Anda di halaman 1dari 19

Rhinitis Alergi

Grace Niken Nindita Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna utara no.6 Jakarta Barat

Latar Belakang Rinitis didefinisikan sebagai peradangan dari membran hidung yang ditandai dengan gejala kompleks yang terdiri dari kombinasi beberapa gejala berikut : bersin, hidung tersumbat, hidung gatal dan rinore. Mata, telinga, sinus dan tenggorokan juga dapat terlibat. Rinitis alergi merupakan penyebab tersering dari rinitis. Rinitis alergi adalah peradangan pada membran mukosa hidung, reaksi peradangan yang diperantarai IgE, ditandai dengan obstruksi hidung, sekret hidung cair, bersin-bersin, dan gatal pada hidung dan mata. Rinitis alergi mewakili permasalahan kesehatan dunia mengenai sekitar 10 – 25% populasi dunia, dengan peningkatan prevalensi selama dekade terakhir. Rinitis alergi merupakan kondisi kronik tersering pada anak dan diperkirakan mempengaruhi 40% anak-anak. Sebagai konsekuensinya, rinitis alergi berpengaruh pada kualitas hidup, bersama-sama dengan komorbiditas beragam dan pertimbangan beban sosial-ekonomi, rinitis alergi dianggap sebagai gangguan pernafasan utama. Tingkat keparahan rinitis alergi diklasifikasikan berdasarkan pengaruh penyakit terhadap kualitas hidup seseorang. Diagnosis rinitis alergi melibatkan anamnesa dan pemeriksaan klinis yang cermat, lokal dan sistemik khususnya saluran nafas bawah.

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Email : Grace.chu43@ymail.com Nim : 10.2009.205, Kelompok : B8

pernah diperiksa sebelumnya? Pernah menjalani tes alergi sebelumnya? dan penyakit yang sebelumnya pernah ibu ini derita. Apakah tempat tinggalnya bersih? (untuk mengetahui etiologinya tungau debu rumah. dll. Apakah daerah tempat tinggalnya bersih atau tidak? Di pemukiman padat penduduk atau tidak? d. ataupun punya riwayat alergi atau belum. Jenis : Berdarah? Purulenta (seperti nanah)? Mukopurulent (mengandung mukus maupun nanah)? Berair? Mukoid (seperti putih telur)? ii. atau taman bunga? Untuk mengetahui kemungkinan rinitis alergi musiman. Riwayat Penyakit Sekarang : Seorang ibu berusia 42 tahun datang dengan keluhan hidung sering tersumbat sejak 1 minggu yang lalu terutama pagi hari. Agama. kalau bersin sampai lebih dari 5 kali. kecoa. Lamanya : berhari-hari. Jumlah : sangat banyak dan konstan? Atau hanya kadang-kadang? iii. berminggu-minggu. 2. alamat. hidung gatal. hidung gatal. 5.Anamnesis 1. ingus encer. serta jamur  termasuk Rinitis alergi inhalan) b. bertahun-tahun? iv. Dimana tempat tinggalnya? Bagaimana kondisi lingkungan rumahnya? Apakah tempat tinggalnya di dekat perkebunan. ingus encer 4. 6. Pekerjaan. Suku Bangsa. Apakah tetangganya ada yang sedang sakit? Sakit apa? Atau sakit yang sama seperti pasien? 8. Sekret : i. Pertanyaan spesifik sekitar keluhan utama dan keluhan tambahannya yaitu : a. Riwayat Penyakit keluarga : apakah ada keluarga pasien yang menderita penyakit yang sama. Apakah memelihara binatang? (sama seperti diatas_Rinitis alergi inhalan) c. Tempat Tanggal lahir. mudah atau tidak? . 7. Identitas Pasien : Nama. Status pernikahan. serta riwayat rawat inap dengan penyakit yang sama ataupun penyakit lainnya. Bisa dikeluarkan atau tidak? Kalau bisa. Riwayat Penyakit Dahulu : perlu ditanyakan apakah Ibu ini pernah mengalami penyakit yang sama sebelumnya. Keluhat Tambahan : sering bersin lebih dari 5 kali. Keluhan Utama : hidung sering tersumbat sejak 1 minggu yang lalu terutama pagi hari 3. sering bersin. riwayat alergi. Kondisi tempat tinggal dan Lingkungan : a. Umur.

