Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

PERKEMBANGAN EMOSI

ALDIAN KURNIA PUTRA (1110015000031) IPAN SUNARYA (1110015OOOO19) NINNA ARISTYANINGSIH (1110015000127) WILDA WILIYANI (11100115000056) Kelas: 3C P.IPS (GEOGRAFI)

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR Puja puji syukur kejadirat Allah SWT atas kehendak-Nya sehingga dapat terselesaikan makalalah ini dengan baik. Shalawat serta salam kita haturkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan kita. Kami mengucapkan terima kasih kepada Dra. Eni Rosda Syarbaini selaku dosen pengampu. Dan kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan pihak-pihak yang terakait dalam penyelesaian makalah ini. Makalah ini dibuat bertujuan sebagai salah satu tugas kelompok mata kuliah Perkembangan Peserta Didik. Materi dalam makalah ini adalah tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Perkembangan Emosi, dari tentang pengertian sampai upaya mengembangkan emosi beserta implikasinya dalam dunia pendidikan. Kami berharap makalah ini dapat berguna dan bermanfaat baik sebagai sumber pengetahuan ataupun sebagai sumber rujukan tentang perkembangan peserta didik. Kritik dan saran kami sangat membutuhkan guna dapat memperbaikisegala kesalahan dan demi pengembangan makalah-makalah selanjutnya. Atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.

Jakarta, 6 November 2011

DAFTAR ISI KATA PENGANTARi DAFTAR ISI..ii BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang...iii 2. Rumusan Masalah..iii 3. Tujuan Penulisaniii BAB II PEBAHASAN MATERI 1. Pengertian Emosi.1 2. Karakteristik Perkembangan Emosi..2 3. Jenis-jenis dan Ciri-ciri Emosi...4 4. Hubungan Antara Emosi dan Tingkah Laku...6 5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi8 6. Perbedaan Individu dalam Perkembangan Emosi...9 7. Upaya Mengembangkan Emosi Remaja dan Implikasinya Bagi Pedidikan...10 BAB III PENUTUP Kesimpulan......14 DAFTAR PUSTAKA15

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Pertumbuhan dan perkembangan emosi dapat di lihat dari tingkah laku lainnya yang ditentukan oleh proses pematangan dan proses belajar. Contohnya: seperti seorang bayi yang baru lahir ia dapat menangis dan akan mencapai proses kematangannya ketika tertawa nanti. Setiap anak memiliki emosi yang berbeda-beda dan biasanya hal ini tergantung dari suasana hatinya dan kadang juga di pengaruhi dari situasi di lingkungannya. Perasaan emosi anak ada yang negatif seperti rasa takut dan kecewa dan ada yang positif seperti gembira dan senang. Sebagai pendidik kita harus mengetahui setiap aspek tersebut dan hal yang lain merupakan sesuatu yang baik sehingga perkembangan remaja sebagai peserta didik berjalan dengan normal tanpa mengalami gangguan dan hambatan. 1.2. Rumusan masalah 1. Menjelaskan pengertian emosi 2. Menjelaskan karakteristik perkembangan emosi 3. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi 4. Menjelaskan hubungan antara emosi dan tingksah laku 5. Menjelaskan perbedaan individu dalam perkembangan emosi 6. Memeberi contoh upaya pengembangan emosi remaja daslam

penyelenggarakan pendidikan 1.3.Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian tentang emosi 2. Agar pembaca dapat mengetahui karakteristik perkembangan emosi 3. Merupakan salah satu syarat untuk memperleh nilai dalam perkuliahan khususnya dalam mata kuliah Perkembangan Peserta Didik

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Emosi Perbuatan atau perilaku kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau tidak senamg yang terlalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut warna efektif. Emosi dan perasaan adalah dua hal yang berbeda. Tetapi perbedaan antara keduanya tidak dapat dinyatakan dengan tegas. Pada suatu saat suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi; contohnya marah yang ditunjukkan dalam bentuk diam. Menurut Crow (1958) emosi adalah pengalaman efektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan fisik dan berwujud satu tingkah laku yang tampak. Emosi adalah warna efektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik. Pada saat terjadi emosi sering kali terjadi perubahan-perubahan pada fisik, antara lain: 1. Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona 2. Peredaran darah: bertambah cepat bila marah 3. Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut 4. Pernapasan: bernapas panjang kalau kecewa 5. Pupil mata: membesar bila marah 6. Liur: mengering kalau takut atu tegang 7. Bulu roma: berdiri kalau takut 8. Pencernaan: mencret-mencret kalu tegang 9. Otot: ketegangan dan ketakutanmenyebabkan otot menegang atau bergetar (tremor) 10. Komposisi darah: komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif. 2.2 karakteristik perkembangan emosi Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan. Suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Remaja juga menyadari bahwa aspek-aspek emosional adalah penting (Jersid, 1957:133). Berikut ini dibahas beberapa kondisi emosional seperti: a. Cinta/ kasih sayang Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kapasitasnya untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. b. Gembira

