Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN TUTORIAL 1

SKENARIO 3
BLOK 19

Tutor :
dr. Esa Indah Ayudiah

Anggota :
Marliyus Lestari Nurman Ratih Suci Wijaya Elsy Selvia Rahma Putri Wely Wahyura Zikri Hakim Yulia Ovina Laysa Kasminata Nana Kartina Alsa Syafira Dhody Setiamal G1A108029 G1A108032 G1A109003 G1A109012 G1A109032 G1A109075 G1A109064 G1A109072 G1A109080 G1A109093 G1A109055

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS JAMBI 2012

Skenario 3 Kakek toni berusia 75 tahun, namun masih aktif berolahraga. Kakek toni biasa main tenis dengan cucu nya untuk mengisi waktu luang. Suatu hari, kakek Toni terjatuh saat main tenis. Kakek Toni segera di bawa ke Rumah Sakit dan dokter melakukan rontgen terhadap kedua tungkai kakek Toni yang diduga mengalami fraktur. Ternyata kakek Toni mengalami fraktur pada tulang femur kaki kanan dan pada tulang fibula kaki kiri. Dokter menyarankan kakek Toni dioperasi untuk dilakukan traksi dan immobilisasi. Setelah operasi selesai, kakek Toni harus tirah baring selama hamper 6 bulan. Dokter menjelaskan pembentukan kalus pada kakek Toni membutuhkan waktu yang lebih lama dikarenakan usia kakek Toni yang telah lanjut. Setelah 6 bulan tiring baring, ternyata dokter menemukan kakek Toni mengalami ulkus decubitus stadium 2 dan atrofi otot tungkai akibat tirah baring yang lama. Klarifikasi Istilah 1. Fraktur : pecah atau rupture dan terpecahnya maupun terputus nya jaringan tulang,tulang rawan akibat adanya trauma 2. Immobilisasi : keadaan tidak bergerak selama 3 hari atau lebih tidak ada gerak anatomi 3. Kalus :suatu jaringan yang terbentuk dari ujung atau akhir bagian tulang yang mengalami kerusakan 4. Ulkus decubitus : ulserasi akibat tekanan yang berlangsung lama pada px dengan tirah baring ditempat tidur yang lama. 5. Traksi : tindakan menarik atau gaya tarik dimana dipasang secara langsung pada tulang panjang 6. Rontgen : suatu alat yang digunakan untuk pemeriksaan yang menggunakan sinar x dan y 7. Atrofi : pengecilan ukuran,sel,jaringan

Mendefenisikan masalah 1. Fisiologi lansia dan geriatri 2. Jatuh keseimbangan pada lansia 3. Fraktur dan penyembuhan pada geriatri

. dan semakin besar challenge yang terjadi. Akibatnya. maka semakin besar cadangan fisiologis yang diperlukan untuk kembali ke homeostasis. Setiap challenge terhadap homeostasis merupakan pergerakan menjauhi keadaan dasar (baseline). akan semakin sedikit cadangan yang tersedia untuk menghadapi “challenge”. Apa saja fisiologi dari penuaan ? Jawab : Homeostasis merupakan karakteristik fisiologis penuaan adalah keadaan penyempitan (berkurangnya) cadangan homeostasis yang terjadi seiring meningkatnya usia pada setiap system organ. namun mereka juga memakai atau menggunakan cadangan fisiologis itu hanya untuk mempertahankan homeostasis. Fisiologi lansia dan geriatri a. “Principe” Homeostasis Cadangan fisiologis Yang tersedia Cadangan fisiologis yang sudah dipakai Pertambahan Usia Pada skema ini dijelaskan bahwa seorang yang usia lanjut tidak hanya memiliki cadangan fisiologis yang makin berkurang.4. Tirah baring pada lansia Analisis masalah 1. jumlah cadangan fisiologis untuk menghadapi berbagai perubahan (challenge) berkurang. “Principe” Cadangan fisiologis Homeostasis Perkembangan Usia Skema di atas menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia.

