Anda di halaman 1dari 27

PERCOBAAN II

Judul Percobaan Tujuan Percobaan Hari / Tanggal Tempat : HALOGEN : Membandingkan Sifat dan Reaksi Unsur Halogen. : Kamis / 22 Maret 2012 :Laboratorium Kimia PMIPA FKIP Unlam Banjarmasin.

I.

DASAR TEORI Unsur halogen termasuk unsur non logam yang paling reaktif dan mempunyai konfigurai elektron terluar ns2 np5. Unsur-unsur halogen mempunyai sifat sangat reaktif. Hal ini berkaitan erat dengan konfigurasi elektronnya.

SIFAT FISIS HALOGEN a. Halogen (X) dalam bentuk unsur terdapat sebagai molekul diatomik (X2). Kestabilan molekul ini berkurang dari F2 ke I2. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya jari-jari atom dari atas ke bawah (F ke I) sehingga ikatan dari F2 ke I2 berkurang. b. Molekul X2 akan terdisosiasi menjadi atom-atomnya karena adanya pemanasan. X2(g) 2X(g)

c. Titik cair dan titik didih meningkat dari atas ke bawah (dari F ke I). Hal ini karena molekul halogen bersifat nonpolar sehingga mempunyai gaya tarikmenarik antar molekul yang berupa gaya dispersi (gaya london) yang bertambah besar sesuai dengan bertambahnya massa molekul. d. Pada suhu kamar, fluorin dan klorin berwujud gas. Fluorin berwarna kuning muda dan klorin berwarna hijau muda. Bromin berwujud cair, mudah menguap, dan berwarna merah tua. Iodin berwujud padat dan mudah menguap/menyublim karena mempunyai tekanan uap yang tinggi. Iodin padat berwarna hitam, sedangkan uap iodin berwarna ungu. Dimana dalam kondisi SATP, F berupa gas tidak berwarna, klorin berupa gas hijau pucat,

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 38

bromin berupa cairan minyak coklat dan iodine berupa padatan hitam metalik. e. Semua halogen berbau merangsang dan menusuk. Kelarutan halogen dalam air berkurang dari fluor ke iodin. fluorin tidak hanya lart dalam air, tetapi segera bereaksi membentuk HF dan O2, sehingga dalam larutan tidak ada lagi molekul F2. Iodine sukar larut dalam air, tetapi mudah larut dalam larutan iodida (I-) dan poliiodida (I3-). Halogen lebih mudah larut dalam pelarut non polar seperti CCl4 dan CHCl3. f. Fluorin tidak hanya larut dalam air, tetapi segera bereaksi membentuk HF dan O2 sehingga dalam larutan tidak ada lagi molekul F2. g. Iodin sukar larut dalam air, tetapi mudah larut dalam larutan iodida (I-) dan poliiodida (I3-). h. Larutan halogen juga berwarna. Larutan klorin berwarna hijau muda, larutan bromin berwarna cokelat merah, sedangkan larutan iodin berwarna cokelat. i. Halogen lebih mudah larut dalam pelarut nonpolar seperti karbon tetraklorida atau kloroform (CHCl3). Dalam pelarut tak beroksigen seperti CCl4 dan CHCl3, iodin berwarna ungu.

SIFAT KIMIA HALOGEN

a. Dalam golongan halogen, jari-jari atom bertambah besar dari atas ke bawah sehingga afinitas elektron berkurang. Namun, terjadi penyimpangan yaitu afinitas elektron menurun dari klorin ke iodin, tetapi afinitas fluorin lebih kecil daripada klorin. Hal ini disebabkan karena ukuran atom F yang sangat kecil sehingga ada gaya tolak antara elektron-elektron dari F sendiri dan elektron yang akan diikat. Gaya tolak tersebut menyebabkan nilai afinitas elektron berkurang. Namun, bila energi ionisasi F lebih besar daripada atom Cl, sehingga kereaktifan halogen dari atas ke bawah tetap berkurang. b. Halogen dapat bereaksi dengan unsur-unsur lain. Reaksi-reaksi halogen sebagai berikut: 1) Reaksi Dengan Hidrogen Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 39

Semua halogen bereaksi dengan hidrogen membentuk hidrogen halida (HX). Pada suhu kamar halogen berwujud gas. Fluorin dan klorin bereaksi dengan hebat disertai ledakan tetapi bromin dan iodin bereaksi lambat. Kekuatan asam halida yang terbentuk dari atas ke bawah semakin kuat. Reaksi : H2 + X2 2) 2 HX

Reaksi Dengan Hidrokarbon Reaksi yang terjadi adalah substitusi dimana halogen akan

menggantikan atom hidrogen pada hidrokarbon. Fluorin bereaksi sangat hebat, tetapi iodin tidak bereaksi. Reaksi : CxHy + X2 3) Reaksi Dengan Air CxHy-1 + HX

Fluorin akan bereaksi hebat dengan air membentuk HF dan membebaskan oksigen. F2 + H2O 2HF + O2

Iodin sukar larut dalam air sedangkan halogen selain iodin dan fluorin akan mengalami reaksi disproporsionasi dalam air menurut reaksi kesetimbangan berikut: X2 4) + H2 O HX + HXO

Reaksi dengan logam Halogen bereaksi dengan sebagian besar logam, menghasilkan klorida

logam dengan bilangan oksidasi tertinggi. Misal : 2Fe + 3Cl2 2FeCl3 5) Reaksi dengan non logam dan metaloid tertentu Misal : Si + X2 SiX4 Reaksi dengan posforus, arsen dan antimony menghaslikan trihalida jika halogennya terbatas atau pentahalida jika halogennya berlebih.

