikasi Menempatkan pengetahuan dalam ingatan jangka panjang yang konsisten dengan materi yang diperkenalkan. (contoh: mengenal konsep bangun datar) 1.2 Mengulang Mengingat Mengingat kembali pengetahuan yang kembali bersangkutan dari ingatan jangka panjang (contoh: mengingat kembali konsep bangun datar yang pernah dipelajari pada tingkat sebelumnya) 2. Memahami-membangun suatu gagasan dari intisari materi pelajaran, termasuk secara lisan, tertulis, komunikasi grafis. 2.1 Menafsirkan Menjelaskan, Mengubah dari satu bentuk (contoh: menguraikan, angka) ke bentuk lainnya (contoh: menterjemahkan lisan) (contoh: memberikan definisi dari bangun datar berdasarkan ilustrasi yang ada) 2.2 Memberi contoh Mengilustrasikan Menemukan contoh khusus atau ilustrasi dari suatu konsep (contoh: menyebutkan macam-macam bangun datar) 2.3 Mengklasifikasikan Mengkategorikan, Menentukan bahwa sesuatu termasuk menggolongkan dalam suatu kategori (contoh: mengelompokkan macam-macam bangun datar) 2.4 Meringkas Meringkas, Meringkas suatu tema umum atau pokok-pokok utama (contoh:
9|Assesment dan Evaluasi Hasil Belajar

mengelompokkan suatu bangun datar, berdasarkan sisi atau sudut) 2.5 Menyimpulkan Mengakhiri, Menggambarkan suatu kesimpulan menyisipkan, yang logis dari informasi yang meramalkan. diperkenalkan (contoh: menyatakan bahwa persegi dan persegi panjang adalah bagian dari jajargenjang) 2.6 Membandingkan Membandingkan, Mendeteksi kesesuaian antara 2 ide, mencocokkan, objek, atau sesuatu yang sejenisnya memetakan (contoh: membandingkan sudut-sudut suatu segitiga dengan segitiga lainnya) 2.7 Menjelaskan Membentuk Membentuk suatu contoh sebab-akibat contoh. dari sebuah sistem (contoh: menjelaskan/mempresentasikan materi bangun datar di depan kelas) 3. Menerapkan- menggunakan cara-cara yang sesuai dengan situasi yang diberikan 3.1 Melaksanakan Membawakan Mengaplikasikan suatu prosedur untuk suatu tugas sederhana. (contoh: mencari luas daerah segitiga dengan menggunakan rumus yang telah diberikan) 3.2 Menerapkan Mengunakan Mengaplikasikan suatu prosedur untuk suatu tugas yang lebih kompleks (contoh: menemukan luas daerah jajargenjang dengan menggunakan luas daerah segitiga) 4. Menganalisa-memilah materi menjadi unsur-unsur pokoknya dan menyatakan bagaimana suatu bagian berkaitan dengan bagian lainnya sehingga menjadi suatu susunan keseluruhan. 4.1 Membedakan Membedakan, Membedakan mana bagian yang memilih berhubungan atau tidak berhubungan dari suatu materi yang diperkenalkan (contoh: mengetahui bahwa segitiga yang salah satu sudutnya lebih dari 600 tidak termasuk ke dalam segitiga sama sisi) 4.2 Mengorganisir Menemukan Menunjukkan bagaimana unsur-unsur hubungan, tersusun pada struktur yang tepat menggabungkan, (contoh: menunjukkan bahwa segitiga menguraikan, sama sisi memiliki sudut yang sama menyusun besar dan ketiga sisinya sama panjang) 4.3 Menghubungkan Menyusun Menunjukkan maksud atau nilai dari kembali sebuah materi yang diperkenalkan. 5. Mengevaluasi-membuat keputusan-keputusan berdasarkan pada suatu kriteria dan standar 5.1 Mengecek Menyelaraskan, Mendeteksi ketidakkonsistenan atau Mendeteksi, kekeliruan pada suatu proses atau hasil; Mengawasi, mendeteksi keefektifan suatu langkah
10 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

