Anda di halaman 1dari 65

1

KELELAHAN KONSTRUKSI
DR.-ING.IR. PUTU M. SANTIKA


PROGRAM MAGISTER TEKNIK MESIN
INSTITUT SAIN DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JKAKARTA, JULI 2008
2
DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN
2. HIGH CYCLE FATIGUE
3. LOW CYCLE FATIGUE
4. FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KELELAHAN


3
PENDAHULUAN
Masalah kelelahan telah dikenal dan diteliti lebih dari 160
tahun yang lalu
Konstruksi yang mengalami beban berulang / siklis /
bergetar akan mengalami kelelahan (fatigue)
Dalam praktek sehari-hari terjadinya beban berulang/
bergetar tidak dapat dihindari
August Woehler tercatat sebagai peneliti yang sangat terkenal
diagram woehlerna, melakukan penelitian dengan sistimatis
tentang fatik (1850 - 1875). Penelitiannya difokuskan pada
masalah batas lelah dari material baja.
Pada tahun 1885 Bauschinger mengembangkan extensometer
cermin yang mempunyai sensitifitas untuk mengukur regangan
dalam orde 1 micron. Penelitiannya terutama menyangkut
hubungan antara regangan plastis yang kecil dengan tegangan
yang aman terhadap kelelahan. Hasil penelitian Bauschinger
menjelaskan penomena perbedaan antara batas luluh monotonik
dan siklis dari material.

4
PENDAHULUAN (LANJUTAN)
Dengan diilhami oleh hasil penelitian
Woehler dan Bauschinger, pada tahun 1903
Ewing dan Humphrey melakukan
penelitian tentang mekanisme terjadinya
retak pada material. Hasil penelitiannya
dipublikasikan dengan judul The fracture
of metals under repeated alterations of
stress.
5
BEBAN DINAMIS (SIKLIS/BERGETAR)
PENYEBAB:
GETARAN
FLUKTUASI BEBAN
TIUPAN ANGIN
GELOMBANG OMBAK LAUT
KETIDAKRATAAN PERMUKAAN JALAN
RAPAT UDARA YANG TIDAK HOMOGEN
DLL.
6
NOMENKLATUR BEBAN DINAMIS
F
t
F
MAX
F
RATA2
F
a
F
min
F
a
7
JENIS BEBAN SIKLIS / Bergetar
AMPLITUDO KONSTAN (CONSTANT
AMPLITUDE LOADING)
AMPLITUDO BLOK (BLOCK AMPLITUDE
LOADING)
AMPLITUDO BERVARIASI (VARIABLE
AMPLITUDE LOADING)
8
JENIS BEBAN BLOK
Low-High (LH)
High-Low (HL)
Blockprogramm (BLP)
Multiblock
HIGH-LOW-HIGH (HLH)
LOW-HIGH-LOW (LHL)
Random (acak)
9
JENIS BEBAN (REKAPITULASI)
BEBAN SIKLIS
AMPLITUDO BERVARIASI
High-Low Low-High High-Low-High
Random
Blockprogram t t
t t t
o o o
o o
10
UMUR LELAH
UMUR LELAH AL-7075
0
50000
100000
150000
200000
250000
300000
350000
400000
450000
AL 7075-T7351 AL7075-0
MATERIAL
U
M
U
R

L
E
L
A
H

(
S
I
K
L
U
S
)
H
L
HL
LH
HLH
LHL
H = HIGH LEVEL- CA
LOADING
L = LOW LEVEL - CA
LOADING
HL = HIGH-LOW
LOADING
LH = LOW-HIGH
LOADING
HLH = MULTIBLOCK
HIGH-LOW-HIGH
LOADING
LHL = MULTIBLOCK
LOW-HIGH-LOW
LOADING
11
HIGH CYCLE FATIGUE

Umum
Diagram S-N
Pengaruh Tegangan Rata-Rata
12
Umum
Metoda pertama yang digunakan untuk mengerti dan
mengkuantifisir kelelahan logam
Metoda disain kelelahan standar selama lebih dari 100
tahun
Masih banyak digunakan sampai sekarang untuk
komponen yang mengalami tegangan dibawah batas
elastis, dan umurnya panjang.
Tidak sesuai untuk low cycles fatigue
Diagram S-N
Dasarnya adalah metoda Woehler.
Contoh diagram S-N, gambar 1. Diagram ini diperoleh dari
pengujian 4 titik tumpuan, dengan frekuensi putar 1750
rpm. Dilakukan material baja 1045 dengan pembebanan
lengkung rotasi dengan sesuai metoda R.R.Moore.
13
KARAKTERISTIK LELAH MATERIAL
(DIAGRAM S-N)
UMUR KONSTRUKSI DIHITUNG DENGAN PERSAMAAN:
N
i
= N
D
(S
ai
/ S
e
)
-K


