Anda di halaman 1dari 24

HIPOSPADIA Konsep Medis A. DEFINISI Istilah hipospadia berasal dari bahasa Yunani, yaitu Hypo(below) dan spaden (opening).

Hipospadia menyebabkan terjadinya berbagai tingkatan defisiensi uretra. Hipospadia adalah kelainan kongenital berupa muara uretra yang terletak di sebelah ventral penis dan sebelah proksimal ujung penis. Hipospadia terjadi pada 1 sampai 3 per 1.000 kelahiran dan merupakan anomali penis yang paling sering. (Mutaqqin 2011).

Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 : 288).
B. KLASIFIKASI Hipospadia dibagi menjadi beberapa tipe menurut letak orifisium uretra eksternum yaitu sebagai berikut : 1. Tipe sederhana / Tipe Anterior Pada tipe ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi. 2. Tipe penil / Tipe Middle Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal. Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih 3. Tipe penoskrotal dan tipe perineal / Tipe posterior Pada tipe ini, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun

C. ANATOM FISIOLOGI

1. URETRA Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar.

Uretra Pria Pada laki-laki uretra berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah protastat kemudia menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis ke bagian penis panjangnya 20 cm. Uretra pada laki-laki terdiri dari : Uretra Prostatia Uretra membranosa Uretra kavernosa

Lapisan uretra laki-laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan submukosa. Uretra pria mulai dari orifisium uretra interna di dalam vesika urinaria sampai orifisium uretra eksterna. Pada penis panjangnya 17,5-20 cm yang terdiri dari bagian-bagian berikut : Uretra prostatika, merupakan saluran terlebar, panjangnya 3 cm, berjalan hampir vertikulum melalui glandula prostat, mulai dari basis sampai ke apeks dan lebih dekat ke permukaan anterior. Bentuk salurannya seperti kumparan yang bagian tengahnya lebih luas dan makin ke bawah makin dangkal kemudian bergabung dengan pars membran. Potongan tranversal saluran ini menghadap ke depan. Pada dinding posterior terdapat krista uretralis yang berbentuk kulit yang dibentuk oleh penonjolan membran mukosa dan jaringan dibawahnya dengan panjang 15-17 cm tinggi 3 cm. Uretra pars membranasea, merupakan saluran yang paling pendek dan paling dangkal, berjalan mengarah ke bawah dan ke depan di antara apeks glandula prostata dan bulbus uretra. Pars membranasea menembus diafragma urogenitalis, panjangnya kira-kira 2,5 cm, di bawah belakang simfisis pubis diliputi oleh jaringan sfingter uretra membranasea. Uretra pars kavernous,merupakan saluran terpanjang dari uretra dan terdapat di dalam korpus kavernosus uretra, panjangnya kira-kira 15 cm, mulai dari pars membranasea sampai ke orifisium dari diafragma urogentalis. Pada keadan penis berkontraksi, pars karvenosus akan membelok ke bawah dan kedepan. Pars kavernosus ini dangkal sesuai dengan korpus penis 6mm dan berdilatasi ke belakang. Bagian depan berdilatasi di dalam gland penis yang akan membentuk fossa navikularis uretra.

Orifisium uretra eksterna, merupakan bagian erektor yang paling berkontraksi berupa sebuah celah vertikal di tutupi oleh kedua sisi bibir kevil dan panjangnya 6mm.