6)

Reaksi dengan basa Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 40

Klorin, bromin dan iodin mengalami reaksi disproporsionasi dalam basa. Misal: jika klorin dialirkan kedalam larutan NaOH pada suhu kamar, maka akan bereaksi membentuk NaCl dan NaClO. Cl2 (g) + 2NaOH (aq) NaCl (aq) + NaClO (aq) + H2O (l) Apabila larutan NaOh tersebut dipanaskan maka akan dihasilkan NaCl dan NaClO3. 7) Reaksi antar halogen

Halogen dengan halogen bereaksi membentuk senyawa antar halogen. X2 + nY2 2XYn dimana: Y = halogen yang lebih elektronegatif n = bilangan ganjil 1,3,5 atau 7

Halogen merupakan oksidator yang kuat. Daya pengoksidasi halogen meningkat dengan berkurangnya nomor atom sehingga iodin merupakan pengoksidasi terlemah dan yang terkuat adalah fluorin. Daya ion halida (X-) bertambah dengan bertambahnya nomor atom. Ion iodida (I-) merupakan reduktor yang terlemah. Daya reduksi ion halida dapat dibandingkan dengan mereaktifkan NaCl (Cl-), NaBr (Br-), dan KI (I-) dengan besi (II) sulfat (Fe3+). Ion I- dan Br- dapat mereduksi ion Fe3+, sedangkan ion Cl- tidak dapat mereduksi Fe3+ menjadi ion Fe2+ sehingga dapat dikatakan bahwa ion I- dan Br- adalah pereduksi yang lebih kuat dari ion Cl-. Daya oksidasi halogen dapat dibandingkan dari data potensial standar (Eo) yang dimiliki. Harga Eo untuk reduksi halogen, sebagai berikut: F2 + 2e Cl2 + 2e Br2 + 2e I2 + 2e 2F2Cl2Br2IE = +2,87 V E = +1,36 V E = +1,07 V E = +0,54 V

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 41

Makin positif harga potensial elektrode, makin mudah elektrode tersebut mengalami reduksi (merupakan oksidator kuat) sehingga dari I2 ke F2 daya oksidasi bertambah besar. Halogen bagian atas dapat mengoksidasi halogen yang ada di bawahnya. Oleh karena itu, halogen bagian atas dapat mendesak halogen bagian bawah dari senyawa.

PEMBUATAN HALOGEN Pembuatan unsur halogen dalam skala laboratorium yaitu dengan cara mengoksidasi senyawa halidanya. Dalam skala laboratorium, gas fluor (F2) jarang dibuat karena tidak ada oksidator yang mampu mengoksidasi senyawa fluorida. Selain itu gas fluor bersifat racun. Unsur-unsur klorin, bromin, dan iodin dihasilkan dari oksidasi terhadap senyawa halida dengan MnO2 atau KMnO4. Reaksinya sebagai berikut: 2X- + MnO2 + 4H+ 10X- + 2MnO4- + 4H+ X2 + Mn2+ + 2H2O + 8H2O 5X2 + 2Mn2+

Gas diklorin sangat mudah dipreparasi dalam laboratorium dengan menambahkan asam hidroklorida pekat pada padatan kalium permanganat, klorida dioksidasi menjadi klorin dan ion permanganat direduksi menjadi mangan (II), menurut persamaan reaksi : 2H3O+(aq) + + 5e
-

2 HCl(aq) + 2H2O(l) MnO4-(aq) + 2H3O


+ (aq)

Cl2(g)

+ 2e-

x5 x2

Mn

2+

(aq)

+ 12H2O(l)

MnO4-(aq) + 10HCl(aq) + 10H3O+(aq)

Mn2+(aq) + 5Cl2(g) + 12H2O(l)

KEGUNAAN UNSUR DAN SENYAWA HALOGEN Adapun kegunaan unsur dan senyawa halogen antara lain adalah sebagai berikut: 1. Fluorin, digunakan untuk membuat senyawa CFC dengan nama Freon yaitu cairan pendingin pada AC dan kulkas. Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 42

2.

Garam fluoride ditambahkan pada pasta gigi atau air minum untuk mencegah kerusakan gigi.

3.