yang diterapkan (contoh: mengecek kembali hasil perhitungan yang telah diselesaikan) 5.2 Mengkritisi Menilai Mendeteksi ketidakkonsistenan diantara suatu hasil dan kriteria; mendeteksi kebenaran suatu langkah untuk masalah yang diberikan (contoh: memperbaiki jika terjadi kesalahan dalam perhitungan, serta menilai apakah langkah yang diterapkan sudah efektif) 6. Mencipta-menempatkan bagian-bagian secara bersamaan untuk membentuk suatu penyusunan ulang yang logis atau fungsional 6.1 Membangkitkan Menghipotesakan Sampai pada suatu hipotesa alternatif yang berdasarkan pada kriteria (contoh: memperkirakan bahwa suatu masalah matematika memiliki alternatif pemecahan yang lain) 6.2 Merencanakan Merancang Merencanakan suatu langkah untuk mengerjakan tugas (contoh: merancang suatu alternatif lain dalam memecahkan masalah matematika) 6.3 Menghasilkan Membangun Menemukan suatu hasil (contoh: menemukan suatu rumus alternatif dalam menyelesaikan masalah matematika)

mengetest

Tingkatan Domain Afektif Tingkat I. Penerimaan (Receiving) Deskripsi Arti : Kepekaan (keinginan menerima/ memperhatikan) terhadap fenomena dan stimuli. Menunjukkan perhatian yang terkontrol dan terseleksi. Contoh kegiatan belajar: senang mengerjakan soal matematika Senang mengikuti pelajaran matematika Arti : Menunjukkan perhatian aktif Melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena Setuju, ingin, puas meresponsi (menanggapi) Contoh kegiatan belajar: mentaati aturan mengerjakan tugas mengungkapkan perasaan

II. Responsi (Responding)

11 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

menanggapi pendapat melakukan introspeksi Arti : Nilai Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai (Valuing) Termotivasi berperilaku sesuai dengan nilainilai yang pasti Tingkatan: menerima, lebih menyukai, dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai Contoh kegiatan belajar: mengerjakan latihan soal secara kontinu. rajin mengerjakan PR Arti: IV. Organisasi Mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam satu sistem. Menentukan saling hubungan antar nilai Memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana Tingkatan : - Konseptualisasi suatu nilai - Organisasi suatu sistem nilai Contoh kegiatan belajar: bertanggung jawab terhadap perilaku menerima kelebihan dan kekurangan pribadi membuat rancangan hidup masa depan merefleksi pengalaman dalam hal tertentu Arti : V. Karakterisasi Suatu nilai/sistem nilai telah menjadi karakter (Menjadi Karakter) Nilai-nilai tertentu telah mendapat tempat dalam hirarki nilai individu, diorganisasi secara konsisten, dan telah mampu mengontrol tingkah laku individu. Contoh kegiatan belajar: rajin, tepat waktu, berdisiplin diri mandiri dalam bekerja secara independen objektif dalam memecahkan masalah III. Acuan Tingkatan Domain Psikomotor Tingkat I. Gerakan Refleks Deskripsi Arti : Gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak Responsi terhadap stimulus tanpa sadar Misalnya: melompat, menunduk, berjalan, menggerakkan leher dan kepala, mengenggam, memegang

12 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

Contoh kegiatan belajar: segera mengacungkan tangan jika mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan. II. Dasar Arti : Gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat (Basic Fundamental diperhalus melalui praktik Gerakan ini terpola dan dapat ditebak Movement) Contoh kegiatan belajar: Contoh gerakan manipulasi: menyusun balok/blok, menggunting, menggambar dengan crayon, memegang dan melepas objek, blok, atau mainan Keterampilan gerak tangan dan jari-jari: Menggambar grafik. Gerakan Persepsi Arti: Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu (Perceptual kemampuan perseptual Contoh kegiatan belajar: abilities ) menggambar simbol geometri memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang ukurannya bervariasi membaca menulis alfabet mengulangi ritme lagu yang pernah didengar membedakan berbagai tekstur dengan meraba Arti : IV. Gerakan Gerak lebih efisien Kemampuan Berkembang melalui kematangan dan belajar Fisik ( Psysical Contoh kegiatan belajar: menggerakkan otot/sekelompok otot selama abilities ) waktu tertentu berlari jauh mengangkat beban, menarik-mendorong, melakukan push-ups, kegiatan memperkuat lengan, kaki, dan perut menari melakukan senam melakukan gerak pesenam, pemain biola, pemain bola V. Gerakan Terampil Arti : Dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak (Skilled Terampil, tangkas, cekatan melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks) Movements) Contoh kegiatan belajar: melakukan gerakan terampil berbagai cabang III. Gerakan
13 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

