Anda di halaman 1dari 18

Agribisnis Ternak Kelinci

Makalah

Disusun Oleh: Dwi Ahmad Priyadi Kelompok : XXIII NIM. 09/285664/PT/05754 Asisten Pendamping :

LABORATORIUM TERNAK POTONG, KERJA, DAN KESAYANGAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

Tugas makalah karena tidak mengikuti acara kerja bakti kelinci dan pemasukan kelinci Agribisnis Ternak Kelinci
Pendahuluan Seiring dengan pertumbuhan penduduk Indonesia yang pesat, konsumsi akan protein hewani pasti juga semakin melonjak. Kebutuhan akan protein hewani penduduk Indonesia belum dapat dipenuhi hanya dengan mengandalkan hasil pemotongan ternak lokal, baik ruminansia maupun nonruminansia. Untuk memenuhi kebutuhan protein asal ternak yang terus meningkat, pemerintah melakukan impor ternak bakalan dan daging dari negara tetangga. Keadaan demikian tentu tidak dapat dibiarkan berlangsung terus-menerus, pemanfaatan sumberdaya yang kita miliki perlu terus dikembangkan, termasuk pangembangan ternak potersial, seperti kelinci. Salah satu jenis ternak belum banyak mendapat perhatian untuk dikembangbiakkan sebagai penghasil daging adalah kelinci. Kelinci termasuk ternak herbivora. Ternak ini memiliki saluran pencernaan yang dapat memfermentasi pakan yang dikonsumsi pada bagian belakang sistem pencernaannya. Keunggulan lainnya yaitu penyediaan pakannya tidak bersaing baik dengan ternak nonruminansia maupun dengan manusia. Hal ini berarti bahan pakan untuk kelinci tidak berasal dari bahan makanan yang diperuntukan bagi manusia (Balai Penelitian Ternak, 2001). Kombinasi antara modal kecil, jenis pakan yang mudah dan perkembangbiakannya yang cepat, menjadikan budidaya kelinci masih sangat relevan dan cocok sebagai alternatif usaha bagi petani miskin yang tidak memiliki lahan luas dan tidak mampu memelihara ternak besar. Di negara sedang berkembang, kelinci dapat diberi pakan hijauan yang dikombinasikan dengan limbah pertanian dan limbah hasil industri pertanian (Sitorus et al., 1982 dan Diwyanto et al., 1985). Limbah industri pertanian seperti ampas tahu dan bekatul dapat digunakan sebagai pakan konsentrat untuk kelinci dan banyak terdapat di lingkungan masyarakat Indonesia. Ketersediaan pakan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha

pemeliharaan ternak. Keberhasilan usaha pemeliharaan ternak banyak ditentukan oleh pakan yang diberikan disamping faktor pemilihan bibit dan tata laksana pemeliharaan yang baik. Agar kelinci dapat berproduksi tinggi, maka perlu dipelihara secara intensif dengan pemberian pakan yang memenuhi syarat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Menurut Ensmingerm. et al. (1990), pakan kelinci dapat berupa hijauan, namun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup, sehingga produksinya tidak akan maksimum, oleh karena itu dibutuhkan pakan konsentrat. Tingkat produktivitas ternak kelinci dalam menghasilkan daging lebih tinggi dibandingkan dengan ternak sapi, sebagaimana pernyataan Ensminger et al. (1990), bahwa dari 1 unit kelinci yang terdiri dari 4 ekor induk dengan berat 10 lb (45,39 kg) dengan masa kehamilan 31 hari, akan menghasilkan 175 ekor kelinci muda dengan berat masing-masing 4 lb (1,82 kg), berarti 700 lb (317,73 kg) berat hidup dimana 58% dari berat tersebut akan diperoleh 400 lb (181,56 kg) daging selama 12 bulan, sedangkan dari seekor ternak sapi dengan berat 1000 lb (453,9 kg) untuk memperoleh berat daging yang sama memerlukan waktu 18 bulan, karena masa bunting yang lebih lama (283 hari) dan jumlah anak perkelahiran hanya 1 ekor. Peluang Usaha Pemanfaatan ternak kelinci untuk saat ini masih banyak diperuntukkan sebagai hewan kesayangan, sedangkan pemanfaatan daging secara luas belum terjamah dengan baik. Salah satu pemanfaat daging kelinci yang umum dijual hanyalah sate kelinci dan tongseng kelinci, peternakan kelinci sekala besar masih jarang yang menjamah, kebanyakan hanya sekala rumahan dengan jumlah populasi hanya sekitar 100 ekor. Dengan produksi per hari yang tidak mementu (Muslih, 2004). Nilai ekonomi kelinci bukan hanya dari produksi daging, tetapi hasil ikutannya pun bernilai ekonomi yang dapat dikatakan lumayan. Misalnya saja kulit dan kotoran (fases dan urine). Menurut Balai Penelitian Ternak (2001), di negara maju, kelinci telah dibudidayakan dalam skala rumah tangga maupun skala komersial. Tujuan pemeliharaan bermacam-macam, antara lain sebagai sumber pengadaan daging, penghasil bulu dan kulit, serta sebagai ternak kesayangan atau peliharaan (pet). Lebih dari 47 bangsa kelinci telah dibudidayakan dengan tujuan yang berbeda-beda. minat 3