Klorin digunakan untuk klorinasi hidrokarbon untuk bahan baku industri plastik, karet sintetik, pembuatan CCl4 dan C2H5Cl untuk bahan TEL.

4. 5. 6.

NaCl sebagai garam dapur. Natrium bromida digunakan sebagai obat penenang syaraf. Iodin digunakan sebagai bahan obat-obatan dan juga digunakan untuk membuat AgI yang digunakan dengan AgBr dalam film fotografi.

II.

ALAT DAN BAHAN Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Tabung reaksi pyrex Rak tabung reaksi Pipet tetes Spatula Penjepit tabung reaksi Pembakar Bunsen (spritus) Kaki tiga Gelas ukur 10 ml 3 buah 1 buah 2 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Mangan(IV) oksida Kertas indicator universal Natrium hidroksida Kalium permanganate Kristal iod Air klor Sumber H2S Aquades Kalium iodide Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 43

10. 11. 12. 13.

Asam klorida pekat Larutan besi(II) sulfat 1M Kalium bromide Besi (II) sulfide

III.

PROSEDUR KERJA A. Pembuatan Halogen Pembuatan halogen didasarkan atas oksidasi ion halida, 2 XX2 + 2e

Reaksi antara mangan(IV) oksida atau kalium permanganat dengan asam klorida pekat 1. 2. 3. Memanaskan 5 mL asam klorida pekat dengan 2 spatula MnO2. Meneteskan 5 tetes asam klorida pekat pada setengah spatula KMnO4. Membandingkan reaksi antara MnO2 dan KMnO4 sebagai oksidator dalam kedua percobaan di atas.

B. Sifat Kimia Halogen Eksperimen 1 : Reaksi Halogen dengan Air 1. Mengalirkan gas klor kedalam 5 ml air beberapa detik. Menguji pH larutan dengan kertas indikator. 2. Mengocok satu buah kristal iod dengan air dalam tabunga reaksi sehingga Iod melarut.

Eksperimen 3 : Halogen Sebagai Oksidator a. 1. Reaksi dengan Hidrogen Sulfida (H2S) Mengalirkan H2S dengan 3 mL Air klor. Membandingkan hasil reaksi dengan Air Klor yang jernih.

b. Reaksi Besi (II) Sulfat. 1. Memasukkan 3 mL larutan besi (II) sulfat kedalam 2 tabung reaksi. Menambahkan 3 mL Cl2(aq) ke dalam tabung reaksi yang satu dan Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 44

tabung yang lainnya dengan 3 mL air. Tabung reaksi kedua digunakan sebagai pengontrol. 2. Memeriksa apakah ion Fe2+ dapat dioksidasi menjadi Fe3+ dengan menambahkan 1 mL larutan NaOH kedalam setiap tabung reaksi.

Eksperimen 4 : Kereaktifan Relatif Halogen Sebagai Zat Pengoksidasi. 1. Memeriksa pengaruh reaksi Cl2(aq) pada : a. b. KBr (aq) KI (aq)

IV.

HASIL PENGAMATAN A. Pembuatan Halogen No. 1. Perlakuan Hasil Pengamatan

Mencampurkan 2 spatula MnO2 + Larutan yang terbentuk berwarna 5 mL HCl pekat hijau kehitaman, terdapat gelembung gas, serta timbul bau yang menyengat seperti bau zat pemutih pakaian.

2.

Memanaskan campuran MnO2 + Timbul HCl pekat dengan spiritus

gelembung-gelembung

pembakar gas, dan warna larutan menjadi bening (lebih muda dari warna hijau kehitaman) serta terbentuk endapan yang berwarna hijau.

3.

Mencampurkan

spatula Larutan berwarna hitam pekat.

KMnO4 + 5 tetes HCl pekat

B. Sifat Kimia Halogen No. Perlakuan Hasil Pengamatan

Eksperimen 1. Reaksi Halogen dengan

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 45

Air 1. Membuat air klor, dengan Air klor berwarna bening.

mencampurkan KMnO4 + HCl pekat Menguji pH air klor Kertas lakmus biru dan merah menjadi berwarna putih. 2. 1 buah Kristal iod (I2) + 5 mL air, Kristal iod berwarna perak. mengocok larutan hingga kristal Setelah iod melarut Mengukur Ph mengocok larutan, warna air menjadi coklat yang sangat muda. pH larutan = 5 (suasana asam). Eksperimen Oksidator A. Reaksi dengan hydrogen 2. Halogen sebagai

sulfida 1. Membuat gas H2S dari campuran Larutan FeS + HCl pekat 2. hasil pencampuran

berwarna bening.

Mengalirkan gas H2S ke dalam 3 Air klor berwarna bening,setelah mL air klor dialiri gas H2S, pada larutan air klor timbul gelembung gas, bau yang menyengat serta larutan menjadi keruh.

3.

