Anda di halaman 1dari 2

Kotagede jelas berarti “kota yang besar”, yang dalam babasa Jawa halus disebut Kitha Ageng.

secara historis nama Kota-Gede ternyata sudah ada pada masa Ki Ageng Pema- nahan, maka sebutan itu lebih bermakna harapan ketimbang kenyataan. Dibandingkan dengan kota*kota bandar di pesisir yang jauh lebih mapan dan memiliki basis perniagaan yang kuat, ibukota kerajaan Mataram ini relatif lebih kecil dan bersahaja.

Pada jamannya, Sultan Agung, cicit Ki Ageng Pemanahan, tampaknya tak lagi memandang kota ini bisa "gede” dan berkembang lebih lanjut. Mungkin karena wangsit atau strategi, Sultan memindah ibukota ke Kerta yang terletak tak jauh dari Kota-Gede. Ketika tak lagi menyandang peran se- bagai ibukota, tempat ini tetap penting lantaran para pendiri wangsa Mataram dikebumikan di sini, tepatnya di barat Masjid Mataram. Kota ini menjadi tempat para peziarah yang yakin dapat mendulang berkah melalui makam leluhur. Bukan luasan atau jumlah pemukim yang penting, tapi “aura”-nyalah yang menjadikan Kota ini dipandang Gede.

Kemudian Kotagede terbagi menjadi wilayah Surakarta dan Yogyakarta karena adanya Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Tak pernah ada batas fislk antara dua wilayah ini di Kotagede. Kota ini terbagi sebagai ingatan akan kebersamaan leluhur yang “gede” dan abadi bukan sebagai wilayah dikerat untuk kepentingan politis sesaat. Generasi yang lebih tua dengan luwes menyebutnya Sargede sebagai ringkasan dari Pasar Gede karena memang Pasar adalah bagian yang paling mencolok, ramai dan akrab di Kotagede. Pasar menjadi

Tanpa raja atau penguasa yang dijunjung tinggi tampaknya kehadiran alun-alun tidak lagi dipandang penting. Alun-alun. pusat gerakan reformasi keagamaan dan daerah tujuan wisata. Panembahan Senapati. Namun demikian. permukiman perajin. Alun-alun diingat sebagai nama tapi ditepiskan sebagai ruang. hanya sekitar sepersepuluh dari masa hidupnya yang panjang itu Kotagede berperan sebagai pusat pemerintahan.penyambung kehidupan dari zaman ke zaman yang penting. Di sini tak ada lagi jejak ruang terbuka tempat raja atau bupati menghimpun warga kota sebagaimana alun-alun lain di Jawa. berbeda dengan masjid dan pasar yang keberadaannya tidak bergantung pada penguasa. . Selebihnya kota ini menjadi destinasi peziarahan. keletakan masih dipertahankan dan vitalitasnya tetap terasa hingga kini. Bahkan ketika secara fisik Pasar yang juga disebut Pasar Legi ini telah berubah sama sekali. Fragmentasi Sejarah Lebih dari empat ratus tahun yang lalu. kediaman saudagar kaya. kini adalah permukiman yang sangat padat. Kotagede dibentuk sebagai ibukota Kerajaan Mataram yang didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan dan putranya.