masyarakat Indonesia terhadap kelinci sebagai ternak hias atau peliharaan semakin meningkat, namun di negara maju, kelinci sebagai ternak kesayangan telah lama diminati. Bangsa kelinci hias yang eksklusif mempunyai bentuk dan ukuran tubuh kecil, lucu serta berbulu indah, tebal, dan lembut. Bangsa kelinci hias seperti Angora, Lops, Yersey Woolies, Lions, Fuzzy, dan Mini Rex mempunyai nilai yang tinggi. Komoditi utama ternak kelinci jenis potong ialah daging, menurut Ensminger et al.(1990), daging kelinci berwarna putih, kandungan proteinnya tinggi (25 %), rendah lemak (4%), dan kadar cholesterol daging juga rendah yaitu 1,39 g/kg. Nilai plus daging kelinci yang rendah lemak, kolesterol dan tinggi protein sering disebut sebagai daging sehat. Kulit kelinci jenis tertentu, seperti Rex dan Satin yang berbulu khas cocok sebagai bahan baku kerajinan yang bernilai ekonami tinggi, ternak kelinci penghasil bulu komoditi utama justru pada kulit, lebih bernilai ekonami dibanding dagingnya. Menurut Balai Penelitian Ternak (2001), kelinci jenis Rex dan Satin merupakan dua bangsa kelinci yang sangat disukai sebagai penghasil kulit-bulu. Dua bangsa kelinci ini memiliki kulit-bulu eksotis dan indah, menarik, dan bernilai tinggi. Hasil sampingan lain berupa fases dan urine, seiring dengan kesadaran masyarakat dengan bahan pemupuk ternak organik, maka fases dan urine kelinci perlu ditinjau pemanfaatannya sebagai pupuk. Menurut Sajimin (2003), pupuk kelinci yang memiliki kandungan bahan organik C/N : (1012%), P (2,202,76%), K (1,86%), Ca (2,08%),dan pH 6,477,52, kandungan tersebut telah memenuhi standar kompos untuk tanaman sayuran dan tanaman. Menurut Muttaqin (2010), pupuk cair yang disemprotkan kedaun akan diserap oleh sel-sel epidermis, sel penjaga, stomata, mesofil, dan seludang pembuluh, penyerapan unsur hara melalui daun lebih cepat dari pada melalui akar, sehingga pemupukan melalui daun akan lebih efektif. Ternak kelinci seperti yang telah diterangkan diatas, dari segi pakan, produk daging, kulit, dan pupuk dari fases dan urine, serta tata cara pemeliharaan dan reproduksi yang akan diterangkan kemudian, terlebih lagi belum banyak peternak yang berkecimpung dibidang ternak kelinci, sehingga peluang usaha agribisnis ternak kelinci masih terbuka lebar.

Pemilihan Pakan Menurut Farrel dan Raharjo (1984), kelinci menjadi ternak pilihan karena pakannya tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, maupun ternak industri yang intensif. Kelinci juga tumbuh dengan cepat, dan dapat mencapai bobot badan 2 kg atau lebih pada umur 8 minggu, dengan efisiensi penggunaan pakan yang baik pada ransum dengan jumlah hijauan yang tinggi. Kendala penggunaan konsentrat pabrik adalah harganya yang mahal sehingga memberatkan petani peternak, karena biaya pakan sekitar 70% dari total biaya produksi. Seiring dengan peningkatan kebutuhan pangan untuk manusia, maka limbah industri hasil pertanian pun semakin banyak dan dapat menjadi alternatif penyediaan bahan pakan ternak yang potensial termasuk kelinci. Ulasan untuk mengetahui produktivitas kelinci dengan pakan rumput lapangan dan berbagai konsentrat yang berasal dari limbah industri pertanian (ampas tahu dan bekatul) yang dibandingkan dengan penggunaan konsentrat pabrik. Selain itu, juga untuk mengetahui feed cost per gain kelinci dengan pakan tersebut sehingga dapat direkomendasikan alternatif usaha budidaya kelinci dengan pakan limbah industri pertanian bagi petani miskin. Pemberian pakan harus mengacu pada kebutuhan zat gizi yang diperlukan oleh kelinci. Berdasarkan tiga sumber referensi (Lebas (1980) dalam Cheeke (1987) dalam Muslih (2004); Cheeke (1987), Ensminger (1991) dalam Muslih (2004)). Kebutuhan zat gizi pakan bervariasi. Menurut Cheeke (1987), kebutuhan protein kelinci berkisar antara 12-18%, tertinggi pada fase menyusui (18%) dan terendah pada dewasa (12%), kebutuhan serat kasar induk menyusui, bunting dan muda (10-12%), kebutuhan serat kasar kelinci dewasa (14%) sedangkan kebutuhan lemak pada setiap periode pemeliharaan tidak berbeda (2%) (Tabel 1). Jumlah pakan yang diberikan harus memenuhi jumlah yang dibutuhkan oleh kelinci sesuai dengan tingkat umur/bobot badan kelinci. Pemberian pakan ditentukan berdasarkan kebutuhan bahan kering. Jumlah pemberian pakan bervariasi bergantung pada periode pemeliharaan dan dan bobot badan kelinci (Tabel 2). Kebutuhan bahan kering pakan berdasarkan periode pemeliharaan berturut-turut muda bobot badan 1,8-3,2 kg (112-173 5