Apakah pasien bernafas lewat mulut saat keluhan terjadi? (tanyakan apakahh bibir atau tenggorokan kering dan nyeri di pagi hari. Hidung tersumbat (obstruksi hidung) i. perubahan suhu yang tiba-tiba. Apakah ada kondisi-kondisi tertentu yang bisa menyebabkan keluhannya kambuh? Tergantung musim? Apakah hanya pagi saja / terus menerus sepanjang hari? Adakah kondisi lainnya selain pagi hari yang bisa menyebabkan keluhan timbul? Misalnya cuaca dingin. total) ii. Apakah ada demam? (DD/ Rinitis simpleks) i. Derajat obstruksinya? (ringan. berbulan-bulan. berminggu-minggu. makan yang pedas-pedas dll. Di sisi mana? Kanan. kemungkinan pasien bernafas lewat mulut sewaktu tidur) c. apakah ada Sakit tenggorok? Mialgia? Nyeri kepala? g. Bagaimana ingusnya? i. Rinitis simpleks et causa virus : ingus encer. d. Rinitis vasomotor : mukoid atau serosa dan banyak iii. ingus menjadi mukopurulen iv. Rinitis simpleks et causa virus : jarang demam f. bertahun-tahun? iv. tapi bila terjadi infeksi skunder bakteri. Lamanya obstruksi? berhari-hari. Hal-hal apa sajakah yang bisa memperberat keluhan? e.v. sedang. Selain bersin dan hidung tersumbat. i. Apakah sekeretnya terutama disalah satu lubang hidung? b. Rinitis alergi dan vasomotor : tidak ada demam ii. Apakah obstruksi memburuk di dalam atau diluar rumah? (tanda reaksi alergi/vasomotor) v. Rinitis simpleks etcausa Bakteri : demam tinggi iii. Pada rinitis alergi : encer dan banyak ii. Bagaimana bersinnya? Berulang? . Rinitis simpleks et causa bakteri : ingus mukopurulen dan banyak. kiri atau kedua-duanya? Bergantian? ( jika bergantian merupakan fenomena fisiologis normal) iii. Adakah keluhan mata gatal? Pada rinitis alergi h.

frekuensi nafas.Pemeriksaan Fisik Dalam pemeriksaan fisik hal pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan TTV (tanda-tanda vital) berupa Tekanan darah. denyut nadi. somnolen. bagaimana kesadaran pasien apakah compos mentis. Selain itu juga diperhatikan bagaimana keadaan umum pasien. . berwarna pucat atau livid disertai adanya sekret encer yang banyak. dan lain sebagainya. dan suhu tubuh. seperti apakah pasien tersebut datang dalam kondisi lemah. In vitro1  Pemeriksaan rinoskopi anterior Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema. basah. Sedangkan pemeriksaan fisik spesifiknya untuk rinitis alergi : Inspeksi :        Palpasi     Nyeri tekan Krepitas Atrofi kulit luar hidung Raba panas Apakah ada kelainan congenital pada hidung Jaringan parut dalam hidung Deviasi septum Tampak pembengkakan & hiperemis pada konka hidung Oedem mukosa Mukosa hidung hiperemis Pernapasan melalui mulut Pemeriksaan Penunjang 1.

