Anda di halaman 1dari 47

CRITICAL REVIEW PENDEKATAN PERENCANAAN

PADA PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI DESA JOTANGAN KECAMATAN BAYAT KABUPATEN KLATEN
Tugas Mata Kuliah Teori Perencanaan dan Pembangunan

Dosen : Ir. Hadi Wahyono, MA

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

DIKERJAKAN OLEH: DIYAS PARAMAWATI (21040110400004)/ Kelas A DONA AMEYRIA G.P. (21040110400005)/ Kelas A NORMALIA ODE YANTHY (21040110400077)/ Kelas A WINDARSIH (21040110400024)/ Kelas A EVA RETNO SARI (21040110400006)/ Kelas A TRI S.M. (21040110400021)/ Kelas B IVA PRIMA SEPTANITA (21040110400009)/ Kelas B TINA SRI UMAYA DEWI (21040110400049)/ Kelas B SRI HANDAYANI (21040110400019)/ Kelas B ENDIENA BULAN M.S (21040110400054)/ Kelas B NOVIA SARI RISTIANTI (21040110400059)/ Kelas B

MAGISTER TEKNIK PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010
P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Kemiskinan merupakan salah satu isu global perencanaan pembangunan. Negaranegara didunia termasuk Indonesia berusaha mengurangi angka kemiskinan melalui programprogram pembangunannya, sejalan dengan Millenium Development Goals (MDGs) yang mencantumkan penghapusan kemiskinan dan kelaparan ekstrim sebagai target utama. Keberhasilan pembangunan yang lazim digunakan berdasarkan pada indikator ekonomi. Evaluasi pembangunan seharusnya tidak hanya melihat pada angka pertumbuhan ekonomi saja namun pada pemerataan distribusi hasil pembangunan agar tidak terjadi kesenjangan antara masyarakat kaya dengan masyarakat yang miskin. Pengentasan kemiskinan akhirnya menjadi salah satu jalan untuk mengurangi ketimpangan tersebut. Hal ini dapat menjelaskan pendapat Fatah (2006:14) bahwa keberhasilan pengentasan kemiskinan menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Di Indonesia sendiri upaya penanggulangan kemiskinan sudah dilakukan sejak dulu melewati beberapa metamorphosis bentuk program dan kebijakan. Pada rezim orde baru sekitar tahun 1970an, penangulangan kemiskinan diupayakan melalui program Bimbingan Masyarakat (Bimas) dan Bantuan Desa (Bandes). Pelaksanaan program ini dirasa kurang maksimal dan akhirnya mengalami kejenuhan sehingg pada era 1990an, dirumuskan kembali program penanggulangan kemiskinan yang melahirkan program-program pembangunan yang menitik beratkan pada penanggulangan kemiskinan seperti Program Inpres Desa Tertinggal (IDT), Program Pembangunan Prasarana Desa Tertinggal (P3DT), Tabungan Kesejahteraan Keluarga (Takesra) dan Kredit Keluarga Sejahtera (Soegijoko dalam Yulianto; 2005). Krisis ekonomi pada tahun 1997-1998 yang berdampak pada meningkatnya angka kemiskinan secara drastis, membuat pemerintah berputar keras dalam merumuskan kebijakan baru. Kebijakan yag dikeluarkan antara lain Jaring Pengaman Sosial (JPS) Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (PDM/DKE). Rumusan program pengentasan kemiskinan terus berkembang. Berikutnya mulai era 2000an pemerintah juga melaksanakan Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dengan sasaran perdesaan dan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dengan sasaran perkotaan. Sebagai kelanjutan Program JPS, pemerintah melaksanakan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS BBM) yang dilaksanakan diantaranya pada bidang pangan, kesehatan, pendidikan, prasarana dan sebagainya. Upaya penanggulangan kemiskinan terus dilakukan oleh pemerintah dan secara perlahan berhasil menurunkan angka kemisikinan di Indonesia. Namun sampai saat ini metamorfosis bentuk program belum juga mampu menghilangkan kemiskinan terutama kemiskinan di daerah. Kabupaten Klaten merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki persentase penduduk miskin yang tinggi yaitu sekitar 20% dari jumlah penduduk secara keseluruhan. Jumlah penduduk miskin Kabupaten Klaten dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten sekitarnya baik di Propinsi Jawa Tengah maupun Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta cukup menonjol seperti terlihat dalam tabel berikut:

P R O G R A M

C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N

2

TABEL I.1 Penduduk Miskin Kabupaten Klaten Dan Daerah Sekitarnya

Sumber: BPS Yulianto; 2005

Pemerintah Kabupaten Klaten bekerja sama dengan masyarakat membentuk Komite Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Klaten. Sebagai langkah awal, komite ini berhasil memetakan penduduk/keluarga miskin. Dari hasil pemetaan terlihat bahwa tingkat kemiskinan di Kabupaten ini cukup meghawatirkan. Terdapat tiga kecamatan yang memiliki angka kemiskinan diatas 50% yaitu kecamatan Kemalang, Trucuk dan Bayat bahkan ada suatu desa di Kecamatan Bayat yang memiliki desa yang rasio penduduk miskin sebesar 91,47% dari total seluruh penduduk Kabupaten Klaten. Desa tersebut adalah Desa Jotangan di Kecamatan Bayat. Desa Jotangan Kecamatan Bayat Kabupaten Klaten adalah salah satu daerah yang memiliki tingat kemiskinan memperihatinkan. Program–program pengentasan kemiskinan dari pemerintah yang sudah diterapkan belum mampu mengubah 91,47% penduduk desa tersebut keluar dari kemiskinan. Upaya pengentasan kemiskinan yang diterapkan pemerintah telah berganti-ganti metode melewati berbagai macam bentuk metamorphosis sepeti halnya pengalaman Negara China yang telah diakui keberhasilannya dalam mengentaskan kemiskinan ternyata telah melakukan proses learning by doing dan terus berkembang mencari untuk bentuk terbaik untuk penanggulangan kemiskinan yang sesuai negara tersebut (UNESCAPE; 2005). Maka dari itu penting adanya kajian mengenai pendekatan program berdasarkan teori perencanaan dan pembangunan yang sekiranya efektif dalam menyelesaikan fenomena kemiskinan di Desa Jatogan. Bagaimana kekurangan dan kelebihan dari pendekatan yang selama ini sudah dilakukan oleh pemerintah, sehingga diharapkan dapat menjadi input pertimbangan dalam perumusan kebijakan penanggulangan kemiskinan didaerah yang sesuai dengan karakteristik daerah tersebut. 1.2 RUMUSAN PERMASALAHAN

Tujuan dilaksanakannya pembangunan adalah mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah sudah seharusnya memberikan perhatian besar dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Ada dua strategi utama yang dapat ditempuh (menurut UU No. 25 Tahun 2000 tentang Propenas), yang pertama adalah melindungi keluarga dan kelompok masyarakat miskin melalui pemenuhan kebutuhan pokok mereka sedangkan yang kedua dengan jalan
C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N

P R O G R A M

3

pemberdayaan agar mereka mempunyai kemampuan untuk melakukan usaha dan mencegah terjadinya. Sejalan dengan hal tesebut, Pemerintah Kabupaten Klaten telah berupaya menerapkan beberapa program penanggulanan kemiskinan untuk mengurangi angka kemiskinan didaerahnya seperti program Raskin, PKPS BBM bidang Kesehatan, PKPS BBM bidang Pendidikan dan PPK. Buah dari program tersebut menunjukkan hasil yang terkesan lamban. Banyak desa didaerah Klaten masih memiliki angka penduduk miskin yang tinggi misalnya desa-desa di Kecamatan Bayat seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL I.2 Penduduk Miskin Kecamatan Bayat

Sumber:Komite Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Klaten

Salah satu desa di Kecamatan Bayat tersebut yaitu Desa Jotangan masih memiliki tingkat kesejahteraan yang jauh dari cukup. Dari 626 KK ada 485 diantaranya yang termasuk KK miskin dan dari total penduduk desa sebesar 2.743 jiwa ada 2.509 jiwa diantaranya yang hidup dibawah garis kemiskinan atau sebesar 91,47%. Penyebab dari kemiskinan di desa tersebut kompleks, dari kurang suburnya lahan pertanian, sektor perdagangan yang kurang mendukung, bencana, serta akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Keberhasilan program pengentasan kemiskinan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah namun juga seluruh pihak termasuk penduduk miskin itu sendiri. Pendekatan perencanaan menentukan keberhasilan raelisasi program untuk mewujudka tujuan dari masing-masing program. Sehingga yang menjadi pertanyaan dalam makalah ini adalah Bagaimanakan pendekatan perencanaan pembangunan yang diterapkan dalam menanggulangi fenomena kemiskinan di Desa Jatongan Kecamatan Bayat Kabupaten Klaten?

P R O G R A M

C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N

4

3. Dari pelaksanaan program tersebut akan dikaji dengan teori perencanaan pembangunan yaitu pendekatan Top-Down dan Bottom-Up (partisipatif). Sedangkan kedalaman materi yang akan dibahas berkisar pada program-program penanggulangan kemiskinan yang ada di Desa Jotangan meliputi: Raskin. 3. Menjelaskan kasus fenomena kemiskinan yang terjadi di Desa Jatongan Mengkaji program-program penanggulangan kemiskinan yang telah diterapkan di Desa Jatongan Mengkaji teori perencanaan dan pembangunan yang sesuai dengan fenomena kemiskinan yang terjadi di Desa Jatongan Mengkaji kajian kelebihan dan kelemahan teori perencanaan dan pembangunan yang dipilihnya untuk menjelaskan ketepatan dan ketidaktepatan kasus. tujuan. 1.1. Hal tersebut menjadi Ruang lingkup materi atau batasan substansial. 1.4 RUANG LINGKUP Ruang lingkup wilayah dari penulisan ini adalah Desa Jotangan. PKPS BBM bidang Pendidikan dan PPK. Dalam bab ini juga akan di tampilkan program-program apa saja yang telah diterapkan pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan di Desa Jotangan.1 TUJUAN DAN SASARAN Tujuan Tujuan makalah ini adalah bagaimana pendekatan teori perencanaan pembangunan yang diterapkan dalam fenomena program-program penanggulanagan kemiskinan di Desa Jatongan Kecamatan Bayat Kabupaten Klaten.5 SISTEMATIKA PENULISAN BAB I PENDAHULUAN Bagian pendahuluan berisi tentang ambaran fenomena kemiskinan dan program penaggulangannya yang diurai secara makro ke mikro. 2. ruang lingkup dan sistematika kajian. Upaya pengentasan kemiskinan di desa ini sudah sejak awal tahun 1970an. Berikut merupakan peta Desa Jotangan yang dapat dilihat pada Peta 1. Kecamatan Bayat. Kabupaten Klaten. 1.2 Sasaran Adapun sasaran yang dilakukan dalam mencapai tujuan adalah sebagai berikut: 1.1. 4.3 1.perumusan masalah dari fenomena tersebut.3. BAB II FENOMENA KEMISKINAN DAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI DESA JOTANGAN KABUPATEN KLATEN Bab ini menceritakan fenomena kemiskinan di Kabupaten Klaten dan Desa Jotangan dari beberapa sumber yang ada. urgensi pengkajian pendekatan perencaanaan . P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 5 . PKPS BBM bidang Kesehatan.

1 Peta Administrasi Desa Jotangan. Klaten P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 6 .GAMBAR 1.

1 2. berdasarkan hasil pembahasan secara umum dan secara teoritis yang telah dilakukan di depan.1 KONDISI KEMISKINAN Kondisi Kemiskinan Di Kabupaten Klaten Secara Umum Kabupaten Klaten terletak pada bagian tenggara wilayah propinsi Jawa Tengah dan terletak pada jalur regional yang menghubungkan Kota Surakarta dan Yogyakarta.BAB III KAJIAN TEORITIS PENDEKATAN PERENCANAAN Bagian ini akan menjelaskan teori pendekatan perencanaan yang ada yaitu berupa top-down planning dan bottom-up planning. BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berisi tentang kesimpulan tentang karateristik kasus perencanaan yang berhasil digali dan kesesuaiannya dengan karakteristik suatu teori perencanaan. C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N P R O G R A M 7 .556 hektar. dengan pembagian wilayah administratif yang terdiri dari 26 kecamatan dan 401 wilayah kelurahan/desa. BAB II FENOMENA KEMISKINAN DAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI DESA JOTANGAN KABUPATEN KLATEN 2. Secara Administratif Kabupaten Klaten mempunyai daerah seluas 65. Rekomendasi diberikan dengan memperhatikan kelebihan dan kelemahan karakteristik teori perencanaan dan pembangunan yang dipilih.1. BAB IV CRITICAL REVIEW TEORITIS PENDEKATAN PERENCANAAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI DESA JOTANGAN KABUPATEN KLATEN Pada Bab IV ini akan dikaji pendekatan perencaan dan pembangunan apa yang dipakai dalam setiap program penanggulanga kemiskinan di Desa Jatongan termasuk implementasi serta karakteristik kelebihan dan kelemahannya dari pendekatan program yang dipakai.

6 hektar. SLTA 71. sedangkan Kecamatan Bayat merupakan kecamatan yang mempunyai PDRB per kapita terendah dan juga dibawah PDRB per kapita Kabupaten Klaten. sedangkan sisanya untuk kebutuhan lainnya.9%.2%. Kondisi kemiskinan Kabupaten Klaten berdasarkan Laporan Pembangunan Manusia Indonesia tahun 2004 yang diterbitkan oleh BPS.63% untuk pendidikan dan kesehatan.3 hektar.65% dan yang bekerja dibawah 35 jam perminggu sebanyak 33.4%.752 orang atau 635 keluarga. Pengeluaran tersebut 60.2 Kondisi Kemiskinan Di Desa Jotangan Desa Jotangan terletak di bagian utara Kecamatan Bayat mempunyai luas wilayah desa 150.1 Mata Pencaharian Penduduk Desa Jotangan No 1 Mata Pencaharian Pegawai Negeri Sipil Jumlah 37 orang P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 8 . jumlah penduduknya adalah 2.6%. 2.100. Jumlah keluarga miskin yang ada di Kabupaten Klaten baik dari jumlah maupun persentasenya cenderung tetap tinggi selama kurun waktu tersebut. Selama sakit 59. Meskipun PDRB dan PDRB per kapita Kabupaten Klaten cukup tinggi. untuk SD 98.00. dataran rendah membujur di tengah meliputi seluruh wilayah kecamatan.Wilayah Kabupaten Klaten secara umum terdiri dari 3 dataran yaitu dataran lereng Gunung Merapi yang membentang di sebelah utara. tegalan 47. Melihat keadaan alam yang sebagian besar dataran rendah dan didukung dengan banyaknya sumber air maka Kabupaten Klaten merupakan daerah pertanian yang potensial. 7. Pekerja yang bekerja di sektor informal sebesar 63. perumahan dan pemukiman 56. Dengan kondisi tersebut jumlah penduduk miskin tercatat 286. yaitu untuk SD dan SLTP 0. sehingga diatas garis kemiskinan sebesar Rp 104. yang bekerja dibawah 14 jam per minggu 9.1% dan pendidikan tinggi 3. yang terdiri dari sawah 10. Angka anak putus sekolah tergolong rendah.9% dengan tingkat pengangguran terbuka sebanyak 7%. Berdasarkan Data Monografi Desa Jotangan tahun 2004. Gambaran tentang perekonomian Kabupaten Klaten dapat diketahui dari produk domestik regional bruto per kapita.00.7 % digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok pangan.8% dan pendidikan tinggi 21. Sedangkan tingkat partisipasi dalam pendidikan. dataran Gunung Kapur yang membujur di sebelah selatan.347.5% dengan lama sakit rata-rata 5. hutan 35 hektar dan sisanya untuk peruntukan lainnya. SLTA 4.4 hektar sawah tadah hujan). Mata pencaharian penduduk dapat dilihat dari tabel dibawah ini: TABEL II.7 % penduduk melakukan pengobatan sendiri.1. Bappenas dan United Nations Development Programme (UNDP) yang menggambarkan kondisi tahun 2002 sebagai berikut. Pengeluaran per kapita per bulan Rp 161.6 hari dalam satu tahun. Tingkat partisipasi angkatan kerja sebesar 68. Kecamatan Klaten Tengah sebagai pusat kota Kabupaten Klaten dan juga sebagai pusat perdagangan mempunyai PDRB per kapita tertinggi. Hal ini terlihat dengan masih tingginya jumlah keluarga/penduduk miskin yang ada di tiap-tiap kecamatan. namun masih dihadapkan pada tingginya kesenjangan antara penduduk berpenghasilan tinggi dengan penduduk berpenghasilan rendah.3 %. Kondisi kesehatan penduduk yang menderita masalah kesehatan 29. SLTP 93.51%.500 orang (24.4 hektar (8 hektar dengan irigasi setengah teknis dan 2.5 %).2 hektar.2%.

