P. 1
TUGAS KLIPING

TUGAS KLIPING

|Views: 108|Likes:
Dipublikasikan oleh Septin Munardi

More info:

Published by: Septin Munardi on Nov 11, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/11/2013

pdf

text

original

DISUSUN OLEH

JUNIAR EKA LENI MARLINAWATI LIDIA MISPITA MARDALENA MARIA RANTAWATI

11241052 11241053 11241054 11241055 11241056

SMP N 3 Bukateja Terapkan JPKS
Terbit 6 Oktober 2012 - 11:04 WIB | Dibaca : 91 kali Laporan: Redaksi

Ilustrasi PURBALINGGA, (TubasMedia.Com) – SMPN 3 Bukateja Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, menerapkan program JPKS (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Siswa). Program ini tidak berbeda dengan JPKM (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat) yang dilaksanakan Pemkab Purbalingga. Hal itu mengemuka saat penilaian PMR (Palang Merah Remaja) Madya SMP Negeri 3 Bukateja oleh Tim penilai Lomba PMR tingkat Provinsi Jawa Tengah, Jum’at (28/9) pekan lalu. JPKS merupakan satu-satunya program pemeliharaan kesehatan siswa yang ada di Jateng. Menurut Kepala Sekolah SMP N 3 Bukateja, Bangun Pracoyo setiap siswa membayar premi sebesar Rp 5.000 per tahun. Sehingga siswa yang sehat mensubsidi siswa yang sakit. Jika ada siswa yang sakit selain ditangani oleh PMR juga bekerja sama dengan Puskesmas dan jika diperlukan bisa dirujuk ke rumah sakit. Bangun menambahkan, untuk membiasakan perilaku hidup sehat di sekolah diadakan kantin sehat yang bersertifikat. Kantin ini tidak menyajikan makanan dengan pembungkus plastik, styrofoam maupun bahan kimia berbahaya lain. Sekolah juga memiliki kebun buah, kebun sayuran dan kolam renang serta membuat kompos sendiri. Sementara itu, Ketua PMR SMP N 3 Bukateja, Annisa Faedatul Warohmah menjelaskan bahwa PMR unit SMP N 3 Bukateja saat ini mempunyai anggota aktif sebanyak 112 orang. Latihan rutin dilaksanakan seminggu sekali dengan materi ketrampilan pertolongan pertama, sanitasi, kesehatan remaja, siaga bencana dan donor darah.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga, Sardjono mengatakan, SMP N 3 Bukateja menjadi salah satu sekolah di Purbalingga yang telah menyumbangkan sejumlah prestasi. Selain itu juga memberikan pendidikan karakter bagi para siswa. (joko suharyanto)

