Anda di halaman 1dari 26

PRAKTIKUM FORMULASI TEKNOLOGI SEDIAAN NON STERIL JURNAL FORMULASI SEDIAAN GEL SULFUR SULFIX

Dosen I.G.N. Agung Dewantara, S. Farm., M. Sc., Apt. Asisten Gede Mas Teddy Wahyudana

Oleh: Andri Normansyah Putu Yuri Candra Dewi I Gusti Agung Ayu Kartika I Gusti Agung Ayu Devi Yanti Iwan Saka Nugraha Putu Eka Utami Dewi Artini (0908505009) (0908505013) (0908505014) (0908505015) (0908505016) (0908505017) Ni Putu Chintya Sandra Bhuana (0908505011)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2011

BAB I TINJAUAN FARMAKOLOGI BAHAN OBAT 1.1 Indikasi Sulfur digunakan sebagai keratolitik parasitisida dan antiseptik lembut yang banyak digunakan dalam bentuk lotion, krim, atau ointment dengan konsentrasi mencapai 10%, yang biasa dikombinasi dengan agen lain. Sulfur juga biasa digunakan untuk terapi acne, dandruff atau ketombe, scabies, seborroic condition atau kelebihan minyak pada kulit kepala, dan infeksi jamur permukaan (Sweetman, 2002). Sulfur memiliki khasiat bakterisida dan fungisida lemah berdasarkan dioksidasinya menjadi asam pentathionat (H2S5O6) oleh kuman tertentu di kulit. Zat ini juga bersifat melarutkan kulit tanduk (keratolitik), sehingga banyak digunakan bersama asam salisilat dalam salep dan lotion (2-10%) untuk pengobatan jerawat dan kudis. Sulfur praecipitatum adalah yang paling aktif, karena serbuknya yang terhalus. Dahulu zat ini digunakan sebagai laksan lemah berkat perombakan dalam usus menjadi sulfide (natrium/kalium) yang merangsang peristaltik usus (Tjay dan Rahardja, 2008). 1.2 Famakokinetik Proses absorpsi, distribusi, dan eliminasi dari sulfur tidak dapat dikarakterisasi seluruhnya. Pemakaian sulfur secara topikal terpenetrasi ke dalam kulit dan mencapai epidermis dalam waktu 2 jam setelah digunakan dan melewati kulit selama 8 jam. Obat tidak terdeteksi dalam kulit 24 jam setelah digunakan. Absorbsi perkutan obat ke dalam sirkulasi sistemik dilaporkan terjadi setelah penggunaan topikal dari 25 % salep sulfur yang dioleskan pada kulit hewan, tetapi tidak terjadi ketika obat digunakan pada kulit yang tidak rusak (McEvoy, 2002). 1.3 Mekanisme Sulfur digunakan untuk terapi acne (jerawat) tetapi tidak diketahui mekanisme aksinya. Namun, telah dilaporkan bahwa sulfur dapat menghambat

pertumbuhan jerawat yang diakibatkan oleh Propionibacterium acne dan pembentukan asam lemak bebas. Sulfur mengeluarkan kelebihan sebum pada wajah dengan cara melunakkan sel keratin (Reynolds, 1982). Sulfur mengeluarkan sebum pada wajah dengan cara mengeluarkan sel keratin. Sebum dikeluarkan dari kelenjar sebaceous, sehingga pH kulit menjadi sedikit asam. Sel keratin disekitar pori-pori menjadi tebal sehingga sebum tersumbat dan tidak keluar kepermukaan kulit. Pori-pori yang tersumbat tersebut menyebabkan inflamasi atau peradangan yang meluas dipermukaan kulit jika tidak segera diatasi, dapat meninggalkan bekas parut pada wajah. Sulfur bekerja sebagai keratolitik agent yaitu suatu zat yang dapat menghilangkan sisik-sisik kulit yang kasar atau melunakkan/menipiskan lapisan keratin, disamping itu juga memiliki aktivitas antifungi dan antibakteri lemah. Sulfur sering dikombinasikan dengan asam salisilat menghasilkan efek keratolitik yang sinergis. Sulfur dipakai sebesar 10% adalah dosis yang optimal sebagai keratolotik agent dan merupakan dosis maksimum untuk terapi scabies/kudis sehingga akan mendapatkan hasil yang efektif (Sweetman, 2002). 1.4 Dosis Tidak terdapat dosis lazim untuk pemakaian secara topikal. 1.5 Efek Samping Pemakaian sulfur secara topikal dapat mengakibatkan iritasi dan dilaporkan pula adanya dermatitis setelah pemakaian berulang-ulang. Kontak dengan membran mukosa sebaiknya dihindari. Pemakaian sulfur dengan komponen merkurial secara topikal dapat menghasilkan turunan hidrogen sulfida yang berbau busuk dan dapat menimbulkan noda hitam pada kulit (Sweetman, 2002).

