Anda di halaman 1dari 7

RANCANGAN PENELITIAN EPIDEMIOLOGI

I. RANCANGAN DESKRIFTIF A. PENGERTIAN Metode penelitian deskriptif ialah metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Metode penelitian deskriftif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan atau analisis data, membuat kesimpulan dan laporan. Metode deskriftif biasanya digunakan untuk menelaah terhadap masalah yang mencakup aspek yang cukup banyak (populasi) dan menelaah suatu kasus tunggal (individu), mengadakan perbandingan antara suatu hal dengan yang lain, ataupun untuk melihat hubungan antara suatu gejala dengan peristiwa yang mungkin muncul akan timbul dengan munculnya gejala tersebut. B. LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN DESKRIFTIF Secara umum langkah-langkah yang harus ditemouh dalam penelitian deskriftif ini tidak berbeda dengan metode-metode penelitian yang laen, yakni : 1. Memilih masalah yang akan diteliti 2. Merumuskan dan mengadakan pembatasan masala, kemudian berdasarkan masalah tersebut diadakan studi pendahuluan untuk menghimpun informasi dan teori-teori sebagai dasar menyusun kerangka konsep penelitian. 3. Membuat asumsi atau angapan-anggapan yang menjadi dasar perumusan hipotesis penelitian. 4. Merumuskan hipotesis penelitian 5. Merumuskan dan memilih teknik pengumpulan data. 6. Menentukan kriteria atau kategori untuk mengadakan klasifikasi data. 7. Menentukan teknik dan alat pengumpul data yang akan digunakan. 8. Melaksanakan penelitian atau pengumpulan data yang akan digunakan. 9. Melakukan pengolahan dan analisis data (menguji hipotesis) 10. Menarik kesimpulan atau generalisasi. 11. Menyusun dan mempublikasikan laporan penelitian. C. JENIS-JENIS PENELITIAN DESKRIFTIF Bentuk pelaksanaan penelitian deskriftif ini ada berbagai jenis, antara lain sebagai berikut : 1.Individu (Case report, case series, cross sectional ) 2.Populasi ( Studi korelasi, rangkaian berkala / time series ) RANCANGAN DESKRIFTIF PENELITIAN INDIVIDU 1. PENELITIAN CASE REPORT Adalah Studi kasus yang menggambarkan pengalaman kasus / pasien, sehingga rancangan case report ini disebut rancangan

kuno dan jarang digunakan lagi. Studi kasus dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Unit tunggal disini dapat berarti satu orang, sekelompok penduduk yang terkena suatu masalah, misalnya keracunan, atau sekelompok masyarakat di suatu daerah. Unit yang menjadi kasus tersebut secara mendalam dianalisis baik dari segi yang berhubungan dengan keadaan kasus itu sendiri, faktor-faktor yang mempengaruhi, kejadian-kejadian khusus yang muncul sehubungan dengan kasus, maupun tindakan dan reaksi kasus terhadap suatu perlakuan atau pemaparan tertentu. Meskipun di dalam studi kasus ini yang diteliti hanya berbentuk unit tunggal, namun dianalisis secara mendalam, meliputi berbagai aspek yang cukup luas, serta penggunaan berbagai aspek yang cukup luas, serta penggunaan berbagai teknik secara integratif. Kegunaan Penelitian Case Report : a. Dapat sebagai petunjuk pertama dalam mengidentifikasi suatu penyakit. b. Dapat untuk memformulasikan suatu hipotesa. Kelemahan Penelitian Case Report : a. Tidak dapat digunakan untuk mengetes hipotesa karena tidak ada kelompok pembanding. b. Terdiri dari satu kasus dan tidak ada kelompok pembanding sehingga tidak dapat untuk mengetes suatu hubungan asosiasi secara statistic.

