Anda di halaman 1dari 23

Disusun Oleh: OVILIA DELLA PRATIVI REGULER B/I

Guru Pembimbing: DRA. NYIMAS NUR KHOTIMAH, M.KES.

POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG JURUSAN FARMASI TAHUN AKADEMIK 2010/2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan bimbingan-Nya, serta petunjuknya sehingga makalah agama dengan judul Al Qur'an Sebagai Pedoman Hidup Serta Sifat dan Kandungan Yang Ada Di dalamnya dapat terselesaikan. Makalah ini dibuat atas dasar karena tugas yang diberikan oleh guru agama penulisi. Selain itu makalah ini penulis jadikan sarana untuk berdiskusi dalam memecahkan masalah dalam materi pembelajaran agama.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk menyempurnakan pada pembuatan makalah berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan ilmu yang berguna dan berfungsi pada setiap kesempatan yang bermanfaat.

Palembang, November 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .. ii Daftar Isi . iii Pendahuluan ... 4 Isi . 5


1. Al Qur'an Sebagai Pedoman Hidup.. 5

2. Sejarah Turunnya Al Qur'an.. 3. Kandungan Al QUr'an..12 4. Keutamaan atau Fungsi Al Qur'an... 16 Penutup .. 18 1. Kesimpulan ..18 2. Saran ... 18 Daftar Pustaka .. 19

I. PENDAHULUAN

"Tak kenal maka tak sayang" sebuah pepatah yang sering kita dengar dalam hidup ini. Jika kita aplikasikan pepatah tersebut dalam hal keimanan kita pada Allah SWT, maka kita dapat menarik kesimpulan bagaimana kita akan cinta pada Allah SWT jika kita belum mengenal-Nya. Bagaimanakah cara kita mengenal Allah SWT? Salah satu caranya adalah dengan mempelajari Al Qur'an, mendalami, dan memahami, serta mengamalkan dalam kehidupan. Dengan demikian kita akan mengetahui betapa besarnya kuasa Allah SWT, mengetahui tentang agama-Nya, sehingga akan menambah keimanan serta kecintaan kita pada Allah SWT. Selain itu, bagai anak ayam yang kehilangan induknya, akan tersesat tanpa ada yang memberinya petunjuk dalam menjalani kehidupan. Begitupun kita sebagai menusia, .
Seandainya saja tidak ada utusan yang membawa petunjuk, tentulah kita akan tersesat dan kebingungan dalam mengarungi hidup ini. Sebagaimana mereka yang tidak beriman seperti kaum materialis, atheis, dan hedonis yang hidup dalam kesesatan. Maka bersyukurlah kita yang mendapatkan petunjuk dari utusan Allah yaitu Muhammad SAW, yang menyampaikan kabar gembira, memberi peringatan, dan menerangkan hakikat penciptaan kita di dunia. Bersama Beliau, diturunkanlah Al Quran sebagai pedoman hidup.

Sebagai umat muslim, kita perlu mempelajari dan mendalami kitab kita Al Qur'an. Bagaimana mungkin seorang muslim tidak mengenal kitabnya sendiri. Dengan mempelajari sejarah, sifat, isi atau kandungan yang terdapat di dalamnya, kita dapat menjadikan Al Qur;an sebagai pedoman dan petunjuk kita dalam menjalani kehidupan demi mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat kelak, serta menambah keimanan serta kecintaan kita pada sang Khalik Allah SWT.