Sarana pendidikan yang ada meliputi 1 buah Taman Kanak-Kanak dan 2 buah SD Negeri. tetapi tidak mampu memberi manfaat yang besar. Produksi padi sangat kecil karena sawah yang ada terdiri dari sawah dengan irigasi setengah teknis dan sawah tadah hujan. Meskipun Desa Jotangan dilalui sungai besar yaitu Sungai Dengkeng. dan satu buah klinik bersalin/bidan desa. Sarana transportasi umum yang melintasi desa ini hanya angkutan pedesaan jurusan Pasar Bayat-Terminal Penggung (Kecamatan Ceper). menyebabkan akses untuk mobilitas penduduk juga kurang mendukung. Nampak bahwa jumlah rumah non permanen jauh lebih banyak daripada rumah permanen dan semi permanen.4%) buah rumah non permanen. Dengan letak geografis yang agak jauh dari pusat ibu kota kecamatan dan juga topografi yang berbukit-bukit. Produksi hasil pertanian Desa Jotangan yang menonjol adalah tanaman keras. 64 (11%) buah rumah semi permanen dan 372 (61. Sarana perekonomian diantaranya warung-warung kecil yang tersebar di tiap-tiap dukuh. Gambaran kondisi kemiskinan dapat dilihat dari kondisi rumah penduduk. Desa Jotangan dilewati oleh jalan kecamatan yang menghubungkan antara Kecamatan Bayat dan Kecamatan Trucuk. aliran sungai ini berasal dari Rowo Jombor yang tidak pasti debit airnya.1 Potret Kondisi Kemiskinan di Desa Jotangan P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 9 . Tenaga kesehatan yang ada terdiri dari 1 orang bidan dan 3 orang dukun bayi. Berdasarkan kondisi rumah penduduk menurut kategori rumah yaitu dari 606 rumah di desa tersebut. tetapi kondisinya pada sebagian ruas sudah rusak.6%) buah rumah permanen. GAMBAR 2. 167 (27.033 orang Sumber: Buku Data Monografi Desa Jotangan Tahun 2005 Sarana kesehatan yang ada meliputi 4 buah Posyandu.2 3 4 5 6 7 8 Anggota TNI/Polri Karyawan Swasta Wiraswasta/pedagang Petani Pertukangan Buruh Tani Pensiunan/Purnawirawan Jumlah 6 orang 44 orang 699 orang 142 orang 15 orang 74 orang 16 orang 1. Mata pencaharian penduduk mayoritas adalah pedagang/wiraswasta.

Selain itu pertumbuhan sektor perdagangan Jotangan kalah dengan kecamatan disekitarnya yaitu Wedi dan Cawas yang merupakan pusat perdagangan. Dari data tersebut terlihat bahwa peyebab kemiskinan Desa Jotangan antara lain: 1 Lahan yang kurang subur untuk aktivitas pertanian Kabupaten merupakan daerah yang memiliki aktivitas mayoritas pertanian. sandang.per kg netto di Titik Distribusi.743 jiwa terdapat 2.1 Program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) Program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi beban pengeluaran keluarga miskin.2. Walaupun di aliri oleh Sungai Dengkeng. 2 Kurangnya sumber air Daerah Kotangan merupaka kawasan tandus.47%. 2.1. Aliran Sungai yang berasal dari Rowo Jombor yang memiliki debit air yang tidak pasti 3 Aksesibilitas kurang Dengan letak geografis yang agak jauh dari pusat ibu kota kecamatan dan juga topografi yang berbukit-bukit.000. Tetapi lahan di Kabupaten Klaten bagian selatan termasuk desa Jotangan tidak memiliki kesuburan yang sukup karena merupakan Gunung Kapur.. Hal ini menyebabkan kualitas hidup yang kurang baik pula. menyebabkan akses untuk mobilitas penduduk juga kurang mendukung dan menyulitkan distribusi hasil produksi.509 jiwa diantaranya yang hidup dibawah garis kemiskinan atau sebesar 91. serta kebutuhan rumah tanggan dan individu yang mendasar lainnya.3 Penyebab Kemiskinan Di Desa Jotangan Dari total penduduk desa sebesar 2.2 PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI DESA JOTANGAN KABUPATEN KLATEN 2. 5 Bencana Bencana menambah angka kemiskinan di Desa ini. (BPS. Setelah adanya gempa di tahun 2006 dan banjir akibat dari aliran Sungai Bengawan mengenyebabkan beberapa penduduk mengalami kerugian harta benda.2. tetapi sungai ini tidak mampu memberi manfaat yang besar. Nilai garis kemiskinan tersebut mengacu pada kebutuhan minimum 2100 kilo kalori per kapita perhari ditambah dengan kebutuhan minimum non makanan yang merupakan kebutuhan dasar seseorang yang meliputi kebutuhan dasar untuk papan. Program ini merupakan upaya meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan perlindungan kepada keluarga miskin melalui pendistribusian beras dengan kuantum minimal 10kg/KK/bulan dengan maksimal 20 kg/KK/bulan dengan harga Rp 1. Program Raskin yang berasal dari P R O G R A M dana PKPS BBM Bidang Pangan mulai 10 C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N . sekolah transportasi. Namun perdagangan di Desa ini kurang berkembang karena kesulitan aksesibilitas dan jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi. 4 Iklim perdagangan yang kurang berkembang Sebagian besar penduduk desa Jotangan berkeja disektor perdagangan. Padahal ada 142 KK yang mengantungkan hidupnya di pertanian. 6 Kurang akses terhadap fasilitas Beberapa penduduk Desa Jotangan belum dapat mengakses failitas pendidikan dan keshatan yang bermutu. 2003:580).

c. Kadivre/Kasubdivre/Kakanlog menerbitkan SPPB/DO beras kepada Satgas Raskin. 2. Divre/Subdivre/Kanlog membuat rekapitulasi masing-masing Kecamatan dan Kabupaten/Kota. dan menjadi dasar pembuatan Surat Permintaan Alokasi (SPA) oleh Bupati/Walikota kepada Divre/Subdivre/Kanlog. mengambil beras di gudang bulog. Penyerahan Beras di Titik Distribusi dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima (BAST) yang ditandatangani oleh Satgas Raskin dan Pelaksana Distribusi serta diketahui oleh Kepala Desa/Lurah/Camat.dilaksanakan sejak tahun 2001. anggota Badan Permusyawaratan Desa/Dewan Kelurahan. Pelaksana Distribusi menyerahkan beras kepada Keluarga Sasaran Penerima Manfaat yang terdaftar dalam DPM. sejak Januari 2002 program OPK berubah nama menjadi Raskin (Beras untuk Keluarga Miskin). Guna lebih memudahkan dalam pengadministrasian mulai bulan Desember 2004 kedua program ini digabung dengan nama Program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin). Penentuan pagu raskin dilaksanakan secara berjenjang dari Tim Raskin Pusat. Satgas Raskin 3. Guna lebih mempertajam sasaran. d. Kuantum pagu Raskin tingkat nasional ditetapkan pemerintah pusat berdasarkan besarnya subsidi pangan yang disediakan dalam APBN. Pertanggungjawaban Pelaksanaan Distribusi 1. 2. tokoh masyarakat dan perwakilan keluarga miskin. mengangkut dan menyerahkan beras Raskin kepada Pelaksana Distribusi di Titik Distribusi. Bupati/Walikota mengajukan Surat Permintaan Alokasi (SPA) kepada Kadivre/Kasubdivre/. Tim Raskin Propinsi dan terakhir Tim Raskin Kabupaten/Kota yang mengalokasikan pagu raskin untuk tiap-tiap kecamatan dan desa/kelurahan. institusi kemasyarakatan Desa/Kelurahan. Penentuan Pagu dan Alokasi Daerah 1. 2. Berdasarkan DO yang diterbitkan Kadivre/Kasubdivre/Kakanlog. Berdasarkan BAST. 3. yaitu keluarga miskin. Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB). 2. Keluarga yang dipilih dalam musyawarah Desa/Kelurahan dituangkan dalam Berita Acara Musyawarah Desa/Kelurahan yang dilampiri Daftar Keluarga Sasaran Penerima Manfaat dan ditandatangani Kepala Desa/Lurah serta disahkan oleh Camat setempat. Pelaksanaan Distribusi 1. Penentuan Keluarga Sasaran Penerima Manfaat 1. Jumlah Keluarga Sasaran Penerima Manfaat setiap Desa/Kelurahan dilaporkan secara berjenjang ke tingkat Kecamatan. Penyaluran beras dari dana PKPS BBM ini dilakukan melalui mekanisme Raskin dengan target yang sama. Pelaksana Distribusi membuat daftar pendistribusian beras dan pembayaran hasil penjualan beras yang ditandatangani oleh Pelaksana Distribusi dan diketahui oleh C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N P R O G R A M 11 . Program ini merupakan pelengkap dan kelanjutan Program Operasi Pasar Khusus (OPK) beras untuk keluarga miskin yang dimulai pada tahun 1998. b. a. Berdasarkan SPA. Musyawarah Desa/Kelurahan untuk memilih Keluarga Sasaran Penerima Manfaat sesuai pagu yang diterima yang melibatkan aparat Desa/Kelurahan. Kabupaten/Kota dan provinsi.

Uang HPB Raskin harus langsung diserahkan kepada Satgas Raskin dan dibuatkan Tanda Terima Pembayaran atau disetorkan ke rekening penampungan Divre/Subdivre/Kanlog.640 3.400 Sumber: Kantor Kecamatan Bayat. Untuk Desa Jotangan. 3.Kades/Lurah. Untuk Desa Jotangan. meskipun dari alokasi yang diterima belum semua keluarga miskin mendapat alokasi sesuai ketentuan. Tahun 2005 menurun lagi menjadi 36. Alokasi tersebut jumlahcenderung menurun tiap tahunnya. Penetapan kepala keluarga sasaran penerima manfaat melalui rembug desa dan dituangkan dalam Berita Acara Rembug Desa yang dilampiri Daftar Penerima Manfaat. maka prinsip pembayaran tunai dapat dikecualikan dengan syarat adanya jaminan tertulis dan pelunasannya selambat-lambatnya sebelum jadwal pendistribusian bulan berikutnya. Hasil penjualan raskin harus disetor ke BRI paling lambat H+7. Tahun 2003 sebanyak 40. Meskipun dalam Daftar Penerima Manfaat tiap-tiap keluarga menerima 20 kg. tetapi dalam pelaksanaan distribusi tidak demikian halnya. Dalam pelaksanaannya jumlah keluarga dan beras yang diterima bervariasi berdasarkan kesepakatan tiap-tiap RT. e. Pemerintah Kabupaten Klaten menerima alokasi pagu Raskin dari Pemerintah Propinsi Jawa Tengah yang selanjutnya dialokasikan ke tiap-tiap kecamatan dan desa di Kabupaten Klaten. titik distribusi adalah Balai Desa Jotangan untuk kemudian tiap-tiap RT mengambil jatah mereka yang selanjutnya dibagikan kepada warga yang menerimanya.2 Alokasi Beras Untuk Rakyat Miskin Desa Jotangan No 1 2 3 Tahun 2003 2004 2005 Desa Jotangan KK Kuantum 182 182 170 (kg) 3. keluarga dalam Daftar Penerima Manfaat sebanyak 170 kepala keluarga dan jumlah kuantum beras untuk desa tersebut adalah 3. Apabila ada keluarga tidak mampu membayar tunai.566 KK. Keterlambatan pelunasan menyebabkan tertundanya alokasi Raskin bulan berikutnya. Pelaksanaan Program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) di Desa Jotangan Kabupaten Klaten Pelaksanaan Program Raskin mengacu pada Pedoman Umum Program Raskin yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa dengan Perum Bulog. 4.400 kg. TABEL II. P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 12 . juga dilakukan penyesuaian alokasi untuk tiap-tiap kecamatan dan desa.440 KK. Terhadap penurunan ini. Terhadap petugas distribusi yang belum menyetorkan HPB maka satgas Raskin Kecamatan Bayat akan melakukan penagihan ke petugas distribusi desa yang belum menyetor tersebut. sedangkan Kecamatan Bayat menetapkan H+3 sudah harus disetor.270 KK dari 90 ribu lebih keluarga miskin mendapat alokasi beras dengan quantum 20 kg. Tahun 2004 terjadi penurunan alokasi menjadi 38. 2005 Pelaksanaan distribusi raskin dilaksanakan selama 12 kali dalam satu tahun.640 3. Distribusi raskin biasanya dilaksanakan pada tiap awal bulan antara tanggal 6 sampai tanggal 9.

GAMBAR 2.. Perbedaan lainnya yaitu kalau BOS jumlah yang diterima adalah berdasarkan jumlah siswa yang ada di sekolah tersebut. Program ini merupakan kelanjutan Program JPS Beasiswa berupa pemberian beasiswa bagi siswa dari keluarga tidak/kurang mampu yang mulai dilaksanakan pada tahun 1998 dan berakhir pada tahun 2003.2 Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS BBM) Bidang Pendidikan PKPS BBM Bidang Pendidikan merupakan upaya pemerintah dalam rangka membantu masyarakat yang kurang/tidak mampu membiayai pendidikan dalam bentuk Bantuan Khusus Murid (BKM).-.250/siswa untuk 6 bulan. Kedua program ini selanjutnya diintegrasikan pada tahun 2003. BOS dialokasikan untuk seluruh siswa yang ada di sekolah yang mendapatkan alokasi BOS. a. Tim Pusat menentukan alokasi BKM masing-masing Kabupaten/Kota dan selanjutnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menentukan jatah murid penerima BKM per sekolah/madrasah.000/siswa/bulan. dan biaya hidup murid sehari-hari. (2) mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk terus sekolah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.dan SMU/SMK/SMLB/MA sebesar Rp 150. sedangkan BKM hanya untuk siswa yang berasal dari keluarga kurang/tidak mampu. Sedangkan untuk SLTA atau sederajat tetap diberikan dalam bentuk BKM yang besarnya Rp 65.-.000. Dana BKM disalurkan setiap enam bulan dengan jumlah dana untuk murid SD/SDLB/MI sebesar Rp 60. BKM berlangsung sejak tahun 2001 sampai dengan bulan Juni 2005 Mulai bulan Juli 2005 untuk tingkatan SD dan SLTP atau yang sederajat program ini diberikan dalam bentuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang besarnya untuk SD Rp 117. PKPS BBM Bidang Pendidikan mulai dilaksanakan sejak tahun 2001 dalam bentuk BKM.500/siswa untuk 6 bulan dan SLTP Rp 162. Dana BKM dapat dimanfaatkan antara lain untuk: membayar iuran bulanan sekolah/madrasah. Berbeda dengan BKM yang sasarannya siswa dari keluarga tidak/kurang mampu. dapat membiayai keperluan sekolahnya sehingga murid : (1) tidak putus sekolah akibat kesulitan ekonomi. Perbedaan mendasar antara BOS dan BKM adalah. kalau BKM langsung diterimakan kepada siswa sedangkan BOS yang menerima dan mengelola adalahpihak sekolah. Penetapan Jumlah Alokasi BKM Penetapan jumlah murid penerima BKM dilaksanakan dalam tiga tahap: 1. murid SLTP/SLTPLB/ MTs sebesar Rp 120. pembelian perlengkapan murid (buku dan alat tulis).000.000. Program BKM bertujuan agar murid yang berasal dari keluarga kurang/tidak mampu. transportasi ke sekolah/madrasah.2.2 Implementasi Program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) di Desa Jotangan 2. P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 13 .

