Anda di halaman 1dari 13

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum Biologi Dasar dengan judul Percobaan Lazarro Spallanzani disusun oleh Nama NIM Kelas : Nurhidayah : 101 404 024 :A

Kelompok : V Telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten/ Koordinator Asisten maka dinyatakan diterima.

Makassar, Koordinator Asisten

November 2010 Asisten

Suhaedir Bahtiar, S.Pd.

Andi Zulhamdi H NIM: 061 404 029

Mengetahui Dosen Penanggung Jawab

Drs. H. Hamka L, MS NIP: 1921231 198702 1 005

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Asumsi bahwa setiap sesuatu yang ada pasti memiliki asal muasal keberadaan, telah mengusik ruang pikir manusia mengenai bagaimana dan dari mana sebenarnya kehidupan berasal. Sejak berabad-abad silam, hal ini telah menjadi perbincangan sekaligus polemik panjang yang seakan tidak memiliki jawaban. Bermacam pendapat telah diajukan, namun pertanyaan mengenai dari mana sebenarnya asal-usul makhluk hidup itu sendiri masih terus mengambang karena belum adanya teori yang rasional dan dapat diterima oleh akal pikiran manusia saat itu. Beberapa silang pendapat dan pro kontra terjadi, tidak terkecuali di kalangan para ilmuwan dan peneliti. Masing-masing berupaya untuk mempertahankan pendapat yang telah diyakini. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, berbagai teori baru pun bermunculan. Berbeda dengan sebelumnya di mana sebagian besar pendapat hanya berdasarkan mitos atau pun kepercayaan pribadi yang masih sulit untuk dipertanggungjawabkan secara rasional, para ilmuwan modern berusaha untuk membuktikan teorinya dengan eksperimen ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan di depan publik. Salah satu contohnya adalah percobaan Lazarro spallanzani, yang mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya. Lazarro membuktikan teorinya dengan melakukan percobaan dengan menggunakan air kaldu. Percobaan dan teori Lazarro spallanzani merupakan salah satu teori yang dianggap sangat logis meski sejatinya belum benar-benar dapat mengungkap asalusul kehidupan di muka bumi. Hal inilah yang membuat percobaan Lazarro spallanzani menjadi penting untuk dipahami dan bahkan dikaji lebih lanjut, untuk lebih memperluas khazanah berpikir manusia, yang pada gilirannya diharapkan

akan menghadirkan jawaban-jawaban baru yang dapat menyingkap tabir rahasia semesta ini. B. Tujuan Percobaan ini bertujuan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti jalan pikiran dan langkah-langkah yang pernah dilakukan oleh para ilmuwan/ peneliti dalam memecahkan masalah biologi, khususnya menjawab pertanyaan mengenai dari mana kehidupan berasal. C. Manfaat Manfaat dari praktikum ini adalah: 1. 2. Dapat membuktikan secara langsung kebenaran teori abiogenesis. Dapat membuka cakrawala berpikir mahasiswa untuk berpikir secara lebih kritis dalam menyelesaikan masalah, khususnya untuk menjelaskan asalusul kehidupan. 3. Dapat memahami dan mengerti jalan pikiran yang digunakan oleh ilmuwan/ peneliti sebelumnya dengan melakukan eksperimen secara langsung.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Pertanyaan apakah hidup dan dari manakah asal kehidupan merupakan masalah dari abad ke abad. Aristoteles (384-322 SM) berpendapat bahwa makhluk hidup itu terjadi begitu saja. Pendapat ini dikenal sebagai tori abiogenesis atau teori generatio spontanea. Beberapa ahli telah melakukan berbagai usaha untuk melakukan penelitian terhadap pandangan generatio spontanea, di antaranya: francesco Redi, Lazarro Spallanzani (keduanya berkebangsaan Italia) dan Louis Pasteur (berkebangsaan Perancis). Setelah Louis Pasteur memperbaiki percobaan Lazarro Spallanzani dengan menggunakan tabung kaca berleher angsa, maka gagallah semua usaha mempertahankan pandangan generatio spontanea dan teori abiogenesis. Muncullah teori biogenesis yang berpandangan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk sebelumnya (Tim Pengajar Biologi Umum, 2003). Sejak zaman aristoteles (300 SM) orang percaya bahwa jasad hidup dapat terjadi secara spontan dari benda tidak hidup. Pendapat ini dikenal dengan istilah generatio spontanea. Pendapat ini dianut pula oleh John Needham, seorang pendeta Irlandia yang mengadakan eksperimen antara tahun 1745-1750 dengan berbagai rebusan padi-padian dan daging, mendapatkan bahwa walau pun air rebusan tersebut disimpan rapat-rapat dalam botol tertutup tetap timbul mikroba. Walaupun demikian, banyak ilmuwan yang muncul kemudian merasa bahwa paham generatio spontanea tidak dapat dipertahankan sehingga mereka mulai mencoba untuk membuktikan ketidak benaran tersebut (Ristiati, 2000:15). Salah seorang tokoh yang meragukan teori abiogenesis adalah Lazarro spallanzani. Dia mengemukakan bahwa pemanasan dapat mensterilisasi (membunuh mikroorganisme) di dalam kaldu yang digunakan, namun apabila pemanasan hanya dilakukan beberapa menit maka tidak akan membunuh semua mikroorganisme yang ada di dalamnya (Anonim, 2010).