1.6 Kontra Indikasi Hipersensitivitas terhadap sulfur dan bahan tambahan lainnya (Anonim b, 2007). Penggunaan yang lama dapat mengganggu fungsi tiroid, oleh karena itu tidak dianjurkan (Francisca, 2000). 1.7 Interaksi Obat Penggunaan sulfur dengan sediaan topikal yang mengandung merkuri akan membentuk hidrogen sulfida yang dapat menyebabkan kulit menghitam (Sweetman, 2002). 1.8. Peringatan
Hanya untuk pemakaian luar, hindari kontak dengan mata dan membran

mukosa. Jika terkena mata cepat cuci dengan air. Jangan digunakan pada luka terbuka (Anonim b, 2007).

Jangan gunakan pada kulit sensitif. Hentikan penggunaan apabila terjadi iritasi.

1.9 Penyimpanan Simpan dalam wadah tertutup baik (Depkes RI, 1995).

BAB II SIFAT FISIKOKIMIA BAHAN 2.1 Bahan Aktif a. Sulfur Praecipitatum Sulfur merupakan belerang endap, mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak lebih dari 100,5% S, dihitung terhadap zat anhidrat. Struktur dan Berat Molekul Sulfur Praecipitatum mempunyai rumus struktrur S dengan berat molekul 32,06 gram/mol. Pemerian Serbuk amorf atau serbuk hablur renik; sangat halus; warna kuning pucat; tidak berbau; dan tidak berasa. Kelarutan Praktis tidak larut dalam air; sangat mudah larut dalam karbon disulfida; sukar larut dalam minyak zaitun; praktis tidak larut dalam etanol. Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik (Depkes RI, 1995). Stabilitas Preparasi yang mengandung sulfur dapat bereaksi dengan logam termasuk perak, dapat menyebabkan logam mengalami perubahan warna. Preparasi yang mengandung sulfur sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup baik (McEvoy, 2002). Titik Lebur T22itik lebur sulfur praecipitatum yaitu 388,6 K atau 115, 210C (Depkes RI, 1979). Inkompatibilitas Inkompatibilitas dengan alkali, logam alkali, bromin, klorat, klorin dioksida, nitrat, kalium (Anonim a, 2006).

2.2. Bahan Tambahan a. Karboksimetilselulosa Natrium (Na-CMC) Struktur Kimia Karboksimetilselulosa Natrium adalah garam natrium dari polikarboksimetil eter selulosa, mengandung tidak kurang dari 6,5% dan tidak lebih dari 9,5%, natrium (Na) dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Struktur Kimia Na-CMC yaitu sebagai berikut :

Pemerian Serbuk atau granul, putih sampai krem; higroskopik Kelarutan Mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloidal; tidak larut dalam etanol, dalam eter dan dalam pelarut organik lain. Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat (Depkes RI, 1995). Khasiat dan Penggunaan : Sebagai pensuspensi, peningkat viskositas, Gelling agent, dan penyerap air (Rowe et al, 2003). Stabilitas CMC Na merupakan senyawa yang stabil, bersifat higroskopis. Pada kondisi dengan kelembaban yang tinggi CMC Na dapat menyerap air > 50%. Pada larutan air CMC Na stabil dalam pH 2-10, dan akan terjadi pengendapan pada pH dibawah 2, serta penurunan viskositas dapat terjadi dengan cepat pada pH diatas 10 (McEvoy, 2002). Inkompatibilitas Na CMC inkompatibel dengan larutan asam kuat, bentuk garam dari besi dan logam lain (aluminium, seng, merkuri). Pengendapan terjadi