Dinamika Perempuan Indonesia

Desa Siaga Aktif dan Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Mayoritas anggota Muslimat NU adalah berbasis di pedesaan dan sejak berdirinya selalu terlibat langsung dan secara aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, termasuk kesehatan, sehingga perlu upaya penguatan program kesehatan bersinergi dengan berbagai elemen masyarakat guna mewujudkan Desa Siaga aktif. Oleh karena itu perlu rancangan program Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan melalui Peningkatan Desa Siaga dan perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) oleh Muslimat NU dengan Kementerian Kesehatan RI (Khofifah Indar Parawansa). Muslimat NU merupakan organisasi perempuan dibawah naungan jam’iyah Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Saat ini Muslimat NU memiliki jaringan di 33 Propinsi se Indonesia, dan untuk Jawa timur saja memiliki 43 Kota/Kabupaten, 629 kecamatan, 8. 190 desa. Sebagai organisasi keagamaan, Muslimat NU memberikan layanan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, budaya, kependudukan dan lingkungan hidup. Di Jawa Timur saja memiliki aset yang dikelola seperti Pusat Pelayanan Kesehatan (RS 14 unit, RB 22 unit, BP 25 unit dan Panti Asuhan 42 unit). Selain itu Muslimat NU Jawa Timur juga mempunyai Ulama perempuan (Da’iyah) kurang lebih 5. 569 orang yang memiliki kharisma dan dihormati masyarakat serta merupakan kader terlatih Muslimat NU yang mempunyai peran penting dan strategis dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Desa Siaga Aktif: Dokumentasi Puskesmas Cibadak, Jawa Barat Potensi sumberdaya Muslimat NU sebagai organisasi sosial keagamaan memiliki nilai sangat strategis menjadi mitra dalam kegiatan promosi kesehatan dan gerakan pemberdayaan dalam upaya pencapaian target Desa/Kelurahan Siaga Aktif dan Perilaku Hidup Bersih dan sehat (PHBS) Rumah Tangga. Menurut laporan HJ. Mutafarida Hasan, S. Pd selaku penanggung jawab Desa Siaga Aktif dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Rumah Tangga Propinsi Jawa Timur bahwa mengawali program PHBS di Jawa Timur sudah dilaksanakan pemugaran mushalla sehat sebanyak 100 mushala dengan sanitasi serta sarana prasarana berwudlu yang sehat. Adapun keterlibatan Muslimat NU sebagai motivator Posyandu sampai ke tingkat desa sudah berjalan dengan baik, selain itu Muslimat NU juga sebagai pendamping (Advokasi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat khususnya anggota Muslimat).

Semoga program PHBS yang dilaksanakan dengan bekerjasama kemitraan dengan kementerian Kesehatan ini akan bisa mewujudkan Indonesia sehat di masa datang (UA).

Rabu, 19 September 2012 18:41 WIB

Upaya Pemerintah Kendalikan Dampak Merokok
Syahrial Mayus

Dilarang Merokok

Hal yang sangat butuh diperjuangkan adalah perlindungan generasi muda JAKARTA, Jaringnews.com - Landasan Pemerintah Indonesia untuk mengendalikan masalah rokok, merupakan pertimbangan pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan dalam melindungi anak terhadap dampak tembakau (rokok) serta zat adiktif yang terkandung di dalamnya. Ini sesuai dengan Undang-undang nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, melalui surat elektroniknya, Sabtu, (15/9). "Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 113 ayat 2 secara tegas menyatakan bahwa zat adiktif meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau", ujar Tjandra. Ditambahkan, pasal 67 Undang-undang perlindungan anak menyatakan perlindungan khusus terhadap bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau, dilaksanakan secara terpadu dan komprehensif melalui kegiatan pencegahan, pemulihan kesehatan fisik dan mental serta pemulihan sosial. "Dalam hal pencegahan, upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan menjauhkan anak dari akses rokok, perlindungan dari sasaran pemasaran industri rokok (dengan pelarangan iklan, promosi dan sponsor rokok), pemberian informasi yang benar tentang bahaya rokok (edukasi, peringatan