LOG S
S
ai


S
e


LOG N N
i
N
D

K = 1/tg.o
o
GAMBAR 1
14
Benda uji berbentuk hourglass dengan bagian
ujinya berdiameter 0.25in - 0,30in dan dipoles
mengkilap. Level tegangan pada permukaan benda
uji dihitung dengan persamaan batang elastis yatiu S
= Mc/I walaupun nilai tegangan lebih besar dari batas
luluh material.
Kekurangannya: semua regangan dianggap elastis
serta mengabaikan karakteristik tegangan-regangan
sesunguhnya
Hanya berlaku bila regangan plastis sangat kecil.
Diagram S-N bisanya dipresentasikan dalam bentuk
kurve log-log, dan garis diagram S-N
menggambarkan data-data rata-rata
15
BENDA UJI hourglass
PANJANG BENDA UJI
BAGIAN UJI JEPITAN
ATAU
16
Baja BCC memperlihatkan adanya batas lelah
(endurance limit)-S
e
pada diagram S-N. Endurance limit
adalah level tegangan tertentu, dan tegangan dibawah
level tersebut tidak menyebabkan material patah. Untuk
hal-hal praktis batas lelah diambail pada N
B
= 2.10
6

siklus.
Batas lelah disebabkan adanya elemen interstisi,
seperti C dan N pada latik Fe, yang menahan dislokasi.
Hal ini menyebabkan terhalangnya mekanisme slip
penyebab tumbuhnya retak mikro.
Batas lelah bisa lenyap karena:
Beban lebih yang timbulnya secara periodik (unpin
dislocations)
Lingkungan yang korosiv (menyebabkan fatigue-corrosion
interaction)
Temperatur tinggi (memobilisasi dislokasi)
17
Kebanyakan paduan nonferrous tidak
memiliki batas lelah, dan diagram S-N
akan mempunyai kurve yang menerus
(kontinyu), gambar 2. Batas lelah hayal
dapat ditentukan pad level tegangan yang
menyebabkan umur material sekitar 5.10
8

Terdapat hubungan empiris antara sifat
lelah dari material dengan karakteristik
tarik statis dan kekerasannya.
Rasio fatik adalah: perbandingan batas
lelah dengan tegangan patah-S
u
, Baja
dengan S
u
< 200 ksi memiliki rasio fatik 0.5
(bervariasi dari 0.35 - 0.6)
18
KARAKTERISTIK LELAH MATERIAL
NON FERROUS


LOG S
S
a1


S
a2


LOG N N
1
N
2

K = 1/tg.o
GAMBAR 2
19
Baja dengan S
u
> 200 ksi mengandung inklusi
karbida yang terbentuk selama tempering dari
martensit. Inklusi non metallik ini berfungsi sebagai
titik pemicu retak, yang dapat dengan efektif
mengurangi batas lelah.
Hubungan antara
Su
dengan kekerasan (BHN) baja:
Su (ksi) = 0.5 BHN
Se (ksi) = 0,25 BHN untuk BHN 400, bila BHN >
400 , Se = 100 ksi
Se = 0,5 Su untuk Su 200 ksi, bila Su> 200 ksi,
maka Se = 100 ksi
Amplitudo tegangan yang sesuai untk umur 1000
siklus, untuk material baja adalah: 0.9 Su. Garis
yang menghubungkan titik ini dengan endurance
limit adalah garis disain estimasi dari diagram S-N,
bila data kelelahan yang aktual tidak tersedia.


20
Untuk baja, persamaan berikut dapat pula
digunakan untuk memperkirakan kurve S-N:
S = 10
C
N
b
(untuk 10
3
< N < 10
6
)
dimana C dan b adalah:
b = -(1/3) log
10
(S1000/Se) ; C = log
10

((S1000)
2
/Se)
N = 10-C/bS1/b, untuk 103 < N < 106
Bila S
1000
dan S
e
diketahui, maka:
S
1000
= 0.9 Su dan S
e
= 0.5 S
u

