Anda di halaman 1dari 27

Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM

Rancangan PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR ..... TAHUN ... TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 129 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pemberian Air Susu Ibu eksklusif; 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEMBERIAN AIR SUSU IBU EKSKLUSIF. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. 2. 3. Bayi adalah anak dari baru lahir sampai berusia 12 (dua belas) bulan. Air Susu Ibu yang selanjutnya disingkat ASI, adalah cairan hasil sekresi kelenjar payudara ibu. Air Susu Ibu eksklusif yang selanjutnya disebut ASI eksklusif, adalah air susu ibu yang diberikan kepada bayi tanpa menambahkan, dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain yang dilakukan selama 6 bulan sejak bayi dilahirkan.Susu formula bayi adalah susu yang secara khusus diformulasikan sebagai pengganti air susu ibu untuk bayi sampai umur 6 bulan.

Mengingat

:

1

www.djpp.depkumham.go.id

Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM

4.

Produk bayi lainnya adalah produk bayi yang terkait langsung dengan kegiatan menyusui meliputi segala bentuk susu formula bayi lainnya, botol susu, dot, dan empeng. Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Tempat kerja adalah ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumbersumber bahaya. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

5.

6.

7.

8.

9.

10. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

Pasal 2 Pengaturan pemberian ASI eksklusif bertujuan untuk: a. menjamin pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif sejak dilahirkan sampai dengan usia 6 (enam) bulan; b. memberikan perlindungan kepada ibu untuk dapat memenuhi kewajiban memberikan ASI eksklusif kepada bayinya; dan c. meningkatkan peran dan dukungan suami/keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah dalam pemberian ASI eksklusif.

BAB II TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DAN PEMERINTAH DAERAH Pasal 3 Tanggung jawab pemerintah dalam program pemberian ASI eksklusif meliputi: a. menetapkan kebijakan nasional terkait program pemberian ASI eksklusif; b. melaksanakan advokasi dan sosialisasi program pemberian ASI eksklusif;

2

www.djpp.depkumham.go.id

g. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan ASI eksklusif. e. dan kegiatan di masyarakat. memberikan pelatihan mengenai program pemberian ASI eksklusif dan penyediaan tenaga konselor menyusui di fasilitas pelayanan kesehatan dan tempat sarana umum lainnya. d. mengalokasikan dana dalam penyelenggaraan pemberian ASI eksklusif. b. menyediakan ketersediaan akses terhadap informasi dan edukasi atas penyelenggaraan pemberian ASI eksklusif. tempat sarana umum. memberikan pelatihan mengenai program pemberian ASI eksklusif dan penyediaan tenaga konselor menyusui di fasilitas pelayanan kesehatan dan tempat sarana umum lainnya.id . mengembangkan kerja sama di dalam negeri terkait ASI eksklusif. menetapkan kebijakan daerah terkait program pemberian ASI eksklusif. h.djpp.depkumham. Pasal 4 Tanggung jawab pemerintah daerah dalam program pemberian ASI eksklusif meliputi: a. mengalokasikan dana dalam penyelenggaraan pemberian ASI eksklusif. tempat kerja. j. f. h. menyediakan waktu dan fasilitas khusus dalam penyelenggaraan pemberian ASI eksklusif. f. mengawasi serta mengevaluasi pelaksanaan dan pencapaian program pemberian ASI eksklusif di fasilitas pelayanan kesehatan. g. c. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan ASI eksklusif. mengembangkan kerja sama di dalam dan dengan luar negeri terkait ASI eksklusif. 3 www. j. d. membina.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM c. i. mengintegrasikan materi ASI eksklusif pada kurikulum pendidikan formal dan nonformal bagi tenaga kesehatan. tempat sarana umum. menyediakan waktu dan fasilitas khusus dalam penyelenggaraan pemberian ASI eksklusif. melaksanakan advokasi dan sosialisasi program pemberian ASI eksklusif. mengawasi serta mengevaluasi pelaksanaan dan pencapaian program pemberian ASI eksklusif di fasilitas pelayanan kesehatan. membina. tempat kerja.go. e. mengintegrasikan materi ASI eksklusif pada kurikulum pendidikan formal dan nonformal bagi tenaga kesehatan. i. menyediakan ketersediaan akses terhadap informasi dan edukasi atas penyelenggaraan pemberian ASI eksklusif. dan kegiatan di masyarakat.