g/ekor/hari), dewasa bobot badan 2,3-6,8 kg (92-204 g/ekor/hari), induk bunting bobot badan 2,3-6,8 kg (115-251 g/ekor/hari) dan induk menyusui dengan 7 anak bobot badan 4,5 kg (520 g/ekor/hari). (NRC, 1977 dalam Ensminger, 1991). Menurut Muslih (2004), hujauan merupakan bahan pakan utama yang diberikan oleh peternak kelinci di Jawa dengan jumlah pemberian mencapai 8090% dari total ransum. Jenis-jenis hijauan yang dapat diberikan sabagai pakan kelinci diantaranya rumput lapangan, kangkung, rendeng, sintrong, babadotan lalakina, jukut loseh, daun ubi jalar, daun pisang, daun singkong, daun wortel, daun kangkung, kobis, daun turi dan lamtoro. Tabel 1. Kebutuhan zat gizi pada kelinci
Status Protein Bunting 18 15 15-17(16) Menyusui 18 17 24-26(25) Dewasa 13 12 12-15(13) Muda 15 16 16-18 Kebutuhan gizi (%) Lemak Serat Kasar 3 2 3-6 5 2 3-6 3 2 2-4 3 2 3-6 14 10-12 12-16 12 10-12 12-16 16 14 16-22 14 10-12 12-16 Sumber
Lebas (1980) dalam Cheeke (1987) dalam Muslih (2004) Cheeke (1987) dalam Muslih (2004) Ensminger (1991) dalam Muslih (2004) Lebas (1980) dalam Cheeke (1987) dalam Muslih (2004) Cheeke (1987) dalam Muslih (2004) Ensminger (1991) dalam Muslih (2004) Lebas (1980) dalam Cheeke (1987) dalam Muslih (2004) Cheeke (1987) dalam Muslih (2004) Lebas (1980) dalam Cheeke (1987) dalam Muslih (2004) Ensminger (1991) dalam Muslih (2004) Cheeke (1987) dalam Muslih (2004) Ensminger (1991) dalam Muslih (2004)

Tabel 2. Kebutuhan bahan kering berdasar periode pemeliharaan


Status Muda Dewasa Bunting Menyusui dengan anak 7 ekor Bobot (kg) 1,8-3,2 2,3-6,8 2,3-6,8 4,5 Bahan Kering (%) 6,2-5,4 4,0-3,0 5,0-3,7 11,5 Kebutuhan Bahan Kering (g/ekor/hari) 112-173 92-204 115-251 520

Sumber : NRC (1977) dalam Ensminger (1991) dalam Muslih (2004) Menurut Muslih (2004) menerangkan, penelitian terhadap beberapa hijauan yang diberikan pada kelinci, melaporkan bahwa ketela rambat dan rumput lapangan merupakan hijauan yang paling baik untuk diberikan pada kelinci. Dari hasil pengamatannya terdapat petunjuk untuk menggunakan hijauan ketela rambat dalam bentuk kering, sehingga jumlah konsumsi bahan kering dapat terjamin. Upaya alternatif yang dapat dilakukan adalah pemanfaatan bahan pakan berasal limbah pertanian yang tersedia, murah dan memiliki potensi untuk dimanfaatkan oleh kelinci, diantara bahan pakan inkonvensional yang tersedia daun rami (Boehmeria nivea L Goud) yang memiliki kandungan protein cukup tinggi (18,97%) dan ampas teh dengan kandungan protein 17,57% dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak kelinci, daun rami dapat dimanfaatkan sampai sekitar 30% dari total ransum, sehingga biaya pakan menjadi lebih rendah. Sementara ampas teh dapat diberikan sampai 40% dari total ransum, namun kinerja tertinggi dicapai pada tingkat pemberian 10%, perlu didingat, semakin tinggi SK dalam ransum maka semakin rendah kecernaan ransum tersebut (Muslih, 2004). Menurut laporan hasil penelitian Lestari (2001), konsumsi pakan kelinci dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor internal (kebiasaan, umur dan selera). maupun faktor eksternal (sifat pakan yang diberikan dan kondisi lingkungan). Lebih lanjut dijelaskan bahwa palatabilitas berkaitan dengan bau, rasa, dan tekstur yang dapat mempengaruhi selera makan. Dalam penelitiannya, kelinci lebih suka pakan bertekstur basah dan berbau menarik, ampas tahu lebih palatabel dibanding dedak dan konsentrat. Terangnya lagi, kelinci mempunyai kemampuan yang tinggi untuk membau dan merasakan 7