287 dengan dana Rp 1. 2. b. Murid atau Kepala Sekolah/Madrasah mengambil dana BKM sekaligus dari Kantor Pos yang ditunjuk.000. Kepala Sekolah mengirimkan tanda terima penyerahan BKM kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Kantor Pos Bayar d.850. atau anak korban PHK.2.067.740. untuk SLTP dan sederajat 14. dana BKM dapat diambil secara kolektif oleh Kepala Sekolah/Madrasah.3 Penerima Beasiswa Di Desa Jotangan No 1 2 Nama SD/ MI SD Jotangan I SD Jotangan II Jumlah Jumlah Murid 132 149 281 Penerima Beasiswa 38 41 79 Sumber: Kantor Cabang Dinas P dan K Kecamatan Bayat. Jika murid mengalami kesulitan ke kantor pos. Apabila dana BKM belum diambil sampai dengan batas waktu yang ditetapkan. tidak diperkenankan melakukan pemotongan atau pungutan biaya apapun dengan alasan apapun dan oleh pihak manapun.879 murid dengan dana Rp 1.440. 1. misalnya: cacat fisik.000. 2. Apabila pengambilan secara kolektif.-.714.792. Kepala Sekolah/Madrasah menentukan murid penerima BKM dengan kriteria: (a) berasal dari keluarga kurang/tidak mampu. dana tersebut tidak bisa diambil pada periode berikutnya c. Pengambilan Dana BKM Dana BKM harus diterima secara utuh.-. korban musibah berkepanjangan. Kepala Sekolah/Madrasah menerbitkan Surat Keputusan seleksi murid yang menerima BKM untuk dikirim kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dengan tembusan Kantor Pos bayar.2005 Penetapan siswa yang menerima BKM murid sekolah dasar di Desa Jotangan P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 14 . (d) yatim dan atau piatu. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Klaten mengalokasikan BKM tersebut untuk tiap-tiap sekolah berdasarkan ketentuan yang berlaku. dan (e) pertimbangan lain.119 murid dengan dana Rp 1.-. Pelaksanaan PKPS BBM Bidang Pendidikan Di Desa Jotangan Kabupaten Klaten Berdasarkan daftar alokasi BKM untuk Kabupaten Klaten. Dinas Pendidikan membuat Surat Keputusan tentang jatah penerima BKM untuk dikirim kepada Depdiknas. (c) mempunyai lebih dari tiga saudara yang berusia dibawah 18 tahun. dan untuk SLTA dan sederajat sebanyak 7. Alokasi BKM untuk murid sekolah dasar di Desa Jotangan seperti terlihat dalam tabel berikut: TABEL II. Pertanggungjawaban Pelaksanaan Program 1. 3. (b) bertempat tinggal jauh dari sekolah/madrasah. Dana BKM diambil langsung oleh murid penerima BKM. Alokasi BKM untuk Kabupaten Klaten periode Januari sampai dengan Juni 2005 adalah untuk SD dan sederajat 29.

3 Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS BBM) Bidang Kesehatan PKPS BBM Bidang Kesehatan adalah program pemerintah untuk melayani keluarga miskin agar tetap terpelihara kesehatannya. 3. termasuk dana bantuan untuk pengiriman obat dari kabupaten/kota ke Puskesmas. Identifikasi sasaran oleh Tim Desa berdasarkan data sasaran atau data rumah tangga miskin yang telah ada di desa divalidasi/dimutakhirkan oleh Tim Desa. murid yang menerima BKM dilakukan secara bergilir tiap tahunnya. Pada tahun 2003 kedua program tersebut dipadukan dalam satu program yaitu PKPS BBM Bidang Kesehatan. BP4. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Puskesmas menerima dana untuk pemberian pelayanan kesehatan di masingC R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N P R O G R A M 15 . Apabila murid yang bersangkutan mempunyai tunggakan uang sekolah dan iuran sekolah lainnya. Selanjutnya data sasaran tersebut ditetapkan oleh Tim Koordinasi Kabupaten/Kota (TKK). Mengingat sebagian besar orang tua murid adalah keluarga tidak mampu. a. 4. 2. sekolah akan mengirimkan bukti penerimaan BKM kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Klaten melalui Cabang Dinas Kecamatan Bayat dan Kantor Pos Bayat. Setelah selesai pembagian BKM. PKPS BBM Bidang Kesehatan mulai dilaksanakan sejak tahun 2001 yang merupakan kelanjutan dari Program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan yang mulai dilaksanakan tahun 1998. BP4. Identifikasi sasaran direkapitulasi oleh Puskesmas dan dikirimkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. maka jumlah yang diterima dikurangi terlebih dahulu dengan tunggakan tersebut. Dinas Kesehatan provinsi mendorong. Selanjutnya sekolah yang membagikan BKM tersebut kepada murid yang mendapat jatah BKM secara tunai. memantau dan mengkoordinasikan keterpaduan penyusunan Paket Pelayanan Esensial (PPE) yang menjadi dasar acuan dalam memberikan pelayanan kepada pasien gakin. Keluarga miskin yang telah ditetapkan oleh TKK akan diberi kartu sehat oleh puskesmas untuk memperoleh pelayanan dari program ini secara gratis yang berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang selama pemilik kartu masih termasuk sebagai sasaran program. 2. b. dan BKMM memberikan operasional pelayanan kepada pasien miskin dan kebutuhan biayanya diklaimkan kepada pengelola Program PKPS BBM Bidang Kesehatan di RS. menerima dana penunjang untuk masing-masing provinsi. 3.dilakukan melalui rapat komite sekolah. dan BKMM yang bersangkutan. Pengambilan BKM ke Kantor Pos Bayat dengan memberikan surat kuasa kolektif kepada Kepala SD. Penerimaan Dana 1. Mekanisme yang ditempuh adalah Rumah Sakit. bahkan ditingkatkan derajat kesehatannya. Penetapan Sasaran 1. 2. Rumah Sakit. Tujuan yang ingin dicapai adalah meningkatkan pelayanan kesehatan keluarga miskin agar dapat dipertahankan dan ditingkatkan derajat kesehatannya. Dinas Kesehatan Provinsi.2.Hasil validasi data identitas sasaran kemudian disampaikan ke Puskesmas. menerima dana penunjang untuk masing- masing Kabupaten/Kota. BP4 dan BKMM menerima dana untuk pemberian pelayanan kesehatan di instansi masing-masing.

3 Implementasi PKPS BBM Bidang Kesehatan Di Desa Jotangan P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 16 . (ii) Laporan RS. c. Rumah Sakit. Dalam JPKMM penghitungan masyarakat miskin menggunakan dasar jiwa. Pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin tidak mengalami perubahan.988 jiwa. Bidan di Desa. Semula Bidan Desa. Jumlah jiwa di Desa Jotangan yang masuk program JPKMM adalah 1.979 jiwa penduduk miskin yang mendapat program ini seluruh Kecamatan Bayat dengan cadangan 1. BP4 dan BKMM tentang jumlah pelayanan yang dilakukan dan biaya yang dikeluarkan dan perkembangan dana yang dikelolanya. d. Pertanggungjawaban Pelaksanaan Program 1. dan (iii) revitalisasi posyandu. GAMBAR 2. (ii) pelayanan kebidanan. Sedangkan saat ini masing-masing pemberi pelayanan kesehatan setiap bulan melaporkan pelayanan yang telah mereka laksanakan kepada PT Askes untuk mendapatkan penggantian dana. Pertimbangan adalah pemanfaatan program inidengan tingkat utilitas 15%. penerimaan dan distribusi obat. PT Askes bekerja sama dengan fasilitas kesehatan milik pemerintah. 5.103 jiwa. BKMM. Keluarga miskin di Desa Jotangan yang menerima kartu sehat sebanyak 485 kepala keluarga dari jumlah keseluruhan 7. hanya dalam pengelolaan dana dan pengadministrasian yang berbeda.172 kepala keluarga atau 258. Laporan dibuat dan dikirim oleh TKK dan TKP mengenai pelaksanaan program yang terdiri: (i) Laporan bulanan Puskesmas dan Bidan di Desa tentang jumlah pelayanan kesehatan yang dilakukan. 3. Rumah Sakit dalam memberikan pelayanan langsung menggunakan dana yang mereka kelola. Pelaksanaan PKPS BBM Bidang Kesehatan Di Desa Jotangan Kabupaten Klaten Pelaksanaan PKPS BBM Bidang Kesehatan di Kabupaten Klaten mengacu pada pedoman pelaksanaan yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan.masing puskesmas yang meliputi (i) pelayanan kesehatan dasar. dan penanganan pengaduan masyarakat. Sejak bulan Januari 2005 dalam pelaksanaan PKPS BBM Bidang Kesehatan. pemerintah menugaskan PT Askes sebagai penyelenggara program dengan sebutan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM).054 jiwa dengan cadangan 55 jiwa dari jumlah 20. BP4. Laporan Dinas Kesehatan Kabupaten dan Provinsi tentang pembiayaan program PKPS BBM. 2. Penentuan sasaran program adalah semua keluarga miskin di Kabupaten Klaten dimasukkan dalam program ini yang berdasarkan data terakhir berjumlah 93. Cadangan ini digunakan untuk mengantisipasi kelahiran baru dan penduduk miskin baru. Puskesmas. menerima dana untuk pemberian pelayanan kebidanan dasar oleh masing-masing Bidan di Desa. dan Sekretariat PKPS- BBM membuat laporan kepada Tim Koordinasi Kabupaten/Kota (TKK) dan Tim Koordinasi Propinsi (TKP) mengenai realisasi penggunaan dana yang menjadi tanggung jawabnya. Puskesmas. Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat miskin.947 kepala keluarga di KecamatanBayat yang menjadi sasaran program ini. Bidan di Desa.

dengan pertimbangan: (a) jumlah penduduk miskin. Jenis kegiatan PPK sangat terbuka untuk semua usulan kegiatanmusyawarah yang akan didanai (open menu). Pertanggungjawaban dalam PKPS BBM Bidang Kesehatan adalah masing-masing pemberi pelayanan kesehatan melaporkan penggunaan dana yang mereka kelola. C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N P R O G R A M 17 . Dalam JPKMM apabila rumah sakit pemerintah di daerah tidak mampu menangani dapat dirujuk ke rumah saki propinsi bahkan sampai Rumah Sakit Pusat Dr. 2. Sedangkan dalam PJKMM masing-masing pemberi pelayanan kesehatan melaporkan pelayanan kesehatan yang telah mereka lakukan untuk selanjutnya diklaimkan kepada PT Askes Cabang Boyolali untuk memperoleh penggantian.2. dan (d) indeks kualitas pelayanan sarana dan prasarana ekonomi. Puskesmas Bayat memberikan pelayanan menurut kemampuan dan apabila Puskesmas tidak mampu melayani akan dirujuk ke rumah sakit RSUP Dr Suradji Tirtonegoro dan RS Jiwa Dr. Tujuan PPK adalah mempercepat penanggulangan kemiskinan berdasarkan pengembangan kemandirian masyarakat melalui peningkatan kapasitas masyarakat. (c) indeks kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan.Pelayanan kesehatan pada Bidan Desa Jotangan rata-rata perbulan menerima 100 pasien dimana 70% memanfaatkan program ini. a. Perluasan kesempatan berusaha yang meliputi Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Kegiatan Simpan Pinjam bagi Kelompok Perempuan. 2. Penyediaan prasarana sosial ekonomi. Kecamatan lokasi PPK ditentukan oleh Tim Koordinasi PPK Pusat dikoordinasikan dengan Pemerintah Daerah. Cipto Mangunkusumo Jakarta untuk kasus life saving. Jenis kegiatan tersebut meliputi: 1. Sudjarwadi. Penentuan Sasaran Sasaran utama PPK adalah kelompok penduduk miskin perdesaan pada kecamatan miskin. dan kelembagaan dalam penyelenggaraan pembangunan desa serta peningkatan penyediaan sarana dan prasarana sosial ekonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.4 Program Pengembangan Kecamatan (PPK) Program Pengembangan Kecamatan (PPK) adalah bagian dari upaya Pemerintah Indonesia untuk memberdayakan masyarakat perdesaan dengan menanggulangi masalah kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan. (b) peringkat kemiskinan. terutama jenis kegiatan yang menguntungkan dan melibatkan banyak masyarakat miskin serta memiliki potensi berkembang dan berkelanjutan.

• MAD III akan membahas dan menetapkan alokasi dana kegiatan berdasarkan 3. Pertanggungjawaban Kegiatan 1. pinjam kelompok perempuan yang akan diajukan ke MAD II. Peningkatan kualitas hidup masyarakat miskin melalui bidang pendidikan dan kesehatan termasuk kegiatan pelatihan.3. kabupaten. Pelaporan jalur fungsional akan melibatkan beberapa pihak di lingkungan lembaga pendukung (konsultan). • Musdes Kedua untuk menetapkan usulan kegiatan desa dan usulan simpan • MAD II akan membahas. memilih. Pelaporan dilakukan melalui jalur struktural dan jalur fungsional. musdes untuk serah terima kepada masyarakat. Hasil pelaksanaan kegiatan dipertanggungjawabkan dalam musdes untuk serah terima kepada masyarakat setelah pekerjaan selesai dilaksanakan.desain dan RAB kegiatannya. • Pelaksanaan kegiatan mulai dari pencairan dana. Perencanaan Program meliputi: • Penggalian gagasan kelompok/dusun dan musyawarah khusus perempuan untuk membahas usulan kegiatan simpan pinjam kelompok perempuan dan usulan luar kegiatan simpan pinjam. 2. 2. Pelaksanaan Program 1. peringkat usulan kegiatan yang disetujui dalam MAD II. d. Selanjutnya Musdes III akan mensosialisasikan hasil penetapan alokasi dana PPK. Pelaporan jalur struktural akan melibatkan beberapa pihak di lingkungan pemerintah. pembuatan realisasi kegiatan dan biaya. • Penyelesaian kegiatan berupa pembuatan laporan penyelesaian pelaksanaan kegiatan. memutuskan dan menetapkan peringkat usulan kegiatan dari masing-masing desa. kecamatan melalui Musawarah Antar Desa Pertama (MAD I) dan tingkat desa melaluiMusyawarah Desa Pertama (Musdes I). Pelaksanaan Kegiatanan • Persiapan kegiatan berupa koordinasi dan konsolidasi awal di kecamatan dan persiapan (pra pelaksanaan) di desa. 3. Tim verifikasi di tingkat kecamatan memeriksa dan menilai kelayakan usulan kegiatan dari masing-masing desa yang akan didanai PPK. alat dan tenaga kerja. Pemeriksaan insidentil oleh KM Kabupaten dan pemeriksaan eksternal oleh BPKP sebagai auditor resmi dalam PPK ini. Pemeriksaan pelaksanaan kegiatan dilakukan secara internal oleh pelaku PPK sendiri seperti pemeriksaan rutin dan berkala oleh FK dan Pendamping Lokal. pengadaan bahan. c. dan pelaksanaan kegiatan pembangunan. Pelaksanaan PPK Di Desa Jotangan Pelaksanaan Program Pengembangan Kecamatan di Kabupaten Klaten mengacu kepada petunjuk Teknis Operasional dan penjelasannya yang diterbitkan oleh Tim P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 18 . Sosialisasi PPK dari tingkat propinsi. b.

550 41.4 Implementasi PPK Di Desa Jotangan Dalam pelaksanaan kegiatan PPK diharuskan adanya swadaya dari masyarakat.5 x 565 m Biaya PPK Swadaya 83. Desa Jotangan selama 3 tahun pengalokasian dana PPK di Kecamatan Bayat mendapatkan alokasi dana seperti dalam tabel dibawah ini: TABEL II. sedangkan kecamatan yang jumlah penduduknya kurang dari 50.036.786.824. umumnya digunakan untuk usaha jualan makanan kecil-kecilan. P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 19 .000 3. Trucuk.550 42/486.4 Hasil Kegiatan PPK Di Desa Jotangan No 1 2 3 4 Kegiatan Beton Jalan Di Dukuh Gatak Talud Irigasi Dukuh Bogoran Beton Jalan Di Dukuh Pulorejo Simpan Pinjam Volume 3 x 890 m 1.5 x 400 m 2. warung maupun untuk membeli bibit tanaman bagi petani. Manisrenggo dan Kecamatan Kemalang. Jumlah anggota kelompok sebanyak 45 orang masih terlalu sedikit dibandingkan jumlah keluarga miskin di desa ini yaitu 485 keluarga. Swadaya masyarakat diperoleh dari sebagian upah tenaga kerja yang ikut dalam pembangunan yang dilaksanakan.850 20.536. 2005 GAMBAR 2.114. Kecamatan yang mempunyai jumlah penduduk lebih dari 50. Trucuk dan Jatinom.000 950. Sedangkan untuk kegiatan simpan pinjam dan usaha ekonomi produktif.000.000 6.000 jiwa memperoleh alokasi Rp 1 miliar selama 3 tahun anggaran (total 3 miliar yang diterima) yaitu Bayat.850 0 Tenaga Kerja 85 27 64 45 anggota Sumber: Sekretariat PPK Kecamatan Bayat.250. Kecamatan yang memperoleh alokasi PPK yaitu: Kecamatan Bayat.000 jiwa memperoleh alokasi Rp 750 juta yaituManisrenggo dan Kemalang.440 27.000 0 Total 87.440 34.Koordinasi PPK Pusat. Jatinom.290.

