Anda di halaman 1dari 36

PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 & FISKAL LUAR NEGERI

PENYAJI:
1. 2. S. MIETRA SARDI / 0608416 DENY MAULANA / 0604252

Pajak PenghasilanPasal 25
Pengertian PPh pasal 25
Mengatur tentang angsuran besarnya pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh WP untuk setiap bulan. Angsuran PPh 25 tsb dapat dijadikan sebagai kredit pajak terhadap pajak yang terutang atas seluruh penghasilan WP pada akhir tahun pajak dalam SPT Tahunan PPh.

Pajak PenghasilanPasal 24
PKP 500 + 200 +100 =800 P IND 30 % 800 = 240 P DI M 200 40% = 80 (PS24 M) DI SING 100 20% = 20 (PS24 S) BDK ( bmkp) PPH PS 22 = 50 PPH PS 23 = 50 BRP JUMLAH HUTANG PAJAK 240-60-20-50-50 = 60

Dasar Hukum
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 522/KMK.04/2000

Dasar Hukum
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3984); Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3985); Keputusan Menteri Keuangan Nomor 522/KMK.04/2000 tentang Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Pajak Berjalan Yang Harus Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak Baru, Bank, Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah dan Wajib Pajak Lainnya Termasuk Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 84/KMK.03/2002;

Besaran PPh Pasal 25

Apabila dalam tahun pajak berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk tahun pajak yang lalu, maka besarnya angsuran pajak dihitung kembali berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan surat ketetapan pajak.

PKP TH 2000 30 % X 1500000 = 4500.000 PDMK : (22,23,24) = 180.000 MAKA PPH 25 = (450.000 180.000 )/ = 270 50.00 = 220.000/10= 22.000

Besaran PPh Pasal 25


Sebesar Pajak penghasilan terutang menurut SPT PPh tahun pajak lalu dikurangi dengan PPh 21, 22, 23 dan 24 dibagi 12 atau banyak bulan dalam bagian tahun pajak. PKP TH 2000 30 % X 10000 = 300.000 PDMK : (22,23,24) = 180.000 MAKA PPH 25 = (300.000 180.000 )/ 12 = 10.000 Khusus besarnya angsuran pajak yang harus dibayar untuk bulanbulan ( dua bulan pertama ) sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan, ditetapkan sama dengan besarnya angsuran pajak untuk bulan terakhir tahun pajak yang lalu. Ja dan Feb 2001 = pph 25 tahun 2000

Apabila dalam tahun pajak berjalan diterbitkan surat ketetapan

Subyek PPh Pasal 25


WP Orang Pribadi WP Badan WP Badan terdiri dari : WP Baru WP BUMN/BUMD kecuali bank dan Sewa Guna Usaha dengan hak opsi WP Bank dan Sewa Guna Usaha dengan hak opsi

2000 1-4 9 A 3

2001

2002

6
6 5 8 9

A = Masa penyampaian SPT Tahunan

Pajak Penghasilan Pasal 25


1. 2. 3. 4. Penghitungan untuk WP Orang Pribadi Penghitungan untuk WP Badan Penghitungan untuk Masa perolehan bagian tahun pajak Penghitungan untuk angsuran masa pajak sebelum SPT Tahunan PPh disampaikan oleh WP 5. Penghitungan Jika Surat pembetulan PPh disampaikan oleh WP lewat tanggal batas waktu penyampaian SPT (tanggal 31 Maret) 6. Penghitungan Jika WP membetulkan sendiri SPT Tahunan PPh yang mengakibatkan angsuran bulanan pembetulan lebih besar dari angsuran sebelum pembetulan. 7. Jika diterbitkan keputusan pengurangan 8. Jika WP berhak atas kompensasi kerugian 9. Jika WP memperoleh penghasilan tidak teratur 10. Jika WP mengalami perubahan keadaan usaha atau kegiatan 11. Untuk WP baru 12. Untuk WP BUMN/BUMD kecuali bank dan SGU dengan hak opsi 13. Untuk WP orang pribadi / pengusaha tertentu 14. Untuk WP Bank dan Sewa Guna Usaha dengan hak opsi

