Anda di halaman 1dari 23
INTELEGENSI, PERASAAN, DAN EMOSI Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Umum Dosen Pengampu : Drs. USADA, M.Pd. Disusun oleh : Arie Nur Pratiwi Ariesta Wijayanto Arif Gunawan (K7112030) (K7112031) (K7112032) Arista Mariana Dewi (K7112033) Arnika Andriani (K7112034) PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD) FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2012 KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa mencurahkan rahmat-Nya. Akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Psikologi Umum yang membahas tentang “Intelegensi, perasaan dan emosi” ini dengan baik. Harapan dari penyusun makalah ini semoga dapat meningkatkan pengetahuan umum dan wawasan pembacanya selain itu juga dapat mendorong dalam pendidikan yang ada di sekolah. Saya selaku penyusun makalah ini menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini belum sempurna atau belum seperti yang diharapkan. Oleh karena itu saya selaku penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran dari rekan-rekan dan dosen pembimbing serta dari pihak lain, demi kesempurnaan karya berikutnya. Surakarta, 10 November 2012 Penyusun. DAFTAR ISI Halaman Judul.................................................................................................. Kata Pengantar ................................................................................................. Daftar Isi........................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ............................................................................... B. Rumusan Masalah .......................................................................... C. Tujuan Makalah ............................................................................. BAB II PEMBAHASAN A. Intelegensi ..................................................................................... B. Perasaan ......................................................................................... C. Emosi ............................................................................................ BAB III PENUTUP A. Kesimpulan .................................................................................... B. Saran ............................................................................................... Daftar Pustaka .................................................................................................. i ii iii 1 1 1 2 10 15 19 19 20 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Perasaan dan emosi pada umumnya disifatkan sebagai keadaan (state) yang ada pada inividu atau organisme pada sesuatu waktu. Misal seseorang merasa sedih, senang, takut, marah ataupun gejala-gejala yang lain setelah melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu. Dengan kata lain perasaan dan emosi disifatkan sebagai satu keadaan kejiwaan pada organisme atau individu sebagai akibat adanya peristiwa atau persepsi yang dialami oleh organisme. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami mencaba mengkaji ketiga hal tesebut, agar sabagai seorang calon pendidik, kita mampu mengetahui intelegensi seseorang dan mampu mengetahui keadaan perasaan dan emosi seseorang, supaya dalam kegiatan pendidikan dapat berjalan dengan baik. B. Rumusan Masalah 1) Apa yang dimaksud dengan itelegensi yang terdapat dalam diri seseorang? 2) Apa yang dimaksud dengan perasaan yang terdapat dalam diri seseorang? 3) Apa yang dimaksud dengan emosi yang terdapat dalam diri seseorang? C. Tujuan 1) Dapat mengkaji pengertian intelegensi dalam diri seseorang. 2) Dapat mengetahui pengertian perasaan yang terdapat dalam diri seseorang. 