Anda di halaman 1dari 9

EFEKTIVITAS PENURUNAN KADAR DODESIL BENZEN SULFONAT (DBS) DAN Chemical Oxygen Demand (COD) PADA LARUTAN YANG

MENGANDUNG DITERJEN DI PASARAN DENGAN SISTEM LUMPUR AKTIF

SKRIPSI

Oleh: I Putu Agus Budayasa NIM. 0908105009

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2012

BAB I PENDAHULUAN 1. Salah satu senyawa utama yang dipakai dalam deterjen adalah senyawa dodesil benzena sulfonat dalam bentuk natrium dodesil benzena sulfonat (NaDBS). membersihkan ruangan tempat tinggalnya. Senyawa ini mempunyai kemampuan untuk menghasilkan buih.2004) Dewasa ini tingkat pencemaran air mengalami peningkatan secara tajam seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal. Senyawa utama yang lainnya adalah natrium tripolifosfat (STTP) yang mempunyai kemampuan sebagai pembersih kotoran. menyiapkan makanan dan minuman sampai dengan aktivitas-aktivitas lainnya (Achmad. salah satunya adalah akibat adanya limbah deterjen. 1984). yang banyak menggunakan deterjen adalah usaha laundry (Golib. Kedua senyawa ini sulit terurai secara alamiah dalam air. Salah satu dampak yang terjadi adalah timbulnya buih di permukaan perairan sehingga dapat mengganggu pelarutan oksigen dalam air dan dapat .mulai dari membersihkan diri (mandi).1 Latar Belakang Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia dan mahluk hidup lainnya dan fungsinya bagi kehidupan tersebut tidak akan dapat digantikan oleh senyawa lainnya. Salah satu usaha yang berkembang pesat saat ini. sehingga kedua senyawa ini dapat mencemari lingkungan perairan.hampir semua kegiatan yang dilakukan manusia membutuhkan air . Produk deterjen saat ini sudah digunakan oleh hampir semua penduduk untukberbagai keperluan seperti mencuci pakaian dan perabotan serta sebagai bahan pembersih lainnya.

dan unsur-unsur mikro lainnya yang digunakan dalam . Pengolahan limbah dengan cara biologi adalah salah satu metoda yang memanfaatkan mikroorganisme dalam menguraikan senyawa yang terkandung dalam air limbah. kolam aerasi. 50 kolam oksidasi. 2001). 2001). fosfor. Lumpur aktif dapat mengandung berbagia ragam mikroorgansisme heterotrofik seperti bakteri. Lumpur banyak mengandung mineral. Proses pengolahan limbah secara biologis dapat bersifat aerobik dan anaerobik tergantung pada tujuannya. mikroorganisme memerlukan sumber nutrisi seperti karbon. protozoa dan beberapa organisme yang lebih tinggi.mengurangi keindahan (estitika). Adapun cara pengolahan limbah secara biologis meliputi pengunaan lumpur aktif. et al. Laksmi. Mikroorganisme dari lumpur tanah pertanian yang digunakan sebagai lahan pembuangan limbah kemungkinan memiliki kemampuan yang lebih tingga dalam menguraikan senyawa pencemaran (Buchari. et al. kimia dan biologi. nitrogen. dan sulfur dalam perairan. 1990). Pertumbuhan mikroorganisme dapat membentuk gumpalan massa yang dapat dipertahankan dalam suspense bila lumpur aktif diaduk. nitrogen. trickling filter. 2001. Sedimen berupa lumpur dalam perairan merupakan penunjang kehidupan penting bagi mikroorganisme. Oleh karena itu diperlukan teknik yang tepat dan efektif dalam pengolahan limbah deterjen (Izidin. et al. bahan organik dan unsur hara. Untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan mem-pertimbangkan sifat mikroorganisme perlu diperhatikan kondisi agar mikroorgansime dapat berkembang dengan baik sesuai dengan lingkungannya (Buchari.. Populasi mikroorganisme terbanyak yang terdapat dalam lumpur adalah pada bagian permukaan (Rhizophore).. Pengolahan limbah cair dapat dilakukan dengan cara fisika. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya.. Mikroorganisme dalam lumpur berperan penting dalam daur karbon.

proses metabolisme. vitamin dan antibiotic serta keberadaan mikroorganisme lainnya (Waluyo. Penggunaan metode lumpur aktif merupakan salah satu metode yang efektif dalam pengolahan limbah. 1994). . tempertur. 2001). Dalam pengolahan limbah dengan aerasi biasanya proses degradasi terjadi pada akhir fase log dari mikroorganisme tersebut(Manahan.kemampuan rangkain cara flotasi dan lumpur aktif dapat dilihat dengan menilai waktu optimal dan efektifitas setiap perlakuan dalam menurunkan kadar dodesil benzene sulfonat dan Chemical Oxygen Demand (COD) pada diterjen yang beredar di pasaran. 2005).. turbiditas. Perkembangan mikroorganisme dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor abiotik dan biotik. sedangkan faktor biotik meliputi kompetisi nutrient.Pengolahan limbah dengan metode lumpur aktif terbukti efektif dalam menurunkan nilai Chemical Oxygen Demand (COD) air limbah laundry (Dewi. 2010) berdasarkan kemampuan dari kedua metode tersebut maka penggunaan rangkaincara flotasi dan lumpur aktif dalam mengolah sampel diterjen yang beredar di pasaran diharapkan mampu menurunkan kandungan dodesil benzene sulfonat dan nilai COD-nya.dan lain sebagainya. Dan berhasil menurunkan nilai COD air limbah rumah sakit dengan persentase efektifitas perlakuan sebesar 54. Mikroorganisme dalam kondisi aerobik dapat mengkonversi bahan organik menjadi biomasa. et al.32% (Gelent. tekanan. Mikroorganisme juga dapat memanfaatkan kandungan senyawa yang terdapat dalam limbah untuk memenuhi kebutuhan nutrien mikroorganisme itu sendiri (Buchari. Faktor abiotik seperti cahaya. 2010) . Senyawa Nitrogen organik dikonversi menjadi ammonium atau nitrat. Senyawa organik fosfat dapat dikonversimenjadi ortofosfat.

