Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

Jaringan Periodontal A. Pengertian Jaringan Periodontal


Adalah jaringan pendukung gigi yang sebenarnya terdiri dari beberapa jaringan, tetapi telah menjadi salah satu yakni disebut jaringan pendukung gigi atau penyangga gigi yang terdiri dari ligament periodontal, procesus alveolaris, cementum dan gingiva (Mahfoed dan Zein, 2005). Bagian-bagian Jaringan Periodontal : I. Gingiva Ginggiva merupakan bagian mukosa rongga mulut yang mengelilingi gigi dan linggir (ridge) alveolar. Berfungsi melindungi jaringan dibawah perlekatan gigi terhadap pengaruh lingkungan rongga mulut. (Susanto, 2009) Gingiva tergantung pada gigi-geligi, bila ada gigi geligi, hingiba juga ada dan bila gigi dicabut gingiva akan hilang. Gingiva berwarna merah muda, tepinya seperti pisau dan scallop agar sesuai dengan kontur gigi geligi. Gingival dibagi menjadi 2 daerah yaitu: gingiva tepi dan gingiva cekat (Susanto, 2009) Gingiva yang sehat dideskripsikan sebagai salmon orcoral pink. Gingiva yang sehat bisa juga tampak agak gelap pada orang kulit hitam tapi terkadang juga pada Kaukasian atau oriental (Rateitschak, 1985).Gingiva disebut juga sebagai mukosa oral dan dibagi menjadi 3 tipe : 1. Mukosa mastikasi : bagian yang menempel pada batasan bawah tulang dan diselimuti parakeratin atau epitelium keratin. Contoh : gingiva yang menutupi jaringan palatum durum. 2. Mukosa dasar : komposisi jaringan lunak dengan bagian yang tidak menempel dengan struktur batasan bawah dan diselimuti oleh epitelium keratin. Contoh : bibir, pipi, dasar mulut, permukaan inferior dari lidah, palatum mole, uvula dan mukosa alveolar. 3. Mukosa special : mukosa ini menutupi dorsal lidah dan beradaptasi dengan memiliki sensasi perasa (Hoag, 1990) Gingiva dapat dilihat sebagai fitur klinis atau secara anatomi dapat dibedakan menjadi, antara lain : 1. Marginal gingival 2. Attached gingiva 3. Interdental gingiva

Marginal Gingival Marginal gingival/ unattached gingiva merupakan bagian tepi gingiva yang menyelimuti gigi seperti kerah pada baju. Pada 50% kasus, batas marginal gingiva dengan attached gingiva ditandai dengan adanya cerukan dangkal yang disebut free gingival groove. Marginal gingiva umumnya memiliki lebar 1mm, membentuk dinding jaringan lunak dari sulkus gingiva. Marginal gingiva dapat dipisahkan dengan permukaan gigi dengan menggunakan probe periodontal. (Willmann, 2006)

Attached Gingiva Attached gingiva berhubungan dengan marginal gingiva. Ini terlihat jelas dan erat terikat pada dasar periosteum tulang alveolar. Gingiva melekat dan meluas ke mukosa alveolar yang relatif longgar dan bergerak. Attached gingiva adalah jarak antara mukogingival junction dna proyeksi pada permukaan eksternal dari bawah sulkus gingiva atau poket periodontal. Lebar gingiva tergantung dari bentuk wajah dan mulutnya. Yang terbesar umumnya diwilayah insisivus (3,5 4,5 mm pada rahang atas dan 3,3 3,9mm di mandibula) dan berkurang dibagian posterior, dengan lebar paling tidak di daerah premolar pertama (1,9 mm pada rahang atas dan 1,8 mm di mandibula). Karena mukogingival junction tidak bergerak sepanjang hidup manusia, perubahan lebar pada attached gingiva disebabkan oleh pembentukan akhir koronal. Lebar attached gingiva meningkat dengan usia dan pada gigi supraerupted. Pada aspek lingual mandibula ini, attached gingiva berakhir di muko-alveolar junction yang dilapisi selaput lendir di dasar mulut. Permukaan palatal dari gingiva melekat pada rahang atas yang terlihat bercampur dengan mukosa dan palatum durum (Willmann, 2006).