1. Penghitungan PPh Pasal 25 WP Orang Pribadi


PPh terutang (SPT tahun lalu) dikurangi PPh 21, PPh 22, PPh 23, PPh 24 dibagi 12 PPh terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh 2001 Dikurangi : a. PPh yang dipotong pemberi kerja (Psl 21) b. PPh dipungut oleh pihak lain (Psl 22) c. PPh dipungut oleh pihak lain (Psl 23) d. Kredit PPh LN (Psl 24) Jumlah kredit pajak Selisih Rp 50.000.000 Rp 15.000.000 Rp 10.000.000 Rp 2.500.000 Rp 7.500.000 (+) Rp 35.000.000 Rp 15.000.000

Besarnya angsuran yang harus dibayar sendiri setiap bulan mulai Maret s.d. Desember 2002 adalah sebesar Rp 15.000.000 dibagi 12 = Rp 1.250.000
PPh Pasal 25 Januari & Pebruari 2002 sama dengan Desember 2001 Jika Penghasilan Tahun 2001 diperoleh dalam masa 6 bulan maka PPh Pasal

25 masa Maret s/d Des 2002 sebesar Rp.15.000.000 dibagi 6 Rp.2.500.000,-

Penghitungan PPh Pasal 25 WP Orang Pribadi (Cont.)


PPh Pasal 25 bulan Januari & Pebruari 2002 atau sebelum SPT

Tahunan PPh disampaikan adalah sama besarnya dengan PPh Pasal 25 bulan Desember 2001
Jika Penghasilan Tahun 2001 diperoleh dalam masa 6 bulan maka

PPh Pasal 25 masa Maret s/d Des 2002 sebesar Rp.15.000.000 dibagi 6 Rp.2.500.000,-

2. Penghitungan PPh Pasal 25 WP BADAN


PPh terutang (SPT tahun lalu) dikurangi PPh 22, PPh 23, PPh 24 dibagi 12 PPh terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh 2001 Dikurangi : a. PPh dipungut oleh pihak lain (Psl 22) b. PPh dipungut oleh pihak lain (Psl 23) c. Kredit PPh LN (Psl 24) Jumlah kredit pajak Selisih Rp 50.000.000 Rp 25.000.000 Rp 2.500.000 Rp 7.500.000 (+) Rp 35.000.000 Rp 15.000.000

Besarnya angsuran yang harus dibayar sendiri setiap bulan mulai Maret s.d. Desember 2002 adalah sebesar Rp 15.000.000 dibagi 12 = Rp 1.250.000

Penghitungan PPh Pasal 25 WP BADAN (Cont.)


PPh Pasal 25 bulan Januari & Pebruari 2002 atau sebelum SPT

Tahunan PPh Badan disampaikan adalah sama besarnya dengan PPh Pasal 25 bulan Desember 2001
Jika Penghasilan Tahun 2001 diperoleh dalam masa 6 bulan maka

PPh Pasal 25 masa Maret s/d Des 2002 sebesar Rp.15.000.000 dibagi 6 Rp.2.500.000,-

3. Penghitungan PPh Pasal 25 Masa perolehan bagian tahun pajak


Contoh : Tahun 2000, dari contoh di atas sebelumnya (PPh terutang = Rp 15.000.000), penghasilan yang diterima hanya meliputi masa 6 (enam) bulan, maka besarnya angsuran bulanan th 2001 sebedar Rp 15.000.000 dibagi 6 = Rp
2.500.000,-.

4. Penghitungan untuk angsuran masa pajak sebelum SPT Tahunan PPh disampaikan oleh WP
Jika SPT Tahunan PPh Pasal 25 disampaikan oleh WP pada bulan Maret 2001, angsuran pajak pasal 25 bulan Des 2000, misal Rp 1.000.000. Maka besarnya angsuran pajak penghasilan psl 25 untuk Jan dan Peb 2001 adalah masingmasing sebesar Rp 1.000.000.