standar pelayanan. dan standar prosedur operasional. (2) Pemberian ASI eksklusif kepada bayi harus dilakukan selama 6 (enam) bulan sejak bayi dilahirkan. Bagian Kedua Inisiasi Menyusu Dini Pasal 8 Tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan kesempatan kepada bayi yang baru lahir untuk melakukan inisiasi menyusu dini paling singkat selama 1 (satu) jam. Inisiasi menyusu dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sedini mungkin segera setelah bayi dilahirkan dengan meletakkan bayi di dada atau perut ibu dimana kulit bayi melekat pada kulit ibu (skin to skin contact). Pasal 7 Ketentuan mengenai pemberian ASI eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 tidak berlaku juga terhadap kondisi yang tidak memungkinkan bayi mendapatkan ASI eksklusif karena ibu tidak ada atau terpisahkan dari bayi. Penentuan terdapat atau tidaknya indikasi medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh dokter.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM BAB III PENYELENGGARAAN Bagian Kesatu Umum Pasal 5 (1) Ibu yang melahirkan berkewajiban memberikan ASI eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya.id . (1) (2) 4 www.go. Dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam menentukan terdapat atau tidaknya indikasi medis harus mengacu pada standar profesi. (1) (2) (3) (4) Pasal 6 : Ketentuan mengenai pemberian ASI eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 tidak berlaku apabila terdapat indikasi medis. maka penentuan terdapat atau tidaknya indikasi medis dapat dilakukan oleh bidan atau perawat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.djpp.depkumham. Dalam hal di daerah tertentu tidak terdapat dokter.

Bagian Ketiga ASI Ibu Lain/Donor ASI Pasal 10 Dalam hal pemberian ASI eksklusif tidak dimungkinkan berdasarkan indikasi medis dan kondisi yang tidak memungkinkan bayi mendapatkan ASI eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 atau pasal 7. persetujuan ibu pemilik ASI setelah mengetahui identitas bayi yang diberi ASI.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM (1) (2) Pasal 9 Tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan wajib menempatkan ibu dan bayi dalam 1 (satu) ruangan atau rawat gabung kecuali atas indikasi medis. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian ASI dari ibu lain/donor ASI diatur dengan Peraturan Menteri. ibu berhak memperoleh informasi dan edukasi ASI eksklusif sejak pemeriksaan kehamilan sampai dengan periode pemberian ASI eksklusif selesai. agama dan alamat ibu lain/pendonor ASI diketahui dengan jelas oleh ibu dari bayi penerima ASI. Pemberian ASI dari ibu lain/donor ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan persyaratan: a.id . bayi dapat diberikan ASI yang berasal dari ibu lain/donor ASI. identitas. serta mutu dan keamanan ASI. Bagian Keempat Informasi dan Edukasi Pasal 11 Untuk mencapai pemanfaatan pemberian ASI eksklusif secara optimal. c. b. norma agama. Penempatan dalam 1 (satu) ruangan atau rawat gabung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk memudahkan ibu setiap saat memberikan ASI eksklusif kepada bayi. Informasi dan edukasi ASI eksklusif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. permintaan ibu atau keluarga bayi yang bersangkutan. Pemberian ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan dengan mempertimbangkan juga aspek sosial budaya.depkumham. d. dan e. keuntungan dan keunggulan ASI.go. ibu pemilik ASI tidak dalam kondisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5.djpp. (1) (2) (3) (4) (1) (2) 5 www. tidak diperjualbelikan.

d. tidak menempatkan ibu dan bayi dalam ruang rawat gabung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1). Pasal 13 Setiap penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan yang: a. dan motivasi ibu agar menyusui bayinya. sengaja tidak memberikan kesempatan kepada bayi yang baru lahir untuk melakukan inisiasi menyusu dini sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). sengaja tidak memberikan informasi dan edukasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3). konseling dan pendampingan. b. dikenai sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa teguran lisan. c.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM b. Bagian Kelima Pengenaan Sanksi Penyelenggaraan Pemberian ASI Eksklusif Pasal 12 Setiap tenaga kesehatan yang: a. (4) Informasi dan edukasi ASI eksklusif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh tenaga kesehatan. d. Pemberian informasi dan edukasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan antara lain melalui penyuluhan. c.depkumham. memberikan susu formula bayi tidak berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. penyelenggara fasilitas kesehatan dan tenaga terlatih kepada ibu dan anggota keluarga lainnya. e. 6 www. cara menyusui yang benar. teguran tertulis dan/atau pencabutan izin praktik/izin kerja. c. tidak memberikan kesempatan kepada bayi yang baru lahir untuk melakukan inisiasi menyusu dini sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). b. sengaja tidak menempatkan ibu dan bayi dalam 1 (satu) ruangan atau rawat gabung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1).djpp. persiapan dan mempertahankan menyusui. memberikan susu formula bayi tidak berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6.id .go. (3) gizi ibu. dampak negatif bila menyusui disertai dengan pemberian susu formula.