Lazarro Spallanzani membuktikan pada tahun 1768 bahwa air rebusan daging yang dipanaskan lalu ditutup rapat tidak menghasilkan mikroba.Walaupun demikian, para pendukung generatio spontanea berpendapat bahwa tidak terjadi mikroba karena tidak tersedia udara yang diperlukan bagi kehidupan mikroba dalam tabung (Ristiati, 2000: 16). Menurut Ahmadi (1991), ada berbagai pendapat berupa hipotesis atau pun teori untuk mejawab pertanyaan mengenai asal mula kehidupan. Di antaranya: 1. Generatio Spontanea Sebelum abad 17 orang menganggap bahwa makhluk hidup itu terbentuk secara spontan atau terbentuk dengan sendirinya. Contoh: Ulat timbul dengan sendirinya dari bangkai tikus. Cacing timbul dengan sendirinya dari dalam lumpur. Dari gudang padi, ternyata muncullah tikus. Paham ini disebut juga abiogenesis artinya makhluk hidup dapat terbentuk dari bukan makhluk hidup, misalnya dari lumpur timbul cacing. Paham ini antara lain dipelopori oleh Aristoteles. 2. Cozmozoa Ada pendapat bahwa makhluk hidup di bumi ini asal usulnya dari luar bumi, mungkin dari planet lain. Benda bumi yang datang itu mungkin berbentuk spora yang aktif yang jatuh ke bumi lalu berkembang biak. Pendapat atau hipotesis ini terlalu lemah karena tidak didukung oleh faktafakta dan juga tidak menjawab asal mula kehidupan itu sendiri. 3. Omne Vivum Ex Ovo Francisco Redi (1626-1597) ahli biologi bangsa Italia dapat membuktikan bahwa ulat pada bangkai tikus berasal dari telur lalat yang meletakkan telurnya dengan sengaja di situ. Dari berbagai percobaannya yang serupa ia memperoleh kesimpulan yang serupa yaitu bahwa asal mula kehidupan itu adalah telur atau omne vivum ex ovo.

4. Omne Ovo Ex Vivo Lazarro Spallanzani(1729-1799) juga ahli biologi berkebangsaan Italia. Percobaannya dengan air kaldu membuktikan bahwa jasad renik atau mikroorganisme yang mencemari kaldu dapat membusukkan kaldu itu. Bila kaldu ditutup rapat setelah mendidih maka tidak terjadi pembusukan. Ia mengambil kesimpulan bahwa untuk adanya telur harus ada jasad hidup terlabih dahulu. Maka muncullah teori omne ovo ex vivo atau telur itu berasal dari makhluk hidup. 5. Omne Vivum Ex Vivo Louis Pasteur (1822-1895) sarjana kimia Perancis melanjutkan percobaan Spallanzani dengan percobaan berbagai mikroorganisme, tumbuh kehidupan yang baru atau disebut omne vivum ex vivo. Teori ini disebut juga teori biogenesis dengan konsep dasar bahwa yang hidup itu berasal dari hidup juga. 6. Teori Urey Harold Urey (1893) seorang ahli kimia dari amerika serikat mengemukakan bahwa atmosfir bumi pada mulanya kaya akan gas metana, amonia, hidrogen dan air. Unsur-unsur ini diikat oleh energi dari aliran listrik halilintar untuk membentuk zat-zat hidup. 7. Teori Oparin-Haldane A.I. Oparin adalah ahli Biologi Rusia yang mempublikasikan temuannya tentang asal mula kehidupan pada tahun 1924. Pendapat Oparin didukung oleh pendapat J.B.S Haldane yang mempunyai pendapat serupa. Ramngkuman dari pendapat itu adalah bahwa kehidupan terbentuk dari senyawa kimia dalam laut saat atmosfir bumi belum memiliki oksigen bebas. Senyawa sederhana yang pertama kali muncul adalah asam-asam amino sederhan, purin dan pirimidin, dan senyawa golongan gula.

