Anda di halaman 1dari 24

 o

 o  o 

Just another Blog.unair.ac.id weblog Categories Uncategorized (13) Post Archives January 2009 Search Posts
Search

GERAKAN PROTES RAKYAT MISKIN KOTA SURABAYA PADA AWAL ABAD KE-20 January 31st, 2009 Oleh: Purnawan Basundoro[1]

A. Pendahuluan Tahun 1916 seorang Pengacara Pengadilan Tinggi di Surabaya, B.H. Drijber, yang mengaku sebagai perantara para pemilik dan administratur-administratur tanah partikelir di kota Surabaya mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal A.W.F. Idenburg, agar seorang yang bernama Prawirodihardjo dan seorang yang bernama Pak Siti alias sadikin tempat tinggalnya dipindahkan dari kota Surabaya ke tempat lain berdasarkan pasal 47 R.R. Atau sebelum pemindahan itu dapat dilakukan mereka mohon, agar kedua orang itu untuk sementara ditahan. Prawirodihardjo adalah seorang pengawas pembangunan yang bertempat tinggal di kampung Ondomohen, tanah Ketabang, kota Surabaya. Pak Siti adalah seorang mandor kereta api yang tinggal di kampung Kedondong, tanah Keputran Lor, kota Surabaya. Permohonan itu diajukan karena kedua orang tersebut dianggap menjadi penghasut penduduk untuk tidak membayar sewa tanah, tidak menjalankan kerja wajib,

melaklukana pendudukan tanah secara liar, dan tidak memberikan sebagian dari hasil panenannya kepada tuan-tuan tanah.[2] Peristiwa tersebut menandai permulaan sejarah panjang dari gerakan protes di perkotaan khususnya di kota Surabaya pada abad ke-20. Sebagaimana tercantum dalam laporan-laporan tentang gerakan protes di Jawa yang berhasil dikumpulkan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia, gerakan protes di berbagai tempat di Indonesia (Hindia Belanda) pada awal abad ke-20 berlangsung secara sporadis di berbagai tempat.[3] Secara spasial laporan-laporan tersebut telah menempatkan desa sebagai basis dari gerakan protes yang hampir keseluruhan berideologikan gerakan messianistik atau yang populer dengan istilah Gerakan Ratu Adil. Gerakan tersebut subur berkembang di pedesaan karena secara ideologis masyarakat desa yang masih berpikir tradisional relatif lebih mudah dimobilisasi untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah dengan bingkai ideologi messianistik. Maka tidak mengherankan studi lebih lanjut mengenai gerakan perlawanan atau gerakan protes kepada pemereintah jajahan pada awal abad ke-20 lebih banyak difokuskan pada studi gerakan protes di pedesaan. Studi Sartono Kartodirdjo menjadi awal dari hampir semua studi mengenai gerakan protes di pedesaan, khususnya Jawa, yang telah menjadi klasik. Bukunya yang berjudul Protest Movements in Rural Java telah menjadi rujukan untuk studi-studi lanjutan tentang gerakan protes di pedesaan Jawa pada awal abad ke20.[4] Perhatian Sartono Kartodirdjo terhadap masyarakat pedesaan demikian besarnya. Hal tersebut ditunjukkan dengan karya akademik tertingginya yaitu disertasi yang dipertahankan di Universitas Amsterdam yang berjudulThe Peasants’ Revolt of Banten in 1888.[5] Karyanya tersebut tidak pernah bergeser dari fokus utamanya, yeitu tentang gerakan masyarakat pedesaan dalam menghadapi tekanan dari penjajah. Sejak Sartono Kartodirdjo melakukan gerakan pemeloporan untuk melakukan studi tentang gerakan masyarakat pedesaan, jagat studi kesejarahan di Indonesia, utamanya di Universitas Gadjah Mada

studi yang memfokuskan pada gerakan protes di perkotaan (urban protest movements). Tulisan ini akan mencoba menelaah gerakan bermukim secara liar di kota Surabaya. walaupun dengan karakteristik yang amat berbeda. sesudah Indonesia merdeka) tanah-tanah di perkotaan untuk digunakan sebagai permukiman (permukiman liar) sebenarnya masih bisa diperdebatkan menurut subjektifitas dan pandangan yang berb beda-beda. perbanditan harus dihilangkan agar jalannya pemerintahan dan perkebunan lancar dan mendapatkan keuntungan besar.Yogyakarta kemudian mengalami euforia yang meluap-luap. atau mungkin malah belum ada. Sebaliknya dari pandangan . Kutipan dari permohonan seorang advocaat en procoreur bij den Raad van Justitie te Soerabaja. Laporan-laporan pejabat kolonial telah mengindikasikan bahwa gerakan protes juga terjadi di banyak kota di Jawa. Dalam kacamata pemerintah dan perkebunan perbanditan merupakan tindakan kriminal karena berdampak negatif bagi pemerintah dan perkebunan. Meester Beerend Hermannus Drijber di atas telah menjadi bukti bahwa gerakan protes pada awal abad ke-20 juga menjangkiti daerah perkotaan. Hampir semua sejarawan yang menjadi murid maupun rekan sejawat Sartono Kartodirdjo seolah-olah terhipnotis dan mengalami ekstase yang luar biasa untuk mengobok-obok masyarakat petani pedesaan dengan berbagai perspektif. yang merupakan gerakan baru di perkotaan yang fenomenanya baru muncul pada abad ke-20 sejalan dengan mulai diterapkannya hukum positif dalam bidang pertanahan. Namun demikian bukan berarti daerah perkotaan steril dari gerakan protes. Hal ini amat mirip dengan fenomena perbanditan yang diteliti oleh Suhartono. Sayangnya sampai saat ini masih amat minim. Oleh karena itu. dengan motifasi yang juga agak berlainan dengan gerakan protes di pedesaan. Hal ini wajar-wajar saja mengingat pedesaan lah kawasan yang paling menderita akibat tekanan-tekanan yang dilakukan oleh penjajah dengan berbagai bentuk eksploitasi. Gerakan pendudukan secara liar (dalam kacamata pemerintah baik pemerintah jajahan maupun pemerintah Indonesia.