pada pH kurang dari 2 dan jika dicampur dengan etanol 95%. Na-CMC akan membentuk kompleks dengan gelatin, kolagen, dan pektin (Anonim a, 2006). b. Propilen Glikol Propilen glikol mempunyai rumus molekul 1,2-Propanediol mengandung tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 101,1% C3H8O3. Pemerian Propilen glikol bening, tidak berwarna, kental, praktis tidak berbau, cair dengan rasa manisliquid, with a sweet, sedikit rasa tajam menyerupai gliserin (Moffat et al, 2005). Kelarutan Larut dalam aseton, kloroform, etanol (95%), gliserin, dan air; larut 1 bagian dalam 6 bagian eter; tidak bercampur dengan minyak mineral atau minyak cahaya tetap, tetapi akan melarutkan beberapa minyak esensial (Moffat et al, 2005). Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk (Moffat et al, 2005). Khasiat dan Penggunaan Pengawet antimikroba, desinfektan, humektan, plastisizer, pelarut, agen penstabilitas; disinfektan; humektan; plasticizer; solvent; stabilizing agent; kosolven larut air (Moffat et al, 2005). c. Oleum Rosa Pemerian Tidak berwarna/kuning; bau menyerupai bunga mawar; rasa khas; pada suhu 25OC kental, jika didinginkan perlahan-lahan berubah menjadi masa hablur bening yang jika dipanaskan mudah melebur. Kelarutan Larut dalam 1 bagian kloroform P, larutan jernih. Wadah dan Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat

Khasiat dan Penggunaan Pemberi aroma pada sediaan (Depkes RI, 1979). d. Aqua Purificata Air murni adalah air yang dimurnikan yang diperoleh dengan destilasi, perlakuan menggunakan penukar ion, osmosis balik, atau proses lain yang sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air minum. Tidak mengandung zat tambahan lain (catatan: Air murni digunakan untuk pembuatan sediaan-sediaan). Bila digunakan untuk sediaan steril, selain untuk sediaan parenteral, air harus memenuhi persyaratan uji sterilitas atau gunakan air murni steril yang dilindungi terhadap kontaminasi mikroba. Tidak boleh menggunakan air murni untuk sediaan parenteral. Untuk keperluan ini digunakan air untuk injeksi, air untuk injeksi bakteriostatik atau air steril untuk injeksi.
Rumus molekul

Aqua Purificata mempunyai rumus molekul H2O dan mempunyai berat molekul 18,02 gram/mol. Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna; tidak berbau. Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat. Khasiat dan Penggunaan Sebagai pelarut (Depkes RI, 1995). e. Metil Paraben (Methylis Parabenum) Metilparaben mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 100,5% C8H8O3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

Struktur Kimia Metil Paraben

Pemerian Hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih, tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar. Kelarutan Sukar larut dalam air, dalam topical dan dalam karbon tetraklorida; mudah larut dalam etanol dan dalam eter. Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup baik (Depkes RI, 1995). Khasiat dan Penggunaan Sebagai pengawet (Anonim a, 2006).

BAB III BENTUK BAHAN, DOSIS DAN CARA PEMAKAIAN 3.1 Bentuk dan kekuatan Sediaan Bentuk sediaan yang dibuat adalah dalam bentuk gel. Gel terkadang disebut jeli, merupakan sistem semipadat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Penampilan gel, transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang terdispersi, dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel koloid yang mempunyai struktur tiga dimensi. Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh (DepKes RI, 1995). 3.2 Dosis Dalam 10 g sediaan mengandung 8 % (0,8 g) Sulfur (oleskan dua kali sehari) (Anonim b, 2007). 3.3 Cara Pemberian Kulit yang berjerawat dibersihkan terlebih dahulu. Gel dikeluarkan secukupnya dan diletakkan pada ujung jari atau cotton bud yang bersih lalu dioleskan merata pada bagian kulit yang berjerawat.

