Anda di halaman 1dari 8

Hukum Pertama Mesin

Oleh Putri Sakinah M 1106066795 Data Publikasi : Atkins,P.W. 1996.Kimia Fisika Ed.Keempat Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Fungsi Keadaan dan differensial


Sifat-sifat yang tidak tergantung pada cara penyiapan cuplikan disebut fungsi keadaan. Contohnya tekanan, energi dalam dll. Karena sifat-sifat itu tergantung pada keadaan akhir sistem bukan pada keadaan sebelumnya. Sifat-sifat ang berhubungan dengan penyiapan keadaan disebut fungsi jalan. Contohnya meliputi kerja yang dilakukan dalam penyiapan suatu keadaan atau energi ang dipindahkan sebagai kalor.

Fungsi Keadaan Differensial eksak dan tak eksak Jika suatu sistem dibawa sepanjang jalan (misal:memampatkan secara isotermal) maka Nilai bergantung pada keadaan awal dan akhir, tetapi tidak bergantung pada jalan antara dua

keadaan itu. Kita nyatakan integral yang tidak bergantung pada jalan antara dua keadaan ini dengan mengatakan bahwa dU adalah differensial eksak. Jika suatu sistem dipanaskan energi total yang dipindahkan sebagai kalor adalah jumlah semua kontribusi masing-masing titik pada jalan ini. Perhatikan perbedaan antara persamaan ini dengan persamaan sebelumnya. Pertama kita tidak menulis , karena q bukan fungsi keadaan dan energi yang diberikan sebagai kalor tidak dapat . Kedua kita harus menentukan jalan integrasi karena q bergantung pada , nonadiabatik ). Kita menyatakan ketergantungan pada jalan

dinyatakan sebagai

jalan yang dipilih (adiabatik

ini dengan mengatakan bahwa dq adalah differensial tak eksak. Perubahan energi dalam U adalah fungsi volume dan temperatur jika pada temperatur tetap V berubah menjadi V+dV maka U berubah menjadi ( )

Koefisien ( ) yaitu V kemiringan U terhadap V pada temperatur tetap, adalah turunan parsial U terhadap V. Jika bukan V, tetapi T yang berubah menjadi T+dT pada volume tetap, energi dalam berubah menjadi:

Misalkan V dan T keduanya sedikit sekali berubah. Dengan pengabaian perubahan yang sangat kecil orde kedua, energi dalam yang baru adalah: ( ) ( )

Selisih energi dalam U dan U adalah jumlah yang sangat kecil, dU. Dengan demikian dari persamaan terakhir kita memperoleh hasil yang sangat penting : ( ) ( )

Interpretasi persamaan ini: dalam sistem tertutup dengan komposisi tetap, perubahan energi dalam yang sangat kecil sebanding dengan perubahan volume dan temperatur yang sangat kecil koefisien perbandingannya merupakan turunan parsialnya. Kapasitas kalor pada volume tetap ( Maka, ( Koefisien ( ) dinotasikan sebagai . Maka ) )

Pada gas sempurna : ( Pada gas nyata (Van der Waals) : )

Eksperimen Joule Implikasi termodinamika dari eksperimen ini adalah: dalam pemuaian ke ruang hampa, tidak ada kerja yang dilakukan sehingga w=0. Tidak ada kalor yang memasuki atau meninggalkan sistem gas karena temperatur air di bak tidak berubah sehingga q=0. Konsekuensinya, dalam ketepatan eksperimen Perubahan energi dalam pada tekanan tetap Koefisien pemuaian : ( Jadi )

laju perubahan volume terhadap temperatur per satuan volume. kedalam persamaan untuk ( ) menghasilkan : ( )

Pemasukan defenisi umum

Kuantitas yang terdapat dimana-mana

( ) . Untuk gas sempurna ( )

, sehingga

Jadi, kapasitas kalor volume-tetap gas sempurna sama dengan kemiringan energi dalam terhadap temperatur pada tekanan tetap, atau secara definisi sama dengan kemiringannya terhadap volume tetap.