kesehatan bergambar) dan perlindungan dari terpapar asap rokok, jelas Tjandra. Lebih lanjut, Prof. Tjandra menerangkan bahwa Pemerintah telah menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai zat adiktif bagi Kesehatan. Selanjutnya, hal-hal yang diatur dalam RPP tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi Kesehatan, yaitu: Pencantuman peringatan bahaya kesehatan berupa gambar dan tulisan sebesar 40% pada masing-masing sisi depan dan belakang pada bungkus rokok; Larangan pencantuman informasi yang menyesatkan, termasuk kata light, ultralight, mild, extra mild, low tar, slim, full flavor dan sejenisnya; Penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), termasuk ketentuan bahwa tempat khusus untuk merokok di tempat kerja dan tempat umum, harus merupakan terbuka dan berhubungan langsung dengan udara luar; Larangan iklan, promosi dan sponsorship; serta pengendalian iklan produk tembakau dan iklan di media penyiaran, karena berbagai studi yang menunjukkan sasaran iklan adalah anak-anak dan remaja. Menurut data hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2011, persentase perokok aktif di Indonesia mencapai 67% (laki-laki ) dan 2.7% (perempuan) dari jumlah penduduk, terjadi kenaikan 6 tahun sebelumnya perokok laki-laki sebesar 53 %. Data yang sama juga menyebutkan bahwa 85.4% orang dewasa terpapar asap rokok ditempat umum, di rumah (78.4%) dan di tempat bekerja (51.3%). "Mereka yang merokok dirumah sama dengan mencelakakan kesehatan anak dan istri", tegas Tjandra. Dengan diterbitkannya Undang-undang 36 tahun 2009 tentang Kesehatan khusunya pasal 113 sampai pasal 116 jelas menunjukkan keseriusan pemerintah dalam upaya pengendalian dampak tembakau. "Kebijakan Kawasan Bebas Asap Rokok, telah diidentifikasi sebagai intervensi efektif di tingkat daerah dalam strategi pengendalian penyakit tidak menular (PTM). Ditergetkan dapat mencakup 497 Kabupaten/Kota yang memiliki kebijakan 100% Bebas Asap Rokok pada 2014", ujar Tjandra. Dalam upaya pengendalian tembakau, upaya advokasi perlu dirancang, diantaranya melalui pemberdayaan masyarakat dan legislasi Peraturan Daerah (PERDA). Kementerian Kesehatan pada tahun 2012 telah melakukan advokasi ke beberapa provinsi dan kabupaten/kota terkait pengembangan KTR. "Hingga saat ini sekitar 76 Kabupaten/Kota yang telah diadvokasi. beberapa diantara Kabupaten/Kota tersebut telah menyampaikan keinginannya untuk mengembangkan kebijakan terkait pengembangan KTR. Saat ini tercatat sudah sekitar 32 Kabupaten/Kota memiliki kebijakan KTR, serta 3 Provinsi DKI Jakarta, Bali, dan Sumatera Barat", kata Tjandra. "Hal yang sangat butuh diperjuangkan adalah perlindungan generasi muda dari gencarnya iklan, promosi dan sponsor rokok yang sangat mempengaruhi keiinginan generasi muda untuk mulai merokok", tandas Tjandra.