2. PENIS Penis terletak menggantung di depan skrotum. Bagian ujung penis di sebut gland penis. Bagian tengahnya disebut korpus penis dan pangkalnya disebut radiks penis. Glan penis tertutup oleh kulit korpus penis, kulit penutup ini disebut prepusium. Penis terdiri atas jaringan seperti busa dan terletak memanjang, tempat muara uretra dari glan penis adalah frenulum atau kulup. Penis merupakan alat yang mempunyai jaringan erektil yang satu sama lainnya dilapisi jaringan fibrosa ringan erektil yang satu sama lainnya dilapisi jaringan fibrosa ringan erektil ini terdiri dari rongga-rongga seperti karet busa. Dengan adanya rangsangan seksual, karet busa ini akan dipenhi darah sebagai vasopresi. Berdasarkan ini terjadilah ereksi penis, ereksi penis dipegaruhi oleh otot: 1. Muskulus iskia kavernosus, muskulus erektor penis, otot-otot ini menyebabkan erektil (ketegangan) pada waktu koitus. 2. Muskulos bulbo kavernosus, untuk mengeluarkan uine. Penis ini mempunyai tiga buah korpus kavernosa (alat pengeras zakar) yaitu dua buah korpus kavernosa uretra, terletak di sebelah punggung atas dari penis. Satu korpus kavernosus uretra, terletak disebelah bawah dari penis yang merupakan saluran kemih. Korpus kavernosus penis terdiri dari jaringan yang mengandung banyak sekali pembuluh darah. Pada waktu akan mengadakan koitus, maka penis akan menjadi besar dan keras oleh karena korpus tersebut. Korpus tersebut banyak mengandung darah, dengan jalan demikian maka spermatozoid dapat dihantarkan sampai pintu vagina. Urin (Air Kemih) Sifat fisis air kemih, terdiri dari: 1. Jumlah ekskresi dalam 24 jam 1.500 cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan dan faktor lainnya. 2. Warna, bening kuning muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.

3. Warna, kuning tergantung dari kepekatan, diet obat-obatan dan sebagainya. 4. Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama akan berbau amoniak. 5. Berat jenis 1,015-1,020.

6. Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung dari pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam). Komposisi air kemih, terdiri dari: 1. Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air. 2. Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak dan kreatinin. 3. Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fospat dan sulfat. 4. Pagmen (bilirubin dan urobilin). 5. Toksin. 6. Hormon (Syaifuddin, 2002) D. ETIOLOGI Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui penyebabpasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa factor yang oleh para ahli dianggap palingberpengaruh antara lain : 1. Faktor Genetik Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi padagen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi 2. Faktor Gangguan dan ketidakseimbangan hormon Hormone yang di maksud di sini adalah hormone androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau biasa juga karena reseptor hormone androgennyasendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormoneandrogen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetapsaja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperandalam sintesis hormone androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.

3. Faktor lingkungan Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.

E. PATOFISIOLOGI Hipospadia merupakan suatu cacat bawaan yang diperkirakan terjadi pada masa embrio selama pengembangan uretra, dari kehamilan 8-20 minggu. Perkembangan terjadinya fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehigga meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajatkelainan letak meatus ini, dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian di sepanjang batang penis hingga akhirnya di perineum. Prepusiunm tidak ada pada sii ventral dan menyerupai topu yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (Lengkungan) ventral dari penis. Chordee atau lengkungan ventral dari penis, sering dikaitkan dengan hiospadia, terutama bentuk-bentuk yang lebih berat. Hal ini di duga akibat dari perbedaan pertumbuhan antara punggung jaringan normal tubuh kopral dan uretra ventral dilemahkan dan jaringan terkait. Pada kondisi yang lebih jarang, kegagalan jaringan spongiosum dan pembentukan fasia pada bagian distal meatus uretra dapat membentuk balutan berserat yang menarik meatus uretra sehingga memberikan kontribusi untuk terbentuknya suatu korda. (Mutaqqin 2011)

F. TANDA DAN GEJALA 1. Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah, menyebar, mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada saat BAK. 2. Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri dengan mengangkat penis keatas. 3. Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok. 4. Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi. 5. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus. 6. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis. 7. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar. 8. Kulit penis bagian bawah sangat tipis. 9. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada. 10. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.

11. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok. 12. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum). G. KOMPLIKASI 1. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1 jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu ) 2. Psikis ( malu ) karena perubahan posisi BAK. 3. Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat dewasa. 4. Infertility 5. Resiko hernia inguinalis 6. Gangguan psikososial Komplikasi pasca operasi yang terjadi : 1. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi, juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah kulit, yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi. 2. Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari anastomosis. 3. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas. 4. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai parameter untuyk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10 %. 5. Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari rilis korde yang tidak sempurna, dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang. 6. Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Jarang dilakukan pemeriksaan tambahan untuk mendukung diagnosis hipospadi. Tetapi dapat dilakukan pemeriksaan ginjal seperti USG mengingat hipospadi sering disertai kelainan pada ginjal. 2. Ultrasound perinatal untuk mendeteksi agenesis ginjal.

3. Segera setelah lahir, scan computerized axial tomography (CAT) atau ultrasoud ginjal digunakan untuk mendiagnosis kelainan 4. Uretroskopi dan sistoskopi membantu dalam mengevaluasi perkembangan reoroduksi internal. 5. Urografi untuk mendeteksi kelainan kongenital lain pada ureter dan ginjal. I. PENATALAKSANAAN MEDIS

1. Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia adalah merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus dengan normal. 2. Operasi harus dilakukan sejak dini, dan sebelum operasi dilakukan bayi atau anak tidak boleh disirkumsisi karena kulit depan penis digunakan untuk pembedahan nanti. 3. Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu: Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah tunneling Sidiq-Chaula, Teknik Horton dan Devine. 1) Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap: a) Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan yang berepitel pada glans penis. Dilakukan pada usia 1 -2 tahun. Penis diharapkan lurus, tapi meatus masih pada tempat yang abnormal. Penutupan luka operasi menggunakan preputium bagian dorsal dan kulit penis b) Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat parut sudah lunak. Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke glans, lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah. Setelah uretra terbentuk, luka ditutup dengan flap dari kulit preputium dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama dengan harapan bekas luka operasi pertama telah matang. 2) Teknik Horton dan Devine

Dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih besar dengan penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi jenis distal (yang letaknya lebih ke ujung penis). Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis dengan pedikel (kaki) kemudian dipindah ke bawah. Mengingat pentingnya preputium untuk bahan dasar perbaikan hipospadia, maka sebaiknya tindakan penyunatan ditunda dan dilakukan berbarengan dengan operasi hipospadia.
J. EPIDEMIOLOGI Hipospadia terjadi pada sekitar 1 dari setiap 250 kelahiran laki-laki.Pada beberapa negara insidensi hipospadia semakin meningkat. Laporan saat ini, terdapat peningkatan kejadian hipospadia pada bayi laki-laki yang lahir prematur, kecil untuk usia kehamilan, dan bayi dengan berat badan rendah. Hipospadia lebih sering terjadi pada kulit hitam daripada kulit putih

K. PROGNOSIS Baik bila dengan terapi yang adekuat yaitu dengan chordee adalah dengan pelepasanchordee dan restrukturisasi lubang meatus melalui pembedahan. Pembedahan harusdilakukan sebelum usia sekolah untuk menahan berkemih (sekitar usia 2 tahun)

Konsep Keperawatan I. PENGKAJIAN

A. Pengumpulan data 1. Identitas Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, status perkawinan, kebangsaan, pekerjaan, alamat, pendidikan, tanggal / jam MRS, diagnosa medis 2. Keluhan Utama Pada umumnya pasien dengan hipospadia mengeluh ada penis melengkung kebawah yang akan tampak lebih jelas pada saat ereksi dan adanya lubang kencing tidak pada tempatnya. 3. Riwayat Kesehatan. a. Riwayat Penyakit Sekarang. Pada umumnya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya lubang kencing yang tidak pada tempatnya sejak lahir dan tidak diketahui dengan pasti penyebabnya. b. Riwayat Penyakit Dahulu. Biasanya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya penis yang melengkung kebawah adanya lubang kencing tidak pada tempatnya sejak lahir. c. Riwayat Kesehatan Keluarga. Didalam keluarga tidak ditemukan penyakit yang sama karena penyakit ini bukan merupakan penyakit turunan. 4. Pola-pola fungsi kesehatan a. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat Perlu ditanyakan kebiasan klien, apakah klien jarang / suka mandi. b. Pola nutrisi dan metabolisme Pada umumnya pasien hipospadia nutrisi, cairan dan elektrolit dalam tubuhnya tidak mengalami gangguan. c. Pola aktivitas