pakan yang tersedia serta sangat selektif terhadap pakan yang disukai. Menurut Tillman. et al. (1998), faktor pakan sangat menentukan pertumbuhan, bila kualitasnya baik dan diberikan dalam jumlah yang cukup, maka pertumbuhannya akan menjadi cepat, demikian pula sebaliknya. Air sangat diperlukan untuk metabolisme tubuh termasuk untuk melancarkan makanan dalam saluran pencernaan, terlebih lagi terkait dengan produksi susu bagi induk yang sedang menyusui (Lestari, 2001). Air minum diberikan secara adlibitum. Pemberian dapat dilakukan dengan menyediakan tempat minum pada masing-masing kandang. Pada beberapa peternakan intesif air minum diberikan dengan sistem nipple yang diinstalasikan pada masing-masing kandang. Untuk kondisi pedesaan tempat minum dapat dibuat dari bahan yang murah dan mudah didapat misalnya dari bahan plastik yang dilapisi semen sebagai pemberat, agar wadah tidak mudah tumpah. Pakan kelinci dapat diberikan secara tak terbatas (ad libitum), namun pemberian secara berangsur angsur dengan pengaturan waktu yang tepat akan lebih mengefisienkan dan mengefektifkan jumlah pakan yang diberikan. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan 3 kali sehari. Konsentrat diberikan pada pagi hari sekitar pukul 10:00 setelah pembersihan kandang dan 1/3 bagian hijauan diberikan pada siang hari sekitar pukul 13:00 dan 2/3 bagian hijauan diberikan pada sore hari sekitar pukul 18:00. Mengingat kelinci termasuk binatang malam (noctural), dimana aktivitasnya lebih banyak dilakukan pada malam hari, maka pemberian volume pakan terbanyak pada sore hari sampai malam hari. Harsojo (1988) melaporkan, kelinci yang diberi pakan dari pukul 18:0006:00 bobot badannya lebih tinggi dibanding kelinci yang diberi pakan dari pukul 06:0018:00. Reproduksi Kelinci Kelinci mempunyai potensi biologis yang tinggi, tinggi, yaitu kemampuan reproduksi yang cepat berkembang biak, interval kelahiran yang pendek, prolifikasi yang sangat tinggi, mudah pemeliharan dan tidak membutuhkan lahan yang luas (Templeton, 1968). Keuntungan lainnya yaitu pertumbuhan yang cepat, sehingga cocok untuk diternakkan sebagai penghasil daging komersial. Kelinci penghasil daging memiliki bobot badan yang besar dan tumbuh dengan cepat, seperti Flemish Giant, Chinchilla, New

Zealand White, English Spot dan lainnnya (Raharjo, 2004). Kelinci yang umum dibudidayakan sebagai penghasil daging adalah New Zealand White dan California. Kelinci pedaging ini dapat mencapai bobot 2 kg dengan persentase karkas 50-60% pada umur 8 minggu dan laju pertum-buhan 40 g/ekor/hari. Dengan asumsi masa bunting 31 hari dan umur penyapihan kelinci anak 28 hari, seekor induk kelinci dapat beranak 10 kali dalam setahun dengan rataan anak untuk setiap fase beranak mencapai 810 ekor. Tingkat kematian kelinci anak cukup tinggi akibat sistem tata laksana pemeliharaan yang kurang baik. Dari setiap kelahiran,jumlah kelinci anak yang disapih hanya mencapai 5-6 ekor per induk. Pada peternakan komersial, seekor kelinci betina dapat dikawinkan kembali 10-15 hari setelah beranak dan seekor jantan dapat digunakan untuk mengawini 10 ekor induk betina (Anonim, 2001). Sedangkan menurut Ensminger et al. (1990), bahwa dari 1 unit kelinci yang terdiri dari 4 ekor induk dengan berat 10 lb (45,39 kg) dengan masa kehamilan 31 hari, akan menghasilkan 175 ekor kelinci muda dengan berat masing-masing 4 lb (1,82 kg), berarti 700 lb (317,73 kg) berat hidup dimana 58% dari berat tersebut akan diperoleh 400 lb (181,56 kg) daging selama 12 bulan, sedangkan dari seekor ternak sapi dengan berat 1000 lb (453,9 kg) untuk memperoleh berat daging yang sama memerlukan waktu 18 bulan, karena masa bunting yang lebih lama (283 hari) dan jumlah anak perkelahiran hanya 1 ekor. Produk Hasil Kelinci Daging Sudah sejak lama (sekitar 20 tahun yang lalu), kelinci dipromosikan sebagai salah satu ternak alternatif untuk pemenuhan gizi (khususnya protein hewani) bagi ibu hamil dan menyusui, serta anak-anak yang kekurangan gizi . Hal ini karena ternak kelinci dapat dijadikan alternatif sumber protein hewani yang bermutu tinggi, dagingnya berwarna putih dan mudah dicerna. Kelebihan kelinci sebagai penghasil daging adalah kualitas dagingnya baik, yaitu kadar proteinnya tinggi (20,10%), kadar lemak, cholesterol dan energinya rendah (Diwyanto et al., 1985), sedangkan menurut Ensminger et al.(1990), daging kelinci berwarna putih, kandungan proteinnya tinggi (25 %), rendah lemak (4%), dan kadar cholesterol daging juga rendah yaitu 1,39 g/kg. Menurut Raharjo (2004), menunjukkan bahwa seekor kelinci induk 9

betina dengan bobot hidup 3-4 kg dapat menghasilkan 80 kg karkas tiap tahun. Daging kelinci memiliki kandungan gizi yang tidak kalah dibandingkan dengan daging ayam atau sapi (Tabel 3). Kandungan protein daging kelinci cukup tinggi, sedangkan kandungan lemaknya cukup rendah. Sebagian besar merupakan lemak tidak jenuh dengan kandungan kolesterol 1,39 g/kg. Kandungan natriumnya mencapai 393mg/kg. Daging kelinci dapat diolah menjadi berbagai produk olahan, seperti sosis, nugget, bakso, dendeng, dan abon. Tabel 4. Komposisi gizi daging kelinci dibandingkan daging beberapa jenis ternak
Daging Air (%) Protein Kasar (%) Lemak (%) Energi (MJ/kg)