5. Penghitungan untuk angsuran masa pajak jika SPT Tahunan PPh disampaikan oleh WP pada tanggal 25 Mei 2002.

-5 Kondisi PPh terutang Dikurangi : a. PPH Pasal 21 b. PPH Pasal 22 c. PPH Pasal 23 d. PPH Pasal 24 Jumlah Kredit Pajak Selisih Angsuran pajak 25.000.000 2.500.000 7.500.000 35.000.000 15.000.000 1.250.000 25.000.000 2.500.000 7.500.000 35.000.000 15.000.000 1.250.000 50.000.000 Seharusnya 50.000.000 Selisih -

Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des

1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000

1.000.000 1.000.000

-250.000 -250.000 -

Sanksi administrasi

Masa Maret 2% per bulan dihitung sejak 15 April 2002 (tanggal jatuh tempo pembayaran) sampai tanggal pembayaran. Masa April 2% per bulan dihitung sejak 15 Mei 2002 sampai tanggal pembayaran.
Catatan :
Seandainya pembayaran PPh terutang ternyata kurang dari Rp 2.000.000 maka kelebihan setor pda masa Maret dan April 2002 dapat diperhitungkan dengan setoran pajak masa April 2002, dst.

6. Penghitungan PPh Pasal 25 Jika WP melakukan pembetulan SPT Tahunan PPh yang mengakibatkan angsuran bulanan pembetulan lebih besar dari angsuran sebelum pembetulan.

Kondisi PPh terutang Dikurangi : Jumlah Kredit Pajak Selisih Angsuran pajak 35.000.000 15.000.000 1.250.000 50.000.000

Seharusnya 85.000.000

Selisih (35.000.000)

35.000.000 50.000.000 4.166.667

(35.000.000) (2.916.667)

Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agust s/d Des

1.000.000 1.000.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 1.250.000 4.166.667

1.000.000 1.000.000 4.166.667 4.166.667 4.166.667 4.166.667 4.166.667 4.166.667

(2.916.667) (2.916.667) (2.916.667) (2.916.667) (2.916.667) -

Sanksi administrasi
Masa Maret 2% per bulan dihitung sejak 15 April 2002 (tanggal jatuh tempo pembayaran) sampai tanggal pembayaran. Masa April 2% per bulan dihitung sejak 15 Mei 2002 sampai tanggal pembayaran; dst

7. Jika diterbitkan keputusan pengurangan Jika dalam bulan Sep 2000 diterbitkan surat keputusan pengurangan yang mengakibatkan angsuran PPh 25 menjadi nihil, maka angsuran pajak pasal 25 sejak Okt sampai dengan Des 2000 menjadi nihil juga. Demikian pulan untuk Jan dan Peb 2001.

8. Penghitungan PPh Pasal 25 WP Mempunyai Hak Kompensasi Kerugian


Penghasilan PT Abadi tahun 2000 Sisa kerugian tahun sebelumnya yang masih dapat dikompensasikan Sisa kerugian yang belum dikompensasikan tahun 2000 Penghitungan PPh 25 tahun 2001 adalah : Rp 120.000.000 Rp 150.000.000 Rp 30.000.000

Penghasilan yang dijadikan dasar penghitungan angsuran PPh 25 adalah Rp 120.000.000 Rp 30.000.000 = Rp 90.000.000
PPh terutang : 10% X Rp 50.000.000 = Rp 5.000.000 15% X Rp 40.000.000 = Rp 6.000.000 Rp 11.000.000 Bila tahun 2000 tidak ada kredit pajak (PPh 22, 23 & 24), maka angsuran PPh bulanan PT X tahun 2001 = 1/12 X Rp 11.000.000 = Rp 916.666

9. Penghitungan PPh Pasal 25 Jika WP memperoleh penghasilan tidak teratur


Penghasilan teratur WP A tahun 2000 Rp 48.000.000 dan penghasilan tidak teratur dari mengontrakkan rumah selama 3 tahun pada tahun 2000 Rp 72.000.000. Penghasilan tidak teratur diterima sekaligus tahun 2000, maka penghasilan yang dipakai dasar perhitungan PPh 25 dari WP A pada tahun 2001 adalah hanya dari penghasilan teratur saja.