olahraga membuat alat peraga dan media pembelajaran menggergaji mengetik VI. Gerakan Indah dan Arti : Mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan Kreatif (Non Gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah discursive Gerak kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat communication) tertinggi untuk mengkomunikasikan peran Contoh kegiatan belajar: kerja seni yang bermutu (membuat patung, melukis, menari balet, melakukan senam tingkat tinggi, bermain drama (acting))

2.3 2.3.1

PENGUMPULAN INFORMASI HASIL BELAJAR MATEMATIKA Pengumpulan Informasi Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang

berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran berlangsung. Pada penilaian berbasis kelas kemajuan belajar siswa pada tiap mata pelajaran dipantau dari waktu ke waktu. Kemajuan belajar tersebut dapat diidentifikasi dengan mengacu kepada indikator pencapaian yang sudah ditentukan dalam kurikulum. Cara penilaian yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa harus dirancang dengan memperhatikan hal-hal berikut: Mengacu kepada kurikulum, artinya penilaian yang dilakukan harus mengarah ke menilai kompetensi-kompetensi dasar yang ditentukan dalam kurikulum. Bersifat adil bagi seluruh siswa, tanpa membedakan latar belakang budaya, jenis kelamin, dan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan penilaian.

14 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

Dapat memberi informasi yang lengkap sebagai umpan balik bagi guru guna perbaikan program pembelajaran dan pemberian bantuan kepada siswa secara perseorangan.

Bermanfaat bagi siswa untuk mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Dilaksanakan menyenangkan. Diadministrasi secara tepat dan efisien. Untuk mengumpulkan informasi hasil belajar siswa, pemilihan cara dan tanpa menekan siswa atau dalam suasana yang

alat penilaian harus dilakukan dengan hati-hati, karena tidak semuanya mampu mengumpulkan informasi yang tepat tentang hasil belajar siswa. Pemilihan cara penilaian dapat mempengaruhi pemikiran siswa mengenai apa yang bernilai. Sebagai contoh: bagi pelajaran Sains keterampilan yang diperoleh waktu praktik di laboratorium sangatlah penting, tetapi hasil belajar dinilai dengan tes tertulis. Akibatnya, siswa - bahkan guru sendiri akan memusatkan perhatian dan usahanya hanya kepada hasil belajar yang dapat dinilai berdasarkan tes tertulis. Pengumpulan informasi hasil belajar biasanya memerlukan cara dan alat penilaian yang beragam. Informasi tentang hasil belajar tertentu mungkin diperoleh melalui observasi, sedangkan informasi tentang hasil belajar lainnya mungkin diperoleh melalui tugas tertulis, seperti tes, kuis, dan pekerjaan rumah. Informasi hasil belajar lainnya mungkin hanya dapat diperoleh melalui penilaian karya siswa.

15 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

2.3.2

Cara Pengumpulan Informasi

Ada beragam cara mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar siswa, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Cara mengumpulkan informasi pada prinsipnya merupakan cara menilai kemajuan belajar siswa. Dari segi apa yang dimiliki, minimal ada 7 cara penilaian. Amatilah tabel berikut ini: No 1 2 3 4 5 6 7 Cara Penilaian Tertulis tipe objektif Tertulis tipe subjektif Lisan Unjuk Kerja Produk Portofolio Tingkah Laku Apa yang dinilai Jawaban Tertulis Jawaban Tertulis Suara Penampilan/perbuatan/tindakan Karya 3 dimensi Karya 2 dimensi Tingkah Laku

16 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

Tabel ini menunjukkan bahwa semakin beragam cara penilaian yang diterapkan guru, semakin lengkap entitas (apa) yang dinilai dalam diri siswa. Selanjutnya berikut ini dikemukakan daftar contoh alat penilaian pada masingmasing cara penilaian.

