Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I
PENDAHULUAN


Islam didefinisikan sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi
Muhammad SAW untuk mengatur segenap urusan manusia, baik berkaitan hubungan dengan
Allah (ibadah dan aqidah), hubungan dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan
dirinya sendiri, untuk itu kami sebagai penulis mengangkat sebuah permasalahan tentang
suatu hukum dalam agama islam. Permasalahan dalam menetapkan hukum islam adalah
sebuah permasalahan yang sering muncul dan perlu adanya sebuah penyelesaian yang mana
penyelesaian tersebut tidaklah keluar dari sebuah ketetapan hukum Allah SWT yang sudah
tercantum dalam firmanNya yakni Al Quran dan Sunnah.
Manusia di zaman modern ini diharapkan pada masalah ketetapan hukum yang cukup serius.
Maka oleh sebab itu khazanah pikiran dan pandangan dalam menyikapi mesti adanya suatu
pengembangan pola pikir yang lebih baik. Dengan dsmikian, menjadi sangatlah penting kita
mempelajari hal-hal yang berkenaan suatu permasalahan yang banyak dialami sekarang ini.
Namun penjabaran dalam mempelajari sebuah ketetapan hukum seseorang tidaklah mudah,
oleh sebab itu dituntut manusia untuk tidak berjalan begitu saja dan tidak akan sempurna
dalam proses mengetahui ketetapan hukum tersebut. Di antara metode penetapan hukum yang
dikembangkan para ulama adalah sadd al dzariah dan fath al dzariah. Metode sadd al
dzariah merupakan upaya preventif agar tidak terjadi sesuatu yang menimbulkan dampak
negatif.
Hukum islam tidak hanya mengatur tentang perilaku manusia yang sudah dilakukan tetapi
juga yang belum dilakukan. Hal ini bukan berarti bahwa hukum islam cenderung mengekang
kebebasan manusia. Tetapi karena memang salah satu hukum islam adalah untuk
mewujudkan kemaslahatan dan menghindari kerusakan (mafsadah).
Secara garis besar tujuan syariah adalah untuk kemaslahatan (kebaikan) umat manusia di
dunia dan di akhirat baik dengan menarik manfaat maupun mencegah adanya kerusakan.
Didalam penulisan makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan dalam pengetahuan
mengenai sebuah ketetapan hukum ketetapan Dzariah khususnya Sadd al dzariah.








2

BAB II
PEMBAHASAN



A. Pengertian
Kata sadd menurut bahasa berarti Menutup dan kata az-zariah berarti wahsilah atau
jalan ke suatu tujuan. Dengan demikian sadd az-zariah secara bahasa berarti menutup
jalan kepada suatu tujuan. Imam al-satibi mendefenisikan dzariah dengan melakukan
suatu pekerjaan yang semula mengandung suatu kemaslahatan untuk menuju kesuatu
kemasadatan.
1

Demikian juga menurut istilah ushul fiqih seperti dikemukakan oleh abdul karim zaidan
Sadd Az-Zariah berarti menutup jalan yang membawa kepada kebinasaan atau
kejahatan.
2
Maksudnya adalah seseorang melakukan suatu pekerjaan yang pada dasarnya
dibolehkan karena mengandung suatu kemaslahatantetapi tujuan yang akan dia capai
berahir pada suatu kemafsadatan.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa Dzaiah adalah washilah (jalan) yang
menyampaikan kepada tujuan baik yang halal ataupun yang haram. Maka jalan/ cara
yang menyampaikan kepada yang haram hukumnya pun haram, jalan / cara
menyampaiakan kepada yang halal hukumnyapun halal serta jalan / cara menyampaikan
kepada sesuatu yang wajib maka hukumnyapun wajib.
3

Pada awalnya, kata al-dzarah digunakan untuk onta yang digunakan orang Arab dalam
berburu. Si onta dilepaskan oleh sang pemburu agar bisa mendekati binatang liar yang
sedang diburu. Sang pemburu berlindung di samping onta agar tak terlihat oleh binatang
yang diburu. Ketika onta sudah dekat dengan binatang yang diburu, sang pemburu pun
melepaskan panahnya. Karena itulah, menurut Ibn al-Arabi, kata al-dzarah kemudian
digunakan sebagai metafora terhadap segala sesuatu yang mendekatkan kepada sesuatu
yang lain.
4







1
Nasrun Haroen, Ushul Fiqih, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, h.161
2
Satria efendi, Ushul Fiqih, jakarta: kencana, 2005, h. 172
3
Djaazuli. H.A, Ilmu Fiqih, Jakarta: Kencana Media Group, 2005, hal. 98
4
Ibn Manzhur, Lisn al-Arab, hal. 93

3

B. Dasar Hukum Sadd al-Dzariah

1. Al Quran
- QS. Al-Baqarah: 104
EGC^4C -R~-.- W-QN44`-47
W-Q7Q> 4LRN4O W-Q7Q~4
4^OO^- W-QNEc-4
-QORE:UR4 R-EO4N _1R
^
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada
Muhammad): "Raa'ina", tetapi Katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". dan bagi
orang-orang yang kafir siksaan yang pedih [80].

