Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI ANASTESI PERMUKAAN DAN INFILTRASI

Kelompok C6 Nama Anggota:

Cheryl Suseno Caroline Saputro Diajeng Marta Triaji Rosalina Nike Sairlela Marlene Abigail Fathiara Inayati Donald Arinanda Manuain Christy Loviana

10-2009-152 10-2009-160 10-2009-167 10-2009-168 10-2009-170 10-2009-177 10-2009-190 10-2009-191 10-2009-196 10-2009-200

Prilly Pricilya Theodorus


Dasar Teori Obat Anastesi

Anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Anestesi lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf dengan cara merintangi secara bolak- balik penerusan impuls-impuls saraf ke Susunan Saraf Pusat (SSP) dan dengan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau rasa dingin. Anestesi lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya terutama di selaput lendir. Disamping itu, anestesia lokal mengganggu fungsi semua organ dimana terjadi konduksi/transmisi dari beberapa impuls. Artinya, anestesi lokal mempunyai efek yang penting terhadap SSP, ganglia otonom, cabang-cabang neuromuskular dan semua jaringan otot. Anastesi local dapat digolongkan secara kimiawi dalam beberapa kelompok sebagai berikut : a. Senyawa-ester (PABA) : kokain, benzokain,prokain, oksibuprokain, dan tetrakain b. Senyawa-amida : lidokain dan prilokain, mepivakain dan bupivakain, cinchokain, artikain, dan pramokain c. Lainnya : fenol, benzilalkohol, cryofluo-ran, dan etilklorida. Semua obat tersebut di atas adalah sintetis, kecuali kokain yang alamiah.

Anestesi Permukaan
Alat dan bahan 1. Tensimeter dan stetoskop 2. Larutan prokain 1% 3. Larutan lidokain 1% 4. Jarum steril 5. Kapas steril
6. Stopwatch

Langkah Kerja 1. Orang percobaan diminta untuk mengeringkan lidah, serta menjulurkan lidahnya keluar dengan ditahan oleh gigi geliginya. Kemudian lakukan penggoresan dengan kapas dan ujung jarum steril pada lidah sebelah kiri sebanyak lima kali, untuk menguji rasa raba dan nyeri. Agar lebih obyektif mintalah orang percobaan menutup matanya selagi dilakukan penggoresan dan memberikan tanda bahwa ia merasa adanya rasa raba halus dan nyeri. Lakukanlah hal ini 2 kali dan ambil rata-ratanya sebagai nilai parameter dasar. 2. Selanjutnya dengan menggunakan pipet bersih teteskan satu tetes larutan prokain 1% pada lidah sebelah kiri tadi, kemudian lakukan perabaan dengan kapas atau sentuhan jarum sebanyak 5 kali, tiap 2 menit. 3. Catatlah waktu penetesan dan waktu dimana 3 dari 5 goresan tidak dirasa oleh orang percobaan, ini adalah waktu mulai kerja obat, kemudian percobaan diteruskan sampai ke 5 goresan tidak terasa, lanjutkan lagi sampai dari lima goresan terasa kembali 3 goresan. Waktu dari mulai kerja sampai saat 3 dari 5 goresan terasa kembali adalah lama kerja obat anestesi. 4. Lakukan semua prosedur tadi pada lidah sebelah kanan, yang diteteskan larutan lidokain 1%.

Hasil Pengamatan Orang percobaan : Diajeng MT Lidah kanan : Larutan prokain 1% Pemeriksaan tanda-tanda vital : Tekanan darah : 100/70, Nadi : 79x/menit Waktu (menit) Banyak goresan Banyak goresan

kapas Parameter Dasar 2 4 6 8 10 12 14


jarum 5 5 2 3 3 4 5 5 5 5 3 4 3 4 5 5

Mula kerja di menit ke-4. Kerja maksimal di menit ke-4. Duration of action 8 menit

Orang percobaan : Diajeng MT Lidah kiri : larutan lidokain 1% Pemeriksaan tanda-tanda vital : Tekanan darah : 100/70, Nadi : 79x/menit Waktu (menit) Parameter dasar 2 4 6 8 10 12 14

Banyak goresan kapas 5 5 5 3 4 4 5 5

Banyak goresan jarum 5 5 5 3 4 4 5 5

Mula kerja di menit ke 6. Kerja maksimal di menit ke 6. Duration of action 6 menit.

Pada percobaan tersebut dapat terlihat bahwa prokain memiliki onset kerja lebih cepat namun durasi kerja lebih panjang dibanding dengan lidokain. Hal

ini tidak sesuai dengan teori dasar yaitu prokain memiliki onset kerja yang lebih cepat dan durasi kerja yang lebih pendek dari lidokain. Hal ini dapat disebabkan kesalahan dari orang percobaan yang mungkin tidak merasakan goresan secara tepat. Adanya hipersalivasi juga dapat menyebabkan pengenceran obat yang dapat memperpendek masa kerja obat. Hal ini mungkin terjadi pada saat pemberian lidokain 1% sehingga menyebabkan durasi kerja lidokain memendek.