Lomba Bebas Jentik Tingkat RW
Pontianak – Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan dan Promosi Kesehatan (PLPK) Dinkes Kota Pontianak Trisnawati terus memerangi penyebaran nyamuk demam berdarah (DBD) di Kota Pontianak. Berbagai langkah kreatif dilakukan, termasuk menggelar lomba bebas jentik mulai dari tingkat rukun warga (RW). “Lomba RW bebas jentik nyamuk se-Kota Pontianak ini sudah diselenggarakan mulai 15 Juni hingga 13 Juli 2012 lalu, dan ini sudah dilaksanakan oleh seksi Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) Bidang PLPK Dinkes Kota Pontianak,” ungkapnya pada wartawan, Senin (24/9) di Hotel Orchardz Menurutnya untuk lomba bebas jentik ini sudah disosialisasikan pada RT masing-masing kelurahan, untuk mencalonkan diri sebagai koordinator wilayah untuk bebas jentik. “Dalam lomba ini yang dipilih adalah RW yang diyakini memiliki angka bebas jentik yang terbaik, kemudian diproses dan dilaporkan ke puskesmas,” terangnya. Jadi, kata Trisnawati, ada 6 kandidat yang dicalonkan tapi yang menang hanya tiga yakni RW 20, RW 10, dan RW 13. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menekan angka kejadian DBD. “Sebenarnya DBD itu bisa dicegah salah satunya dengan mengajak masyarakat untuk tetap melakukan Menguras, Mengubur, Menutup, dan Pembasmi jentik dengan bubuk abate (3M plus P) yang dilakukan setiap Jumat,” ujarnya. Sekarang ini petugas puskesmas turun ke lapangan, membantu kader-kader yang sudah diajak kerja sama turun ke lapangan dalam memberikan bubuk abate ke rumah-rumah warga. Tapi tidak semua rumah dikasih abate, kalau tidak ada jentik tidak perlu dikasih abate, selain itu ada juga jenis hewan ketam air yang bisa memakan jentik. “Berdasarkan data yang ada di Dinkes Kota Pontianak sampai sekarang minggu ke-40 kasus DBD tidak bertambah, dan kondisi Pontianak sekarang masih aman dari DBD,” cetusnya. Sementara itu Ketua RW 20 Kelurahan Sungai Jawi Dalam Sihana, bersyukur sekali bisa memenangkan lomba ini dan dia tidak membayangkan kelurahannya bisa mendapatkan juara I se-Kota Pontianak. “Salah satu upaya yang dilakukan untuk memenangkan lomba ini saya harus cerewet, kalau ndak cerewet tidak bisa jalan untuk memberantas jentik-jentik nyamuk,” kata Sihana. Yang memenangkan lomba bebas jentik ini yakni RW 20 Kelurahan Sungai Jawi Dalam, RW 10 Kelurahan Siantan Hulu, dan RW 13 Sungai Bangkong. Lebih lanjut dia mengatakan untuk mensosialisasikan masalah bebas jentik nyamuk dilakukan pada saat arisan RW. Ke depannya Sihana berencana membuat terobosan baru. Agar bisa mempertahankan gelar juara yang sudah diraih, dengan melakukan gotong royong setiap bulannya. Selain itu akan memberdayakan ibu-ibu posyandu untuk membentuk pemandu jentik. “Apabila di rumah masyarakat ditemukan jentik-jentik nyamuk akan didenda 1 jentik 1.000,” pungkasnya. (dna)

Minggu, 23 September 2012 | 19:31:15 WITA | 257 HITS

KOMUNITAS GANAS SMAN 2 MAKASSAR
Tekan Narkoba Lewat Penyuluhan

KOMPAK. Inilah siswasiswi SMAN 2 Makassar yang tergabung dalam Komunitas Ganas. Mereka peduli berantas narkoba.

SAMPAI saat ini penggunaan narkoba hampir tak bisa dicegah utamanya di kalangan remaja. Upaya untuk menghentikannya pun sudah sering dilakukan namun sedikit kemungkinan untuk menghindarkan para remaja dari bahaya narkoba. Hal inilah yang mendasari hadirnya Komunitas Ganas yang merupakan program dari pemerintah kota Makassar di berbagai sekolah, salah satunya Komunitas Ganas di SMAN 2 Makassar.

Komunitas yang terbentuk sejak 9 september 2009 ini beranggotakan 190 siswa-siswi kelas XXII di sekolah ini. Ganas singkatan dari (Gerakan Anti Narkoba dan HIV/AIDSdi sekolah) yang bertujuan untuk memberikan penyuluhan kepada siswa tentang Narkoba.

"Komunitas ini sebenarnya bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang narkoba sekaligus memproteksi adanya narkoba di lingkungan sekolah. Diharapkan para anggotanya dapat menjadi contoh atau teladan bagi siswa-siswi lainnya untuk sadar akan bahaya narkoba, "ungkap Drs H kasmuin MPd selaku pembina komunitas ini.

Adapun kegiatan-kegiatan Komunitas Ganas dalam mencegah penyalahgunaan narkoba antara lain memberikan pelatihan untuk anggota baru. Kegiatan ini bertujuan agar mereka bisa memberikan penyuluhan di acara yang di laksanakan dalam komunitas.

Selain itu acara yang berskala besar pernah mereka lakukan diantaranya, Bimtek (bimbingan teknik) pelatihan dari BNN (Badan Narkotika Nasional) dan seminar untuk siswa SMP dan SMA.