II. ISI Di dalam makalah ini, penulis akan membahas mengenai Al Qur;an sebagai pedoman hidup, sejarah, dan kandungan yang ada di dalamnya. 1. Al Qur'an Sebagai Pedoman Hidup Manusia Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Di samping itu Dia juga memberikan bekal kepada manusia supaya dapat menjalankan tugas kekhalifahan, yakni Al-Quran Al-Karim. Al-Quran adalah pedoman hidup manusia dalam mengarungi tugas kekhalifahannya di muka bumi, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat barikut

"dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus."(Q.S. Surat Al Maidah:19)

"Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini."(Q.S. Surat Al-Jaatsiyah:20) Asy-Syahid Hasan Al-Banna pernah mengungkapkan bahwa sikap kebanyakan manusia di masa-masa sekarang ini terhadap kitab Allah SWT ibarat manusia yang diliputi dengan kegelapan dari segala penjuru. Berbagai sistem telah bangkrut, masyarakat telah hancur, nasionalisme telah jatuh. Setiap kali manusia membuat sistem baru untuk diri mereka, segera sistem itu hancur berantakan. Hari ini, manusia tidak mendapatkan jalan selain berdoa, bersedih, dan menangis. Sungguh aneh, karena di hadapan mereka sebenarnya terdapat AlQuran, cahaya sempurna. Al-Quran adalah kitab suci sebagai Kalam Ilahi yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu rahmat yang tiada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terkumpul Wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk, pedoman dan pelajaran bagi yang meyakini, mempelajari dan mengamalkannya. Karena itu, kaum muslimin harus benar-benar yakin bahwa hanya dengan Al-Quranlah umat silam dapat maju ke arah kesempurnaan. Kuat atau lemahnya, maju atau mundurnya umat Islam tergantung kepada sikapnya dan pemahamannya terhadap Al-Quran. Syekh

Muhammad Al-Ghazali, seorang ulama kharismatik dari Mesir dalam bukunya Kaifa nataammal Maal Quran mengatakan Sikap sekarang terhadap Al-Quran sangat memprihatinkan, seolah-olah Al-Quran dibicarakan kepada mereka dari tempat yang yang sangat jauh, dan sangat sulit menemukan orang yang benar-benar berpegang teguh kepada AlQuran . Ini adalah masalah besar yang tidak boleh dibiarkan berlarut begitu saja, bila kita tidak menginginkan keterasingan dari agama dan dari keterasingan Al Quran sebagai pedoman hidup. Dalam Al-Quran telah diceritakan tentang orang-orang yang meninggalkan/acuh tak acuh terhadap Al-Quran, dimana mereka yang menolak dan meninggalkan Al-Quran itu diadukan oleh Nabi Muhammad SA|W kepada Allah SWT. Sebagaimana yang tergambar dalam firman Allah SWT surat Al Furqan:30

"berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan".(Q.S. al Furqan:30)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran, ataukah hati mereka yang terkunci?. (Q.S. Muhammad: 24)

Banyak hal dalam Al-Qur'an yang dapat kita gunakan sebagai pedoman hidup kita. Mulai dari masalah akidah, akhlak, syariat hingga ilmu pengetahuan. Dengan demikian, hidup yang kita jalani, dengan berdasar pada Al Qur'an, akan menapaki jalan yang diridhai Allah SWT.

2. Sejarah Turunnya Al Qur'an "Quran" menurut pendapat Dr. Subhi Al Salih berarti "bacaan", asal kata qaraa. Kata Al Quran itu berbentuk masdar dengan arti isim maful yaitu maqru (dibaca). Di dalam Al Quran sendiri ada pemakaian kata "Quran" dalam arti demikian sebagai tersebut dalam surah Al Qiyaamah :17-18


"Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu."(Q.S Al Qiyaamah :17-18) Kemudian dipakai kata "Quran" itu untuk Al Quran yang dikenal sekarang ini.

Adapun definisi Al Quran ialah: "Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah" Dengan definisi ini, kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad SAW. tidak dinamakan Al Quran seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. atau Injil yang diturun kepada Nabi Isa a.s . Nabi Muhammad SAW dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam

cara dan keadaan. di antaranya: 1. Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Rasulullah SAW tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: "Ruhul qudus mewahyukan ke dalam kalbuku", (lihat surah (42) Asy Syuura ayat (51). 2. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu. 3. Wahyu datang kepadanya seperti gemerincing lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: "Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa".

4. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan no. 2, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al Quran surah An Najm: 13-14.


"dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha"(Q.S. An Najm: 13-14) Periode Turunnya Al-Quran Al Qur'an diturukan secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Para ulama Ulum Al-Quran membagi sejarah turunnya Al-Quran dalam dua periode: (1) Periode sebelum hijrah; dan (2) Periode sesudah hijrah. Ayat-ayat yang turun pada periode pertama dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan ayat-ayat yang turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah. Periode Pertama Turunnya Al Quran pada periode pertama ini terjadi ketika Nabi saw. bermukim di Mekah (610 622 M) sampai Nabi Muhammad saw. melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu, kemudian disebut dengan ayat-ayat Makiyah, yang berjumlah 4.726 ayat dan terdiri atas 89 surat. Negeri Arab sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul, terkenal dengan sebutan Jahiliyah. Sebutan ini diberikan karena masyarakat Arab waktu itu memiliki perilaku yang telah melampaui batas. Berzina, berjudi, merampok, mabuk-mabukan, membunuh anak anak perempuan, menyembah berhala, dan sebagainya merupakan pemandangan sehari-hari. Melihat perilaku masyarakat yang telah rusak tersebut, pada saat itu Nabi Muhammad SAW berumur 40 tahun, beliau pun banyak melakukan perenungan. Beliau

sering mengasingkan diri di Goa Hira untuk menghindari hiruk pikuknya kota mekkah ketika itu. Setelah melakukan khalwat beberapa lama di Goa Hira, pada malam 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 M, datanglah Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad dan menyuruhnya untuk membaca tulisan yang dibawa Jibril. Dengan agak terkejut beliau menjawab : Aku tidak dapat membaca. Jawaban tersebut dikemukakan Nabi berulang-ulang, hingga akhirnya Jibril membimbing beliau sampai mampu membaca. Adapun ayat yang dibawa Malaikat pada saat itu adalah :


Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq : 1-5) Peristiwa yang dialami Nabi Muhammad SAW pada tanggal 17 Ramadhan itulah yang menandai turunnya wahyu pertama sehingga diperingati oleh umat Islam diseluruh dunia sebagai

malam Nuzulul Quran (malam dirunkannya Al-Quran). Selain itu, kejadian tersebut juga merupakan titik awal diangkatnya Muhammad sebagai Rasul Allah SWT. Periode ini berlangsung sekitar 12 tahun 5 bulan 13 hari dan telah menimbulkan bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi tersebut nyata dalam tiga hal pokok: 1. Segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik ajaran-ajaran Al-Quran.
2. Sebagian besar dari masyarakat tersebut menolak ajaran Al-Quran, karena kebodohan

mereka (QS 21:24), keteguhan mereka mempertahankan adat istiadat dan tradisi nenek moyang (QS 43:22), dan atau karena adanya maksud-maksud tertentu dari satu golongan.
3.

Dakwah Al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Makkah menuju daerahdaerah sekitarnya.

Periode Kedua Periode yang kedua adalah Periode Madinah. Sebuah periode yang terjadi pada masa setelah Nabi Muhammad SAW. hijrah ke Madinah (622 632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini kemudian dinamakan ayat-ayat Madaniyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat. Periode kedua ini berlangsung selama 9 tahun 9 bulan 9 hari, dimana terjadi pertarungan hebat antara gerakan Islam dan jahiliah. Gerakan oposisi terhadap Islam menggunakan segala cara dan sistem untuk menghalangi kemajuan dakwah Islamiah.

Dimulai dari fitnah, intimidasi dan penganiayaan, yang mengakibatkan para penganut ajaran Al-Quran ketika itu terpaksa berhijrah ke Habsyah dan para akhirnya mereka semua termasuk Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah. Ayat Makkiyah dan ayat Madaniyah Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al Quran itu dibahagi atas dua golongan: 1. Ayat-ayat yang diturunkan di Mekah atau sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Makkiyyah. 2. Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Madaniyyah. Ayat-ayat Makkiyyah meliputi 19/30 dari isi Al Quran terdiri atas 86 surah, sedang ayat-ayat Madaniyyah meliputi 11/30 dari isi Al Quran terdiri atas 28 surah.