Kelinci 67,9 Ayam 67,6 Anak sapi 66,0 Kalkun 58,3 Sapi 55,0 Domba 55,8 Babi 42,0 Sumber : Raharjo, 2004

10,8 20,0 18,8 20,1 16,3 15,7 11,9

10,2 11,0 14,0 22,0 28,0 27,7 45,0

7,3 7,5 8,4 10,9 13,3 13,1 18,9

Daging kelinci mempunyai serat yang halus dan warna sedikit pucat, sehingga daging kelinci dapat dikelompokkan ke dalam golongan daging berwarna putih seperti halnya daging ayam. Sebagaimana pernyataan Lawrie (1995) bahwa daging sapi, domba, kambing, babi dan kuda termasuk ke dalam golongan daging berwarna merah, sedangkan unggas dan kelinci termasuk golongan daging berwarna putih. Daging putih mempunyai kandungan lemak yang rendah dan kandungan glikogen yang tinggi (Forrest et al., 1975). Menurut Lawrie (1995), bahwa daging putih memiliki serat yang lebih besar, mengandung lebih sedikit mioglobin, mitokondria dan enzim respirasi yang berhubungan dengan aktivitas otot yang singkat dan cepat dengan frekwensi istirahat yang lebih sering serta kandungan glikogen yang tinggi (Lawrie, 1995), sedangkan daging merah memiliki proporsi besar, serat yang sempit, kaya mioglobin, mitokondria, enzim respirasi yang berhubungan dengan aktivitas otot yang tinggi dan kandungan glikogen yang rendah. Dalam proses pengolahan pangan, penggunaan panas untuk membunuh mikroba yang tidak diinginkan juga akan merusak zat nutrisi yang

ada di dalam bahan pangan itu sendiri, oleh karena itu tugas seorang ahli teknologi pangan adalah mencarititik optimasi untuk mendapatkan bahan pangan dengan tingkat kerusakan nutrisi yang rendah namun aman untuk dikonsumsi. Menurut Suradi (2003), pada pengolahan daging kelinci menggunakan pemanasan perlu diperhatikan adanya keseimbangan antara tingginya suhu dan lamanya pemanasan, karena penggunaan panas yang tinggi dengan jangka waktu yang lama dapat menyebabkan perubahan cita rasa serta degradasi termal komponen kimiawi pangan yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas, sebagai contoh daging bagian paha memerlukan pemanasan basah pada suhu rendah dengan waktu yang lama, sedangkan daging dari bagian pinggang perlu pemanasan kering dengan waktu yang pendek. Selama proses pemanasan akan terjadi pembentukkan cita rasa yang dapat meningkatkan palatabilitas, hal ini disebabkan mencairnya lemak yang diikuti dengan pembentukkan senyawa volatil, disamping itu terjadi pula reaksi antara protein dengan gula reduksi yang ada pada daging, menyebabkan flavour umami yang khas. Penerimaan masyarakat terhadap daging kelinci memang dirasa masih kurang, karena dirasa kelinci merupakan hewan kesayangan yang hanya dipelihara sebagai peliharaan (pet), bukan untuk dikonsumsi. Aroma dan tekstur daging kelinci yang khas juga menjadi alasan penolakan terhadap daging kelinci. Menurut Suradi (2003), untuk meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap daging kelinci serta dalam rangka upaya pengenalan pangan hewani maka perlu dilakukan proses pengolahan, karena proses pengolahan menyebabkan terjadinya perubahan fisik maupun kimiawi sehingga mengakibatkan terbentuknya aroma, konsistensi, tekstur, nilai gizi dan penampakan yang diharapkan dapat merubah faktor kebiasaan makan. Mutu akhir dari makanan ini sangat ditentukan oleh mutu bahan baku dan kondisi proses oleh karena itu dalam pengolahan bahan pangan faktor tersebut harus mendapat perhatian, disamping itu harus memperhatikan pula preferensi konsumen, hususnya dalam pengolahan daging kelinci. Bermacam-macam produk olahan daging kelinci, seperti yang disebutkan diatas, menurut Suradi (2003), bakso, sosis dan nugget adalah produk olahan daging yang telah diterima oleh masyarakat dari berbagai 11