 Hitung eosinofil dalam darah tepi Dapat normal atau meningkat. Demikian pula pemeriksaan IgE total (prist-paper radio immunosorbent test) seringkali menunjukkan nilai normal. selain alergen penyebab juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui. Keuntungan SET. jenis makanan setiap kali dihilangkan dari menu makanan sampai suatu ketika gejala menghilang dengan meniadakan suatu jenis makanan. selanjutnya diamati reaksinya. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan diet eliminasi dan provokasi (“Challenge Test”). . Pemeriksaan ini berguna untuk prediksi kemungkinan alergi pada bayi atau anak kecil dari suatu keluarga dengan derajat alergi yang tinggi. Karena itu pada Challenge Test. makanan yang dicurigai diberikan pada pasien setelah berpantang selama 5 hari.000. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil 5 sel/lap mungkin disebabkan alergi makanan. tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Jumlah eusinofil dalam kondisi normal antara 14% jumlah leukosit darah. Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu lima hari. Untuk alergi makanan. kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit. Pada diet eliminasi. sedangkan jika ditemukan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri. misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria.Pemeriksaan naso endoskopi dan Pemeriksaan sitologi hidung. uji kulit seperti tersebut diatas kurang dapat diandalkan. Jumlah leukosit dalam darah rata-rata 5000-10. In vivo1 Alergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit kulit. walaupun tidak dapat memastikan diagnosis. SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat kepekatannya. Lebih bermakna adalah pemeriksaan IgE spesifik dengan RAST (Radio Immuno Sorbent Test) atau ELISA (Enzym Linked Immuno Sorbent Assay) 2. uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point Titration/SET).

Serangan bersin berulang (lebih dari 5 kali) 3. 2. Hidung gatal 4. 3.Diagnosis Diagnosis dapat dipastikan melalui anamnesis. dapat pula ditemukan konjungtivis bilateral atau penyakit yang berhubungan lainnya seperti sinusitis dan otitis media. Pada pemeriksaan rinoskopi ditemukan mukosa hidung basah. Selain hidung. Pada muka biasanya didapatkan garis Dennie-Morgan dan allergic shinner. Garis ini timbul akibat hidung yang sering digosok-gosok oleh punggung tangan (allergic salute). berwarna pucat atau livid dengan konka edema dan sekret yang encer dan banyak. yaitu bayangan gelap di daerah bawah mata karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. mata gatal dan kadang-kadang disertai dengan lakrimasi ( air mata keluar). 5. Tidak ada demam. Alasannya : 1. Selain encer ingusnya jumlahnya juga banyak 4. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. 4. 3. Terdapat riwayat alergi Pada pemeriksaan fisiknya akan didapatkan : 1. . Dapat ditemukan juga allergic crease yaitu berupa garis melintang pada dorsum nasi bagian sepertiga bawah. Hidung tersumbat terutama pagi hari. Bersin lebih dari 5x 2. Ingus encer Selain itu pada khasus Rinitis alergi biasanya akan diperoleh keadaan sbb : 1. Dari skenario didapati diagnosis sementara (sampai dilakukan anamnesis selanjutnya dan beberapa pemeriksaan fisik) yaitu ibu tersebut menderita rinitis alergi. Perlu juga dilihat adanya kelainan septum atau polip hidung yang dapat memperberat gejala hidung tersumbat. Selain itu. 2.

kecoa. Sedang atau berat bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas hampir sama. Misalnya musim bunga. Saat ini digunakan klasifikasi rinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO Iniative ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2000. Rhinitis alergi dibagi menjadi 2 golongan : 1. Rinitis alergi sepanjang tahun / Perrenial allergic rhinitis (PAR)  terjadi setiap saat dalam setahun. bila tidak ditemukan gangguan tidur. 2. berolahraga. bersantai. yaitu berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi : 1.Rhinitis alergi Pengertian Inflamasi pada membran mukosa hidung yang disebakan oleh adanya alergen yang terhirup yang dapat memicu respon hipersensitivitas. animal. rinitis alergi dibagi menjadi : 1. dander. belajar. bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu 2. Penyebab utamanya adalah : debu. Rhinitis alergi musiman / Seasonal allergic rhinitis (SAR)  terjadi pada waktu yang sama setiap tahunnya. Persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan atau lebih dari 4 minggu Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit. jamur. hanya berbeda dalam sifat . Gejala keduanya berlangsungnya. Intermiten (kadang-kadang) : bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu 2. Klasifikasi Berdasarkan waktunya. Ringan. banyak serbuk sari beterbangan. gangguan aktifitas harian.

Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena perubahan suhu yang ekstrim. udara lembab. endokrin dan faktor lain. Jarang terjadi bersin dan rasa gatal.Hidung mungkin sensitive terhadap pengaruh hormone.Reaksi bisa disebabkan oleh disfungsi sistem saraf autonom. Biasanya penderita rinitis vasomotor tidak mempunyai riwayat alergi pada keluarganya. Rinitis vasomotor Gejala penderita rinitis alergi atau rinitis vasomotor kadang – kadang sulit dibedakan karena gejala – gejalanya mirip. obstruksi hidung. Biasanya tidak terdapat variasi musim. tergantung pada posisi pasien.2 Hidung tersumbat. Biasanya rinitis non alergika ini disertai dengan gejala – gejala obstruksi saluran pernafasan hidung dan rinorea yang hebat. fisik. maka ia dapat pula menyerupai rinitis alergika musiman. Terdapat rinorea yang mukus atau serosa. Biasanya ia tidak ditemukan atau tidak jelas pada rinitis vasomotor. tetapi disamping itu. yaitu obstruksi hidung. oleh karena itu reaksi rhinitis vasomotor mungkin berhubungan dengan kehamilan atau kontrasepsi per oral.Different Diagnosa 1. bergantian kiri dan kanan. Biasanya penderita rinitis alergika lebih merasakan gatal dan bersin berulang seperti “ staccato“. Jarang disertai bersin dan tidak disertai gatal di mata. . Mereka menjelaskan fenomena iritatifnya dimulai di usia dewasa. kadang agak banyak. Hal ini terjadi bila pasien sensitif pada perubahan suhu yag menyertai perubahan musim. Tetapi karena mungkin terdapat remisi dan eksaserbasi. juga karena asap rokok dan sebagainya. tetapi gejalanya dapat menyerupai rinitis alergika sepanjang tahun. rinorea dan bersin dapat disebabkan oleh faktor iritasi . rinorea dan bersin. Penderita dengan anamnesis rinitis vasomotor bisa menggambarkan sensitivitas yang tidak biasa terhadap kelembaban udara. tapi rhinitis vasomotor pada kehamilan segera menyembuh setelah melahirkan dan mungkin berhubungan dengan keseimbangan hormone.

lemas. Bersin yang berulang-ulang 3. III. demam. Yang membedakannya adalah pada infeksi bakteri primer maupun skunder pada hidung. Rinitis simpleks et causa virus. Penyebab tersering menimbulkan penyakit infeksi di hidung adalah organisema gram-positif yaitu Stafilokokus koagulase positif. Aspergilosis ii. Virus lain dapat berupa Myxovirus. Hidung tersumbat dengan ingus encer ( jadi purulen bila ada infeksi bakteri) Dapat sembuh dalam 5-10 hari bila tidak ada komplikasi. Berdasarkan penyebabnya Rinitis simpleks dapat dibagi menjadi 3. Rhinitis simpleks et causa jamur. kering dan gatal dalam hidung. Tanda klinis : i. Rinitis simpleks merupakan penyakit paling sering diteukan pada manusia. Biasanya berbentuk infeksi : i. 2. pilek. Ulkus ataupun perforasi septum.2. Candidiasis b. Prodraomal. c.3 I. Coxsakie virus. a. Pseudomembran iii. Terapi : . Rinitis simpleks Nama lainnya yaitu common cold. slesma. d. Gejala klinis adalah seperti berikut : 1. Rhinitis simpleks et causa bakteri. et causa bakteri dan et causa jamur. Rinitis bakterialis sering menjadi sinusitis. II. Sekret mukopurulen berbau ii. berupa rasa panas. flu. Blastomikosis iii. Gejala klinisnya hampir sama dengan Rhinitis simpleks et causa virus. Penyebab terseringnya adalah Rhinovirus. ECHO virus. Biasanya mengenai tulang rawan septum sehingga dapat menyebabkan perforasi / hidung pelana. Warnanya meramalkan jenis organisme yang menyerang jaringan hidung. yaitu rinitis simpleks et causa virus. biasanya sekretnya mukopurulen. atau nyeri kepala.