[80] Raa 'ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. di kala Para sahabat
menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata ini
dengan digumam seakan-akan menyebut Raa'ina Padahal yang mereka katakan ialah
Ru'uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah.
Itulah sebabnya Tuhan menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar Perkataan Raa'ina
dengan Unzhurna yang juga sama artinya dengan Raa'ina.

Adanya larangan tersebut dikarenakan ucapan raina oleh orang-orang Yahudi
dimanfaatkan untuk mencaci nabi. Oleh karena itu, kaum muslimin dilarang
mengucapkan kalimat itu untuk menghindarkan timbulnya dzariah.

- QS. Al-Anam: 108

4 W-QclOO -R~-.- 4QNN^4C
TR` 1 *.- W-QclOO41 -.-
-^4N TOO4T UR
ElREOE E4+CEe "7R OE`+
U4E OT &4O
NOO NTOl4NO ET
W-Q+^~E 4QUEu4C ^l
Artinya: dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah
selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa
pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan
mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan
kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Pada ayat di atas, mencaci maki tuhan atau sembahan agama lain adalah al-dzariah
yang akan menimbulkan adanya sesuatu mafsadah yang dilarang, yaitu mencaci
maki Tuhan. Orang yang Tuhannya dicaci kemungkinan akan membalas mencaci
4

Tuhan yang diyakini oleh orang sebelumnya mencaci. Karena itulah, sebelum balasan
caci maki itu terjadi, maka larangan mencaci maki tuhan agama lain merupakan
tindakan preventif (sadd adz-dzariah).
- QS. An-Nur: 31

~4 Re4LR`uURm =T^__^4C
^TR` OTR-QO= =T^E^44
OTENO 4 -RlNC
OT44CTe T 4` 4OE Eu4R`
W 4^TO^4O^4 OTR-QOC
O>4N OT&QN1N W 4 -RlNC
OT44CTe T TRQN+lR
u T*.4-47 u
R7.4-47 TR-QN+ u
T*.E4 u R7.E4
TR-QN+ u OTTR^4Qu=T
u 4 TR^4Qu=T u
4 OTTR>4QE= u
OTT*.=OTe u 4` ^eU4`
OTNLEuC --RTl+-
TOOEN O+ RO4Oe"- =TR`
~ETQO- ^R"C-
-R~-.- W-NOE^4C O>4N
R4OQ4N R7.=OR)4- W 4
4^TO^EC OTTTUNOT
=UuNOR 4` 4-R^C7 TR`
OTTR4CTe W-EQ+Q>4 OT
*.- 1R- 4OGC
HQNLR`u^- u7+UE
HQTU^> ^Q
Artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain
kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami
mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau
putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera
saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-
wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki
yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum
mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar
5

diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian
kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Wanita menghentakkan kakinya sehingga terdengar gemerincing gelang kakinya
tidaklah dilarang, tetapi karena perbuatan itu akan menarik hati laki-laki untuk
mengajak berbuat zina, maka perbuatan itu dilarang pula sebagai usaha untuk
menutup pintu yang menuju ke arah perbuatan zina.






2. Sunnah:

- Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya di antara dosa yang terbesar adalah
seorang laki-laki yang melaknat kedua orang tuanya." Beliau ditanya, "Wahai
Rasulullah, bagaimana mungkin seorang laki-laki melaknat kedua orang tuanya?"
beliau menjawab: "Ia melaknat bapak orang lain, hingga orang itu ganti melaknat
bapaknya. Ia melaknat ibu orang lain, hingga orang itu ganti melaknat ibunya".

- Rasululah Saw melarang membunuh orang munafik, padahal jika dilakukan tentu
ada unsur mashlahat, namun unsur mashlahat tersebut dikalahkan oleh unsur
mafsadat yang akan timbul. Yaitu akan mengakibatkan perginya kaum dari agama
Islam dengan anggapan bahwa Rasulullah Saw telah membunuh sahabatnya.

- Rasulullah Saw bersabda: Tinggalkanlah hal yang membuatmu ragu dan
lakukanlah hal yang tidak kamu ragukan.