Interdental Gingiva Interdental gingiva menempati embrassure gingiva, yang merupakan ruang interproksimal dibawah daerah kontak gigi. Interdental gingiva dapat berbentuk piramidal atau memiliki col. Pada yang pertama, ujung satu papila terletak langsung dibawah titik kontak, yang terakhir menyajikan depresi valley-like yang menghubungkan fasial dan lingual papilla serta sesuai dengan bentuk kontak interproksimal.

Bentuk gingiva dalam ruang interdental tergantung pada titik kontak antara dua gigi yang berdampingan dan ada atau tidak adanya beberapa derajat resesi. Permukaan lingual dan fasial meruncing ke arah bidang kontak interproksimal, dan permukaan mesial dan distal sedikit cekung. Batas lateral dan ujung papilla interdental dibentuk oleh lanjutan dari gingiva marginal dari gigi yang berdekatan. Jika diastema hadir, gingiva secara tegas terikat atas tulang interdental dan bentuk permukaan, halus bulat tanpa papilla intedental ( Willmann, 2006). KARAKTERISTIK GINGIVA SEHAT 1. Warna Gingiva sehat umumnya memiliki warna yang disebut coral pink. Warna lain seperti merah, putih, dan biru dapat menandai adanya peradangan (gingivitis) atau kelainan lain. Walaupun menurut textbook warna gingiva disebut coral pink, pigmentasi rasial normal membuat gingiva berwarna lebih gelap. Karena warna gingiva dipengaruhi pigmentasi rasial, keseharian dalam warna lebih penting daripada warna yang ada. 2. Kontur Gingiva sehat memiliki permukaan halus dan bergelombang didepan tiap gigi. Gingiva sehat menempati daerah interdental dengan tepat dan pas, berbeda dengan papilla gingiva yang membengkak yang terdapat pada gingivitis, atau embrassure yang kosong pada penyakit periodontal. Gusi yang sehat melekat erat pada tiap gigi, bentuknya meruncing seperti ujung pisau pada tepi marginal gingiva bebas. Disisi lain, gusi yang meradang memiliki tepi yang menggembung atau bulat. 3. Tekstur Gingiva sehat bertekstur padat, tahan terhadap adanya pergerakan. Tekstur ini sering dideskripsikan sama seperti kulit jeruk. Gingiva yang tidak sehat teksturnya membengkak dan seperti busa. Gingiva berfungsi melindungi jaringan dibawah perlekatan gigi terhadap pengaruh lingkungan rongga mulut (Susanto, 2009)

II.

Ligamentum periodontal

Ligamen adalah suatu ikatan yang biasanya menghubungkan dua buah tulang. Akar gigi berhubungan dengan soketnya pada tulang alveolar melalui struktur jaringan ikat yang dapat dianggap sebagai ligamen. Ligamen periodontal tidak hanya menghubungkan gigi ke tulang rahang tetapi juga menopang gigi pada soketnya dan menyerap beban yang mengenai gigi. Beban selama mastikasi, menelan dan berbicara sangat besar variasinya, juga frekuensi, durasi dan arahnya. Struktur ligament biasanya menyerap beban tersebut secara efektif dan meneruskannya ke tulang pendukung.( Manson, J.D. and Eley, Bary M,. 1993)

Lebar ruang ligament periodonsium bervariasi menurut usia, lokasi gigi, dan besarnya tekanan yang diberikan pada gigi tersebut. Sisi mesial lebih tipis daripada sisi distal, karena adanya pergeseran mesial fisiologis. Gigi yang tidak digunakan mempunyai ligamentum periodontal yang tipis dan arah serabut principal hilang. Gigi yang digunakan secara normal mempunyai ligamentum periodonal yang lebih tebal dan konfigurasi serabut principal yang normal. Pada oklusi fungsional, ruang ligamen periodonsium besarnya sekitar 0,25 mm10 mm, sedangkan bila tekanan yang diterima tidak normal, ruang ligamen periodonsium menjadi lebih lebar. (Fedi, Peter .F, dkk. 2004.)