3) Dapat mengetahui pengertian emosi yang terdapat dalam diri seseorang. BAB II PEMBAHASAN A. Intelegensi 1. Pengertian Intelegensi Intelegensi berasal dari bahasa Inggris “Intelligence” yang juga berasal dari bahasa Latin yaitu “Intellectus” dan “Intelligentia”. Teori tentang intelegensi pertama kali dikemukakan oleh Spearman dan Wynn Jones Pol pada tahun 1951. Spearman dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut dengan “Nous”, sedangkan penggunaan kekuatannya disebut “Noeseis”. Menurut Para ahli a. William Stern (1953) Intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya. b. Thorndike (lih. Skinner, 1959) Sebagai seorang tokoh koneksionisme mengemukakan pendapatnya bahwa orang dianggap intelegen apabila responnya merupakan respon yang baik atau sesuai terhadap stimulus yang diterimanya. c. Lewis Hedison Terman Intelegensi sebagai kemampuan untuk berfikir secara abstrak dengan baik (lih. Hariman, 1958) d. Freeman (1959) memandang intelegensi sebagai 1) Kemampuan untuk menyatukan pengalaman-pengalaman, 2) Kemampuan untuk belajar dengan lebih baik, 3) Kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sulit dengan memperhatikan aspek psikologis dan intelektual, dan 4) Kemampuan untuk berpikir abstrak e. Morgan, dkk (1981) ada dua pendekatan yang pokok dalam memberikan definisi mengenai intelegensi itu, yaitu (1) Pendekatan yang melihat faktor-faktor yang membentuk intelegensia itu, sering disebut sebagai pendekatan factor atau teori factor, dan (2) pendekatan yang melihat sifat proses intelektual itu sendiri, yang sering dipandang sebagai teori orientasi-proses (proses-oriented theories) Dari definisi-definisi yang disajikan di atas, kita menarik beberapa kesimpulan yang akan menjelaskan ciri-ciri intelegensi: a. Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. b. Intelegensi tercermin dari tindakan yang terarah (lihat no. 1) pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul dari padanya. Menurut arah dan hasilnya, intelegensi ada dua macam, yaitu: a. Intelegensi praktis. Ialah intelegensi untuk dapat mengatasi suatu situasi yang sulit dalam sesuatu kerja, yang berlangsung secara cepat dan tepat. b. Intelegensi teoritis. Ialah intelegensi untuk dapat mendapatkan suatu fikiran penyelesaian soal atau masalah dengan cepat dan tepat. 2. Teori-Teori Faktor a. Thorndike dengan Teori Multi-Faktor Teori ini menyatakan bahwa intelegensi itu tersusun dari beberapa faktor yang terdiri dari elemen-elemen, tiap elemen terdiri dari atomatom, dan tiap atom itu terdiri dari stimulus-respon. Jadi, suatu aktivitas adalah merupakan kumpulan dari atom-atom aktivitas yang berkombinasi satu dengan yang lainnya. b. Spearman Menurut Spearman intelegensi mengandung 2 macam faktor, yaitu 1) General ability atau general faktor (faktor G) Faktor ini terdapat pada semua individu, tetapi berbeda satu dengan yang lainnya. Faktor ini selalu didapati dalam semua “performance”. 2) Special ability atau special faktor (faktor S) Faktor ini merupakan faktor yang khusus mengenai bidang tertentu. Dengan demikian, maka jumlah faktor ini banyak, misalnya ada S1, S2, S3, dan sebagainya sehingga kalau pada seseorang faktor S dalambidang tertentu dominan, maka orang itu akan menonjol dalam bidang tersebut. Menurut Spearman tiap-tiap “performance” adanya faktor G dan faktor S, atau dapat dirumuskan P = S +G c. Burt Menurut Burt dalam intelegensi terdapat 3 faktor 1) Special ability atau special faktor (faktor S) 2) General ability atau general faktor (faktor G) 3) Common ability atau common faktor disebut juga group factor (faktor C) Faktor ini merupakan sesuatu kelompok kemampuan tertentu seperti kemampuan kelompok dalam bidang bahasa. Sehingga rumus “performance” menjadi P=S+G+C d. Thurstone Thurnstone mempunyai pandangan tersendiri. Dia berpendapat bahwa dalam intelegensi terdapat faktor-faktor primer yang merupakan “:group factor” yaitu. 1) Spatial relation (S) Kemampuan untuk melihat gambar tiga dimensi 2) Perceptual speed (P) Kecepatan dan ketepatan dalam mempertimbangkan kesamaan dan perbedaan atau dalam merespon detil-detil visual. 3) Verbal comprehension (V) Kemampuan memahami bacaan, kosakata, analogi verbal, dan sebagainya. 4) Word fluency (W) Kecepatan dalam menghubug-hubngkan kata dengan berbagai rima dan intonasi. 5) Number facility (N) Kecepatan ketepatan dalam perhitungan 6) Associative memory (M) Kemampuan menggunakan memori untuk menghubungkan berbagi assosiasi. 7) Induction (I) Kemampuan untuk menarik suatu kesimpulan suatu prinsip atau tugas. Menurutnya faktor-faktor tesebut berkombinasi sehingga menghasilkan tindakan atau perbuatan yang intelegen. e. Teori Guliford (Morgan, dkk, 1984) 1) Dimensi yang pertama adalah isi (content), terurai dalam empat bentuk, yaitu figur (figural), simbol (symbolic), semantik (semantic), dan perilaku (behavior). 