BAB IV MACAM-MACAM FORMULASI 4.1 Formula (Baku/Standar) 4.1.1 Formulasi 1 R/ Sulfur 8% Karbopol 934 Triethanolamine Disodium edetate Propilen glikol Aqua purificata (Anonim b, 2007) 4.1.2 Formulasi 2 R/ Sulfur Water Propylene glycol Polysorbate 60 Sorbitan monostearate Glyceryl stearate PEG-100 stearate Xanthan gum, Disodium EDTA Sodium thiosulfate (Niazi, 2004) 4.1.3 Formulasi 3 R/ Sulfur Purified water Sodium magnesium silicate Sodium thiosulfate Propylene glycol Sodium lauryl sulfate Cetyl alcohol

Stearyl alcohol Phenoxyethanol Fragrance (Niazi, 2004) 4.1.4 Formula 4 Sulfur CMC Na Polietilen glikol Aqua purificata Aqua Rosa Metil Paraben 0,8 g ( 8% ) 0,9 g ( 9 % ) 2 g ( 2% ) 28 mL ( 28% ) 2 mL ( 20% ) 30 mg ( 0,2% ) ( Niazi, 2004 ) 4.2 Formula yang Digunakan R/ Sulfur CMC Na Propilen glikol Metil paraben Air purifacata Aqua rosa 4.3 Permasalahan 1. Sediaan sulfur dapat menghasilkan bau yang tidak enak . 2. Sulfur praktis tidak larut air (Depkes RI, 1995), sehingga tidak secara langsung dapat terdispersi dalam cairan pembawa. 3. Sediaan gel mengandung air yang merupakan media pertumbuhan yang sangat baik bagi bakteri (Ansel, 2008). 8% 5% 15% 0,2% 28% qs

Propilen glikol1,5 g setara dengan 1,5 mL BJ = 1,035 ( 14% )

4.4 Penyelesaian Permasalahan


1. Sediaan gel sulfur mempunyai bau yang kurang sedap yang dipengaruhi

oleh zat aktif sulfur yang digunakan,sehingga perlu ditambahkan aqua rosa untuk memberi sedikit aroma wangi pada sediaan, jumlah aqua rosa yang ditambahkan hanya secukupnya.
2. Ditambahkan zat pembasah yaitu propilen glikol. Dimana selain sebagai

zat pembasah, dia juga dapat berfungsi sebagai humectant yang akan mempertahankan kandungan air dalam sediaan sehingga sifat fisik dan stabilitas sediaan selama penyimpanan dapat dipertahankan serta sebagai desinfektan, dan stabilizer (Dwiastuti, 2010).
3. Pada sediaan gel perlu ditambahkan dengan zat pengawet seperti metil

paraben yang berfungsi untuk mencegah pertumbuhan bakteri dalam sediaan yang dibuat karena seperti yang diketahui bahwa air merupakan media yang paling mudah dan efektif untuk ditumbuhi oleh mikroba. Pengawet metil paraben yang ditambahkan juga masih berada dalam batas jumlah yang kecil karena sediaan ini merupakan sediaan topikal yang mempunyai batas yang tidak terlalu kecil untuk jumlah mikroba. 4.5 Penimbangan Bahan 4.5.1 Formula R/ Sulfur CMC Na Propilen glikol Metil paraben Air purifacata Aqua rosa 4.5.2 Perhitungan Untuk pembuatan 1 pot sediaan dengan bobot 10 gram maka jumlah masing-masing bahan yang diperlukan :
Sulfur = 8 10 gram = 0,8gram 100

8% 5% 15% 0,2% 28% qs

Penambahan bobot 10% = 10% x 0,8 gram = 0,08 gram Jadi sulfur yang digunakan sebanyak = 0,8 gram + 0,08 gram = 0,88 gram 5 10 gram = 0,5gram 100 Penambahan bobot 10% = 10% x 0,5 gram = 0,05 gram Jadi CMC Na yang digunakan sebanyak = 0,5 + 0,05 gram = 0,55 gram Pembuatan mucilago : CMC-Na : air = 1: 49 (Anief, 1997) Jadi, jumlah aqua purificata yang digunakan =
49 x0,55 gram 1

CMC Na =

= 26,95 gram Volume air yang digunakan = 26,95 gram/ 1 gr/mL = 26,95 mL Penambahan bobot 10% = 10% x 26,95 mL = 2,695 mL Jadi Aqua Purificata yang digunakan sebanyak = 26,95 mL + 2,695 mL = 29,645 mL 15 10 gram = 1,5gram 100

Propilen glikol =

Penambahan bobot 10% = 10% x 1,5 gram = 0,15 gram Jadi gliserin yang digunakan sebanyak = 1,5 gram + 0,15 gram = 1,65 gram
0,2 10 gram = 0,02 gram 100