Komponen ligamentum periodontal Ligamentum periodontal terdiri atas komponen selular dan interselular. Komponen selular terdiri atas sel jaringan ikat, sel-sel epithelial, sel-sel sistem imunitas, dan sel-sel yang berkaitan dengan elemen neurovaskular. Sel-sel jaringan ikat terdiri dari fibroblast, cementoblast, dan osteoblast, sedangkan sel-sel imunitas terdiri dari neutrofil, limfosit, makrofag, sel Mast, dan eusinofil. Komponen interselular ligamentum periodontal tersusun atas jaringan fibrous dan substansi dasar. Jaringan fibrous terdiri dari serat kolagen, terutama kolagen tipe I dan III. Pada ligamentum periodontal terdapat istilah serat Sharpey, yaitu bagian terminal dari serat kolagen utama yang masuk ke dalam sementum dan tulang. Serat ini dapat mengalami kalsifikasi dalam derajat signifikan. Selain serat-serat kolagen, ligament periodontal juga memiliki komponen lain yaitu : 1. Elemen selular Terdapat empat tipe sel yang terdapat pada ligament periodontal : sel jaringan ikat, epithelial rest cell, sel sistem imun, dan sel-sel yang berhubungan dengan elemen neurovaskular. Sel jaringan ikat termasuk fibroblast, sementoblast dan osteoblast. Fibroblast adalah sel yang paling banyak terdapat di ligament periodontal, sel ini memproduksi kolagen dan juga dapat mendegradasi kolagen yang sudah tua. Sedangakan osteoblast dan sementoblast, seperti halnya osteoklas dan odontoklas, terletak pada permukaan sementum dan tulang dari ligamentum periodontal.

Epithelial rest of Malassez membentuk kisi-kisi pada ligament periodontal dan didistribusikan di dekat sementum pada bagian apical dan servical gigi. Sel sistem imun termasuk neutrofil, limfosit, mast sel, dan eusinofil. Sel-sel ini, sama dengan sel-sel neurovaskular, juga terdapat pada jaringan ikat lain. 2. Substansi dasar Ligament periodontal juga memiliki banyak substansi dasar yang mengisi ruang antara serat dan sel. Terdiri dari dua komponen utama : glycosaminoglycan dan glycoprotein. Juga memiliki kandungan air yang tinggi (70%).

Serat kolagen ligamentum periodontal berliku-liku dari sementum ke tulang. Serat mengalami pemanjangan jika ada dorongan gaya dari gigi, sehingga terjadi perpindahan yang kecil dari gigi walaupun kolagen bersifat inelastic. Darah dan substansi ligament periodontal juga bisa menahan dan menyerap occlusal impact yang kecil. Serabut tersebut disusun dalam lima kelompok berikut : a. Alveolar crest group : serabut panjang dengan arah miring dari sementum yang berada di bawah junctional epithelium menuju alveolar crest. Serabut ini mencegah tekanan pada gigi dan menahan pergerakan lateral gigi. b. Horizontal group : serat hanya ditemukan pada apical alveolar crest dan terletak horizontal dari sementum ke tulang alveolar. Serat ini secara lateral menekan gigi. c. Oblique group/miring : serabut berjalan miring dari sementum ke tulang. Merupakan kelompok yang paling banyak terdapat pada ligament periodontal. Serabut ini berfungsi untuk menahan stress mastikasi-vertical dan mengubahnya menjadi tegangan pada tulang alveolar d. Apical group : serat sementum mengelilingi apex pada apical alveolar bone e. Interradicular group : serat ini terbentang dari sementum pada area akar gigi sampai ke puncak inter-radicularbony septum Ligamen mempunyai anyaman pembuluh darah yang sangat banyak didapat dari arteri apical dan pembuluh yang berpenestrasi pada tulang alveolar. Terdapat anastomosis dalam jumlah besar dengan pembuluh darah gingival. Bundel saraf dari nervus trigeminus berjalan bersama pembuluh darah dari apeks dan melintasi tulang alveolar untuk mensuplai ligamen dengan reseptor tactile, tekanan dan rasa sakit. Saraf tampaknya berakhir sebagai ujung saraf bebas atau struktur berbentuk kumparan yang berhubungan dengan aktivitas propioseptif