Pasal 17 Setiap tenaga kesehatan dilarang menerima.go. Dalam hal ibu melahirkan meninggal dunia atau oleh sebab lain sehingga tidak dapat memberikan persetujuan. tidak memberikan informasi dan edukasi yang benar mengenai pemberian ASI eksklusif kepada setiap ibu yang menjadi pasiennya sejak pemeriksaan kehamilan sampai dengan periode pemberian ASI eksklusif selesai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1).depkumham.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM d. penghentian kegiatan sementara dan/atau pencabutan izin. memberikan. hak menolak atau menyetujui pemberian susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh keluarga terdekat. teguran tertulis. Peragaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh tenaga kesehatan dan terbatas kepada ibu dan/atau keluarga dari bayi yang memerlukan susu formula bayi tersebut. tenaga kesehatan dapat memberikan peragaan penyiapan susu formula bayi. kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. bayi dapat diberikan susu formula bayi. dan mempromosikan susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI eksklusif. (1) (2) Pasal 16 Dalam hal dilakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.id .djpp. dikenai sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa teguran lisan. (1) (2) Pasal 15 Dalam hal pemberian ASI eksklusif tidak dimungkinkan berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. BAB IV PENGGANTI ASI Pasal 14 Setiap ibu melahirkan berhak menolak pemberian susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya. 7 www.

Pasal 19 Produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya dilarang melakukan kegiatan: a. (1) (2) (3) Pasal 20 Setiap tenaga kesehatan. dan penyelenggara institusi pendidikan kesehatan dilarang menerima hadiah dan/atau bantuan dari produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat keberhasilan program pemberian ASI eksklusif.id . atau d. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan dalam hal fasilitas pelayanan kesehatan memberikan susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud pada pasal 15 dan menerima bantuan susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya untuk tujuan kemanusian setelah mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. 8 www.djpp. dan/atau kegiatan lainnya yang sejenis yang tidak berhubungan dengan gizi/nutrisi bayi dan anak balita. menawarkan. penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan. memberikan. ibu yang baru melahirkan.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM (1) (2) (3) Pasal 18 Penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan dilarang menerima. penelitian dan pengembangan. dan penyelenggara institusi pendidikan kesehatan. dan mempromosikan susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI eksklusif. Penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan dilarang menyediakan pelayanan dan peralatan di bidang kesehatan atas biaya yang disediakan oleh produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya. b. Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika bantuan tersebut ditujukan untuk biaya pelatihan. menjajakan. penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan.go. atau menjual langsung susu formula bayi ke rumah-rumah. menggunakan tenaga kesehatan untuk memberikan informasi tentang susu formula bayi kepada masyarakat. c. Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk diberikan kepada keluarga tenaga kesehatan. memberikan potongan harga atau tambahan atau sesuatu dalam bentuk apapun atas pembelian susu formula bayi sebagai daya tarik dari penjual. ibu hamil.depkumham. pertemuan ilmiah. memberikan sampel susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya secara cuma-cuma atau sesuatu dalam bentuk apapun kepada penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan.

tujuan diberikan bantuan. (1) (2) (3) Pasal 22 Tenaga kesehatan yang menerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf c wajib memberikan pernyataan tertulis kepada atasannya bahwa bantuan tersebut tidak mengikat dan tidak menghambat keberhasilan program pemberian ASI eksklusif. jangka waktu pemberian bantuan. Setiap produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya yang melakukan pemberian bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melapor kepada Menteri atau pejabat yang ditunjuk. dan kegiatan lainnya yang sejenis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (3) dapat dilakukan selama memenuhi persyaratan: a. dan d.depkumham. tidak mengikat. (1) (2) (3) Pasal 23 Setiap produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya dilarang memberikan hadiah dan/atau bantuan kepada tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan. institusi pendidikan kesehatan. 9 www. jumlah dan jenis bantuan.id .djpp. Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya memuat: a. nama penerima bantuan. c. pertemuan ilmiah. c. dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan. Penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan yang menerima bantuan wajib memberikan pernyataan tertulis kepada Menteri bahwa bantuan tersebut tidak mengikat dan tidak menghambat keberhasilan program pemberian ASI eksklusif. dan d. b. pelaksanaan secara terbuka. kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (3). b. Penyelenggara institusi pendidikan kesehatan yang menerima bantuan wajib memberikan pernyataan tertulis kepada Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan bahwa bantuan tersebut tidak mengikat dan tidak menghambat keberhasilan program pemberian ASI eksklusif.go. tidak menampilkan dalam segala bentuk logo dan nama produk susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat pemberian ASI eksklusif pada saat dan selama kegiatan berlangsung. hanya diberikan melalui. penelitian dan pengembangan.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM Pasal 21 Pemberian bantuan untuk biaya pelatihan.