Metil paraben 0,2 % =

Penambahan bobot 10% = 10% x 0,02 gram = 0,002 gram Jadi Metil paraben yang digunakan sebanyak = 0,02 gram+0,002 gram = 0,022 gram

Aqua rosa = secukupnya Karena di laboratorium tidak terdapat aqua rosa, maka dilakukan pembuatan aqua rosa. Resep standar aqua rosa yang terdapat pada Ph. Ned Edisi V adalah sebagai berikut : Larutkan 1 bagian minyak mawar dalam 19 bagian spiritus keras, dan saringlah larutan tersebut. Kocoklah 4 bagian larutan ini dengan dengan 996 bagian air dan saringlah zat cair jernih (Anonim c, 1929). Dibuat aqua rosa sebanyak 10 ml, dengan perhitungan bahan sebagai berikut: Oleum rosa = 1 / 1016 x 10 mL Spiritus Air = 19/ 1016 x 10 mL = 0,0098 mL = 0,187 mL

= 996/ 1016 x 10 mL = 9,8 mL

Aqua Rosa yang dipakai yaitu 0,5% atau kurang. = 0,5% x 10 gram = 0,05 mL

4.5.3 Tabel Penimbangan


% pada pustaka 8% 3-6 % % yang digunakan 8% 5% Jumlah (1 sediaan) 0,88 g 0,55 g Jumlah (2 sediaan) 1,76 g 1,1 g

No 1. 2.

Bahan Sulfur CMC Na

Fungsi Zat aktif Gelling Agent Pembasah, humektan, desinfektan, stabiliser Pengawet

3.

Propilen glikol
15%

15 %

1,65 gram

3,3 g

4.

Metil Paraben Aqua Purificata Aqua Rosa

0,02-0,3 %

0,2 %

(anti mikroba )

0,022 g

0,044 g

5.

Pengembang CMC Na Pewangi

29,645 mL

59,29 mL

6.

0,05 mL

0,05 mL

0,10 mL

( Rowe et al, 2003 )

BAB V PROSEDUR KERJA 5.1. Alat dan Bahan 5.1.1. Alat Timbangan Gelas ukur Penangas air Sendok tanduk Pipet tetes Beker glass Botol timbang Pot 5.1.2. Bahan Sulfur CMC Na Aqua purificata Propilen glikol Metil Paraben Aqua rosa

5.2 Cara Kerja Ditimbang semua bahan yang diperlukan sesuai dengan perhitungan.

Dibuat Mucilago CMC Na dengan perbandingan CMC Na : air yaitu 1:49. Air yang telah dipanaskan di atas penangas air pada suhu 100C dituangkan ke dalam mortir, lalu CMC Na ditaburkan di atas air tersebut, didiamkan selama kurang lebih jam, lalu digerus perlahan hingga terbentuk mucilago (Campuran I).
semua.

Serbuk sulfur yang telah ditimbang, ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam mortir yang berisi propilen glikol sambil digerus hingga homogen, lalu ditambahkan metil paraben, digerus hingga homogen (Campuran II).

Mucilago yang telah terbentuk dituang sedikit demi sedikit ke dalam campuran II sambil digerus homogen.
semua.

Ditambahkan aqua rosa secukupnya ( tidak lebih dari 0,05 mL ), lalu campuran dimasukkan ke dalam pot 10 g, diberi label, dan dimasukkan ke dalam kemasan sekunder.

