Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN DIFUSI OSMOSIS DAN PENYERAPAN ZAT

Oleh: Kelompok V

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2012

HALAMAN PENGESAHAN PRAKTIKUM DIFUSI OSMOSIS DAN PENYERAPAN ZAT

Oleh: Kelompok V

Yogyakarta, 19 September 2012

Anggota: Nama Mega Cahaya Lintang Timur Uslifatul Jannah Ramsi Widya Pujiarti Aris Satriyo Nugroho NIM 11308141005 11308141014 11308141022 11308141031 Tanda Tangan

Diserahkan pada tanggal 25 September 2012, jam 13.00 WIB

Mengetahui: Dosen Pembimbing / Asisten Praktikum

(.............................................................)

DIFUSI OSMOSIS DAN PENYERAPAN ZAT Kegiatan 1 DAPATKAH AIR BER-OSMOSIS MENEMBUS MEMBRAN SEL JARINGAN TUMBUHAN

I.

Tujuan Praktikum Setelah melakukan percobaan dapat: 1. 2. 3. 4. Menemukan fakta mengenai gejala difusi-osmosis. Mengamati efek konsentrasi larutan terhadap kecepatan difusi. Menunjukkan arah gerakan air pada peristiwa difusi-osmosis. Mendeskripsikan pengertian difusi dan osmosis.

II.

Kajian Pustaka Air merupakan komponen utama dalam tumbuhan, dimana air menyusun 60-90% dari berat daun. Jumlah air yang dikandung tiap tanaman berbeda-beda, hal ini bergantung pada habitat dan jenis spesies tumbuhan tersebut. Tumbuhan herba lebih banyak mengandung air daripada tumbuhan perdu. Tumbuhan yang berdaun tebal mempunyai kadar air antara 85-90 %, tumbuhan hidrofik 85-98 % dan tumbuhan mesofil mempunyai kadar air antara 100-300 %. Pentingnya air sebagai pelarut dalam organisme hidup tampak amat jelas, misalnya pada proses osmosis. Dalam suatu daun, volume sel dibatasi oleh dinding sel dan relative hanya sedikit aliran air yang dapat

diakomodasikan oleh elastisitas dinding sel. Konsekuensi tekanan hidrostatis (tekanan turgor) berkembang dalam vakuola menekan sitoplasma melawan permukaan dalam dinding sel dan meningkatkan potensial air vakuola. Dengan naiknya tekanan turgor, sel-sel yang berdekatan saling menekan, dengan hasil bahwa sehelai daun yang mulanya dalam keadaan layu menjadi bertambah segar (turgid). Pada keadaan seimbang, tekanan turgor menjadi atau mempunyai nilai maksimum dan disini air tidak cenderung mengalir dari apoplast ke vakuola Pada berlangsungnya proses fotosintesis, terjadi berbagai

proses yang sangat komplek, mulai dari pengambilan air dan mineral tanah, penangkapan cahaya matahari, penyerapan gas-gas, sintesis glukosa dan energi, hingga pengedaran hasil fotosintesis. Tumbuhan mengambil air dan mineral tanah dalam bentuk terlarut dalam air tanah, untuk menyerapnya, zatzat tersebut harus menembus dinding selektif permeabel. Dinding sel tebal namun banyak terdapat pori-pori atau ruang-ruang dan mudah dilalui larutan tanah dan gas-gas, sehingga tidak menimbulkan masalah untuk penyerapan. Sebaliknya, membran sel yang lipo-protein, hanya memiliki pori yang lembut dan bermuatan, sehingga tidak setiap zat dengan mudah melewatinya. Permeabilitas membran terhadap ion-ion adalah paling rendah. Dengan kata lain, ion-ion sulit menembus membran, maka penyerapannya pun paling sulit. Terkait dengan penyerapan zat ini,

1.

Difusi Difusi adalah peristiwa mengalirnya atau berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah karena energi kinetiknya sendiri sampai terjadi keseimbangan dinamis. Contoh yang sederhana adalah pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi manis. Contoh lain adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara.Difusi yang paling sering terjadi adalah difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer) molekul yang diam dari solid atau fluida. Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga

mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion),difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated difusion). Difusi melalui membrane berlangsung karena molekul -molekul yang berpindah atau bergerak melalui membran bersifat larut dalam lemak (lipid) sehingga dapat menembus lipid bilayer pada membran secara langsung. Membran sel permeabel terhadap molekul larut lemak seperti hormon steroid, vitamin A, D, E, dan K serta bahan-bahan organik yang larut dalam lemak, Selain itu, membran sel juga sangat permeabel terhadap molekul anorganik seperti O,CO2, HO, dan H2O.