I. TERTULIS TIPE OBJEKTIF 1. Jawaban benar-salah 2. Isian singkat 3. Pilihan ganda 4. Menjodohkan II. TERTULIS TIPE SUBJEKTIF 1. Pengerjaan soal 2. Latihan (exercise) 3. Data-pertanyaan 5. Esai berstruktur 6. Esai bebas III. LISAN 1. Tanya-jawab singkat 2. Instruksi lisan 3. Kuis IV. UNJUK KERJA 1. Permainan (game) 2. Dinamika kelompok 3. Diskusi V. PRODUK 1. Alat Peraga 2. Media Pembelajaran 3. Model VI. PORTOFOLIO 1. Gambar/tulisan 2. Paper 3. Laporan observasi
17 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

4. Laporan penyelidikan 5. Laporan penelitian 6. Laporan eksperimen 7. Rumus VII.TINGKAH LAKU 1. Skala sikap 2. Catatan anekdot 3. Penilaian diri 4. Sosiogram 5. Kuesioner 6. Buku harian (diary) 7. Ungkapan perasaan 8. Pengamatan perilaku

Kurikulum berbasis kompetensi akan berhasil dilaksanakan jika diterapkan pola belajar aktif karena pola ini mampu mengembangkan seluruh kompetensi secara optimal. Jika pola ini diterapkan, beragam cara dan alat penilaian harus pula diterapkan, terutama cara-cara unjuk kerja, produk, portofolio, dan tingkah laku. Selanjutnya, dikemukakan penjelasan tentang cara-cara penilaian tertulis, unjuk kerja, produk, dan portofolio.

a. Penilaian Tertulis Penilaian tertulis biasanya diadakan untuk waktu yang terbatas dan dalam kondisi tertentu. Dari berbagai alat penilaian tertulis, alat penilaian jawaban benar-salah, isian singkat, dan menjodohkan merupakan alatyang hanya menilai kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan). Alat pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat

danmemahami. Pilihan ganda mempunyai kelemahan, yaitu siswa tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya menerka jawaban yang benar. Hal ini menimbulkan kecenderungan siswa tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Alat penilaian ini
18 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

kurang dianjurkan pemakaiannya karena tidak menggambarkankemampuan siswa yang sesungguhnya. Esai adalah alat penilaian yang menuntut siswa untuk mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari, dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulisdengan menggunakan kata-katanya sendiri. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan, misalnya mengemukakan pendapat, berpikir logis, dan menyimpulkan. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas. Dalam melakukan pemeriksaan soal esai perlu diperhatikan hal-hal berikut: Siapkan pedoman penilaian atau penskoran segera setelah menulis soal untuk memeriksa jawaban siswa kelak. Bacalah jawaban siswa lalu bandingkan dengan jawaban yang ada pada pedoman. Berikan skor sesuai dengan tingkat kelengkapan dan kesempurnaan jawaban siswa. Semakin lengkap jawabannya semakin tinggi skornya dan sebaliknya semakin kurang lengkap jawabannya semakin kecil skornya. Periksalah seluruh lembar jawaban siswa pada nomor yang sama, baru kemudian dilanjutkan memeriksa jawaban nomor berikutnya. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga konsistensi dan objektivitas pemberian skor. Hindarkan faktor-faktor yang tidak relevan dalam pemberian skor, seperti bagus tidaknya tulisan, kedekatan hubungan guru dengan siswa, dan perilaku siswa yang menyenangkan atau menjengkelkan.