c. Sistem imun sendiri daya pertahanannya menurun pada proses menua. Jadi menurut teori ini kesalahan – kesalahan yang terjadi semasa hidup yang sudah berlangsung cukup lama. Tiap spesies mempunyai jam genetik dalam inti sel yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. b. Akan menyebabkan terbentuknya enzim yang salah  reaksi metabolisme yang salah sehingga mengurangi fungsional sel. sehingga sel kanker leluasa membelah – belah. Jam ini menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar. hal ini dapat menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya. . bila jam tersebut berhenti maka seseorang akan meninggal dunia meskipun tanpa kecelakaan atau penyakit. daya serangnya terhadap sel kanker menjadi menurun. Mutasi somatik (teori Error Catastrophe)  Faktor lingkungan (paparan terhadap radiasi dan zat kimia) dapat menyebabkan terjadinya mutasi somatik. maupun proses translasi (RNA  protein/enzim).b. Jadi. terjadi kesalahan dalam proses transkripsi (DNA  RNA). Hasilnya dapat berupa reaksi antigen/antibodi yang luas mengenai jaringan – jaringan beraneka ragam. Mutasi yang progresif pada DNA sel somatik menyebabkan penurun kemampuan fungsional sel. Apa saja teori yang berhubungan dengan penuaan ? Jawab : Teori – teori proses menua:3 a. Rusaknya sistem imun tubuh  Jika mutasi somatik dapat menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel. Teori “Genetik Clock”  Menua telah terprogram secara genetik untuk spesies – spesies tertentu. Efek menua akan menyebabkan reaksi histoinkomtabilitas pada banyak jaringan. inilah yang menyebabkan terjadinya kanker meningkat sesuai dengan meningkatnya umur.

Perpanjangan umur karena penurunan jumlah kalori tersebut. Kerusakan akibat radikal bebas  Radikal bebas dapat terbentuk dalam alam bebas. McKay et al. Radikal bebas bersifat merusak karena sangat reaktif. cultural. asam lemak tak jenuh seperti dalam membran sel. social. e. Semakin lanjut usia makin banyak Radikal Bebas yang terbentuk sehingga proses pengerusakan terus terjadi. Faktor apa saja yang berhubungan dengan penuaan ? Jawab :   Internal : Genetik dan Biologi Eksternal : Lingkungan. protein. sehingga dapat bereaksi dengan DNA. Bagaiamana olahraga yang ideal pada lansia ? Jawab :  Latihan aerobik Latihan aerobik ini untuk kesehatan jantung dan paru berupa gerakan tubuh secara aktif ex berjalan kaki. Lebih jauh ternyata perpanjangan umur tersebut berasosiasi dengan tertundanya proses degenerasi. latihan aerobik ini dilakukan setiap hari selama 30 menit  Latihan kekuatan . memperlihatkan bahwa pengurangan intake kalori pada rodentia muda akan menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur.d. Gaya hidup. disebabkan karena menurunnya salah satu atau beberapa proses metabolisme. dan ekonomi d. c. Teori menua akibat metabolisme  Tahun 1935. dan didalam tubuh jika fagosit pecah dan sebagai produk sampingan dalam rantai pernafasan dalam mitokondria.

Perubahan neuromuskular karena proses menua Ex 1. bangun – berdiri dari kursi  Latihan keseimbangan Belum ada bukti ilmiah. akibat keadaan patologi serta secaraspontan. dan pelayanan kesehatan pada lansia. e. Apa perbedaan lansia dengan geriatri ? Jawab :   Lansia : menurunnya fungsi biologis. usia > 60th. Penurunan kondisi fisik 2. Apa saja yang menyebabkan fraktur pada lansia ? Jawab : ada 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur yaitu. Apa saja faktor penyebab gangguan keseimbangan pada lansia ? Jawab : Itu ada faktor extrinsik dan intriksik 1. intrinsik (meliputi kapasitas tulangmengabsorbsi energi trauma. b. social. 2. psikologis. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Geriatri : suatu cabang ilmu kedokteran yang menitik beratkan pada pencegahan. Jatuh keseimbangan pada lansia a. kekuatan adanya densitas tulang. dan menurukan resiko jatuh lansia.Bentuk latihan kekuatan ini dapat dilakukan dengan mengangkat botol aqua dengan lengan.    ekstrinsik (meliputi kecepatan. diagnosis. pengobatan. tapi secara empiris dapat meningkatkan stabilitas. sedangkan durasi trauma yang mengenai tulang. dan ekonomi. Tulang yang dapat menyebabkan terjadinya patah pada tulang bermacam-macam antaralain trauma (langsung dan tidak langsung). kelenturan. arah dan kekuatan). Penurunan visus dan pendengaran 3. Obatan yang diminum .