Beberapa molekul kecil khusus yang terlarut dalam serta ion-ion tertentu, dapat menembus membran melalui saluran atau chanel. Saluran ini terbentuk dari protein transmembran, semacam pori dengan diameter tertentu yang memungkinkan molekul dengan diameter lebih kecil dari diameter pori tersebut dapat melaluinya. Sementara itu, molekul molekul berukuran besar seperti asam amino, glukosa, dan beberapa garamgaram mineral , tidak dapat menembus membrane secara langsung, tetapi memerlukan protein pembawa atau transporter untuk dapat menembus membrane. Proses masuknya molekul besar yang melibatkan transforter dinamakan difusi difasilitasi, yaitu pelaluan zat melalui rnembran plasrna yang melibatkan protein pembawa atau protein transforter. Protein transporter tergolong protein transmembran yang memliki tempat perlekatan terhadap ion atau molekul vang akan ditransfer ke dalam sel. Setiap molekul atau ion memiliki protein transforter yang khusus, misalnya untuk pelaluan suatu molekul glukosa diperlukan protein transforter yang khusus untuk mentransfer glukosa ke dalam sel. 2. Osmosis Osmosis adalah proses perpindahan atau pergerakan molekul zat pelarut, dari larutan yang konsentrasi zat pelarutnya tinggi menuju larutan yang konsentrasi zat pelarutya rendah melalui selaput atau membran selektif permeabel atau semi permeabel. Jika di dalam suatu bejana yang dipisahkan oleh selaput semipermiabel, jika dalam suatu bejana yang dipisahkan oleh selaput semipermiabel ditempatkan dua Iarutan glukosa yang terdiri atas air sebagai pelarut dan glukosa sebagai zat terlarut dengan konsentrasi yang berbeda dan dipisahkan oleh selaput selektif permeabel, maka air dari larutan yang

berkonsentrasi rendah akan bergerak atau berpindah menuju larutan glukosa yang konsentrainya tinggi melalui selaput permeabel. Jadi, pergerakan air berlangsung dari larutan yang konsentrasi airnya tinggi menuju kelarutan yang konsentrasi airnya rendah melalui selaput selektif permiabel. Larutan vang konsentrasi zat terlarutnya lebih tinggi

dibandingkan dengan larutan di dalam sel dikatakan .sebagai larutan hipertonis. sedangkan larutan yang konsentrasinya sama dengan larutan di dalam sel disebut larutan isotonis. Jika larutan yang terdapat di luar sel, konsentrasi zat terlarutnya lebih rendah daripada di dalam sel dikatakan sebagai larutan hipotonis Dua faktor penting yang mempengaruhi osmosis adalah: a. b. Kadar air dan materi terlarut yang ada di dalam sel. Kadar air dan materi terlarut yang ada di luar sel. Contoh: 1. Masuk dan naiknya air mineral dalam tubuh pepohonan merupakan proses osmosis. Air dalam tanah memiliki kandungan solvent lebih besar (hypotonic) dibanding dalam pembuluh, sehingga air masuk menuju xylem/sel tanaman. 2. Jika sel tanaman diletakkan dalam kondisi hypertonic (solut tinggi atau solvent rendah), maka sel akan menyusut (ter-plasmolisis) karena cairan sel keluar menuju larutan hypertonic. 3. Air laut adalah hypertonic bagi sel tubuh manusia, sehingga minum air laut justru menyebabkan dehidrasi. 4. Kentang yang dimasukkan ke dalam air garam akan mengalami penyusutan.

III.

Metode praktikum a. Tempat dan Waktu Praktikum Tempat praktikum Waktu praktikum : Laboratorium Biokimia : Selasa, 18 September 2012

b.

Alat dan Bahan Alat : 1) 2) 3) 4) Pelubang gabus Cawan petri Pisau tajam Pipa berskala kaca 5) 6) 7) Tissue Karet penyumbat Penggaris

Bahan : 1) 2) Kentang Larutan gula sukrosa ( 0%, 25%, 50%, dan 100% )

c.