b. Penilaian Unjuk Kerja (Performance) Pada dokumen kurikulum tercantum banyak hasil belajar yang menggambarkan proses, kegiatan, atau unjuk kerja. Untuk menilai hasil belajar tersebut dibutuhkan pengamatan terhadap siswa ketika melakukannya. Penilaian unjuk kerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa sebagaimana yang terjadi. Penilaian dilakukan terhadap unjuk kerja, tingkah laku, atau interaksi siswa. Cara penilaian ini lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Semakin sering guru mengamati unjuk kerja siswa, semakin
19 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

terpercaya hasil penilaian kemampuan siswa. Penilaian dengan cara ini lebih tepat digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam presentasi dan diskusi, pemecahan masalah dalam suatu kelompok, partisipasi siswa dalam diskusi kelompok kecil, dan mengoperasikan suatu alat. Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks sebelum menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Contoh: untuk menilai kemampuan penguasaan materi matematika setiap siswa, perlu dilakukan pengamatan berbicara yang beragam, seperti diskusi dalam kelompok kecil dan metode presentasi. Dengan demikian, gambarankemampuan siswa akan lebih utuh. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam membuat penilaian unjuk kerja adalah sebagai berikut: Identifikasi semua langkah penting atau aspek yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir. Tuliskan kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk

menyelesaikan tugas. Usahakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat diamati. Urutkan kemampuan yang akan dinilai berdasarkan urutan yang akan diamati Bila menggunakan skala rentang, perlu disediakan kriteria untuk setiap pilihan ( kompeten bila siswa.., agak kompeten bila .. ). Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah cara mengamati dan memberi skor terhadap unjuk kerja siswa. Penilaian sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu orang agar faktor subjektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat. Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakandaftar cek (ya - tidak) atau skala rentang (sangat kompeten -kompeten - agak kompeten tidak kompeten). Pada penilaian unjuk kerja yang menggunakan daftar cek, siswa mendapat nilai apabila kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, siswa tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benarsalah, dapat diamati-tidak dapat diamati. Dengan demikian nilai tengah tidak ada. Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala rentang memungkinkan penilai
20 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinu di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua.

c. Penilaian Produk Penilaian hasil kerja meliputi pula penilaian terhadap kemampuan siswa membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam. Penilaian produk ini tidak hanya melihat hasil akhirnya saja tetapi juga proses pembuatannya. Contoh, kemampuan siswa menggunakan berbagai teknik menggambar, menggunakan peralatan dengan aman, dan kemampuan siswa dalam membuat alat peraga matematika / media pembelajaran. Pengembangan produk meliputi tiga tahap. Tahap persiapan, meliputi: menilai kemampuan siswa merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk. Tahap pembuatan (produk), meliputi: menilai kemampuan siswa menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik. Tahap penilaian (appraisal), meliputi: menilai kemampuan siswa membuat produk sesuai kegunaannya dan memenuhikriteria keindahan. Untuk produk penilaian biasanya menggunakan cara holistik atau analitik. Cara holistik yang berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan pada tahap appraisal. Cara analitik terhadap aspek-aspek produk yang berbeda, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. Contoh penilaian untuk produk teknologi pada tahap perencanaan termasuk kriteria yang berkaitan dengan desain dan pemilihan bahan pada tahap produksi termasuk kriteria yang berkaitan dengan aplikasi proses dan kemampuan menggunakan alat dan pada tahap appraisal termasuk kriteria berkaitan dengan pencapaian tujuan yang diinginkan.

d. Penilaian Portofolio Portofolio merupakan kumpulan karya (hasil kerja) seorang siswa dalam satu periode. Kumpulan karya ini menggambarkan taraf kemampuan/kompetensi yang telah dicapai seorang siswa. Hal penting yang menjadi ciri portofolio adalah
21 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