Sebenarnya komunitas ini tidak jauh beda dengan organisasi pada umumnya. Komunitas ini mempunyai empat divisi yakni, Divisi penyuluhan, Karikatur, Artikel dan Publikasi. Untuk mereka yang tergabung dalam divisi penyuluhan, mereka harus mempersiapkan materi-materi tentang narkoba yang akan dibawakan pada setiap acara penyuluhan.

Divisi artikel menginput tulisan-tulisan tentang narkoba di blog mereka. Divisi karikatur bertugas membuat karikatur-karikatur yang lucu dan pastinya menyinggung soal narkoba, dan divisi publikasi bertugas mengupdate info terbaru soal acara-acara yang diadakan oleh komunitas ini melalui jejaring sosial, seperti twitter dan blog.

For Your Information (FYI) nih guys , walaupun masih sangat muda, komunitas ini sudah berhasil mengukir prestasi. Prestasi-prestasi yang pernah mereka raih antara lain Juara 2 Lomba Karikatur Tingkat Nasional Tahun 2010 dan Juara 1 Lomba Penyuluhan Bimtek Tingkat Nasional Tahun 2010.

Ditanya soal harapan, sang pembina mengungkapkan bahwa dia berharap agar komunitas yang dibinanya dapat membantu merealisasikan harapan-harapan masyarakat pada umumnya yaitu untuk membantu menekan jumlah pengguna narkoba.

"Saya berharap dengan adanya Ganas, angka pengguna narkoba bisa ditekan. Selain itu, perhatian dari pemerintah juga sangat dibutuhkan untuk mendukung peningkatan kegiatankegiatan yang diadakan oleh Ganas," jelasnya kepada KeKeR beberapa waktu lalu.

Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan oleh sang Ketua Ganas, Andini Dwi putri. Dia berharap agar komunitasnya dapat terus memberikan pengaruh positif kepada para remaja yang notabene mudah terpengaruh dan terperangkap ke dalam hal-hal negatif seperti penyalahgunaan narkoba.

"Saya sangat berharap agar jumlah pengguna narkoba khususnya remaja bisa diminimalkan atau bahkan bisa diberantas. Selain itu, kami sebagai generasi muda sangat berharap bisa berbagi pengetahuan ke teman-teman yang lainnya soal bahaya penyalahgunaan narkoba," tutupnya. (nursan tunnisa - dian kurniasih)

Masuk Sistem BPJS DJSN Pastikan Layanan Kesehatan Masyarakat Sama

ilustrasi Oleh: Dahlia Krisnamurti
INILAH.COM, Jakarta - Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) memastikan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang beroperasi pada Januari 2014 tidak akan melakukan perbedaan terhadap pelayanan jasa kesehatan. Masyarakat yang dirawat inap di kelas 1, kelas 2, atau kelas 3 akan mendapatkan pelayanan jasa kesehatannya sama. HKetua DJSN Chazali Situmorang, dalam acara temu media mingguan di Jakarta, Jumat (5/10). "Harga obatnya sama, harga jasa dokter juga sama. Yang membedakan hanya harga kamar kelasnya saja. Jika sebelumnya masyarakat yang dirawat di kelas 1, misalnya, maka harga obat dan jasa dokter dihitung berdasarkan kelas 1," jelas Chazali. Pihaknya juga memastikan sebanyak 96,7 juta orang miskin tercover dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Atau menyasar 25,2 juta KK Rumah Tangga Miskin (RTM). Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang 'by name by addres' ini berdasarkan Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2011. "PBI ini berlalu untuk tahun, yaitu 2014 sampai 2015. Nanti PBI pada dua tahun berikutnya menggunakan PPLS tahun 2014," katanya. Angka 96,7 juta ini terbagi tiga, yaitu kelompok rentan miskin yang berjumlah 60 juta jiwa, kelompok miskin yang mencapai 29 juta jiwa, dan sangat miskin sebanyak 7,7 juta jiwa.