antidepresa.sedative. penglihatan.disfungsi otonom. Alat bantu jalan 3. kerusakan persepsi dalam.alkohol  Proses penyakit yang spesifik       Perubahan kontrol postural : melambatnya reflex. Parkinson. dan menurunnya tonus otot. . Lingkungan yang tidak mendukung  Kecelakaan  Nyeri kepala mendadak atau vertigo :  Hipotensi orthostatik : curah jantung rendah.terlalu lama berbaring  Obat-obatan : diuretik. Kognitif : menurunnya daya ingat (demensia) Musculoskeletal : kekuatan jaringan penghubung kurang. dan pergerakan pada Lansia.penilaian keseimbangan. Perubahan gaya berjalan System sensoris : pendengaran. c.2. meningkatnya postural sway. Apa saja pemeriksaan penunjang mobilisasi dan keseimbangan pada lansia? Jawab :  Uji The Timed Up and Go Digunakan untuk mengukur mobilitas. hydrocephalus). menurunnya kekuatan otot. Bagaimana penanganan gangguan keseimbangan pada lansia ? Jawab :  Pencegahan = identifikasi dan eliminir faktor resiko.  Uji Menggapai Fungsional Untuk menilai kontrol postural dinamis dengan mengukur jarak terjauh seseorang yang berdiri mampu menggapai dan mencondongkan badannya ke depan tanpa melangkah.mengatur faktor situasi  Pendekatan diagnostik  pengobatan d. keseimbangan. System saraf pusat : respon motorik (stroke. dan vestibule.

Radiologi Menurut lokalisasi i. Apa saja obat-obatan yang mempengaruhi keseimbangan pada lansia? Jawab :       Diuretic Anti hipertensi Anti depresi gol. dislokasi fragmen jelas. rusak hebat dan hilangnya jaringan di sekitarnya Fraktur dengan komplikasi = fraktur yang disertai dengan komplikasi 3.trisiklik Sedative Anti psikotik Alcohol 3. Diafisial Metafisial Intra artikuler . Etiologi  Fraktur traumatik  Fraktur patologis  Fraktur stres = akibat trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu 2. Derajat 2 : laserasi > 2 cm dengan kontusi otot sekitarnya. iii. Klinis  Fraktur tertutup = suatu fraktur yang tidak ada hubungan dengan dunia luar  Fraktur terbuka = yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak terbagi atas i. fraktur sederhana dengan dislokasi fragmen minimal ii. e. Derajat 1 : laserasi < 2 cm. Apa saja klasifikasi fraktur? Jawab : 1. Uji Keseimbangan Berg Merupakan uji aktivitas dan keseimbangan fungsional yang menilai penampilan mengerjakan 14 tugas. ii. Fraktur dan penyembuhan pada geriatri a. iii.   Derajat 3 : luka lebar.

iv. ii. Transfersal Oblik Spiral Kupu-kupu Komunitif Segmental depresi b. iii. v. Bagaimana mekanisme fraktur? Jawab :     Trauma langsung Trauma tidak langsung Pergeseran fragmen tulang dan diskontinuitas tulang Perubahan di jaringan ikat – spasme otot – pelepasan histamine – udem c. Bagian anatomi mana saja pada lansia yang mengalami frakur? Jawab : .  Fraktur dengan dislokasi Menurut konfigurasi i. vii. vi.iv.