lapisan, demikian pula abon dan dendeng adalah produk olahan yang telah lama dikenal masyarakat dan mempunyai masa simpan yang panjang. Oleh karena itu melalui teknologi pengolahan tersebut diharapkan daging kelinci dapat diterima konsumen, yang dapat meningkatkan gizi masyarakat. yang pada akhirnya dapat menumbuh kembangkan peternakan kelinci. Produk Ikutan Kulit dan Bulu Kulit kelinci mempunyai prospek yang untuk dikembangkan karena bila mendapat penanganan dan pengolahan yang baik, kulit ini akan memberikan nilai tambah yang lain untuk menggantikan ongkos produksi, tetapi hal ini perlu ditunjang oleh beberapa hal kulit kelinci segar merupakan media yang baik untuk tumbuh dan berkembang biaknya mikroorganisme, oleh karena itu setelah ditanggalkan dari hewannya harus segera dilakukan penyamakan, namun popularitas daging kelinci yang masih rendah dan skala pemeliharaan yang kecil menyebabkan masih rendahnya ketersediaan kulit kelinci dan sulitnya kontinuitas penyediaannya, sehingga tidak ekonomis untuk segera melakukan proses penyamakan. Oleh karena itu sebelumnya harus dilakukakan proses pengawetan. Sebelum dilakukan proses pengawetan,kulit harus dalam keadaan bersih dari kotoran, feses, urine, darah, tanah dan sebagainya yang dapat mempercepat proses pembusukan. Proses ini harus segera dilakukan paling lama lima jam setelah proses pengulitan dengan cara pengeringan atau dengan pemberian bahan pengawet(Balai Penelitian Ternak, 2001). Penyamakan adalah serangkaian prises pengerjaan pada kulit dengan zat-zat atau bahan-bahan penyamak, sehingga kulit yang semula labil terhadap pengaruh kimia, fisis, dan biologis menjadi stabil pada tingkat tertentu (Balai Penelitian Ternak, 2001). Proses penyamakan kulit kelinci pada umumnya sama dengan penyamakan kulit dari hewan lainnya lainnya, tetapi untuk mendapatkan nilai ekonomis yang tinggi sebaiknya hanya dilakukan pada kelinci khusus penghasil fur, yaitu Rex dan Satin. Terdapat tiga kelas fur, yaitu kualitas 1 (pluckers dan shearears), kualitas 2 (long hairs) dan kualitas 3 (hatters) (Cheeke et al., 1978) Menurut Yurmiyati (1991), bahwa biaya yang dikeluarkan untuk penyamakan fur, yaitu Rp. 4.712 sampai Rp. 5.977 untuk setiap lembar kulit kelinci Rex.

Menurut Balai Penelitian Ternak (2001), kelinci jenis Rex dan Satin merupakan dua bangsa kelinci yang sangat disukai sebagai penghasil kulitbulu. Dua bangsa kelinci ini memiliki kulit-bulu eksotis dan indah, menarik, dan bernilai tinggi, sehingga berpotensi untuk diekspor dengan mutu fisik kulit yang baik. Kelinci Rex memiliki kulit-bulu halus seperti beludru dengan panjang bulu yang hampir seragam. Sementara kelinci Satin memiliki kulit bulu panjang dan mengkilap seperti bulu mink. Kulit-bulu kelinci umumnya dimanfaatkan untuk pembuatan kerajinan. Kotoran (Fases dan Urine) Pupuk organik terdiri dari limbah/hasil pertanian berupa sisa tanaman, sisa hasil pertanian, pupuk kandang, pupuk hijau., limbah kota dan guano. Penggunaan pupuk organik sebelum tahun lima puluhan relatif tinggi dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia. Kemudian setelah tahun 1950-an produksi pupuk kimia sangat murah dan harganya makin murah. Selain itu juga berkembangnya tanaman yang responsif pada pemupukan maka penggunaan pupuk kimia semakin banyak. Akibatnya penggunaan pupuk organik mulai ditinggalkan dan beralih menggunakan pupuk kimia secara terus menerus seperti Urea dan TSP (Sajimin, 2003). Penggunaan pupuk kimia sintetis manyebabkan kerusakan tanah, merusak struktur fisik tanah, keras pada musim panas dan lengket pada musin penghujan, merusak struktur kimiawi dengan tidak imbangnya kandungan N, P, K, C pada tanah (Sajimin, 2003). Pupuk organik berperan sebagai penyedia humus, sumber hara N, P, K, menaikan daya tahan air, banyak mengandung banyak mikroorganisme, serta memperbaiki struktur tanah (Mutaqiin, 2010). Pupuk organik yang umum digunakan untuk tanaman adalah dari kotoran sapi, domba dan ayam, tapi ketersediaannya semakin sulit diperoleh. Pemanfaatan kotoran kelinci salah satu alternatif untuk pemenuhan pupuk organik untuk daerah sentra produksi sayuran. Ternak kelinci telah tersebar diberbagai wilayah terutama daerah dataran tinggi atau sentra produksi sayuran namun pemanfaatannya belum optimal. Produk samping yang dapat diperoleh dari usaha budi daya kelinci adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran dan urinenya. Menurut Rahardjo (2004), kelinci menghasilkan dua tipe kotoran, yakni yang lunak 13