2. PENELITIAN CASE SERIES Adalah Suatu rancangan penelitian yang menggambarkan sekelompok kasus dengan diagnosa yang sama. Rancangan penelitian ini juga tergolong rancangan yang kuno sehingga jarang digunakan lagi. Kegunaan Penelitian Case Series : a. Sebagai petunjuk pertama dalam mengidentifikasi suatu penyakit baru. b. Untuk memformulasikan suatu hipotesa atau dugaan. Kelemahan Penelitian Case Series : a.Studi ini tidak dapat digunakan untuk mengetes hipotesa karena tidak ada kelompok pembanding. b.Ada Case Series terdiri lebih dari satu kasus akan tetapi tidak ada kelompok pembanding sehingga tidak dapat untuk mengetes suatu hubungan asosiasi yang valid secara statistik. 3. PENELITIAN CROSS SECTIONAL Adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara factor-faktor resiko dengan efek, dengan carapendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat ( poin time approach ).Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variable subjek pada saat pemeriksaan. Hal

b. Menetapkan subjek penelitian. Faktor jenis kelamin dan usia Beberapa penyakit tertentu cenderung diderita oleh seseorang dengan jenis kelamin atau usia tertentu. di antaranya ialah : a. observasi atau pengukuran terhadap variabel dependen-independen dan variabel-variabel yang dikendalikan secara bersamaan (dalam waktu yang sama). Penyakit atau efek b. Tahap kedua : menetapkan subjek penelitian atau populasi dan sampelnya. faktor ekstrinsik dapat berupa : keadaan fisik. dan sebagainya. sehingga terjadi efek (sakit). c. umur ibu. Ada 2 macam faktor resiko. paritas dan variabelvariabel kendali yang lain. Keuntungan penelitian Cross Sectional : Mudah dilaksanakan. Dibedakan menjadi : a.Variabel dependen (efek ) : BBL . dan juga untuk penelitian analitik yang lain. Kardiovaskuler cenderung diderita oleh orang yang berumur lebih dari 40 tahun. maupun sosial budaya dan perilaku. biologik. . baik variabel resiko maupun variabel efek. Moisalnya gastritis. Faktor anatomi atau konstitusi tertentu Ada bagian-bagian tubuh tertentu peka terhadap suatu penyekit. terutama TBC paru dan diare. cenderung diderita oleh kaum pria dan wanita. Tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit secara . Faktor nutrisi Seseorang yang menderita kurang gizi (malnutrisi) akan rentan terhadap penyakit-penyakit infeksi. namun perlu dibatasi daerah mana ereka akan diambil contohnya lingkup rumah sakit atau rumah bersalin. Demikian pula batas waktu dan cara pengambilan sampel.Variabel independent (risiko) yang dikendalikan : paritas. Bandingkan BBL dengan Hb darah ibu. dengan menggunakan rancangan atau pendekatan cross sectional. Misalnya : keadaan perkampungan yang padat penduduk merupakan faktor resiko untuk penyakit ISPA. psikologik. yaitu : 1. perawatan kehamilan. sederhana.Melakukan analisis korelasi dengan cara membandingkan proporsi antar kelompok-kelompok hasil observasi (pengukuran). Tahap pertama : Mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti dan kedudukanya masing-masing. memeriksa Hb ibu. dan hasil dapat diperoleh dengan cepat dan dalam waktu bersamaan dapat dikumpulkan variabel yang banyak. Faktor resiko yang berasal dari organisme itu sendiri (faktor intrinsik) . Keterbatasan penelitian Cross Sectional : a. Pengertian-pengertian yang perlu dipahami dalam penelitian cross sectional. Faktor resiko untuk terjadinya penyakit tersebut c. apakah berdasarkan tekhnik random atau non-random. 