Pemerintah menaruh perhatian besar kepada kelompok rentan miskin karena sesuatu hal bisa saja kelompok ini menjadi miskin dan sangat miskin. "Namun kelompok dalam PBI ini bisa berubah-ubah. Bisa saja yang tadinya miskin, jadi tidak miskin, atau yang semula tidak miskin, menjadi miskin," ujarnya seraya menambahkan updating data kelompok dalam PBI akan dilakukan enam bulan sekali. Chazali juga memastikan, jumlah PBI ini tepat sasaran karena berdasarkan e-KTP yang memiliki single ID number atau NIK. Jika ID tak sesuai, makan orang tersebut tidak berhak atas PBI. Seperti halnya ketika menggunakan kartu ATM, jika nomor ID yang dimasukkan tidak sama, maka kartu ATM akan ditolak oleh mesin. "Jadi bisa diketahui mana peserta BPJS yang preminya menjadi tanggungan pemerintah, mana yang tidak. Karenanya, sejumlah fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, klinik, dan puskesmas harus memiliki IT yang aksesnya terkonek dengan e-KTP," lanjutnya. Ia menambahkan, nantinya ketika BPJS Kesehatan mulai beroperasi, maka tidak ada lagi data orang miskin daerah seperti Jamkesda. Karenanya, tidak ada lagi alasan pemda menggunakan APBD untuk anggaran kesehatan warga miskin. "BPJS ini semuanya APBN, bukan APBD," tandasnya. Dana Jamkesda yang sudah dianggarkan pemda nantinya digunakan saja untuk peningkatan mutu dan pelayanan kesehatan yang sudah ada atau membangun sarana kesehatan dengan menggandeng pihak swasta. Bisa juga untuk membangun SDM di bidang kesehatan. [mor]

Stop Nyampah di Kali Ciliwung!

JAGAKARSA (Pos Kota) – Program “Stop nyampah di Kali Ciliwung” harus terus dilakukan secara berkesinambungan seluruh komponen masyarakat harus dilibatkan sehingga keberadaan air di kali tersebut tetap terjaga dan tak lagi menimbulkan banjir di masa mendatang. Sekitar 12 titik dari 108 titik tempat pembuangan sampah sementara (TPS) liar yang ada sudah ditutup. “Peranan seluruh masyarakat dalam pelaksanaan dan program stop nyampah di kali ini harus betul-betul dilaksanakan dan jangan hanya serimonial saja,” ujar Gubernur KDKI Jakarta Fauzi Bowo didampingi Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta M. Tauchid dan Wakil Walikota Jaksel Syamsudin Noor, Senin (1/10). Yang jelas jangan hanya retorika tapi pelaksanaan di lapangan dan aksi mengembalikan fungsi Ciliwung sebagai salah satu icon ibukota Jakarta termasuk dalam penangganan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seluruh warga, katanya. “Walaupun baru 12 titik dari 108 titik TPS yang selama ini ada di pinggir Kali Ciliwung yang ditutup tapi secara perlahan dan harus dilakukan dimasa mendatang adalah menutup semua TPS tersebut,” tuturnya yang mengaku termasuk masalah penangganan PHBS di masyarakat yang baru terlaksana di 700 RW dari jumlah total 2.702 RW.