1 SEJARAH PEMIKIRAN PERENCANAAN Adanya berbagai permasalahan di dalam pembangunan kota-kota di Indonesia. Akibatnya hasil pembangunan di kota-kota menengah dan besar di C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N P R O G R A M 20 . terutama diakibatkan kurang dilibatkannya masyarakat di dalam proses pembangunan kota-kota dimaksud. sejak proses awal yaitu dari tahap perencanaan. khususnya kota-kota menengah dan kota besar.BAB III KAJIAN TEORITIS PENDEKATAN PERENCANAAN 3.

GAMBAR III. 2010 P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 21 . pada perencanaan pembangunan kota dan perencanaan pembangunan kawasan. menyangkut proses pengarahan sosial dan proses transformasi sosial. yang rata-rata berpenghasilan tinggi dan menengah.1 Sejarah Pemikiran Perencanaan Friedman Sumber: Materi Kuliah Teori Perencanaan. yaitu pendekatan perencanaan dari atas (top down planning) dan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). masyarakat menjadi target program-program publik. Pemikiran tersebut dia jabarkan menjadi empat tradisi. Dalam kegiatan pembangunan. Masyarakat sebagai pihak yang akan terpengaruh oleh hasil pelaksanaan pembangunan sudah seharusnya dilibatkan dalam pengambilan-pengambilan keputusan oleh pemerintah. Sebagian besar kelompok masyarakat berpenghasilan rendah tidak tertampung aspirasinya.Indonesia cenderung mengarah untuk menampung kebutuhan sebagian kecil kelompok masyarakat. John Friedman (1987) memberikan definisi lebih luas mengenai perencanaan sebagai upaya menjembatani pengetahuan ilmiah dan teknik (scientific and technical knowledge) kepada tindakan-tindakan dalam domain publik. yang dijabarkan dalam dua konsep pendekatan besar.

Menurut Friedman (1987). perencanaan dari atas (top down planning) terbagi dalam dua tradisi. sebagai pemegang kekuasaan.2 Konsep Praktis Social Reform Sumber: Materi Kuliah Teori Perencanaan. dilakukan untuk masyarakat. berhak untuk menentukan arah pembangunan. a. dan peran masyarakat tidak begitu berpengaruh. berjenjang dan dengan politik terbatas.3. perencanaan dari atas. dalam banyak kasus. yang berperan lebih dominan dalam mengatur jalannya program dari awal perencanaan hingga proses evaluasi. 2010 P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 22 . pemikiran perencanaan selalu berpusat pada kekuasaan. GAMBAR III.2 PENDEKATAN PERENCANAAN DARI ATAS (TOP DOWN PLANNING) Perencanaan dari atas adalah adalah perencanaan yang dilakukan oleh pemerintah sebagai pemberi gagasan awal. Peran pemerintah yang besar dalam menentukan arah perencanaan pembangunan didasari pada alasan untuk mempertanggungjawabkan peran dan fungsi mereka didalam mengatur kegiatan nasional dan negara. Proses pengambilan keputusan dengan pendekatan dari atas ke bawah. Perencana memanfaatkan kekuatan dan kekuasaan negara untuk ikut mengarahkan dan merencanakan pembangunan masyarakat. yaitu reformasi sosial (social reform) dan analisis kebijakan (policy analysis). Peran perencana di dalam pembangunan masyarakat melalui peran negara. Reformasi Sosial (Social Reform) Pada awalnya. tetapi tetap mempertimbangkan kepentingan publik. Sifat sistem perencanaan social reform ini adalah sentralisasi. proses perencanaan masih mengacu pada paradigma pemikiran perencanaan tersebut. karena masyarakat tidak cukup tahun untuk terlibat dalam perencanaan. Bahkan hingga kini. Perencana memandu masyarakat dari atas. Dasar pemikiran social reform adalah paradigma perencanaan yang dikembangkan melalui pemikiran bahwa pemerintah.

Perencana memanfaatkan kemampuan dan penguasaan ilmu yang dimilikinya untuk mengarahkan dan merencanakan pembangunan masyarakat. Apapun yang telah diputuskan oleh pemerintah merupakan arahan dan pedoman pembangunan yang harus dilaksanakan dan diikuti oleh masyarakat. dan pada akhirnya dilaksanakan oleh masyarakat.. Analisis Kebijakan (Policy Analysis) Dalam system perencanaan ini. Peran penentu kebijakan amat menonjol di dalam perencanaan pembangunan. Pendekatan P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 23 . perencana memiliki peran yang sangat penting. untuk meyakinkan benarnya sebuah proses perencanaan terhadap stakeholders. Hal ini dikarenakan mereka menguasai berbagai teknik. 2. tetapi keputusan utama tergantung dari penguasa atau pemerintah. GAMBAR III. Sifat perencanaan ini desentralisasi. cenderung berperan sebagai obyek yang mendapatkan manfaat dari proses perencanaan. b. dan dengan politik terbuka. 2010 Untuk dapat meyakinkan masyarakat. Pemerintah bersama stakeholders memutuskan persoalan dan menyusun alternatif kebijakan. Policy analysis merupakan aliran pemikiran perencanaan yang secara umum memanfaatkan kapasitas ilmu pengetahuan perencana untuk menyelenggarakan proses perencanaan.Dalam social reform. Stakeholders. Para penentu kebijakan tersebut terdiri dari berbagai pihak (pemerintah dan sebagainya) yang dapat menyusun dan merencanakan berbagai arahan dan pedoman pembangunan. yang mengedepan implementatatif-praktis sebagai fokus perencanaan. Engineering system.3 Proses Policy Analysis Sumber: Materi Kuliah Teori Perencanaan. bersama masyarakat. Konsep rational-ilmiah. Menurut Friedmann (1987). 2010 Sumber: Materi Kuliah Teori Perencanaan. meskipun mereka memiliki akses untuk terlibat didalam pembangunan. kemampuan dan ilmu pengetahuan. termasuk masyarakat. Policy Analysis dipengaruhi oleh dua pemikiran utama. dengan meyakinkan (secara analisis-rasional) masyarakat untuk mendukungnya. scientific. yang dapat diterima dan diyakini oleh masyarakat. masyarakat menjadi obyek pembangunan. yaitu: 1.

Perencana berperan sebagai fasilitator dalam proses perencanaan pembangunan. a. yaitu pembelajaran sosial (social learning) dan mobilisasi sosial (social mobilization). decentralized.4 Konsep Praktis Social Learning Sumber: Materi Kuliah Teori Perencanaan. Social Learning menekankan bahwa pengetahuan perencanaan diperoleh lewat pengalaman dan disempurnakan lewat praktek (learning by doing). bottom-up. P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 24 . Pembelajaran Sosial (Social Learning) Sifat perencanaan social learning adalah learning by doing. Masyarakat sangat berperan dalam hal pemberian gagasan awal sampai dengan proses evaluasi program yang telah dilaksanakan.3 PENDEKATAN PERENCANAAN DARI BAWAH (BOTTOM UP PLANNING) Perencanaan dari bawah adalah perencanaan yang dilakukan berdasarkan gagasan dari masyarakat sedangkan pemerintah pemerintah lebih berperan sebagai fasilitator dalam suatu program. perencanaan dari bawah (bottom up planning) terbagi dalam dua tradisi.rasionalistik digunakan oleh para perencana untuk mempertemukan dan menyamakan persepsi antara perencana sebagai pencetus dan perumus konsep dengan masyarakat yang dimintai pendapatnya. 2010 Prinsip praktis dalam pemikiran social learning adalah bagaimana merubah kapasitas masyarakat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dengan memasukkan unsur-unsur baru. Tradisi ini merupakan kritik terhadap kegagalan perencanaan yang ditetapkan pemerintah dan menyadarkan masyarakat bahwa paradigma pembelajaran mungkin sesuai dan seharusnya diambil sebagai perencanaan. GAMBAR III. 3. Menurut Friedman (1987). Mereka memberdayakan masyarakat dengan memberikan arahan-arahan teknik dan metoda yang dibutuhkan oleh masyarakat itu sendiri. by people. dan dengan politik terbuka. Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dijalankan bersama-sama antara pemerintah dengan masyarakat.

atau organisasi untuk terlibat dengan aksi yang bermanfaat dalam proses perencanaan partisipatif.Salah satu bentuk social learning adalah perencanaan partisipatif. khususnya jika peluang yang potensial dicapai ditemukan pada fasse ini. 5) Warga masyarakat mendapat manfaat dari hasil pelaksanaan perencanaan. b. Peristiwa-peristiwa ini dapat berupa permasalahan yang harus diselesaikan ataupun peluang-peluang yang tidak tercapai. 2) Masyarakat atau kelompok masyarakat diberi kesempatan untuk menyatakan permasalahan yang dihadapi dan gagasan-gagasan sebagai masukan berharga. Hal ini bisa melibatkan kerjasama antara pemerintah daerah. peningkatan motivasi dan peran-serta kelompok masyarakat dalam proses pembangunan. Adapun ciri-ciri perencanaan partisipatif antara lain sebagai berikut (Anonim. Pembangunan melalui partisipasi masyarakat merupakan salah satu upaya untuk memberdayakan potensi masyarakat dalam merencanakan pembangunan yang berkaitan dengan potensi sumber daya lokal berdasarkan kajian musyawarah. 2010): • Proaktif atau sukarela (tanpa disuruh) • Adanya kesepakatan yang diambil bersama oleh semua pihak yang terlibat dan yang akan terkena akibat kesepakatan tersebut • Adanya tindakan mengisi kesepakatan tersebut • Adanya pembagian kewenangan dan tanggungjawab dalam kedudukan yang setara antar unsur/pihak yang terlibat Fred Fisher dalam Building Bridges Between Citizens and Local Goverment to Work More Effectively Through Participatory Planning halaman 64-65 yang diterbitkan oleh United Nations (UN) memberikan penjelasan tentang perencanaan partisipatif dan membagi prosesnya dalam beberapa fase sebagai berikut : a. 4) Warga masyarakat berperan penting dalam setiap keputusan. Pada titik ini. yaitu peningkatan aspirasi berupa keinginan dan kebutuhan nyata yang ada dalam masyarakat. Ciri khusus perencanaan partisipatif dapat dilihat dari adanya peran serta masyarakat dalam proses pembangunan desa. Fase 1 : Inisiasi Proses Perencanaan Partisipatif Fase ini melibatkan “ peristiwa-peristiwa pemicu” yang memotivasi individu. penawaran peluang menerapkan proses perencanaan partisipatif bisa jadi dianggap sebagai pilihan perencanaan strategis. Fase 2 : Membangun Hubungan yang Produktif Partisipasi adalah sebuah proses tentang kerjasama untuk mengerjakan sesuatu pada tingkat lokal. Perencanaan partisipatif adalah salah satu proses perencanaan yang terkategorikan sebagai proses yang kompleks. 3) Proses berlangsungnya berdasarkan kemampuan warga masyarakat itu sendiri. dan peningkatan rasa-memiliki pada kelompok masyarakat terhadap program kegiatan yang telah disusun. Pendapat lain mengenai ciri-ciri perencanaan partisipatif adalah (Sunarti. 2008) : 1) Adanya hubungan yang erat antara masyarakat dengan kelembagaan secara terusmenerus. kelompok. LSM C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N P R O G R A M 25 . Permasalahan biasanya ditemukan melalui kesadaran pada saat peluang berkembang dari individu atau pada saat berbagi pandangan bersama mengenai apa yang mungkin.

baik mempunyai visi ke depan maupun mencari penyelesaian masalah. terlibat pada fase ini tergantung pada tujuan yang ingin dicapai.lokal dan masyarakat atau antar pemerintah derah. instansi publik yang lebih tinggi. termasuk bingkai waktu dan komitmen waktu untuk menyempurnakan tujuan dan sasaran atau mencapai visi mereka. Diluar penentuan apakah prosesnya akan berjalan dalam jangka waktu lama dan strategis atau berlangsung dalam waktu singkat dan berorientasi masalah. baik berasal dari dalam lingkaran penggagas ide/inisiator maupun seseorang yang berasal dari pihak-pihak yang berpartisipasi. kita akan mendiskusikan pilihan keterlibatan dalam proses panjang perencanaan strategis. perencanaan partisipatif mengikuti rangkaian peristiwa yang sama meskipun dalam konteks yang sangat berbeda d. Opsi untuk memusatkan kedalam biasanya mengacu pada “rencana aksi”. Dan ada saat ketika sebagian pihak yang membantu C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N P R O G R A M 26 . Tahap terakhir ini meliputi berbagai alat seperti analisa SWOT dan analisa medan gaya. baik berorientasi problem solving yang singkat ataupun berfokus pada visi yang berlangsung lama. akan ada serangkaian tahap yang harus dilengkapi sebelum mendefinisikan rencana strategis atau menguraikan detail tindakan. semua pihak yang terlibat akan mempersempit sasaran yang ingin mereka capai menjadi lebih realistik. f. Usaha awal untuk memperluas visi /pandangan atau penyelesaian masalah ini juga merupakan proses awal penggunaan analisa stake holder/pemangku kepentingan. Kita asumsikan bahwa kita memerlukan fasilitator dalam proses perencanaan partisipatif. dan sektor swasta atau kombinasi antara pihak-pihak tersebut. Menciptakan susunan kerja yang berhasil dengan bantuan fasilitator atau melalui proses konsultasi biasanya disebut sebagai “mengontrak” pelayanana mereka. e. Fase 4 : Pencarian fakta dan menganalisanya Tergantung pada konteksnya. Fase 3 : Menjangkau keluar atau memusatkan kedalam Pada fase proses ini. pengukuran dampak dan bergerak Tahapan proses ini biasanya diluar tanggungjawab langsung tim perencana partisipatif. menentukan pilihan terbaik mereka dan bisa jadi pelibatan kembali para pemangku kepentingan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan. Terakhir tim akan melihat dampak potensial dari pelaksanaan/implementasi rekomendasi tim dan menentukan pemantauan dan skema evaluasi/penilaian dampak. c. Fase ini termasuk keputusan mengenai ya atau tidaknya penggunaan fasilitator untuk memimpin proses perencanaan partisipatif. Fase 6 : Pelaksanaan Aksi. yang dimaksud adalah menjangkau keluar atau langsung mengacu pada proses perencanaan partisipatif untuk segera mencari penyelesaian (problem solving). mengorganisasi dan menganalisanya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai permasalahan dan peluangnya. Meskipun demikian penting bagi tim perencana untuk lebih familiar dengan isu implementasi. menentukan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Fase proses perencanaan ini termasuk memutuskan siapa mengerjakan apa dengan siapa dengan parameter kapasitas tertentu. Dua keahlian kunci. dan memperkirakan kemungkinan pencapaian tujuan dan sasaran. Fase 5 : Rencana sebagai rangkaian aksi Pada titik ini. Dalam hal ini termasuk : mengumpulkan data. informasi dan gagasangagasan. Bukan susunan kontrak resmi/legal seperti biasanya tapi lebih sebagai sebuah bentuk kontrak sosial.

