Anda di halaman 1dari 12

PEMBAHASAN BATASAN Keracunan yaitu suatu keadaan penyakit akut yang diakibatkan oleh obat atau zat kimia

lain yang masuk atau mengenai tubuh manusia secara berlebihan (over dosis) baik dengan sengaja maupun tidak, yang dapat membahayakan jiwa.1 Keracunan dapat ditimbulkan berbagai macam zat yang terdapat dalam lingkungan sehari-hari, seperti: obat-obatan, makanan, pestisida, minyak tanah, bahan kimia dan lain-lain. Keracunan minyak tanah biasanya diakibatkan oleh aspirasi atau tertelannya minyak tanah sehingga muncul gangguan pernafasan.1,2 ETIOLOGI Karakteristik Minyak Tanah (Kerosen) Minyak tanah merupakan cairan bahan bakar yang jernih, tidak berwarna, tidak larut dalam air, berbau dan mudah terbakar.1 Minyak tanah (kerosene) adalah campuran cairan hidrokarbon (rantai panjang C9 - 16) yang dihasilkan dari penyulingan minyak mentah.3 Minyak tanah termasuk golongan senyawa hidrokarbon golongan alifatik. Minyak tanah (kerosene) berasal dari campuran paraffin dan naphthenes. Kadar toksiknya tergantung tingginya kadar hidrokarbon aromatik dan naphthenic.2,4 LATAR BELAKANG : Beberapa kemungkinan latar belakang penyebab terjadinya keracunan minyak tanah, antara lain, pada1 : 1) Anak-anak adalah : - Rasa ingin tahu (tidak tahu akan bahaya minyak tanah). - Kekurangperhatian dari orang tua (ketidaksengajaan anak / kelalaian orang tua). 2) Dewasa : - Tentamen suicide

ANGKA KEJADIAN Insidensi keracunan minyak tanah, yakni :

1. Anak-anak dibawah 6 tahun, lebih banyak dibandingkan pada dewasa.

Kejadian ini lebih banyak diakibatkan oleh kelalaian orang tua, mengingat anak kecil umumnya tidak mengetahui akan bahaya minyak tanah.1 Penelitian di Nepal menunjukkan insidensi keracunan minyak tanah menempati urutan kedua terbanyak dari kejadian keracunan pada anak-anak, setelah organofosfat, dengan usia kurang dari 6 tahun.5
2. Kejadian di daerah perkotaan lebih banyak dibandingkan dengan di Desa.1

Hal ini dikarenakan jumlah pemakaian minyak tanah lebih banyak di Kota dibandingkan Desa.
3. Negara Berkembang lebih banyak angka kejadiannya dibandingkan dengan

negara maju.1 Hal ini karena jumlah pengguna minyak tanah lebih banyak di negara berkembang. Sedangkan di negara maju, sebagian besar sudah menggunakan gas LPG.
4. Laki-Laki lebih banyak dari pada wanita.1

Jalur Paparan Utama Toksisitas ini terjadi terutama karena komplikasi paru jika ada minyak tanah yang terhirup ketika menelan (aspirasi).3 Kinetik dan metabolisme Masing-masing komponen dari minyak tanah diketahui dapat mengalami penyerapan oleh kulit, sedangkan uap minyak tanah diserap jika terdapat paparan paru. Jumlah toksin yang diserap tergantung jumlah/dosis dan lama paparan. Sejumlah penelitian metabolisme pada binatang menunjukkan minyak tanah dikeluarkan dari peredaran melalui hati dan paru-paru. 3 TOKSIKOLOGI Bahaya utama terkait dengan minyak tanah adalah pneumonitis bahan kimia, akibat dari aspirasi muntah setelah meminum atau menghirup cairan minyak tanah atau air yang terkontaminasi (dengan minyak tanah). Komplikasi jarang dari keracunan minyak tanah mungkin aritmia jantung dan fibrilasi