Gubernur KDKI Jakarta Fauzi Bowo bersama Wakil Kepala Dinas Kebersihasan DKI Jakarta Unu Nurdin dan Kasudin Kebersihan Jaksel Zainuri serta staf kebersihan . (anton) Salah satu titik yang sudah ditutup antara lain terletak di Komplek Kopasus RW 08 Cijantung, Jaktim dan 3 titik di RW 09 Lenteng Agung, Jaksel. Kedua RW tersebut saat ini sudah menerapkan pengelolaan sampah secara terpadu. TPS PENGGANTI Sementara itu, Kepala BPLHD M. Tauchid, mengatakan kendala dalam melakukan penutupan TPS liar yang ada di pinggir Kali Ciliwung adalah ketersediaan lahan penganti untuk pembuangan sampha sementara warga setempat. “Kalaupun ada lahan kosong tentunya akan mendapatkan penolakan warga sekitar berkaitan dengan bau tak sedap dan takut menjadi sarang penyakit,” tuturnya. Kesulitan dan kendala tersebut, tambah dia, tak membuat jajaran Pemda DKI Jakarta mundur tapi terus mencari solusi dalam menanggani sampah buangan warga dengan cara membuat pool geroabak sampah dan langsung diangkut saat jam-jam tertentu agar tak bertumpuk. “Bahkan pihaknya akan membentuk satgas di setiap RW yang ada untuk menegur warga yang ketahuan membuang sampah sembarangan dan mensosialisasikan masalah tersebut,” tuturnya. (anton/dms)

POLITIK - LEGISLATIF Senin, 01 Oktober 2012 , 18:33:00

Tidak Kompak, BPJS Terancam Gagal
JAKARTA--Anggota Panitia Kerja (Panja) Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Komisi IX DPR RI menyoroti tidak kompaknya instansi terkait dalam memahami Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS).

Ini terlihat dari perbedaan visi baik dari pemerintah (Kementerian Kesehatan), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA), dan Asosiasi Rumah Sakit Swasta Seluruh Indonesia (ARSSI). "Ini stakeholder kesehatan tidak paham tentang BPJS. Visi misinya juga sudah sangat berbeda. Kalau begini terus, bagaimana bisa jalan BPJS-nya," kritik Surya Chandra, anggota Panja Jamkesmas Komisi IX DPR RI, Senin (1/10). Politisi PDIP ini menyatakan, BPJS terancam gagal bila para stakeholder kesehatan hanya memikirkan diri sendiri. Sementara pemberlakuan BPJS tidak sampai dua tahun lagi. "Bisa-bisa gagal kalau begini. Yang harus disamakan persepsinya, ketika BPJS diberlakukan per 1 Januari 2014, seluruh masyarakat berhak mendapatkan layanan kesehatan gratis, entah dia miskin atau kaya," tegasnya. Masalah iuran, lanjut Surya, menggunakan sistem nirlaba. Artinya, yang berpenghasilan rendah membayaran iuran kecil, sebaliknya berpenghasilan tinggi iurannya besar. Sedangkan fakir miskin menjadi tanggung jawab pemerintah. "Sampai kapan pun besaran iuran tidak akan sama. Ini kok pemerintah, ARSADA, dan ARSSI malah kasih tarif macam-macam. Yang bener ini hanya IDI, dia kasi hitungan tarif yang masuk logika. Kemenkes harusnya contohi IDI," cetusnya.

Kritikan sama diungkapkan Ketua Panja Jamkesmas Supriatno. Katanya, pemerintah harusnya mengundang IDI, ARSADA, dan ARSSI duduk bersama membahas masalah persiapan pelaksanaan BPJS. "Bukannya langsung mutusin apa-apa. Iya kalau putusannya disetujui stakeholder lainnya, kalau tidak kan repot jadinya. Jadi sebelum kami memanggil Menkeu dan Mensos, samakan dulu persepsi stakeholder kesehatan tentang BPJS," tandasnya. (Esy/jpnn)

Kamis, 27 September 2012

Gencarkan PHBS, Dilakukan di 5 SD/MI
Saat Puskesmas Palaran Gelar Healthy Student

Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) ditentukan dua faktor yang saling berhubungan yakni pendidikan dan kesehatan. Kedua faktor itu harus saling mendukung demi tercapainya tujuan.