3 Argumentasi Masing-Masing Pendekatan Masing-masing metode atau pendekatan yang digunakan dalam proses perencanaan pembangunan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.1. Menurut Friedmann. Masyarakat digerakkan dengan berbagai ideologi yang sudah tertanam di dalam jiwa dan kebudayaan mereka.merencanakan program dan aktivitas melibatkan koalisi dengan aparat pemerintah daerah dan perwakilan dari komunitas. Berikut argumentasi yang digunakan dalam penerapan masing-masing pendekatan perencanaan. dan berfokus pada akar permasalahan (roots). yaitu: 1.  Penegakan aturan (enforcement) Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menerapkan program-program pembangunan yang ditetapkan sebagai wewenang pemerintah dan masyarakat wajib mengikutinya sebagai aturan dasar. biasanya bertentangan dengan pemikiran tradisional atau konvensional karena dianggap membelenggu kebebasan untuk mengembangkan pemikiran secara kontekstual (Materi Kuliah Teori Perencanaan. tradisional dan diakui luas (established). Hal ini sangat bergantung pada bagaimana dan kapan proses pendekatan itu dilakukan. C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N P R O G R A M 27 . Hal ini dikarenakan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan lebih memahami tujuan dari suatu program dan target apa yang telah ditetapkan. Hasil yang dikeluarkan bisa optimal dikarenakan biaya yang dikeluarkan ditanggung oleh pemerintah.target – output Dengan menggunakan pendekatan ini. Peran perencana dalam social mobilization adalah membantu masyarakat menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. dan mendorong terjadinya transformasi pada masyarakat. Hal ini biasanya dilakukan apabila pemerintah mempunyai keterbatasan sumber daya baik dalam anggaran maupun sumber daya lainnya. b. tradisi ‘planning in the public domain’ dapat di kelompokkan menjadi dua. Pemikiran radikal adalah sebuah pemikiran yang bersifat fundamental terdahap akar permasalahan yang dihadapi. akan terdapat konsistensi antara input. mendorong penguatan kapasitas masyarakat. yang juga dapat menjelaskan kelebihan dari penggunaan pendekatan ini. Konsep utama tradisi radikal adalah pembangunan harus dilaksanakan oleh masyarakat. yaitu:  Efisiensi Top down planning digunakan untuk meminimalisir waktu dan biaya yang dikeluarkan dalam perencanaan suatu program pembangunan. 2010). Mobilisasi Sosial (Social Mobilization) Mobilisasi sosial memandang perencanaan sangat ditentukan oleh logika-logika perencanaan radikal agar terjadi transformasi pada komunitas. Tradisi ini memandang perencanaan sebagai pandual sosial yang sangat berbeda dengan perencanaan sebagai perubahan struktur dan sebagai transformasi sosial. 3. yang menunjukkan pemikiran perencanaan yang bersifat konvensional. Tradisi yang bersifat konservatif. 1. Argumentasi Pendekatan Perencanaan dari Atas (Top Down Planning) Terdapat beberapa alasan yang dikeluarkan dalam pemakaian pendekatan top down planning. 2. yang menunjukkan pemikiran perencanaan yang bersifat fundamental.  Konsistensi input . Tradisi yang bersifat radical. target dan output.

perencanaan yang bersifat global dan top down belum tentu dapat mengatasi permasalahan di seluruh wilayah.  Peran masyarakat hanya sebagai penerima keputusan atau hasil akhir dari suatu program.  Masyarakat merasa terabaikan karena suara mereka tidak begitu diperhitungkan dalam proses berjalannya suatu proses sehingga pada akhirnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan berkurang. bukan sekadar hasil seketika Hasil yang ingin dicapai dalam program pembangunan yang menggunakan pendekatan bottom up biasanya adalah program yang bertujuan untuk mencapai target yang lebih luas menyangkut kepentingan masyarakat.hak dan apa yang mereka butuhkan P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 28 . Perencanaan untuk satu wilayah belum tentu sesuai untuk wilayah lainnya.  Masyarakat tidak dapat mengembangkan kapasitas mereka dalam pembangunan.  Kinerja (performance. Publik/masyarakat masih sulit dilibatkan Dalam kondisi masyarakat yang belum memahami apa saja yang mereka butuhkan dan bagaimana cara mereka terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Dalam pelaksanaan perencanaan pendekatan top down planning terdapat beberapa kelemahan. yaitu:  Efektivitas Perencanaan suatu program pembangunan akan berlangsung sangat efektif dengan adanya keterlibatan langsung dari masyarakat.  Masyarakat tidak bisa melihat seberapa jauh suatu program telah dilaksanakan karena tidak ikut terlibat dan memantau kemajuan pelaksanaan program. Argumentasi Pendekatan Perencanaan dari Bawah (Bottom Up Planning) Terdapat beberapa alasan yang dikeluarkan dalam pemakaian pendekatan bottom up planning.  Masyarakat diasumsikan sudah paham hak. Oleh karena itu. Pemikiran dan pendapat dari masyarakat dalam mengatasi permasalahan yang mereka hadapi akan sangat membantu pemerintah dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan perencanaan. outcome). yaitu:  Masyarakat tidak bisa berperan lebih aktif dikarenakan peran pemerintah yang lebih dominan bila dibanding peran dari masyarakat itu sendiri. 2.  Social virtue (kearifan sosial) Kearifan sosial dan inisiatif lokal menjadi salah satu hal yang mendasari penggunaan pendekatan ini. yang juga dapat menjelaskan kelebihan dari penggunaan pendekatan ini.  Kebutuhan dan keinginan masyarakat tidak terakomodir dalam perencanaan sehingga hasil akhir dari suatu program pembangunan tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan masyarakat. Bukan sekedar target yang harus dicapai untuk kepentingan sesaat. pendekatan top down planning sangat mutlak dibutuhkan.

Hal ini dikarenakan apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah belum tentu sesuai dengan kondisi di lapangan yang telah disepakati oleh masyarakat.  Ketidaksinkronan penetapan program oleh pemerintah dengan input. Sehingga pendekatan ini memakan lebih banyak waktu dan biaya untuk mencapai tujuan. P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 29 . yaitu:  Keberagaman dalam masyarakat terkadang menjadi penghambat dalam proses perencanaan karena banyaknya kepentingan yang harus diakomodir. Tujuan yang diinginkan oleh masyarakat akan dapat berjalan sesuai dengan keinginan masyrakat karena ideidenya berasal dari masyarakat itu sendiri sehingga masayarakat bisa melihat apa yang diperlukan dan apa yang diinginkan.Peran masyarakat dapat optimal dalam memberikan masukan atau ide-ide kepada pemerintah dalam menjalakan suatu program. Dalam pelaksanaan perencanaan pendekatan bottom up planning terdapat beberapa kelemahan. target maupun output yang dicapai.

Data tersebut digunakan sebagai referensi penentuan keluarga sasaran penerima manfaat dalam musyawarah desa/kelurahan. Tetapi dalam pelaksanaan distribusi tidak demikian halnya. Pertama. Kedua. Dimana seharusnya setiap KK penerima program Raskin medapatkan jatah beras sebanyak 20 kg setiap bulan. Sasaran penerima program Raskin ini tidak ditentukan secara jelas namun hanya berdasarkan musyawarah dan kesepakatan masyarakat desa yang dilaporkan kepada kecamatan. Sehingga penetapan 170 KK tersebut hanya digunakan C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N P R O G R A M 30 . Program Raskin merupakan kebijakan yang langsung ditujukan kepada keluarga miskin berupa konsumsi bahan pangan pokok yang menjadi kebutuhan dasar setiap orang. 25 Tahun 2000 tentang Propenas). baik dengan sasaran langsung kepada masyarakat miskin maupun dengan sasaran wilayah dimana penduduk miskin tersebut berada. Sehingga dalam pelaksanaannya jumlah keluarga dan beras yang diterima bervariasi berdasarkan kesepakatan tiap-tiap RT.BAB IV CRITICAL REVIEW TEORITIS PENDEKATAN PERENCANAAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI DESA JOTANGAN KABUPATEN KLATEN 4.1 PENDEKATAN PERENCANAN PROGRAM BERAS UNTUK RAKYAT MISKIN (RASKIN) DI DESA JOTANGAN BERDASARKAN KAJIAN TEORITIS Upaya pengentasan kemiskinan yang dilaksanakan pemerintah telah dimulai sejak awal tahun 1970-an. Sehingga sangat rentan untuk salah sasaran masyarakat penerima Raskin. melindungi keluarga dan kelompok masyarakat miskin melalui pemenuhan kebutuhan pokok mereka. Sasaran program Raskin ini adalah keluarga prasejahtera alasan ekonomi dan keluarga sejahtera I alasan ekonomi. Tujuan program Raskin ini adalah memberikan bantuan beras kepada keluarga miskin untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangannya dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga. Hal ini dapat terlihat dari implementasi program Raskin di Desa Jotangan. Program tersebut masih merupakan kebijakan yang terpusat dan seragam dan memposisikan masyarakat sebagai obyek dalam keseluruhan proses. Program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan mendapatkan kritik antara lain tentang transparansi program. Sejak saat itu telah banyak program pengentasan kemiskinan yang dilaksanakan oleh pemerintah. dana yang kebanyakan tidak diterima oleh kelompok yang ditargetkan. keluarga dalam Daftar Penerima Manfaat tahun 2005 sebanyak 170 kepala keluarga dan jumlah kuantum beras untuk desa tersebut adalah 3. Dalam upaya penanggulangan kemiskinan ada dua strategi utama yang ditempuh. Salah satu program penanggulangan kemiskinan yang ada diterapkan di Desa Jotangan adalah Program Beras Untuk Rakyat Miskin (RASKIN). memberdayakan mereka agar mempunyai kemampuan untuk melakukan usaha dan mencegah terjadinya kemiskinan baru (UU No. Data keluarga yang digunakan berdasarkan data yang ditetapkan oleh BKKBN.400 kg sedangkan jumlah keluarga miskin di desa tersebut 485 KK. Untuk Desa Jotangan.

Namun karena pendekatan perencanaan yang dilakukan berupa top-down maka pemerintah menyeragamkan besarnya kebutuhan pokok setiap KK. Keluarga miskin yang menjadi sasaran program akan menerima beras 20 kg/KK/bulan. Sedangkan masyarakat memilih kuantitas dalam arti yang lebih luas lagi untuk menjaga kerukunan meskipun beras yang diterima tidak mencapai ketentuan minimal 10-20 kg. tingkat kabupaten dan yang terakhir tingkat kecamatan dan desa. Jika memaksa memilih yang paling miskin. Hal ini berarti bahwa setiap KK punya kebutuhan yang berbeda akan pemenuhan kebutuhan dasar. Hal ini tentunya diakibatkan karena tidak ketatnya syarat dari pemerintah tentang penerima manfaat program Raskin. akan berbenturan dengan situasi kekerabatan yang kuat di desa. Tanpa melibatkan masyarakat dalam mengidentifikasi dan mengakomodasi kebutuhan mereka. Masyarakat hanya sebagai obyek penerima program raskin yang mengambil beras raskin berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan. Penerima raskin ditetapkan berdasarkan kesepakatan setiap RT. Implementasi program Raskin melalui berbagai institusi baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan Perum Bulog yangmenyediakan dan mendistribusikan beras kepada masing-masing kabupaten sampai ke titik distribusi. Fenomena tidak sesuainya implementasi program dengan ketetapan yang ditentukan oleh pemerintah mengenai program Raskin di Desa Jotangan ini terjadi karena program Raskin ini dilakukan secara terpusat yang ditentukan oleh pemerintah dengan pembagian penanggungjawab dalam yaitu sebagai berikut:  Penanggung jawab perencanaan adalah Ketua Bappenas  Penanggungjawab pelaksanaan raskin adalah Menteri Dalam Negeri  Penanggungjawab penyediaan data adalah Kepala BKKBN  Penanggungjawab penyediaan dan distribusi adalah Direktur Utama Perum Bulog. Hal inilah yang menyebabkan sering salah sasaran dalam implementasi program Raskin yang seharusnya dapat meningkatkan ketahanan pangan bagi masyarakat miskin yang tidak mampu dalam ekonomi nya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. bahkan tidak mencapai kuantitas minimal 10 kg yang ditetapkan pemerintah. Pemerintah merencanakan berbagai arahan dan pedoman yang dilaksanakan di masyarakat. Berikut merupakan perbandingan karakteristik Top-Down planning dengan karakteristik Program Raskin: P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 31 . Tetapi pada bagian lain pemerintah juga mempertimbangkan unsur kuantitanya. Penentuan pagu raskin ditentukan berdasarkan besarnya anggaran yang disediakan pemerintah dalam APBN. Fenomen a tersebut terjadi disebabkan adanya keterbatasan dana yang ada pada pemerintah. Besarnya beras yang diterima keluarga miskin juga telah ditetapkan oleh pemerintah dan seragam setiap KK miskin sehingga dalam pendistribusiannya terdapat kesenjangan dimana kebutuhan masyarakat pada kenyataannya berbeda-beda setiap KK nya.untuk keperluan administrasi. Kearifan lokal mempunyai jalan keluarnya dengan membagi kepada semua keluarga miskin. Pagu raskin nasional tersebut selanjutnya dialokasikan secara berjenjang. sehingga beras raskin yang diterima setiap keluarga jumlahnya bervariasi. Ketentuan normatif pemerintah memilih kualitas dalam program raskin ini. sehingga para perencana harus menentukan pilihan antara kualita dan kuantita terhadap bentuk-bentuk pelayanan yang dibutuhkan. Uraian mekanisme dalam penentuan program Raskin tersebut jelas terlihat bahwa pendekatan perencanaan untuk program Raskin dilakukan dengan Top-Down Planning. mulai dari tingkat nasional ke tingkat propinsi. yaitu kuantum minimal beras yang diterima keluarga sasaran adalah 10-20 kg/KK/bulan.

Dalam hal ini. Penegakan aturan (enforcement) Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menerapkan program-program pembangunan yang ditetapkan sebagai wewenang pemerintah dan masyarakat wajib mengikutinya sebagai aturan dasar. Efisiensi Top down planning digunakan untuk meminimalisir waktu dan biaya yang dikeluarkan dalam perencanaan suatu program pembangunan. Konsistensi input . mulai dari tingkat nasional ke tingkat propinsi.Tabel IV. Hal ini dikarenakan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan lebih memahami tujuan dari suatu program dan target apa yang telah ditetapkan. Hal ini biasanya dilakukan apabila pemerintah mempunyai keterbatasan sumber daya baik dalam anggaran maupun sumber daya lainnya. Tidak adanya konsistensi antara input-proses-output terkait dalam program Raskin. tingkat kabupaten dan yang terakhir tingkat kecamatan dan desa. Tanpa melibatkan masyarakat dalam mengidentifikasi dan mengakomodasi kebutuhan mereka. 3. Hasil yang dikeluarkan bisa optimal dikarenakan biaya yang dikeluarkan ditanggung oleh pemerintah. Masyarakat hanya sebagai obyek penerima program raskin yang mengambil beras raskin berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini berakibat pada tidak sesuaianya output yang diharapkan dari program dengan output yang dihasilkan dalam implementasi program. Besarnya beras yang diterima keluarga miskin juga telah ditetapkan oleh pemerintah dan seragam setiap KK miskin sehingga dalam pendistribusiannya terdapat kesenjangan dimana kebutuhan masyarakat pada kenyataannya berbeda-beda setiap KK nya. Hal ini terlihat dari d tidak tepatnya sasaran penerima program Raskin karena sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat bahwa masyarakat miskin penerima manfaat mendapat 10-20 kg/ bulan selama setahun penuh namun pada kenyataannya masyarakat menekankan pada asa pemerataan dimana yang lebih membutuhkan maka akan mendapatkan lebih banyak tergantung jumlah keluarga dalam 1 KK. program Raskin tidak melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan dimana masyarakat miskin sebagai penerima manfaat program hanya sebagai obyek dalam perencanaan dan program. akan terdapat konsistensi antara input. Sumber:Hasil Ananlisis Penyusun.1 Karakteristik Perencanaan Program Raskin Dalam Pendekatan Top-Down KARAKTERISTIK PENDEKATAN PERENCANAAN TOP-DOWN 1. 4. pendekatan top down planning sangat mutlak dibutuhkan KARAKTERISTIK PROGRAM RASKIN DALAM PENDEKATAN TOP-DOWN Program Raskin ditentukan oleh pemerintah karena adanya keterbatasan dana dan waktu dari pemerintah sehingga lebih menekankan pada kuantitas beras yang diberikan daripada kualitas beras yang diberikan kepada masyarakat miskin.target – output Dengan menggunakan pendekatan ini. Sehingga output yang dihasilkan tidak sesuai dengan output yang ditentukan oleh pemerintah pusat sebagai pengambil kebijakan. 2. Implementasi program Raskin melalui berbagai institusi baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan Perum Bulog yangmenyediakan dan mendistribusikan beras kepada masing-masing kabupaten sampai ke titik distribusi. 2010 Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan perencanaan “Top-Down Planning” dimana perencanaan yang dilakukan oleh lembaga pemerintahan sebagai pemberi P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 32 . Pagu raskin nasional tersebut selanjutnya dialokasikan secara berjenjang. target dan output. Publik/masyarakat masih sulit dilibatkan Dalam kondisi masyarakat yang belum memahami apa saja yang mereka butuhkan dan bagaimana cara mereka terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Penentuan pagu raskin ditentukan berdasarkan besarnya anggaran yang disediakan pemerintah dalam APBN.