dan dalam iklan yang bersangkutan wajib memuat keterangan bahwa susu formula bayi dan formula lanjutan yang bersangkutan bukan pengganti ASI. c. dilarang dimuat dalam media massa. b. Pasal 26 Iklan susu formula bayi. tujuan diberikan bantuan. Menteri terkait. b. kecuali dalam media cetak khusus tentang kesehatan. memberikan.go. nama pemberi bantuan. menerima hadiah dan/atau bantuan dari produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat keberhasilan program pemberian ASI eksklusif tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. dan/atau penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan penerima bantuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf c wajib memberikan laporan kepada Menteri. dan mempromosikan susu formula bayi dan produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI eksklusif tidak sesuai dengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 . atau pejabat yang ditunjuk. tidak memberikan pernyataan tertulis bahwa bantuan tersebut tidak mengikat dan tidak menghambat keberhasilan program pemberian ASI eksklusif. Pasal 27 Ketentuan lebih lanjut mengenai pengganti ASI Menteri. Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat: a. dan d.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM (1) (2) Pasal 24 Institusi pendidikan kesehatan. jangka waktu pemberian bantuan. c. 10 www. jumlah dan jenis bantuan.id . Pasal 25 Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 dan Pasal 24 disampaikan kepada Menteri atau pejabat yang ditunjuk paling lambat 1 (satu) bulan setelah pelaksanaan kegiatan.depkumham. Pasal 28 diatur dengan Peraturan Setiap tenaga kesehatan yang: a. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22. setelah mendapat persetujuan Menteri. formula lanjutan dan/atau produk bayi lainnya yang diperuntukkan bagi bayi sampai dengan genap usia 1 (satu) tahun.djpp. menerima.

memberikan sampel secara cuma-cuma atau sesuatu dalam bentuk apapun kepada fasilitas pelayanan kesehatan atau wanita hamil atau ibu yang melahirkan. dan mempromosikan susu formula bayi dan produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI eksklusif tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1).go. menerima. teguran tertulis. penghentian kegiatan sementara dan/atau pencabutan izin. penghentian kegiatan sementara dan/atau pencabutan izin operasional. memberikan. b. Pasal 30 Setiap institusi pendidikan kesehatan yang dengan sengaja tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dan Pasal 25 dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa teguran lisan. teguran tertulis.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa lisan. menyediakan pelayanan dan peralatan di bidang kesehatan atas biaya yang disediakan oleh dari produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). menawarkan atau menjual langsung ke rumah-rumah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf a. teguran Pasal 29 Setiap fasilitas pelayanan kesehatan yang: a. 11 www. atau menjajakan.depkumham. penghentian kegiatan sementara dan/atau pencabutan izin . memberikan potongan harga atau tambahan atau sesuatu dalam bentuk apapun atas pembelian susu formula bayi sebagai daya tarik dari penjual. menggunakan tenaga kesehatan untuk memberikan informasi tentang susu formula bayi kepada masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf c. dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa teguran lisan. Pasal 31 Setiap produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dengan sengaja: a. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf b.id . atau c. teguran tertulis dan atau pencabutan izin praktik/izin kerja. b.djpp. teguran tertulis. dikenakan sanksi administratif oleh pejabat yang berwenang berupa teguran lisan.

gedung olahraga. k. 12 www. dan b. c.djpp.depkumham. terminal angkutan darat. lokasi penampungan pengungsi. (1) (2) (3) (4) Pasal 33 Tempat kerja yang wajib menyediakan fasilitas khusus menyusui dan memerah ASI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3) antara lain: a. g. pusat-pusat perbelanjaan. Pasal 34 Tempat sarana umum yang wajib menyediakan fasilitas khusus menyusui dan memerah ASI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 antara lain: a.go.id . h. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perusahaan dan/atau perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja. f. d. tempat sarana umum lainnya. Pasal 35 Pengurus tempat kerja wajib memberikan kesempatan kepada ibu untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di tempat kerja. fasilitas pelayanan kesehatan. stasiun kereta api. i. bandar udara. b. dan j. perusahaan. hotel dan penginapan. Pengurus tempat kerja dan penyelenggara tempat sarana umum wajib menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi kemampuan perusahaan.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM BAB V TEMPAT KERJA DAN TEMPAT SARANA UMUM Pasal 32 Pengurus tempat kerja dan penyelenggara tempat sarana umum wajib mendukung program ASI eksklusif. e. tempat rekreasi. perkantoran. Ketentuan mengenai fasilitas khusus menyusui dan/atau memerah ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. pelabuhan laut.