Perbedaan ayat-ayat Makiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah ialah: 1. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek sedang ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang; surat Madaniyyah yang merupakan 11/30 dari isi Al Quran ayat-ayatnya berjumlah 1,456, sedang ayat Makkiyyah yang merupakan 19/30 dari isi Al Quran jumlah ayat-ayatnya 4,780 ayat. Juz 28 seluruhnya Madaniyyah kecuali ayat (60) Mumtahinah, ayat-ayatnya berjumlah 137; sedang juz 29 ialah Makkiyyah kecuali ayat (76) Addahr, ayat-ayatnya berjumlah 431. Surat Al Anfaal dan surat Asy Syuaraa masing-masing merupakan setengah juz tetapi yang

pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua Makiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227. 2. Dalam ayat-ayat Madaniyyah terdapat perkataan "Ya ayyuhalladzi na aamanu" dan sedikit sekali terdapat perkataan Yaa ayyuhannaas, sedang dalam ayat ayat Makiyyah adalah sebaliknya. 3. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti; sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan hukum adat atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum

kemasyarakatan, hukum ketata negaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antara agama dan lain-lain 3. Kandungan Al Qur'an Nama-nama al-Quran

al-Kitaab ()bermaksud sebuah kitab berdasarkan firman Allah:


"Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa" .(Q.S. Al-Baqarah :1-2)

al-Furqaan ( )bermaksud pemisah hak dan batil sebagaimana firman Allah:


"Maha berkat Tuhan Yang menurunkan al-Furqaan kepada hambaNya (Muhammad), untuk menjadi peringatan dan amaran bagi seluruh penduduk alam. (Q.S.Al-Furqaan 25:1)

adz-Dzikr ( )bermaksud peringatan berdasarkan firman Allah:


"Sesungguhnya Kamilah Yang menurunkan al-Quran, dan Kamilah Yang memelihara dan menjaganya. (Q.S Al-Hijr 15:9)

at-Tanzil ( )bermaksud penurunan. Nama ini diambil sempena firman Allah:

"Dan Sesungguhnya Al-Quran (yang di antara isinya kisah-kisah Yang tersebut) adalah diturunkan oleh Allah Tuhan sekalian alam." (Q.S. Asy-Syuara 26:192) Sifat al-Quran Al Qur'a bersifat universal, cakupan sasarannya untuk seluruh umat manusia, dimana berlaku hingga akhir zaman.

an-Nuur bermaksud cahaya yang menerangi kegelapan. Al-Quran disifatkan sebagai nur (cahaya) kerana ia memberikan cahaya keimanan kepada orang yang berada di

dalam kegelapan serta kekufuran. Selain itu, al-Quran juga menjadi cahaya yang menerangi jiwa orang yang selalu membacanya dan menghayati isi kandungannya.

al-Mubiin bermaksud menerangkan sesuatu. Al-Quran disifatkan sebagai penerang kerana ia menghuraikan ajaran Islam kepada seluruh umat.

al-Huda bermaksud petunjuk. Al-Quran disifatkan sebagai petunjuk kerana ia menunjukkan jalan yang lurus kepada umat manusia.

ar-Rahmah bermaksud kerahmatan. Allah menyifatkan al-Quran sebagai rahmat kerana ia membawa rahmat kepada orang Mukmin yang sentiasa membaca, mempelajari dan mengamalkan isi kandungannya.

Syifa yakni obat penawar segala macam penyakit rohani manusia.

Surah-surah dalam al-Quran Secara keseluruhan Al-Quran terdiri atas 30 Juz, 114 surat, 554 ruku dan 6.666 ayat diawali dengan Al-Fatihah dan di akhiri dengan surat An-Nas. Nama-namanya dan batasbatas tiap-tiap surat, susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah sendiri (tauqifi). Sebagian dari surat-surat Al Quran mempunyai satu nama dan sebagian yang lain mempunyai lebih dari satu nama, sebagaimana yang akan diterangkan dalam muqaddimah tiap-tiap surat. Surat-surat yang ada dalam Al Quran ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian, yaitu: 1. ASSABUTHTHIWAAL, dimaksudkan, tujuh surat yang panjang Yaitu: Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa, Al Araaf, Al Anaam, Al Maa-idah dan Yunus.