BAB VI EVALUASI SEDIAAN 6.1 Evaluasi Fisika a. Homogenitas Pengujian homogenitas dilakukan dengan mengoleskan zat yang akan diuji pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen (Depkes RI, 1995). b. Kadar Air Tidak lebih dari 0,5%. Penetapan kadar air dilakukan dengan cara titrasi menggunakan piridina P sebgai pengganti metanol P (Depkes RI, 1995). c. Uji Daya Sebar Sebanyak 0,5 gram gel diletakkan dengan hati-hati di atas kertas grafik yang dilapisi plastik transparan, dibiarkan sesaat (15 detik) dan luas daerah yang diberikan oleh sediaan dihitung kemudian tutup lagi dengan plastik yang diberi beban tertentu masing-masing 1, 2, dan 5 g dan dibiarkan selama 60 detik pertambahan luas yang diberikan oleh sediaan dapat dihitung (Voigt, 1994). d. Uji Kemampuan Proteksi Diambil sepotong kertas saring (10 x 10 cm), basahi dengan larutan PP untuk indikator, keringkan (1). Dileskan kertas tersebut pada no 1 dengan GEL yang akan dicoba (2). Dibuat suatu areal (2,5 x 2,5 cm) pada kertas saring lain dengan pembatas parafin padat yang dilelehkan Tempelkan kertas (3) di atas kertas (2).Tetesi areal dengan KOH 0,1 N. Amati timbulnya noda kemerahan pada sebelah kertas yang dibasahi dengan larutan PP pada waktu 15; 30; 45; 60; 180; 300 detik. Lakukan percobaan untuk GEL yang lain (Depkes RI, 1995). e. Uji Daya Rekat GEL Letakkan GEL secukupnya di atas object glass yang telah ditentukan luasnya. Letakkan object glass yang lain di atas GEL tersebut, tekan

dengan beban 1 kg selama 5 menit . Pasang object glass pada alat uji. Lepaskan beban seberat 80 g, catat waktu hingga kedua object glass terlepas. Ulangi sebanyak 3 kali. Lakukan tes untuk formula GEL yang lain dengan masing-masing 3 kali percobaan. Sediaan gel direkatkan pada gelas objek selanjutnya sediaan diratakan dan ditambah beban sebesar 1 kg selama 5 menit. Selanjutnya gelas objek digantung dan diberi beban sebesar 80 g. Diukur waktu jatuh gelas objek dan didapatkan data (Depkes RI, 1995). 6.2 Evaluasi Kimia a. Penetapan Kadar Ditimbang 60 mg dengan seksama, lakukan penetapan seperti yang tertera pada Pembakaran dengan Labu Oksigen (50 L) menggunakan labu 1000 mL dan campuran 10 mL air dan 5,0 mL hydrogen peroksida LP sebagai cairan penyerap. Jika pembakaran telah sempurna isi bibir labu dengan air, longgarkan sumbat, dan bilas sumbat, pemegang sampel dan dinding labu dengan air kemudian buka sumbat. Panaskan isi labu sampai mendidih dan didihkan selama lebih kurang 2 menit. Dinginkan sampai kamar dan titrasi dengan natrium hidroksida 0,1 N LV menggunakan indikator fenolftalein LP. Lakukan penetapan blangko 1mL natrium hidroksida 0,1 N setara dengan 1,603 mL sulfur. (Depkes RI, 1995). b. Identifikasi Terbakar di udara membentuk belerang dioksida yang dapat dikenal dari baunya yang khas (Depkes RI, 1995). c. Pengukuran pH Alat pH meter dikalibrasi menggunakan larutan dapar pH 7 dan pH 4. Satu gram sediaan yang akan diperiksa diencerkan dengan air suling hingga 10 mL. Elektroda pH meter dicelupkan ke dalam larutan yang diperiksa, jarum pH meter dibiarkan bergerak sampai menunjukkan posisi tetap, pH yang ditunjukkan jarum pH meter dicatat (Depkes RI, 1995).

6.3 Evaluasi Biologi Uji Mikroba Dilakukan untuk memperkirakan jumlah mikroba aerob viabel di dalam semua jenis perbekalan farmasi, mulai dari bahan baku hingga sediaan jadi dan untuk menyatakan perbekalan farmasi tersebut bebas dari spesimen mikroba tertentu. Spesimen uji biasanya terdiri dari Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Salmonella. Pengujian dilakukan dengan menambahkan 1 mL dari tidak kurang pengenceran 10-3 biakan mikroba berumur 24 jam kepada enceran pertama spesimen uji (dalam dapar fosfat 7,2, Media Fluid Soybean-Casein Digest atau Media Fluid Lactose Medium) dan diuji sesuai prosedur (Depkes RI, 1995).