2. Tahap ketiga : Melakukan pengumpulan data. Melakukan observasi atau pengukuranvariabel-variabel yang merupakan factor resiko dan factor efek sekaligus berdasrkan status keadaan varibel pada saat itu (pengumpulan data). kimiawi. Caranya mengukur berat badan bayi yang sedang lahir. Oleh sebab itu desain penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut : Skema Rancangan Penelitian Cross Sectional Populasi (Sampel) Faktor resiko + Faktor resiko Efek + Efek Efek + Efek Dari skema rancangan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penelitian cross sectional adalah sebagai berikut : a. Agen penyakit (penyebab penyakit) Faktor resiko ialah faktor-faktor atau keadaan-keadaan yang mempengaruhi perkembangan suatu penyakit atau status kesehatan tertentu ( kondisi yang memungkinkan adanya mekanisme hubungan antara agen penyakit dengan host dan penjamu (manusia). Agen penyakit adalah mikroorganisme atau kondisi lingkungan yang bereaksi secara langsung pada individu sehingga individu tersebut menjadi sakit ( faktor yang harus ada untuk terjadinya penyakit ). d. Diperlukan subjek penelitian yang besar b. c. Contoh sederhana : Ingin mengetahui hubungan antara anemia besi pada ibu hamil dengan Berat Badan Bayi Lahir (BBL). Dari analisis ini akan diperoleh bukti adanya atau tidak adanya hubungan antara anemia dengan BBL. menanyakan umur. ekonomis dalam hal waktu. Mengidentifikasi variable-variabel penelitian dan mengidentifikasi factor resiko dan factor efek b. Faktor resiko yang berasal dari lingkungan (faktor resiko ekstrinsik) Berdasarkan jenisnya . lingkungan yang gaduh penuh pertentangan dan permusuhan merupakan faktor resiko untuk stres. misal virus herpes yang menyerang pada bagian syaraf. .Variebel independen (risiko ) : anemia besi. Tahap keempat : Mengolah dan menganalisis data dengan cara membandingkan. Penelitian Cross Sectional adalah suatu penelitian dimana variabe-variabel yang termasuk faktor resiko atau variabelvariabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasisekaligus pada waktu yang sama.ini tidak berarti semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama. Subjek penelitian : ibu-ibu yang baru melahirkan.

Variabel independen : perilaku ibu dalam memberikan makanan. kecuali mempunyai keuntungan dengan melakukan observasi (pengukuran yang berulang-ulang). Bentuk rancangan ini adalah sebagai berikut : 01 02 03 04 X 05 06 07 08 Pretes Perlakuan Postes Dengan menggunakan serangkaian observasi (tes). Karena pada rancangan pretes-postes. jumlah anak. Tahap ketiga : Mengidentifikasi kasus. Kesimpulan korelasi faktor resiko dengan faktor efek paling lemah bila dibandingkan dengan dua rancangan epidemiologi yang lain. dapat memungkinkan validitasnya lebih tinggi. . Melakukan analisis dengan membandingkan proporsi antara variabel-variabel objek penelitian dengan variabel-variabel kontrol Contoh Sederhana : Penelitian ingin membuktikan hubungan antara malnutrisi/ kekurangan gizi pada anak balita dengnan perilaku pemberian makanan oleh ibu. Koefisien korelasi yang diperoleh selanjutnnya dapat dijadikan dasar untuk menguji hipotesis penelitian yang dikemukakan terhadap masalah tersebut. .Misalnya penelitian untuk mengetahui hubungan berat badan bayi lahir dengan jumlah varitas ibu. kemungkinan hasil 02 dipengaruhi oleh faktor lain diluar perlakuan sangat besar. antar faktor resiko.Variabel dependen : malnutrisi . misalnya berat per umur dari 75 % standar Harvard. Kasus diambil dari populasi yang telah ditetapkan . Dalam uji statistik biasanya dengan menggunakan analisis korelasi yang secara sederhana dapat dilaukan dengan cara melihat skor atau nilai rata-rata dari variabel yang satu dengan skor rata-rata dari variabel yang lain. Cohort ) 2. sebelum dan sesudah perlakuan. 