siapa pemimpin gerakan tersebut? B. Dari kacamata pemerintah dan para penyewa tanah partikelir.subjektif informal bandit dipandang sebagai tindakan heroik dan terpuji karena membela kepentingan rakyat. Dalam konteks ini maka makalah ini akan melihat gerakan pendudukan tanah di kota Surabaya sebagai sebuah gerakan protes masyarakat miskin di perkotaan. Makalah ini akan menjawab beberapa permasalahan. Kota adalah milik siapapun yang mau tinggal dan bertahan di wilayah tersebut. gerakan pendudukan tanah secara liar di perkotaan merupakan pelanggaran hukum. atau tanah-tanah tersebut jatuh ke tangan otoritas kekuasaan untuk hal-hal yang mengatasnamakan kepentingan umum. Tanah sebagai Sumber Keresahan Sosial Sebagai bagian dari negara-negara yang dikategorikan sebagai negara ketiga.[6] Fenomena pendudukan secara liar tanah-tanah di perkotaan juga bisa diperdebatkan berkaitan dengan berbagai problem yang berkembang di perkotaan. gerakan mereka merupakan imbas dari kebijakan pemerintah yang memiliki otoritas atas kota yang tidak adil. problem pertanahan dan permukiman mengemuka di kota-kota di Indonesia.pertama. bagaimana gerakan protes terjadi?Ketiga. apa penyebab terjadinya gerakan protes di kota Surabaya pada awal abad ke20? Kedua. Kota Surabaya menjadi kota yang menarik berkaitan dengan problem pertanahan dan . karena untuk menguasai sebidang tanah harus ada syarat-syarat legalitas. Namun dari kacamatan para penghuni liar di perkotaan. Tanah-tanah sebagian besar sudah jatuh ke tangan para penyewa dan pemilik swasta. gerakan pendudukan tanah secara liar merupakan satu-satunya cara agar mereka bisa memperoleh haknya secara adil sebagai warga kota. Dari kacamata para pemukim liar. dimana para penghuni kota dari golongan ekonomi lemah terpaksa tidak bisa mengakses fasilitas kota secara adil dan berimbang. walaupun realitasnya golongan miskin perkotaan amat sulit untuk ikut merngaksesnya.

Sejak abad itu pula pertumbuhan penduduk kota ini bergerak tajam. Dalam banyak kasus kepemilikan oleh pihak swasta Eropa sangat kuat dan sangat luas. Persoalan penyadiaan tempat permukiman berkaitan erat dengan status tanah yang ada di kota Surabaya pada waktu itu. Surabaya merupakan salah satu kota tua di Indonesia dan kota terbesar pada abad ke-19.[8] Dengan diterapkannya Undang-Undang Agraria maka secara garis besar tanah di kota Surabaya telah terbagi ke dalam beberapa kepemilikan yaitu pihak swasta Eropa. Hal ini terlihat jelas sejak diberlakukannya Undang-Undang Agraria (Agrarichewet)Tahun 1870 oleh pemerintah kolonial. pemerintah. Dalam undang-undang tersebut dikemukakan bahwa semua tanah yang tidak terbukti sebagai hak dan milik seseorang dinyatakan sebagai milik negara (domein-verklaring). Hal inilah yang pada akhirnya ketika pemerintah kota memerlukan tanah untuk berbagai keperluan mereka kesulitan. rumah sakit tentara di Simpang. Pada masa Daendels dan Raffles berkuasa untuk membangun kota Surabaya terpaksa mereka menjual sebagian tanah di kota ini kepada orang-orang kaya dari Eropa dan kepada orang-orang Cina. dan hal itu dimulai juga pada akhir abad ke-19 dimana gejala peng-kota-an mulai jelas di kota ini. asrama tentara. sehingga sering kali kekuatan pemerintah dalam hal regulasi pertanahan pada waktu itu diabaikan. karena pihak .permukiman ini. dan kepemilikan perorangan secara adat. Tidak mengherankan apabila kota ini menjadi tujuan utama para pendatang Belanda sejak abad ke-19.[7]Namun pemerintah Hindia Belanda tidak bisa menguasai tanah-tanah partikelir yang mulai ada jauh sebelum diterapkannya Undang-Undang Agraria. dan lain sebagainya. Hasil penjualan tanah ini digunakan untuk membangun fasilitas-fasilitas yang mendukung aktifitas mereka di kota ini antara lain benteng Lodewijk. juga tanahtanah tandus dan tanah desa menjadi milik pemerintah.Dengan adanya aturan itu maka berarti bahwa semua tanah. Pertumbuhan penduduk yang tinggi telah menjadikan masalah permukiman menjadi problem yang krusial dari waktu ke waktu.

Han Siauw Gwan menguasai Tanah Manukan 6. Perseroan Keputran Lor Pembangunan Keputran pemilik Tanah 3. Perseroan Eksploitasi Tanah Tundjungan pemilik Tanah Tanjung Anom 7.[9] Namun pada kenyataannya larangan tersebut tidak bisa berjalan dengan efektif. Dengan demikian juga mencegah pembentukan kota yang tidak diinginkan. Pada awal abad ke-20 beberapa perusahaan perorangan yang menguasai tanah-tanah di kota Surabaya sudah mencapai puluhan. Perseroan Eksploitasi Tanah Ketabang menguasai Tanah Ketabang Kidul 2.swasta juga bertindak sebagai spekulan tanah. Kongsi Tjhin Tjhik Kong Soe pemilik Tanah Keputran Kidul 4. pemilik Tanah Jagir atau Ngagel . yaitu larangan untuk membeli hak milik pribumi oleh orang asing. pengusaha pabrik gula. pengusaha pabrik gula dan Mayor Cina Surabaya. pemilik Tanah Ketabang Lor 5. Aturan ini dimaksudkan agar masyarakat pribumi tidak terusir dari tanahnya akibat ulah pihak swasta yang mengincar tanahnya sekaligus untuk mencegah kenaikan harga tanah oleh para spekulan tanah golongan Eropa dan Cina. Tjoa Tjwan Bo pemilik Tanah Simau 8. Beberapa perusahaan tersebut beserta lokasi tanah yang dikuasai antara lain: 1. Sebagai contoh misalnya salah satu masalah penting yang dicantumkan dalam Undang-Undang Agraria adalah apa yang dinamakan vervreemdings-verbod. Han Tjiong King. Tjoa Tjwan Khing.