ventrikel, yang dikaitkan dengan sensitivitas miokard yang meningkat terhadap katekolamin endogen. 3 A. Neurotoksisitas Paparan akut dengan minyak tanah pada manusia telah dikaitkan dengan berbagai efek SSP, termasuk iritabilitas, gelisah, ataksia, mengantuk, kejang, koma dan kematian; hal ini umumnya dianggap sebagai efek sekunder akibat hipoksia. Letargi dan "komplikasi SSP lainnya" dilaporkan terjadi pada sekitar 5% dari sukarelawan yang menelan 10 - 30 ml minyak tanah. 3 B. Paparan Saluran Nafas (Inhalasi) Uap minyak tanah mungkin sedikit mengiritasi sistem pernapasan, paparan tidak berakibat fatal, karena volatilitasnya yang rendah. Namun, paparan dalam ruang tertutup pada suhu tinggi dapat menyebabkan efek narkotik, seperti narkolepsi, cataplexy dan kebingungan, serta terdapat satu laporan dari paparan (uap) yang berakibat fatal pada anak. Aplikasi spray dapat menyebabkan paparan konsentrasi tinggi aerosol minyak tanah yang dapat menimbulkan tanda-tanda iritasi paru seperti batuk dan dyspnoea, di samping depresi SSP ringan. 3 Menghirup air yang terkontaminasi dengan minyak tanah dapat terjadi ketika berenang atau sebagai akibat dari insiden hampir tenggelam dan telah dikaitkan dengan "pneumonia lipoid eksogen". Aspirasi muntahan yang terkontaminasi minyak tanah, merupakan sumber sekunder paparan paru yang dapat menyebabkan pneumonitis kimiawi (lipoidal), suatu kelainan paru-paru yang berpotensi fatal dan onset lambat, ditandai dengan sianosis, sesak dan x-ray dada tampak opaque. 3 Pada jangka panjang, ada beberapa bukti yang menunjukkan adanya gejala sisa pada paru yang dapat terjadi setelah pneumonitis kimiawi. Efek ini dianggap ringan dan tidak diketahui relevansi klinisnya. 3 Tanda dan Gejala Akut: Efek samping utama yang timbul dari meminum minyak tanah adalah pneumonitis kimiawi (aspirasi) sebagai akibat dari aspirasi muntahan. Aspirasi terjadi akibat penderita batuk/muntah.1,3 Dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, mengantuk, inkoordinasi dan euforia. Aspirasi ke paru-paru menyebabkan

pneumonitis dengan gejala rasa tercekik, batuk, mengi, sesak napas, sianosis, dan demam. 3 Penyebaran aspirat melalui penetrasi pada membran mukosa, kemudian merusak epitel jalan napas, septa alveoli dan menurunkan jumlah surfaktan. Hal ini selanjutnya memicu terjadinya pendarahan, edema paru, ataupun kolaps pada paru. Kematian dapat terjadi akibat oedem dan konsolidasi paru.1 Jumlah kurang dari 1 ml dari aspirasi pada paru dapat menyebabkan kerusakan bermakna. Sedangkan kematian dapat diakibatkan aspirasi 2,5 ml pada paru, atau menelan 350 ml pada lambung. Jumlah 1 ml/kg BB minyak tanah dapat menyebabkan depresi CNS ringan-sedang, karditis, kerusakan hepar, kelenjar adrenal, ginjal dan abnormalitas eritrosit. Namun hal ini jarang terjadi karena minyak tanah tidak diabsorbsi dalam jumlah banyak pada saluran pencernaan, dan diekskresikan lewat urine. 1 C. Paparan pada Kulit Paparan kulit yang akut dapat menyebabkan iritasi lokal (eritema, gatalgatal) tetapi tidak dianggap sebagai penyebab alergi kulit. Sebagian kecil individu (<5%) mungkin menunjukkan hipersensitivitas terhadap minyak tanah dan kontak pada kulit dapat menyebabkan luka seperti "terbakar".3 Tanda dan Gejala Akut: Iritasi, kulit kering dan retak akibat defatting. Mungkin timbul nyeri sementara disertai dengan timbulnya eritema, lepuh dan luka bakar superfisial. Kulit yang terpapar minyak tanah dapat menyebabkan dermatitis melalui mekanisme ekstraksi endogen lipid kulit. 3 D. Paparan pada Mata Tanda dan Gejala akut: Minyak Tanah (kerosene) merupakan bahan iritan ringan dan bersifat sementara pada mata. Produk ini diperkirakan memiliki pH netral, tetapi dapat mengiritasi mata yang segera menyebabkan rasa tersengat, sensasi terbakar, konjungtivitis, hiperemi dan lakrimasi. 3