rerumputan serta jamur ( spora jamur). Pteronyssinus.coklat. polinosis). Alergen kontaktan. 3. Apabila kedua orang tua atopi. yang masuk melalui suntikan atau tususkan. Obat anti jamur ii.5 Di Indonesia tidak dikenal Rinitis alergi musiman (seasonal. B. Alergen injektan. D. Epidemiologi Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien yang secara genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. berupa makanan. Alergen ingestan.i. perhiasan. 4. ikan laut. Pada 20 – 30 % semua populasi dan pada 10 – 15 % anak semuanya atopi. misalnya bahan kosmetik. anjing). kecoa. misalnya tungau debu rumah (D. Hanya ada di negara yang mempunyai 4 musim. Etiologi Penyebab rinitis alergi dapat dibagi berdasarkan cara masuknya : 1. Gentian violet untuk membersihkan hidung secara rutin. Genetik secara jelasmemiliki peran penting. hay fever. terpapar dan merangsang respon imun yang secara genetik telah memiliki kecenderungan alergi. 2.yang terdapat di seluruh lingkungan. Alergi inhalan. masuk bersama dengan udara pernapasan. misalnya susu. sapi. . misalnya penisilin dan sengatan lebah. yang masuk mellaui kontak kulit atau jaringan mukosa. serpihan epitel kulit binatang (kucing. masuk ke saluran cerna.farinae.Peran lingkungan dalam dalam rinitis alergi yaitu alergen. maka risiko atopi menjadi 4 kali lebih besar atau mencapai 50 %. udang kepiting dan kacang-kacangan.tropicalis). telur. Obat cuci hidung iii.

1. dan IL-13. maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi . antigen akan membentuk fragmen pendek peptide dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptide MHC kelas II (Major Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper (Th0).2 IL-4 dan IL-13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B. Th2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL-3. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan Late Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiper-reaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung smapai 24-48 jam. Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (IL-1) yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi imunoglobulin E (IgE). IL-4. Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Setelah diproses. IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar alergen yang sama. makrofag atau monosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung.Patofisiologi Rhinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi atau reaksi alergi. Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi. IL-5.

bradikinin. IL-5. netrofil. Akan tetapi serangan dapat terjadi terus-menerus (persisten) sepanjang tahun. Pada RAFL ini ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil. selain faktor spesifik (alergen). Platelet Activating Factor (PAF). juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM1). sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. Pada RAFC. perubahan cuaca dan kelembaban udara yang tinggi. IL-6. Eosiniphilic Derived Protein (EDP). iritasi oleh faktor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok. Leukotrien D4 (LT D4). berbagai sitokin (IL-3. limfosit. IL-4. Gambaran yang ditemukan terdapat pada saat serangan. Terdapat juga pembesaran ruang interseluler dan penebalan membran basal.1-6 Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh (vascular bad) dengan pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mukus. serta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada jaringan mukosa dan submukosa hidung. dan Eosinophilic Peroxidase (EPO). Respons ini tidak berhenti sampai disini saja. Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamin juga dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2). Pada fase ini. sehingga lama kelamaan terjadi perubahan yang ireversibel. Leukotrien C4 (LT C4). Selain histamin merangsang ujung saraf Vidianus. IL-5 dan Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) dan ICAM1 pada sekret hidung. GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor) dan lain-lain. Inilah yang disebut sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC). Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif hidung adalah akibat peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti Eosinophilic Cationic Protein (ECP). sehingga tampak mukosa hidung menebal. IL-4.degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Performed Mediators) terutama histamin. yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat dan hiperplasia mukosa. Histamin juga akan menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Diluar keadaan serangan. Dengan masuknya antigen asing ke dalam tubuh terjadi reaksi yang secara garis besar terdiri dari: . Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. mukosa kembali normal. bau yang merangsang. basofil dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti IL3. tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak 6-8 jam setelah pemaparan. Major Basic Protein (MBP).