Prosedur Memotong tepi salah satu bagian hingga permukaan rata.

Membuat dua sumuran dengan kedalaman 2 cm dengan menggunakan pelubang gabus


Memasukkan 1 ml larutan gula sukrosa 50% pada sumuran 1 Menutup lubang sumuran 1 dengan karet penyumbat yang telah diberi pipa kaca berskala Memasukkan 1 ml larutan gula 0% pada sumuran 2

Mengamati perbedaan tingi larutan tiap 5 menit selama 3 kali Setelah selesai, mengganti larutan gula pada sumuran ke-2 dengan 1 ml larutan gula 25% dan 100% secara bergantian

IV.

Hasil dan Pembahasan a. Hasil Variabel kontrol : larutan sukrosa 50%

Percobaan Konsentrasi I II III Keterangan: = Naik = Tetap = Turun 0% 25% 100%

Tinggi Awal 4,8 cm 6 cm 6,3 cm

Pertambahan Panjang setelah 5 menit 0,7 cm 1 cm 0,2 cm 10 menit 0,5 cm 0 0,4 cm 15 menit 0,5 cm 0,2 cm 0,3 cm

b.

Pembahasan Pada praktikum kali ini tentang Dapatkah air ber-osmosis menembus sel jaringan tumbuhan? dilakukan secara bertahap dan memerlukan waktu yang cukup lama. Masing-masing percobaan

memerlukan waktu kurang lebih selama 15 menit ditambah dengan pembuatan sumuran pada kentang. Sehingga dibutuhkan 2 buah kentang untuk efisiensi waktu. Pada semua percobaan, kita mengisinya dengan larutan sukrosa 50% sebagai variable kontrolnya pada salah satu sumuran. Sumuran tersebut tidak sampai tembus pada bagian dasarnya, karena bagian dasar inilah yang berperan sebagai membran dalam percobaan ini. Kemudian ditutup dengan karet penyumbat yang ada pipa kaca berskala yang nantinya bisa juga di sebut sebagai osmometer. Pada percobaan 1, setelah salah satu sumuran diberi larutan sukrosa 50%, salah satu sumuran lagi diberi larutan 0% sebagai pembanding yang nantinya akan menunjukkan apakah peristiwa yang terjadi pada membrane kentang merupakan peristiwa difusi atau osmosis. Setelah 5 menit dapat diketahui tinggi larutan sukrosa pada pipa kaca berskala yang awalnya memiliki tinggi 4,8 cm, kemudian mengalami penambahan tinggi sebesar 0,7 cm. Pegukuran dilakukan dengan menggunakan penggaris karena skala pada pipa kaca kurang jelas. Kemudian setelah 10 menit tingginya mengalami penambahan lagi yaitu sebesar 0,5 cm. Setelah 15 menit tingginya juga mengalami penambahan sebesar 0.5 cm. Sehingga tinggi akhirnya menjadi 6,5 cm.

Berdasarkan hal tersebut penambahan tinggi pada pipa berskala melalui membrane kentang merupakan peristiwa osmosis karena terjadi perpindahan air dari daerah dengan potensial air tinggi ke daerah potensial air rendah. Potensial air ini dapat ditunjukkan dengan kadar kepekatan larutan sukrosa. Larutan sukrosa dengan kadar 50% memiliki kadar gula yang lebih tinggi atau dengan kata lain memiliki potensial air yang rendah. Sedangkan larutan sukrosa 0% memiliki kadar gula yang rendah, dengan kata lain memiliki potensial air yang tinggi. Sehingga air akan mengalir melalui membrane semi permeable yang dalam percobaan kali ini adalah kentang, dari daerah dengan potensial air tinggi (larutan sukrosa 0%) ke daerah dengan potensial air rendah (larutan sukrosa 0%). Pada percobaan kedua, larutan sukrosa 50% yang merupakan vaeriabel control tetap dimasukkan dalam salah satu sumuran yang diberi pipa kaca berskala. Kemudian salah satu sumuran diberi atau diisi dengan larutan sukrosa 25%. Tinggi awal larutan sukrosa 50% pada pipa kaca berskala adalah 6 cm. Setelah 5 menit, tinggi larutan bertambah 1 cm, setalah 10 menit tinggi air pada pipa berskala tidak mengalami perubahan. Sedangkan setelah 15 menit tingginya kembali mengalami perubahan sebanyak 0,2 cm. Dengan demikian pada percobaan yang kedua ini juga merupakan peristiwa osmosis. Seperti pada percobaan pertama, air mengalir melalui membrane semi permeable dari potensial air tinggi ( larutan sukrosa 25%) ke darerah dengan potensial air rendah ( larutan sukrosa 50% ). Hal ini dikarenakan larutan sukrosa 25% memiliki tingkat keenceran yang lebih rendah, sehingga potensial airnya lebih tinggi dibandingkan dengan larutan sukrosa 50%. Pada percobaan ketiga, setelah sumuran pertama diisi larutan sukrosa 50% dan diberi karet sumbat dengan pipa berskala, kemudian sumuran kedua diisi larutan sukrosa 100%. Setelah 5 menit, dari tinggi larutan sukrosa 50% mengalami penambahan tinggi sebesar 0,2 cm. Setelah 10 menit larutan mengalami penambahan tinggi sebesar 0,4 cm. Dan setelah 15 menit, air bertambah lagi sebesar 0,3 cm. Seharusnya tinggi larutan sukrosa 50% pada pipa berskala menunjukkan penurunan,