ribs.ankle. Bagaimana proses pneyembuhan fraktur dan mekanisme terbentuknya kalus? Jawab :  Fase hematome (dalam waktu 24 jam timbul oerdarahan) Apabila terjadi fraktur maka pembuluh darah akan kecil melewati kanlikuli dalam sistem harvesian mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan membentuk hematome di antara kedua sisi fraktur. . Apa tujuan dan manfaat traksi dan immbolisasi? Jawab :   Traksi : untuk menangani fraktur. wrist. dislokasi atau spasme otot dalam usaha memperbaiki deformitas dan mmpercepat penyembuhan. Immobilisasi : fungsi mengurangi rasa nyeri dan memperbaiki struktur anatomi tulang e. d. vertebrae.humerus. femoral neck ( hip).

steroid anabolic) Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang Potensial listrik pada patahan tulang .  Fase pembentukan kalus (terjadi 6-10 hari setelah trauma ) Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk tulang rawan. Kalus intermediet berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi sistem haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk ruang sum-sum. f.  Fase remodeling (waktu lebih 10 minggu) Perlahan-lahan terjadi resorbsi secara osteoklastik dan tetap terjadi proses osteoblastik pada kalus externa secara perlahan-lahan menghilang. vit. Setelah beberapa minggu kalus dari fraktur akan membentuk massa yang meliputi jaringan ostegenik. D. Penyembuhan terjadi karena sel-sel osteogenik yang berproliferasi dari perosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagai aktivitas seluler dalam canalis medularis. Fase proliperasi (terjadi 1-5 hari setelah trauma) Terjadi reaksi jaringan lunak sektiar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan. Apa saja faktor2 yang mempengaruhi kecepatan penyembuhan fraktur? Jawab :        Nutrisi yang baik Kontak fragmen tulang yang maksimal Immobilisasi fragmen tulang Asupan darah yang memadai Hormone pertumbuhan (tiroid kalsitonin. Tempat ostebolas diduduki oleh matriks intraseluler kolagen dan perlekatan poiisakarida oleh garam-garam kalsium mebentuk tulang-tulang yang imatur  Konsolidasi (2-3 minggu setelah fraktur sampai dengan sembuh ) Waven bone akan membentuk kalus primer dan secra perlahan – lahan diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteblas yang menjadi sturkur lamelardan kelibhan kalus dapat diresorpasi secara bertahap.

inflamasi. Waktu penyembuhan pada anak secara kasar ½ waktu penyembuhan pada dewasa. Stadium 2 Ulserasi mengenai dermis dan meluas sampai jaringan adipose. 2. Stadium 3 Ulserasi meluas sampai lapisan lemak subkutis dan otot sudah mulai terganggu dengan adanya edema. b. infeksi. Biasanya sembuh dalam waktu sekitar 3-8 minggu 4. Stadium ini umumnya reversibel dan dapat sembuh dalam 5-10 hari. Apa komplikasi dari tirah baring? Jawab :           Emboli paru Thrombosis vena Ulkus decubitus Hipotensi postural Kelemahan otot Kontraktur otot dan sendi Pneumonia ISK (infeksi saluran kemih) Hipoalbuminemia Konstipasi dan skibala Penyembuhan fraktur berkisar antara # minggu sampai 4 bulan.4. Stadium 4 . dan hilangnya sturuktur. Apa saja derajat ulkus decubitus? Jawab : 1. Tirah baring pada lansia a. terlihat eritema dan induras ( melepuh ) stadium ini dapat sembuh dalam 10-15 hari. Tepi ulkus tidak teratur dan terlihat hiper atau hipopigmentasi dengan fibrosis. 3. Penderita dengan sensibiltas baik akan mengeluh nyeri. Stadium 1 Ulserasi terbatas pada epidermis dan dermis dengan eritema pada kulit.