1 Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak. yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process). atau memang sudah ada defek dari sistem imunologik. bila terjadinya lebih dari 5 kali setiap serangan. hidung tersumbat.1. yaitu rinitis alergi.3.7 Tanda-tanda alergi juga terlihat di hidung. Reaksi ini bersifat non spesifik dan dapat berakhir sampai disini.7 2. Bila Ag masih ada. Disebut juga sebagai bersin patologis. Bila Ag tidak berhasil seluruhnya dihilangkan. atau reaksi anafilaksis (immediate hypersensitivity). yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Tanda hidung termasuk lipatan hidung melintang – garis hitam melintang pada tengah punggung hidung akibat sering menggosok hidung ke atas menirukan pemberian hormat (allergic . Respon sekunder Reaksi yang terjadi bersifat spesifik. reaksi selesai. sebagai akibat dilepaskannya histamin. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik. tergantung dari daya eliminasi Ag oleh tubuh. Reaksi ini dapat bersifat sementara atau menetap. faring atau laring. 3. mata. yaitu tipe 1. Bila Ag berhasil dieliminasi pada tahap ini. tipe 2 atau reaksi sitotoksik. maka reaksi berlanjut menjadi respon tersier. reaksi berlanjut menjadi respon sekunder. Sebetulnya bersin merupakan gejala yang normal.1. Respon tersier Reaksi imunologik yang terjadi tidak menguntungkan tubuh. tipe 3 atau reaksi kompleks imun dan tipe 4 atau reaksi tuberculin (delayed hypersensitivity). yang mempunyai tiga kemungkinan ialah sistem imunitas seluler atau humoral atau keduanya dibangkitkan. Gell dan Coombs mengklasifikasikan reaksi ini atas 4 tipe. Bersin dianggap patologik. Gejala Klinis Gejala rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin berulang. telinga. Respon primer Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (Ag). Manifestasi klinis kerusakan jaringan yang banyak dijumpai di bidang THT adalah tipe 1. terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. hidung dan mata gatal.

Tanda di mata termasuk edema kelopak mata.(1. Seorang anak dengan rinitis alergi perenial dapat memperlihatkan semua ciri-ciri bernafas mellaui mulut yang lama yang terlihat sebagai hiperplasia adenoid. 1. Tanda pada telinga termasuk retraksi membran timpani atau otitis media serosa sebagai hasil dari hambatan tuba eustachii. lakukan imunoterapi. pucat dan edema mukosa hidung yang dapat muncul kebiruan. tetapi tidak efektif untuk mengatasi gejala obstruksi pada fase lambat.5 II. Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral. sakit kepala. dll. jendela ditutup. atau obat-obatan tadi menyebabkan efek samping yang tidak bisa diterima. Tanda laringeal termasuk suara serak dan edema pita suara. Non-farmakologi Hindari pencetus (alergen). Jika harus berkebun gunakan masker wajah. Antihistamin H-1 Anti histamin H-I bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target. Jika tidak berhasil. Disertai dengan sekret mukoid atau cair. Farmakologi Jika tidak bisa menghindari pencetus. kehilangan nafsu makan dan sulit tidur. gatal. Antihistamin dibagi dalam 2 golongan yaitu :  Antihistamin generasi-1(klasik-sedatif) .8 Penatalaksanaan I. serbuk sari. bulu binatang. hindari kegiatan berkebun. Antihistamin diabsorpsi secara oral dengan cepat dan musah serta efektif untuk mengatasi gejala pada respons fase cepat seperti rinore.6. bersin. masalah penciuman. post nasal drip. kongesti konjungtiva. merupakan preparat farmakologi yang paling sering dipakai sebagai lini pertama pengobatan rinitis alergi. mudah marah. mengi. Beberapa orang juga mengalami lemah dan lesu. Tanda faringeal termasuk faringitis granuler akibat hiperplasia submukosa jaringan limfoid. gunakan obat-obat anti alergi baik OTC maupun ethical.7) Gejala lain yang tidak khas dapat berupa: batuk. Menghindari pencetus (alergen) dapat dilakukan dengan cara mengamati benda-benda apa saja yang menjadi pencetus misalnya debu.salute). Lubang hidung bengkak. lingkar hitam dibawah mata (allergic shiner). Selain itu juga sangat perlu untuk menjaga kebersihan rumah.3. penekanan pada sinus dan nyeri wajah. Jika perlu dipastikan dengan melakukan skin test.

