Anda di halaman 1dari 4

Nama : Asbar Hamzah Nim : 60300110006 Kelas : A

1. Perbedaan vektor kloning dan vektor ekspresi a. Vektor kloning adalah agen pembawa fragmen DNA masuk ke dalam sel makhluk hidup yang berfungsi untuk memperbanyak fragmen DNA. Beberapa vektor kloning yang umum digunakan adalah plasmid, vektor lamda, virus, kromosom bakteri buatan, kromosom khamir buatan, dan cosmid. Suatu vektor kloning harus dapat disambungkan atau menyatu dengan fragmen DNA yang ingin ditransfer kemudian dapat dimasukkan ke dalam sel. Di dalam sel tersebut, fragmen DNA akan diperbanyak jumlahnya. Untuk memilih vektor kloning yang cocok dalam penelitian, beberapa hal yang harus

dipertimbangkan adalah ukuran fragmen DNA yang akan ditransfer, jumlah salinan, inkompatibilitas (ketidaksesuaian), marka pemilihan (selectable marker) untuk seleksi, situs kloning, dan fungsi khusus dari suatu vektor. b. Vektor ekspresi, adalah salah satu teknik yang digunakan untuk mempelajari fungsi protein. Pada teknik ini, potongan DNA penyandi protein yang diinginkan ditransplantasikan ke suatu plasmid (DNA sirkular yang biasanya ditemukan pada bakteri; dalam teknik ini, plasmid disebut sebagai vektor ekspresi). Plasmid yang telah mengandung potongan DNA yang diinginkan tersebut kemudian dapat disisipkan ke dalam sel bakteri atau sel hewan. Penyisipan DNA ke dalam sel bakteri disebut transformasi, dan dapat dilakukan dengan berbagai metode, termasuk elektroporasi, mikroinjeksi dan secara kimia. Penyisipan DNA ke dalam sel eukaryota, misalnya sel hewan, disebut sebagai transfeksi, dan teknik transfeksi yang dapat dilakukan termasuk transfeksi kalsium fosfat, transfeksi liposom, dan dengan reagen komersial. DNA dapat pula dimasukkan ke dalam sel dengan menggunakan virus (disebut transduksi viral). Setelah penyisipan ke dalam sel, protein yang disandi oleh potongan DNA tadi dapat diekspresikan oleh sel bersangkutan.

2. Enzim retriksi sticky end dan blunt end a. Enzim retriksi sticky end adalah Enzim yang memotong pada kedua utas DNA tidak berhadapan langsung, tetapi selisih 2-4 basa menghasilkan potongan dengan ujung lengket (lancip.) Pemotongan DNA dengan tempat pemotongan semacam ini akan menghasilkan fragmen-fragmen dengan ujung 5 yang runcing karena masing-masing untai tunggalnya menjadi tidak sama panjang. Dua fragmen DNA dengan ujung yang runcing akan mudah disambungkan satu sama lain. Sedangkan enzim retriksi blunt end adalah enzim yang memotong DNA pada tempat yang berhadapan sehingga menghasilkan ujung, karena masing-masing untai tunggalnya sama panjangnya. Fragmen-fragmen DNA dengan ujung tumpul (blunt end) akan sulit untuk disambungkan. Biasanya diperlukan perlakuan tambahan untuk menyatukan dua fragmen DNA dengan ujung tumpul, misalnya pemberian molekul linker, molekul adaptor, atau penambahan enzim deoksinukleotidil transferase untuk menyintesis untai tunggal homopolimerik 3.

b. Contoh enzim retriksi blunt end dan sticky end dan hasilnya Blunt end (Ujung Tumpul)

Sticky end (Ujung Lancip)

3. Metode transformasi a. Heat shock adalah metode transformasi DNA ke dalam sel inang dengan metode kejut panas. Perlakuan ini dimaksudkan untuk membuka pori membran sel dan mengaktifkan protein Hsp (heat shock protein). Suhu yang digunakan untuk proses kejut panas adalah 420 C. Perlakuan heatshock tidak dilakukan terlalu lama yaitu maksimal 90 detik agar sel yang sudah terbuka tidak membuka terus sehingga sel tidak menjadi lisis. Sebelum diberi suhu 420 C sel tersebut diinkubasi dalam es selama 20 menit. Selanjutnya untuk mengetahui DNA insert yang digunakan telah masuk ke dalam sel, maka sel ditumbuhkan dalam media LB padat yang mengandung ampisilin, LA, xgaL, dan IPTG, selanjutnya diinkubasi pada suhu 370 C. b. Elektroforasi adalah transformasi DNA ke dalam sel inang dengan menggunakan arus listrik. Permeabilitas dinding sel bakteri dapat ditingkatkan dengan cara menempatkan sel bakteri kedalam medan listrik yang kuat. DNA dan sel bakteri dimasukkan bersama-sama dalam kuvet khusus yang kemudian ditempatkan dibawah medan listrik (1,8 kv), dalam waktu yang sangat singkat sekitar 4-5 detik. Dibawah medan listrik ini dinding sel bakteri dipaksa terbuka dengan sendirinya, sehingga DNA dapat masuk kedalam sel bakteri kedalam

lubang yang terbentuk tersebut. Teknik ini dapat menyebabkan sebagian besar sel bakteri mati, namun sel yang bertahan hidup akan menerima DNA. Dewasa ini elektroporasi sering digunakan untuk transfer DNA karena prosesnya lebih cepat. 4. Perbedaan E.coli dan A. Tumefaciens sebagai sel inang a. E. Coli sebagai sel inang Pemain utama dalam pengembangan teknik dan rekayasa genetika. Hampir seluruh rekayasa genetika dikembangkan melalui bantuan E. coli yang berperan sebagai inang plasmid/fage rekombinan. Hingga saat ini hampir seluruh tahapan kloning, karakterisasi dan modifikasi fragmen DNA spesifik dilakukan dengan menggunakan sistem E coli. Pengembangan vektor bolak balik (shuttel vektor) yang diaplikasikan untuk mikrorganisme lain dikerjakan dalam sistem E coli. E. coli masih berperan penting dalam industri bioteknologi untuk menghasilkan berbagai macam protein E. coli digunakan sebagai sel inang pada rekayasa genetika hewan. b. A. tumefaciens sebagai sel inang A. tumefaciens adalah bakteri patogen pada tanaman yang banyak digunakan untuk memasukkan gen asing ke dalam sel tanaman untuk menghasilkan suatu tanaman transgenik. Di era transformasi genetik sekarang ini, peran agrobacterium sangat besar dalam menghasilkan tanaman yang dimodifikasi untuk mendapatkan sifat yang diinginkan. A. tumafaciens digunakan sebagai sel inang pada sel tanaman Riany_sains@yahoo.co.id