Anda di halaman 1dari 4

RESUME RADANG Dan PERBAIKAN Radang adalah respon tubuh terhadap terjadinya cidera baik respon vaskuler maupun

seluler. Saat radang terjadi penghancuran dan pengeliminasian agen penyebab radang yang bertujuan untuk memperbaiki jaringan yang mengalami cidera. Penyebab radang dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu radang yang terjadi akibat respon tubuh terhadap adanya benda asing misalnya jaringan donor, agen biologis seperti bakteri, dan benda mati serta radang yang terjadi akibat kerusakan jaringan yang menimbulkan nekrosa; infark; hemoragi; thrombus yang biasanya terjadi karena trauma fisik, radiasi, racun, suhu ekstrim, dan respon imun. Jaringan tubuh yang mengalami peradangan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Rubor (kemerahan), terjadi karena adanya sirkulasi darah yang tidak lancar pada daerah peradangan Tumor (bengkak), terjadi karena pada daerah peradangan terjadi peningkatan jumlah sel radang untuk mengatasi cidera yang terjadi, sehingga daerah yang engalami peradangan terlihat membengkak Kalor (panas), sebagai akibat dari peningkatan jumlah sel radang pada daerah peradangan maka terjadi peningkatan temperatur karena kepadatan yang ditimbulkan oleh peningkatan sel tesebut Dolor (sakit), terjadi karena sel-sel radang menghasilkan substrat yang merangsang timbulnya rasa sakit Fungsio laesa ( Loss Of Function ), pada daerah yang mengalami perdangan terjadi gangguan fungsi jaringan atau organ

Saat terjadi cidera, sel-sel radang secara besar-besaran akan menuju daerah yang mengalami cidera. Hal tersebut menyebabkan akumulasi sel pada suatu daerah. Akibatnya derah yang mengalami cidera harus memuat sel diluar kapasitas biasa. Hal tersebut menyebabkan perenggangan (vasodialatasi)dari

dinding sel. Akibatnya terbentuk celah diantara sel-sel tersebut. Celah tersebut digunakan sebagai tempat rembesan bahan eksudat. Penamaan radang biasanya menggunakan nama organ ditambah dengan akhiran itis, misalnya percarditis yaitu radang pada percardium atau hepatitis yaitu radang yang terjadi pada hepar. Tetapi tidak semua menggunakan akhiran itis, misalnya penumonia yaitu radang pada paru-paru. Agen causatif sebagai penyebab menghasilkan respon jaringan sekitar agen serta sel nekrotik di daerah radang akan menghasilkan mediator inflamasi.Mediator inflamasi dapat berupa histamin, serotinin, prostagladin, komplemen, kinin, dan sitokin. Mediator Inflamasi tersebut kemudian menginduksi vascula, aliran darah, dan mengaktifkan leukosit. Kemudian terjadi vasodilatasi arterioli maupun kapiler disekitar daerah radang hingga menimbulkan perlambanan aliran darah dan leukosit mengalir ditepi lumen vasculer. plasma darah keluar terakumulasi di jaringan perivasculer. Akibatnya, endothel kapiler meregang, timbul rongga, karena terjadi peningkatan permiabilitas. Endothel menjadi lengket karena plasma, leukosit menggelinding (rolling) kemudian melekat ( adhesi )pada permukaan endothel. Leukosit masuk ruang antar endothel (diapedesis) dan keluar dari vasculer (ekstravasasi) . Leukosit akan bergerak (migrasi) menuju agen causatif inflamasi. Kemudian Leucosit memfagosit baik agen asing, sel inang terinfeksi, maupun jaringan inang yang nekrotik. Proses fagositosis terjadi pada sel leucosit dengan membentuk fagolisosum dan mendegradasi agen secara enzymatic.

Mekanisme Aktivasi Leukosit

Mekanisme Fagositosis

Berdasarkan derajat keparahan, radang dibedakan menjadi: Mild : Peradangan derajat ringan Moderate : Peradangan derajat sedang Savere : Peradangan derajat hebat (keparahan tinggi) Berdasarkan lokasi terjadinya radang dibedakan menjadi : Peradangan Lokal tempat saja : Peradangan yang terjadi terlokalisasi pada satu : Peradangan terlokalisasi yang terjadi

Peradangan Multifokal pada berbagai tempat

Peradangan Difusa : Peradangan yang terjadi menyeluruh pada suatu organ Berdasarkan waktu terjadinya peradangan dibedakan menjadi: Peradangan Perakut : Terjadi sangat cepat Peradangan Akut hari : Terjadi dalam kurun waktu 6 jam sampai beberapa : Peradangan yg berlangsung beberapa

Peradangan Subakut minggu

Peradangan Kronis : Peradangan yang berlangsung berminggu-minggu sampai tahunan Berdasarkan kandungan eksudat dibedakan menjadi: Peradangan Serosa : cairan bening plasma darah Peradangan Fibrinosa Peradangan Hemoragie Peradangan Kattarhal debris, jaringan darah Peradangan Purulenta neutrofil, sel debris, jaringan : fibrin : darah : mukus yang mengandung fibrin, sel nekrosis,komponen sel : nanah/pus dengan kandungan:

nekrotik kuman Ada 3 tahap fase perbaikan atau penyembuhan inflamasi, yaitu fase inflamasi, fase poliferative, dan fase remodeling. Pada fase inflamasi ada 2 tahapan yaitu tahap inflamasi yaitu proses vasodilatasi samapai proses fagosit dan tahap homeostatis yaitu terjadi vasokontriksi dan diikuti agrefasi platelet dan aktifitas thromboplastin. Pada Fase poliverative terjadi proses granulasi, kontraksi dan epithelisasi. Sedangkan pada fase remodeling terjadi pembentukan jaringan parut dan kolagen baru. Ada 2 jenis kesembuhan setelah tahap perbaikan. Yaitu kesembuhan primer apabila tepi luka mudah di tautkan sehingga dapatsembuhseperti semula. Keembuhan sekunder apabila tepi luka sulit ditautkan dan biasanya disertai

terbentuknya jaringan granulasi yang cukup banyak. Kualitas respon inflamasi dan perbaikan dipengaruhi oleh ada atau tidaknya suplai darah, status gizi individu ( protein ; vit.C ), ada atau tidaknya infeksi, ada atau tidaknya diabetes melitus, sedang dalam pengobatan glukokortikoid, dan kadar sel darah putih dalam sirkulasi .