siproheptadin sedangkan yang dapat diberikan secara topikal adalah azelastin. Antihistamin non sedatif ini dapat dibagi menjadi 2 golongan menurut keamanannya. bermanfaat untuk mengatasi rinore. berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan. flutikason. Desensitasi dan hiposensitasi membentuk blocking antibody. Operatif . sehingga dapat menembus sawar darah otak (mempunyai efek pada SSP) dan plasenta serta mempunyai efek kolinergik. Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa dipakai sebagai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan histamin atau topikal. Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromida. Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat. Imunoterapi . Yang sering dipakai adalah kortikosteroid tropikal (beklometosa. karena aktifitas inhibisi reseptor kolinergik permukaan sel efektor. 3. Preparat kortikosteroid Dipilih bila gejala terutama sumbatan hidung akibat respons fase lambat tidak berhasil diatasi dengan obat lain. . 5. henti jantung dan bahkan kematian mendadak (sudah ditarik dari peredaran) o Loratadin. fexofenadin. 2. Toksisitas terhadap jantung tersebut disebabkan repolarisasi jantung yang tertunda dan dapat menyebabkan aritmia ventrikel.Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) perlu dipikirkan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25 % atau troklor asetat. 4. Bersifat selektif mengikat reseptor H 1 perifer dan tidak mempunyai efek anti-kolinergik. klorfeniramin. flusolid. prometasin.Bersifat lipofilik. Yang termasuk golongan ini antara lain: Difenhidramin.  Antihistamin generasi-2 (non sedatif) Bersifat lipofobik.Jenisnya desensitasi. yaitu: o Astemisol dan terfenadin yang mempunyai efek kardiotoksik. mometasonfuroat dan triamsinolon). 6. antiadrenergik dan efek pada SSP minimal (non-sedatif). hiposensitasi & netralisasi. desloratadin dan levosetirisin. Namun pemakaian secara topikal hanya boleh untuk beberapa hari saja untuk menghindari terjadinya rinitis medikamentosa. budesonid. sehingga sulit menembus sawar darah otak. setrisisn.

03% 2 semprotan. c.5 mg/dosis. 1 kali/hari. Kromolin. iii. dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 2-6 tahun :15mg/hari. dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 2-5 tahun: 2. lebih dari 6 tahun : 10 mg/dosis. Pseudoephedrine. 4kali/hari. Leukotrien antagonis. intranasal diberikan dengan dosis pemberian untuk usia > 4 tahun :1-2 semprotan/dosis. > 12 tahun : 60mg/hari 4 kali/hari. i. > 12 tahun : 60 mg/hari. f. g.5 mg/dosis.2 mg/dosis diberikan 3-4kali/hari. 2 kali/hari. dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 5–11 tahun : 1 semprotan2 kali/hari. Azelastine. Setirizin.1kali/hari. 1 kali/hari. e. Loratadin. 2-3 kali/hari. dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 2-5tahun : 2. Budesonide mempunyai bioavaibilitas yangrendah dan keamanannya lebih baik. d o s i s p e m b e r i a n s e s u a i u s i a a n a k a d a l a h : 6 1 1 t a h u n : 3 0 mg/hari. bahwa alergi hidung merupakan salah stau faktor penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung. ii.1 kali/hari. Fluticasone. Zafirlukast . akumulasi sel-sel .Jenis obat yang sering digunakan : a. 4 kali/hari. Polip hidung yang memiliki tanda patognomonis: inspisited mucous glands. Feksofenadin. 6-12 tahun : 30mg/hari. Budesonide. Efektif untuk semua gejala dengan inflamasi eosinofilik. Polip hidung Beberapa peneliti mendapatkan. > 12 tahun : 2 semprotan. b. 1 kali/hari. d. yang diberikan pada anak sebesar 20 mg/dosis 2 kali/24jam Komplikasi Komplikasi yang paling sering terjadi adalah : 1. 2 kali/hari atau 180mg/hari. Kortikosteroid intranasal. Digunakan pada pasien yang memiliki gejala yang lebih persisten dan lebih parah. obat semprot mengandung kromolin 5. > 6 tahun : 5-10 mg/dosis. Ipratropium bromide 0. 4 kali/hari. 2 kali/hari. intranasal diberikan dengan dosis pemberian untuk usia > 6 tahun :1-2 semprotan/dosis. 1 kali/hari .