diinginkan dan yang menjadi permasalahan masyarakat.2 Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Perencanaan Top-Down Planning Dalam Program Raskin Di Desa Jotangan KELEBIHAN PENDEKATAAN PERENCANAAN “TOP-DOWN PLANNING” DALAM PROGRAM RASKIN DI DESA JOTANGAN 1. Program yang dihasilkan dari proses perencanaan terpusat oleh pemerintah cenderung mengeneralisasikan kebutuhan. 5. Dapat menghasilkan outpur perencanaan yang maksimal karena pemerintah dianggap memiliki kualitas SDM yang lebih baik daripada kualitas SDM yang dimiliki masyarakat yang masih sangat rendah untuk terlibat dalam perencanaan. 3. Implementasi program atau kebijakan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat sering salah sasaran karena dalam penyusunan program dan implementasinya masyarakat tidak dilibatkan. 6. tenaga dan waktu karena tidak melibatkan masyarakat dari bawah yang membutuhkan dana untuk menjaring aspirasi masyarakat sampai tingkat desa.2 PENDEKATAN PERENCANAN PROGRAM KOMPENSASI PENGURANGAN SUBSIDI BAHAN BAKAR MINYAK (PKPS BBM) BIDANG PENDIDIKAN DI DESA JOTANGAN BERDASARKAN KAJIAN TEORITIS P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 33 . KEKURANGAN PENDEKATAAN PERENCANAAN “TOP-DOWN PLANNING” DALAM PROGRAM RASKIN DI DESA JOTANGAN 1. Sehingga kontrol dari masyarakat yang lebih mengetahui implementasi dan sebagai sasaran program tidak dapat maksimal karena bukan hasil dari aspirasi mereka. keinginan dan permasalahan di setiap daerah padahal di setiap daerah memiliki permasalahan dan kebutuhan masing-masing yang berbeda-beda dalam membutuhkan alternatif solusi. Dimana masyarakat hanya sebagai penerima program atau kebijakan yang merupakan output dari perencanaan. Sehingga dengan adanya pendekatan perencanaan Top-Down Planning pada program Raskin Di Desa Jotangan ini memiliki kekurangan dan kelebihan dalam prosesnya yaitu diuraikan pada tabel sebagai berikut: TABEL IV. Progam atau kebijakan yang merupakan hasil dari pemikiran pemerintah sering gagal dalam implementasinya karena pemerintah tidak mengetahui secara maksimal apa yang sebenarnya dibutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan dibuat oleh pemerintah yang ditujukan untuk masyarakat sedangkan masyarakat hanya sebagai pelaksana dari perencanaan yang dibuat oleh pemerintah. 2. Sehingga peran masyarakat hanya sebagai penerima keputusan atau hasil dari suatu program tanpa mengetahui jalannya proses pembentukan program tersebut dari awal hingga akhir. 2010 4. Rawan konflik internal karena cenderung mendorong korupsi dari pemerintah karena kontrol dari masyarakat sangat kurang dalam implementasi perencanaan. Dapat menghemat biaya. 2. Sehingga program yang diberikan tidak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat terutama rakyat kecil yang serba dalam keterbatasan.gagasan awal serta pemerintah berperan lebih dominan dalam mengatur jalannya program yang berawal dari perencanaan hingga proses evaluasi dimana peran masyarakat tidak begitu berpengaruh. Output perencanaan yang dihasilkan tidak dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat secara maksimal karena proses perencanaan dan pengambilan keputusan sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah sedangkan masyarakat hanya sebagai benefician program yang diberikan pemerintah. Dapat lebih cepat dalam proses pengambilan keputusan karena pengambilan keputusan dilakukan langsung oleh pemerintah yang melibatkan sedikit stakeholder pengambil keputusan sedangkan jika melibatkan masyarakat dari bawah hingga tingkat desa maka proses pengambilan keputusan semakin lama karena melibatkan banyak stakeholder pengambil keputusan. Masyarakat tidak bisa melihat sebarapa jauh suatu program telah dilaksanakan. 3. 4. Sumber:Hasil Ananlisis Penyusun. Sehingga tujuan utama dari program tersebut yang hendaknya akan dikirimkan kepada masyarakat tidak terwujud.

meskipun dalam penentuan program kegiatan yang akan dilaksanakan dengan menggunakan dana ini lewat kesepakatan dengan pihak wali murid. hal ini cukup memberatkan terutama bagi sekolah yang jumlah muridnya sedikit dan sebagian besar berasal dari keluarga kurang/tidak mampu. sedangkan BKM hanya untuk siswa yang berasal dari keluarga kurang/tidak mampu. terutama untuk kegiatankegiatan yang tidak bisa diakomodasi oleh dana BOS. kecuali untuk kegiatan-kegiatan tertentu dengan P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 34 . Tetapi dalam pelaksanaannya. Perbedaan lainnya yaitu kalau BOS jumlah yang diterima adalah berdasarkan jumlah siswa yang ada di sekolah tersebut. dapat membiayai keperluan sekolahnya sehingga murid : (1) tidak putus sekolah akibat kesulitan ekonomi. siswa juga masih harus dibebani dengan biaya buku yang harganya cukup tinggi dan tentu saja sangat memberatkan bagi orang tua dari kalangan keluarga miskin. Meskipun dengan program ini harapannya siswa tidak lagi dibebani biaya SPP dan diasumsikan dengan dana itu adanya sistem subsidi silang antara siswa mampu dan yang kurang mampu. Dilihat dari tujuan yang dicapai. Selain itu. bantuan tidak hanya dikhususkan bagi murid dari keluarga miskin. tetapi ternyata masih banyak iuran yang harus dibayarkan oleh orang tua siswa. tetapi dalam pelaksanaannya masih jauh dari harapan. mengandung implikasi bahwa sekolah tidak lagi diperbolehkan menarik iuran SPP maupun iuran-iuran lain dari murid. Tapi kedua program ini mempunyai tujuan yang sama yaitu agar murid yang berasal dari keluarga kurang/tidak mampu. Tetapi dalam pelaksanaannya. Jika dalam program BKM bantuan hanya untuk siswa yang berasal dari keluarga kurang/tidak mampu. jika dilihat dari sisi pihak sekolah yang menerima dana BOS. Sehingga program seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat miskin. Perbedaan mendasar antara BOS dan BKM adalah. siswa diharuskan membeli semua buku yang ‘diwajibkan’ oleh pihak sekolah atau dari kantor Dinas Pendidikan setempat dan buku-buku yang ada berganti setiap tahunnya. (2) mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk terus sekolah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Tujuan program BOS sebenarnya adalah memberikan bantuan kepada sekolah dalam rangka membebaskan iuran siswa. Program BOS merupakan kebijakan yang tidak langsung ditujukan kepada keluarga miskin (murid) melalui sekolah berupa pembebasan biaya pendidikan dan untuk penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun. Dengan adanya dana ini. Sehingga dari sisi murid. yang kemudian sejak bulan Juli 2005 diganti dengan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Jadi dalam BOS. Apalagi dalam pelaksanaannya. sebenarnya program PKPS BBM Bidang Pendidikan sudah tepat sasaran. BOS jumlah yang diterima adalah berdasarkan jumlah siswa yang ada di sekolah tersebut. sekolah diberi wewenang penuh untuk mengelolanya. Lewat program BOS. 2. kalau BKM langsung diterimakan kepada siswa sedangkan BOS yang menerima dan mengelola adalah pihak sekolah. Meskipun siswa tidak lagi dibebani biaya SPP. tetapi sekolah tetap dapat mempertahankan mutu pelayanan pendidikan kepada masyarakat. pelaksanaan program ini kurang memenuhi asas keadilan karena beban yang diterima antara murid kurang mampu dengan murid dari kelurga mampu sama saja. ada beberapa hal yang harus dikritisi lagi : 1.000/siswa/bulan. dalam masalah penyediaan dan distribusi buku. tapi juga bagi seluruh siswa. BOS dialokasikan untuk seluruh siswa yang ada di sekolah yang mendapatkan alokasi BOS. mengingat tingkat anak-anak putus sekolah yang cukup besar dan hal ini disebabkan faktor ekonomi yang kurang/tidak mendukung. pemberian dana yang merata untuk seluruh siswa dari sekolah-sekolah penerima. Program ini dalam pelaksanaannya diwujudkan dalam bentuk Bantuan Khusus Murid (BKM). Berbeda dengan BKM yang sasarannya siswa dari keluarga tidak/kurang mampu. Sedangkan untuk SLTA atau sederajat tetap diberikan dalam bentuk BKM yang besarnya Rp 65.PKPS BBM Bidang Pendidikan merupakan upaya pemerintah dalam rangka membantu masyarakat yang kurang/tidak mampu membiayai pendidikan.

terutama menyangkut jenis dan bentuk kegiatan dari penggunaan dana BOS. Ini yang banyak terjadi pada sekolah-sekolah didaerah pinggiran atau daerah minus seperti Desa Jotangan ini. semestinya pemerintah pusat menyerahkannya kepada masing-masing daerah. Semua kegiatan operasional sekolah harus dibiayai dengan dana ini. Tetapi bagi sekolah dengan jumlah murid sedikit dan sebagian besar siswanya dari kalangan tidak mampu.persetujuan wali murid lewat rapat komite sekolah dengan wali murid. Pemerintah daerah hanya dilibatkan pada tahap pelaksanaan program melalui alokasi dana dari pemerintah pusat. Hal ini ternyata juga berimplikasi pada kualitas pendidikan dan sarana belajar yang bisa diterima murid. yaitu faktor keterdesakan yang senantiasa mendorong para pengambil keputusan/kebijakan untuk bertindak cepat dan faktor jangkauan sektoral. Karena. pemerintah daerah yang lebih mengetahui kondisi dan kebutuhan daerahnya masing-masing. bagaimanapun. Dilihat dari sisi efisiensi dan jenis serta manfaat program yang dilaksanakan. Namun demikian. Berdasarkan hal tersebut. Pelaksanaan program BOS mengacu pada petunjuk pelaksanaan program yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama. pelaksanaan. pemerintah daerah bisa melibatkan anggota masyarakat sehingga kesepakatan yang dicapai diantara anggota masyarakat dalam penentuan sasaran program bisa dicapai. Tanpa tujuan yang pasti dan disepakati bersama oleh berbagai pelaku. dimana dalam hal ini perencanaan yang dilakukan hanya berdasarkan kepentingan yang bersifat departemental dan berfokus sektoral yang cukup sempit. dan evaluasi program bagi seluruh pengelola pendidikan dari tingkat pusat sampai tingkat sekolah. dana tersebut bisa dicukupi dengan iuran dari orang tua siswa ataupun yang sering dikatakan sifatnya ‘sumbangan sukarela’. dana BOS yang diterima seringkali tidak mencukupi untuk membiayai kegiatan operasional sekolah. Tetapi dalam pelaksanaannya. Kondisi seperti ini yang menyebabkan terjadinya ketimpangan kualitas pendidikan antara sekolah kurang mampu dengan sekolah yang termasuk kategori mampu. Terlepas dari segala kekurangan dalam pelaksanaan program PKPS BBM Bidang Pendidikan. Disini pemerintah pusat secara sentralistik menyusun dan merencanakan berbagai arahan dan pedoman sebagai dasar pelaksanaan program dan melibatkan berbagai institusi pemerintah dalam pelaksanaan program dan menempatkan masyarakat sebagai obyek penerima program. Karena sekolah hanya bisa menyediakan sarana dan kegiatan yang secukupnya sesuai dengan ketersediaan dana. Karena tidak bisa C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N P R O G R A M 35 . Bagi sekolah dengan jumlah murid yang banyak. pendekatan sektoral yang telah berlangsung selama ini kurang berhasil dalam menanggulangi kemiskinan karena yang dipakai sebagai kriteria adalah target-target sektoral dan mementingkan target-target angka. maka untuk kegiatan-kegiatan tertentu yang tidak mampu dicukupi dari dana BOS. Yang mana nantinya dalam pelaksanaannya. Buku petunjuk tersebut digunakan sebagai acuan dalam perencanaan. hal ini tidak begitu menjadi masalah karena dana BOS yang diterima besar sehingga bisa mencukupi untuk kegiatan operasional sekolah. maka perencanaan dalam Program BOS menggunakan tradisi analisis kebijakan dan pendekatan perencanaan secara atas bawah (top-down). sehingga tingkat kebutuhan akan suatu program juga berbeda-beda. Faktor yang mendorong terjadinya kebijakan yang demikian adalah faktor urgensi. maka pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan hanya sekedar memenuhi target-target tersebut. Masing-masing daerah memiliki karakteristik dan permasalahan yang berbeda. keberlanjutan program ini dirasa masih sangat diperlukan. 3. lewat rapat bersama komite sekolah. sebenarnya penggunaan tradisi analisis kebijakan dan pendekatan perencanaan secara top-down cukup bagus dilaksanakan. Apalagi jika murid-murid dari sekolah tersebut sebagian besar dari keluarga mampu. sehingga berdampak juga pada kualitas murid yang dihasilkannya.

Sosialisasi program oleh pemerintah pusat maupun Pemerintah Kabupaten yang lebih intensif untuk meningkatkan pemahaman baik masyarakat maupun aparatur pemerintah sehingga mempunyai pemahaman yang baik terhadap program-program yang dijalankan tersebut. Pendekatan pengelolaan program yang masih bersifat sentralistik dan pelibatan pemerintah daerah yang sangat rendah menjadikan tanggung jawab pemerintah daerah sangat rendah. meski masih bersifat sentralistik dalam hal menyusun dan merencanakan berbagai arahan dan pedoman sebagai dasar pelaksanaan program. Hal ini akan lebih membantu dalam keberhasilan dan keberlanjutan program di masa-masa yang akan datang. sehingga sebaiknya pelaksanaannya diserahkan kepada masyarakat setempat. selama ini lebih banyak didesain secara sentralistik oleh pemerintah pusat yang merancang program penanggulangan kemiskinan dengan menggunakan dukungan alokasi dan distribusi anggaran dari APBN. Program pengentasan kemiskinan akan dapat berhasil apabila kaum miskin menjadi aktor utama dalam program tersebut.dipungkiri. sebaiknya diserahkan kepada daerah masing-masing dengan melibatkan masyarakat sebagai penerima program. Padahal dalam hal ini pemerintah di daerah lebih mengetahui potensi dan aspirasi yang dimiliki daerahnya. Kebijakan pengentasan kemiskinan. Pemahaman masyarakat terhadap program-program pengentasan kemiskinan termasuk di bidang pendidikan juga belum baik. Salah satu tujuan otonomi daerah adalah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. pengendalian pelaksanaan lemah. Tetapi dalam pelaksanaannya di masa mendatang. yang nantinya digunakan oleh seluruh daerah di Indonesia. mayoritas masyarakat berbondong-bondong menyatakan diri sebagai orang miskin. ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dan diperbaiki. dan para penerima manfaat program tidak mampu melakukan kontrol terhadap keefektifan program yang dilaksanakan. masyarakat miskin banyak yang bisa merasakan manfaat dari program ini. Untuk lebih jelas mengetahui karakteristik program PKPS BBM Bidang Pendekatan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel IV. tetapi dalam penentuan sasaran. jenis kegiatan dan teknis pelaksanaannya. Efisiensi Top down planning digunakan untuk meminimalisir waktu dan biaya yang dikeluarkan dalam perencanaan suatu program pembangunan. Pemerintah Pusat secara sentralistik menyusun dan merencanakan berbagai arahan dan pedoman sebagai dasar pelaksanaan program. termasuk di bidang pendidikan. yang diterapkan merata ke seluruh wilayah di Indonesia. P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 36 . Jika ada program bantuan pemerintah. Pendekatan top down digunakan dengan alasan efisiensi waktu dan biaya dikarenakan banyaknya keberagaman karakteristik daerah. Hasil yang dikeluarkan bisa optimal dikarenakan biaya KARAKTERISTIK PROGRAM PKPS BBM DALAM PENDEKATAN TOP-DOWN Program BOS ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebagai program nasional.3 Karakteristik Perencanaan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS BBM) Bidang Pendidikan Dalam Pendekatan Top-Down KARAKTERISTIK PENDEKATAN PERENCANAAN TOP-DOWN 1. Hal ini biasanya dilakukan apabila pemerintah mempunyai keterbatasan sumber daya baik dalam anggaran maupun sumber daya lainnya. Selain itu juga ada faktor urgensi atau keterdesakan yang mengharuskan pemerintah untuk cepat mengambil keputusan (merencanakan Program BOS) dalam mengatasi kemiskinan. dan masalah pendidikan yang dihadapi setiap daerah juga memiliki karakteristik yang berbedabeda. Sehingga dalam pelaksanaannya di masa mendatang. Selain itu keterlibatan masyarakat umum maupun yang memperoleh manfaat program secara langsung relatif sangat kecil baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan program. termasuk di Desa Jotangan.

