Anda di halaman 1dari 5

i

Peranan Koperasi Dalam Pertumbuhan Ekonomi Khususnya di Wilayah Aceh

Nama : Kelas : NPM : Tugas :

Novi Diyah Adiarti 2EA27 15211222 Ekonomi Koperasi

ii

KATA PENGANTAR Makalah ini dimulai dari membahas tentang gambaran mengenai koperasi dalam pertumbuhan ekonomi khususnya di wilayah Aceh. Diuraikan dalam bahasa yang sederhana. Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih khususnya kepada Bapak Nurhadi selaku dosen pembimbing Ekonomi Koperasi. Akhir kata, makalah ini tentu masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu saya penulis terbuka pada berbagai masukan penyempurnaannya dimasa yang akan datang . Segala yang baik dari makalah ini diharapkan mampu menginspirasi pembaca untuk berbuat banyak bagi kesuksesan budaya daerahnya. Segala yang buruk dari makalah ini diharapkan mampu memotovasi Pembaca untuk menulis tulisan yang lebih baik lagi. Selamat membaca dan tetap semangat!

Jakarta, November 2012

Novi Diyah Adiarti

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB 1. PENDAHULUAN a. Latar belakang b. Permasalahan c. Tujuan BAB 2. PEMBAHASAN a. Tujuan dari tahun koperasi internasional b. Perbedaannya antara outcome dan output c. Pokok-pokok kebijakan pembinaan

i ii 1 1 1 2 3 3 4 7

BAB 3. PENUTUP a. Kesimpulan

10 10

iv

BAB 3. PENUTUP a. Kesimpulan Awalnya perkoperasian di Aceh mendapat semangat lebih oleh para penggiatnya. Namun dalam perjalanan perkembangannya, semangat itu tidak didukung oleh pengalaman serta dedikasi dan kreatifitas tinggi untuk membuat koperasi lebih inovatif dalam memasarkan produk-produknya. Produk-produk dari perkoperasian Aceh lebih cenderung monoton atau itu-itu saja. Sehingga dapat dipastikan akan menimbulkan kejenuhan dan menurunkan minat pasar terhadap produk-produk yang ditawarkan. Kondisi ini terjadi karena pemerintah Aceh melalui dinas teknisnya dalam hal ini Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Aceh, tidak pernah melibatkan gerakan koperasi dalam kegiatan yang dilakukan. Pemerintah Aceh juga hanya mengandalkan pada modal uang saja yang berasal dari APBD, tanpa memikirkan apa yang sebenarnya diperlukan oleh gerakan koperasi. Tentu hal ini bukan langkah yang tepat. Walhasil, Kondisi default akan terjadi, di mana uang pinjaman koperasi yang telah diberikan tidak kunjung disetorkan ke kas daerah. Model yang diterapkan dalam pembangunan koperasi di Aceh pun juga tidak menganut sistem model koperasi dari daerah lain atau negara lain, sehingga sistem pembangunan perkoperasian di Aceh cenderung aneh, karena ingin tampil dengan konsep sendiri, tapi sayangnya diluar jalur yang wajar.