2) Dimensi kedua adalah operasi (operation), terurai dalam lima proses, yaitu kognisi (cognition), ingatan (memory), produksi konvergen (convergent production), produksi divergen (divergent production), dan evaluasi (evaluation). 3) Dimensi ketiga adalah produk (product), terurai dalam enam jenis, yaitu satuan (unit), kelas (class), relasi (relation), sistem (system), transformasi (transformation), dan implikasi (implication). Dengan demikian, seluruh dimensi akan berjumlah 120 (4x5x6) macam kombinasi yang merupakan faktor-faktor kemampuan yang berlainan dan dihipotesiskan sebagai sumber terbentuknya kemampuan-kemampuan mental yang berbeda pula macamnya. Dari 120 macam kemampuan tersebut, sekitar tiga perempatnya telah dibuktikan keberadaannya secara empiris, sedangkan sisanya masih dalam proses penelitian 3. Teori Orientasi Proses (Process-Oriented Theories) Teori ini mendasarkan atas orientasi bagaimana proses intelektual dalam pemecahan masalah. Para ahli lebih cenderung bicara mengenai proses kognitif (cognitive processes) daripada intelegensi, tetapi dengan maksud tentang hal yang sama (Morgan, dkk., 1984). Teori proses informasi mengenai intelegensi (information- processing theories) mengemukakan bahwa intelegensi akan diukur dari fungsi-fungsi seperti proses sensorik, koding, ingatan, dan kemampuan mental yang lain termasuk belajar dan menimbulkan kembali (remembering). 4. Jenis-Jenis Tes Intelegensi Berdasarkan penataannya ada beberapa jenis tes intelegensi, yaitu : a. Tes Intelegensi individual, beberapa di antaranya: a) Stanford - Binet Intelegence Scale. b) Wechster - Bellevue Intelegence Scale (WBIS) c) Wechster - Intelegence Scale For Children (WISC) d) Wechster - Ault Intelegence Scale (WAIS) e) Wechster Preschool and Prymary Scale of Intelegence (WPPSI) b. Tes Intelegensi kelompok, beberapa di antaranya: a) Pintner Cunningham Prymary Test b) The California Test of Mental Makurity c) The Henmon - Nelson Test Mental Ability d) Otis - Lennon Mental Ability Test e) Progassive Matrices c. Tes Intellegensi dengan tindakan perbuatan Untuk tujuan program layanan bimbingan di sekolah yang akan dibahas adalah tes intelegensi kelompok berupa : a) The California Test of Mental Maturity (CTMM) b) The Henmon - Nelson Test Mental Ability c) Otis - Lennon Mental Ability Test, and d) Progassive Matrices. (22) 5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intelegensi Seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap individu memiliki tingkat intelegensi yang berbeda, dengan adanya perbedaan tersebut dapat diketahui bahwa intelegensi dipengaruhi oleh faktor-faktor sebgai berikut. a. Pengaruh faktor bawaan Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkolerasi tinggi (  0,50 ), orang yang kembar (  0,90 ) yang tidak bersanak saudara (  0,20 ), anak yang diadopsi korelasi dengan orang tua angkatnya (  0,10 -  0,20 ). b. Pengaruh faktor lingkungan Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena itu ada hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting selain guru, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting, seperti pendidikan, latihan berbagai keterampilan, dan lain-lain (khususnya pada masa-masa peka). c. Stabilitas intelegensi dan IQ Intelegensi bukanlah IQ. Intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang kemampuan individu, sedang IQ hanyalah hasil dari suatu tes intelegensi itu (yang notabene hanya mengukur sebagai kelompok dari intelegensi). Stabilitas inyelegensi tergantung perkembangan organik otak. d. Pengaruh faktor kematangan Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya. e. Pengaruh faktor pembentukan Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. f. Minat dan pembawaan yang khas Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongandorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. g. Kebebasan Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya. Semua faktor tersebut di atas bersangkutan satu sama lain. Untuk menentukan intelegensi atau tidaknya seorang