Ketergantungan entalpi terhadap temperatur


Jika kita memandang H sebagai fungsi p dan T dengan argumen yang sama seperti untuk U maka kita lihat untuk suatu sistem tertutup dengan komposisi tetap: ( ) ( )

Koefisien kedua adalah kapasitas kalor tekanan-tetap ( Oleh karena itu ( Variasi entalpi dan volume tetap Mula-mula kita membagi persamaan volume tetap : ( ) ( ) ( ) ( ) dengan dT dan menentukan bahwa ) )

Hubungan nomor 3 memutar-mutarkan p,V, dan T ke dalam diferensial parsial, dan dengan memperlakukan pada ( menghasilkan: ( ) ( ) ( )

Menggunakan hubungan no 2 menghasilkan

( )

( (

) )

=-

Koefisien (

) adalah ukuran perubahan volume akibat pengaruh tekanan, pada temperatur

tetap. Hal ini berkenaan dengan Kompresibilitas (kemampuan untuk dapat dimampatkan) isotermal yang ditetapkan : ( ) ;

Jika sekarang kita kumpulkan semua perhitungan-perhitungan sebelumnya kita temukan bahwa ( ) ( ) ) analog dengan ( ) . ) menjadi sesuatu yang dapat dikenal. Menggunakan hubungan no 3

Koefisien (

Mula-mula kita mengubah ( didapatkan

) ( ) ( )

Menggunakan hubungan no 2 menghasilkan

) (

Koefisien lain dalam persamaan ini disebut koefisien Joule-Thomson ( Dengan demikian : ( Ini adalah persamaan akhir untuk ( ) ( ) )

) . Persamaan ini berlaku untuk segala zat.

Hubungan antara

dan

Hubungan untuk gas sempurna Menyatakan kedua kapasitas kalor dalam bentuk turunannya pada tekanan tetap : ( Kemudian kita masukkan: ) ( )

Sehingga menghasilkan: ( ) ( )

Kasus Umum

Pertama menyatakan

dalam bentuk definisinya: ( ) ( )

Dan kemudian, memasukkan definisi H = U+pV ( ) ( ) ( )

Kita sudah menghitung selisih antara kuantitas pertama dan ketiga: ( ) ( ) ) .mengkonversikan

merupakan perubahan volume jika temperatur dinaikkan dan (

perubahan volume menjadi perubahan energi dalam.Kita dapat menyederhanakan suku sisanya dengan memperhatikan bahwa karena p tetap, ( ) ( )

( ) merupakan perubahan volume yang disebabkan oleh perubahan temperatur, dan pengalian dengan p mengkonversikan perubahan volume menjadi kerja. Penggabungan kedua kontribusi menghasilkan: ( Kita dapat dengan cepat memeriksa bahwa hubungan itu tereduksi menjadi hubungan gas sempurna dengan menggunakan Pada Bab 5 diketahui bahwa ( )

Jika dimasukkan dalam persamaan tadi maka; ( )

Kerja Pemuaian Adiabatik


Pada kasus ini karena perubahannya adiabatik maka dq = 0 pada setiap tahap pemuaian. Konsekuensinya dU = dw. Persamaan tersebut berlaku untuk segala sistem tertutup, adiabatik.

Untuk banyak gas, Cv hampir tidak bergantung pada temperatur sehingga

Persamaan ini berlaku untuk segala pemuaian dan penyusutan adiabatik gas sempurna, reversibel atau tak reversibel selama pemuaian itu kuasistatik dan lingkungannya ada pada keseimbangan dalam.

Kasus Khusus
Pemuaian adiabatik tak reversibel Jika gas sempurna melawan tekanan luar nol, gas itu tidak melakukan kerja. Oleh karena itu w = 0 konsekuensinya . Ini adalah kasus khusus pemuaian adiabatik dan isotermal. Jika pemuaian

terjadi melawan tekanan luar maka kerja yang dilakukan adalah Perubahan temperatur yang menyertai pemuaian adiabatik tak reversibel:

Pemuaian adiabatik reversibel dw = -pdV. Karena dq = 0 maka dU = -pdV. Namun untuk gas sempurna dU = CvdT. Kedua suku itu harus sama (dU differensial eksak, tak bergantung pada jalan) sehingga: Cv dT = -p dV Karena setiap tahap, gas sempurna mmenuhi pV = nRT persamaan menjadi:

Karena Cv dianggap tidak bergantung pada temperatur maka kedua sisi dapat diintegralkan Atau

Dengan menuliskan c = C/nR maka ( ) Yang berarti ( ) Kerja yang dilakukan saat volume berubah diperoleh dengan menggantikan hasil tersebut kedalam

( Adiabat gas sempurna Perubahan adiabatik reversibel Dari persamaan gas sempurna:

{( )

( ) Penggabungan keduanya menghasilkan

Dengan Untuk gas sempurna Cv + nR = Cp sehingga adalah perbandingan kapasitas kalor

tetap Untuk semua gas Untuk gas sempurna beratom tunggal