Pasal 37 Setiap pengurus tempat kerja yang dengan sengaja: a. tidak menyediakan fasilitas khusus menyusui dan memerah ASI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34. tidak mendukung program ASI eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1).go. tidak menyediakan fasilitas khusus menyusui dan memerah ASI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. (1) (2) (3) 13 www. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program pemberian ASI eksklusif. c. Peran serta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.id . BAB VI PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 39 Masyarakat berperan serta baik secara perorangan maupun terorganisasi untuk mendukung keberhasilan program pemberian ASI eksklusif.depkumham. penyediaan waktu dan tempat bagi ibu dalam pemberian ASI eksklusif. b. tidak mendukung program ASI eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1). b. dan/atau d. c. tidak memberikan kesempatan kepada ibu untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi atau memerah ASI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. penyebarluasan informasi kepada masyarakat luas terkait dengan pemberian ASI eksklusif. dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. b.djpp. pemberian sumbangan pemikiran terkait dengan penentuan kebijakan dan/atau pelaksanaan program pemberian ASI eksklusif.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM Pasal 36 Pengurus tempat kerja dan penyelenggara tempat sarana umum berkewajiban membuat peraturan internal yang mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Pasal 38 Setiap penyelenggara tempat sarana umum yang dengan sengaja: a.

depkumham. Pasal 42 (1) Pengawasan terhadap ketentuan iklan susu formula bayi. dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan.id . atau sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. pengawasan terhadap produsen atau distributor susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya terhadap pelaksanaan peraturan ini. sosialisasi. dan c. 14 www. formula lanjutan dan/atau produk bayi lainnya yang diperuntukkan bagi bayi sampai dengan genap usia 1 (satu) tahun.djpp. dan penegakan hukum. BAB VIII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 41 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan program pemberian ASI eksklusif sesuai dengan tugas fungsi masing-masing. advokasi. dan kampanye peningkatan pemberian ASI. (3) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh Kepala BPOM. sesuai dengan tugas dan fungsinya. b. pendanaan. semua ketentuan yang mengatur tentang pemberian ASI eksklusif dinyatakan masih berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM BAB VII PENDANAAN Pasal 40 Pendanaan program pemberian ASI eksklusif dapat bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. pelatihan dan peningkatan kapasitas petugas. monitoring dan evaluasi. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.go. BAB IX KETENTUAN PERALIHAN Pasal 43 Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku. (2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk meningkatkan sumber daya manusia. peran serta masyarakat.

memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN ... DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA RI...Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM Pasal 44 Pengurus tempat kerja dan/atau penyelenggara tempat sarana umum wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini selambatlambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak Peraturan Pemerintah ini ditetapkan..........djpp. NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 15 www.. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal ..depkumham...go. 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA... BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 45 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.id .. Agar setiap orang mengetahuinya..... H......

Menyusui selama masa bayi berhubungan dengan penurunan tekanan darah dan kolesterol serum total dan berhubungan dengan prevalensi diabetes tipe 2 yang lebih rendah. meningitis dan infeksi saluran kemih. Umum Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan nasional diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan dilaksanakan guna tercapainya kesadaran. infeksi telinga. haemophilus influensa. Indikator keberhasilan pembangunan kesehatan antara lain adalah penurunan angka kematian bayi dan peningkatan status gizi masyarakat. (c) memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat sejak genap umur 6 bulan. Menyusui menurunkan risiko infeksi akut seperti diare. kelebihan berat badan dan obesitas pada masa emaja dan dewasa. sementara disisi lain jumlah masyarakat yang mengalami gizi lebih cenderung meningkat. Indonesia saat ini masih menghadapi masalah gizi ganda yaitu kondisi dimana disatu sisi masih banyaknya jumlah penderita gizi kurang.depkumham. Hampir semua ibu dapat dengan sukses menyusui diukur dari permulaan pemberian ASI dalam jam pertama kehidupan bayi. (b) memberikan hanya ASI saja sejak lahir sampai umur 6 bulan. Status gizi masyarakat akan baik apabila perilaku gizi yang baik dilakukan pada setiap tahap kehidupan termasuk pada bayi. Menyusui juga melindungi bayi dari pnyakit kronis masa depan seperti diabetes tipe I.id .go. kanker payudara. pnemonia. Menyusui menunda kembalinya kesuburan seorang wanita dan mengurangi risiko perdarahan pasca melahirkan.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR … TAHUN 2010 TENTANG AIR SUSU IBU EKSKLUSIF I. kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Masalah gizi ganda ini sangat erat kaitanya dengan gaya hidup masyarakat dan perilaku gizi. dan (d) meneruskan pemberian ASI sampai anak berumur 2 tahun.djpp. ulseratif kolitis dan penyakit crohn. 16 www. pra menopause dan kanker ovarium. Pola pemberian makan terbaik untuk bayi sejak lahir sampai anak berumur 2 tahun meliputi: (a) memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi segera dalam waktu satu jam setelah lahir.