anak, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada salah satu faktor tersebut, karena intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang. B. Perasaan 1. Pengertian Perasaan Menurut Chaplin (1972) perasaan adalah keadaan atau state individu sebagai akibat dari persepsi tergadap stimulus baik eksternal maupun internal. Perasaan adalah "Sesuatu tentang keadaan jiwa manusia yang dihayati secara senang atau tidak senang". Contoh:   Perasaan menyenangkan: senang, bangga, kasih sayang, gembira, enak, lezat, keindahan, dan ketenangan. Perasaan tak menyenangkan: sedih, kecewa, sakit, gelisah, kacau, mual, dan busuk. 2. Ciri-Ciri Perasaan Setiap individu memiliki reaksi yang bersifat individual dalam menghadapi suatu keadaan, baik itu persepsi, perasaan, dan emosi. Oleh karena itu, antara sate individu dengan individu yang lain tidak ada yang memiliki perasaan yang persis sama. Perasaan memiliki Ciri-ciri spesifik, yaitu: a. Perasaan selalu terkait dengan gejala kejiwaan yang lain, khususnya persepsi. Contoh: 1) Perasaan gembira saat menonton pertandingan sepakbola karena tim sepakbola favoritnya menang. 2) Dalam diri seseorang timbul perasaan gelisah dan takut karena memikirkan trauma masa lalu. 3) Dalam diri seseorang timbul perasaan senang dan damai karena menghayati lagu kesayangannya lewat VCD. b. Perasaan sifatnya individual atau subjektif. Contoh: 1) Pada saat menonton pertandingan sepakbola, ada penonton yang bersorak gembira karena kesebelasan yang dijagokan dapat menjebol gawang lawan, tetapi di pihak lain ada yang sedih karena tim favoritnya kalah. 2) Dalam keluarga, pada saat menanti anaknya belum pulang dari sekolah, si ibu mungkin cemas, tetapi si bapak mungkin tenangtenang saja. c. Perasaan dialami oleh individu sebagai perasaan senang dan tidak senang. Contoh: 1) Seorang mahasiswa perasaannya senang karena nilai ujiannya balk. 2) Seorang mahasiswa tidak senang kepada dosen yang cara mengajarnya tidak jelas. 3. Faktor yang Memengaruhi Timbulnya Perasaan a. Keadaan jasmani atau fisik individu yang bersangkutan. Contoh: 1) Perasaan individu yang sedang sakit, lebih sensitif dibandingkan orang sehat. 2) Perasaan individu yang pendek gemuk kebal terhadap kritik. b. Struktur kepribadian individu memengaruhi individu dalam mengalami suatu perasaan. Contoh: 1) Individu yang berkepribadian introvert memiliki perasaan yang sensitif. 2) Individu yang berkepribadian extravert kebal terhadap perasaan. 3) Individu yang kepribadiannya mudah marah. 4) Kepribadian peramah biasanya perasaannya halus. c. Keadaan temporer pada diri individu atau bergantung pada suasana hati, individu yang sedang kalut pikirannya sangat peka terhadap perasaan dibanding orang yang normal. 4. Intensitas Perasaan Intensitas (tingkat dan kekuatan) perasaan bergantung pada hal-hal sebagai berikut. Intensitas perasaan persepsi lebih kuat dibanding tanggapan, fantasi, dan ingatan, misalnya perasaan saat bertemu dengan a. saudara kandung yang sudah lama berpisah, intensitasnya lebih kuat dibanding perasaan yang timbul tatkala pal itu sudah menjadi kenangan. b. Intensitas perasaan melalui pengamatan indra pembau dan pengecap intensitasnya lebih tinggi dibanding perasaan melalui penglihatan dan pendengaran, misalnya perasaan akibat mencium bau bangkai lebih intens daripada mendengar suara gaduh. c. Intensitas dipengaruh faktor fisik dan psikis, misalnya dahulu, perasaan saya apabila mendengar musik dangdut muak sekali, tetapi sekarang, begitu mendengar alunan musiknya saja sudah ingin joget. d. Intensitas perasaan turun karena perasaan itu dialami berulang-ulang atau sudah cukup lama, misalnya memutar VCD dengan lagu-lagu yang berulang-ulang membosankan, perasaannya tidak senang dibanding pada saat pertama kali memutar VCD tersebut. 