Anastesi Infiltrasi
Alat dan Bahan 1. Tensimeter dan Stetoskop 2. Semprit 1 ml 3. Alcohol dan kapas 4. Larutan prokain 0,5 % Langkah Kerja
1. Lakukan pengukuran tekanan darah, dan denyut nadi orang percobaan

yang dipilih kemudian lengan kiri bagian voler dibersihkan dengan kapas yang dibasahi dengan alcohol 70%, tunggu sampai kering.
2. Lakukan penggoresan dengan ujung jarum yang steril sebanyak 5 kali

dan mintalah orang percobaan menutup mata untuk memastikan bahwa ia merasakan 5 goresan tadi bukan melihat. 3. Kemudian pada daerah yang tidak dekat dengan pembuluh darah suntikan 0,25 ml larutan prokain 0,5% secara intradermal. Berilah tanda dengan ballpoint atau spidol pada gelembung yang terjadi akibat suntikan intradermal tadi.
4. Goreslah diatas gelembung tadi goresan sebanyak 5 kali, dan mintalah

orang percobaan menyebutkan berapa goresan yang ia rasakan, biasanya orang percobaan tidak merasakan ke-5 goresan tadi, jadi catatlah ini

sebagai mula kerja obat, lakukan hal yang sama setiap 2 menit, samapi orang percobaan memberi tanda bahwa ia merasakan 3 dari ke-5 goresan, dan ini menandakan berakhirnya kerja anastesi lokal dalam hal ini prokain. Lakukanlah hal yang sama pada lengan voler kanan, dengan lidokain 5% catat hasilnya. 5. Bandingkanlah mula kerja dan lama kerja kedua jenis obat anastesi lokal ini. Tanyakan apakah orang percobaan mengalami efek samping seperti pusing, gatal-gatal dan lain-lain. Hasil Pengamatan OP pada anestesi infiltrasi: Donald TD : 110/70mmHg Nadi : 90x/menit Menit ke 2 4 6 8 10 12 Goresan jarum yang di rasa 0 2 3 3 4 5

Onset of action: 2 menit Efek maksimum: 2 menit duration of action: 12 menit Efek obat pada orang percobaan (obat yang digunakan adalah Lidokain 0.5% pada tangan kanan OP): Rasa gatal

Pada orang percobaan ini dapat terlihat bahwa onset kerja lidokain 0,5% tergolong cepat yaitu berkisar 2 menit, namun durasi kerjanya mencapai 12 menit. Jika dibandingkan dengan anastesi permukaan pada orang percobaan yang berbeda didapati onset kerja lidokain 1% sekitar 6 menit dengan durasi yang mencapai 6 menit. Dapat terlihat bahwa pada konsentrasi obat yang berbeda dan orang percobaan yang berbeda didapatkan pada anastesi permukaan onset kerja dan efek maksimum yang lebih lambat namun durasi kerja yang lebih cepat dibandingkan dengan anastesi infiltrasi. Pembahasan obat 1. Prokain Prokain adalah ester aminobenzoat untuk infiltrasi, blok, spinal, epidural, merupakan obat standart untuk perbandingan potensi dan toksisitas terhadap jenis obat-obat anestetik local lain. Diberikan intarvena untuk pengobatan aritmia selama anestesi umum, bedah jantung, atau induced hypothermia. Pemberian intarvena merupakan kontraindikasi untuk penderita miastemia gravis karena prokain menghasilkan derajat blok neuromuskuler. Dan prokain juga tidak boleh diberikan bersama-sama dengan sulfonamide. Pemberian prokain dengan anestesi infiltrasi maximum dosis 400 mg dengan durasi 30-50 menit, dosis 800 mg, durasi 30-45 menit. Pada penyuntikan prokain dengan dosis 100-800 mg, terjadi analgesia umum ringan yang derajatnya berbanding lurus dengan dosis. Efek maksimal berlangsung 10-20 menit, dan menghilang sesudah 60 menit. Efek ini mungkin merupakan efek sentral, atau mungkin efek dari dietilaminoetanol yaitu hasil hidrolisis prokain. Efek samping yang serius adalah hipersensitasi,yang kadang-kadang pada dosis rendah sudah dapat mengakibatkan kolaps dan kematian. Efek samping yang harus dipertimbangkan pula adalah reaksi alergi terhadap kombinasi prokain penisilin. Berlainan dengan kokain, zat ini tidak mengakibatkan adikasi.