untuk menutup kebutuhan keuangannya yang mendesak. terutama orang-orang Cina. termasuk di Surabaya. Tanah partikulir terjadi karena VOC melakukan penjualan daerah-daerah tertentu kepada orang asing. dan beberapa tempat lainnya di darah pantai Utara Jawa bagian Timur. Tan Sien Tjhioe. Perseroan Pembangunan Tanah Sawaan pemilik Tanah Sawaan(Sawahan: Pen) 11. Tanah-tanah tersebut mulai jatuh ke tangan swasta sebagian terjadi sejak diberlakukannya Undang-Undang Agraria 1870 yang melegalkan penyewaan tanah-tanah kepada pihak swasta. Sech Ibrahim bin Ali Baswedan pemilik Tanah Bagong 10. The Tik Gwan letnan Cina penyewa Tanah Grude (Grudo: Pen) 13. Tan Siong Gak Kedonganyar (Kedunganyar: Pen) menguasai Tanah 16. Para tuan tanah. memiliki kekuasaan untuk memungut penghasilan dan pelayanan jasa dari penduduk yang tinggal di wilayahnya. Tanah partikulir ini banyak terdapat di Batavia. Tan Tjwan Sioe menguasai Tanah Kembang Kuning 15. tetapi sebagian lagi sudah terjadi sejak jaman VOC yang kemudian melahirkan istilah Tanah Partikelir (Particuliere Landerijen). baik Eropa maupun Orang Asing Timur (Vreemde Oosterlingen). Tan Sing Lok menguasai Tanah Dagong Manyar 17. H. menguasai Tanah Gambuan Lor[10] Daftar di atas hanyalah sebagian kecil dari perusahaan dan perorangan yang menguasai tanah-tanah di kota Surabaya.9. Tjoa Tjwan Gie menguasai Tanah Patemon dan Tanah Embong Malang 14. yaitu pemilik tanah partikelir. Kessler menguasai Tanah Dinoyo 12.[11] .

Bagi penduduk pribumi yang tinggal di tanah-tanah partikulir mereka dikenakan sewa tinggal. pengangkutan tebu ke penggilingan. Penduduk adalah bagian dari tanah yang disewakan. Kaki mereka seakan-akan diikat di atas tanah tersebut dengan ikatan berupa berbagai kewajiban yang harus dipenuhi kepada para penyewa. dan mereka juga dikenakan kewajiban untuk menyetor sebagian hasil panenannya apabila tanah yang mereka tinggali juga ditanami tanaman ekonomis. Di kota Surabaya. Desa persewaan banyak yang digunakan untuk kepentingan usaha penanaman dan penggilingan tebu. terutama yang berada di pinggiran kota.134 desa yang disewakan VOC kepada orang asing (Cina). Pola pikir penduduk kota sudah berbeda dengan penduduk desa. Di kota sebagian penduduk sudah berpikir rasional. terutama kepada orang Cina. dan pekerjaan di penggilingan. Hal inilah yang oleh penduduk di kota Surabaya dirasakan aneh.083 desa terdapat 1.Dilaporkan bahwa pada tahun 1796. Mereka merasa sudah tinggal di tanah tersebut selama ratusan tahun sejak jaman nenek moyang mereka tanpa mereka harus membayar sewa dan kewajiban lain. di daerah pantai Utara Jawa bagian Timur terdapat 1. sehingga apa pun kemauan dari penyewa para penduduk harus menurutinya. Tinggal di atas dengan status tanah partikulir pada hakekatnya semakin membelenggu kemerdekaan penduduk. Mereka merasa bahwa tanah yang mereka tempati adalah tanah milik mereka yang diwarisi dari nenek moyang mereka. tetapi tanah-tanah yang ada di tengah-tengah kota pada umumnya akan digunakan untuk permukiman (pembangunan rumah) yang dijual kembali/disewakan kepada para pendatang oleh para penyewa tanah. penduduk belum memiliki hak individual atas tanah karena privatisasi tanah baru terjadi pada periode Raffles. sebagian tanah partikulir digunakan untuk perkebunan tebu juga. Pada desa-desa ini penduduk dikenakan kewajiban untuk mengerjakan pekerjaan dari pemotongan tebu di ladang. Di daerah yang sama pada tahun 1803. disebutkan bahwa dari 16. bahwa tanah .446 desa (9 %) yang disewakan kepada orang-orang partikulir. Pada periode ini. Mereka mendapat bayaran menurut banyak-sedikitnya air tebu yang dihasilkan.

status tanah partikelir masih belum dihapus. Kalaupun ada tanah milik negara (domein-verklaring) mestinya adalah tanah-tanah kosong yang tidak ditinggali.adalah bagian dari hak privat. tidak terkecuali penduduk pribumi.[12] Pada periode ini pun sebenarnya keresahan telah melanda penduduk di tanah-tanah partikelir. Salah satu perlindungan atas tanah yang dimiliki oleh perseorangan adalah yang disebut vervreemdingsverbond yaitu larangan memindahkan hak atas tanah.[13] Namu pada kenyataannya. Namun demikian. di tanah-tanah perkotaan seperti di kota Surabaya. Setelah empat puluh tahun sistem tanam paksa berjalan. tidak peduli apakah penduduknya rusak. van Ijseldijk dan N. Undang-Undang Agraria tahun 1870 menandai era baru. Celakanya. seperti . bahwa siapapun diberi hak untuk membeli tanah di mana pun sebatas yang bersangkutan mampu membeli tanah. ketika kota-kota besar di Indonesia mulai beranjak naik menjadi kota yang ramai. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi hak-hak orang pribumi atas tanah yang mereka miliki. W. banyak laporan tentang tindakan buruk yang dilakukan oleh para tuan tanah terhadap para petani dan penghuni tanah-tanah tersebut. Mereka masih terikat dengan kewajiban-kewajiban yang harus mereka penuhi kepada tuan tanah. 179 tahun 1875. sehingga sebagian besar penduduk kota ini tinggal di tanah-tanah partikelir tanpa hak memiliki atas tanah yang mereka tinggali tersebut. Persewaan desa merupakan sumber penyalahgunaan dan tempat pemerasan dan penghisapan terhadap penduduk setempat. Aturan itu berbunyi bahwa pemindahan hak (vervreemding) atas tanah orang Indonesia asli (pribumi) kepada orang-orang bukan non pribumi dinyatakan tidak sah alias ilegal. Mengenai persewaan desa dan tanah partikelir. Aturan tersebut tertuang dalam Staatsblad No.H. tahun 1870 terbit Undang-Undang Agraria yang menjamin hak perseorangan atas tanah. bukan milik komunal. Engelhard berpendapat bahwa desa-desa yang disewakan untuk jangka pendek biasanya dihisap habishabisan.