2. Kemudian melakukan analis dinamika korelasi antara fenomena. Hal ini dilakukan untuk melihat hubungan antara gejala satu dengan gejala lainnya. RANCANGAN RANGKAIAN WAKTU (TIME SERIS DESIGN) Rancangan ini seperti rancangan pretes-postes. yaitu anak balita yang menderita malnutrisi (anak balita yang memenuhi kebutuhan malnitrisi yang telah ditetapkan.PENGERTIAN Metode penelitian Analitik ialah penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi. Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan d. Namun demikian perlu dibatasi pasangan ibu dan balita daerah mana yang dianggap menjadi populasi dan sampel penelitian ini.STUDY KORELASI ( CORRELATION STUDY ) Merupakan penelaahan hubungan dua variabel suatu situasi atau sekelompok subjek. Untuk mengetahui korelasi antara suatu variabel dengan variabel yang lain tersebut diusahakan dengan mengidentifikasi variabel yang ada pada suatu objek. Objek penelitian disini adalah pasangan ibu dan anak balitanya. oleh karena observasi dilakukan lebih dari satu kali (baik sebelum maupun perlakuan). kemudian diidentifikasi pula variabel lain yang ada pada objek yang sama dan dilihat apakah ada hubungan antara keduanya.PENELITIAN CASE CONTROL Adalah suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana factor resiko dipelajari dengan menggunakan pandekatan retrospective.Variabel independen yang lain : pendidikan ibu.variabel independen (faktor resiko ). Dengan kata lain. II. Identifikasi variable-variabel penelitian ( factor resiko dan efek ) b. Tahap kedua : Menetapkan objek penelitian. dan sejauhmana hubungan antara keduanya. Skema Rancangan penelitian Case Control Retrospektif Faktor risiko + Faktor risiko Faktor risiko Faktor risiko + Retrospektif Efek + Efek Kasus (Kontrol) Populasi (sampel) Tahap-tahap penelitian Case control a. Identifikasi kasus d. maupun antar faktor efek B. RANCANGAN DESKRIFTIF PENELITIAN POPULASI 1. dan sebagainya.Observasional (Case control. RANCANGAN ANALITIK A. yaitu populasi dan sampel penelitian.JENIS-JENIS RANCANGAN ANALITIK Rancangan analitik secara garis besar dibedakan menjadi : 1. sedangkan pada rancangan ini. pendapatan keluarga. kemudian factor resiko diidentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu. baik antara faktor resiko dengan efek. efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasi pada saat ini.Eksperiment ( Pre – Squase – Murni) RANCANGAN ANALITIK PENELITIAN OBSERVASIONAL 1. Menetapkan objek penelitian ( populasi dan sampel ) c.akurat c. Pemilihan subjek sebagai kontrol e. . Melakukan pengukuran retrospektif ( melihat ke belakang ) untuk melihat faktor resiko f. Tahap pertama : Mengidentifikasi variabel dependen ( efek ) dan variabel. maka pengaruh factor luar tersebut dapat dikurangi. Dengan membuktikan apakah ada hubungan kedua variabel tersebut.

dan juga mengidentifikasi subjek yang tidak merokok (resiko negatif) sejumlah yang kurang lebih sama dengan kelompok merokok. 2. Pengukuran variabel yang retrospective. Dari sini akan diperoleh bukti ada tidaknya hubungan perilaku pemberian makanan dengan malnutrisi pada anak balita. Analisis dilakukan dengan membandingkan proporsi orangorang yang menderita Ca paru dengan proporsi orang-orang yang tidak menderita Ca paru. Adanya kesamaan ukuran waktu antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol b. Mengobservasi perkembangan subjek sampai batas waktu yang ditentukan. dengnan umur antara 40 sampai dengan 50 tahun. selanjutnya mengidentifikasi timbul tidaknya efek pada kedua kelompok f. . misal selama 10 tahun ke depan. Kelebihan Rancangan Penelitian Case Control a. diantaranya kelompok perokok dan kelompok tidak merokok. yaitu : penyakit atau salah satu indikator status kesehatan. Penelitian cohort digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko dengan efek melalui pendekatanlongitudinal ke depan atau prospektif. yaitu populasi dan sampel penelitian.Tahap keempat : Pemilihan subjek sebagai kontrol. . c.Variabel independen : merokok . Tahap kelima : Melakukan pengukuran secara retrospektif. Misalnya yang menjadi populasi adalah semua pria di suatu wilayah atau tempat tertentu. Tahap pertama : Mengidentifikasi faktor efek (variabel dependen) dan resiko (variabel independen) serta variabelvariabel pengendali (variabel kontrol). Pemilihan kontrol hendaknya didasarkan kepada kesamaan karakteristik subjek pada kasus. jumlah yang diberikan kepada anak balita selama 24 jam. Menetapkan subjek penelitian ( menetapkan populasi dan sampel ) c. dengan proporsi perilaku ibu yang sama pada kelompok kontrol. Misalnya ciri-ciri masyarakatnya. Memilih subjek yang akan menjadi anggota kelompok kontrol e. Tidak menghadapi kendala etik seperti pada penelitian eksperimen (kohort) d. Menganalisis dengan membandingkan proporsi subjek yang mendapatkan efek positif dengan subjek yang mendapat efek negatif baik pada kelompok resiko positif maupun kelompok kontrol. Kadang-kadang sulit memilih kontrol yang benar-benar sesui dengan kelompok kasusu karena banyaknya faktor resiko yang harus dikendalikan. pekerjaan dan sebagainya. Tidak memerlukan waktu lama ( lebih ekonomis ) Kekurangan Rancangan Penelitian Case Control a. dan reabilitasnya kurang karena subjek penelitian harus mengingatkan kembali faktor-faktor resikonya. baik yang merokok maupun yang tidak merokok. Tahap keenam : Melakukan pengolahan dan analisis data . Adanya pembatasan atau pengendalian faktor resiko sehingga hasil penelitian lebih tajam dibanding hasil rancangan cross sectional c. Pemilihan subjek dengan faktor resiko positif dari subjek dengan efek negatif d.Variabel pengendali : umur. paru . sosial ekonominya dan sebagainya. Langkah-langkah pelaksanan penelitian cohort a. yaitu pasangan ibu-ibu dengan anak balita mereka. Dengan membandingkan proporsi perilaku ibu yang baik dan yang kurang baik dalam hal memberikan makanan kepada anaknya pada kelompok kasus. Tidak dapat diketahui efek variabel luar karena secara teknis tidakdapat dikendalikan. Tahap keempat : Mengobservasi perkembangan efek pada kelompok orang-orang yang merokok (resiko positif) dan kelompok orang yang tidak merokok (kontrol) sampai pada waktu tertentu. Tahap ketiga : Mengidentifikasi subjek yang merokok (resiko positif) dari populasi tersebut. Penelitian Cohort membandingkan proporsi subjek yang menjadi sakit ( efek positif ) antara kelompok subjek yang diteliti dengan faktor positif dengan kelompok subjek dengan faktor resiko negatif ( kelompok kontrol ). Tahap kedua : Menetapkan subjek penelitian. Tahap kelima : Mengolah dan menganalisis data. b. PENELITIAN COHORT (PENELITIAN PROSPEKTIF ) Merupakan suatu penelitian survei ( non eksperimen ) yang paling baik dalam menghubungkan antara faktor resiko dengan efek ( Penyakit ). yaitu dari kasusu (anak balita malnutrisiI itu diukur atau ditanyakan kepada ibu dengan menggunakan metose recall mengenai perilaku memberikan jenis makanan .Variabel dependen : Ca. objektivitas. Artinya faktor resiko yang akan dipelajari diidentifikasi dulu kemudian diikuti ke depan secara prospektif timbulnya efek. untuk mengetahui adanya perkembangan atau kejadian Ca paru. Skema Rancangan Penelitian Cohort Efek + Prospektif Faktor risiko + Efek Populasi (sampel) Faktor risiko Prospektif Efek + Efek -Contoh Sederhana : Penelitian yang ingin membuktikan adanya hubungan antara Ca paru (efek) dengan merokok (resiko) dengan menggunakan pendekatan atau rancangan prospektif. Identifikasi faktor-fakor rasio dan efek b.