2. Al MIUUN, dimaksudkan surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih seperti: Hud, Yusuf, Mumin dsb. 3. Al MATSAANI, dimaksudkan surat-surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat seperti: Al Anfaal. Al Hijr dsb. 4. AL MUFASHSHAL, dimaksudkan surat-surat pendek. seperti: Adhdhuha, Al Ikhlas, AL Falaq, An Nas. dsb. Di dalam surat-surat dan ayat-ayat Al Qur'an terkandung kandungan yang secara garis besar dapat kita bagi menjadi beberapa hal pokok atau hal utama beserta pengertian atau arti definisi dari masing-masing kandungan inti sarinya, yaitu sebagaimana berikut ini :

1. Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia. Al Qur'an mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang satu yang tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak. Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun iman yang pertama. Orang yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang-orang kafir. 2. Ibadah adalah taat, tunduk, ikut atau nurut dari segi bahasa. Dari pengertian "fuqaha" ibadah adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dkerjakan untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Bentuk ibadah dasar dalam ajaran agama islam yakni seperti yang tercantum dalam lima butir rukum islam. Mengucapkan dua kalimah syahadat, sholat lima waktu,

membayar zakat, puasa di bulan suci ramadhan dan beribadah pergi haji bagi yang telah mampu menjalankannya. 3. Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT mengutus Nabi Muhammd SAW tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlaq. Setiap manusia harus mengikuti apa yang diperintahkanNya dan menjauhi laranganNya. 4. Hukum-huum adalah memberi suruhan atau perintah kepada orang yang beriman untuk mengadili dan memberikan penjatuhan hukuman hukum pada sesama manusia yang terbukti bersalah. Hukum dalam islam berdasarkan Al Qur'an ada beberapa jenis atau macam seperti jinayat, mu'amalat, munakahat, faraidh dan jihad.

5. Tadzkir atau peringatan adalah sesuatu yang memberi peringatan kepada manusia akan ancaman Allah SWT berupa siksa neraka atau waa'id. Tadzkir juga bisa berupa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepadaNya dengan balasan berupa nikmat surga jannah atau waa'ad. Di samping itu ada pula gambaran yang menyenangkan di dalam Al Qur'an atau disebut juga targhib dan kebalikannya gambarang yang menakutkan dengan istilah lainnya tarhib. 6. Sejarah-Sejarah atau Kisah-Kisah

adalah cerita mengenai orang-orang yang terdahulu baik yang mendapatkan kejayaan akibat taat kepada Allah SWT serta ada juga yang mengalami kebinasaan akibat tidak taat atau ingkar terhadap Allah SWT. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebaiknya kita mengambil pelajaran yang baik-baik dari sejarah masa lalu atau dengan istilah lain ikibar. 7. Dorongan Untuk Berpikir Di dalam al-qur'an banyak ayat-ayat yang mengulas suatu bahasan yang memerlukan pemikiran menusia untuk mendapatkan manfaat dan juga membuktikan kebenarannya, terutama mengenai alam semesta.

4. Keutamaan atau fungsi Al Qur'an Beberapa keutamaan dari membaca, menghafal, hingga mengamalkan Al Qur'an: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sebagai petunjuk umat manusia Sebagai penyelamat manusia di akhirat Sebagai bacaan Sebagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi Pembela bagi para pembacanya yang juga mengamalkannya Pembacanya yang baik akan bersama para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbakti dan dua pahala bagi pembacanya yang tersendat-sendat dan susah payah. 7. Menempati tempat yang paling mulia di antara umat Rasulullah SAW (penghafal Al Qur'an) 8. 9. Pembacanya ibarat pohon utrujah : yang baunya sedap dan rasanya enak Menembus seluruh waktu, tempat dan sasaran.