Selain itu kurangnya dukungan tenaga kesehatan. atau Peraturan Walikota. prosedur. Pasal 2 Cukup jelas. 17 www.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM Penerapan pola pemberian makan ini akan meningkatkan status gizi bayi dan anak dan mempengaruhi derajat kesehatan selanjutnya. masyarakat serta keluarga agar ibu dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayi. dan dukungan masyarakat. mendukung dan mempromosikan pemberian ASI eksklusif perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan dukungan dari pemerintah.id . saat ini penerapan pola pemberian makan terbaik untuk bayi sejak lahir sampai anak berumur 2 tahun tersebut belum dilaksanakan dengan baik khususnya dalam hal pemberian ASI eksklusif. pemerintah daerah dapat memperhatikan kemampuan dan potensi sumber daya manusia. II PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 3 Huruf a Kebijakan nasional dituangkan dalam bentuk norma. maka diperlukan Peraturan Pemerintah tentang Pemberian ASI eksklusif. fasilitas pelayanan kesehatan.go. dan kriteria yang ditetapkan oleh Menteri. Dalam menetapkan kebijakan daerah harus mengacu pada kebijakan nasional.depkumham. Dalam menetapkan kebijakan program pemberian ASI eksklusif di daerah. Beberapa kendala dalam hal pemberian ASI eksklusif karena ibu tidak percaya diri bahwa dirinya mampu menyusui dengan baik sehingga mencukupi seluruh kebutuhan gizi bayi. pemerintah daerah. Peraturan Gubernur.djpp. kurangnya dukungan keluarga serta rendahnya kesadaran masyarakat tentang manfaat pemberian ASI eksklusif. fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan. Peraturan Bupati. Hal ini antara lain disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu. standar. Untuk maksud tersebut. dan produsen makanan bayi untuk keberhasilan ibu dalam menyusui bayinya. kemampuan dan potensi sumber pendanaan. Namun demikian. Dalam rangka melindungi. Kebijakan daerah dapat dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah.

Huruf b Cukup jelas. ibu dapat melanjutkan pemberian ASI sampai dengan anak berusia 2 (dua) tahun. Yang dimaksud dengan makanan pendamping ASI. Huruf c Cukup jelas. Strategi program pemberian ASI eksklusif dilakukan secara terpadu. kecuali ada alasan indikasi medis atau kondisi khusus. berjenjang. Huruf g Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM Guna mendukung keberhasilan pelaksanaan program pemberian ASI eksklusif diselenggarakan sistem informasi yang terintegrasi dengan sistem informasi kesehatan.depkumham. Huruf f Cukup jelas.djpp. yang disingkat MP-ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi berupa makanan padat atau cair yang diberikan secara bertahap sesuai dengan usia dan kemampuan 18 www.id . Pemberian ASI sejak umur 6 (enam) bulan sampai dengan anak berusia 2 (dua) tahun dapat dilakukan dengan memberikan makanan pendamping ASI sebagai makanan tambahan sesuai dengan kebutuhan bayi. Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Ibu berkewajiban memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dalam rangka pemenuhan hak anak. Ayat (2) Setelah masa pemberian ASI eksklusif sejak bayi dilahirkan selama 6 (enam) bulan. dan berkesinambungan.go.

Kondisi medis ibu antara lain: Ibu yang memiliki salah satu dari kondisi yang disebutkan dibawah ini harus mendapat pengobatan sesuai dengan standar meliputi: a. and safe- 19 www. Kondisi ibu yang dapat membenarkan alasan penghindaran menyusui secara permanen yaitu infeksi HIV jika pengganti menyusui dapat diterima. dibawah pengawasan. feasible. affordable. sustainable. yaitu: a. terjangkau dan aman (acceptable. dan valin. jika gula darahnya gagal merespon pemberian ASI baik secara langsung maupun tidak langsung. diperlukan formula khusus bebas galaktosa. dan dimungkinkan beberapa kali menyusui.go. c.id . b. bayi baru lahir yang berisiko hipoglikemia berdasarkan gangguan adaptasi metabolisme atau peningkatan kebutuhan glukosa seperti pada bayi prematur. c. diperlukan formula khusus bebas leusin. Pasal 6 Ayat (1) Yang dimaksud ‘indikasi medis’ adalah kondisi medis bayi dan/atau kondisi medis ibu yang tidak memungkinkan dilakukannya pemberian ASI eksklusif.depkumham. dibutuhkan formula khusus bebas fenilalanin. bayi–bayi yang sakit dan bayi yang memiliki ibu pengidap diabetes. bayi lahir dengan berat badan kurang dari 1500 g (berat lahir sangat rendah). bagaimanapun ASI tetap merupakan pilihan makanan terbaik bagi bayi namun untuk bayi dengan kondisi seperti berikut ini dimungkinkan membutuhkan makanan lain selain ASI selama jangka waktu terbatas. yaitu bayi dengan kriteria: a. Selain itu. MP-ASI diutamakan dari makanan yang alami bukan pabrikan. bayi dengan galaktosemia klasik. bayi dengan fenilketonuria. bayi lahir kurang dari 32 minggu dari usia kehamilan yang sangat prematur. isoleusin.djpp. layak. Kondisi medis bayi antara lain: Bayi yang seharusnya tidak menerima ASI atau susu lainnya kecuali formula khusus. b. kecil untuk umur kehamilan atau yang mengalami stress iskemik/intrapartum hipoksia yang signifikan. bayi dengan penyakit kemih beraroma sirup maple (maple syrup urine disease).Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM pencernaan bayi/anak.