10. Penghitungan PPh Pasal 25 Jika WP mengalami perubahan keadaan usaha atau kegiatan
Tahun 2000, angsuran bulanan PPh 25 PT B Rp 15.000.000 Juni 2000, pabrik PT B terbakar, maka berdasarkan Surat keputusan Dirjen Pajak mulai bulan Juli 2000 angsuran bulanan PT B dapat disesuaikan menjadi lebih kecil dari Rp 15.000.000 Bila sebaliknya (peningkatan usaha) maka kewajiban angsuran bulanan PT B dapat disesuaikan oleh Dirjen Pajak.

11. PPh Pasal 25 Bagi WP Baru


WP baru bisa berupa WP Orang pribadi atau WP Badan. WP baru tersebut memperoleh NPWP dalam tahun berjalan. Besarnya angsuran PPh 25 dihitung berdasarkan tarif pajak umum atas penghasilan neto fiskal sebulan yang disetahunkan, dibagi 12. Untuk WP orang pribadi, maka penghasilan neto fiskal setahun dikurangi dengan PTKP.

Contoh : WP Badan
WP Badan-Pembukuan
Peredaran bruto Penghasilan netto bl Mei Penghasilan netto disetahunkan Dasar perhit PPh pasal 25 =10% x 50.000.000 =15% x 40.000.000 Besar Angsuran PPh 25 bl Mei 5.000.000 6.000.000 11.000.000 916.667 60.000.000 7.500.000 90.000.000

Contoh WP Orang pribadi


WP Pribadi-Non Pembukuan Peredaran bruto (th 2000) Penghasilan netto bl Mei (10%) 8.640.000 864.000

Penghasilan netto disetahunkan


PTKP (K/3) PKP disetahunkan Dasar perhit PPh pasal 25 =5% x 1.728.000 Besar Angsuran PPh 25 bl Mei =1/12 X Rp 86.400

10.368.000
8.640.000 1.728.000 86.400 7.200

12. Penghitungan PPh Pasal 25 WP BUMN/BUMD


(Selain bank dan SGU dengan Hak Opsi)

Besarnya angsuran PPh 25 = Laba rugi fiskal menurut RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan) tahun pajak yang bersangkutan yang telah ditetapkan RUPS dikurang dengan kredit pajak (PPh 22, PPh 23, PPh 24) tahun pajak yang lalu dibagi 12. Apabila RKAP belum disahkan, besarnya angsuran PPh 25 untuk bulan-bulan sebelum pengesahan sama dengan angsuran PPh bulan terakhir tahu pajak sebelumnya.

13. Untuk WP orang pribadi / pengusaha tertentu


WP orang pribadi pengusaha tertentu adalah WP yang melakukan kegiatan usaha di bidang perdagangan grosir dan atau eceran barangbarang yang dijual langsung kepada konsumen akhir melalui tempat usaha/gerai (outlet) yang tersebar di beberapa lokasi. Contoh : toko kelontong. Besarnya angsuran PPh 25 adalah 2% dari jumlah peredaran bruto berdasarkan pembukuan atau pencatatan setiap bulan dari masing-masing tempat usaha / gerai.

14. Penghitungan PPh Pasal 25 WP Bank & SGU Dengan Hak OPSI
Besarnya angsuran PPh 25 berdasarkan penerapan tarif umum atas laba-rugi fiskal menurut laporan triwulan yang disetahunkan dikurangi PPh 24, dibagi 12 (dua belas). Bagi WP Baru, angsuran triwulan pertama dihitung berdasarkan tarif umum atas PERKIRAAN laba-rugi fiskla triwulan pertama yang disetahunkan dibagi 12 (dua belas)

Fiskal Luar Negeri (FLN) (PP No. 42 Tahun 2000)