karena larutan sukrosa 100% memiliki potensial air yang lebih tinggi daripada larutan sukrosa 50%. Kesalahan pada percobaan ini dapat dikarenakan karena sumuran yang diberi sumbat dengan pipa kaca berskala bocor. Padahal seharusnya sumuran ditutup rapat dengan sumbat. Kebocoran dapat disebabkan sumuran terlalu besar. Pada percobaan kegiatan 1 ini terjadi perbedaan kecepatan masuknya air ke dalam sumuran yang berisi larutan gula dengan konsentrasi yang berbeda karena konsentrasi larutan gula yang ada di dalam sel (kentang) akan mempengaruhi aliran pelarut (air) dari larutan yang hipotonis (konsentrasi pelarut atau airnya tinggi) yang masuk ke dalam larutan hipertonis (konsentrasi pelarut atauairnya rendah). Semakin besar konsentrasi larutan gula yang berada di dalam sel (kentang), maka akan semakin cepat pula aliran masuknya air (pelarut) ke dalam lubang yang berisi larutan gula.

V.

Kesimpulan dan Saran a. Kesimpulan Pada percobaan kegiatan 1, merupakan peristiwa osmosis, yaitu perpindahan air dari daerah dengan potensial air tinggi menuju daerah dengan potensial air rendah melalui membrane semi permeable.

b.

Saran Pada percobaan tentang Dapatkah air ber-osmosis menembus sel jaringan tumbuhan?, seharusnya kentang yang diberikan lebih dari 2, mungkin 3. Dua kentang digunakan untuk melakukan kegiatan 1, dan yang satu lagi digunakan untuk melakukan praktikum kegiatan 2. Selain itu, gelas ukur yang disediakan untuk menganbil larutan sukrosa juga kurang, sehingga harus mengantri dan menambah waktu.

VI.

Diskusi 1. Apakah potensial air 1 mol larutan garam ( NaCl ) sama dengan 1 mol larutan Glukosa ?

Jawab : Tidak, karena tekanan osmosis mempunyai persamaan yaitu =

n.M.R.T. Sehingga besarnya tekanan osmosisnya NaCl tidak sama dengan larutan glukosa. Nilai n antara NaCl dan glukosa itu berbeda, tergantung dari banyaknya ion yangterdapat pada senyawa tersebut. Larutan NaCl mempunyai jumlah ion (n) sebanyak 2, sedangkan larutan gula tidak memiliki ion (n). Sehingga tekanan osmosis larutan garam (NaCl) lebih besar daripada larutan glukosa. Hal ini menyebabkan potensial air di antara kedua larutan berbeda. 2. Apakah laju difusi air dari jaringan kentang dipengaruhi oleh jenis larutan perendamnya ? Jawab : Iya, karena jenis larutan perendam akan mempunyai viskositas atau tingkat kekentalan zat yang berbeda. Hal ini akan mempengaruhi kecepatan difusi-osmosis. Jenis larutan tersebut akan menentukan apakah larutan yang mengalir kental ataukah encer. 3. Apa yang akan terjadi bila jaringan kentang ditempatkan pada larutan dengan potensial osmotiknya lebih rendah dari potensial osmotic cairan jaringannya ? Jawab : Larutan yang berada di dalam kentang akan berkurang ( akan mengalami dehidras ), karena air (pelarut) yang berada di dalam kentang akan mengalir keluar menuju ke potensial larutannya lebih rendah. Hal ini jika berlangsung terus-menerus akan menimbulkan pelarut atau air dari larutan yang berada di dalam kentang lama-kelamaan akan habis.