kota Surabaya. Tidak ada kesempatan bagi penduduk untuk mendapatkan tanah secara suma-cuma di perkotaan. Menurut D. kemampuan mereka untuk membeli tanah di perkotaan hampir pasti sebuah kemustahilan. Pada awal abad ini kota Surabaya berkembang menjadi kota industri terbesar di Indonesia yang setara dengan kota Bombay di India.V. karena setiap keluarga di Jawa rata-rata memiliki anak lebih dari lima orang. Perasaan-perasaan semacam ini dalam teori gerakan sosial bisa mendorong terjadinya gerakan .H. termasuk di koat Surabaya pada tahun 1918 pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengizinkan pemilik tanah untuk menyewakan tanah minimal 21. Dalam struktur masyarakat jajahan di mana masyarakat pribumi menjadi golongan miskin abadi. Gerakan Pendudukan Tanah Secara Liar (Wild Occupation Movements) Terbatasnya kesempatan untuk mengakses tanah bagi penduduk pribumi di kota Surabaya serta kemiskinan yang melanda sebagian besar penduduk telah menempatkan mereka pada posisi tidak puas terhadap sistem yang telah mendorong mereka pada poisisi yang mereka alami. Machinefabriek Braat) yang berpusat di Kawasan Industri Ngagel. Burger. Surabaya. sistem dan budaya pewarisan yang berkembang di Indonesia telah menyebabkan kepemilikan tanah secara individual semakin hari semakin sempit. salah satunya adalah industri mesin Braat (N. Pabrik-pabrik besar berdiri di kota ini. Kesempatan untuk mendapatkan tanah bagi warga di kota Surabaya dan para pendatang di kota ini semakin kecil pada abad ke-20.[14] Untuk mendukung proses industrialisasi di Indonesia. dan kota-kota menjadi tujuan dari kaum urban dari desa.5 tahun untuk tanahtanah yang akan digunakan sebagai lokasi industri. Tanah di kota sebagian besar sudah dimiliki oleh para tuan tanah. pada saat itulah kemampuan penduduk pribumi untuk membeli lahan tempat tinggal di kota tidak ada. Bagi penduduk asli kota Surabaya mereka tinggal di tanah-tanah sempit yang hanya cukup untuk tempat tinggal saja.[15] C.

protes. Orang yang merasa kecewa dan gagal biasanya tertarik dengan gerakan sosial.[16] Ketidakpuasan hyggn merupakan kondisi yang diperlukan dalam proses suatu gerakan sosial. Mengutip pendapat Muller. ketidakadilan. Teori ini dikembangkan oleh Stouffer. Orang yang menginginkan sedikit. kekejaman. tanpa melakukan protes sosial yang serius. Dalam teori psikologi salah satunya menyebutkan bahwa ketidakpuasan (discontent)merupakan salah satu akar dari gerakan sosial. Orang bisa saja merasa sangat tidak puas tanpa ikut serta dalam suatu gerakan sosial. Selain teori psikologi tentang gerakan sosial. akan tetapi kondisi ketidakpuasan itu sendiri belum cukup untuk membangkitkan munculnya gerakan sosial. Menurut konsep ini seseorang merasa kecewa karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Salah satunya adalah Teori Deprivasi Relatif (Relative Deprivation Theory). Deprivasi relatif semakin mengalami peningkatan pada kebanyakan negara terbelakang. Terdapat banyak ragam ketidakpuasan. terdapat pula beberapa teori sosiologi uanutk melihat gerakan sosial atau gerakan protes. Snyder dan Tilly. . Banyak masyarakat mengalami kemiskinan. mulai dari luapan kemarahan orang-orang yang merasa dikorbankan oleh ketidakadilan sampai dengan kadar kejengkelan terendah dari orang-orang yang tidak menyukai perubahan-perubahan sosial tertentu. lalu ternyata hanya mampu memperoleh lebih sedikit akan merasakan kadar kekecewaan yang lebih rendah daripada orang yang telah memperoleh banyak. Horton dan Hunt mengemukakan bahwa sejauh ini memang belumada bukti yang meyakinkan menyangkut kadar kaitan antara kadar keluhan dan ketidakpuasan dengan tingkat keaktifan gerakan sosial. Teori ini perlu disambung dengan teori lain yaitu teori ketidakmampuan penyesuaian diri pribadi atau Personal Maladjustment Theory. dan korupsi yang parah selama berabad-abad. tetapi masih mengehndaki lebih dari itu.