Dan diagram S-N didefinisikan sebagai:
S = 1,62SuN
-0.085
Untuk logam-logam lain disarankan untuk tidak
menggunakan pendekatan diatas.
21
Berkenaan dengan diagram S-N, beberapa hal berikut
perlu mendapat perhatian:
Persamaan empirin diatas, benar-benar hanya
perkiraan. Tergantung dari tingkat kepastian yang
diharapkan pada analisa kelelahan, kadang-kadang
diperlukan data uji yang sebenaarnya.
Konsep yang paling penting dari diagram S-N adalah:
bahwa batas lelah digunakan untuk perancangan
komponen dengan umur tidk terbatas atau safe life
atau safe stress.
Secara umum, pendekatan dengan diagram S-N,
hendaknya jangan digunakan untuk menganalisa
umur konstruksi dibawah 1000 siklus.
Sehubungan dengan butir terakhir diatas, diingatkan
untuk tidak menggunakan metoda pendekatan diatas
untuk menentukan diagram S-N dibawah 1000 siklus.
Hal ini disebabkan karena kurve diagram S-N dibawah
1000 siklus biasanya sangat datar, akibat terjadinya
regangan plastis yang terlalu besar. Untuk kondisi ini
harus digunakan pendekatan low cycle fatigue
22
Pengaruh Tegangan Rata-Rata
Beberapa nomenklatur yang dibutuhkan untuk
membahas tegangan rata-rata, gambar 1.6
Ao =o
max
o
min
= range tegangan
o
a
=(o
max
o
min
)/2= amplitudo tegangan
o
m
=(o
max
+o
min
)/2= tegangan rata-rata
R = o
min
/ o
max
= rasio tegangan
A = o
a
/ o
m
= rasio amplitudo
Nilai R dan A untuk beberapa kondisi
pembebanan yang umum adalah sebagai berikut:
Beban bolak-balik penuh : R = -1 A =
Nol ke maksimum : R = 0 A = 1
Nol ke minimum : R = A = -1
23
Hasil pengujian kelelahan yang menggunakan tegangan
rata-rata = 0 kerap digambarkan pada diagram Haigh ( o
a
-
o
m
), dan garis umur konstannya ditarik dari titik-titik hasil
pengujian, gambar 1.7 & 1.8).
Karena pengujian untuk menggambarkan diagram High
sangat mahal, maka dikembangkanlah persamaan-
persamaan empiris untuk menggambarkan wilayah disain
dengan umur tidak terbatas.


Persamaan-persamaan berikut yang diperlihatkan
pada gambar 1.9, sering digunakan untuk
menggambarkan umur disain tidak terbatas.
Soderberg (USA, 1930) : o
a
S
e
+ o
m
S
y
= 1
Goodman (england,1899) : o
a
S
e
+ o
m
S
u
= 1
Gerber (Germany, 1874) : o
a
S
e
+ (o
m
S
u
)
2
= 1
Morrow (USA, 1960-an) : o
a
S
e
+ o
m
S
f
= 1
Gambar 1.9



24
Dalam pembahasan mengenai o
m
, hal-hal
berikut perlu dipertimbangkan:
Metoda Soderberg, sangat konservatif dan jarang
digunakan
Data test aktual cendrung terletak diantara kurve
Goodman dan Gerber
Untuk baja keras, Yang tegangan patahnya
mendekati tegangan sebenanya (true stress),
maka garis Morrow maupun Goodman akan
persis sama. Sedangkan untuk material yang liat
(o
f
> S
u
) garis Morrow memperlihatkan kurang
sensistif terhadap Tegangan rata-rata.
Untuk kebanyakan situasi perancangan
kelelahan, R <1, terlihat ada sedikit perbedaan
dalam teori.
Pada wilayah dimana teori memperlihatkan
perbedaan yang mencolok (niali R mendekati 1),
terdapat sangat sedikit data. Dalam wilayah ini,
maka batas luluh bisa merupakan batas diasain.



25
Untuk perhitungan disain dengan umur terbatas,
batas lelah dalam setiap persamaan dapat diganti
dengan o
a
untuk R = -1 yang sesuai dengan umur
terbatas tersebut.
Contoh soal: Sebuah komponen yang menerima
pembebanan siklis dengan tegangan maksimum 100
ksi dan tegangan minimum 10 ksi. Komponen dibuat
dari bahan baja dengan tegangan patah S
u
= 150 ksi,
batas lelah S
e
= 60 ksi dan amplitudo pada N
B
= 100
siklus dan R = -1 adalah S
1000
= 110 ksi. Dengan
menggunakan persamaan Goodman, tentukanlah
umur dari komponen.
Penyelesaian: Tentukan o
a
dan o
m
o
a
= (o
mak
- o
min
)/2 = (110 - 10)/2 = 50 ksi
o
a
= (o
mak
+ o
min
)/2 = (110 + 10)/2 = 60 ksi
26
Penggambaran diagram Haigh dengan umur konstan
untuk 10
6
dan 10
3
siklus. Garis ini dibuat dengan
menghubungkan batas lelah S
e
dan S
1000
pada
sumbu vertikal dengan S
u
pada sumbu horizontal
(sumbu o
m
), gambar c1.1. Bila kondisi tegangan yang
diterima komponen dimasukan kedalam diagram
Haigh, maka titiknya akan jatuh diantara garis 10
6
dan
10
3
. Ini artinya komponen mempunyai umur diatara
1000 dan 1000000 siklus. Garis umur konstan dari
komponen dapat dibauat dengan menarik garis
melalui titik S
u
dan titik yang digambarkan oleh
koordinat o
a
= 50 ksi dan o
m
= 60ksi, dan garis ini
akan memotong ordinat di titik 83 ksi. Nilai ini dapat
pula dihitung sebgai berikut:

27
(o
a
/S
n
) + (o
a
/S
u
) = 1
(50/S
n
) + (60/150)= 1
S
n
= 83 ksi

Nilai S
n
= 83 ksi kemudian dimasukan didalam diagram
S-N untuk menentukan umur komponen, yaitu NB = 2.4
x 10
4
siklus.