mengakibatkan thrombosis intra-arteri dan gumpalan fibrin yang secara permanen mempertahankan iskemia kulit. dan sering disertai anemia. Dapat sembuh dalam waktu sekitar 3-6 bulan. kelemahan. akimulasi penyakit akut dan kronik.mengakibatkan pembuluh darah tidak dapat terbuka dan pada akhirnya terbentuk luka bekas tekanan (Ulkus decubitus) e. kulit kering. Reflex bekas tekanan pada keadaan tersebut . serta malnutrisi d. otot.Ulserasi dan nekrosis meluas mengenai fasia. Apa saja faktor yang mempengaruhi UD dan atrofi? Jawab :  Ulkus decubitus:  Demam Koma Penyakit serebrovaskular Infeksi Anemia Malnutrisi Kaheksia Hipertensi Syok Dehidrasi Infeksi neurologis dengan paralisis Imobilisasi Penurunan BB. jatuh Faktor lain: perubahan biologis seperti penuaan. c. Bagaimana pencegahan komplikasi immobilisasi? . Bagaimana mekanisme terjadi nya Ulcus decubitus? Jawab : Kompresi pembuluh darah dalam waktu lama .tulang serta sendi dapat terjadi arthritiis septic atau osetomilitis. eritema Atrofi otot: Penurunan fungsional.

meningktakn kasium serum. Trombosis Trombosis vena dalam merupakan salah satu gangguan vaskular perifer yang penyebab nya multifaktorial. Terdapat tiga faktor yang meningktakan resiko trombosisi vena dalam yaitu karena adanya luka di vena dalam karena trauma atau pembedahan. Osteoporosis Timbul sebagai akibat ketidakseimbangan antara resopsi tulang dan pembentukan tulang. Kontraktur otot dan sendi Pasien yang mengalami tirah baring yang lama berisiko mengalami kontraktur karena sendi-sendi tidak digerakan. Gangguan fungsi motorik Pasien yang tidak mampu mengubah posisi secara mandiri beresiko terhadap dekubitus. Imobilisasi meningktan resorpsi tulang. 3. Kelemahan otot Imobilisasi akan menyebabkan atrofi otot dengan penurunan dan kekuatan otot. 4. tidak mampu menguabah . dan produksi vitamin D3 aktif. Penurunan otot diperkirakan 1-2% sehari. Apa saja faktor resiko dari Ulcus decubitus? Jawab : 1. Ulkus dekubitus f. sirkulasi darah yang tidak baik pada vena dalam. menghambat sekresi PTH. Kelemahan otot pada pasien dengan imbolisasi seringkali terjadi dan berkaitan dengan penurunan fungsional kelemahan dan jatuh. Akibatnya timbul nyeri yang menyebabkan seseorang semakin tidak mau menggerakan sendi yang kontraktur tersebut. Pasien tersebut dapat merasakan tekanan tetapi. Emboli paru Emboli paru dapat menghambat aliran darah ke paru-paru dan memicu refleks tertentu yang dapat menyebabkan panas yang mengakibatkan nafas berhenti secara tiba-tiba. 6. 5. meliputi faktor genetik dan lingkunganya. dan berbagai kondisi yang meningkatkan resiko pembekuan darah 2.Jawab : 1. 2. Gangguan input sensorik Pasien yang mengalami perubahan persepsi sensorik terhadap nyeri dan tekanan beresiko tinggi mengalami gangguan integritas kulit pada pasien yang sensasinya normal.

Gangguan sirkulasi perifer g. Bagaimana gejala klinis Ulcus Decubitus? Jawab :   Nyeri (tergantung stadium) Gatal-gatal j. Kelembapan Adanya kelembaban pada kulit dan durasinya meningkatkan terjadinya kerusakan integritas kulit. 2005). Bagaimana gejala klinis atrofi? Jawab :    Ukuran lingkar otot menurun sebnyak 2.posisi secara mandiri untuk menghilangkan tekanan tersebut. gagal ginjal. Penurunan kekuatan otot 1-2% sehari Kerusakan otot atau sarafnya . Anemia 6. Nutrisi buruk Pasien kurang nutrisi sering mengalami atrofi otot dan jaringan subkutan yang serius. 2005). i. Apa saja indikasi dari tirah baring? Jawab : Terdapat penyakit seperti berikut fraktur. Bagaimana idealnya tirah baring pada lansia? Jawab : Tidak boleh > 3 minggu h. Obesitas 8. DM. Akibat perubahan ini maka jaringan yang berfungsi sebagai bantalan diantara kulit dan tulang menjadi semakin sedikit. 5.1-21%. 1981 dalam Potter & Perry. Hal ini meningkatkan peluang terjadinya dekubitus. Kakeksia 7. Akibat kelembaban terjadi peningkatan resiko pembentukan dekubitus sebanyak lima kali lipat (Reuler & Cooney. stroke. 3. Kelembaban menurunkan resistensi kulit terhadap faktor fisik lain seperti tekenan atau gaya gesek (Potter & Perry. dll. 4. Demam 9.