Tokoh kedua adalah Pak Siti. serta kemiskinan yang akut telah mendorong gerakan protes masyarakat kota Surabaya. karena batas kota paling Selatan ada di Kayoon dan mulai bergeser ke arah lebih Selatan yaitu Wonokromo.[17] Pada waktu itu kampung Ondomohen merupakan perkampungan yang sudah berada di tengah kota. Awal tahun 1910-an gerakan sporadis untuk menduduki tanah-tanah partikelir secara liar terjadi di kota ini. Ia bernama Prawirodihardjo yang bekerja sebagai pengawas pembangunan di kota Surabaya. Surabaya. yang artinya kota ini memiliki pemerintahan kota sendiri yang otonom. Tidak memberikan sebagian dari hasil panennya kepada tuan-tuan tanah (pemilik tanah partikelir). kesulitan untuk mengakses tanah secara legal. Ia adalah seorang mandor kereta api yang bertempat tinggal di kampung Kedondong. menganjurkan penduduk untuk tidak melaksanakan berbagai bentuk kerja wajib. tanah Ketabang. Awal abad ke-20 pembangunan kota Surabaya mengalami gairah yang luar biasa. . Kedua pimpinan gerakan tersebut memberikan keyakinan kepada panduduk yang tinggal di tanah-tanah partikelir bahwa tanah yang mereka tempati saat ini adalah tanah milik nenek moyang yang diwariskan kepada mereka.Ketidakjelasan status hak-hak tanah yang mereka tempati. tanah Keputran Lor. Artinya bahwa tanahtanah tersebut adalah tanah hak milik mereka. apalagi sejak kota ini diberi status sebagai gemeente. Dari jabatannya tersebut nampaknya Prawirodirdjo bekerja pada pemerintah kolonial atau biro pembangunan milik orang Eropa yang membuka usaha di kota Surabaya. Prawirodirdjo dan Pak Siti merupakan pimpinan gerakan yang menganjurkan kepada penduduk yang tinggal di kampung-kampung yang berada di tanah pertikelir untuk tidak membayar sewa tanah yang mereka tempati. Tokoh pertama adalah warga kampung Ondomohen. Terdapat beberapa tokoh yang menurut pejabat pemerintah kolonial di kota Surabaya berperan mengobarkan penduduk untuk melakukan gerakan pendudukan tanah secara liar di kota ini.

tetapi meluas ke berbagai kampung di kota Surabaya. Kampung-kampung yang penduduknya ikut bergerak dalam gerakan protes yang dipimpin oleh Prawirodirdjo dan Pak Siti antara lain kampung Manukan. terutama di kampung-kampung yang berbatasan dengan dua kampung tersebut. Bagong. pohon-pohon ditebangi. kemudian mereka mendirikan bangunan di atasnya tidak peduli bahwa tanah tersebut masih dalam status disewakan kepada tuan tanah (partikelir) oleh pemerintah. Tanjung Anom. Ngagel. Tanah-tanah tersebut diduduki. Awalnya gerakan protes tersebut hanya terjadi secara sporadis tetapi mendekati tahun 1916 gerakan tersebut sudah menjadi perlawanan umum kepada tuan tanah. Kepala-kepala kampung yang diangkat oleh para tuan tanah diancam dan tidak mengakui keberadaannya. Simo. Gerakan tersebut mendapat respon yang luas karena Prawirodirdjo dan Pak Siti sangat giat dan aktif mengadakan pertemuan-pertemuan dari satu kampung ke kampung lainnya. Patemon. Jagir. serta Gambuan Lor. Embong Malang. Grudo. Manyar. Dinoyo. Kembang Kuning. Gerakan tersebut dilanjutkan dengan mengangkat kepala kampung sendiri. Sebagai tindak lanjut dari gerakan mereka. Mereka juga menghalanghalangi pembangunan rumah-rumah oleh para tuan tanah dengan cara mengancam tukang-tukangnya. masalah tanah menjadi penyebab utama dari gerakan protes ini. Selain kemiskinan. penduduk-penduduk kampung juga melakukan berbagai aksi pendudukan tanah milik tuan tanah.[18] Gerakan yang dipimpin oleh Prawirodirdjo dan Pak Siti tidak hanya terjadi di kampung Ondomohen dan Kampung Keputran. Padi-padi yang sudah siap panen. para tuan tanah yang menyewa tanah kepada pemerintah atas tanah-tanah yang ditinggali penduduk tidak ubahnya sebagai penjahat yang merebut hak milik mereka.Dalam pandangan para pengikuti Prawirodirdjo dan Pak Siti. Wakil-wakil pemilik tanah mereka ancam dan dianiaya kalau berani menampakkan diri di kampung. Kedunganyar. mereka paneni tanpa disetorkan kepada para taun tanah. Sawahan. Penduduk Eropa di kota ini . Awal abad ke-20 kota Surabaya berkembang sedemikian rupa menjadi kota besar.

padahal mereka sudah beranak-pinak di tempat itu tanpa tahu-menahu bahwa pemerintah ternyata telah menjual atau menyewakan tanah di mana mereka tinggal kepada perusahaan-perusahaan swasta. Pertambahan penduduk Eropa tentu saja menuntut penambahan tempat hunian bagi mereka. Gerakan tersebut ternyata tidak bisa dihentikan oleh kekuatan polisi maupun hanya berupa larangan oleh pemerintah setempat. Tanah yang dialokasikan untuk daerah perumahan tersebut kurang lebih seluas satu juta meter persegi. Para pemiliki tanah partikelir terutama biro-biro pembangunan berlomba-lomba membuka lahan dan membangun perumahan. dan di kampung itu pula tempat tinggal Pak Siti. Sejak tahun 1888 daerah Keputran Lor yang akan dibangun tersebut merupakan tanah partikelir yang dikuasai olehBouwmaatschapij Keputran (Perseroan Pembangunan Keputran).naik sangat signifikan dibandingkan dengan jumlah penduduk Eropa pada abad ke-19. Kawasan ini berada di sebelah Selatan kampung Ondomohen tempat Prawirodirdjo tinggal. Apabila pembangunan kawasan permukiman Eropa tersebut terus dilakukan maka Pak Siti. Prawirodirdjo beserta tetangga-tetangga mereka berlahan-lahan pasti akan terusir dari tanah tetrsebut.[19] Pengembangan kawasan tersebut untuk permukiman Eropa tentu saja mengancam keberadaan orang-orang seperti Pak Siti dan Prawirodirdjo yang telah bertahun-tahun menetap di tempat tersebut. . Tuntutan akan penambahan hunian bagi bangsa Eropa direspon oleh para tuan tanah dan biro-biro pembangunan dengan membangun perumahan-perumahan elite yang nantinya akan disewakan atau dijual kepada para pendatang Eropa yang membutuhkan tempat tinggal. Kawasan pertama yang dikembangkan untuk permukiman bangsa Eropa adalah di daerah Keputran Lor. Gerakan pembangkangan dan pendudukan secara liar tanahtanah partikelir telah memunculkan ketakutan yang luar biasa pada tuan tanah yang menguasai tanah-tanah di kota Surabaya. Kondisi semacam itulah yang telah membangkitkan perlawanan masyarakat perkampungan di kota Surabaya.