Dari penelitian memperlihatkan bahwa tegangan rata-
rata tekan akan menaikan umur komponen, seperti
terlihat pada gambar 1.10. Tapi hal ini sulit diterapkan
pada komponen bertakik. Pada komponen bertakik
tegangan rata-rata tekan dianggap tidak memberi
pengaruh.
Dari pengujian torsi terhadap komponen tak bertakik
memperlihatkan bahwa tegangan rata-rata tidak
memberi pengaruh bila ditambahkan dengan amplitodo
tegangan geser bolak-balik (alternating). Kecendrungan
ini tidak terlihat pada komponen yang bertakik.
28
LOW CYCLE FATIGUE
Umum
Sifat Material
Karakteristik Tegangan-Regangan
Monotonik
Karakteristik Tegangan-Regangan Siklis
Pengerasan dan Pelunakan Siklis
Menentukan Kurve Tegangan-Regangan
Siklis
Tegangan-Regangan Plastis
Kurve Regangan-Umur
Menentukan Karakteristik Lelah
Pengaruh Tegangan Rata-Rata
29
UMUM
FATIK PADA UMUR SEKITAR 10000 SIKLUS
DIGUNAKAN UNTUK MENDISAIN STRUKTUR
DENGAN UMUR YANG PENDEK SEPERTI MISSILE,
ATAU KONSTRUKSI YANG MENGALAMI
OVERLOAD YANG BESAR
PATAH FATIK SELALU DIMULAI DARI
DISKONTINUITAS LOKAL SEPERTI TAKIK, RETAK
ATAU DAERAH-DAERAH DENGAN KONSENTRASI
TEGANGAN YANG BESAR.
MENURUT BAUSCHINGER (1910), BATAS ELASTIS
DARI BESI DAN BAJA DAPAT DINAIK-TURUNKAN
DENGAN CARA MEVARIASI TEGANGAN SIKLIS.
Landgraf mempresentasikan low cycle fatigue
dalam bentuk tegangan-regangan siklis
30
Diagram Tegangan-regangan Hysteresis
Slope AB adalah
modulus elastis E
Ao = range tegangan
Ac
p
= regangan plastis
Ac
e
= regangan elastis
Ac = regangan total
= Ac
p
+ Ac
e


Sikl 1
Sikl 3
Sikl 5
Sikl 2
Sikl 4
Ac
p
Ac
e

Ac

Ao

A
B
Gambar 1
o
c
31
TEGANGAN-REGANGAN SIKLIS
A = CYCLIC HARDENING
B = CYCLIC SOFTENING
Fatigue ductility coef. c
f
adalah
regangan aktual pada saat patah
ttk A gmb. 1
Fatigue strength coef o
f
adalah
tegangan aktual pada saat patah
ttk A gamb. 1
Fatigue ductility exponent c =
slope regangan plastis gmb 3
Fatigue strength exponent b =
slope grs regangan elastis gmb 3
MONOTONIK
A
B
Gambar 2
tegangan
regangan
32
DIAGRAM c - N, SECARA
SKEMATIS

(Ac
p
/2) = c
f
(2N)
C
(Ac
e
/2) = o
f
/E (2N)
b

(Ac
t
/2)= c
f
(2N)
C
+

o
f
/E (2N)
b

2N
B

2c
a

2N
t

o
f
/E
c
f
Gambar 3
33
Amplitodo regangan total
(Ac
t
/2)= (Ac
e
/2) + (Ac
p
/2) = c
f
(2N)
C
+ o
f
/E (2N)
b

Regangan plastis
(Ac
p
/2) = c
f
(2N)
C
Regangan elastis
(Ac
e
/2) = o
f
/E (2N)
b
Manson
Ac = (3.5S
u
)/EN
0.12
+ (c
f
/N)

34
Amplitudo tegangan
o
a
= Ao/2 = K(Ac
p
/2 )
Dimana :
K adalah cyclic strength coef.,
n = cyclic strain hardening exponent

Kemudian:
Amplitudo plastis
(Ac
p
/2) = (o
a
/K )
Amplitudo elastis
(Ac
e
/2) = (o
a
/E )
K diperoleh dari o
f
/ (c
f
)
n


35
FAKTOR-FAKTOR KELELAHAN

Dimensi
Jenis beban
Kekasaran permukaan
perlakuan panas
Temperatur
Lingkungan

36
Pengaruh Dimensi
Kegagalan fatik dari material
tergantung dari interaksi antara
tegangan yang tinggi dengan
daerah kritis. Fatik dikontrol oleh
bagian yang terlemah dari
material, dan bagian ini
bertambah seiring dengan
pertambahan volume material.
Pengaruh dimensi berkaitan
dengan lapisan tipis permukaan
material yang menerima lebih
dari 95% tegangan permukaan
maksimum material.
+o
-o

Gambar 4
37
Komponen yang besar akan mempunyai gradien
tegangan yang lebih rendah, sehingga lebih banyak
volume material yang menerima pembebanan yang
besar, gbr. 4. Akibatnya kemungkinan terjadinya initiasi
retak fatik akan lebih besar. Konsep ini didukung oleh
hasil pengujian, yang menunjukan bahwa beban aksial
tidak sensitif terhadap dimensi bial dibandingkan dengan
beban lengkung maupun torsi, karena beban aksial tidak
menimbulkan gradien tegangan.
Ide tentang bagian volume yang menerima konsentrasi
tegangan yang tinggi sangat penting didalam
menganalisa gradien tegangan pada suatu takik.