karya tersebut dapat diperbaiki jika siswa menghendakinya. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar siswa. Perkembangan tersebut tidak dapat terlihat dari hasil pengujian. Kumpulan karya siswa itu merupakan refleksi perkembangan berbagai kompetensi. Di samping itu, kumpulan karya yang berkelanjutan lebih memperkuat hubungan pembelajaran dan penilaian. Pengumpulan dan penilaian karya siswa yang terus-menerus sebaiknya dijadikan titik sentral program pengajaran, karena penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran. Karya tersebut harus selalu diberi tanggal sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu. Yang menjadi pertimbangan utama adalah guru seyogianya menggunakan penilaian portofolio sebagai bagian integral dari proses pembelajaran karena nilai diagnostik portofolio sangat berarti bagi guru. Portofolio dapat digunakan untuk menilai perkembangan siswa dalam ilmuilmu sosial, seperti menganalisis masalah-masalah sosial, bahasa, seperti menulis karangan, dan matematika, seperti pemecahan masalah matematika. Berikut ini dikemukakan hal-hal pokok yang perlu diperhatikan dalam membuat portofolio di dalam kelas. Pastikan bahwa tiap siswa merasa memiliki portofolio. Dalam hal ini siswa perlu diberi penjelasan maksud penggunaan portofolio, yaitu tidak semata-mata merupakan kumpulan hasil kerja sementara siswa yang digunakan hanya oleh guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh siswa sendiri. Dengan melihat portofolionya siswa dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, dan minatnya. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan, tetapi membutuhkan waktu bagi siswa untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri. Tentukan bersama siswa sampel-sampel karya apa saja yang akan dikumpulkan. Kemungkinan karya yang dikumpulkan tidak sama antara siswa yang satu dan yang lain. Misalnya, untuk kemampuan menulis karangan karya yang dikumpulkan adalah karangan-karangan siswa. Untuk kemampuan menggambar, karya yang dikumpulkan adalah gambargambar buatan siswa.
22 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap siswa dalam satu map atau folder. Tentukan kriteria penilaian sampel-sampel karya siswa beserta

pembobotannya bersama para siswa agar dicapai kesepakatan. Diskusikan dengan para siswa bagaimana menilai kualitas karya mereka. Contoh; untuk kemampuan menulis karangan, kriteria penilaiannya misalnya: penggunaan tata bahasa, pemilihan kosa-kata, kelengkapan gagasan, dan sistematika penulisan. Sebaiknya kriteria penilaian suatu karya dibahas dan disepakati bersama siswa sebelum siswa membuat karya tersebut. Dengan demikian, siswa mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai harapan atau standar itu. Mintalah siswa menilai karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat membimbing siswa tentang bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan atau kekurangan karya tersebut dan bagaimana cara memperbaikinya. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio. Setelah suatu karya dinilai dan ternyata nilainya jelek atau belum memuaskan siswa, kepada siswa dapat diberi kesempatan untuk memperbaiki lagi. Namun, antara siswa dan guru perlu dibuat kontrak atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan, misalnya setelah 2 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru. Bila perlu, jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. Jika dianggap perlu, undanglah orang tua siswa. Orang tua perlu diberi penjelasan tentang maksud dan tujuan portofolio sehingga mereka dapat membantu dan memotivasi anaknya.

Perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi prestasi dan kemajuan belajar siswa secara lengkap. Penilaian tunggal tidak cukup untukmemberikan gambaran/informasi tentang kemampuan,keterampilan, pengetahuan dan sikap seseorang. Lagi pula,

interpretasi hasil tes tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang dialaminya. Alat penilaian tertulis seperti
23 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

pilihan ganda yang mengarah kepada hanya satu jawaban yang benar (convergent thinking), tidak mampu menilai keterampilan/kemampuan lain yang dimiliki siswa. Hal ini amat menghambat penguasaan beragam kompetensi yang tercantum pada kurikulum secara utuh. Alat penilaian pilihan ganda kurang mampu memberikan informasi yang cukup untuk dijadikan umpan-balik guna mendiagnosis atau memodifikasi pengalaman belajar. Karena itu, guru hendaknya mengembangkan alat-alat penilaian yang membedakan antara jenis-jenis kompetensi yang berbeda dari tiap tingkat pencapaian. Hasil penilaian dapat menghasilkan rujukan terhadap pencapaian siswa dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotor, sehingga hasil tersebut dapat menggambarkan profil siswa secara lengkap.

Penilaian kemajuan belajar siswa pada kurikulum berbasis kompetensi menghendaki ciri-ciri berikut ini. - Tujuan penilaian bergeser dari keperluan untuk klasifikasi siswa (diskriminasi) ke pelayanan individual siswa dalam mengembangkan kemampuannya