VII.

Daftar Pustaka Girindra, Aisyah. 1986. Biokomia 1. Jakarta : Gramedia. Harbon, J. B. 1987. Metode Fitokimia, Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan Terbitan Kedua. Bandung : ITB. Salisbury, F.B., Cleon W.R. 1995. Fisiologi Tumbuhan, jilid 1. Bandung : ITB http://kireidwi.blog.friendster.com/2008/09/mekanisme-difusi-dan-osmosisdalam-sel. Diambil pada Sabtu, 22 September 2012 jam 16 : 35

Kegiatan 2 MENGUKUR POTENSIAL OSMOTIK DAN POTENSIAL AIR JARINGAN

I.

Tujuan Praktikum Mengetahui nilai potensial air pada umbi kentang.

II.

Kajian Pustaka Perubahan energi bebas setelah ada tambahan suatu besaran (khususnya gram bobot molekul) disebut potensial kimia, yang merupakan energi bebas per mol bahan. Potensial kimia tidak tergantung pada banyaknya bahan. Sedangkan potensial air merupakan potensial kimia dalam suatu system atau bagian system, dinyatakan dalam suatu tekanan dan

dibandingkan dengan potensial kimia air murni, pada tekanan atmosfer dan suhu serta ketinggian yang sama, dan potensial kimia air murni ditentukan sama dengan nol. Potensial air biasa dilambangkan dengan huruf Yunani () atau dibaca psi. Jika potensial air lebih tinggi di satu bagian dari system dan tidak ada penghalang permeable yang menghalangi difusi air, maka air akan bergerak dari daerah yang berpotensial tinggi ke daerah yang berpotensial rendah. Proses spontan tersebut menyebabkan energy dilepas ke sekitar, dan energy bebas system tersebut menurun. Energy yang dilepas kesekitar mempunyai potensi untuk melakukan kerja, misalnya air mengalir secara osmotic ke bagian atas batang dalam fenomena yang dikenal sebagai tekanan akar. (Salisbury dan Ross, 1995) Jika air murni berada di satu sisi membran dan larutan disisi lainnya, maka potensial air akan lebih rendah daripada potensial air- air murni. Potensial air suatu larutan pada tekanan atmosfer bernilai negatif. Potensial air- air murni yang mendapat tekanan dari luar yang lebih besar dari pada tekanan atmosfer, bernilai positif. Potensial air larutan yang mendapat tekanan dapat bernilai negatif apabila potensial osmotic lebih negatif dari pada tekanan yang positif, dapat bernilai nol apabila tekanan sama dengan potensial osmotic tetapi dengan tanda yang berlawanan, atau dapat bernilai positif apabila tekanan lebih positif dari pada potensial osmotik yang negatif.

Dalam pengukuran potenisal air dapat dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya menggunakan metode volume-jaringan. Sample jaringan yang diinginkan dimasukkan kedalam seri larutan dengan ragam kosensentrasi yang diketahui. Linarut terbaik untuk pengukuran adalah yang tidak mudah melintasi membrane atau yang tidak merusak jaringan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan larutan yang tidak mengubah volume jaringan, artinya, tidak ada air yang masuk jaringan atau yang hilang. Ini menandakan bahwa larutan dan jaringan sejak semula berada dalam kesetimbangan yang sama. (Salisbury dan Ross, 1995). Beberapa faktor yang yang biasanya menghasilkan gradien potensial kimia atau gradien potensial air dalam system tumbuhan adalah konsentrasi atau aktifitas, karena partikel berdifusi dari tempat yang beraktifitas tinggi ke tempat yang beraktifitas rendah. Suhu, tekanan, efek linarut terhadap potensial kimia pelarut, dan matriks atau permukaan yang bermuatan, seperti permukaan partikel tanah liat di tanah, protein atau polisakarida dinding sel. (Salisbury dan Ross, 1995). Untuk menghitung perubahan berat yang terjadi digunakan rumus:

% perubahan berat = berat akhir berat mula-mula/Berat mula mula X 100%.