Aktifitas pasien hipospadia tidak ada masalah. d. Pola eliminasi Karena pasien hipospdia ditemukan adanya penis yang melengkung kebawah adanya lubang kencing tidak pada tempatnya sehingga pada saat kencing pencernaan tidak normal. e. Pola tidur dan istirahat Pada umumnya pasien dengan hipospadia tidak mengalami gangguan atau tidak ada masalah dalam istirahat dan tidurnya. f. Pola sensori dan kognitif Secara fisik daya penciuman, rasa-raba dan daya penglihatan pada pasien hipospadia adalan normal, secara mental kemungkinan tidak ditemukan adanya gangguan. g. Pola persepsi diri Karena pasien hipospadia ditemukan adanya kelainan pada bentuk penisnya sehingga timbul rasa malu.. h. Pola hubungan dan peran Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan peraen serta megnalami tmbahan dalam menjalankan perannya selama sakit. i. Pola produksi dan seksual Karena pasien hipospadia ditemukan adanya kelainan pada alat kelamin sehingga jika tidak dilakukan operasi sejak dini maka pada saat dewasa kebutuhan reproduksi seksual akan mengalami gangguan. j. Pola penanggulangan stress Stress timbul apabila seorang pasien tidak efektif dalam mengatasi penyakitnya. k. Pola tata nilai dan kepercayaan. Keputusan penyebab distress ketidak percayaan akan kesembuhan pasien dengan hipospadia tidak mengalami gangguan dalam aktivitas religiusnya.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Kurang pengetahuan orang tua berhubungan dengan diagnosa, prosedur pembedahan dan perawatan setelah operasi. b. Nyeri akut berhubungan dengan pembedahan c. Kecemasan orang tua berhubungan dengan prosedur pembedahan

d. Harga diri rendah berhubungan dengan status kesehatan, faktor fisiologis.


e. Resiko Infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan.

III. INTERVENSI Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Kurang Pengetahuan Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil NOC: Kowlwdge : disease process Kowledge : health Behavior Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama . pasien menunjukkan pengetahuan tentang proses penyakit dengan kriteria hasil: Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya Intervensi

NIC :
Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat Diskusikan pilihan terapi atau penanganan Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Risiko infeksi

Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NOC : NIC : Immune Status Pertahankan teknik aseptif Knowledge : Infection Batasi pengunjung bila perlu control Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah Risk control tindakan keperawatan Setelah dilakukan tindakan Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat keperawatan selama pelindung pasien tidak mengalami infeksi Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan kriteria hasil: dengan petunjuk umum Klien bebas dari tanda dan Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan gejala infeksi infeksi kandung kencing Menunjukkan kemampuan Tingkatkan intake nutrisi untuk mencegah timbulnya Berikan terapi antibiotik:................................. infeksi Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan Jumlah leukosit dalam lokal batas normal Menunjukkan perilaku Pertahankan teknik isolasi k/p Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap hidup sehat kemerahan, panas, drainase Status imun, Monitor adanya luka gastrointestinal, genitourinaria dalam batas Dorong masukan cairan Dorong istirahat normal Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Kecemasan

Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NOC : NIC : - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan kecemasan) - Koping Gunakan pendekatan yang menenangkan Setelah dilakukan asuhan Nyatakan dengan jelas harapan terhadap selama klien pelaku pasien kecemasan teratasi dgn kriteria Jelaskan semua prosedur dan apa yang hasil: dirasakan selama prosedur Klien mampu Temani pasien untuk memberikan keamanan mengidentifikasi dan dan mengurangi takut mengungkapkan gejala Berikan informasi faktual mengenai cemas diagnosis, tindakan prognosis Mengidentifikasi, Libatkan keluarga untuk mendampingi klien mengungkapkan dan Instruksikan pada pasien untuk menunjukkan tehnik untuk menggunakan tehnik relaksasi mengontol cemas Vital sign dalam batas Dengarkan dengan penuh perhatian Identifikasi tingkat kecemasan normal Postur tubuh, ekspresi Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan wajah, bahasa tubuh dan Dorong pasien untuk mengungkapkan tingkat aktivitas perasaan, ketakutan, persepsi menunjukkan Kelola pemberian obat anti cemas:........ berkurangnya kecemasan

ISU LEGAL ETIK-ADVOKASI

1. Isu legal etik Dalam kasus ini, peran perawat sebagai advokat harus bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam hal inform concern atas tindakan keperawatan yang dilakukan, selain itu juga harus mempertahankan dan melindungi hak-hak klien serta memastikan kebutuhan klien terpenuhi.

a. Otonomi Prinsip bahwa individu mempunyai hak menentukan diri sendiri, memperoleh kebebasan dan kemandirian. Perawat yang mengikuti prinsip ini akan menghargai keluhan gejala subjektif (ex:nyeri), dan meminta persetujuan tindakan sebelum prosedur dilaksanakan. b. Nonmalaficience Prinsip ini menghindari tindakan yang membahayakan.Bahaya dapat berarti dengan sengaja, resiko atau tidak sengaja membahayakan. (ex: kecerobohan perawat dalam memberikan pengobatan menyebabkan klien mengalami cedera. c. Beneficience Prinsip bahwa seseorang perawat harus melakukan kebaikan.Perawat melakukan kebaikan dengan mengimplementasikan tindakan yang

menguntungkan bagi klien. d. Fidelity Prinsip bahwa individu wajib setia terhadap komitmen atau kesepakatan dan tanggungjawab yang dimiliki.Kesetiaan yang melibatkan aspek kerahasiaan atau privasi dan komitmen adanya kesesuaian antara informasi dengan fakta. e. Veracity Mengacu pada mengatakan kebenaran.Buk 91992) mengatakan bahwa bohong pada orang sakit atau menjelang ajal jarang dibenarkan.Kehilangan kepercayaan kepada perawat dan kecemasan karena tidak mengetahui kebenaran biasanya lebih merugikan. f. Justice Prinsip bahwa individu memiliki hak diperlakukan setara.

2. Advokasi

a. Menghargai keputusan klien b. Mejelaskan macam pemeriksaan c. Memberikan informasi sejelas-jelasnya d. Menjaga kerahasiaan pasien

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Tema Sub Tema Sasaran Waktu Hari/Tanggal

: Penyakit hipospadia : pengetahuan tentang hipospadia : orangtua an.H : 30 menit :sabtu, 04 november 2012

I.

Tujuan Instruksional Umum (TIU) Setelah mengikuti pengajaranselama 30 menit diharapakan keluarga anak H memiliki Pengetahuan tentang Penyakit hipospadia.

II.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK) Diharapkan klien dapat : 1. Menjelaskan pengertian Hipospadia 2. menjelaskan penyebab Hipospadia 3. menyebutkan tanda dan gejala hipospadia 4. menyebutkan komplikasi hipospadia

III.

PokokMateri a. Pengertian hipospadia b. Etiologi Hipospadia c. Tanda dan gejala hipospadia d. Komplikasi hipospadia

IV.

Strategi Pelaksanaan: Metode : 1. Ceramah 2. Tanya jawab

V.