Pemerintah bertujuan untuk membantu sekolah dalam rangka membebaskan iuran siswa (sebagai target). Hal ini dikarenakan adanya perbedaan kebutuhan. 8. salah satu diantaranya adalah perbedaan jumlah siswa dari keluarga mampu dan tidak mampu. akan terdapat konsistensi antara input. Efisiensi waktu 6. 4. dimana petunjuk operasional kegiatan sudah ditetapkan dari pusat sehingga tidak ada akses bagi masyarakat (orang tua murid) untuk secara leluasa menetukan pemanfaatan dana sesuai dengan kebutuhan. keinginan dan kepentingan masyarakat. Penegakan aturan (enforcement) Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menerapkan program-program pembangunan yang ditetapkan sebagai wewenang pemerintah dan masyarakat wajib mengikutinya sebagai aturan dasar. Tetapi pada kenyataannya. yang telah ditetapkan sebagai standar (diberikan sesuai jumlah murid) dengan harapan terbantunya siswa untuk dapat menikmati pendidikan. penggunaan dari dana BOS dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dari sekolah. Sehingga lebih tepat perencanaan ini dilaksanakan secara top down karena sulitnya memahami dan mengakomodir semua kebutuhan. Dalam melaksanakan program BOS. Masyarakat masih sulit dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan Program BOS. Perencanaan program bersifat top down. semua sekolah dan pengelola pendidikan harus menjadikan pedoman tersebut sebagai acuan dalam proses perencanaan. 8. Konsistensi input .4 Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Perencanaan Top-Down Planning Dalam Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS BBM) Bidang Pendidikan di Desa Jotangan KELEBIHAN PENDEKATAAN PERENCANAAN “TOP-DOWN PLANNING” DALAM PROGRAM PKPS BBM BIDANG PENDIDIKAN DI DESA JOTANGAN 4. Pihak sekolah tidak dilibatkan dalam perencanaan program sehingga kebutuhan dan keinginan masing-masing sekolah tidak teridentifikasi dan terakomodir dengan baik. keinginan dan kepentingan dari tiap masyarakat. Efisiensi biaya 5. KEKURANGAN PENDEKATAAN PERENCANAAN “TOP-DOWN PLANNING” DALAM PROGRAM PKPS BBM BIDANG PENDIDIKAN DI DESA JOTANGAN 5. Kurangnya kepedulian masyarakat pada program karena P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 37 . 7. Pemerintah men-genaralisir kebutuhan sekolah hanya berdasar jumlah siswa dan lokasi sekolah (desa atau kota). target dan outpu. Memudahkan pada tahap evaluasi 7. Hal ini dikarenakan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan lebih memahami tujuan dari suatu program dan target apa yang telah ditetapkan. 2010 TABEL IV. 3. pendekatan top down planning sangat mutlak dibutuhkan Pelaksanaan program BOS telah diatur dalam pedoman petunjuk pelaksanaan program yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama. padahal kebutuhan sekolah tidak bisa hanya didasarkan pada faktor tersebut. 6. target dan output. dan evaluasi. Hal ini dikarenakan banyaknya keberagaman siswa. Perencanaan dan pelaksanaan Program BOS dilakukan secara top down dengan harapan adanya konsistensi antara input. Meminimalisir penyimpangan dalam pelaksanaan program khususnya dalam pengelolaan dana program.target – output Dengan menggunakan pendekatan ini. pelaksanaan. 2. Sumber:Hasil Ananlisis Penyusun. Menjamin konsistensi antara inputtarget dan output program.yang dikeluarkan ditanggung oleh pemerintah. Input yang diberikan oleh Pemerintah berupa dana bantuan. Publik/masyarakat masih sulit dilibatkan Dalam kondisi masyarakat yang belum memahami apa saja yang mereka butuhkan dan bagaimana cara mereka terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

Dan lagi. Selain itu. sehingga seluruh masyarakat miskin bisa merasakan pelayanan kesehatan secara merata. Rumah Sakit dalam memberikan pelayanan langsung menggunakan dana yang mereka kelola. keberlanjutan program akan disanksikan jika sumber dananya tetap dipertahankan dari Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM. karena bagaimanapun kebutuhan akan kesehatan dan kebutuhan akan bahan bakar merupakan sesuatu yang berbeda. Misalnya seperti di negara-negara maju. memunculkan jargon ‘orang miskin dilarang sakit’. Untuk itu. justru dikhawatirkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin tidak bisa maksimal dan hanya ala kadarnya. Sehingga. Dengan demikian. yang berperan lebih dominan dalam mengatur jalannya program dari awal perencanaan hingga proses evaluasi. Program Pelayanan Kesehatan tidak seharusnya diambilkan dana dari Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM. yang tentu saja memerlukan tanggap darurat. bagaimana orang yang pas-pasan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya ketika dalam kondisi tidak berdaya karena sakit justru harus berhadapan dengan biaya pengobatan yang fantastis. Untuk itu perlu kiranya. Perencanaan dari atas adalah perencanaan yang dilakukan oleh pemerintah sebagai pemberi gagasan awal. Artinya apabila subsidi BBM dikurangi untuk pelayanan kesehatan maka masyarakat miskin akan tetap terbebani dari sisi kebutuhan yang lain. benar-benar ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. padahal program pelayanan kesehatan merupakan program yang seharusnya sepanjang hayat. Sumber:Hasil Ananlisis Penyusun. baik dari sisi pendanaan maupun proseduralnya. pelayanan kesehatan harus dicarikan formula baru sebagai sumber pendanaan. pelaksanaan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) di Desa Jotangan Kabupaten Klaten dirasa telah tepat sasaran. memang menjadi tanggung jawab pemerintah untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. dimana semula Bidan Desa. dimana peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam porsi yang lebih besar. Dengan demikian. tetapi saat ini masing-masing pemberi pelayanan kesehatan setiap bulan harus melaporkan pelayanan yang telah mereka laksanakan kepada PT Askes untuk mendapatkan penggantian dana. pemerintah merencanakan program pelayanan kesehatan yang keberpihakannya kepada masyarakat miskin tidak lagi setengah hati.menganggap program tersebut sepenuhnya merupakan program pe merintah.3 PENDEKATAN PERENCANAN PROGRAM KOMPENSASI PENGURANGAN SUBSIDI BAHAN BAKAR MINYAK (PKPS BBM) BIDANG KESEHATAN DI DESA JOTANGAN BERDASARKAN KAJIAN TEORITIS Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang semakin lama semakin dirasa mahal harganya. Melihat urgensi tersebut diatas. P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 38 . Puskesmas. 2010 4. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan pengaturan peruntukan pajak penghasilan. dengan prosedur yang cenderung berbelit. Dapat dibayangkan. dalam hal ini perencanaan yang paling tepat untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin adalah menggunakan pendekatan dari atas (topdown). dan peran masyarakat tidak begitu berpengaruh. Kelebihan lainnya dari perencanaan ini bersifat komprehensif dan tidak parsial. Namun demikian. Adapun kelebihan dari perencanaan top-down adalah implementasi pelaksanaan lebih cepat sehingga dirasa tepat diterapkan dalam program pelayanan kesehatan masyarakat miskin. yang mana semua warga negara berhak atas pelayanan kesehatan gratis tidak hanya terkhusus warga miskin.

target dan output. Sehingga lebih tepat perencanaan ini dilaksanakan secara top down karena sulitnya memahami dan mengakomodir semua kebutuhan. Konsistensi input . Masyarakat masih sulit dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan Program JPKMM. Penegakan aturan (enforcement) Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menerapkan program-program pembangunan yang ditetapkan sebagai wewenang pemerintah dan masyarakat wajib mengikutinya sebagai aturan dasar. keinginan dan kepentingan dari tiap masyarakat. Hal ini dikarenakan kesehatan bagi masyarakat miskin bersifat urgent dan membutuhkan waktu yang cepat untuk menanganinya. Hal inilah yang menjadi kelemahan dalam pendekatan top down Program JPKMM karena prosedur yang diterapkan cenderung berbelit-belit sehingga hasil yang diperoleh masyarakat miskin dirasakan kurang optimal. Publik/masyarakat masih sulit dilibatkan Dalam kondisi masyarakat yang belum memahami apa saja yang mereka butuhkan dan bagaimana cara mereka terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Hanya saja pemberian bantuan melalui JPKMM yang diambilkan dari subsidi BBM dirasakan kurang tepat karena subsidi BBM dan penanganan kesehatan bagi masyarakat miskin merupakan suatu hal yang tidak saling berkaitan. 2. Program JPKMM ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebagai penggagas awal untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Perencanaan dan pelaksanaan Program JPKMM dilakukan secara top down dengan harapan adanya konsistensi antara input. Sumber:Hasil Ananlisis Penyusun. 4. 2010 TABEL IV. target dan outpu. pendekatan top down planning sangat mutlak dibutuhkan KARAKTERISTIK PROGRAM PKPS BBM DALAM PENDEKATAN TOP-DOWN Program JPKMM dalam menangani kemiskinan dilakukan dengan pendekatan top down. Dengan pendekatan top down pelayanan kesehatan dapat dilakukan secara komprehensif dan tidak parsial. 3. Pemberian bantuan ini ditetapkan dengan standar dan aturan/ prosedur yang harus dilakukan dalam pelaksanaannya.Tabel IV. Hal ini dikarenakan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan lebih memahami tujuan dari suatu program dan target apa yang telah ditetapkan. keinginan dan kepentingan masyarakat. Hal ini biasanya dilakukan apabila pemerintah mempunyai keterbatasan sumber daya baik dalam anggaran maupun sumber daya lainnya.target – output Dengan menggunakan pendekatan ini.5 Karakteristik Perencanaan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS BBM) Bidang Kesehatan Dalam Pendekatan Top-Down KARAKTERISTIK PENDEKATAN PERENCANAAN TOP-DOWN Efisiensi Top down planning digunakan untuk meminimalisir waktu dan biaya yang dikeluarkan dalam perencanaan suatu program pembangunan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan kebutuhan. 2 Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Perencanaan Top-Down Planning Dalam Program PKPS BBM Bidang Kesehatan Di Desa Jotangan KELEBIHAN KEKURANGAN C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N P R O G R A M 39 . akan terdapat konsistensi antara input. Kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan Program JPKMM sangat mutlak dibutuhkan. Pemerintah bertujuan untuk membantu masyarakat miskin (sebagai target) untuk dapat menikmati pelayanan kesehatan. Hasil yang dikeluarkan bisa optimal dikarenakan biaya yang dikeluarkan ditanggung oleh pemerintah.

PENDEKATAAN PERENCANAAN “TOP-DOWN PLANNING” DALAM PROGRAM PKPS BBM Bidang Kesehatan DI DESA JOTANGAN 9. Dari penjelasan diatas. prosedur dan mekanisme PPK dapat tercapai. prinsip-prinsip. dan Gubernur mempunyai peran sebagai pembina dan penanggung jawab pelaksanaan PPK berdasarkan tingkat wilayahnya masing-masing. merencanakan dan mengambil keputusan secara terbuka dan penuh tanggung jawab. dan petunjuk operasional program. Program terpusat oleh pemerintah. dan diwajibkan kepada masyarakat penerima program untuk menerimanya. penentuan lokasi. kebijakan. 10. Pemerintah Kabupaten mempunyai kewajiban menyediakan anggaran untuk operasional kegiatan yang besarnya 3-5% dari BLM yang diterima masyarakat. Implementasi pelaksanaan lebih cepat sehingga dirasa tepat diterapkan dalam program pelayanan kesehatan masyarakat miskin yang memerlukan tanggap darurat 10. desa dan antar desa. Penerima program (masyarakat) terlibat secara aktif melalui musyawarah dan pelaksanaan kegiatan. Kesehatan yang dihasilkan tidak dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat secara maksimal karena proses perencanaan dan pengambilan keputusan sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah sedangkan masyarakat hanya sebagai penerima manfaat program yang diberikan pemerintah. Bersifat komprehensif dan tidak parsial sehingga seluruh masyarakat miskin bisa merasakan pelayanan kesehatan secara merata. Kepala Desa. termasuk jangka waktu pelaksanaan. PENDEKATAAN PERENCANAAN “TOP-DOWN PLANNING” DALAM PROGRAM PKPS BBM Bidang Kesehatan DI DESA JOTANGAN 9. pembimbing dan pembina agar tujuan. prosedur pelaksanaannya cenderung berbelit dan tidak efisien. dipenuhi dan dilaksanakan secara benar dan konsisten. 2010 4. Sedangkan pendekatan bottom up/social learning/partisipatif tampak pada penentuan jenis kegiatan dan implementasi program dilakukan secara partisipatif melalui musyawarah dusun. 11. kabupaten dan seterusnya lebih berfungsi sebagai fasilitator. Sehingga terjadi terjadi proses berbagi pengalaman dan pembelajaran bersama dan terjadi C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N P R O G R A M 40 .4 PENDEKATAN PERENCANAN PROGRAM PENGEMBANGAN KECAMATAN (PPK) DI DESA JOTANGAN BERDASARKAN KAJIAN TEORITIS Seluruh proses kegiatan dalam PPK pada hakekatnya memiliki dua dimensi. yaitu: (a) memberikan wewenang dan kepercayaan kepada masyarakat untuk menentukan sendiri kebutuhannya. Sumber:Hasil Ananlisis Penyusun. Pelaku utama PPK adalah masyarakat (terutama kelompok penduduk miskin perdesaan) selaku pengambil keputusan di desa. Pendekatan top-down yaitu dilakukan oleh pemerintah terutama dalam inisiatif program. Sehingga peran masyarakat hanya sebagai penerima keputusan atau hasil dari suatu program tanpa mengetahui jalannya proses pembentukan program tersebut dari awal hingga akhir. Sedangkan pelaku di tingkat kecamatan. Dalam hal ini keputusan mengenai lokasi. Bupati. Output perencanaan dalam PKPS BBM Bid. maka dapat dilihat bahwa program PPK di Desa Jotangan menggunakan pendekatan perencanaan gabungan antara top-down dan bottom-up (social learning/partisipatif). (b) menyediakan lingkungan kondusif untuk mewujudkan peran serta masyarakat dalam pembangunan. Beberapa aspek kebijakan dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah tanpa keikut sertaan masyarakat dalam penentuan kebijakannya. desain program dalam petunjuk operasional. Progam atau kebijakan yang merupakan hasil dari pemikiran pemerintah sering gagal dalam implementasinya karena pemerintah tidak mengetahui secara maksimal siapa yang sebenarnya membutuhkan. Camat. sehingga tujuan utama dari program tersebut yang hendaknya akan dikirimkan kepada masyarakat tidak terwujud.