376. Idenburg. bahkan kemudian merembet ke tanah-tanah kosong yang statusnya adalah tanah negara. sejak tahun 1906 sampai tahun 1930 jumlah penduduk kota Surabaya telah melonjak dua kali lipat. Karena tindakan oleh pemerintah kota tidak mempan akhirnya para pemilik tanahtanah partikelir.Dari hari ke hari pendudukan tanah-tanah secara liar terus terjadi. Pada periode ini kota Surabaya telah berkembang menjadi kota industri yang besar. dan pada tahun 1930 menjadi 26.188 orang. Atau sebelum pemindahan itu dapat dilakukan mereka mohon. Tidak jelas benar bagaimana nasib Prawirodirdjo dan Pak Siti setelah mereka diusulkan untuk dipindahkan dari kota Surabaya atau untuk sementara ditahan.H.F. Krisis ekonomi yanag melanda dunia pada tahun 19291930-an telah mendorong orang-orang desa untuk mencari .W. mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal A. Dalam jangka waktu 25 tahun.[20] Golongan penduduk yang mengalami jumlah kenaikan cukup signifikan adalah golongan Eropa. melalui seorang pengacara bernama B. tetapi sudah dilandasai oleh kebutuhan perumahan yang semakin mendesak.509 orang. Drijber. agar Prawirodihardjo dan Pak Siti alias Sadikin dipindahkan dari kota Surabaya ke tempat lain berdasarkan pasal 47 R. tetapi pada tahun 1930 telah menjadi 331. Tahun 1906 orang Eropa yang tinggal di Surabaya hanya 8. Tahun 1906 penduduk kota ini hanya berjumlah 150. Lonjakan jumlah penduduk pribumi sebagian besar karena terjadinya gelombang arus urbanisasi yang besar ke kota Surabaya.R. Pada tahun 1930-an gerakan pendudukan tanah secara liar bukan lagi semata-mata untuk menentang para tuan tanah yang telah merampas tanah nenek moyang rakyat Surabaya secara semena-mena. Kota Surabaya telah menjadi kota terpenting yang menjadi tujuan dari orang-orang yang berimigrasi dari desa-desa di Jawa Timur.663 orang. Namun demikian gerakan pendudukan tanah-tanah partikelir di kota ini terus berjalan. agar kedua orang itu untuk sementara ditahan. melonjak tiga kali lipat. Rumah-rumah dengan bahan seadanya didirikan di tanah-tanah yang telah mereka duduki.

Buruh yang beraktifitas di pelabuhan ini sebelum krisis mencapai lebih dari sepuluh ribu orang.[21] Karena sempitnya lahan yang bisa diakses secara bebas serta minimnya daya beli kaum pendatang di kota Surabaya yang rendah terhadap tanah. Hanya seperti itulah . Pemeriksaan terhadap kondisi kehidupan para pekerja di pelabuhan Surabaya tahun 1927. Dibangun dari bambu dengan lantai yang kotor. Padahal pada periode ini kehidupan ekonomi di kota Surabaya juga amat lesu. mengungkapkan kondisikondisi yang mengenaskan di tempat di mana mereka hidup. Pabrik-pabrik beroperasi amat minim karena daya beli masyarakat amat rendah. pelabuhan Perak di kota Surabaya merupakan salah satu pusat ekonomi yang paling dinamis. membuat gubuk-gubuk dari bahan-bahan seadanya seperti tikar robek atau karung goni di tanah-tanah kosong.[23] Kedua.penghidupan di kota-kota besar. Aktifitas bongkar muat di pelabuhan juga turun drastis karena barang yang keluar masuk melalui pelabuhan juga minim. Di sebuah rumah yang lain di sekitar tempat itu. Sebagian lagi gubuk-gubuk didirikan oleh para gelandangan yang tidak memiliki pekerjaan. yang juga dimiliki oleh seorang mandor pelabuhan. misalnya kota Surabaya. Ketiga. Tempat tinggal itu dikelilingi oleh rumah-rumah yang sama.[22] Salah satu pemukiman kumuh yang dimiliki seorang mandor pelabuhan ditempati oleh 23 pekerja. tidak jarang juga para buruh yang memenuhi kota Surabaya tidak memiliki tempat tinggal sama sekali dan harus rela hanya berteduh di emper-emper toko. maka salah satu jalan untuk mengatasi problem tempat tinggal mereka adalah dengan mendirikan gubuk-gubuk apa adanya dari bahan-bahan seadanya di tanahtanah kosong yang dekat dengan tempat pekerjaan mereka. para pekerja pelabuhan membayar 3 sen semalam untuk tidur berhimpitan dengan 120 orang yang berjejalan di rumah tersebut. panjang 8 meter dan tinggi 7 meter. padahal hanya memiliki lebar 3 meter. Padahal sebagaimana digambarkan oleh Ingleson.