5. Dimensi Perasaan Menurut Wundt Seperti dikemukakan oleh Bimo Walgito (1989), menurut Wundt perasaan itu memiliki 3 dimensi, yaitu: a. Perasaan senang dan tidak senang, misalnya seorang pasien merasa senang karena penyakitnya dinyatakan sembuh oleh dokter atau seorang pasien merasa tidak senang di rawat di suatu rumah sakit karena pelayanannya jelek b. Perasaan excited atau inner feeling, yaitu perasaan yang dialami individu disertai perilaku atau perbuatan yang tampak, misalnya karena diterima masuk akademi keperawatan, perasaannya gembira disertai menari-nari. c. Perasaan expectancy atau release feeling, yaitu perasaan yang masih dalam pengharapan atau memang betul-betul telah terjadi. Contoh: 1) Alangkah bahagia perasaan saya apabila kelak dapat meneruskan ke Sl Keperawatan setelah lulus D3 Keperawatan. 2) Waktu saya dinyatakan diterima di D3 Keperawatan, perasaan saya betul-betul gembira sekali. 6. Jenis Perasaan Menurut Stern a. Perasaan present, yaitu perasaan yang berhubungan dengan situasi aktual atau yang sedang terjadi, misalnya saya merasa senang karena scat ini anak saya bisa kuliah di Akademi Keperawatan. b. Perasaan yang menjangkau maju, yaitu perasaan yang masih dalam pengharapan, misalnya alangkah gembiranya apabila kelak anak saya menjadi seorang dokter. c. Perasaan yang berhubungan dengan waktu lampau, misalnya merasa sedih apabila mengingat masa lampu, sewaktu masih anak-anak yang penuh derita. Menurut Max Scheler Perasaan itu ada 4 macam, yaitu: a. Perasaan pengindraan/indriawi atau tingkat sensoris, yaitu perasaan yang berhubungan dengan beberapa pengamatan pengindraan, atau rangsangan jasmaniah, misalnya rasa nyeri, panas, dingin, pahit, asin, geli, dan bau. b. Perasaan kehidupan vital, yaitu perasaan yang berhubungan dengan fungsi hidup atau kondisi jasmaniah, pencernaan makanan, pernapasan dan peredaran darah, termasuk juga perasaan insting, misalnya rasa lelah, segar, capek, haus, lapar, kurang enak badan, dan lesu. c. Perasaan kejiwaan atau psikis, yaitu perasaan yang dapat diberi motivasi, misalnya rasa gembira, susah, sedih, takut, kecewa, simpati, bend, bahagia, tertekan, antipati, dan senang. d. Perasaan kepribadian, yaitu perasaan yang berhubungan dengan keseluruhan kepribadian, penilaian, diri dan harga diri, misalnya perasaan harga din, perasaan percaya diri, putus asa, dan perasaan puas. C. Emosi 1. Pengertian Emosi Emosi adalah "Manifestasi perasaan atau afek keluar dan disertai banyak komponen fisiologik dan biansannya berlangsung tidak lama" (Maramis, 1990). Emosi adalah "Suatu keadaan perasaan yang telah mielampaui batas sehingga untuk mengadakan hubungan dengan sekitarnya mungkin terganggu" (Bimo Walgito, 1989). Sebagai contoh: ketakutan, kecemasan, depresi, dan kegembiraan. 2. Teori-Teori Emosi a. Hubungan Emosi dengan Gejala Kejasmanian 1) Teori Canon-Board Teori ini berpendapat bahwa emosi itu bergantung pada aktivitas dari otak bagian bawah, tidak tergantung pada gejala jasmani. Suatu situasi saling mempengaruhi antara thamulus( pusat penghubung antara bagian bawah otak dengansusunan syaraf disuatu pihak dan alat keseimbangan atau cerebellum denagn creblar cortex(bagian otak yang terletak di dekat permukaan sebelah dalam dari tulang tengkorak, suatu bagian yang berhubungan dengan proses kerjanya pada jiwa taraf tinggi, seperti berpikir. 2) Teori James-lange Teori ini mula-mula dikemukakan oleh james 9american Psycologist0 dan pada waktu yang sama juga dikemukakan oleh Lange ( Danish Physiologis) sehingga disebut teori JamesLange. Menurut teori ini emosi merupakan akibat / hasil persepsi dari keadan jasmani, orang sedih karena menangis, orang takut karena gemetar dan sebagainya, gejala kejasmanian merupakan sebab emosi dan emosi merupakan akibat dari gejala kejasmanian, system syaraf automik bertanggung jawab pada perasaan emosional. 3) Teori Schacter-Singer Teori ini didasarkan pendapat bahwa emosi merupakan The interpretation of bodily arousal. Teori ini berpendapat bahwa emosi yang dialami seseorang merupakan hasil interpretasi dari aroused atau stirred up dari keadaan jasmani. Schachter dan singer berpendapat bahwa keadaan jasmani dari timbulnya emosi pada umumnya sama untuk sebagian terbesar dari emosi yang dialami, dan apabila ada perbedaan fisiologis dalam pola otonomik pada umumnya orang itu tidak dapat mempersepsi hal ini. Pengaruh emosi terhadap perilaku individu : 1) Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai. 2) Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa (frustasi). 3) Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bias juga menimbulkan sikap gugup dan gagap dalam bicara. 4) Terganggu penyesuaian social, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati. 5) suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri, maupun orang lain. b. Teori Hubungan antar Emosi Robert Plutchik mengajukan teori mengenai deskripsi emosi yang berkaitan dengan emosi primer dan hubungannya satu dengan yang lainnya. Menurut Plutchik emosi itu berbeda dalam tiga dimensi, yaitu intensitas, kesamaan, dan polaritas atau pertentangan. Intensitas digambarkan kebawah, polaritas digambarkan kearah berlawanan, sedangkan kesamaan digambarkan yang berdekatan. Disamping itu Plutchik juga berpendapat adanya kaitan antar emosi dengan typical behavior. c. Teori Emosi Berkaitan dengan Motivasi Teori ini dikemukakan oleh Leeper. Garis pemisah antara emosi dengan motivasi sangatlah tipis. Missal takut, ini adalah emosi, tetapi ini juga motif pendorong perilaku karena bila orang takut maka akan terdorong berperilaku kearah tujuan tertentu. Menurutnya perilaku adalah diwarnai oleh emosi. d. Teori kognitif mengenai emosi Dikemukakan oleh Richard Lazarus dan teman sekerjanya, mengemukakan tentang emosi yang menekan pada penafsirsan atau pengertian terhadap informasi yang datang dari beberapa sumber. Menurut James & Langei, bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi. Berkaitan dengan adanya hubungan antara emosi dengan motivasi ada teori yang disebut teori arousal. Pada teori ini dorongan asumsinya ialah organisme mencari untuk menaikan level tensionnya, sedangkan pada waktu lain menurunkan tensionnya. Perubahan-perubahan pada tubuh pada saat terjadi emosi Terutama pada emosi yang kuat, seringkali terjadi juga perubahan-perubahan pada tubuh kita antara lain : 1) Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona 2) Peredaran darah : bertambah cepat bila marah 3) Denyut jantung : bertambah cepat bila terkejut. 4) Pernafasan : bernafas panjang kalau kecewa. 5) Pupil mata : membesar bila sakit atau marah. 6) Liur : mengering kalau takut atau tegang. 7) Bulu roma : berdiri kalau takut. 8) Pencernaan : mencret-mencret kalau tegang. 9) Otot : Ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang atau bergetar (tremor). 10) Komposisi darah : Komposisi darah akan ikut berubah dalam keadaan emosional karena kelenjar-kelenjar lebih aktif. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Intelegensi merupakan suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Faktor yang mempengaruhi intelegensi seseorang adalah faktor bawaan, faktor lingkungan, stabilitas intelegensi dan IQ, pengaruh faktor kematangan, pengaruh faktor pembentukan, minat dan bawaan yang khas, dan kebebasan. Perasaan adalah "Sesuatu tentang keadaan jiwa manusia yang dihayati secara senang atau tidak senang". Perasaan menyenangkan: senang, bangga, kasih sayang, gembira, enak, lezat, keindahan, dan ketenangan.Perasaan tak menyenangkan: sedih, kecewa, sakit, gelisah, kacau, mual, dan busuk. Emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu (khusus), dan emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah (approach) atau menyingkiri (avoidance) terhadap sesuatu, dan perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya expresi kejasmanian, sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi. Namun demikian kadang –kadang orang masih dapat mengontrol keadaan dirinya sehingga emosi yang dialami tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda kejasmanian tersebut. DAFTAR PUSTAKA Bimo Walgito, 1980. Pengantar Psikologi Umum. ANDI:Yogyakarta. http://gogon.wordpress.com/2011/02/01/intelegensi/ (diakses pada tanggal 9 November 2012) http://11108zulfa.blogspot.com/2012/03/joy-paul-guilford-teori-guilford1959.html (diakses pada tanggal 9 November 2012) http://umt-maulana.blogspot.com/ (diakses pada tanggal 9 November 2012) http://www.psychologymania.com/2011/07/hubungan-antara-emosi-motivasidan.html (diakses pada tanggal 9 November 2012) http://tetesan-ilmu-ku.blogspot.com/2011/06/emosi.html (diakses pada tanggal 9 November 2012) http://riswantobk.wordpress.com/2011/05/02/definisi-perasaan-dan-emosi/ (diakses pada tanggal 10 November 2012)