- Rasulullah Saw bersabda: Tidak berbuat orang yang menimbun harta kecuali
orang yang berbuat salah.

C. Pengelompokan Sadd al-Dzariah

Setiap perbuatan yang akan mengantarkan kepada mafsadat, ada yang hukum asalnya
haram, dan ada juga yang hukumnya boleh. Adapun yang hukum asalnya haram, para
ulama tidak mempertentangkan mengenai ketetapan hukumnya. Seperti minum khamar
yang akan menyebabkan mabuk dan merusak akal manusia. Hal ini tidak termasuk dalam
pembahasan sadd al-dzariah. Hal yang menjadi objek pembahasan mengenai sadd al-
dzariah adalah segala sesuatu yang hukum asalnya boleh tetapi akan mengantarkan
kepada mafsadat.

Dzariah dapat dikelompokkan dengan melihat kepada beberapa segi:
6


1. Dengan memandang kepada akibat (dampak) yang ditimbulkannya, Ibn Qayyim
membagi dzariah menjadi empat, yaitu:
a. Dzariah yang memang pada dasarnya membawa kepada kerusakan seperti
meminum minuman yang memabukkan yang membawa kepada kerusakan akal
atau mabuk, perbuatan zina yang membawa pada kerusakan tata keturunan.
b. Dzariah yang ditentukan untuk sesuatu yang mubah, namun ditujukan untuk
perbuatan buruk yang merusak, baik dengan disengaja seperti nikah muhalil, atau
tidak sengaja seperti mencaci sembahan agama lain. Nikah itu sendiri hukumnya
pada dasarnya boleh, namun karena dilakukan dengan niat menghalalkan yang
haram menjadi tidak boleh hukumnya. Mencaci sembahan agama lain itu
sebenarnya hukumnya mubah; namun karena cara tersebut dapat dijadikan
perantara bagi agama lain untuk mencaci Allah menjadi terlarang melakukannya.
c. Dzariah yang semula ditentukan untuk mubah, tidak ditujukan untuk kerusakan,
namun biasanya sampai juga kepada kerusakan yang mana kerusakan itu lebih
besar dari kebaikannya, seperti berhiasnya seorang perempuan yang baru
kematian suami dalam masa iddah. Berhiasnya perempuan boleh hukumnya,
tetapi dilakukannya berhias itu justru baru saja suaminya mati dan masih dalam
masa iddah keadaannya menjadi lain.
d. Dzariah yang semula ditentukan untuk mubah, namun terkadang membawa
kepada kerusakan, sedangkan kerusakannya lebih kecil dibanding kebaikannya.
Contoh dalam hal ini melihat wajah perempuan saat dipinang.

2. Dari segi tingkat kerusakannya yang ditimbulkan, Abu Ishak al-Syatibi membagi
dzariah kepada 4 macam, yaitu:
a. Dzariah yang membawa kepada kerusakan secara pasti. Artinya, bila perbuatan
dzariah itu tidak dihindarkan pasti akan terjadi kerusakan. Umpamanya menggali
lubang di tanah sendiri dekat pintu rumah seseorang di waktu gelap, dan setiap
orang yang keluar dari rumah itu pasti akan terjatuh ke dalam lubang tersebut.
sebenarnya menggali lubang itu boleh-boleh saja. Namun penggalian yang
dilakukan dalam kondisi yang seperti itu akan mendatangkan kerusakan.
b. Dzariah yang membawa kepada kerusakan menurut biasanya, dengan arti kalau
dzariah dilakukan, maka kemungkinan besar akan timbul kerusakan atau akan
dilakukannya perbuatan yang dilarang. Umpamanya menjual anggur kepada
pabrik pengolahan minuman keras, atau menjual pisau kepada penjahat yang
sedang mencari musuhnya. Menjual anggur itu boleh-boleh saja dan tidak mesti
pula anggur yang dijual itu dijadikan minuman keras; namun menurut kebiasaan,
pabrik minuman keras membeli anggur untuk diolah menjadi minuman keras.
Demikian pula menjual pisau kepada penjahat tersebut, kemungkinan besar akan
digunakan untuk membunuh atau menyakiti orang lain.
c. Dzariah yang membawa kepada perbuatan terlarang menurut kebanyakannya.
Hal ini berarti dzariah itu tidak dihindarkan sering kali sesudah itu akan
mengakibatkan berlangsungnya perbuatan yang terlarang. Umpamanya jual beli
7

kredit. Memang tidak selalu jual beli kredit itu membawa kepada riba, namun
dalam prakteknya sering dijadikan sarana untuk riba.
d. Dzariah yang jarang sekali membawa kepada kerusakan atau perbuatan
terlarang. Dalam hal ini seandainya perbuatan itu dilakukan, belum tentu akan
menimbulkan kerusakan. Umpamanya menggali lubang di kebun sendiri yang
jarang dilalui orang. Menurut kebiasaannya tidak ada orang yang berlalu (lewat)
di tempat itu yang akan terjatuh ke dalam lubang. Namun tidak tertutup
kemungkinan ada yang nyasar lalu dan terjatuh ke dalam lubang.
5