Menyebabkan penyakit malaria dan penyakit lain yang disebabkan karena sanitasi yang jelek dan saluran air minum yang kotor. maka salah satu jalan untuk mengatasi problem tempoat tinggal mereka adalah dengan mendirikan gubuk-gubuk apa adanya dari bahan-bahan seadanya di tanahtanah kosong yang dekat dengan tempat pekerjaan mereka. Karena sempitnya lahan yang bisa diakses secara bebas serta minimnya daya beli kaum pendatang di kota Surabaya yang rendah terhadap tanah. Sebagian lagi gubuk-gubuk didirikan oleh para gelandangan yang tidak memiliki pekerjaan. Penampungan air untuk masak yang terbuat dari tanah liat yang dibakar (jun) juga merupakan tempat hidup yang nyaman bagi nyamuk malaria.[24] Keadaan semacam ini muncul karena keterbatasan akomodasi dan kemampuan para buruh tersebut untuk menyewa rumah yang layak. dan dengan alas seadanya mereka tidur di lantai. Di samping itu sampai awal abad ke-20 sebagian besar permukiman penduduk pribumi di kota Surabaya dalam kondisi mengenaskan. karena sangat rawan terkena penyakit. Sementara itu apabila . Sebagian besar kampung-kampung di bagian Utara kota Surabaya yang dekat pelabuhan merupakan perkampungan di tepi rawa.fasilitas akomodasi yang berhasil ia buat sekedar untuk beristirahat setelah seharian bekerja mengangkut barang-barang digudang. berebu. Hidup di kampung yang dekat dengan tempat kerja memberikan keuntungan kepada para pekerja untuk dapat menyimpan biaya pengeluaran untuk ongkos trem. Kampung-kampung selalu dipenuhi para pekerja yang tidak mampu menemukan tempat tidur. Kampung-kampung di kota Surabaya lazimnya merupakan permukiman apa adanya tanpa fasilitas memadai sebagai hunian di perkotaan. Pasar-pasar bahkan juga dipenuhi oleh mereka. Pada musim kemarau udara di kampung menjadi panas. Kampung-kampung semacam itu juga merugikan bagi para penghuninya. yang menyerap sebagian besar pendapatan para pekerja perkotaan yang sudah sedikit itu. dan terlampau sesak.

musim hujan datang maka tempat-tempat yang rendah dan saluran-saluran air yang tidak memadai akan menyebabkan kampung tergenang air dalam waktu yang cukup lama.J. Sebagaimana dikatakan oleh P. toch tida oeroeng masih ada jang tjari tempat penginepan di sitoe …. walaupun tinggal di perkampungan miskin yang kumuh. Ampir segala emper toko-toko di Benedenstad djadi tempat pemondokannja itoe orang-orang jang bekerdja berat boeat tjari sesoeap nasi. pengemis. Tidak jarang juga para pendatang dari pedesaan tidak bisa mendapatkan pekerjaan di kota Surabaya sehingga mereka harus rela tidur di kolong-kolong jembatan.. padat dan senantiasa mengancam jiwa mereka karena dikerubuti berbagai macam penyakit. Gambaran tentang orangorang miskin. tapi gemeente telah adaken atoeran keras dengan kasi kawat berdoeri di saben kolong djembatan. yaitu kolera. meningkatnya jumlah orang Barat yang membutuhkan ruang hidup di kota adalah satu alasan yang menimbulkan apa yang disebut sebagai masalah . tipus. Nas misalnya. serta TBC. ”Kemiskinan antara kaoem Indonesier sering menjolok mata. dan gelandangan pada awal abad ke-20 di kota Surabaya direkam oleh orang yang mengaku bernama Si Tjerdik dalam bukunya Melantjong ka Soerabaia. namun mereka merasa nyaman terutama bila dibandingkan apabila hidup di desa dengan penghasilan yang tidak jelas. influenza. Itoe orang-orang Madoera poenja ”roemah” ada di straat.M. [25] Bagi para buruh pendatang dari pedesaan. Kondisi semacam ini terusmenerus menjadi ancaman para penghuni kampung tanpa para penghuni tersebut sadar. Kondisi kampung yang semacam itu menjadi sarang penyakit.[26] Munculnya perkampungan kumuh di perkotaan juga tidak bisa dilepaskan dari keberadaan orang-orang Barat. Doeloe kolong-kolong djembatan dipakai boeat tempat tidoernja kaoem pengemis.

Gambaran paling ekspresif tentang kondisi perkampungan pribumi baik yang resmi maupun yang liar pada tahun 1930-an tertuang dalam hasil wawancara antara William H. Karena ketidakmampuan tersebut maka penyelenggara kota harus melakukan kontrol yang kuat agar penyesuaian-penyesuaian bisa dilakukan dan stadardisasi permukiman bisa terlaksana sesuai dengan selera bangsa Eropa. yang kemudian seringkali mengubah perkampungan pedesaan di tepi kota menjadi perkampungan kumuh yang berada di tengah kota. Dengan kekecualian kadang-kadang ada pohon buahbuahan. di belakang permukiman orang-orang Barat. Masuknya penduduk yang banyak telah menggeser posisi perkampungan yang semula berada di tepi kota lama-kelamaan bergandeng dengan wilayah kota dan akhirnya banyak kampung kemudian berada di tengahtengah kota. banyak yang menggunakan bahan-bahan bekas. Para pendatang baru yang semakin banyak mengambil lahan di pinggir-pinggir kampung. Kota Surabaya memiliki problem permukiman yang luar biasanya utamanya permukiman untuk warga miskin kota. Frederick dengan ratusan warga kota Surabaya yang dilakukan pada tahun 1970-an ketika yang bersangkutan akan menyusun disertasi.Rumah-rumah terkesan sangat seadanya. secara signifikan mengurangi ruang yang tersedia bagi tempat permukiman pribumi.perkampungan.[27] Hal ini dipadu dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat mengakibatkan tingginya kepadatan penduduk di daerah ini. tidak ada lagi hal-hal yang menyejukkan pemandangan luar yang gersang. Sangat kontras dengan gambaran pemukiman . tegak berimpitan di sepanjang gang. Kondisi tersebut merupakan sedikit dari gambaran permukiman miskin di Kota Surabaya. Secara umum sejak kota ini ditetapkan sebagaigemeente pada tahun 1906 dan tanggung jawab atas kota tersebut dibebankan kepada pemerintah kota secara otonom. Problem tersebut tidak saja menyangkut legalitas tanah-tanah yang digunakan tetapi juga berkaitan dengan ketidakmampuan warga miskin Kota Surabaya untuk ”menterjemahkan” makna permukiman yang baik sesuai standar elit kota pada waktu itu yaitu golongan Eropa.