yang tidak menerima program atau intervensi. Rancangan Pra Eksperimen Bentuk-Bentuk Rancangan Pra-Eksperimen a. Kelemahan rancangan ini adalah tidak ada jaminan bahwa perubahan yang terjadi tada variable dependen karena intervensi atau perlakuan. Penelitian ini digunakan untuk meneliti suatu program yang inovatif. Postes Only Design Dalam rancangan ini perlakuan atau intervensi telah dilakukan (X).Kemungkinan adanya subjek penelitian yang drop out dan akan mengganggu analisis hasil d. Rancangan ini disebut The one shot case study. tetapi paling tidak sudah dilakukan observasi pertama (pretes) yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahanperubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen.Memerlukan waktu yang cukup lama b. maka kedua kelompok mempunyai sifat yang sama sebelum dilakukan intervensi (perlakuan). Selama tidak ada kelompok kontrol. dan diikuti intervensi (X) pada kelompok eksperimen. Rancangan One group Pretest-Postest Rancangan ini juga tidak ada kelompok pembanding (control). Rancangan Eksperimen Semu (Quasi Experiment) . testing. misalnya sejarah. Rancangan eksperimen murni (true experiment) 3. Karena kasus-kasus telah dirandomisasi baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok control. c. Rancangan ini adalah salah satu rancangan terkuat di dalam mengontrol ancaman-ancaman terhadap validitas. maka perbedaan hasil postes (02) pada kedua kelompok tersebut dapat disebut sebagai pengaruh dari intervensi atau perlakuan. tetapi perlu dicatat rancangan ini terhindar dari kelemahan terhadap validitas. Hasil observasi ini kemudian dikontrol atau dibandingkan dengan hasil observasi pada kelompok control. Rancangan Eksperimen Murni Bentuk-bentuk rancangan eksperimen murni a. Hasil observasi ini (02) hanya memberikan informasi yang bersifat deskriptif. maturasi dan instrumen.Keunggulan Penelitian Cohort a. b. Rancangan pra eksperimen (pre experiment design) 2. Dengan rancangan ini. Rancangan Pretes-Postes dengan Kelompok kontrol Dalam rancangan ini dilakukan randomisasi. yakni : 1.Ada faktor resiko yang ada pada subjek akan diamati sampai terjadinya efek (mungkin penyakit) maka hal ini berarti kurang atau tidak etis. misalnya dalam bidang pendidikan kesehatan. Faktor pengganggu seperti sejarah. kemudian dilakukan pengukuran (observasi) atau postes (02). Dengan randomisasi ®. sebab pretes tidak dilakukan untuk menentukan data awal.Memerlukan sarana dan pengelolaan yang rumit c. memungkinkan penelitian mengukur pengaruh prilaku (intervensi) pada kelompok eksperimen dengan cara membandingkan kelompok tersebutdengan kelompok control. 2.Dapat secara langsung menetapkan besarnya angka resiko dari suatu waktu ke waktu yang lain. testing. Rancangan Randomisasi Salomon four group rancangan ini dapat mengatasi kelemahan eksternal validitas yang ada pada rancangan randomized group pretes-postes. 3. Karena kedua kelompok sama pada awalnya. hasil 02 tidak mungkin dibandingkan dengan yang lain. Rancangan eksperimen semu (squasi experiment design Dalam penelitian eksperimen sering digunakan simbol atau lambang-lambang sebagai berikut : R : Randomisasi (randomizations) 0 1 (T1) : Pengukuran pertama (pretes) X : Perlakuan atau eksperimen 0 2 (T1) : Pengukurankedua (postes) 1. dan kita tidak dapat membuat generalisasi dari penelitian itu untuk populasi c. RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMEN Rancangan penelitian eksperimen dikelompokkan menjadi 3. b.Dapat mengatur komparabilitas antara dua kelompok (kelompok subjek dan kelompok kontrol) sejak awal penelitian. Keterbatasan Penelitian Cohort a.Ada keseragaman observasi. maka eksternal validitas terganggu. Tetapi rancangan ini tidak memungkinkan peneliti untuk menentukan sejauhmana atau seberapa besar perubahan itu terjadi. Setelah beberapa waktu lalu dilakukan postes (02) pada kedua kelompok tersebut. Perbandingan Kelompok Statis Rancangan ini sama seperti Postes only design hanya bedanya menambahkan kelompok control atau kelompok perbandingan Kelompok eksperimen menerima perlakuan (X) yang diikuti dengan pengukuran kedua atau observasi (02). kelompok-kelompok tersebut dianggap sama sebelum dilakukan perlakuan. Rancangan Postes dengan kelompok kontrol Rancangan ini sama seperti rancangan eksperimen murni yang lainnya hanya saja bedanya tidak dilakukan pretest. c. Rancangan ini tidak ada kontrol dan internal validitas dan tidak mempunyai dasar untuk melakukan komparasi atau perbandingan sehingga kesimpulan yang diperoleh menyesatkan. maturasi dan instrument dapat dikontrol walaupun tidak dapat diperhitungkan efeknya. Apabila pretes mungkin mempengaruhi subjek sehingga mereka menjadi lebih sensitive terhadap perlakuan (X) dan mereka bereaksi secara berbeda dari subjek yang tidak mengalami pretes. baik terhadap faktor resiko maupun efek dari waktu ke waktu. artinya pengelompokan anggota-anggota kelompok control atau kelompok eksperimen dilakukan berdasarkan acak atau random. b.