dan yang keras. Kotoran/feses yang lunak pada umumnya dikeluarkan pada malam hari untuk selanjutnya dimakan kembali sehingga kita jarang dapat melihat-nya. Kotoran lunak ini pada umumnya diselaputi mukosa, mengandung sedikit bahan kering, namun kandungan protein kasarnya cukup tinggi (28%) serta vitamin B yang bermanfaat bagi ternak yang bersangkutan. Kotoran yang keras dikeluarkan pada siang hari. Kotoran keras mengandung bahan kering yang lebih banyak dibanding kotoran basah, tetapi kandungan protein kotoran kelinci kasarnya cukup rendah (9,2%), akan tetapi mengandung unsur hara yang tidak kalah bagusnya dengan kotoran ternak lainnya. Uji coba pemanfaatan kotoran kelinci sebagai pupuk organik pada beberapa jenis tanaman sayuran telah pula dilakukan. Ternyata, hasil yang diperoleh dengan menggunakan pupuk kotoran kelinci lebih tinggi dibandingkan dengan kotoran ternak ayam (Tabel 4). Tabel 4. . Hasil komparasi tanaman sayuran (ton/ha) yang dipupuk kotoran kelinci dan kotoran ayam. Jenis Sayuran Kubis Jagung sayur Buncis Kacang merah Kentang Sumber : Rahardjo, 2004 Jenis Kotoran Ayam Kelinci 59,2 62,5 9,3 11,1 13,9 14,6 2,2 2,7 23,6 24,9

Menurut Romaskan dan Yuwono (2002) dalam Mutaqiin (2010), unsur N, P, K, Mg, S, dan unsur mikro (Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl) yang dihasilkan dari proses mineralisasi bahan organik merupakan elemen essensial yang diperlukan oleh tanaman, sebab bila salah satu unsur ini tidak ada akan mengakibatkan pertumbuhan dan metabolisme terganggu bahkan dapat mengakibatkan kematian bagi tumbuhan tersebut. Menurut Sajimin (2003), pupuk kelinci yang memiliki kandungan bahan organik C/N : (1012%), P (2,202,76%), K (1,86%), Ca (2,08%), dan pH 6,477,52, kandungan tersebut telah memenuhi standar kompos untuk tanaman sayuran dan tanaman pakan. Hasil pemanfaatan pada tanaman kentang dan kubis rata-rata meningkatkan produksi sebesar 23,5% dibanding pupuk domba. Pada tanaman pakan jenis rumput Panicum maximum cv Riversdale dan Stylosanthes hamata penggunaan kotoran

kelinci setelah pemotongan ke III hingga ke V dicapai produksi stabil dan optimal. Untuk menjaga produksi tetap optimal setiap 4 kali panen (interval panen 6 minggu) perlu dilakukan pemberian pupuk kelinci. Mutaqiin (2010), menuturkan dalam skripsinya bahwa pupuk kandang kotoran kelinci mempunyai pengaruh terbaik, dibandingkan dengan pupuk kandang sapi dan kambing. Terlihat nyata pada total klorofil daun dan berat buah, dimungkinkan karena pupuk kandang kelinci memiliki nilai N terbesar yaitu 0,07 dibanding sapi 0,82 dan kambing 1,01. Pemberian pupuk cair terlihat nyata pada jumlah klorofil daun. Tabel 5. Komposisi kimia pupuk kelinci dan beberapa jenis ternak (% total) Jenis pupuk Domba Domba Sapi Unggas Kerbau/sapi Guano Kuda N P K 3,0 3,5 2,0 1,5 2,0 1,5 1,5 Ca 5,0 1,47 4,0 4,0 4,0 7,5 1,5 Mg 2,0 0,76 1,0 1,0 1,0 0,5 1,0 0,49 S 1,5 0,52 0,5 2,0 0,5 2,0 0,5 0,36

2,0 1,5 2,45 1,13 2,0 5,0 2,0 8,5 2,0 1,5 3,0 1,5 5,0 1,5

Kelinci 2,62 2,46 1,86 2,08 Sumber: Karama et.al (1991) dalam Sajimin (2003)

Komposisi kimia pupuk kandang kelinci dapat ditingkatkan dengan penambahan probiotik, ini dilakukan untuk mensiasati kuantitas yang masih sedikit dengan meningkatkan kualitasnya. Penelitian Ternak adalah penggunaan kotoran kelinci dengan penambahan probiotik (probion, biovet dan trichoderma) yang dicampurkan untuk membantu proses dekomposisi (Sajimin, 2003). Kandungan unsur hara hasil dekomposisi tertera pada Tabel 6. Tabel 6. Komposisi kimia pupuk kelinci dengan penambahan probiotik Jenis pupuk Kelinci Kelinci + Probion Kelinci + Biovet Kelinci + Trichoderma Sumber: Sajimin, 2003 N 2,62 2,56 2,22 2,06 P 2,46 2,72 2,20 2,28 K 1,86 2,01 1,65 2,11 Ca 2,08 4,78 3,38 2,90 Mg 0,49 0,17 0,96 0,99 S 0,36 0,58 0,44 0,40