Hikmah diturunkan al-Quran secara beransur-ansur 1. Agar lebih mudah difahami dan dilaksanakan. 2. Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan permasalahan pada waktu itu. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Quran diturunkan sekaligus. (ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh). 3. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati. 4. Memudahkan penghafalan. 5. Di antara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan.

III. PENUTUP 1. Kesimpulan Dalam menjalani kehidupan kita perlu memiliki pedoman hidup, dan tak ada pedoman yang lebih baik dan sesempurna Al Qur'an. Dengan membaca, mempelajari, mendalami, dan mengamalkannya dalam kehidupan kita dapat memetik hikmah serta mendapat keridhaan dari Allah swt. Selain itu kita juga memperoleh banyak kutamaan darinya. Dan sebagai umat islam kita wajib mengamalkan ajaran-ajaran islam yang terdapat dala Al Qur'an. 2. Saran Kepada para pembaca, saya menyadari masih banyak kesalahan dan tidak kesempurnaan yang terdapat dalam tulisan saya dan masih banyak pihak yang belum mengetahuinya. Oleh karena itu, saya mohon untuk mengembangkan lebih lanjut dan menyebarluaskan gagasan pokok dalam karya tulis ini kepada semua pihak dan masyarakat. Semoga dengan gagasan yang saya sampaikan pada karya tulis ini dapat memberikan dampak positif bagi keadaan bumi dan masyarakat semuanya.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2008. Kedudukan dan Fungsi Al-Quran. http://javavist.dagdigdug.com/index.php/2008/12/26/al-quran-sebagai-pedomanhidup/. 29 November 2010. 8.00 WIB. Anonim. 2010. Al-Qur'an. http://ms.wikipedia.org/wiki/Al-Quran. 29 November 2010. 8.00 WIB Anonim. Sejarah Al Quran. http://joerzack.tripod.com/SEJARAH_AL_QURAN.htm. 29 November 2010. 8.00 WIB. Alrasikh. 2008. Al Qur'an Sebagai Pedoman Hidup. http://alrasikh.wordpress.com/2008/04/18/alqur%E2%80%99an-sebagaipedoman-hidup/. 29 November 2010. 8.00 WIB. godam64. 2006. Isi Kandungan Al Qur'an : Aqidah, Ibadah, Akhlak, Hukum, Sejarah & Dorongan Untuk Berfikir - Garis Besar / Inti Sari Al-Quran. http://organisasi.org/isi_kandungan_Al Qur'an_aqidah_ibadah_akhlak_hukum_sejarah_dorongan_untuk_berfikir_garis_ besar_inti_sari_al_quran. 29 November 2010. 8.00 WIB. Hadrami, Abdullah. 2007. Al-Qur?an Adalah Pedoman Hidup. http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=161. 29 November 2010. 8.00 WIB Jannah, Izzatul dan Irfan Hidayatullah. 2010. Sejarah Turunnya Al Quran. http://lookman89.wordpress.com/2010/04/22/nama-dan-sifat-Al Qur'an/. 29 November 2010. 8.00 WIB. Kms , Selamat. 2008. Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Quran. http://salendra.wordpress.com/2008/05/22/sejarah-turunnya-dan-tujuan-pokok-alquran/. 29 November 2010. 8.00 WIB Y, H. Sunaryo A. 2009. Sejarah Turunnya Al-Quran, Pengertian Al-Quran Serta AlQuran Sebagai Pedoman Hidup. http://www.hajisunaryo.com/component/content/article/78-sejarah-turunnya-al-quranpengertian-al-quran-serta-al-quran-sebagai-pedoman-hidup.html. November 2010. 8.00 WIB. Zaidallah, Alwisral Imam. 2010. 100 Khutbah Jum'at Kontemporer 1. Jakarta: Kalam Mulia.

Anda mungkin juga menyukai