yaitu data tentang memakai depo propera atau tidak. Eksploratif 2. Disebut eksperimen semu karena eksperimen ini belum atau tidak memiliki cirri-ciri rancangan eksperimen yang sebenarnya. dilakukan pengambilan data obesitas (variabel akibat). hubungan atau pengaruh • Rancangan Penelitian Eskperimen: digunakan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara dua variabel. Rancangan Non-Equivalent Control Group) d. Rancangan Separate Sample Pretest-Posttest) f. Rancangan rangkaian waktu (Time series design) b. yaitu kelompok yang tidak mempunyai kriteria variabel sebab • Contoh: Hubungan antara Depo Provera dengan Obesitas pada Wanita Usia Subur • Jika penelitian menggunakan pendekatan Cohort. Cohort / Prospektif 3. Analitik 4. karena variable-variabel yang seharusnya dikontrol atau dimanipulasi. serta baik yang obesitas maupun tidak) • Cara pengambilan data. sekaligus diukur sedang mengalami obesitas atau tidak BAGAN DESIGN ANALITIC RESEARCH CROSS SECTIONAL PENDEKATAN COHORT • Penelitian Analitik dengan pendekatan Cohort adalah penelitian dimana pengambilan data variabel bebas (sebab) dilakukan terlebih dahulu. Bentuk-bentuk rancangan eksperimen semu (Quasi experiment) a. Eksperimental • Rancangan Penelitian Eksploratif: digunakan untuk menelusuri kemungkinan adanya hubungan sebab akibat antara dua variabel yang belum pernah diketahui • Rancangan Penelitian Deskriptif: digunakan untuk menggambarkan besarnya masalah (variabel Orang. Deskriptif 3. dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancaman-ancaman validitas. maka populasinya adalah: • Semua Wanita Usia Subur (baik yang ikut depo provera maupun tidak. Rancangan rangkaian waktu dengan kelompok pembanding (Control time series design) c. untuk melihat perubahan yang terjadi mulai awal sampai waktu yang ditentukan secara berurutan BEDA RANCANGAN PENELITIAN OBSERVASIONAL DAN EKSPERIMENTAL • Penelitian observasional adalah penelitian dimana peneliti hanya melakukan observasi. setelah beberapa waktu kemudian baru dilakukan pengambilan data variabel tergantung (akibat) • Populasi pada penelitian ini adalah semua responden yang mempunyai kriteria variabel sebab (sebagai kelompok studi) • Pada penelitian Cohort perlu kontrol. Cross Sectional 2. maka populasinya adalah: • Semua Wanita Usia Subur yang menggunakan Depo Propera (kelompok studi) • Sedangkan kelompok kontrolnya adalah: semua WUS yang tidak menggunakan Depo Propera • Setelah diamati beberpa waktu tertentu (misal 1 tahun). setiap responden diambil datanya untuk dua variabel sekaligus • Setiap responden (WUS). tanpa memberikan intervensi pada variabel yang akan diteliti • Penelitian ekperimental adalah penelitian dimana peneliti melakukan intervensi pada variabel sebab yang akan diteliti PENDEKATAN PENELITIAN OBSERVASIONAL Pada penelitian observasional dibedakan tiga pendekakan: 1. Retrospectif / Kasus Kontrol PENDEKATAN CROSS SECTIONAL • Penelitian Analitik Cross Sectional adalah penelitian observaional dimana cara pengambilan data variabel bebas dan variabel tergantung dilakukan sekali waktu pada saat yang bersamaan • Populasinya adalah semua responden baik yang mempunyai kriteria variabel bebas dan variabel tergantung maupun tidak • Contoh: Hubungan antara Depo Provera dengan Obesitas pada Wanita Usia Subur • Jika penelitian menggunakan pendekatan Cross Sectional. dimana sebabnya merupakan intervensi peneliti • Pendekatan Cross sectional atau Transversal atau studi Prevalensi adalah penelitian yang dilakukan pada satu saat atau satu periode tertentu dan pengamatan obyek studi hanya dilakukan sekali • Pendekatan Longitudinal / Time series à Penelitian yang dilakukan pada periode waktu tertentu. Oleh sebab itu validitas penelitian menjadi kurang cukup untuk disebut sebagai eksperimenyang sebenarnya. dimana bentuk hubungan dapat: perbedaan. Rancangan Separate Sample Pretest-Posttest) MACAM DESIGN RESEARCH Berdasar tujuannya.Pada penelitian lapangan biasanya menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi experiment). Rancangan Separate Sample Pretest-Posttest) e. dilakukan pengambilan dua data sekaligus. rancangan penelitian dibedakan: 1. Desain ini tidak mempunyai pembatasan yang ketat terhadap randomisasi. baik pada kelompok sebab maupun kelompok akibat • Kemudian data kedua kelompok studi dan kontrol dianalisa dengan menggunakan uji statistik yang sesuai BAGAN DESAIN PENELITIAN ANALITIK COHORT . Tempat. Waktu) • Rancangan penelitian Analitik: digunakan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara dua variabel secara observasional.