5 Amir Syarifuddin, Ushul Fiqih, Jakarta: Kencana, 2008, h.427
D. Pendukung dan penentang Saddu Dzariah

Tidak semua ulama sepakat dengan sadd adz-dzariah sebagai metode dalam menetapkan
hukum. Secara umum berbagai pandangan ulama tersebut bisa diklasifikasikan dalam
tiga kelompok, yaitu:

1) Yang menerima sepenuhnya
2) Yang tidak menerima sepenuhnya
3) Yang menolak sepenuhnya

Alasan-alasan pendukung

Imam Syafii : menerimanya apabila dalam keadaan udzur misalnya, seorang musafir
atau yang sakit diperbolehkan meninggalkan shalat jumat dan di perbolehkan
menggantinya dengan shalat dzuhur. Namun, shalat dzuhurnya harus dilakukan secara
diam-diam, agar tidak di tuduh sengaja meninggalkan shalat jumat.

Hanafiyah, Syafiiyah: menerima sadd al-dzariah apabila kemafsadatan yang akan
muncul benar-benar akan terjadi atau sekurang-kurangnya kemungkinan besar akan
terjadi.

Dasar pegangan ulama untuk menggunakan sadd adz-dzariah adalah kehati-hatian
dalam beramal ketika menghadapi perbenturan antara maslahat dan mufsadat. Apabila
mafsadat lebih dominan maka boleh dilakukan dan sebaliknya maka harus ditinggalkan.
Dan jika sama-sama kuat antara keduanya, maka untuk menjaga kehati-hatian maka
harus diambil prinsip yang berlaku yaitu sebagaimana dirumuskan dalam dua kaidah
dibawah ini:

Menolak kerusakan diutamakan ketimbang mengambil kemaslahatan.

8

Bila berbaur yang harom dan yang halal, maka yang haram mengalahkan yang halal

Alasan-alasan penentang

Ulama hanafiyah, syafiiyah dan syiah menolak sad adz-dzariah dalam masalah-
masalah tertentu saja, misalnya: laki-laki yang menikah dengan seorang perempuan yang
ditalak tiga oleh suaminya dengan tujuan agar perempuan itu bisa kembali pada suami
yang pertama. Perbuatan ini dilarang karena tidak tidak dibenarkan secara syara. Contoh
lain, seorang muslim mencaci maki sesembahan orang maka orang musyrik tersebuat
akan mencaci Allah, maka perbuatan seperti itu dilarang.



Ulama yang menolak sadd adz-dzariah secara mutlak adalah ulama Zhahiriyah.
penolakan kalangan az-Zhahiri dalam penggunaan sadd adz-dzariah adalah ketika Ibnu
Hazm begitu keras menentang ulama Hanafi dan Maliki yang mengharamkan
perkawinan bagi lelaki yang sedang dalam keadaan sakit keras hingga dikhawatirkan
meninggal. Bagi kalangan Hanafi dan Maliki, perkawinan itu akan bisa menjadi jalan
(dzariah) bagi wanita untuk sekedar mendapatkan warisan dan menghalangi ahli waris
lain yang lebih berhak. Namun bagi Ibnu Hazm, pelarangan menikah itu jelas-jelas
mengharamkan sesuatu yang jelas-jelas halal. Betapapun menikah dan mendapatkan
warisan karena hubungan perkawinan adalah sesuatu yang halal.

Dengan sadd adz-dzariah, timbul kesan upaya mengharamkan sesuatu yang jelas-jelas
dihalalkan seperti yang dituding oleh mazhab az-Zahiri. Namun agar tidak disalahpahami
demikian, harus dipahami pula bahwa pengharaman dalam sadd adz-dzariah adalah
karena faktor eksternal (tahrim li ghairih). Secara substansial, perbuatan tersebut tidaklah
diharamkan, namun perbuatan tersebut tetap dihalalkan. Hanya karena faktor eksternal
(li ghairih) tertentu, perbuatan itu menjadi haram. Jika faktor eksternal yang merupakan
dampak negatif tersebut sudah tidak ada, tentu perbuatan tersebut kembali kepada hukum
asal, yaitu halal.
6