Membandingkan

larutan

yang Air klor yang jernih = bening

telah dialiri gas H2S dengan air Air klor + H2S = keruh klor yang jernih

B. Reaksi dengan Besi (II) Sulfat Tabung Reaksi I 3 mL larutan besi (II) sulfat + 3 Larutan berwarna bening. mL Cl2 (aq)

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 46

Tabung Reaksi II 3 mL larutan besi (II) sulfat + 3 Larutan berwarna bening. mL air Eksperimen 3. Kereaktifan Relatif

Halogen sebagai Zat Pengoksida 1. 1 mL KBr (aq) + 4 tetes Cl2 (aq) KBr (aq) = bening Cl2 (aq) = bening Setelah dicampurkan larutan menjadi berwarna kuning muda 2. 1 mL KI (aq) + 4 tetes Cl2 (aq) KI (aq) = bening Cl2 (aq) = bening Setelah dicampurkan larutan tetap berwarna bening

V.

ANALISIS DATA A. Pembuatan Halogen Pada percobaan yang pertama, 2 sendok spatula MnO2 ditambah dengan 5 mL asam klorida pekat, menghasilkan campuran berupa larutan yang berwarna hijau kehitaman dan terbentuk gelembung gas serta bau yang menyengat, seperti bau zat pemutih pakaian. Gelembung gas dan bau yang menyengat ini

menunjukkan adanya gas klor (Cl2). Larutan yang terbentuk kemudian dipanaskan, hasil dari proses pemanasan adalah terbentuk endapan yang berwarna hijau serta warna larutan menjadi bening (tidak seperti warna larutan sebelum dipanaskan). Tujuan dilakukannya proses pemanasan adalah untuk menghasilkan klor (Cl2) dengan mengoksidasikan HCl pekat. Reaksi yang terjadi: 4HCl (l) + MnO2 (s) MnCl2 (s) + Cl2 (g) + 2H2O (aq) -1 +4 reduksi oksidasi +2 0

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 47

Endapan yang terbentuk tersebut merupakan endapan MnCl2. Dari persamaan di atas, dapat diketahui bahwa ion Cl- pada HCl mengalami oksidasi menjadi Cl2 dan Mn4+ pada MnO2 mengalami reduksi menjadi MnCl2. Reaksi ini merupakan reaksi yang tidak spontan. Hal ini terlihat dari harga E0 selnya seperti berikut ini: Reduksi:MnO2 + 4H+ + 2e Mn2+ + 2H2O Oksidasi: 2ClCl2 + 2e MnO2 + 4H+ + 2Cl- Mn2+ + 2H2O + Cl2 E0 = +1,23 V E0 = -1,36 V + E0 = -0,13 V

Nilai E0 negatif, menunjukkan bahwa reaksi tidak berlangsung spontan. Agar reaksi bias berlangsung spontan, maka dapat dilakukan dengan mengubah kondisi reaksi dengan melakukan pemanasan tadi. Pemanasan yang dilakukan dapat menaikkan suhu dan ini akan berpengaruh terhadap cepatnya reaksi yang terjadi. Yang secara fisika, pemanasan bertujuan untuk menaikkan energi kinetik partikel-partikel sehingga frekuensi tumbukan semakin besar yang menyebabkan bertambahnya kecepatan reaksi. Selanjutnya, pembuatan halogen yang kedua dengan cara mereaksikan setengah (1/2) sendok spatula KMnO4 dengan 5 tetes HCl pekat, karena larutan yang terbentuk adalah hitam pekat, dan ada bau yang menyengat meskipun tidak setajam bau saat pereaksian HCl dan MnO2. Dalam pereaksian KMnO4 dan HCl ini juga menghasilkan gas klor (Cl2). Reaksi yang terjadi: 2KMnO4 (aq) + 16HCl (aq) 2MnCl2 (s) + KCl (aq) + 5Cl2 (g) +7 -1 +2 0

reduksi

oksidasi

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa ion Cl- pada HCl akan dioksidasi menjadi gas Cl2 dan Mn7+ dalam KMnO4 akan mereduksi menjadi Mn2+ dalam MnCl2. Reaksi ini berlangsung secara spontan sehingga tidak diperlukan proses

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 48

pemanasan. Bukti dari reaksi tersebut berlangsung spontan dapat dilihat dari harga E0 sel berikut: Reduksi:MnO4- + 16H+ + 10e Oksidasi: 2Cl2MnO4- + 16H+ + 10Cl 2Mn2+ + 8H2O Cl2 + 2e E0 = +1,51 V E0 = -1,36 V