(diferensiasi). - Lebih cenderung menggunakan penilaian acuan kriteria (criterion referenced assessment) daripada penilaian acuan norma (norm-referenced assessment). - Tujuan-tujuan pendidikan yang tercantum dalam kurikulum lebih terjamin dicapai karena kompetensi dasar yang dirumuskan dalam kurikulum menjadi acuan utama. - Tidak sekedar menerapkan penilaian tertulis dan lisan tetapi juga penilaian unjuk kerja, produk, portofolio dan tingkah laku untuk menjamin validitas penilaian, objektivitas penilaian, dan keanekaragaman kompetensi yang dinilaiagar kemampuan siswa lebih rinci terpapar dan tergambarkan. - Profil kompetensi siswa sebagai hasil belajar memberikan informasi yang lebih lengkap dan mudah dipahami baik oleh siswa, orang tua, guru lain maupun pengguna lulusan, sehingga prinsip akuntabilitas publik lebih terjamin. - Pemanfaatan berbagai cara dan alat penilaian mendorong penerapan pendekatan belajar aktif sehingga mengoptimalkan pengembangan kepribadian serta kemampuan bernalar dan bertindak siswa. Pengumpulan informasi hasil belajar
24 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

siswa dapat dilakukan dalam suasana formal dan informal, dengan berbagai cara penilaian.

2.3.3. Bentuk Tagihan Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran, dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Macam-macam ulangan antara lain : Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih. Nilai setiap kompetensi dikumpulkan dan akan dilaporkan pada akhir tiap semester. Tes pada akhir semester hanya dilakukan untuk menilai kompetensi yang relevan yang belum dinilai melalui ulangan harian. Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut. Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut. Penilaian akhir tahun dilakukan untuk memberi sumbangan nilai untuk menentukan kenaikan kelas. Rujukan untuk penilaian akhir tahun adalah indikator terpenting dari masing-masing kompetensi. Ada indikator yang telah dinilai melalui observasi, penyelidikan, atau eksperimen (praktikum). Indikator seperti ini tak perlu dinilai pada aktivitas penilaianakhir tahun.

25 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

Contoh cara/alat penilaian untuk mata pelajaran Matematika Mata Pelajaran Kompetensi Dasar Matematika Menggunakan operasi bentuk aljabar dalam kegiatan ekonomi Melakukan simulasi unikinetik sosial tentang kegiatan ekonomi sehari-hari Menghitung nilai keseluruhan, nilai perunit, dan nilai sebagian Menentukan besar dan persentase bila rugi, harga jual, harga beli, rabat, neto, pojok, harga tunggal dalam kegiatan ekonomi Tes Tertulis - Mengerjakan soal esai tentang laba, rugi, neto, pajak dalam kegiatan jual beli Test Proyek Melakukan pengamatan/studi kegiatan jual beli di toko koperasi atau warung. Mencatat data penjualan barang kemudian melaporkan hasilnya pada forum terutama mengenai: - harga barang - penjualan per bulan - keuntungan/pajak Indikator Cara/Alat Penilaian

26 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

BAB III PENUTUP

3.1.

SIMPULAN

3.1.1

Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan penilaian hasil belajar, yaitu penilaian yang mengacu kepada norma (Penilaian Acuan Norma atau norm-referenced

assessment) dan penilaian yang mengacu kepada kriteria (Penilaian Acuan Kriteria atau criterionreferencedassessment). 3.1.2 Hasil belajar siswa dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah (domain), yaitu (1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika - matematika), (2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan (3) domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visualspasial, dan kecerdasan musikal). 3.1.3 Ada beragam cara mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar siswa, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Cara mengumpulkan informasi pada prinsipnya merupakan cara menilai kemajuan belajar siswa. Adapun cara-cara tersebut antara lain penilaian tertulis tipe objektif, tertulis tipe subjektif, lisan, unjuk kerja, produk, portofolio, dan tingkah laku.

3.2

SARAN 3.2.1 Seluruh tenaga pendidik di Indonesia diharapkan mampu mempelajari menyeluruh. dengan seksama mekanisme penilaian secara

27 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r

3.2.2

Seorang guru diharapkan mampu melakukan penilaian secara menyeluruh. Untuk memperoleh hasil penilaian yang maksimal diperlukan lebih dari satu alat penilaian.

3.2.3

Seorang guru diharapkan melakukan penilaian yang objektif terhadap seluruh siswa.

28 | A s s e s m e n t d a n E v a l u a s i H a s i l B e l a j a r