38
Faktor pengaruh dimensi empiris:
Cukr = 3,1 : bila d s 0,3 in
0,869d
-0,097
: bila 0,3 in s d s 10 in atau
Cukr = 1,0 : bila d s 8 mm
0,189d
-0,097
: bila 8 mm s d s 250 mm,
dimana d = diamaeter komponen
Hal-hal penting lainnya berkenaan dengan pengaruh
dimensi:
Efek tersebut terlihat pada umur yang sangat panjang
Efek tersebut kecil sampai diameter 2,0 in, baik untuk
lengkung maupun torsi
Berkenaan dengan masalah-masalah pengerjaan pada
komponen yang besar, kemungkinan terjadinya tegangan
sisa dan berbagai variabel metalurgi lainnya lebih besar
ketimbang efek dimensi.

39
PENGARUH BEBAN
Rasio batas lelah (tes lengkung dan torsi)
0,6 - 0,9
S
e
(axial) = 0,70 S
e
(lengkung)
Rasio batas lelah (tes torsi dan lengkung
rotasi) 0,5 - 0,6 atau 0,577 sesuai teori
kegagalan Von Mises.
t
e
(torsi) = 0,577 S
e
(lengkung)


40
PENGERJAAN PERMUKAAN

Goresan, bekas pengerjaan serta lubang-lubang kecil (pit)
akan menambah konsentrasi tegangan pada bagian-bagian
kritis.
Pengaruh pengerjaan permukaan pada material dengan
butir yang halus dan merata (haigh strength steel)lebih kecil
dibandingkan dengan material yang mempunyai batas butir
kasar dan tidak merata seperti besi tuang
Beberapa hal penting berkenaan dengan pengaruh pengerjaan
permukaan:
Kondisi permukaan akan lebih penting bagi baja dengan
kekuatan yang lebih tinggi
Tegangan sisa permukaan akibat pengerjaan mungkin menjadi
sangat penting
Pada umur komponen yang pendek, dimana retak
mendominasi umur komponen, kondisi permukaan kurang
berpengaruh terhadap umur lelah.
Ketidak teraturan permukaan lokal seperti bekas stamping
dapat berlaku sebagai pusat konsentrasi tegangan, jadi tidak
dapat diabaikan


41
S-N Curve of automotive leaf spring materials at R = -1
200
400
600
800
10000 100000 1000000 10000000
Load cycles (Nf)
S
t
r
e
s
s

a
m
p
l
i
t
u
d
e

(
M
P
a
)
A920T480
A920T480SP1
A920T480SP2
A920T480SP3
Log. (A920T480)
Log.
(A920T480SP1)
Log.
(A920T480SP2)
Log.
(A920T480SP3)
42
PERLAKUAN PANAS
Setiap perlakuan panas akan memberi pengaruh
yang berarti terhadap umur lelah komponen,
karena retak lelah biasanya selalu dimulai dari
permukaan.
Kekuatan lelah akibat perlakukan panas sangat
dipengaruhi oleh tegangan sisa yang terjadi pada
permukaan bendea
43
PENGARUH TEMPERATUR
Temperatur menyebabkan
perubahan sifat-sifat mekanis
material
Bila ada mean stress, maka
material kemungkinan akan
mengalami creep
Temperatur tinggi
menyebabkan hilangnya batas
lelah
Temperatur tinggi
memobilisasi dislokasi dan
menurunkan daya tahan fatik
(fatigue resistance)
PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP
BATAS LELAH (N = 10
7
) BEBERAPA
CARBON DAN ALLOY STEEL
ARCO IRON, AS ROLLED
2NiCrMo, dikeraskan dan temper
BS 420S37, dikeraskan, temper
BS070M26, normalizing
BS070M20, normalizing
31/2 Ni, dikeraskan,
temper
temperatur
0
500 200 400
Batas lelah MPa
0
200
400
600
44
PENGARUH KOROSI (Lingkungan)
Menurunkan kekuatan lelah, karena terjadi
porositas/kekasaran dan lobang-lobang pada permukaan
benda.
Bahaya paling besar karena disebabkan oleh terjadinya
tegangan dan korosif secara bersamaan
Jadi bila beban siklis bekerja pada lingkungan korosif,
maka struktur pasti akan gagal
Pada lingkungan korosif, frekuensi beban menjadi faktor
penting dalam penurunan umur komponen. Makin pelan
frekuensi dan makin tinggi temperatur, maka rambat
retak menjadi lebih cepat dan umur konstgruksi menjadi
lebih pendek, pada stress level yang sama