yang terpusat untuk mengontrol sistem mastikasi pada saat menelan, mengunyah dan berbicara.

Pasokan darah ligamentum periodontal berasal dari 3 sumber : 1. Pembuluh darah yang memasuki ligamen periodonsium dari daerah apikal 2. Arteri interalveolar (interdental) yang masuk ke dalam ligamen dari prosessus alveolar interdental 3. Anastomosis pembuluh dari gingiva (Newman, Michael G., et al. 2006.)

Fungsi Ligamentum Periodontal Ligamentum periodontal terdiri dari jenis jaringan ikat khusus dengan serat-serat yang menembus sementum gigi dan mengikat sementum pada dinding tulang di soket gigi, yang tetap memungkinkan pergerakan terbatas pada gigi. Seratnya tersusun untuk meredam tekanan yang timbul selama proses pengunyahan. Hal tersebut mencegah transmisi tekanan langsung pada tulang, yang dapat berakibat resorbsi tulang setempat, kolagen ligamen periodontal memiliki ciri mirip jaringan imatur. Kolagen ini memiliki laju pergantian yang sangat tinggi (yang terlihat melalui autoradiograf) dan sejumlah besar kandungan kolagen yang dapat larut. Celah diantara serat-serat tersebut dipenuhi glikosaminoglikan. Fungsi ligamen periodontal yaitu : 1. Memberikan nutrisi kepada sementum, tulang alveolar dan gingival 2. Menghantarkan stimulus rangsang tekan, sentuh dan nyeri dengan serabut saraf sensori 3. Melindungi pembuluh darah dan serabut saraf dari cedera mekanik 4. Sebagai perlekatan gigi dengan tulang 5. Mempertahankan jaringan gingival 6. Penyerap tekanan Ligamentum periodontal dapat berfungsi secara fisik, nutrisi, formatif dan remodelling serta sensori. Fungsi fisik ligamen periodontal adalah menyalurkan tekanan kunyah ke tulang; mengikat gigi ke tulang; memelihara hubungan antara gingiva dan gigi; sebagai shock absorber pada fungsi pengunyahan; dan tempat terlindung bagi pembuluh darah dan saraf. Fungsi nutrisi adalah memberikan nutrisi kepada sementum, tulang alveolar dan gingival. Fungsi sensori adalah menghantarkan stimulus rangsang tekan, sentuh dan nyeri

dengan serabut saraf sensori. Fungsi formatif dan remodelling sel yang terdapat pada ligamen peridontal berpartisipasi dalam formasi dan resorbsi sementum dan tulang, serta untuk mengakomodasi gaya oklusal yang diberikan dalam perbaikan luka (injury).( Junqueira, Louiz and Carneiro, Jose. 2005.)

III.