E. Paparan Oral (Menelan) Tanda-tanda keracunan minyak tanah (meminum), antara lain: diare, mual dan muntah. Sekitar 30-50% dari anak-anak yang dicurigai meminum minyak tanah tidak menunjukkan gejala. Anak-anak dapat survive ketika menelan hingga 1,7 g/kg, namun telah dilaporkan terdapat kasus keracunan yang fatal dikaitkan dengan dosis mulai 2 - 17 g/kg. Bagaimanapun, kejadian kematian pada paparan oral biasanya dikaitkan dengan aspirasi muntahan daripada akibat toksisitas sistemik, muntah terjadi pada sekitar sepertiga hingga setengah dari pasien. 3 Tanda dan Gejala Akut: Menelan minyak tanah atau paparan akut terhadap uapnya dapat menyebabkan tanda-tanda umum keracunan, seperti gejala SSP ringan (pusing, sakit kepala, mual), muntah, dan kadang-kadang diare. Namun, seringkali juga tidak ada gejala. 3 F. Pengaruh Paparan yang Kronis/Berulang Efek kesehatan yang paling umum terkait dengan paparan minyak tanah kronis / berulang adalah dermatitis, yang mungkin berhubungan dengan pemakaian peralatan pelindung pribadi (PPE) yang tidak memadai atau tidak sesuai di lingkungan kerja. Efek pada paru (seperti sesak nafas) pernah dilaporkan, namun cenderung dihubungkan dengan paparan "tingkat tinggi". Dapat dibayangkan bahwa efek pada paru-paru dan kulit juga dapat dijumpai pada individu yang menerima paparan tunggal dan akut. 3 Inhalasi Saat ini tidak ada penelitian yang tegas untuk menghubungkan paparan minyak tanah kronis atau berulang jangka panjang terhadap disfungsi paru (selain yang dikaitkan dengan aspirasi muntahan atau air yang terkontaminasi). Ada bukti terbatas untuk menunjukkan bahwa paparan kronis mungkin berhubungan dengan sesak dada dan kesulitan bernapas, meskipun tinjauan dari durasi dan tingkat paparan dalam studi tersebut tidak dilaporkan.3 Meminum/menelan: Paparan oral kronis untuk minyak tanah tidak mungkin timbul dalam keadaan normal dan saat ini tidak ada data mengenai efek kronis pada manusia yang meminum minyak tanah. 3

Paparan kulit/mata: Paparan minyak tanah kronis pada kulit diketahui menyebabkan dermatitis. 3 Neurotoksisitas Paparan jangka panjang dari minyak tanah konsentrasi "rendah" telah dilaporkan dapat menyebabkan efek SSP non-spesifik seperti gelisah, kehilangan nafsu makan dan mual yang tidak terkait dengan hipoksia. 3 Genotoksisitas Peningkatan perubahan sitogenetik (pada limfosit perifer dan micronuclei sumsum tulang) telah dilaporkan pada penelitian terbatas terhadap pekerja yang terkena campuran minyak tanah, bahan bakar bunker, semangat putih dan xilene. Namun, paparan campuran tersebut menyebabkan kesimpulan spesifik sulit dibuat, dan hasilnya tidak bisa dihubungkan dengan efek pada paparan minyak tanah saja, baik pada hewan atau pada tes mutagenisitas in vitro. 3 Karsinogenisitas Jumlah kanker paru-paru yang sangat meningkat pada sebuah penelitian besar kohort terhadap para pekerja Jepang yang terpapar minyak tanah, minyak diesel, minyak mentah dan minyak mineral. Dalam penelitian lain di Jepang, jumlah kejadian kanker lambung yang sangat tinggi di antara para pekerja yang mungkin terkena paparan minyak tanah, minyak mesin atau lemak. Tiga studi kasus kontrol menemukan hubungan antara kanker paru-paru dan penggunaan kompor minyak tanah untuk memasak di antara perempuan di Hong Kong, namun, tidak bisa dibedakan antara paparan minyak tanah dengan paparan produk hasil pembakaran. Mengingat bahwa studi tersebut tidak bisa menunjukkan efek spesifik dari minyak tanah, sehingga belum memadai untuk mengklasifikasikan minyak tanah sebagai karsinogen manusia.3 Reproduksi dan perkembangan toksisitas Bukti saat ini menunjukkan minyak tanah yang tidak memiliki efek yang dapat diukur pada reproduksi atau pengembangan manusia. 3 KRITERIA DIAGNOSIS 1,2 1. Anamnesa : Riwayat menelan minyak tanah

2. Gejala inhalasi euphoria 3. Gejala akibat minyak tanah yang terminum: a. Minyak tanah yang tertelan dapat menyebabkan gejala iritatif dan perasaan

terbakar pada tenggorok, esophagus, dan ulkus pada mukosa. Hal ini dapat menimbulkan gejala : mual, muntah, diare, dan nyeri perut b. Gejala fibrilasi ventrikel, walaupun jarang terjadi. Fibrilasi ventrikel ini disebabkan karena minyak tanah menyebabkan sensitisasi jantung terhadap katekolamin eksogen dan endogen. (epinefrin dan norepinefrin).
c. Gejala pada susunan saraf pusat berupa somnolen, sakit kepala,

kebingungan. Gejala yang berat dapat timbul koma dan kejang.