Kulit yang kemerahan dibersihkan hati-hati dengan air hangat dan sabun. menggaung sampai pada bungkus otot dan sering sudah ada infeksi. Antibiotik sistemik mungkin diperlukan. Penggantian balut dan salep ini jangan terlalu sering karena malahan dapat merusak pertumbuhan jaringan yang diharapkan. Dekubitus derajat II     Dimana sudah terjadi ulkus yang dangkal. karena akan mempermudah regenarasi sel-sel kulit. Jika luka kotor dapat dicuci dengan larutan NaCl fisiologis. Usahakan luka selalu bersih dan eksudat diusahakan dapat mengalir keluar. Otot yang jarang digunakan (karena menjalani tiring baring dalam waktu yang lama) k. diberi lotion. Bagaimana pendekatan diagnosis pada UD dan atrofi? Jawab :  Ulcus Decubitus 1. 2. 4. Daerah bersangkutan digesek dengan es dan dihembus dengan udara hangat bergantian untuk meransang sirkulasi. Balut jangan terlalu tebal dan sebaliknya transparan sehingga permeabel untuk masukknya udara/oksigen dan penguapan. Perawatan luka harus memperhatikan syarat-syarat aseptik dan antiseptik. Dekubitus derajat III       Dengan ulkus yang sudah dalam. mungkin juga untuk merangsang tumbuhnya jaringan muda/granulasi. Kelembaban luka dijaga tetap basah. Dekubitus derajat IV . kemudian dimassase 2-3 kali/hari. Dapat diberikan salep topikal. 3. Dekubitus derajat I   Dengan reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis.

   Dengan perluasan ulkus sampai pada dasar tulang dan sering pula diserta jaringan nekrotik. eksudat. Test Fungsional. otot bersifat kokoh tetapi tidak keras dan licin. Tindakan dengan ultrasono untuk membuka sumbatan-sumbatan pembuluh darah dan sampai pada transplantasi kulit setempat. dengan tujuan mengurangi perdarahan. dan reflex. luka menembus. Dekubitus harus dikaji ulang minimal 1 kali per hari. dibanding tindakan bedah yang juga merupakan alternatif lain. dan tidak berbenjol-benjol. maka luka harus dikaji untuk lokasi. Setelah jaringan nekrotik dibuang dan luka bersih. sebab akan menghalangi pertumbuhan jaringan/epitelisasi. .     Beberapa usaha mempercepat adalah antara lain dengan memberikan oksigenasi pada daerah luka. tahap. bisa membantu menentukan berbagai kelainan rasa. dapat dilakukan dengan meminta penderita melakukan : Bangkit dari kursi tanpa bantuan lengan Jongkok dan bangkit dari jongkok Berdiri di atas jari kaki dan tumit Menggenggam benda Dalam keadaan normal. penyembuhan luka secara alami dapat diharapkan. Beberapa preparat enzim coba diberikan untuk usaha ini. ukuran. traktusinus. Angka mortalitas dekubitus derajat IV ini dapat mencapai 40%. Dekubitus yang bersih harus menunjukkan proses penyembuhan dalam waktu 2 sampai 4 minggu  Atrofi Otot 1. 2. Semua langkah-langkah diatas tetap dikerjakan dan jaringan nekrotik yang ada harus dibersihkan . dan keberadaan atau tidak adanya jaringan granulasi maupun epitelialisasi. jaringang nekrotik. kerusakan luka. Pada perawatan rumah banyak pengkajian dimodifikasi karena pengkajian mingguan tidak mungkin dilakukan oleh pemberi perawatan. Pemeriksaan neurologis Dilakukan secara menyeluruh. koordinasi. gerakan motorik. Selama penyembuhan dekubitus.