Perasaan gembira dari remaja belum banyak diteliti. Perasaan gembira sedikit mendapat perhatian dari petugas peneliti daripadaperasaan marah dan takut atau tingkah laku problema lain yang memantulkan kesedihan. c. Kemarahan dan permusuhan Sejak masa kanak-kanak,rasa marah telah dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasan sebagai seorang pribadi yang mandiri. d. Ketakutan dan kecemasan Menjelang anak mencapai masa remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan panjang yang mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan ketakutan. 2.3 Jenis dan ciri-ciri emosi Menurut Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun. Berikut ini ciri-ciri emosional remaja berusia 12-15 tahun: 1) Pada usia ini seorang siswa/anak cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka. Sebagian kemurungan sebagai akibat dari perubahan-perubahan biologis dalam hubungannya dengan kematangan seksual dan sebagian karena kebingungannya dalam menghadapi apakah ia masih sebagai anak-anak atau sebagai seorang dewasa. 2) Siswa mungkin bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri. 3) Ledakan-ledakan kemarahan mungkin bisa terjadi. Hal ini sering kali terjadi sebagai akibat dari kombinasi ketegangan psikologis, dan kelelahan karena bekerja terlalu keras atau pola makan yang tidak tepat atau tidur yang tidak cukup. 4) Seorang remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri yang disebabkan kurangnya rasa percaya diri. 5) Siswa-siswi di SMP mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif dan mungkin menjadi marah bila mereka ditipu dengan gaya guru yang bersikap serba tahu. Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun: 1) pemberontakan remaja merupakan pernyataan-pernyataan/ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak ke dewasa. 2) Karena bertambahnya kebebasan mereka, banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang tua mereka. Mereka mungkin mengharapkan simpati dan nasihat orang tua atau guru. 3) Siswa pada usia ini seringkali melamun, memikirkan masa depan mereka. Banyak diantara mereka terlalu tinggi menafsirkan kemampuan mereka sendiri dan merasa berpeluang besar untuk memasuki pekerjaan dan memegang jabatan tertentu.

2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi Sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar (Hurlock, 1960: 266) reaksi emosionalyang tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada, reaksi tersebut mungkin akan muncul di kemudian hari, dengan berfungsinya sistem endokrin. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak di mengerti, memperhatikan satu rangsangan dalam jangka waktu yang lebih lama, dan menimbulkan emosi terarah pada satu ogjek. Perkembangan kelenjar endokrin penting untuk mematangkan perilaku emosional. Bayi secara relatif kekurangan endokrin yang di perlukan untuk menopang reaksi fisiologis terhadap stres. Kelenjar adrenalin yang memainkan peran utama pada emosi mengecil secara tajam segera setelah bayi lahir. Kegiatan belajar turut menunjang perkembangan emosi, antara lain adalah: 1) Belajar dengan mencoba-coba 2) Belajar dengan cara meniru 3) Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification) 4) Belajar melalui pengkondisian 5) Pelatihan atau belajar dibawah bimbingandan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi. 2.5 Hubungan antara emosi dan tingkah laku serta pengaruh emosi dan tingkah laku Gangguan emosi dapat menyebabkan kesulitan berbicara. Hambatan-hambatan berbicara teretentu telah diketemukan bahwa tidak disebabkan oleh kelainan dalam organ berbicara. Bila dihadapkan kepada situasi-situasi yang menyebabkan ia kebingungan, dapat menimbulkan kedtidak normalandalam bebicara.banyak situasi yang timbul di sekolah atau dalam suatu kelompok tertentuyang dapat menyebabkan seseorang tidak senang. Seseorang tidak senang pada gurunya bukan berarti kepribadian guru tersebut yang tidak di senangi, dapat disebabkan karena sesuatu yang terjadi pada si anak didalam kelas. Jika ia merasa malu karena gagal dalam menghafal pelajaran didepan kelas, pada kesempatan lain ia akan takut dan menghindarinya. Mungkin ia akan membolos atau mungkin ia melakukan kegiatan lain yang lebih jelek lagi sepertimelarikan diri dari semua itu, dari orang tua, guru, atau dari otoritas-otoritas lainnya. Motivasi untuk belajar akan membantu individu dalam memusatkan perhatian pada apa yang ia sedang kerjakan dan dengan cara itu berarti ia akan memperoleh kepuasan. 2.6 Perbedaan individu dalam perkembangan emosi Meskipun pola perkembangan emosi dapat diramalkan, tetapi terdapat perbedaan dalam segi frekuensi, intensitas, serta jangka waktu dari berbagai macam emosi, dan juga saat permunculannya. Perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itudan taraf kemampuan intelektualnya, dan sebagian lagi disebabkan oleh kondisi lingkungan.

Ditinjau darikedudukannya sebagai anggota suatu kelompok keluarga, anak laki-laki lebih sering dan lebih kuat mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis kelamin mereka. Cara mendidik otoriter mendorong perkembangan emosi kecemasan dan takut, sedangkan cara mendidik yang permisif atau demokrasi mendorong berkembangnya semangat rasa kasih sayang. Anak-anak dari kwluarga yang berstatus ekonomi renda cenderung lebih mengembangkan rasa takutdan cemas dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga berstatus sosial ekonomi tinggi. 2.7 Upaya mengembangkan emosi remaja dan implikasinya bagi pendidikan Seorang remaja biasanya menunjukan kematangannya sering kali merasa terdorong untuk menentang otoritas orang dewasa. Sebagi seorang guru di SMA, seseorang ada dalam posisi otoritas, dan karena itu mungkin gurulah yang merupakan target dari pemberontakan dan rasa permusuhan mereka. Cara yang paling baik untuk menghadapi pemberontakan mereka adalah pertama, mencoba untuk mengerti mereka dan yang kedua, melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk membantu siswa berhasil berprestasi dalam bidang yang diajarkan. Seorang siswa yang merasa bingung terhadap sebuah rantai peristiwa yang dialaminya mungkin merasa perlu menceritakan penderitaannya, termasuk mungkin rahasia-rahasia pribadinya kepada orang lain. Karena itu seorang guru dimintai untuk berfungsi dan bersikap seperti pendengar yang simpatik.