Sedangkan untuk menghitung nilai potensial osmotiknya digunakan rumus: s =MiRT

Dimana : M = molaritas dari larutan sukrosa I = konstanta ionisasi , untuk sukrosa = 1 R = konstanta gas (0,0831 bar / derajat) T = suhu absolute = ( C + 273 )

III.

Metode Praktikum a. Tempat dan Waktu Praktikum Tempat praktikum Waktu praktikum : Laboratorium Biokimia : Selasa, 18 September 2012

b.

Alat dan Bahan Alat : 1) 2) 3) 4) Pelubang gabus Cawan petri Pisau tajam Kertas 6) 5) Timbangan analyize balance Penggaris

Bahan : 1) 2) Kentang Larutan sukrosa 2 ml ( 0,0; 0,4; 1,6 )

c.

Prosedur Membuat silinder umbi kentang sebanyak 9 buah dengan menggunakan pelubang gabus, panjang masing-masing 3 cm Menimbang ke-9 silinder umbi kentang dengan menggunakan timbangan analysize balance Memasukkan masing-masing 3 buah silinder umbi kentang ke dalam cawan petri Memasukkan larutan sukrosa 20 ml ke dalam masing-masing cawan petri dengan konsentrasi 0,0; 0,4; dan 1,6 secara berurutan Menunggu selama 20 menit Menimbang kembali silinder umbi kentang dengan timbangan analysize balance

IV.

Hasil dan Pembahasan a. Hasil Kentang 1. 2. 3. Rerata 0,0 M 0,4 M 1,6 M

Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah 0,57 gr 0,57 gr 0,59 gr 0,567 gr 0,69 gr 0,65 gr 0,67 gr 0,67 gr 0,58 gr 0,59 gr 0,55 gr 0,573 gr 0,674 gr 0,684 gr 0,668 gr 0,668 gr 0,57 gr 0,57 gr 0,56 gr 0,567 gr 0,65 gr 0,666 gr 0,646 gr 0,645 gr

b.

Analisis Data Rumus menghitung perubahan berat : % perubahan berat = berat akhir berat mula-mula/Berat mula mula X 100%.

1.

Dengan konsentrasi 0,0 M Pada kentang 1 % perubahan berat = 0,69 - 0,57 / 0,57 X 100% = 21,052 %

Pada kentang 2 % perubahan berat = 0,65 0,57 / 0,57 X 100% = 14,63 % Pada kentang 3 % perubahan berat = 0,67 0,59 / 0,59 X 100% = 13,55 % 2. Dengan konsentrasi 0,4 M Pada kentang 1 % perubahan berat = 0,674 0,58 / 0,58 X 100% = 16, 207%

Pada kentang 2 % perubahan berat = 0,685 - 0,59 / 0,59 X 100% = 10 % Pada kentang 3 % perubahan berat = 0,688 0,55 / 0,55 X 100 % = 25,09 %

3.

Dengan konsentrasi 1,6 M Pada kentang 1 % perubahan berat = 0,65 0,57 / 0,57 X 100 % = 14,03 % Pada kentang 2 % perubahan berat = 0,666 0,57 / 0,57 X 100% = 16,84 % Pada kentang 3 % perubahan berat = 0,646 0,56 / 0,56 X 100% = 15,36 %

Rumus menghitung potensial osmotic sukrosa : s =MiRT Dimana : M = molaritas dari larutan sukrosa I = konstanta ionisasi , untuk sukrosa = 1 R = konstanta gas (0,0831 bar / derajat) T = suhu absolute = ( C + 273 )

Diketahui suhu penelitian merupakan suhu kamar : 27 derajat Celsius Suhu absolute = 27 derajat Celsius + 237 = 264

1.

Potensial osmotic pada konsentrasi 0,0 M s = 0,0 X 1 X 0,0831 X 264 = 0 atm

2.