Hal tersebut akan menyuburkan pertumbuhan bakteri terutama bakteri anaerob dan akan menyebabkan rusaknya fungsi barier epitel antara lain akibat dekstruksi mukosa oleh mediator protein basa yang dilepas sel eosinofil (MBP) dengan akibat sinusitis akan semakin parah. Otitis media efusi yang sering residif. 2. terutama pada anak-anak 3. hiperplasia epitel. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase.inflamasi yang luar biasa banyaknya (lebih eosinofil dan limfosit T CD4+). Pencegahan Menghindari kontak dengan alergen penyebabnya. hiperplasia goblet. Sinusitis paranasal merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih sinus para nasal. rinore. Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap provokasi/ reaksi alergi. Terjadi akibat edema ostia sinus oleh proses alergis dalam mukosa yang menyebabkan sumbatan ostia sehingga terjadi penurunan oksigenasi dan tekanan udara rongga sinus. dan metaplasia skuamosa. . rasa gataldan tersumbat setelah mukosa hidungterpapar allergen yang diperantarai leh Ig E. Yaitu Immadiate PhaseAllergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan allergen sampai 1 jam setelahnya dan Late Phase Allergic Reactionatau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiper-reaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam. Prognosis Dubia ed bonam Kesimpulan Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan allergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen spesik tersebut. Definisi menurut WHO ARIA(Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin.

Sumbatan Hidung. Erfiaty AS. Akses 11 Maret 2011. Akses 11 Maret 2011.htm. identifikasi faktor predisposisi. Edisi VI. 128132. yaitu: Menghindari atau eliminasi alergen dengan cara edukasi. Apabila kedua orang tua atopi. Rusmarjono. Hal 118-122. Pada 20 – 30 % semua populasi dan pada 10 – 15 % anak semuanya atopi. Perlu ditanyakan gejala-gejala spesifik yang mengganggu pasien (sepertihidung gatal-gatal pada hidung. respon terhadap pengobatan. Allergic Rhinitis.bfxu225. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. Akses 11 Maret 2011.pediatrik. Endaryato.yang terdapat di seluruh lingkungan. maka risiko atopi menjadi 4 kali lebih besar atau mencapai 50 %. terpapar dan merangsang respon imun yangsecara genetik telah memiliki kecenderungan alergi. maka adanya gatal pada seringkali mata berhubungan dengan dan lakrimasi mendukung diagnosis rinitis alergi. Diunduh dari :http://www.Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala & Leher. rinore. sinusitisdan Daftar Pustaka 1. Rinitis Alergika. Harsono. Tersedia pada:http://www. Tersedia pada :http://www.php? page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&file pdf=0&pdf=&html=07110. 3.gov/medlineplus/ency/article/000813. Nurbiaty. pola gejala (hilang tersumbat. Genetik secara jelasmemiliki peran penting.menetap) beserta onset dan keparahannya. danimunoterapi. Secara garis besar penatalaksanaan rinitis terdiri dari 3 cara.nlm. kondisi lingkungan dan pekerjaan. Rinitis alergi. Ariyanto. timbul.seda ngkan tindakan operasi kadang diperlukan untuk mengatasi komplikasiseperti polip hidung. .com/illness/detail/207. Rinitis Alergi. Karena rinitis alergi konjungtivitis alergi.Peran lingkungan dalam dalam rinitis alergi yaitu alergen.nih. National Library of Medicine. 4. bersin). Anang.klikdokter. dkk (Editor). 2007.com/isi03. 2.Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasienyang secara genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Riwayat keluarga merupakan petunjuk yang cukup penting dalam menegakkan diagnosis pada anak. farmakoterapi.htm.

Tersedia pada:http://www.com/script/main/art. Health Encyclopedia-Diseases and Conditions.com/healthguide/articles/allergicrhinitis.healthscout.co. Tersedia padahttp://www. Tersedia pada:http://www. Akses 11 Maret 2011. Allergic Rhinitis.com/ency/68/208/main. Akses 11 Maret 2011. 8. 7. Morris. Maret 2011. Akses 11 maret 2011. Allergic Rhinitis.asp?articlekey=2197 . Tersedia pada Akses 11 :http://www.medic8. . Adrian. Allergic Rhinitis.medterms. 6.html.html.uk/health/physical_health/conditions/in_depth/allergies/allerg icconditions _rhinitis. Definition of Allergic Rhinitis.bbc.shtml.5.