15

Demikian potensialnya, pupuk kelinci justru mendapatkan perhatian yang serius sehingga dalam mendesain kandang harus diperhatikan efisienitasnya. Tujuan membuat desain kandang selain untuk menghindari kemubadziran feses dan urin juga untuk tujuan memudahkan pembersihan keduanya. Kesimpulan Ternak kelinci memperikan produk yang bernilai ekonomi berupa daging, kulit-bulu, dan pupuk kandang. Daging kelinci merupakan daging yang sehat kerena rendah lemak dan kolesterol, dengan kadar protein yang tinggi. Hasil sampingan ternak kelinci harus dikelola sebaik mungkin, agar memberikan nilai ekonomi seoptimal mungkin, seperti kualitas kulit (simetris, bersih, utuh) harus dijaga, dan manajemen kotoran (fases dan urine) sebagai pupuk kandang, diolah sebaik mungkin. Penerapan tatalaksana pemberian pakan secara keseluruhan yang meliputi pemilihan jenis bahan pakan, pemenuhan jumlah kebutuhan dan pengaturan kesungguhan pola pemberian dalam pakan secara tepat sangat menuntut pakan peternak melaksanakannya. Bahan-baku

sebaiknya yang tersedia dan mudah diperoleh di daerah pemeliharaan dengan harga murah. Produktivitas ternak kelinci dapat dioptimalkan guna menunjang pengembangan agribisnis ternak kelinci yang efisien dan menguntungkan. Manajemen perkawinan diatur agar panen anak dapat dilakukan sesuai keongginan, panen anak menentukan pemasukan peternak. Manajemen pemeliharaan dapat dilakukan dengan prinsip peternakan terpadu (peternakan dan pertanian) guna mewujudkan peternakan yang ramah lingkungan dan sesuai prinsip zero waste.

Daftar Pustaka Anonim, 2001. Kelinci Ternak Fungsi Ganda. Balai Penelitian Ternak, Ciawi. Cheeke, P. R., N. M. Patton., S.D Lukefar dan J.I. Mc. Nitt. 1978. Rabbit Production. 8th Ed. The Interstate Printers and Publisher, Danville, Illionis. Diwyanto, K., R. Sunarlin, dan P. Sitorus. 1985. Pengaruh persilangan terhadap karkas dan preferensi daging kelinci panggang. Jurnal Ilmu dan Peternakan 1 (10):427-430. Ensminger, M.E., J.E. Oldfield dan W.Heinemann. 1990. Feeds and Nutrition. 2nd Ed. The Ensminger Publishing Co., Clovis. Farrel, D.J. dan Y.C.Raharjo. 1984. Potensi ternak Kelinci sebagai Penghasil Daging. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. Forrest, J.C., E.D. Aber LE, H.B. Hendrick, M.D. Judge and R.A. Merkel. 1975. Priciples of Meat Science. W.H. Freeman and Co., San Fransico. Harsojo, D. dan C.K Sri Lestari. 1988. Pengaruh bobot badan kelinci persilangan jantan akibat perbedaan waktu pemberian pakan. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Forum Peternak Unggas dan Aneka Ternak II. Balai Penelitian Ternak, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian. Karama, A.S., A.R. Marzuki dan I. Manwan. 1991. Penggunaan Pupuk Organik pada Tanaman Pangan. Pros. Lokakarya Nasional Efisiensi penggunaan pupuk V. Cisarua. Puslittanak. Bogor. Lawrie, R.A. 1995. Ilmu Daging. Diterjemahkan oleh Aminudin Parakkasi, UI-Press, Jakarta. Lestari Sri C.M., E. Purbowati dan T. Santoso. 2001. Penelitian Budidaya Kelinci Menggunkan Pakan limbah Industri Pertanian Sebagai Salah Satu Alternatif. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. Muslih, D., I. W. Pasek., Rossuartini dan B Brahmantiyo. 2004. Tatalaksana Pemberian Pakan Untuk Menunjang Agribisnis Ternak Kelinci. Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Kelinci. Balai Penelitian Ternak. Bogor. 17

Muttaqiin, Zainal. 2010. Pengaruh Kombinasi Pupuk Kandang Dengan Pupuk Cair Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Mentimun (Curcuma sativus L.) Skripsi Tidak Diterbitkan. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Malang. Raharjo, Y.C. 2004. Prospek, Peluang dan Budidaya Ternak Kelinci. Seminar Nasional Prospek Ternak Kelinci Dalam Peningkatan Gizi Masyarakat Mendukung Ketahanan Pangan, Bandung. Romaskan, Afandie dan Yuwono, Nasih Widya. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta. Sajimin, Y.C. Raharjo dan N.D. Purwantari, 2003. Potensi Kotoran Kelinci Sebagai Pupuk Organik dan Pemanfaatannya pada Tamanam Pakan dan Sayuran. Lokakarya Nasional Potensi dan Pengembangan Usaha Agribisnis Kelinci. Balai Penelitian Ternak. Bogor. Sartika, T. 1995. Komoditi Kelinci Peluang Agribisnis Peternakan. Semianar Nasional Agribisnis Peternakan dan Perikanan pada Pelita VI. Media Edisi Khusus :397-398. Sitorus, P., S. Soediman, Y.C. Raharjo, I.G. Putu Santoso, B. Sudaryanto dan A. Nurhadi. 1982. Laporan Budidaya Peternakan Kelinci di Jawa Barat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. Suradi, Kusmajadi. 2003. Potensi dan Peluang Teknologi Pengolahan Produk Kelinci. Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Agribisnis Kelinci. Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran. Sumedang. Templeton, G.S. 1968. Domestic Rabbit Production. He Interstate Printers and Pub. Danville, Illionois. Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, dan S. Lebdosoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Yurmiyati, H. 1991. Pengaruh Pakan, Umur Potong Dan Jenis Kelamin Terhadap Bobot Hidup, Karkas dan Sifat Dasar Kulit Kelinci Rex. Desertasi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.