misalnya setahun yang lalu. dibagi dua kelompok. sedang pada kelompok kontrol tidak dilakukan intervensi penyuluhan • Dilakukan pengambilan data pengetahuan. studi dan kontrol . serta pada kelompok studi dilakukan intervensi variabel sebab sedang pada kelompok kontrol tidak dilakukan intervensi. hasilnya dianalisa dengan uji statistik yang sesuai BAGAN DESAIN KUASI EKSPERIMEN TRUE EXPERIMENT DESIGN • True Experiment Design adalah penelitian experimen dimana kelompok studi dan kelompok kontrol pengambilan samplenya dilakukan secara randomisasi. dengan cara menanyakan pada responden • Contoh: Hubungan antara Depo Provera dengan Obesitas pada Wanita Usia Subur • Jika penelitian menggunakan pendekatan Retrospektif.PENDEKATAN RETROSPEKTIF • Penelitian Analitik dengan pendekatan retrospektif adalah penelitian dimana pengambilan data variabel akibat (dependent) dilakukan terlebih dahulu. baik pada kelompok studi dan kelompok kontrol. dimana pengambilan dilakukan secara randomisasi • Pada kelompok studi dilakukan intervensi penyuluhan. True Experiment DESAIN PRA EKSPERIMENT • Desain Pra Eskperimental adalah penelitian eksperimen yang hanya menggunakan kelompok studi tanpa menggunakan kelompok kontrol. hasilnya dianalisa dengan uji statistik yang sesuai DESIGN QUASY EXPERIMENT • Design Quasy Experiment adalah penelitian eksperimental dimana pada penelitian ini sudah ada kelompok studi dan kelompok kontrol. sedang pada kelompok kontrol tidak dilakukan intervensi penyuluhan • Dilakukan pengambilan data pengetahuan. kemudian baru diukur varibel sebab yang telah terjadi pada waktu yang lalu. Quasy Experiment 3. dibagi dua kelompok. Pra Eksperimental 2. serta pengambilan respondon tidak dilakukan randomisasi • Contoh: Pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan Ibu Hamil • Populasi: semua ibu hamil • Pre Test • Intervensi: penyuluhan • Post Test • Hasil Pre Test dan Post Test dibandingkan dengan uji statistik yang sesuai BAGAN DESAIN PRA EKSPERIMEN • Pada kelompok studi dilakukan intervensi penyuluhan. namun pengambilan responden belum dilakukan secara randomisasi • Contoh: Pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan Ibu Hamil • Populasi: semua ibu hamil. maka populasinya adalah: • Semua Wanita Usia Subur yang mengalami obesitas (Kelompok studi) • Sedang kelompok kontrolnya adalah: semua WUS yang tidak mengalami obesitas BAGAN DESAIN PENELITIAN ANALITIK RETROSPEKTIF DESAIN EKSPERIMENTAL • Penelitian Eksperimental adalah penelitian dimana peneliti melakukan interventi terhadap varibel sebab yang akan diteliti • Desain Esperimental dibagai tiga: 1. baik pada kelompok studi dan kelompok kontrol. • Contoh: Pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan Ibu Hamil • Populasi: semua ibu hamil. studi dan kontrol.