Kesehatan merupakan syarat utama agar upaya pendidikan berhasil. Sebaliknya pendidikan yang

diperoleh akan mendukung tercapainya peningkatan status kesehatan seseorang. Sehingga program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) menjadi sangat penting dan strategis untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Maklum, anak usia sekolah merupakan generasi penerus yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Jumlah usia sekolah yang cukup besar yaitu 30 persen dari jumlah penduduk Indonesia, merupakan masa keemasan untuk menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sehingga anak sekolah berpotensi sebagai agen perubahan untuk mempromosikan PHBS, baik di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Dalam rangka peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Puskesmas Palaran selalu menggelar Healthy Students. Kegiatan yang rutin diadakan setiap tahunnya itu, dilakukan di lima SD/MI secara bergilir. PHBS di sekolah memiliki pengertian, kebiasaan atau perilaku positif yang dilakukan setiap siswa, guru, penjaga sekolah, petugas kantin sekolah, orang tua siswa dan lain-lain, dengan kesadaran mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya serta aktif dalam menjaga lingkungan sehat di sekolah. Ada delapan upaya PHBS di sekolah. Yakni mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun, jajan di kantin sekolah yang sehat, membuang sampah pada tempatnya, mengikuti kegiatan olah raga di sekolah dengan terukur dan teratur, mengukur berat badan dan tinggi badan secara teratur setiap 6 bulan, bebaskan diri dari asap rokok, memberantas jentik nyamuk, buang air kecil dan buang air besar di jamban sekolah. "Kegiatan ini biasanya berupa penyuluhan kesehatan gigi dan praktek sikat gigi pada siswa kelas 2, penyuluhan cuci tangan dan praktek cuci tangan pada siswa kelas 3, penyuluhan DBD pada siswa kelas 4 dan penyuluhan diare pada siswa kelas 5," jelas Kepala Puskesmas Palaran, Veronika Hinum. Sedangkan pengisi Healthy Students adalah perawat gigi, pemegang program DBD, pemegang program konseling dan pemegang program Promosi Kesehatan (Promkes). "Kegiatan ini diharapkan dapat mengubah perilaku pelajar untuk bisa meningkatkan kebersihan perseorangan serta membiasakan ber-PHBS sejak dini. Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa untuk melaksanakan PHBS di sekolah," tambahnya. Ditambahkan Veronika, dengan menerapkan PHBS, peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah, maka akan membentuk mereka untuk memiliki kemampuan dan kemandirian dalam mencegah penyakit. Jugta meningkatkan kesehatannya serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sekolah sehat. (*/rm-4/adv/ica)

Home » Nasional

Rabu, 26 September 2012 | 22:14:23 WITA | 154 HITS

Siswa Bisa Jadi Agen Kesehatan

IDRIS/FMC APRESIASI. Menkes, Nafsiah Mboi (kanan) menyerahkan penghargaan kepada para petugas puskesmas berprestasi atas peningkatan program UKS, di Jakarta, Selasa, 25 September.

JAKARTA, FAJAR -- Menteri Kesehatan (Menkes), Nafsiah Mboi, mengapresiasi program kegiatan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang sampai sekarang masih tetap eksis. Dengan memberi apresiasi berupa penghargaan, Menkes mengimbau kepada perwakilan sekolah dan puskesmas yang berhasil lolos ke babak nominasi program UKS, agar kiranya para siswa-siswa yang terjun di kegiatan ini dapat menjadi agen kesehatan bagi lingkungannya. "Jumlah puskesmas kita saat ini 9.419. Bayangkan bila kesemua puskesmas tersebut dapat berperan aktif dalam peningkatan kesehatan masyarakat sekitarnya, maka dipastikan Indonesia akan bersih dari penyakit," ucap Nafsiah, Selasa, 25 September, di Jakarta. Nafsiah juga mengharapkan peran serta petugas puskesmas dalam membina para anak-anak sekolah di program UKS. Sebab, dalam undang-undang perlindungan anak, dimuat hak-hak anak yang salah satunya mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan. (idr/yun)

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->