2Mn2+ + 8H2O + 5Cl2 E0 = + 0,15V

2 K+ + 2 MnO4- + 10 H+ + 10 Cl- + 4 Cl- 2 Mn2+ + 8 H2O + 5 Cl2(g) + 4 ClKMnO4- + 16 HCl2 MnCl2 + 5 Cl2 + 8 H2O Spontan tidaknya suatu reaksi dapat dilihat dari kualitas dan kecepatan terbentuknya gas Cl2, secara teoritis dapat dari potensial reduksinya. Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa KMnO4 mengoksidasi ion Cl- menjadi Cl2 lebih cepat dari MnO2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa KMnO4 merupakan oksidator yang lebih kuat daripada MnO2. B. Sifat Kimia Halogen Eksperimen 1. Reaksi Halogen dengan Air Percobaan diawali dengan pembuatan air klor. Air klor dibuat dari pereaksian antara KMnO4 dengan HCl pekat. Dari reaksi ini dihasilkan gas klor (Cl2) menurut persamaan reaksi: 2 KMnO4 (aq) + 16 HCl (aq) 2 MnCl2 (s) + KCl (aq) + 5 Cl2 (g) Kemudian, gas klor yang dihasilkan ini dialirkan ke dalam air melalui pipa penyalur, sehingga akan diperoleh air klor. Air klor yang dihasilkan, pH-nya tidak dapat diukur karena pereaksian klor dengan air secara termodinamika dapat terjadi, tetapi berlangsung secara lambat karena memiliki energi aktifitas yang tinggi, hal ini (tidak terukurnya pH) juga dikarenakan terdapatnya ion positif H3O+ yang bereaksi dengan ion Cl-. Tidak terdeteksinya pH diperlihatkan pada perubahan kertas lakmus (merah dan biru) menjadi putih. Persamaan reaksi yang terjadi jika air klor direaksikan dengan air: Cl2 (aq) + 2 H2O (l) H3O+ (aq) + Cl- (aq) + HClO (aq)

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 49

Selanjutnya, untuk mengetahui reaksi halogen dengan air, juga dilakukan proses pencampuran kristal iod sebanyak satu buah ke dalam 5 mL air pada tabung reaksi. Kemudian mengocok campuran tersebut hingga iod melarut. Warna larutan yang terbentuk adalah coklat yang sangat muda, dengan pH = 5 (suasana asam). Persamaan reaksi yang terjadi: 3 I2 (aq) + 9 H2O 5 HI (aq) + HIO3 (aq) Proses pelarutan Kristal ion ini membutuhkan waktu yang relatif lama. Warna pereaksian menunjukkan masih terdapatnya sebagian besar halogen yang belum homogen dengan air. Secara teoritis diketahui bahwa kelarutan halogen dalam air akan semakin berkurang dari atas ke bawah dalam satu golongan. Iod sukar larut dalam air, tetapi mudah larut dalam iodida.

Eksperimen 2. Halogen sebagai Oksidator A. Reaksi dengan Hidrogen Sulfida Dalam percobaan ini, diawali dengan pembuatan gas H2S, dengan mereaksikan besi sulfide dengan asam klorida pekat. Pada pereaksian ini dihasilkan gas yang berbau sangat menyengat. Reaksinya: FeS + 2 H+ H2S + Fe2+ H2S merupakan gas racun kuat serta berbau tajam. Selanjutnya, gas H2S yang dihasilkan ini dialirkan ke dalam 3 mL air klor, mengakibatkan larutan menjadi keruh, berbau menyengat, dan terdapat gelembung pada air klor. Persamaan reaksinya: Cl2 (aq) + H2S 2 HCl + S Dalam hal ini Cl2 mengoksidasi ion S2- pada H2S menjadi S. Larutan berwarna keruh menunjukkan tingkat konsentrasi endapan sulfur yang dihasilkan. Persamaan reaksinya adalah Cl2 (aq) + H2S (g) 2 HCl (aq) + S (s) 0 reduksi oksidasi Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 50 -2 -1 0

Saat dibandingkan dengan air klor yang jernih sangat jelas terlihat perbedaannya, di mana untuk air klor yang dialiri H2S menjadi keruh daripada yang tidak dialiri dengan H2S. B. Reaksi dengan Besi (II) Sulfat Pada percobaan yang dilakukan, memasukkan 3 mL larutan besi (II) sulfat ke dalam dua buah tabung reaksi. Di mana untuk tabung I, besi (II) sulfat ditambah dengan 3 mL Cl2 (aq) menghasilkan larutan yang berwarna bening, begitu pula saat ditambahkan dengan 1 mL NaOH, larutan tetap berwarna bening tanpa ada reaksi apapun. Sedangkan untuk larutan besi (II) sulfat pada tabung II ditambah dengan 3 mL air menghasilkan larutan yang berwarna bening. Tabung II ini dijadikan sebagai pengontrol/ pembanding. Selanjutnya ditambahkan dengan 1 mL NaOH pada larutan dalam tabung reaksi II, ternyata larutan tetap berwarna bening dan tidak terjadi reaksi. Penambahan NaOH ini bertujuan untuk menguji apakah terjadi oksidasi Fe2+ menjadi Fe3+. Dari percobaan ini dapat diketahui bahwa ternyata tidak terjadi oksidasi Fe2+ menjadi Fe3+ baik pada tabung I maupun tabung II. Padahal saat dihitung, harga E0 dari reaksi pada tabung I bernilai positif, sehingga reaksi tersebut berlangsung spontan, yang semestinya terjadi perubahan terhadap larutan yang diamati. Reaksi yang terjadi : Tabung I Oksidasi Reduksi : 2 Fe2+ 2 Fe2+ + Cl2 Tabung II Oksidasi Reduksi : 2 Fe2+ 2 Fe2+ + 2H2O 2 Fe3+ + 2e H2 + 2 OH E0 = - 0,77 V E0 = - 0,83 V + 2 Fe3+ + 2e E0 = - 0,77 V 2 ClE0 = + 1,36 V + E0 = + 0,59 V 2 Fe3+ + 2Cl-