BAB VII HASIL DAN PEMBAHASAN Pada praktikum teknologi sediaan nonsteril kali ini dibuat dua buah sediaan gel masing-masing sebanyak 10 gram dengan zat aktif sulfur praecipitatum. Gel merupakan sistem semi padat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan (Anonim,1995). Jika matriks yang saling melekat kaya akan cairan, maka produk ini sering disebut dengan jelly (Martin dkk, 1993). Pembuatan gel dengan zat aktif sulfur diindikasikan untuk pengobatan topikal acne vulgaris (mengatasi masalah jerawat), acne rosarea, dermatitis seborrheic. Zat aktif sulfur bekerja sebagai keratolitik agent yaitu suatu zat yang dapat menghilangkan sisik-sisik kulit yang kasar atau melunakkan/menipiskan lapisan keratin, disamping itu juga memiliki aktivitas antifungi dan antibakteri lemah. Sulfur praecipitatum adalah yang paling aktif, karena serbuknya yang terhalus. Bahan-bahan tambahan selain zat aktif sulfur yang digunakan dalam sediaan gel ini adalah CMC-Na sebagai gelling agent (basis), propilen glikol sebagai zat pembasah; metil paraben sebagai pengawet, aqua purificata sebagai pengembang CMC-Na, dan aqua rosa sebagai pewangi (coringen odoris). Pemilihan bahan tambahan ini bertujuan untuk membentuk sifat padatan gel yang cukup baik selama penyimpanan dan menentukan sifat karakteristik gel sehingga sesuai dengan tujuan penggunaannya. Gelling agent yang digunakan adalah CMC-Na dengan pelarut air yang bersifat hidrofilik sehingga pada nantinya akan terbentuk hidrogel. Hidrogel pada umumnya terbentuk oleh molekul polimer hidrofilik yang saling sambung silang melalui ikatan kimia atau gaya kohesi seperti interaksi ionik, ikatan hidrogen atau interaksi hidrofobik. Keuntungan pembuatan sediaan hidrogel adalah memiliki efek pendinginan pada kulit saat digunakan, penampilan sediaan yang jernih dan elegan, pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film tembus pandang, elastis, daya lekat tinggi yang tidak menyumbat pori sehingga pernapasan pori tidak terganggu, mudah dicuci dengan air, pelepasan obatnya baik

dan kemampuan penyebarannya pada kulit baik. Jumlah CMC-Na yang sebaiknya digunakan sebagai gelling agent adalah 3-6% (Rowe et al, 2003). Alasan pemilihan gelling agent CMC-Na adalah agar menghasilkan gel yang bersifat netral, memiliki viskositas yang stabil sehingga resisten terhadap pertumbuhan mikroba, tidak inkompatibilitas dengan bahan lain yang digunakan untuk membuat sediaan dan dapat menghasilkan film yang kuat pada kulit ketika kering, Praktikum diawali dengan pembuatan mucilago dari CMC-Na dan air dengan perbandingan 1: 49 (Anief, 1997). Mucilago merupakan larutan kental dari zat yang disari dari tumbuh-tumbuhan dengan air dingin ataupun air panas (Anief, 1997). Pembuatan mucilago dilakukan dalam gelas beker dengan cara menaburkan CMC-Na serbuk yang telah ditimbang di atas permukaan air hangat (suhu 60 C), lalu didiamkan selama 30 menit hingga terbentuk mucilago. Dalam pembuatan mucilago ini, aqua purificata berfungsi untuk mengembangkan CMCNa. Gel dapat mengembang karena CMC-Na dapat mengabsorbsi pelarut air yang mengakibatkan terjadi pertambahan volume. Pelarut akan berpenetrasi diantara matriks gel dan terjadi interaksi antar pelarut dengan CMC-Na untuk membentuk massa gel. Pengembangan gel kurang sempurna bila terjadi ikatan silang antar polimer di dalam matriks gel yang dapat menyebabkan kelarutan komponen gel berkurang.
Selanjutnya, dilakukan pembuatan campuran sulfur dan propilen glikol di dalam mortar. Zat aktif sulfur merupakan senyawa yang tidak larut dalam pelarut air, maka dari itu untuk memperoleh sediaan gel sulfur yang memiliki homogenitas yang baik, maka sebaiknya sulfur harus dapat didispersikan dengan baik dalam larutan pendispersinya atau pelarutnya. Untuk mengatasi masalah tersebut ditambahkan bahan tambahan yang berkhasiat sebagai humectan, yaitu propilen glikol dengan konsentrasi 15 % (Rowe, 2003). Dalam hal ini penambahan humectan dimaksudkan sebagai pembasah dan sekaligus untuk meningkatkan kelarutan zat aktif yaitu sulfur karena zat aktif memiliki sifat yang tidak larut dalam air atau dengan kata lain meningkatkan pendispersinya. dispersi bahan yang tidak larut dalam cairan