Sementum

Sementum merupakan jaringan menyerupai tulang yang tipis dank eras yang menyelimuti akar anatomi gigi dan temat melekatnya serabut sharpey. Sementum dibentuk oleh sementoblas yang berkembang dari sel-sel mesenkim yang tidak terdiferensiasi dalam jaringan ikat folikel dentalis. Sementum tersusun dari 45-50% berat material anorganik (hidroksi apatit) dan 50-55% berat material organik dan air. Material organiknya sebagian besar terdiri atas kolagen dan protein polisakarida. Sementum merupakan jaringan avaskuler. Sementum berwarna kuning muda. Sementum merupakan jaringan dengan kadar fluor tertinggi diantara jaringan yang termineralisasi dan bersifat permeable terhadap berbagai material. Terdapat 2 macam sementum, yaitu acellular dan cellular cementum. Lapisan sementum aselular sementum adalah suatu jaringan hidup yang mendominasi separuh bagian korona akar. Sementum seluler lebih sering ditemukan di daerah separuh apical akar. (Sumawinata, 2003). Dari sifat fisik dan kimiawinya, sementum lebih mirip tulang dibandingkan jaringan keras lain dari gigi. Sementum terdiri atas matriks serat-serat kolagen, glikoprotein, dan mukopolisakarida yang telah mengapur. Sementum umumnya bertumbuh sangat lambat, namun dapat mengalami hyperplasia sebagai respons terhadap iritasi menahun. (Fawcett, 2002).

Struktur Sementum Menurut Manson & Eley (1993) secara umum sementum dibagi menjadi dua, yaitu sementum aseluler (primer) dan sementum seluler (sekunder). Keduanya mengandung matrix alcified interfibrilar dan fibril kolagen. 1. Sementum seluler Tipe sementum yang ditemukan di daerah apikal dan region furkasi gigi. Mengandung sementosit yang berada dalam lakuna, berhubungan melalui suatu sistem anastomosis kanalikuli. Terdapat dua sumber serat kolagen, yaitu Sharpey`s fiber dan kelompok serat yang merupakan bagian matriks sementum yang dibentuk sementoblast.

2. Sementum aseluler Tipe sementum ini menutupi semua bagian dari permukaan akar gigi yang berupa lapisan hyaline tipis. Mempunyai garis incremental yang berjalan paralel pada permukaan akar gigi. Terdiri atas Sharpey`s fiber yang terkalsifikasi. 3. Sementum intermediate Tipe ini ditemukan pada bagian sementodentinal junction. Dapat bersifat sebagai sementum maupun dentin. Sedangkan menurut Newman, et al (2006), terdapat suatu klasifikasi yang jauh lebih rumit dari sementum. Klasifikasi ini diberikan oleh Schroeder : 1. Acellular afibrillar cementum (AAC) ACC merupakan produksi dari sementoblas dan ditemukan pada daerah coronal sementum dengan ketebalan 1 sampai 15 mikron. Tidak mengandung serabut kolagen intrinsik maupun ekstrinsik. Hanya mengandung substansi dasar yang termineralisasi. 2. Acellular Extrinsic Fiber Cementum (AEFC) AEFC merupakan produk dari fibroblas dan sementoblas. Hampir seluruhnya terdiri atas gulungan padat serabut Sharpey dan sedikit sel. Dapat ditemukan pada sepertiga akar. Ketebalannya antara 30 sampai 230 mikron. 3. Cellular Mixed Stratified Cementum (CMSC) Terdiri atas serabut Sharpey (ekstrinsik) dan serabut intrinsik serta kemungkinan mengandung sel. Merupakan produk bersama fibroblas dan sementoblas. Ditemukan pada bagian sepertiga apikal dan furkasio. Ketebalan antara 100 sampai 1000 mikron. 4. Cellular Intrinsic Fiber Cementum (CIFC) Mengandung sel, namun tidak mengandung serabut kolagen ekstrinsik. Dibentuk oleh sementoblas. 5. Intermediete Cementum Zona yang susah didefinisikan, terletak pada bagian cementoenamel junction. Mengandung komponen seluler Hertwig's sheath di dalam substansi dasar yang termineralisasi. (Newman, et al, 2006).