dilakukan untuk menentukan kelainan pada otot. 4. Biopsy otot l. sebaiknya dibersihkan dengan sabun atau gunakan cairan disinfektan (povidoniodin). karena osteomielitis sulit untuk disembuhkan dan bisa menyebar melalui aliran darah.  Jika terinfeksi. kadang dilakukan pencangkokan kulit sehat pada daerah yang mengalami kerusakan. Jika tulang terinfeksi (osteomielitis) diberikan antibiotic jangka panjang. Menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi protein dan kalori tambahan bisa mempercepat penyembuhan. digunakan perban yang mengandung bahan yang menyerupai gelatin. untuk mengurangi tekanan. Agar tidak melekat pada luka. yang bisa membantu pertumbuhan kulit yang baru. gunakan perban yang dilapisi Teflon atau mengandung jeli minyak.  Jika luka mengalami infeksi atau mengeluarkan nanah. Bagaimana penatalaksanaan Ulcus Decubitus? Jawab :  Pada stadium awal. Melindungi bagian tubuh yang tulangnya menonjol dengan bahan-bahan yang lembut (bantal/ bantalan busa). Ulkus yang dalam namun sulit untuk diobati. terutama pada usia lanjut yang menderita malnutrisi. Elektromiogram. berikan antibiotic. Tetapi.   Bisa membuang bagian kulit yang mati dengan bantuan pisau bedah (debridement). minimal setiap 2jam sekali.3. . ulkus biasanya membaik dengan sendirinya setelah tekanan dihilangkan. sebaiknya ditutup dengan perban. Bagaimana pencegahan pada Ulcus decubitus? Jawab :   Merubah posisi pasien yang tidak dapat bergerak sendiri. pencangkokan kulit ini tidak selalu dapat dilakukan.  Untuk ulcus yang lebih dalam. m.  Jika kulit terluka.

jumlah cadangan fisiologis untuk menghadapi berbagai perubahan (challenge) berkurang. diagnosis. psikologis. penyakit / gangguan  demensia.   Mengkonsumsi makanan sehat dengan zat giz seimbang. dan pelayanan kesehatan pada lansia. keseimbangan = jatuh & fraktur Sintesis  Usia Lanjut Perbedaan lansia dengan geriatri   Lansia : menurunnya fungsi biologis. dan ekonomi. Jika pasien harus menjalani tiring baring yang cukup lama. social. “Principe” Cadangan fisiologis Homeostasis Perkembangan Usia Skema di atas menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia. Menjaga kebersihan kulit dan mengusahakan agar kulit tetap kering. Geriatri : suatu cabang ilmu kedokteran yang menitik beratkan pada pencegahan. pengobatan. Bagian tubuh mana yang sering terjadi Ulcus Decubitus dan atrofi Otot? Jawab : Mind Mapping Tua atau menua  fisiologi . usia > 60th. Setiap challenge terhadap homeostasis merupakan pergerakan menjauhi keadaan dasar . n. Fisiologi dari penuaan Homeostasis merupakan karakteristik fisiologis penuaan adalah keadaan penyempitan (berkurangnya) cadangan homeostasis yang terjadi seiring meningkatnya usia pada setiap system organ. bisa menggunakan kasur khusus yang diisi oleh air atau udara.