45
FATIGUE LIFE PREDICTION
AKUMULASI KERUSAKAN FATIK
(FATIGUE DAMAGE ACCUMATION)
DR.-ING. PUTU M. SANTIKA

PROGRAM MAGISTER TEKNIK MESIN
INSTITUT SAIN DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA, AGUSTUS 2007
46
BAHASAN
PENDAHULUAN
UMUR KONSTRUKSI PADA BEBAN AMPLITUDO KONSTAN
METODA WOEHLER
METODA PALMGREN
METODA MANSON-COFFIN
ANALISA UMUR KONSTRUKSI PADA BEBAN AMPLITUDO
BERVARIASI (ACAK)
PENGUKURAN BEBAN LAPANGAN
PEMBUATAN BEBAN KOLEKTIF
PENETUAN RASIO SIKLUS BEBAN DENGAN JARAK TEMPUH/ JAM
OPERASI
TABEL URUTAN AMPLITUDO
PERHITUNGAN UMUR OPERASI
METODA MINER
MODIFIKASI MINER
47
PENDAHULUAN
BEBAN SIKLIS MENYEBABKAN KELELAHAN PADA KONSTRUKSI
BERBEDA DENGAN BEBAN AMPLITUDO KONSTAN, MAKA BEBAN
OPERASI/LAPANGAN SENANTIASA MEMPUNYAI AMPLITUDO
BERVARIASI DAN SERING SANGAT KOMPLEK
MASALAH UMUR OPERASI AKAN SELALU MENJADI PERHATIAN
PARA INSINYUR/ PEREKAYASA YANG MERANCANG KONSTRUKSI
YANG MENERIMA PEMBEBANAN SIKLIS
UMUR OPERASI DAPAT DIANALISA SECARA:
ANALITIS
BEBAN AMPLITUDO KONSTAN
BEBAN AMPLITODO BERVARIASI (ACAK)
EXPERIMENTAL
BEBAN AMPLITUDO KONSTAN
BEBAN AMPLITODO BERVARIASI (ACAK)
48
UMUR KONSTRUKSI PADA BEBAN
AMPLITUDO KONSTAN
METODA WOEHLER (1870)
METODA PALMGREN (1924)
METODA MANSON-COFFIN (1955)
METODA BASQUIN
METODA MORROW (MANSON-COFFIN-
BASQUIN)-(1960)
49
UMUR KONSTRUKSI PADA BEBAN AMPLITUDO KONSTAN
METODA PALMGREN
PADA TAHUAN 1924 PALMGREN MENGHITUNG
UMUR OPERASI BANTALAN GLINDING DENGAN
PERSAMAAN:
L = 10
6
(C/P)
n

DIMANA:
n = 3 UNTUK BANTALAN PELURU DAN
n = 10/3 UNTUK BANTALAN ROL
L = UMUR BANTALAN DALAM PUTARAN
C = GAYA DUKUNG DINAMIS (KN) UNTUK UMUR BANTALAN
10
6
PUTARAN DENGAN KEMUNGKINAN RUSAK 10%
P = BEBAN BANTALAN EQUIVALEN (KN)
50
UMUR KONSTRUKSI PADA BEBAN AMPLITUDO KONSTAN
METODA WOEHLER
DENGAN METODA WOEHLER UMUR KONSTRUKSI
DIHITUNG DENGAN PERSAMAAN:
N
i
= N
D
(o
ai
/ o
D
)
-K


LOG o
o
ai


o
D


LOG N N
i
N
D

K = 1/tg.o
o
51
UMUR KONSTRUKSI PADA BEBAN AMPLITUDO KONSTAN
METODA MANSON-COFFIN-
BASQUIN
MANSON-COFFIN (1955) MENGHITUNG UMUR KONSTRUKSI
YANG MENGALAMI PERUBAHAN PLASTIS DENGAN
PERSAMAAN:
(Ac
p
/2) = c
f
(2N)
C
BASQUIN: MENGHITUNG UMUR KONSTRUKSI BERDASARKAN
REGANGAN ELASTIS YANG DIALAMI KOMPONEN
(Ac
e
/2) = o
f
/E (2N)
b
MORROW (MANSON-COFFIN-BASQUIN): MENGHITUNG UMUR
KONSTRUKSI BERDASARKAN REGANGAN TOTAL YANG
DIALAMI OLEH KONSTRUKSI DENGAN PERSAMAAN:
(Ac
t
/2) = (Ac
p
/2) + (Ac
e
/2)
(Ac
t
/2)= c
f
(2N)
C
+

o
f
/E (2N)
b
52
UMUR KONSTRUKSI PADA BEBAN AMPLITUDO KONSTAN
METODA MANSON-COFFIN-
BASQUIN
DIAGRAM c - N, SECARA SKEMATIS
(Ac
p
/2) = c
f
(2N)
C
(Ac
e
/2) = o
f
/E (2N)
b