Adanya kesepakatan yang diambil bersama oleh semua pihak yang terlibat dan terkena akibat Adanya tindakan mengisi kesepakatan tersebut Adanya pembagian kewenangan dan tanggung jawab dalam kedudukan yang setara antar pihak Sumber:Hasil Ananlisis Penyusun. berikut ini merupakan perbandingan karakteristik Program PPK dengan karakteristik perencanaan partisipatif : Tabel IV.proses mengungkapkan pendapat. Hasil implementasi program dipertanggungjawabkan dalam musdes. Keterlibatan masyarakat dalam setiap proses dilakukan secara sukarela dan bukan karena paksaan Kesepakatan bersama diambil dalam proses musyawarah dalam menentukan usulan kegiatan di tingkat kelompok/dusun dan musyawarah untuk menetapkan usulan di tingkat desa dan antar desa Implementasi atas hasil kesepakatan berupa pelaksanaan kegiatan. memotivasi. menyumbangkan pikiran dan tenaga dalam program. dalam konteks program PPK di Desa Jotangan ini berupa pelaksanaan kegiatan fisik (perbaikan jalan desa & pembangunan saluran irigasi) dan kegiatan ekonomi produktif (simpan pinjam). memberikan informasi.3 Perbandingan Antara Karakteristik Program PPK dan Karekteristik Perencanaan Partisipatif KARAKTERISTIK PERENCANAAN PARTISIPATIF Proaktif/sukarela KARAKTERISTIK DALAM PPK Masyarakat terlibat secara aktif dalam musyawarah untuk menentukan kebutuhan mereka yang kemudian menjadi dasar penentuan jenis kegiatan yang akan dibiayai. Perencanaan dan pelaksanaan program dilakukan bersama oleh masyarakat dengan didampingi fasilitator kecamatan dan pendamping lokal yang berperan sebagai fasilitator yang menjelaskan. memberi arahan dan memandu proses baik perencanaan maupun implementasi program. sementara pelaporan dan pemeriksaan dilakukan oleh tim PPK sendiri. 2010 P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 41 . Untuk mengetahui sejauh mana pendekatan partisipatif diterapkan dalam program PPK.

fasilitator adalah tim dari pihak inisiator perencanaan/pemerintah yaitu konsultan pemerintah yang diberi hak dan tanggung jawab sebagai fasilitator kecamatan dan pendamping lokal. untuk melihat sejauh mana pendekatan partisipatif diterapkan dalam program PPK juga dapat dilihat dari tahapan kegiatannya. LSM lokal dan pihak swasta sepertinya tidak ikut terlibat sehingga tidak tampak peranannya dalam program ini. dan ditetapkan jangka waktu pelaksanaannya adalah satu tahun. ataukah untuk segera mencari penyelesaian masalah dalam bentuk rencana aksi (jangka pendek). dalam hal ini diwakili oleh tim PPK (konsultan dan Fasilitator Kecamatan serta pendamping lokal). organisasi untuk terlibat dalam proses perencanaan partisipasi agar mau mengungkapkan masalah. pihak swasta dan masyarakat setempat serta bila diperlukan adanya fasilitator maka fasilitator tsb bisa dari pihak inisiator perencanaan maupun dari pihak yang berpartisipasi dalam perencanaan tersebut Tahapan inisiasi dilakukan dengan penggalian gagasan kelompok/dusun dan musyawarah khusus perempuan untuk membahas usulan kegiatan dan musyawarah desa untuk menetapkan usulan Kerjasama dalam program ini terjalin antara pihak masyarakat sebagai penerima program dengan pihak pemerintah sebagai pemberi program. P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 42 . kegagalan dan berbagi pandangan mengenai apa yang mungkin dilakukan Adanya kerjasama antar berbagai pihak yaitu pemerintah daerah. LSM lokal. individu. Partisipatif : Muatan dalam Setiap Tahapan Menurut Fisher Dilakukan motivasi kepada kelompok.Selain itu. sehingga tidak ada keleluasaan masyarakat untuk memilih jangka waktu pelaksanaan.4 Perbandingan Antara Karakteristik Tahapan Program PPK dan Karekteristik Tahapan Perencanaan Partisipatif Karakteristik Tahapan dalam Perencanaan Partisipatif Tahap inisiasi proses perenc. Dalam konteks program PPK ini. Berikut merupakan perbandingan antara tahapan kegiatan dalam program PPK dengan karakteristik tahapan perencanaan partisipatif menurut Fred Fisher : Tabel IV. Bentuk desain yang kaku ini sering dikritik dan dianggap sebagai bentuk partisipasi yang tidak sempurna (bahkan secara ekstrim dikatakan sebagai partisipasi manipulatif) karena banyak batasan yang tidak memberi keleluasaan Karakteristik Tahapan dalam PPK Membangun Hubungan yang Produktif Menjangkau keluar atau fokus kedalam Menentukan apakah perencanaan terkait dengan penyelesaian masalahnya bersifat strategis untuk jangka waktu lama. Program PPK ini desainnya telah dirancang oleh pemerintah dalam bentuk petunjuk teknis operasional.

tetapi hendaknya tim dapat melibatkan koalisi pemerintah daerah dan perwakilan komunitas yang terlibat langsung dengan implementasi Pelaksanaan aksi. yaitu berupa sebagian upah tenaga kerja yang disisihkan Implementasi kegiatan sesuai dengan hasil kesepakatan dalam musyawarah desa dan musyawarah antar desa. informasi. termasuk memutuskan siapa mengerjakan apa dengan siapa dan dengan parameter tertentu. Merupakan tahap implementasi dan walaupun tahap ini diluar tanggungjawab langsung tim perencana partisipatif. 2010 P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 43 . sementara pelaporan dan pemeriksaan dilakukan oleh tim PPK sendiri secara internal. mengorganisasi dan menganalisanya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai permasalahan dan peluangnya. Dalam proses implementasi program PPK ini mengharuskan adanya swadaya dari masyarakat. Bisa menggunakan berbagai alat seperti analisa SWOT . Proses penggalian masalah juga tidak sepenuhnya bisa leluasa untuk menggali permasalahan masyarakat desa setempat karena dibatasi oleh desain proyek dan dengan alokasi dana tertentu yang telah diberikan. analisa medan gaya dan alat analisa yang lainnya Proses penggalian masalah dilakukan dalam musyawarah untuk menentukan kebutuhan masyarakat yang nantinya akan diwujudkan dalam suatu jenis kegiatan tertentu yang disepakati bersama. menentukan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. pengukuran dampak dan bergerak Sumber:Hasil Ananlisis Penyusun. gagasan. Analisa hanya dilakukan secera sederhana dengan metode curah pendapat (brainstorming) Rencana kegiatan sebagai bentuk implementasi ditetapkan dalam musyawarah desa dan musyawarah antar desa yang menghasilkan bentuk kegiatan terpilih dari beberapa usulan kegiatan yang telah diusulkan.dalam menentukan bentuk penyelesaian masalah Pencarian fakta dan menganalisanya Dilakukan pengumpulan data. dan memperkirakan kemungkinan pencapaian tujuan dan sasaran. Rencana sebagai rangkaian aksi Mempersempit sasaran menjadi lebih realistik dan menentukan pilihan-pilihan terbaik. di dalamnya terdapat aspek swadaya masyarakat berupa upah tenaga kerja dari masyarakat yang terlibat yang disisihkan untuk dana pembangunan. termasuk kerangka waktu. Hasil kegiatan dipertanggungjawabkan dalam musyawarah desa. Diukur juga dampak potensial dari implementasi dan menentukan monitoring dan skema evaluasi/penilaian dampak.

siapa sasarannya.Dengan melihat analisa diatas dapat dilihat bahwa program PPK ini menggunakan gabungan antara pendekatan perencanaan Top-Down dan Bottom-Up yaitu dalam bentuk pendekatan perencanaan partisipatif. Karena proses pelibatan masyarakat secara aktif dalam setiap proses. merupakan proses memanusiakan sebagai subyek pembangunan. karena inisiatif program masih dari pemerintah. Rasa kepemilikan masyarakat terhadap program diharapkan lebih tinggi karena merupakan hasil kesepakatan mereka sendiri KEKURANGAN Dari aspek teori/pendekatan perencanaan. terutama untuk kegiatan ekonomi produktif yang dianggap hanya menunda kemiskinan. Program PPK Di Desa Jotangan ini memiliki kekurangan dan kelebihan dalam prosesnya yaitu yang diuraikan pada tabel berikut: TABEL IV. Meminimalisir penolakan program dari msayarakat karena merupakan hasil musyawarah masyarakat sendiri. dikaitkan dengan tujuan program. pemahaman masyarakat tentang program menjadi lebih baik. termasuk penentuan lokasi dan desain kegiatan (diatur dalam petunjuk teknis operasional) Terdapat kelemahan dalam proses partisipasinya. seakan hanya meniru kegiatan pembangunan pemerintah yang telah ada  perspektif masyarakat tentang kegiatan pembangunan yang bermanfaat belum luas Masyarakat belum sepenuhnya memahami maksud “kebutuhan” mereka sendiri. Ada kecenderungan jenis kegiatan bersifak kegiatan pembangunan fisik. terutama karena bentuk desain program yang telah ditentukan dan dengan jangka waktu tertentu (satu tahun) menyebabkan masyarakat tidak bisa sepenuhnya bisa leluasa mengeksplorasi dan memilih bentuk penyelesaian atas permasalahan mereka. sehingga tingkat keberhasilan program diharapkan lebih tinggi. apa tujuannya. bukan sekedar obyek pembangunan. apakah pembangunan fisik yang diusulkan adalah kebutuhan utama mereka ? mengapa bukan kegiatan sektor ekonomi • Tidak terukurnya hasil dari program PPK ini. mengapa program tersebut jatuh di wilayah mereka. yaitu hanya terbatas mengikutsertakan sebagian penduduk saja (hanya yang mau menyumbang tenaga. tetapi setidaknya telah keluar dari model pembangunan pemerintah selama ini yang kebanyakan dilakukan dengan pendekatan top down dan menempatkan masyarakat sebagai pihak yang pasif dan hanya sebagai penerima kegiatan saja. musyawarah penentuan kegiatan dan dalam pelaksanaan progran yang dilakukan dengan keikutsertaan masyarakat secara aktif. Walaupun terdapat banyak kekurangan dalam bentuk partisipasinya. terutama dalam proses musyawarah penggalian gagasan.yang sudah berhasil dipahami : mereka harus menentukan kebutuhan sendiri (masyarakat setempat) untuk menentukan jenis kegiatan pembangunan yang akan dibiayai oleh program tersebut. hal ini terutama terjadi dalam proses penentuan kebutuhan masyarakat jenis kegiatan yang diserahkan sepenuhnya kepada hasil musyawarah (open menu) Penghargaan yang lebih tinggi kepada masyarakat. hanya yang telah terdaftar sebagai anggota)  belum bisa meningkatkan kapasitas seluruh/sebagian besar penduduk untuk mau dan bisa terlibat secara aktif Masyarakat tidak sepenuhnya tahu/mengerti Program secara global.5 Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Perencanaan Top-Down dan Bottom-Up/Partisipatif Dalam Program PPK Di Desa Jotangan KELEBIHAN Telah menerapkan prinsip partisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaannya. dan justru menambah beban masyarakat dengan adanya hutang Tingkat keberhasilan program diharapkan lebih tinggi karena masyarakat lebih meahami program. Jika desa Jotangan sebagian besar penduduknya masih miskin. Partisipasi dengan jumlah yang masih terbatas. lebih merasa memiliki dan tidak ada penolakan terhadap program P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 44 . karena suara dan pendapatnya didengar dan diperhatikan. tidak sepenuhnya murni bottom up planning (partisipatif planning). Apakah jenis kegiatan yang telah dilakukan telah mampu menjawab permasalahan mendasar dari program ini. yaitu mengentaskan kemiskinan ? Seberapa besar pengaruh dari implementasi kegiatan terhadap pengurangan taraf kemiskinan masyarakat • Terdapat banyak kritik terhadap program PPK ini.

Kemungkinan penyalahgunaan program oleh beberapa pihak yang berkepentingan dan berusaha mengambil keuntungan dan kemungkinan adanya intervensi dari kelompok elitis desa untuk mempengaruhi dan mengarahkan program sesuai dengan keinginan/kepentingan mereka. 2010 P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 45 . 2008) Kemungkinan efek ketidak puasan terhadap keseluruhan program bagi kelompok/dusun maupun desa yang usulan programnya tidak lolos ditetapkan sebagai kegiatan terpilih. Sumber:Hasil Ananlisis Penyusun.dari kegiatan simpan pinjam (Dahniar & Lasimpo.

Sehingga PPK lebih menekankan pada kualitas program melalui kompetisi sehat dalam musyawarah. Selain itu bermanfaat juga bagi masyarakat sebagai penerima program untuk bisa mengawasi program yang diterapkan agar tepat sasaran dan dapat lebih melibatkan masyarakat dalam proses identifikasi dan pelaksanaan program secara berkelanjutan. tidak sepenuhnya dapat mengurangi kemiskinan. belum mengakomodir sepenuhnya kebutuhan masyarakat miskin serta kurangnya partisipasi masyarakat untuk ikutserta dalam programprogram penanggulangan kemiskinan tersebut. Program-program yang dilaksanakan di Desa Jotangan masih dilakukan dengan pendekatan top-down planning seperti program Raskin. walaupun sudah melibatkan masyarakat secara langsung tetapi dalam pelaksanaannya masih memiliki kekurangan dimana masyarakat masih kurang berperan aktif dalam setiap musyawarah dan juga masyarakat kurang leluasa menentukan alternatif solusi pemecahan atas permasalahan mereka karena dibatasi oleh desain dan jangka waktu program.1 KESIMPULAN Masalah kemiskinan yang terjadi di Desa Jotangan Kabupaten Klaten lebih disebabkan karena kurangnya akses terhadap sarana prasarana serta rendahnya produktivitas dalam pertanian sebagai sektor mata pencaharian utamanya. Program-program penanggulangan kemiskinan yang telah dijalankan oleh pemerintah di Desa Jotangan antara lain: • Program Beras Untuk Rakyat Miskin (Raskin) • Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak(PKPS-BBM) di bidang kesehatan • Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak(PKPS-BBM) di bidang pendidikan • Program Pengembangan Kecamatan (PPK) Program-program tersebut pada implementasinya sering kurang tepat sasaran. program PPK dalam pelaksanaannya menggunakan pendekatan gabungan antara top-down planning (dalam penentuan lokasi kecamatan dan penyusunan petunjuk teknis operasional bagi semua pelaku PPK) dan pendekatan bottom-up planning (dalam penentuan jenis kegiatan yang akan dibiayai dari PPK yaitu diusulkan. Namun. P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 46 . dibahas dan diputuskan oleh masyarakat sendiri melalui musyawarah). Hasil temuan tersebut dapat dijadikan sebagai masukan bagi pemerintah yang memiliki program.BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 4. Agak berbeda dengan ketiga program yang lain. PKPS BBM bidang kesehatan dan PKPS BBM bidang pendidikan. Dari uraian diatas dapat dilihat kekurangan dan kelebihan dengan menggunakan pendekatan top-down planning dan bottom-up planning atau gabungan keduanya. Semua program dilakukan dengan sistem terpusat sehingga masyarakat hanya sebagai obyek penerima program tanpa dilibatkan dalam identifikasi kebutuhan. Hal ini terjadi karena program hanya melihat pada kuantitas sementara kualitas belum memadai karena alasan keterbatasan dana dari pihak pemerintah sebagai penentu sasaran.

Hal ini dapat dilakukan melalui beberapa langkah yaitu: a. Sehingga dalam hal ini forum masyarakat berguna sebagai fasilitator dalam perencanaan dan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan. maka dapat diberikan rekomendasi sebagai berikut: 1. Melakukan sosialisasi program kepada masyarakat agar dalam pelaksanaan program masyarakat dapat terlibat secara aktif dan bukan hanya sebagai obyek penerima program. Adanya perbaikan terhadap birokrasi pemerintah dalam penentuan standar maupun sasaran dalam program penanggulangan kemiskinan. walaupun dilakukan secara top-down tetapi tetap ada pelibatan masyarakat serta tetap mengakomodir kebutuhan masyarakat miskin sebagai sasaran penerima program. Melakukan penggalian dan pendalaman mengenai penyebab kemiskinan yang terjadi di daerah masing-masing sehingga program penanggulangan kemiskinan yang diberikan lebih sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Perlu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan maupun dalam proses implementasi program sehingga lebih dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat dan masyarakat lebih merasa memiliki terhadap program. sehingga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam program-program penanggulangan kemiskinan. 2. 3.2 REKOMENDASI Berdasarkan pembahasan dalam critical review pada pendekatan perencanaan pada program-program penanggulangan kemiskinan di Desa Jotangan Klaten. b. P R O G R A M C R I T I C A L R E V I E W P E N D E K A T A N P E R E N C A N A A N P E N A N G G U L A N G A N K E M I S K I N A N D I D E S A J O T A N G A N K A B U P A T E N K L A T E N 47 . Selain itu juga meningkatkan pemahaman masyarakat tentang program yang akan dijalankan didaerahnya. Dengan kata lain program yang diberikan harus sesuai dengan penyebab kemiskinan yang terjadi agar tepat sasaran dan mengakomodir kebutuhan masyarakat miskin. Dengan demikian. Melibatkan masyarakat dalam suatu forum yang membahas proses perencanaan dan pelaksanaan program.4.