Absorpsi

berlangsung

cepat

dari

tempat

suntikan

dan

untuk

memperlambat absorpsi perlu ditambahkan vasokonstriktor. Sesudah diabsorpsi, prokain cepat dihidrolisis oleh esterase dalam plasma menjadi PABA dan dietilaminoetanol. PABA diekskresi dalam urine, kirakira 80% dalam bentuk utuh dan bentuk konjugasi. 30% dietilaminoetanol ditemukan dalam urine, dan selebihnya mengalami degradasi lebih lanjut. Prokain dan anestetik local lain dalam badan dihidrolisis menjadi PABA(para amino benzoic acid), yang dapat menghambat daya kerja sulfonamide. Oleh karena itu sebaiknya prokian dan asnestetik lokal lain tidak diberikan bersamaan dengan terapi sulfonamide. Prokain dapat membentuk garam atau konjugat dengan obat lain sehingga memperpanjang masa kerja obat tesebut. Misalnya garam prokain penisilin dan prokain heparin. 2. Lidokain Lidokain adalah derivat asetanilida yang merupakan obat pilihan utama untuk anestesi permukaan maupun infiltrasi. Lidokain adalah anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Anestesi terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama, dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain. Lidokain ialah obat anestesi lokal yang banyak digunakan dalam bidang kedokteran oleh karena mempunyai awitan kerja yang lebih cepat dan bekerja lebih stabil dibandingkan dengan obat obat anestesi lokal lainnya. Obat ini mempunyai kemampuan untuk menghambat konduksi di sepanjang serabut saraf secara reversibel, baik serabut saraf sensorik, motorik, maupun otonom.Kerja obat tersebut dapat dipakai secara klinis untuk menyekat rasa sakit dari atau impuls vasokonstriktor menuju daerah tubuh tertentu. Lidokain mampu melewati sawar darah otak dan diserap secara cepat dari tempat injeksi. Dalam hepar, lidokain diubah menjadi metabolit yang lebih larut dalam air dan disekresikan ke dalam urin. Absorbsi dari

lidokain dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain tempat injeksi, dosis obat, adanya vasokonstriktor, ikatan obat jaringan, dan karakter fisikokimianya. Lidokain cepat menghasilkan, lebih intens, lebih tahan lama dan merupakan anastesi lebih luas daripada prokain dengan konsentrasi yang sama. Tidak seperti prokain, senyawa ini merupakan suatu senyawa aminoetilamida dan merupakan anggota prototipikal golongan anestetik lokal amida. Lidokain adalah pilihan alternatif untuk individual yang sensitif terhadap anestesi lokal tipe ester. Lidokain di absorbsi secara cepat setelah pemberian parenteral serta dari saluran gastrointestinal dan pernafasan. Walaupun senyawa ini efektif jika digunakan tanpa vasokonstriktor, dengan adanya epinephrine menurunkan laju absorbsinya, sehingga toksisitasnya menurun dan lama kerjanya diperpanjang. Lidocaine didealkylasi pada hati oleh CYPs menjadi monoethylglycine xylidide dan glycine xylidide, yang dapat dimetabolisme lebih lanjut menjadi monoethylglycine dan xylidide. Keduanya, monoethylglycine xylidide dan glycine xylidide menahan aktivitas anastesi lokal. Pada manusia, sekitar 75% dari xylidide diekskresikan lewat urin sebagai metabolit lebih lanjut 4-hydroxy-2, 6dimethylaniline. Efek samping dari lidokain diperlihatkan dengan adanya peningkatan dosis diantaranya mengantuk, tinnitus, dysgeusia, pusing, dan kejang (berkedut). Jika dosis meningkat, akan terjadi serangan jantung, koma, serta depresi dan henti pernafasan. Depresi kardiovaskular yang signifikan secara klinik biasanya terjadi pada level serum lidocaine yang menghasilkan efek SSP yang nyata. Metabolit dari monoethylglycine xylidide dan glycine xylidide dapat berperan pada beberapa efek samping tersebut. Kesimpulan Obat-obat anastesi merupakan obat yang bertujuan untuk menghilangkan sensasi sentuh dan nyeri.

Pemberian obat anastesi yang sama dalam konsentrasi dengan cara

yang berbeda akan menghasilkan onset kerja, efek maksimal dan durasi kerja yang berbeda. Anastesi permukaan memiliki onset dan efek maksimal yang lebih cepat serta durasi kerja yang lebih pendek dibandingkan anastesi secara intradermal. Obat anastesi yang berbeda akan memberikan efek kerja yang berbeda. Lidokain memiliki efek kerja, efek maksimal dan durasi kerja yang lebih besar dibandingkan dengan prokain. Daftar Pustaka
1. Katzung BG & Miller RD. Anestetik Lokal. Di dalam : Katzung BG, editor.

Farmakologi Dasar dan Klinik. Ed. 8, vol.2. Salemba Medika. Jakarta. 2002.
2. Ganiswarna. S. A. Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Bagian Farmakologi

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2005.