(Ac
t
/2)= c
f
(2N)
C
+

o
f
/E (2N)
b

2N
B

2c
a

2N
t

o
f
/E
c
f
53
ANALISA UMUR KONSTRUKSI PADA
BEBAN AMPLITUDO BERVARIASI
MATERI BAHASAN
KONDISI ALAMIAH KERUSAKAN FATIK DAN
KAITANNYA DENGAN SEJARAH PEMBEBANAN
METODA KERUSAKAN KUMULATIF PADA
PERIODE AWAL LELAH
METODA PENGHITUNGAN SIKLUS BEBAN
(COUNTING METHOD) YANG DIGUNAKAN
UNTUK MENILAI KEJADIAN KERUSAKAN PADA
BEBAN ACAK
PERAMBATAN RETAK PADA BEBAN
AMPLITUDO BERVARIASI
METODA UNTUK PENGANALISAAN FATIK
KARENA BEBAN LAPANGAN
54
DEFINISI KERUSAKAN FATIK
MEKANISME KERUSAKAN KUMULATIF PADA
PERIODE AWAL RETAK BERBEDA DENGAN
PERIODE RETAK BERKEMBANG
PADA PERIODE RETAK BERKEMBANG,
Kerusakan Berkorelasi Langsung Dengan Panjang Retak
Metoda Anlisa Retak Berkembang, Urutan Beban Dikorelasikan
Dengan Perpanjangan Retak
Kerusakan Dapat Dihubungkan Dengan Penomena Yang
Terukur Dan Terpantau
Dalam Industri Penerbangan, Inspeksi Interval Menjadi Satu
Kesatuan Prosedur Dengan Desain Damage Tolerance
55
PADA PERIODE RETAK AWAL
Mekanismenya Lebih Rumit, Dan Terjadi Pada Level
microscopic
Dihubungksan dengan dislokasi, pita slip, retak mikro,
dll, dan ini hanya bisa diamati dialboratorium dengan
peralatan yang baik.
Oleh karenya, metoda analisa kerusakan kumulatif
bersifat empiris.
Pengujian dilakukan terhadap benda uji standar yang
kecil
Umur lelah didefinisikan sebgai terputusnya benda uji
pada pengujian kelelahan.


56
METODA AKUMULASI KERUSAKAN
PADA PERIODE AWAL RETAK
METODA AKUMULASI KEUSAKAN LINIER
DIPERKENALKAN PERTMA KALI OLEH PALMGREN (1924)
UNTUK MENGHITUNG UMUR OPERASI BANTALAN
GLINDING
KEMUDIAN PADA TAHUN 1945 MINER MENGEMBANGKAN
DAN MEMPOPULERKAN SUATU METODA PERHITUNGAN
UMUR KONSTRUKSI BERDASARKAN KONSEP
KERUSAKAN KUMULATIF LINIER
DASAR METODA MINER:
BEBAN KOLEKTIF
DIAGRAM S-N ATAU HAIGH
PERSAMAAN MATEMATIS YANG MENGGAMBARKAN
KERUSAKAN LELAH KUMULATIF
57
TERMINOLOGI DAN KONSEP:
TERMINOLOGI
n/N = PERBANDINGAN SIKLUS
DIMANA: n = JUMLAH SIKLUS PADA LEVEL TEGANGAN S
N = UMUR LELAH PADA LEVEL TEGANGAN S
FRAKSI KERUSAKAN Di = ni/Ni
ANGKA KERUSAKAN D = EDi = Eni/Ni
KERUSAKAN TERJADI BILA D >1
KONSEP AKUMULASI KERUSAKAN LINIER:
FRAKSI KERUSAKAN Di YANG DIAKIBATKAN OLEH
TEGANGAN Si ADALAH SAMA DENGAN RASIO SIKLUS: ni/Ni
CONTOH: D UNTUK 1 SIKLUS BEBAN = 1/N, DENGAN KATA
LAIN 1 SIKLUS BEBAN YANG BEKERJA PADA KONSTRUKSI
AKAN MENGAMBIL 1/N UMUR TOTAL KONSTRUKSI.
58
KONSEP MINER
KERUSAKAN
D
Ni
ni
N
n
N
n
N
n
= + + + = E = ....
2
2
1
1
n
1

n
2

n
3

N1 N2 N3
o
a

Log N
o
a


H =Keseringan
BEBAN
KOLEKTIF
DIAGRAM S-N
59
KETERBATASAN KONSEP
AKUMULASI KERUSAKAN LINIER
KONSEP AKUMULASI KERUSAKAN LINIER MEMPUNYAI
BEBERAPA KEKURANGAN POKOK, YAITU:
EFEK URUTAN AMPLITUDO TIDAK DIPERHITUNGKAN DIDALAM
MENGHITUNG UMUR KONSTRUKSI
TIDAK BERGANTUNG PADA BESAR KECILNYA APLITUDO.
DALAM HAL INI TINGKAT PERTAMBAHAN(RATE) AKUMULASI
KERUSAKAN TIDAK BERGANTUNG PADA LEVEL TEGANGAN
AMPLITUDO DIBAWAH BATAS LELAH DIANGGAP TIDAK
MEMBERI KERUSAKAN