: Cl2 + 2e

: 2 H2O + 2e

2 Fe3+ + 2Cl- E0 = - 1,60 V

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 51

Nilai E0 pada tabung II bernilai negatif, artinya reaksi tidak berlangsung secara spontan. Dari perhitungan nilai E0 dari ke dua reaksi yang terjadi, dapat diketahui bahwa klor dapat mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+, karena klor merupakan zat pengoksidasi yang kuat. Walaupun dari percobaan yang dilakukan tidak teramati perubahan yang terjadi, dikarenakan reaksi yang terjadi berlangsung cepat. Sedangkan pada tabung II juga tidak terjadi perubahan terhadap warna larutan, namun Fe2+ tetap dioksidasi menjadi Fe3+. Tidak adanya perubahan yang terjadi dikarenakan reaksi yang ada berlangsung tidak spontan, sehingga diperlukan kondisi-kondisi khusus semisal dipanaskan untuk mengetahui perubahan yang terjadi.

Eksperimen 3. Kereaktifan Relatif Halogen sebagai Zat Pengoksida Pada percobaan ini, tahap pertama mereaksikan 1 mL KBr dengan 4 tetes Cl2 (aq), menghasilkan larutan yang berwarna kuning muda. Reaksi yang terjadi: Cl2 (aq) + 2 KBr 2 KCl (aq) + Br2 (aq) Dari reaksi terlihat bahwa Cl lebih reaktif dari Br. Tahap selanjutnya adalah mereaksikan 1 mL KI dengan 4 tetes Cl2 (aq), menghasilkan larutan yang berwarna bening. Reaksi yang terjadi: Cl2 (aq) + 2 KI (aq) 2 KCl (aq) + I2 (aq) Dari reaksi juga terlihat bahwa Cl lebih reaktif dari I. Reaktifitas halogen berkurang dari F ke I, dikarenakan keteraturan sifatsifat atomnya yaitu jari-jari atom dan electron. Untuk mengetahui tingkat oksidasi suatu unsur dapat dilihat dari harga potensial elektronnya, semakin positif nilai E0, maka semakin tinggi daya oksidasinya. Berikut nilai E0 dari unsur halogen: F2 + 2e 2 FCl2 + 2e 2 ClBr2 + 2e 2 BrI2 + 2e 2 IE0 = + 2,87 V E0 = + 1,36 V E0 = + 1,07 V E0 = + 0,54 V Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 52

VI.

KESIMPULAN Adapun kesimpulan ynag dapat di tarik dari hasil percobaan halogen yang dilakukan adalah : 1. Halogen dapat dibuat dengan cara mereaksikan HCl pekat dengan MnO2 melalui pemanasan dan dengan KMnO4 tanpa pemanasan. 2. Sifat fisik halogen yang paling mudah diamati adalah warna-warna unsur halogen yaitu F = kuning muda, Br = merah kecoklatan, dan I = violet kehitaman. 3. Halogen dapat bereaksi dengan FeSO4 dan dapat mengoksidasi Fe (II) menjadi Fe (III). 4. Halogen bersifat sebagai zat pengoksidasi yang sangat kuat. Cl2 dapat mengoksidasi Br- dan I-, Br2 dapat mengoksidasi I-, tetapi Br2 tidak dapat mengoksidasi Cl-. 5. Unsur-unsur halogen merupakan unsure-unsur yang sangat reaktif karena merupakan unsure-unsur yang mudah dioksidasi. 6. Semakin positif nilai E0, semakin tinggi daya oksidasi, begitu pula sebaliknya. Sehingga daya oksidasi halogen berkurang dari F ke I. 7. Reaktivitas halogen bergantung pada sifat-sifat atomnya, yaitu jari-jari atom dan electron.

VII.