Kegiatan Penyuluhan Penyuluhan Salam Pembuka MenyampaikanTujuanPenyul uhan Apresiasi Menjelaskan : Pengertian, Penyebab,Patofisiologi, TandadanGejala komplikasi hipospadia Memberikesempatankepadap esertauntukbertanya Menjawabpertanyaan Evaluasi Menyimpulkan Salam penutup Mendengarkan Menjawabsalam dan Peserta Menjawab Salam Menyimak Mendengarkan,menja wabPertanyaan Mendengarkandenganp enuhperhataian Menanyakanhal-hal yang belumjelas Memperhatikanjawaba n Menjawabpertanyaan 20 menit Waktu 5 menit

Kegiatan Pendahuluan

Isi

Penutup

VI.

Media : Leaflet

JURNAL EPIDEMIOLOGI PENILAIAN HIPOSPADIA MENURUT TINGKAT SEVERITY. Canon S, Mosley B, Chipollini J, Purifoy JA, Hobbs C. Sumber Departemen Urologi, Rumah Sakit Arkansas Anak, Little Rock, Arkansas. Elektronik Alamat: scanon@uams.edu. Abstrak TUJUAN: Hipospadia adalah salah satu kelainan bawaan yang paling umum, dengan tingkat dilaporkan meningkatnya prevalensi tetapi faktor etiologi buruk didefinisikan untuk penyakit dan berbagai derajat manifestasi.Kami mencirikan prevalensi hipospadia di Arkansas dengan pertimbangan tingkat hipospadia. BAHAN DAN METODE: Data dari Negara Lahir Cacat Program Surveillance Arkansas dari Sistem Kesehatan Reproduksi Pemantauan Arkansas digunakan untuk mengidentifikasi kasus hipospadia dan semua kelahiran laki-laki oleh perempuan yang berada di Arkansas antara tahun 1998 dan 2007.Kategorisasi keparahan hipospadia ke tingkat pertama, kedua atau ketiga ditentukan oleh sistem 6-digit cacat lahir umum pengkodean yang digunakan oleh program surveilans di seluruh negeri.Tingkat prevalensi dihitung untuk karakteristik ibu dan bayi, tahun kelahiran dan tempat tinggal lahir. HASIL: Prevalensi hipospadia di Arkansas untuk kelahiran antara tahun 1998 dan 2007 adalah 74,2 kasus per 10.000 kelahiran hidup. Derajat hipospadia yang dinilai sebagai pertama (coronal / distal) dalam 60,7% kasus, kedua (pertengahan penis / subcoronal) di 18,8%, ketiga (perineal / proksimal penis) dalam 4,6% dan hipospadia tidak disebutkan secara spesifik dalam 16%. Prevalensi hipospadia meningkat selama periode pengawasan, dengan 66,9 per 10.000 kelahiran hidup antara 1998 dan 2002 dan 81,0 per 10.000 kelahiran hidup antara 2003 dan 2007 (p = 0,0003). Sementara tingkat prevalensi untuk setiap derajat hipospadia juga

meningkat, prevalensi hipospadia tidak disebutkan secara spesifik menurun 14,8-9,0 selama periode ini. KESIMPULAN Prevalensi hipospadia di Arkansas meningkat.Peningkatan pengakuan dan kategorisasi derajat hipospadia mungkin berdampak pada tingkat prevalensi yang dilaporkan. Hak Cipta 2012 American Urological Association Pendidikan dan Penelitian, Inc Diterbitkan oleh Elsevier Inc All rights reserved.

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J (2009). Pathofisiologi : Buku saku. Jakarta : EGC Muttaqin, Arief. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba medika Syaifudin,. (2002). Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : EGC Purnomo,Basuko. (2011) Dasar-dasar Urologi edisi ketiga.Malang : Sagung seto http://id.scribd.com/doc/70233922/HIPOSPADIA

TUGAS INDIVIDU SISTEM PERKEMIHAN

HIPOSPADIA

NAMA : ELISAMAN FITRY NIM : 1103009

STIKES BETHESDA YAKUMM YOGYAKARTA 2012/2013