Anda di halaman 1dari 1

Perebutan Tanah antara Petani dan TNI di Kebumen Indonesia dapat dikatakan adalah negara yang agraris, oleh

karena itu tidak heran jika sering terjadi konflik-konflik yang dilatarbelakangi permasalahan memperebutkan tanah sebagai salah satu lahan produksi yang menunjang kehidupan manusia dan merupakan salah satu faktor penentu kesejahteraan masyarakat di dalam suatu negara. Jika dilihat konflik dengan latar seperti itu lebih sering terjadi antara kelompok dengan kelompok. Terkadang kontak fisikpun tak terhindarkan karena sengketa agriaria tersebut. Seperti halnya dengan yang terjadi di Kebumen dimana terjadi konflik antara Petani dengan TNI. Permasalahannya adalah adanya perebutkan lahan yang masing-masing pihak mengklaim bahwa mereka memiliki hak atas tanah tersebut. Konflik ini berawal karena penolakan petani di 15 desa dari tiga Kecamatan (Milit, Ambal, Bulus Pesantren), di Kabupaten Kebumen terhadap rencana pembangunan Pusat Latihan Tempur TNI AD (PUSLATPUR TNI AD). PUSLATPUR tersebut rencananya akan dibangun seluas 500 meter dari garis pantai ke arah utara sepanjang 22,5 km. Selama ini latihan tempur yang dilakukan TNI selalu saja mengakibatkan kerusakan tanaman petani dan tidak ada kompensasi yang layak diberikan pada petani. Bahkan dari berita terbaru saat ini konflik tersebut telah menelan 13 korban.(Seruu.com, 2011). Menurut Riyono selaku Sekjen DPP PPNSI (Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia) mengatakan bahwa dualism hukumlah yang melatar belakangi konflik ini. Dualisme hukum ini menghadapkan antara hukum negara (TNI ) dengan hukum petani (hukum adat/lokal). TNI menempatkan hukum sebagai determinan struktur yang terekonstruksi dalam wujudnya yang bersifat substantive (berkandungan etis) ke wujud yang lebih menekankan bentuknya yang formal. TNI ngotot menggunakan tanah urut sewu berdasarkan formalitas yang dimiliki dengan mengabaikan hukum adat yang bersifat lokal. TNI merasa prosedural birokrasi sudah dilalui sehingga membenarkan langkah hukum untuk menindak petani yang dianggap melawan Negara (Riyono . Sebaliknya petani berpegang kepada hukum lokal, dimana menurut Moore 1973 bahwa hukum adat yang bersifat lokal memiliki kekuatan dalam realitas pola perilaku masyarakat (pattern of actual behavior).