DAFTAR PUSTAKA
Cotton, F. Albert. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI Hani, Afifa Rahma.dkk. 2008. Laporan Praktikum Kimia.

http://www.scribd.com. (Online). Diakses pada hari Senin, 19 Maret 2012 Hiskia, Ahcmad. 1997. Kimia Unsur dan Radio Kimia. Bandung: ITB Mahdian dan Parham Saadi. 2012. Panduan Praktikum Kimia Anorganik. Banjarmasin : FKIP UNLAM Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: PT Erlangga

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 53

Saito, Taro. 1996. Buku Teks Kimia Anorganik. Tokyo: Iwanami Shoten Publisher Sudarmo, Unggul. 2004. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: PT Erlangga Sunardi. 2008. Kimia Bilingual untuk SMA/MA Kelas XII. Bandung: Yrama Widya

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 54

LAMPIRAN JAWABAN PERTANYAAN


1. Ketika direaksikan i mL HCl pekat degan sesendok kecil MnO2, menghasilkan gelembung naik ke atas, tabung panas dan warna larutan hijau lumut. Setelah dipanaskan terbentuk larutan pakatberwarna hijau tua kehitam-hitaman. Persamaan reaksinya adalah : 4HCL (aq) + MnO4 (s) 2. Persamaan reaksi yang terjadi adalah : KMnO4 (aq) + 4HCl (aq) + 4H+ + 4e3. Reaksi dengan MnO2 Mn2+ + Cl2 (g) + 2H2O (l) + 2 Cl+2 0 reduksi oksidasi MnCl2 (s) + KCl (aq) + Cl2 (ag) + 4H2O (l) 4HCl (aq) + MnO2 (s) +4 -1 MnCl2 (s) + Cl2 (g) + 2H2O (l)

Reduksi : MnO2 + 4H+ + 2eOksidasi : 2ClMnO2 + 4H+ + 2 ClMnO2 + 4H+ + 2Cl- + 2ClMnO2 + 4HCl Reaksi dengan KMnO4 2KMnO4 (s) + 16 HCl (aq) +7 -1 reduksi

Mn2+ + 2H2O Cl2 + 2e

E0 = 1,23 V E0 = -1,36 V E0 = -0,13 V

Mn2+ + 2H2O + Cl2 Mn2+ + 2H2O + Cl2 MnCl2 + Cl2 + 2H2O

2MnCl2 + KCl (aq) + Cl2 (g) 0 +2 oksidasi

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 55

Reduksi : 2MnO4- + 16H+ + 10eOksidasi : 10Cl-

2Mn2+ + 8H2O 5Cl2 + 10e Mn2+ + 8H2O + 15Cl2

E0 = 1,51 V E0 = -1,36 V E0 = 0,15 V

2 MnO4- + 16H+ + 10Cl2K+ + 2 MnO4- + 16H+ + 10ClKMnO4 + 16HCl

Mn2+ + 8H2O + 15Cl2 + 6 Cl- + 2 K+ 2MCl2 +15Cl2 + 8H2O +2 KCl

KMnO4 merupakan oksidator yang paling besar dbandingkan dengan MnO4. Harga potensial dari MnO4- adalah 1,51, sedangkan MnO2 yaitu 1,23 V. MnO4- + 8H+ + 5eMnO2 + 4H+ + 2eMn2+ + 4H2O Mn2+ + 2H2O E0 = 1,51 V E0 = 1,24 V

4. Ion-ion halida menurut urutan dalam mudahnya oksidasi adalah : 2F- (aq) 2Cl- (aq) 2Br- (aq) 2I(aq) E0 = +2,87 V E0 = +1,36 V E0 = +1,07 V E0 = +0,54 V

Fe2 (g) + 2e Cl2 (g) + 2e Br2 (g) + 2e I2 (s) + 2e

Makin positif harga potensial elektrode, maka spesi ini makin mudah mengalami reduksi, berarti merupakan pengoksidasi kuat. Jadi, fluorin merupakan oksidator terkuat, sedangkan I- merupakan oksidator terlemah. 5. Ion halida mudah dioksidasi dibandingkan dengan yang lain karena nilai afinitas elektronnya yang lebih kecil dibandingkan nilai energi ionisasinya, maka akan lebih mudah bagi halogen untuk menyerap 1e- dibandingkandengan melepas 1e-. Nilai afinitas elektron yang tergolong rendah menunjukkan bahwa halogen mudah dioksidasi atau bersifat sangat reaktif.

6. No 1 2

Tabel sifat fisik halogen Sifat Warna Wujud (250C) Flourin Kuning Gas Klomin Hijau Gas Bromin Merah Cair Iodin Violet Padat

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 56

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Titik Leleh (oC) Titik didih (oC) Kerapatan g/cm3 Kelarutan g/L Massa Atom Jari-jari Atom Pm Jari-jari Ion Pm Kelektronegatifan Energi Ionisasi Kj/mol Energi ikatan X-X Kj/mol

- 220 - 188 1,1 bereaksi 19 72 136 4,0 1680 258

- 100 - 35 1,5 20 35,5 99 180 3,0 1260 242

-7 59 3,0 42 80 115 195 2,8 1140 193

113 183 5,0 3 127 133 216 2,5 1010 151

13

Energi Ikatan H-X Kj/mol

562

431

366

299

7.

Kecenderungan yang terlihat dari sifat fisik halogen jika massa atom relatif bertambah adalah: - Dari atas kebawah dalam satu golongan halogen, titik leleh dan titik didih akan semakin meningkat. - Dari atas kebawah dalam satu golongan halogen, kerapatan akan semakin besar.