60
MODIFIKASI METODA MINER
JACOBY
HAIBACH
CORTEN-DOLAN
ZENNER-LIU
MODIFIKASI OLEH JACOBY MERUPAKAN MODIFIKASI YANG
PALING SEDERHANA. JACOBY MENGGANTI NILAI S = 1
DENGAN NILAI C. DIMANA C DIPEROLEH SECARA
EXPERIMENTAL DAN DIPENGARUHI OLEH MATERIAL, JENIS
PENGUJIAN DAN URUTAN PEMBEBANAN. DENGAN MENGAMBIL
C = 0,3, YACOBY MENDAPATKAN BAHWA SEKITAR 90% UMUR
OPERASI MATERIAL ALUMINIUM TERLETAK PADA DAERAH
KONSERVATIF
61
METODA HAIBACH
HAIBACH BERANGGAPAN BAHWA AMPLITUDO DIBAWAH BATAS LELAH
JUGA MEMBERI KERUSAKAN PADA MATERIAL. OLEH KARENANYA
HAIBACH MEMPERPANJANG KURVE DAERAH PATAH TERUS KEBAWAH
MELEWATI GARIS BATAS LELAH SAMPAI MEMOTONG GARIS o
a
= 0
DENGAN KEMIRINGAN (2k
B
-1).

KERUSAKAN
Ni
ni
N
n
N
n
N
n
D = + + + = E = . . . .
2
2
1
1
o
a

Log N


H =Keseringan
BEBAN
KOLEKTIF
DIAGRAM S-N
o
a
k = , MINER ASLI
k
B
= kemiringan komponen
I II (haibach)
I: k = k
B

II: k = 2k
B
-1
MINER-ELEMENTER
62
METODA CORTEN-DOLAN
PERHITUNGAN UMUR KONSTRUKSI MERNURUT CORTEN-DOLAN
JUGA BERDASARKAN METODA MINER.
PERBEDAANNYA HANYA TERLETAK PADA DIAGRAM S-N YANG
DIGUNAKAN UNTUK MENGHITUNG FRAKSI KERUSAKAN,DALAM
HAL INI SEMUA APLITUDO BEBAN DIBAWAH BATAS LELAH JUGA
MEMBERI KERUSAKAN PADA KONSTRUKSI.
UMUR OPERASI DARI KONSTRUKSI DIHITUNG BERDASARKAN
PERSAMAAN:


d
a
ai
j
i
i
N
N
|
|
.
|

\
|

=
=
1
1
1
o
o
o
DIMANA:
N = SIKLUS PATAH
N
1
=SIKLUS PATAH PADA LEVEL TEGANGAN TERBESAR o
1

o
i
= RASIO RELATIF SIKLUS TEGANGAN DENGAN
AMPLITUDO RELATIF o
ai
, TERHADAP BEBAN KOLEKTIF
i = (1j) JUMLAH DARI LEVEL TEGANGAN
1/d = KEMIRINGAN DARI DIAGRAM S-N YANG FIKTIF
63
DIAGRAM S-N MENURUT
CORTEN-DOLAN (TH. 60-AN)
LOG o
a

(o
a
)
1

(o
a
)
i
N
1
N
i
d
1

d
2


DIAGRAM S-N YANG
SEBENARNYA
DIAGRAM S-N CORTEN-
DOLAN
LOG N
(|d
2
| >|d
1
|)
k = KEMIRINGAN
KURVE S-N d = (0,7 - 1,0) k, UNTUK BAJA DENGAN
o
y
/o
D
= 1,2 - 1,5
d = (1 - 1,6) k, UNTUK ALUMINIUM
DENGAN o
y
/o
D
= 2 - 3

64
METODA ZENNER-LIU (1994)
KONSEP ZENNER-LIU DIPERLIHATKAN PADA GAMBAR BERIKUT

H
O
N
D

KESERINGAN H, SERTA SIKLUS PATAH log (N)
LOG o
a

(o
a
)
1

o
D
(o
D
)
*
=
o
D/2
BEBAN KOLEKTIV
k
B

k* = (k
B
+m)/2
m
KURVE S-N
PERAMBATAN
RETAK
KOMPONEN ASLI
ZENNER-LIU
METODA PERHITUNGAN SAMA
DENGAN MINER



KURVE S-N DIPUTAR KEARAH
KURVE RAMBATAN RETAK
DENGAN KEMIRINGAN k
*
DAN
DIMULAI DARI (o
a
)
1
BATAS LELAH PADA ZENNER-
LIUADALAH (o
D
)
*
= o
D
/2


KERUSAKAN
Ni
ni
N
n
N
n
N
n
D = + + + = E = . . . .
2
2
1
1
65
CYCLE COUNTING
LEVEL CROSSING
PEAK
SIMPLE RANGE
MARKOFF MATRIK
RAINFLOW