Sementum memiliki ketebalan bervariasi tergantung lokasinya. Ketebalan pada setengah koronal sebesar 10-60 mikron, pada sepertiga apikal ketebalan 150-200 mikron. Ketebalan terbesar terdapat pada daerah apeks dan daerah furkasi. Dengan meningkatnya usia, ketebalan sementum juga meningkat (Dalimunthe, 2005).

Sementogenesis Sementogenesis merupakan proses pembentukan sementum. Selama pembentukan email, korona gigi di tutupi oleh epithelium dental, bagian basal epithelium ini merupakan kantong epithelial hertwig. Sebelum sementoblas terbentuk, sel-sel jaringan pengikat yang berkontak dengan permukaan gigi berdeferensiasi menjadi sementoblas. Sementoblas inilah yang akan berdiferensiasi menjadi sementum. Pada proses deposisi sementum yang baru, maka akan terbentuk suatu batas yang disebut reversal line, antara sementum yang baru dan lama. (Newman, et al, 2006)

Fungsi Sementum Fungsi dari sementum adalah sebagai berikut: 1. Melekatkan gigi pada periodontal 2. Tempat perlekatan collagen fibers dari periodontal membran 3. Pelindung dentin pada akar gigi. (Newman, et al, 2006)

Kelainan Sementum Di bawah ini merupakan contoh dari kelainan sementum: 1. Hipersementosis Hipersementosis merupakan penebalan dari sementum. Hipersementosis ini terlokalisasi pada satu gigi atau pada seluruh gigi geligi. 2. Sementoma Sementoma merupakan masa sementum yang biasanya terletak dibagian apical gigi, dapat melekat atau tidak melekat sama sekali. Dianggap sebagai salah satu neoplasma odontogenik, ataupun kelainan pembentukan pada waktu perkembangan. Sementoma ini banyak terdapat pada wanita daripada laki-laki dan lebih banyak terdapat di mandibula dari pada maksila. (Newman, et al, 2006)

IV.

TULANG ALVEOLAR
Tulang alveolar adalah bagian dari maxilla dan mandibula yang membentuk dan

menyokong soket gigi. Tulang alveolar terus menerus mengalami remodeling akibat aktivitas dari osteoclast dan osteoblast (Carison, 2009). Tulang alveolar terdiri dari : 1. Keping kortikal eksternal yang dibentuk oleh tulang havers dan lamella tulang compact (Caranza, 2002). Keping kortikal eksternal menutupi tulang alveolar dan lebih tipis pada bagian facial (Zainal & Salmah, 1992). Keping kortikal eksternal berjalan miring kea rah koronal untuk bergabung dengan tulang alveolar sejati dan membentuk membentuk dinding alveolar dengan ketebalan sekitar 0,1 0,4 mm. Dinding alveolar dilalui oleh pembuluh darah dan pembuluh lymph serta syaraf yang masuk ke dalam ruang periodontal melalui sejumlah kanal kecil (Kanal Volkmann) (Klaus dkk, 1989) 2. Dinding soket yang tipis pada bagian dalam tulang compact disebut tulang alveolar sejati yang terlihat seperti lamina dura pada gambaran radiografis (Carranza, 2002) 3. Trabekula cancellous berada diantara lapisan tulang compact dan tulang alveolar sejati. Septum interdental terdiri dari trabekula concellous yang mendukung tulang dan menutupi bagian dalam border tulang compact (Carranza, 2002)

BAB II ISI

I.

Gingiva
Pada probandus dilihat dari segi warna gingiva tegolong coral pink , cerah , tidak tampak adanya warna kebiruan atau merah tua yg seringkali menandakan adanya peradangan atau bengkak. (Rateitschak, 1985).Pada gigi m1 kanan bawah terlihat kontur gingiva tidak mengikuti kontur normal gingiva pada gigi molar, hal ini kemungkinan disebabkan oleh karena posisi gigi yang tidak benar (molar mesioversi)dan menyebabkan resesi gingiva. (Susanto, 2009).Pada regio kiri atas,antara distal p2 dengan distal m1, terlihat terjadinya resesi gingiva dimana embrasur tidak berbentuk sesuai dengan kontur gingiva normal yang terlihat pula pada distal i2 kiri dengan mesial c kiri.