8. 9.

Air klor dapat dibuat dengan mengalirkan gas klor kedalam air. Kedua asam tersebut adalah asam klorida dan asam hipoklorit (HClO) Persamaan reaksi yang terjadi adalah: Cl2(aq) + 2H2O(l) H3O+(aq) + Cl-(aq) + HClO(aq)

10. Cl2 dan Br2 lebih mudah larut dalam air sedangkan iodin sukar larut dalam air. 11. Kegunaan gas klor sebagai zat pengelantang adalah karena gas klor dalam air sebagai agen pembersih/pemutih sebenarnya lebih diperankan oleh aktivitas oksidan ion hipoklorittersebut dari pada molekul diklorin sendiri. 13. Air klor direaksikan dengan H2S akan mengakibatkan larutan yang semula bening menjadi keruh. Reaksinya : 2H2S (g) + 2Cl2 (aq) 4HCl (aq) + S Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 57

14. Pada Br2 yang dialirkan gas H2S larutan keruh dan berwarna orange terang sedangkan Cl2 dialirkan gas H2S hanya berwarna keruh. 15. Yang disebut pengontrol adalah lartan yang digunakan sebagai pembanding. 16. a) Pada tabung reaksi I, larutan berwarna kuning b) Pada tabung reaksi II, larutan berwarna bening (pengontrol) 17. Bukti yang dapat dilihat adalah perubahan warna larutan dari bening menjadi agak kekuningan. 18. Persamaan reaksi yang terjadi antara Cl2 dan FeSO4 adalah: Cl2 + FeSO4 19. Reaksi dari Br(aq) oksidasi : 2Fe2+ reduksi : Br2 + 2e2Fe2+ + Br 2Fe3+ + 2e2Br2 Fe3+ + 2BrE0 = -0,77 V E0 = +1.07 V E0 = +0,3 V FeCl3

Dari harga E0sel yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa reaksi ini berlangsung spontan. Hal ini sesuai dengan hasil percobaan yang diperoleh yaitu larutan berwarna kuning yang homogen.

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 58

FLOWCHART
A. Pembuatan Halogen 5 mL HCl pekat + 2 spatula MnO4 - memanaskan larutan panas

spatula KMnO4 + 5 tetes HCL pekat - mencampurkan larutan berwarna membandingkan reaksi dengan MnO2 dan KmnO4 sebagai oksidator dalam kedua percobaan di atas. C. Sifat Kimi Halogen Eksperimen I. Reaksi halogen dengan air Gas klor + 5 mL air - mereaksikan dalam kamar asam - menguji pH larutan

larutan

satu buah Kristal Iod + 5 mL air

- mengocok larutan

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 59

Eksperimen 3. Haloen sebagai oksidator a. Reaksi dengan hidrogen sulfida Gas H2S + 3 mL air klor - mereaksikan - membandingkan dengan air klor yang jernih larutan b. Reaksi dengan besi (II) sulfat Larutan 1 3 mL FeSO4 + 3 mL Cl2 - memasukan

larutan Larutan 2 3 mL FeSO4 + 3 mL air - memasukan

larutan Larutan ke 2 digunakan sebagai pengontrol larutan 1 + 1 mL NaOH * - menambahkan - memeriksa pengaruh reaksi akibat penambahan larutan * Mengulangi percobaan dengan menggunakan larutan 2 sebagai pengganti larutan 1

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 60

Eksperimen 4. Kereaktifan relatif halogen sebagai zat pengoksida larutan pereaksi 1 Cl2 (aq) + KBr (aq) - mereaksikan - memeriksa pengaruh reaksi

larutan larutan pereaksi 2 Cl2 (aq) + KI (aq) - mereaksikan - memeriksa pengaruh reaksi Larutan

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 61

LAMPIRAN FOTO PRAKTIKUM HALOGEN


A. Pembuatan Halogen

5 ml HCl + 2 sendok spatula MnO2

5 tetes HCl + 1 sendok spatula KmnO4

Tabung 1 dan tabung 2 saat dipanaskan

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 62

B.

Sifat Kimia Halogen Eksperimen 1. Reaksi halogen dengan air

KmnO4 + HCl pekat (gas klor)

Gas klor dalam 5 ml air

Eksperimen 2. Halogen sebagai oksidator a) Reaksi dengan hidrogen sulfida

Mengalirkan gas H2S ke dalam 3 ml air klor

b)

Reaksi dengan besi (II) sulfat

Tabung 1 : 3 ml FeSO4 + 3 ml Cl2 (aq) Tabung 2 : 3 ml FeSO4 + 3 ml air Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 63

Eksperimen 3. Kereaktifan relatif halogen sebagai zat pengoksida

1 ml larutan larutan KBr + 4 tetes Cl2 (aq)

1 ml larutan KI + 4 tetes Cl2 (aq)

Laporan Akhir Praktikum Anorganik Halogen 64