b) radioaktif iodine–131 lebih baik dihindari mengingat bahwa alternatif yang lebih aman tersedia–seorang ibu dapat melanjutkan menyusui sekitar dua bulan setelah menerima zat ini.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM AFASS). misalnya sepsis (infeksi demam tinggi hingga tidak sadarkan diri). obat anti– epilepsi dan oploid dan kombinasinya dapat menyebabkan efek samping seperti mengantuk dan depresi pernapasan dan lebih baik dihindari jika alternatif yang lebih amna tersedia. 3) pengobatan ibu: a) obat–obatan psikoterapi jenis penenang. Ayat (3) Cukup jelas. 20 www. ibu tidak diketahui keberadaaanya. Ayat (4) Cukup jelas. Kondisi ibu yang dapat membenarkan alasan penghentian menyusui sementara waktu yaitu: 1) penyakit parah yang menghalangi seorang ibu merawat bayi. Pasal 7 Kondisi yang tidak memungkinkan bayi mendapatkan ASI eksklusif karena ibu tidak ada atau terpisah dari bayi dapat dikarenakan ibu meninggal dunia. Demikian juga untuk penyakit menular lainnya. d) sitotoksik kemoterapi mensyaratkan bahwa seorang ibu harus berhenti menyusui selama terapi. c) penggunaan yodium atau yodofor topikal misalnya povidone–iodine secara berlebihan. b.depkumham. terutama pada luka terbuka atau membran mukosa. kontak langsung antara luka pada payudara ibu dan mulut bayi sebaiknya dihindari sampai semua lesi aktif telah diterapi hingga tuntas. Kondisi ini bisa berubah jika secara teknologi aman bagi bayi dan demi untuk kepentingan terbaik bayi. 2) Virus Herpes Simplex tipe 1 (HSV-1). Ayat (2) Cukup jelas.djpp. dapat menyebabkan penekanan hormon tiroid atau kelainan elektrolit pada bayi yang mendapat ASI dan harus dihindari.go.id . ibu terpisah dari bayi karena adanya bencana atau kondisi lainnya dimana ibu terpisah dengan bayinya sehingga tidak dapat memenuhi kewajibannya atau anak memperoleh hak nya.

Ayat (2) Yang dimaksud dengan inisiasi menyusu dini (IMD) adalah proses menyusui bayi dimulai sedini mungkin dengan cara meletakkan bayi secara tengkurap di dada atau perut ibu. bayi masih belum mau menyusu maka kegiatan inisiasi menyusu dini harus tetap diupayakan oleh ibu. Ayat (2) Cukup jelas.go. Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas.djpp. Dalam hal selama paling singkat 1 (satu) jam setelah melahirkan. cara pemberian. dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan. cara penyimpanan. Pasal 9 Ayat (1) Yang dimaksud dengan ‘ruang rawat gabung’ adalah ruang rawat inap dalam satu ruangan dimana bayi berada dalam jangkauan ibu selama 24 jam.id . 21 www. Ayat (2) Cukup jelas. Lama waktu inisiasi menyusu dini paling singkat selama 1 (satu) dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada bayi agar dapat mencari puting susu ibu dan menyusu sendiri. segera setelah lahir dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu (skin to skin contact).) selama paling singkat selama 1 (satu) jam.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM Pasal 8 Ayat (1) Inisiasi menyusui dini dilakukan dalam keadaan ibu dan bayi stabil dan tidak membutuhkan tindakan medis.depkumham. atau cara memerah ASI. tenaga kesehatan. Ayat (3) Yang dimaksud dengan ‘mutu dan keamanan ASI’ meliputi kebersihan.

saudara perempuan.go.djpp. bantuan. Pasal 15 Cukup jelas. dan pengawasan ibu dan bayi selama kegiatan inisiasi menyusu dini dan/atau selama awal menyusui. ayah mertua. Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas. ibu mertua. 22 www. antara lain konselor menyusui.depkumham. Ayat (4) Pendampingan dimaksud pada ayat ini dilakukan melalui pemberian dukungan moril.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM Ayat (4) Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan ‘tenaga terlatih’ adalah tenaga yang memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan mengenai pemberian ASI melalui pelatihan.id . ibu. ibu mertua. bimbingan. ayah. Ayat (2) Yang dimaksud dengan ‘keluarga terdekat’ adalah keluarga dari ibu bayi tersebut yang terdiri dari suami. dan saudara kandung. Yang dimaksud dengan ‘keluarga’ adalah suami. dan/atau anggota keluarga lainnya. ibu.