E. Aplikasi Sadd al-Dzariah

Beberapa contoh aplikasi sad al-dzariah dalam kegiatan ekonomi yaitu:

a. Riba Fadl Pada Transaksi Valuta Asing
Pasar valuta asing (foreign exchange market) adalah suatu mekanisme di mana mata
uang satu ditukar terhadap mata uang lainnya.
7
Riba fadl disebut juga riba buyu yaitu
riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria
sama kualitasnya (mistlan bi mistlin), sama kuantitasnya (sawa-an bi sawa in) dan
sama waktu penyerahannya (yadan bi yadin). Contohnya menukar 10 gr emas 22
karat dengan 11 gr emas 20 karat. Pertukaran semisal ini mengandung gharar yaitu
ketidakjelasan bagi kedua pihak akan nilai masing-masing barang yang
9

dipertukarkan. Ketidakjelasan ini dapat menimbulkan zalim terhadap salah satu
pihak, kedua pihak dan pihak-pihak lain.
8










7
Jose Rizal, Pasar uang dan Pasar Valuta Asing, Jakarta: Salemba Empat, 2008, h.9
8
Perbankan Syariah, Jakarta: PKES Publishing, 2008, h.12

Transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan sebagai
berikut:
- Tidak untuk spekulasi (untung-untungan).
- Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan).
- Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama
dan secara tunai (at-taqabudh).
- Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang
berlaku pada saat transaksi dilakukan dan secara tunai.
9


b. Bai al-Inah
Bai al-Inah adalah suatu akad jual-beli di mana seseorang (penjual) menjual suatu
barang kepada orang lain (pembeli) secara kontan, kemudian penjual tersebut
membeli kembali barang tersebut secara tempo dengan harga yang lebih tinggi.
10
Dalam Fatwa Alamgiri (Fiqih Hanafi), Hillah di mana pelaku muslihat menjual
komoditas bernilai $1,000 yang harus dibayar setelah setahun dan kemudian
membeli komoditas yang sama dengan harga $950 secara tunai, dinyatakan tidak sah
secara hukum karena keterlibatan elemen riba. Praktik ini merupakan penjualan
ganda yang melibatkan pembelian kembali, yang mana peminjam dan yang
memberi pinjaman menjual kemudian menjual kembali komoditas di antara mereka,
sekali secara tunai dan sekali lagi dengan harga yang lebih tinggi secara kredit,
dengan hasil bersih yang berupa pinjaman dengan bunga.

Ibn Taymiyah melanjutkan dengan membagi penjualan Inah ke dalam tiga
kelompok berdasarkan niat pembelinya:
- Ia membeli barang (secara kredit) untuk menggunakannya, seperti makanan,
minuman dan barang lain yang serupa, dalam hal ini penjualannya telah
diperbolehkan oleh Tuhan.
- Ia membeli barang untuk diperdagangkan; hal ini adalah perdagangan, yang telah
diperbolehkan oleh Tuhan


10













- Ia membeli barang untuk mendapatkan dirham, yang ia butuhkan, dan ia sulit
meminjam atau menjual sesuatu dengan suatu kontrak (Akad) Salam
(pembayaran seketika untuk penyerahan di masa yang akan datang), sehingga ia
membeli barang untuk dijualnya kembali dan mengambil selisih harganya. Hal
yang demikian ini adalah Tawarruq (bentuk Inah), yang bersifat makruh
(dibenci) menurut sebagian besar fuqaha terkenal.

c. Adanya agunan dalam pembiayaan
Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 04/DSN-MUI/IV/2000 menyatakan
bahwa dalam akad pembiayaan diperbolehkan menggunakan jaminan untuk
menghindari terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank
dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.
















11








9
Fatwa Dewan Syariah nasional, Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf), 2002
10
Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (Damaskus : Dar al-Fikr), 1989, jld. IV, h. 466
DAFTAR PUSTAKA


Haroen, Nasrun. 1997. Ushul Fiqih. Logos Wacana Ilmu, Jakarta.
Efendi, Satria. 2005. Ushul Fiqih. Kencana, Jakarta.
Djaazuli, H.A. 2005. Ilmu Fiqih. Kencana Media Group, Jakarta.
Manzhur, Ibn. Lisn al-Arab.
Syarifuddin, Amir. 2008. Ushul Fiqih. Kencana, Jakarta.
Rizal, Jose. 2008. Pasar uang dan Pasar Valuta Asing. Salemba Empat, Jakarta.
Perbankan Syariah. 2008. PKES Publishing, Jakarta.
Fatwa Dewan Syariah Nasional. 2002. Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf).
Az-Zuhaili, Wahbah. 1989. Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh. Dar al-Fikr, Damaskus.