Berapakah waktu optimal perlakuan aerasi terhadap kadar dodesil benzene sulfonat dari sampel diterjen yang beredar di pasaran yang sudah diflotasi? 2. 2. .3 Tujuan Penelitian Tujuan Dari penelitian ini adalah : 1. Berapakah waktu optimal reaksi lumpur aktif terhadap kadar dodesil benzene sulfonat dan nilai Chemical Oxygen Demand (COD) dari sampel diterjen yang beredar di pasaran ? 3.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan suatu rumusan permasalahan yaitu : 1.1. Bagaimanakah efektifitas penurunan kadar dodesil benzene sulfonat dan Chemical Oxygen Demand (COD) sampel diterjen pada perlakuan flotasi dan lumpur aktif ? 1. Menentukan waktu optimal perlakuan aerasi terhadap kadar dodesil benzene sulfonat dari sampel diterjen yang beredar di pasaran yang sudah diflotasi. menentukan waktu optimal reaksi lumpur aktif terhadap kadar dodesil benzene sulfonat dan nilai Chemical Oxygen Demand (COD) dari sampel diterjen yang beredar di pasaran.

Mengetahui efektifitas penurunan kadar dodesil benzene sulfonat dan Chemical Oxygen Demand (COD) sampel diterjen pada perlakuan flotasi dan lumpur aktif . Memberikan informasi mengenai metode pengolahan limbah yang mengandung dodesil benzene sulfonat yang tepat dan efektif. .4 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Memberikan solusi pengolahan limbah yang dapat digunakan dalam mengolah air limbah yang dihasilkan dari proses pencucian yang menggunakan diterjen. 1. 2.3.

H2SO4. pupuk NPK. pipet volume. Aerasi . Peralatan Peralatan yang digunakan dalam penelitian dikelompokkan menjadi dua yaitu peralatan pengolahan sampel deterjen di pasaran dan peralatan analisis kimia. sedimen (lumpur). Selama pembibitan dilakukan aerasi dengan aerator yang ujung selangnya ditempatkan pada dasar toples. NaH2PO4. dan aerator. Cara Kerja Pengolahan Limbah Detertjen Pembibitan (seeding) Sebanyak 3 gram lumpur yang diperoleh dari Sungai Mati. 1 gram NPK dimasukkan kedalam toples plastik yang sudah disii dengan akuades sebanyak 1 liter.BAB III METODELOGI PENELITIAN Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain sampel deterjen di pasaran. corong pisah. klroform. NaDBS.H2O dan akuades. Peralatan analisis kimia antara lain peralatn gelas seperti tabung reaksi. Toples plastik dengan volume 2 liter. timbangan analitik dan spektofotometer UV-Vis. Bahan kimia yang digunakan antara lain reagen Methylene blue. Peralatan pengolahan limbah deterjen antara lain bak pengolahan dengan volume 5 liter.

Bak pertama diisi dengan 1 liter cairan pembibitan. 2. 10 dan 15. Fase kloroform ditampung. selanjutnya didiamkan sampai terbentuk dua fase lagi. Fase kloroform dikumpulkan pada corong pisah yang lainnya.0 ppm. Selanjutnya dibuat larutan standar 1. Pada sistem pengolahan ini dilakukan aerasi dan pengamatan dilakukan pada hari ke 3. 7. Campuran dalam corong pisah dikocok selama 10 detik dan didiamkan sampai terbentuk dua fase yaitu fase kloroform dan fase air. 5. Pengolahan Limbah Deterjen Disiapkan 2 bak percobaan yang masing-masing diisi dengan 2 liter air limbah.0. sedangkan fase larutan pencuci dilakukan pencucian sebanyak dua kali dengan masing-masing 10 mL klroform. Perhitungan Efektivitas Untuk menentukan nilai efektivitas penurunan DBS dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut : . Pembibitan ini dilakukan selama 1 minggu. kemudian ditambahkan 50 ml larutan pencuci dan dikocok selama 60 detik. Fase klroroform dikumpulkan dan dibaca serapannya dengan spekrtofotometer pada panjang gelombang maksimum 644 nm. dilakukan pembuatan standar DBS dari senyawa NaDBS dengan konsentrasi DBS 100 ppm. Pembuatan Larutan Standar DBS Sebelum menentukan kadar DBS.0. 10. Penentuan Kadar DBS pada Sampel Sebanyak 10. 5.0 dan 25. kemudian ditambahkan dengan 25 mL kloroform dan 25 mL pereaksi methylene blue.0. Fase kloroform yang berada di bagian bawah diambil dan fase air dicuci dengan kloroform sampai warna biru pada fase air berkurang atau menghilang. dan bak kedua hanya diisi dengan limbah deterjen.0 mL sampel deterjen dimasukkan ke dalam corong pisah.dilakukan selain sebagai sumber oksigen juga dapat sebagai alat pengadukan dari proses pembibitan.

Efektifitas % = DBS awal–DBS selama pengolahan DBS awal .