sakit berat. Dengan demikian. dan/atau tidak diketahui keberadaannya. sedang menderita gangguan jiwa berat. 23 www. Pasal 17 Yang dimaksud dengan ‘dilarang mempromosikan’ adalah termasuk memajang. tenaga non kesehatan tidak dapat melakukan pemberian peragaan penyiapan susu susu formula bayi atau produk susu bayi lainnya. dan diumumkan secara terbuka. atau yang sejenis lainnya. Ayat (2) Dalam hal ibu dari bayi yang memerlukan susu formula bayi atau produk susu bayi lainnya tersebut telah meninggal dunia. memberikan hadiah.go.djpp. media cetak dan elektronik.id . peragaan penyiapan susu formula bayi atau produk susu bayi lainnya hanya dapat dilakukan terbatas pada keluarga terdekat yang akan mengurus dan merawat bayi tersebut. poster. memasang logo atau nama perusahaan pada perlengkapan persalinan dan perawatan.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM Pasal 16 Ayat (1) Dalam hal pemberian peragaan penyiapan susu formula bayi atau produk susu bayi lainnya hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan. leaflet. Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Cukup jelas Pasal 21 Huruf a Yang dimaksud dengan ‘pelaksanaan secara terbuka’ adalah tidak ada konflik kepentingan antara pemberi bantuan dan penerima bantuan. membuat dan menyebarkan brosur. memberikan komunikasi melalui saluran telepon. memberikan potongan harga.depkumham. memberikan sampel.

Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas.djpp.go.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM Huruf b Yang dimaksud dengan ‘tidak mengikat’ adalah tidak ada kewajiban tertentu yang harus dilakukan oleh institusi penerima bantuan berdasarkan keinginan pemberi bantuan. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas 24 www. Pasal 24 Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 25 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas.id .depkumham. Pasal 22 Cukup jelas.

membantu ibu menyusui dini dalam waktu 60 menit pertama persalinan. Pasal 34 Cukup jelas. menginformasikan kepada semua ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui. Huruf b Yang dimaksud dengan perkantoran adalah termasuk lembaga pemasyarakatan. membuat kebijakan tertulis tentang menyusui dan dikomunikasikan kepada semua staf pelayanan kesehatan. Pasal 35 Cukup jelas. c. maka dalam menyusun dan membuat peraturan internal yang dimaksud harus berpedoman pada 10 (sepuluh) langkah menuju keberhasilan menyusui dalam pemberian pelayanan kesehatan kepada ibu yang melahirkan dan bayi yang dilahirkan. Pasal 33 Huruf a Cukup jelas. d. Ayat (4) Cukup jelas. melatih semua staf pelayanan dalam keterampilan menerapkan kebijakan menyusui tersebut. 10 (sepuluh) langkah menuju keberhasilan menyusui untuk fasilitas pelayanan kesehatan yang dimaksudkan adalah sebagai berikut: a.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan ‘pengurus tempat kerja’ adalah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung suatu tempat kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri.go.id . b. 25 www.djpp. Ruang menyusui dan memerah ASI dinamai dengan ruang ASI.depkumham. Pasal 36 Khusus bagi penyelenggara tempat sarana umum berupa fasilitas pelayanan kesehatan.

c. d. Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Ayat (1) Peran serta masyarakat yang dilakukan secara terorganisasi antara lain diwujudkan dengan membentuk kelompok pendukung ASI. melaporkan pelanggaran-pelanggaran kode etik pemasaran pengganti ASI. meminta hak untuk mendapatkan pelayanan Inisiasi Menyusu Dini ketika persalinan. e. h. mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar dari fasilitas pelayanan kesehatan. Pelaksanaan dukungan dari masyarakat dilakukan dengan berpedoman pada “10 (sepuluh) Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui Untuk Masyarakat”.go. menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi. tidak memberi dot kepada bayi. h.djpp. yaitu: a. mendukung ibu untuk memberikan ASI kapan pun dan dimanapun. meminta hak untuk bayi tidak ditempatkan terpisah dari ibunya. menciptakan kesempatan agar ibu dapat memerah ASI dan/atau menyusui bayinya di tempat kerja. f. membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah dari bayinya. meminta hak untuk tidak memberikan asupan apapun selain ASI kepada bayi baru lahir. j. f. mendukung ibu menyusui dengan membuat tempat kerja yang memiliki fasilitas ruang menyusui. b.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM e.id . g. 26 www. menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu (24 jam).depkumham. Pelaksanaan dukungan dari masyarakat dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing. i. menghormati ibu menyusui di tempat umum. g. memberikan asi saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis.

. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. 27 www.... Pasal 45 Cukup jelas.. Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan program pemberian ASI eksklusif dilaksanakan pada situasi normal dan situasi bencana atau darurat.depkumham. Pasal 43 Cukup jelas...go.. memilih fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang menjalankan 10 (sepuluh) Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR .djpp.. Ayat (2) Cukup jelas.Bahan Harmonisasi Kementerian Hukum dan HAM i. memantau pemberian ASI di lingkungan sekitarnya. j..id .