Kemudian, ke dalam campuran sulfur dan propilen glikol ditambahkan metil paraben sebagai pengawet yang bertujuan untuk mencegah pertumbuhan bakteri karena dalam sediaan gel yang dibuat mengandung air yang merupakan media pertumbuhan yang baik bagi bakteri. Metil paraben merupakan zat yang bersifat polar sehingga sesuai dengan sifat air yang juga polar sehingga metil paraben dapat larut dalam air. Berdasarkan literatur, jumlah metil paraben konsentrasi metil paraben yang digunakan adalah dengan banyaknya 0,2 % yang terkait dapat digunakan adalah 0,02- 0,3 % (Voigt, 1995). Pada praktikum ini air yang digunakan dalam pembuatan gel ini.

Ditambahkan agen pengkhelat EDTA (konsentrasi 0,1 %) dan zat pemgental gliserin (konsentrasi 10 %) ke dalam campuran tersebut. Diperlukan zat pengkhelat EDTA karena sifat sulfur yang dapat berinteraksi dengan wadah sediaan yang berbahan dasar logam. Selain itu, EDTA juga dapat berfungsi sebagai pengawet dalam hal mencegah reaksi oksidasi antara sulfur dengan logam. Adapun gliserin di sini dapat berperan sebagai peningkat viskositas sediaan sehingga gel yang dihasilkan tidak terlalu encer, sehingga sediaan nantinya diharapkan sediaan dapat melekat pada kulit. Campuran bahan-bahan di atas diatas dituangkan ke dalam mucilago CMC-Na, lalu diaduk hingga mengental dan menjadi gel. Terakhir, ditambahkan aqua rosa sebagai pewangi mengingat zat aktif sulfur dalam gel berbau kurang sedap. Proses ini dilakukan untuk membuat 2 buah sediaan gel dengan bobot masing-masing sediaan gel seberat 10 gram. Gel yang telah siap, kemudian dimasukkan ke dalam tube dan diberi etiket serta dimasukkan ke dalam kemasan. Dihasilkan gel sulfur yang berwarna kuning, cukup halus, beraroma mawar, dan cukup kental.

DAFTAR PUSTAKA Anonim a. 2006. Pharmaceutical Excipient. Royal Pharmaceutical Society of Great Britain: London. Anonim b. 2007. MIMS Petunjuk Konsultasi Edisi 7. PT Info Master: Jakarta. Anonim c. 1929. Pharmacopee Edisi V. Ansel, Howard C. 2008. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat. Jakarta : UI Press. Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta. Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta. Dwiastuti, Rini. 2010. Pengaruh Penambahan CMC (Carboxymethyl Cellulose) sebagai Gelling Agent dan Propilen Glikol sebagai Humektan dalam Sediaan Gel Sunscreen EkstrakKering Polifenol Teh Hijau (Camellia sinensis l). Jurnal Penelitian Vol. 13, No. 2, Mei 2010. Francisca, S.K. 2000. Tinea. Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma: Surabaya

McEvoy, G.K. 2002. AHFS Drug Information. American Society of HealthSystem Pharmacistsm,Inc: USA. Moffat, antonym C., M.David Osselton, dan Brian Widdop. 2005. Clarke`s Analysis of Drugs and Poisons. 3rd editions. London: The Pharmaceutical Press. Niazi, S. K. 2004. Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations Semisolid Products. Volume 5. Boka Raton : CRC Press. Reynolds, J.E.F. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia, Twenty-ninth edition. The Pharmaceutical Press. London. Rowe, Raymond C., Paul J. S., Paul J. W. 2003. Handbook of Pharmaceutical Exipients. Pharmaceutical Press: London. Sweetman, Sean C. 2002. Martindale The Complete Drug Reference Thirty-Third edition. Pharmaceutical Press: London Chicago. Tjay T. H. & Rahardja, K. 2008. Obat-obat Penting Khasiat Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya. Elex Media Komputindo: Jakarta. Voigt, R. 1995. Buku Pelajaran Teknlogi Farmasi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.