Dengan kata lain mereka memasuki dunia kampung. tinggal sudah bertahun-tahun. dan berbeton di sekitarnya. Susunan anyaman bambu dan tembok yang dilabur sangat bertentangan dengan suasana kota yang beraspal. mengingat pada waktu itu Surabaya telah berkembang menjadi kota besar dan menjadi tujuan kaum urban untuk mengadu nasib. Sehingga tidak jarang ditemui gubuk-gubuk liar yang sudah kosong tidak berpenghuni. dengan pergeseran dan gerak dari satu lokasi ke lokasi yang lain sesering dan selambat sesuai dengan berubahnya pertimbangan keuangan dan pertimbangan-pertimbangan lain.[28] Para penghuni kawasan liar di Surabaya sering kali merupakan penghuni permanen. Saluran air sangat buruk. Tidak jarang air memasuki rumah-rumah penduduk. Satu-satunya jalan adalah mendirikan rumah darurat dengan bahan seadanya di lahanlahan kosong milik pemerintah kota atau milik swasta (partikelir). berbatu. Mereka semua memasuki dunia kampung. Kondisi demikian wajar terjadi. pemukiman yang khas ini akan berubah menjadi kubangan lumpur yang lebar. yang menandakan bahwa pemilik rumah liar tersebut telah pergi.[29] D. Keluarga-keluarga penghuni kampung dengan penghasilan yang pas-pasan tidak punya pilihan lain selain melewati kesehariannya dengan lantai yang basah kuyup. apabila hujan tiba. Penghuni permanen biasanya lama-kelamaan akan mengajukan ijin kepada pihak pemerintah untuk bisa menempati lahan yang telah mereka tinggali secara sah. Sering para pendatang baru sampai ke Surabaya secara kebetulan dan berharap bisa mengadu nasib dengan memasuki jalur kerja yang baru. Catatan Akhir . Sedangkan penghuni yang tidak permanen biasanya akan pindah ke tempat lain apabila kepentingan mereka di tempat yang mereka tinggali sudah ada lagi.warga Eropa. Sebagai pendatang baru mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyewa rumah atau membuat rumah sendiri secara sah. tetapi banyak juga yang non-permanen.

Sempitnya kesempatan untuk mengakses tanah terutama untuk kebutuhan yang mendesak. Padahal di tanah-tanah tersebut hidup ribuan penduduk yang sudah tinggal selama bertahun-tahun. Namun pada perkembangannya gerakan tersebut lebih bermotif kebutuhan akan tempat tinggal bagi warga kota Surabaya terutama bagi kaum pendatang. yaitu untuk tempat tinggal menyebabkan gerakan pendudukan tanah terus berlanjut.Pendudukan tanah secara liar di kota Surabaya pada awalnya merupakan gerakan protes atas tekanan penjajah yang tidak mengakomodir keberadaan penduduk atas hak-hak tanah yang seharusnya mereka terima. . Gerakan pendudukan tanah secara liar menjadi gerakan yang sistematis karena gerakan ini memiliki pimpinan yaitu orangorang yang cukup berpengaruh di lingkungan setempat. penyewa tanah tersebut menjadi pemicu meletusnya gerakan penduduykan tanah-tanah secara liar. bahkan sampai saat ini. Gerakan ini dipicu karena terbatasnya akses penduduk terhadap tanah yang sebagian besar sudah diklaim oleh penjajah melalui para pengusaha swasta. Tekanan yang bertubi-tubi oleh para tuan tanah.

Mailraport 1215/16 Arsip Nasional Republik Indonesia. Erica. “Industri Mesin Surabaya: Fungsi dan Peran dalam Industrialisasi dan Pembangunan Kota Abad XIX dan Awal Abad XX.H. Djakarta: Pradnjaparamita. 1933 Handinoto. 1962 Faber. ”Ir. Jakarta: ANRI. 1982 Burger. Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya 1870-1940.” dalam Purnawan Basundoro dkk. 2007 . Laporan-Laporan tentang Gerakan Protes di Jawa pada Abad XX. Yogyakarta: Andi. Von. Sosiologi Jilid 2.Yogyakarta: Ar-ruzz Media. Jakarta: Erlangga. Nieuw Soerabaia: De Geschiedenis van Indie’s Voornamste Koopstad in de Eerste Kwarteeuw Sedert Hare Instelling 1906-1931. 1981 Bogaers.DAFTAR PUSTAKA Afschrift. G. Skripsi Doktoral Planologi Universiteit van Amsterdam. Tempo Doeloe Selaloe Aktoeal. 1915-1940”. Paul B dan Chester L.H. Hunt. D. Thomas Karsten en de Ontwikkeling van de Stedebouw in Nederlands-Indie. Soerabaia: Gemeente Soerabaia. 1990 Ikhsan Rosyid. 1996 Horton.

Jakarta: Pustaka Jaya. Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial Ekonomi. Semarang: Boekhandel “Kamadjoean”. Malang: Bayumedia. W. Fakultas Sastra. Saat ini (2008) tercatat . Van Hoeve. Desentralisasi dalam Tata Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda: Kebijakan dan Upaya Sepanjang Babak Akhir Kekuasaan Kolonial di Indonesia (19001940). Frederick. The Hague: W. Yogyakarta: Aditya Media. Pandangan dan Gejolak: Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia (Surabaya 1926-1946). 22 November 1927 P. 1994 Si Tjerdik. Pemberontakan Petani banten 1888 Kondisi. Sarekat Kerja dan Perkotaan Masa Kolonial. 1984 Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo.Ingleson. 2005 Wertheim. John. Singapore: Oxford University Press.F. 1930 Soetandyo Wignjosoebroto.M. Protest Movements Java. Kota-Kota Indonesia: Bunga Rampai. dan Kelanjutannya: Sebuah Studi Kasus Mengenai Gerakan Sosial di Indonesia. Universitas Airlangga Surabaya. Melantjong ka Soerabaia. Jakarta: Komunitas Bambu. Tangan dan Kaki Terikat: Dinamika Buruh. Jakarta: Gramedia. 1973 in Rural Sartono Kartodirdjo.J. Nas. 1958 Studies in Urban William H. The Indonesian Town: Sociology. 2004 Nieuw Soerabajaasche Courant. 2007 Sartono Kartodirdjo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1989 [1] Staf Pengajar pada Departemen Ilmu Sejarah. Jalan Peristiwa.

sebagai Mahasiswa S-3 Ilmu Sejarah. 198 . [2] Afschrift. Mailraport 1215/16 [3] Arsip Nasional Republik Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya. Laporan-Laporan tentang Gerakan Protes di Jawa pada Abad XX. Universitas Gadjah Mada. (Jakarta: ANRI.