II.

Ligamentum periodontal
Pada gambaran radiografi diatas terlihat bahwa ligamentum periodontal tampak normal dimana ruang ligamen periodontal sama rata serta tidak melebar. Ligamentum periodontal merupakan perantara melekatnya gigi dengan tulang alveolar. Pada gigi, ligamentum periodontal melekat pada sementum dan perlekatan pada tulang adalah melalui lamina dura. Pada gambaran radiografis juga terlihat bahwa ligamentum periodontal bersifat radiolusen yang mengelilingi akar gigi dan melekat pada processus alveolaris. Gigi yang digunakan secara normal memiliki ligamentum periodontal yang lebih tebal dan konfigurasi serabut prinsipal yang normal. Pada oklusi fungsional, ruang ligamentum periodontal besarnya sekitar 0,25 mm0,10 mm sedangkan bila tekanan yang diterima tidak normal ruang ligamen periodonsium menjadi lebih lebar. Gambaran ligamentum periodontal yang normal juga ditunjukkan dengan uang ligamen periodontal tipis, Serat-seratnya padat dan jumlah seratnya banyak ditiap daerah,

III.

Sementum
Lokasi: terletak pada semua gigi, baik gigi susu maupungigi permanen. Berada pada seluruh permukaan akar gigimengelilingi dentin, ke arah koronal berbatasan dengan enamelyang disebut pertautan enamel sementum (Cemento EnamelJunction). Bagian terluar dikelilingi oleh ligamen periodontal yangnampak radiolusen pada gambar. Ukuran: mengikuti luas permukaan akar gigi danmemiliki ketebalan 10-60 mikron pada separuh koronal akar gigi,dan paling tebal sekitar 150-200 mikron pada sepertiga apikal akar gigi. Jumlah: melingkupi setiap akar gigi.d.Bentuk: menyesuaikan bentuk akar gigi, karena menyusuriseluruh permukaan akar gigi.e.Radiodensitas: sementum menunjukkan suatu gambaran radiopak,hampir sama dengan enamel. Tetapi karena ukurannya yang sangattipis, sulit untuk menemukannya dalam foto ronsen. (Ghom. 2008)

IV.

TULANG ALVEOLAR
Pada gambaran foto rontgen, terlihat tulang alveolar pada probandus tampak normal, menurut Carranza, 2002, dinding soket yang tipis pada bagian dalam tulang compact disebut tulang alveolar sejati, pada gambaran radiografis tulang alveolar sejati tampak seperti lamina dura. Kontur tulang alveolar sesuai dengan tonjolan akar dan posisi gigi. Ketinggian dan ketebalan plat fasial dan lingual dipengaruhi oleh posisi gigi, bentuk dan ukuran akar, serta daya oklusi. Pada gambaran radiograf terlihat gigi molar yang miring. Gigi yang mengalami ekstrusi, intrusi, atau miring mempunyai puncak interdental angular. Penelitian menunjukkan bahwa dalam kondisi sehat, jarak dari pertemuan sementoenamel ke puncak tulang alveolar terpelihara dalam jarak yang tetap. Kontur tulang alveolar pada gigi molar dan premolar terlihat lebar dan datar dikarenakan pertemuan sementoenamel di gigi molar dan premolar yang lebar dan datar. Sedangkan kontur bukolingual di regio anterior sempit dan tajam mengikuti bentuk pertemuan sementoenamel.

GAMBAR :
KLINIS

RADIOGRAFI

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Pada jaringan periodontal probandus terdapat berbagai keadaan abnormal jika dibandingkan dengan keadaan jaringan periodontal yang normal.