d. Gejala awal aspirasi ke paru : Batuk, rasa tercekik dikuti dengan takikardia

dan takipnea. Dalam waktu 6 jam timbul merintih, pernafasan cuping hidung, retraksi dan mengi. Bronkopneumonia dapat terjadi pada kondisi yang berat. Hal ini bukan disebabkan oleh minyak yang diabsorbsi melalui oral atau ekskresi minyak tanah melalui paru-paru, tetapi akibat aspirasi trakheobronkial. e. Pada intoksikasi yang berat dapat pula dilihat kelainan pada urin berupa albuminuria
f. Tanda-tanda lain seperti rash pada kulit dan dermatitis bila terjadi paparan

pada kulit. Sedangkan pada mata akan terjadi tanda tanda iritasi hingga kerusakan permanen pada mata PEMERIKSAAN PENUNJANG 1,2
1. Laboratorium : Darah rutin, urin rutin, tes fungsi renal, tes fungsi hepar, dan

analisa gas darah (BGA)


2. Radiologis

: Foto thorak (pada aspirasi minyak tanah, dapat ditemukan gambaran pneumonitis). Paling bagus 1-2 jam setelah kejadian. Namun pneumonia dapat baru tampak pada foto rontgen setelah 6 18 jam.

PENYULIT 2

1. Pneumonia aspirasi 2. Edema paru akut 3. Sindroma distres pernafasan akut 4. Gangguan keseimbangan asam basa TERAPI Gawat darurat: Primary Survey :
1. Airway: jalan nafas dibuka, jaga agar tetap terbuka, posisi tubuh

dimiringkan dengan posisi stableside position, agar tidak terjadi aspirasi jikalau penderita muntah. Pasang gudell (OPA) jika diperlukan.1
2. Breathing support: pemberian oksigen konsentrasi tinggi (bila perlu

bantuan nafas). 1,2 a. Atasi bronkospasme dengan bronkodilator (nebulizer)


b. Bila kelainan paru cukup berat, sebaiknya rawat di PICU. Bila terjadi

gagal nafas, dapat dilakukan ventilasi mekanik.


3. Circulation:

pemberian

cairan

melalui

jalur

intra

vena

untuk

mempertahankan curah jantung dan kebutuhan cairan tubuh. 1 Suportif 1,2: 1. 2. Tanpa kelainan klinis/radiologik observasi minimal 4 jam Bila foto toraks ulangan setelah 4 jam normal boleh pulang
3.

Antibiotik diberikan sebagai profilaksis terhadap infeksi sekunder jika didapatkan pneumonia berat dengan febris atau

terutama imun.
4. 5.

leukositosis, gangguan gizi, dan penyakit paru sebelumnya atau defisiensi Kalau perlu bisa diberikan cairan infus. Kortikosteroid tidak bermanfaat untuk menurunkan kerusakan

paru.2 Penelitian pada binatang menunjukkan tidak ada perbedaan outcome antara pemberian steroid dengan kontrol pada keracunan kerosene.6 6. Antasida, untuk cegah iritasi mukosa lambung

7. 8.

Pemberian Norit sebagai absorbent. Pemberian susu atau bahan dilusi lain 9. Anus dan perineum harus dibersihkan secepatnya untuk mencegah iritasi (skin burn) sekunder

Hindari :
1. Jangan

kumbah lambung! Karena pengosongan lambung dapat

meningkatkan resiko aspirasi.2 Penelitian di AS dan Kanada, tahun 1956, menunjukkan bahwa kumbah lambung (gastric lavage) tidak memberi manfaat dan tidak menambah bahaya pada pasien dengan keracunan kerosene.7 Penelitian lain menunjukkan tingkat kejadian fatal meningkat pada pasien yang dilakukan tindakan bilas lambung. Tindakan kumbah lambung hanya dapat dilakukan apabila pasien jelas diketahui meminum minyak tanah dalam jumlah besar.8 Penelitian prospektif di Iraq (1970), menunjukkan kejadian komplikasi paru lebih kecil pada pasien yang dilakukan bilas lambung.4 Penelitian di Iraq pada 1995, menyatakan bahwa bilas lambung tidak perlu dilakukan pada keracunan kerosene.9
2. Obat yang menimbulkan muntah (bahaya inhalasi).1 3. Adrenalin (myocardium sudah sensitif terhadap keracunan minyak tanah).1 4. Alkohol dan minyak mineral (mempermudah absorbsi minyak tanah). 1