Potensial osmotic pada konsentrasi 0,4 M

s = 0,4 X 1 X 0,0831 X 264 = 8,775 atm 3. Potensial osmotic pada konsentrasi 1,6 M s = 1,6 X 1 X 0,0831X 264 = 35,10 atm

Grafik hubungan antara berat kentang ( Y ) dengan konsentrasi larutan (X) :

Grafik Hubungan Selisih Berat Kentang dengan Konsentrasi Larutan


1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0,0 M 0,4 M 1,6 M

c.

Pembahasan Pada pengamatan ini dilihat potensial air pada jarigan hidup umbi kentang untuk mengetahui pergerakan kimia air dalam tumbuhan

khususnya pada sel tumbuhan Umbi Kentang (Solanum tuberosum) yang di rendam selama 20 menit, sehingga mengalami kelebihan dan kekurangan cairan. Pergerakan air dan larutan sukrosa yang terjadi pada umbi kentang dapat di jadikan sebagai acuan untuk mengetahui apakah umbi kentang mempunyai daya serap yang tinggi terhadap air atau larutan sukrosa. Berdasarkan table diatas maka kita melihat bahwa konsentrasi larutan sukrosa 0,0 M, 0,4 M, dan 1,6 M mengalami variasi, dimana semuanya memiliki nilai positif. Potensial osmotic larutan barnilai positif, karena air pelarut dalam larutan umbi kentang melakukan kerja lebih dari

air murni. Jika tekanan pada larutan meningkat, maka kemampuan larutan untuk melakukan kerja juga meningkat sehingga bobot berat umbi kentangpun meningkat. Pada percobaan mangunakan larutan sukrosa, larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,0; 0,4 dan 1,6 bernilai positif. Berdasarkan hasil pengamatan atau tabel maka kita dapat mengatakan bahwa praktikum dapat dilihat terdapat pertambahan berat setelah ditambahkan dengan larutan sukrosa, pertambahan perubahan berat yang terjadi sekitar 0,078 gr pada kontrasi larutan sukrosa 1,6 M; 0,095 gr pada konsentrasi larutan sukrosa 0,4 M dan 0,103 gr pada konsentrasi larutan sukrosa 0,0 M. Pertambahan berat dikarnakan potensial molekul air murni yang melewati membrane lebih besar dari pada larutanpada jaringan hidup umbi kentang sehingga menambah bobot berat umbi kentang proses ini merupakan osmoregulasi yang terjadi pada umbi kentang.

V.

Kesimpulan dan Saran a. Kesimpulan Karena nilai potensial air = = p s ; dimana nilai p= 0, sehingga nilai potensial air sama dengan potensial osmotiknya, yaitu pada konsentrasi 0,0 M sebesar 0 atm, pada konsentrasi 0,4 M sebesar 8,775 atm dan pada konsentrasi 1,6 M sebesar 35,10 atm.

b.

Saran Pada praktikum kegiatan 2 ini, timbangan yang digunakan untuk menimbang kentang kurang ( hanya 1 ). Padahal jumlah kelompok yang ada lebih dari 5. Sehingga saat akan menggunakannya harus mengantri dan untuk mengantri itu dibutuhkan waktu yang lama.

VI.

Diskusi 1. Berapakah potensial osmotic larutan Glukosa pada suhu yang percobaan saudara ?

Jawab : Potensial osmotic pada konsentrasi 0,0 M s = 0,0 X 1 X 0,0831 X 264 = 0 atm Potensial osmotic pada konsentrasi 0,4 M s = 0,4 X 1 X 0,0831 X 264 = 8,775 atm Potensial osmotic pada konsentrasi 1,6 M s = 1,6 X 1 X 0,0831X 264 = 35,10 atm 2. Apa yang akan terjadi bila jaringan kentang ditempatkan pada larutan yang potensial osmotiknya lebih rendah dari potensial osmotic jaringannya ? Jawab : Larutan yang berada di dalam kentang akan berkurang ( akan mengalami dehidras ), karena air (pelarut) yang berada di dalam kentang akan mengalir keluar menuju ke potensial larutannya lebih rendah. Hal ini jika berlangsung terus-menerus akan menimbulkan pelarut atau air dari larutan yang berada di dalam kentang lama-kelamaan akan habis.

VII.

Daftar Pustaka Al, Suyitno.2012. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Yogyakarta : FMIPA UNY Salisbury, F.B., Cleon W.R. 1995. Fisiologi Tumbuhan, jilid 1. Bandung : ITB