Merupakan pajak yang dibayar oleh orang pribadi

yang akan bertolak ke luar negeri

Merupakan angsuran PPh dalam tahun berjalan (PPh

Pasal 25) yang dapat dikreditkan dalam SPT Tahunan :

WP Orang pribadi SPT Tahunan Badan jika FLN ditanggung pemberi kerja

dengan syarat Tanda Bukti Pembayaran Fiskal Luar Negeri (TBPFLN) dicantumkan nama karyawan qq Nama pemberi kerja (Perusahaan) & NPWP yang dicantumkan adalah NPWP pemberi kerja

Fiskal Luar Negeri (FLN) (PP No. 42 Tahun 2000)


TARIF FLN
Menggunakan Pesawat Udara, sebesar Rp.1.000.000,-

Menggunakan Kapal Laut, sebesar Rp.500.000,Melalui jalan darat, sebesar Rp.200.000,-

Pembebasan Fiskal Luar Negeri (FLN) (PP No. 42 Tahun 2000)


Diberikan LANGSUNG oleh Pejabat Imigrasi dalam hal :
Anggota Korps Diplomatik, pegawai Perwakilan Negara asing, Staf

dari Badan-badan PBB, Tenaga Ahli dalam rangka kerjasama teknik & staf badan/Organisasi Internasional yg mendapat persetujuan Pemerintah Indonesia sepanjang bukan Warga Negara Indonesia dan menggunakan passport Diplomatik
Pejabat Negara, Anggotan TNI, Polisi, PNS yang melaksanakan PD

LN yang menggunakan passport Dinas dan dilengkapi Surat Tugas

Anggotan TNI atau Polisi yang mendapat tugas sebagai pasukan PBB Orang pribadi yang NPWP

Fiskal Luar Negeri (FLN) (PP No. 42 Tahun 2000)


Diberikan LANGSUNG oleh Pejabat Imigrasi dalam hal : (Cont.) Jemaah haji yang penyelenggaraannya dilakukan oleh Departemen

Agama

Penduduk Indonesia yang melakukan perjalanan lintas batas dengan

menggunakan Pas Lintas batas sesuai perjanjian lintas batas dengan negara terkait

Orang asing yang berada di Indonesia dengan visa turis, visa

transit, visa sosial budaya, visa kunjungan usaha sepanjang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan
Orang asing yang dideportasi

Fiskal Luar Negeri (FLN) (PP No. 42 Tahun 2000)


Diberikan melalaui Surat Keterangan Bebas Fiskal Luar Negeri (SKBFLN) yang diterbitkan oleh Unit Pelaksana FLN Ditjen Pajak, kepada :
Anggota TNI/POLRI/PNS yang bertugas di daerah perbatasan

yang melaksanakan tugas ke luar negeri

Penduduk Indonesia yang bertempat tinggal tetap di Batam Tenaga Kerja WNA yang bekerja di Batam, Bintan dan Pulau

Karimun sepanjang atas penghasilannya telah dipotong PPh Pasal 21 atau Pasal 26
Mahasiswa atau pelajar WNA yang berada di Indonesia dalam

rangka belajar

Fiskal Luar Negeri (FLN) (PP No. 42 Tahun 2000)


Diberikan melalaui Surat Keterangan Bebas Fiskal Luar Negeri (SKBFLN) yang diterbitkan oleh Unit Pelaksana FLN Ditjen Pajak, kepada : (Cont.)
WNA yang berada di Indonesia dalam rangka penelitian di bidang

Ilmu Pengetahuan & Kebudayaan, misi keagamaan, kemanusiaan & kerjasama teknik di bawah koordinasi LIPI/DEPDIKBUD/DEPAG/DEPT Terkait
Penyandang cacat yang berobat ke LN atas biaya organisasi sosial

dgn persetujaun MENKES

Anak-anak dengan umur tidak lebih dari 12 tahun Pengungsi bekas propinsi Timor Timur yang memilih menjadi warga negara

Timor Leste dan akan kembali ke negaranya.