Dekontaminasi dan Pertolongan Pertama 3 Banyak pasien tetap baik dan tidak memerlukan pengobatan. Staf Ambulance, paramedis dan staf IGD yang menolong korban keracunan bahan kimia seharusnya dilengkapi dengan baju pelindung standar. 1. Pada Paparan Inhalasi 3 Jauhkan pasien dari paparan/zat kimia dan berikan oksigen. Pertahankan jalan napas yang bebas dan ventilasi yang adekuat. Terapkan langkah-langkah lain sesuai kondisi klinis pasien. 2. Pada Paparan Kulit 3 Jauhkan pasien dari paparan / zat kimia. Lepaskan semua pakaian yang kotor/tercemar. Cuci area yang terkontaminasi dengan sabun dan air.

Terapi sesuai gejala. 3. Pada Paparan Mata 3 Jauhkan pasien dari paparan / zat kimia. Lepaskan lensa kontak jika perlu, dan segera mengairi (irigasi) mata yang terkena secara menyeluruh dengan air atau 0,9% salin selama setidaknya 10-15 menit. 4. Pada Paparan oral 3 Kumbah lambung (Gastric lavage) tidak boleh dilakukan. Pertimbangkan aspirasi lambung dalam waktu 1 jam setelah meminum. Namun, jika yang diminum dalam jumlah yang sangat besar atau ada kekhawatiran adanya toksin lain, harus dipastikan jalan napas terlindungi. Berikan oksigen jika diperlukan. Pasien yang telah menelan dalam jumlah kecil dan tidak ada gejala kecurigaan aspirasi (rasa tercekik, batuk, muntah) atau keluhan lain sejak paparan, dapat diobservasi di rumah di bawah pengawasan selama 6 jam setelah paparan, dengan saran untuk mendatangi rumah sakit jika keluhan berkembang. Pasien dengan gejala kecurigaan aspirasi harus dirujuk ke rumah sakit. Pasien dengan gejala pernapasan persisten, mengantuk atau kejang harus dirawat di rumah sakit. Terapkan langkah-langkah lain sesuai kondisi pasien. PROGNOSIS 1 Parameter Panas Malnutrisi berat Distress respirasi Gejala neurologis Temuan Klinis (-) (+) (-) (+) (-) (+) tanpa sianosis (+) dengan sianosis (-) (+) tanpa konvulsi Poin 0 1 0 1 0 2 4 0 2

(+) dengan konvulsi

Prognostic score = (poin dari panas) + (poin dari malnutrisi) + (poin dari distress pernapasan) + (poin dari gejala neurologis)

Interpretasi : Skor minimum = 0 Skor maksimum = 10 Skor 4 berhubungan dengan lamanya MRS dan komplikasi Skor 8 berhubungan dengan peningkatan resiko kematian Skor 7 mengindikasikan anak akan selamat

DAFTAR PUSTAKA
1. Dwiaryaningrum dkk. Bagian Anestesi FK UNISSULA-RSI Sultan Agung

Semarang.
2. American Academy of Pediatrics. Americans College

of Emergency Grove Village:

Physicians. Advanced Pediatrics Life

Support. Elk

American Academiy of Pediatrics, 1989; 13145. 3. Chilcott RP. Compendium of Chemical Hazards: Kerosene (Fuel Oil). Chemical Hazards and Poisons Division of the UK Health Protection Agency (HPA). 2006 4. Nouri L dan Al-Rahim K. Kerosene Poisoning in Children. Postgraduate Medical Journal (February 1970) 46, 71-75. 5. Malla T, Malla KK, Rao KS, Gauchan E, Basnet S, Koirala DP. A Scenario of Poisoning in Children in Manipal Teaching Hospital. J Nep Paedtr Soc 2011;31(2):83-88. 6. Wolfsdorf J, dan Kndig H. Dexamethasone in The Management of Kerosene Pneumonia. Pediatrics. 1974;53;86
7. Press E, Adams WC, Chittenden RF, Christian JR, Grayson R, Stewart

CC, et al, Subcommittee on Accidental Poisoning. Co-Operative Kerosene Poisoning Study: Evaluation of Gastric Lavage and Other Factors in the Treatment of Accidental Ingestion of Petroleum Distillate Products. Pediatrics. 1962;29;648. 8. Cachia EA and Fenech FF. Kerosene Poisoning in Children. Arch. Dis. Childh., 1964, 39, 502. 9. Nagi NA, dan Abdulallah ZA. Kerosene Poisoning in Children in Iraq. Postgrad MedI 1995; 71: 419-422.