(baseline). Teori “Genetik Clock”  Menua telah terprogram secara genetik untuk spesies – spesies tertentu. Mutasi yang progresif pada DNA sel somatik menyebabkan penurun kemampuan fungsional sel. b. akan semakin sedikit cadangan yang tersedia untuk menghadapi “challenge”. dan semakin besar challenge yang terjadi. Jam ini menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar. Jadi. bila jam tersebut berhenti maka seseorang akan meninggal dunia meskipun tanpa kecelakaan atau penyakit. namun mereka juga memakai atau menggunakan cadangan fisiologis itu hanya untuk mempertahankan homeostasis. “Principe” Homeostasis Cadangan fisiologis Yang tersedia Cadangan fisiologis yang sudah dipakai Pertambahan Usia Pada skema ini dijelaskan bahwa seorang yang usia lanjut tidak hanya memiliki cadangan fisiologis yang makin berkurang. Jadi menurut teori ini kesalahan – kesalahan yang terjadi semasa hidup yang sudah berlangsung cukup lama. terjadi kesalahan dalam proses transkripsi (DNA  RNA). Akibatnya. Mutasi somatik (teori Error Catastrophe)  Faktor lingkungan (paparan terhadap radiasi dan zat kimia) dapat menyebabkan terjadinya mutasi somatik. maupun proses . Teori-teori yang berhubungan dengan penuaan Teori – teori proses menua:3 a. maka semakin besar cadangan fisiologis yang diperlukan untuk kembali ke homeostasis. Tiap spesies mempunyai jam genetik dalam inti sel yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu.

inilah yang menyebabkan terjadinya kanker meningkat sesuai dengan meningkatnya umur. disebabkan karena menurunnya salah satu atau beberapa proses metabolisme. Perpanjangan umur karena penurunan jumlah kalori tersebut.translasi (RNA  protein/enzim). Semakin lanjut usia makin banyak Radikal Bebas yang terbentuk sehingga proses pengerusakan terus terjadi. McKay et al. sehingga dapat bereaksi dengan DNA. asam lemak tak jenuh seperti dalam membran sel. sehingga sel kanker leluasa membelah – belah. Kerusakan akibat radikal bebas  Radikal bebas dapat terbentuk dalam alam bebas. Hasilnya dapat berupa reaksi antigen/antibodi yang luas mengenai jaringan – jaringan beraneka ragam. Lebih jauh ternyata perpanjangan umur tersebut berasosiasi dengan tertundanya proses degenerasi. daya serangnya terhadap sel kanker menjadi menurun. hal ini dapat menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya. Akan menyebabkan terbentuknya enzim yang salah  reaksi metabolisme yang salah sehingga mengurangi fungsional sel. Efek menua akan menyebabkan reaksi histoinkomtabilitas pada banyak jaringan. dan didalam tubuh jika fagosit pecah dan sebagai produk sampingan dalam rantai pernafasan dalam mitokondria. Teori menua akibat metabolisme  Tahun 1935. Radikal bebas bersifat merusak karena sangat reaktif. memperlihatkan bahwa pengurangan intake kalori pada rodentia muda akan menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur. Rusaknya sistem imun tubuh  Jika mutasi somatik dapat menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel. Sistem imun sendiri daya pertahanannya menurun pada proses menua. . e. protein. c. d.

pengecapan. berespon terhadap bahaya dan menginterpretasikan maskan sensori dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. social. Pada lansia yang mengalam penurunan persepsi sensori akan terdapat keengganan untuk bersosialisasi karena kemunduran dari fungsi-fungsi sensori yang dimiliki. Perubahan pada Lansia di semua sistem dan implikasi klinisnya  Perubahan pada sistem sensoris Persepsi sensori mempengaruhi kemampuan seseorang untuk saling berhubungan dengan orang lain dan untuk memelihara atau membentuk hubungan baru. bangun – berdiri dari kursi  Latihan keseimbangan Belum ada bukti ilmiah. latihan aerobik ini dilakukan setiap hari selama 30 menit  Latihan kekuatan Bentuk latihan kekuatan ini dapat dilakukan dengan mengangkat botol aqua dengan lengan. penciuman. dan menurukan resiko jatuh lansia. pendengaran. dan perabaan merupakan kesatuan integrasi dari persepsi sensori. cultural. Gaya hidup. tapi secara empiris dapat meningkatkan stabilitas.Faktor yang berhubungan dengan penuaan   Internal : Genetik dan Biologi Eksternal : Lingkungan. Indra yang dimiliki seperti penglihatan. . dan ekonomi Olahraga yang ideal pada lansia  Latihan aerobik Latihan aerobik ini untuk kesehatan jantung dan paru berupa gerakan tubuh secara aktif ex berjalan kaki.