BAB III METODE PRAKTIKUM


A. Waktu dan Tempat Hari/ tanggal Waktu Tempat : Jumat, 29 Oktober 2010 : 13.10-14.50 WITA : Laboratorium Biologi Lantai III Timur FMIPA UNM Makassar B. Alat dan Bahan 1. Alat a. 4 buah tabung reaksi b. 1 buah rak tabung reaksi c. 1 buah lampu spiritus d. 1 buah klem kayu e. 1 buah wadah penyimpanan (gelas plastik) f. 2 buah sumbat tabung 2. Bahan a. Air kaldu b. Lilin c. Korek api d. Label C. Prosedur Kerja

1. Mengisi keempat tabung reaksi dengan air kaldu masing-masing dengan takaran yang sama. 2. Menutup tabung I dengan sumbat gabus lalu meneteskan lilin cair pada sela antara mulut tabung dengan tutup.

3. Mendidihkan tabung II yang telah berisi air kaldu di atas api lampu spiritus selama 10 menit, lalu menyimpannya tanpa ditutup. 4. Mendidihkan tabung III yang telah berisi air kaldu di atas api lampu spiritus selama 10 menit, lalu segera menutupnya dengan penutup gabus. Meneteskan lilin pada sela antara mulut tabung dengan tutupnya. 5. Tabung IV dibiarkan tanpa perlakuan apa-apa. 6. Menyimpan semua tabung reaksi pada wadah yang telah disiapkan dan meletakkannya di tempat yang aman, terhindar dari gangguan hewan, cahaya matahari langsung dan sumber panas lainnya. 7. Melakukan pengamatan dan mencatat perubahan kaldu pada keempat tabung tersebut selama seminggu.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan Tabung Hari W Jumat Senin Selasa Rabu Kamis Bening Keruh Keruh Keruh keruh I B + E + W Bening Bening Bening Bening Bening II B E + + + ++ W Bening Bening Bening Bening Keruh III B E + + + ++ W Bening Keruh Keruh Keruh Keruh IV B ++ ++ E ++ ++

++ + ++ + ++ +

+++ +++ +++ +++

Keterangan: Tabung I Tabung II Tabung III Tabung IV + ++ +++ : Ditutup tanpa pemanasan : Dipanaskan dan dibuka : Dipanaskan dan ditutup : Tidak diberi perlakuan : Tidak ada : Sedikit : Sedang : Banyak

B. Pembahasan Pada tabung I, air kaldu ditutup tanpa dipanaskan. Hasil pengamatan pada hari pertama menunjukkan warna air kaldu yang bening, tidak terdapat bau dan

juga endapan. Pengamatan pada hari ke-2 dan selanjutnya menunjukkan perubahan warna pada air kaldu dari bening menjadi keruh, terdapat bau, serta sedikit endapan. Hal ini diduga karena adanya mikroorganisme yang tumbuh akibat air kaldu tidak steril (masih mengandung bibit kehidupan) karena tidak dilakukan pemanasan sebelumnya, meskipun tabung ditutup. Pada tabung II, air kaldu dipanaskan selama 10 menit. Setelah itu tabung dibiarkan terbuka. Pengamatan pada hari pertama menunjukkan bahwa air kaldu berwarna bening, tidak terdapat bau dan juga endapan. Pengamatan pada hari ke-2 dan selanjutnya juga menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan terhadap warna dan bau kaldu, namun terbentuk sedikit endapan pada hari ke-2 hingga hari ke-4, dan cukup banyak endapan pada hari ke-5. Hal ini terjadi diduga karena adanya mikroorganisme yang tumbuh akibat adanya kontaminasi udara dari luar karena tabung tidak dututup, meskipun telah dilakukan pemanasan. Pada tabung III, air kaldu dipanaskan dan ditutup. Hasil pengamatan pada hari pertama menunjukkan bahwa air kaldu berwarna bening, dan tidak terdapat endapan maupun bau. Akan tetapi pada hari ke-2 hingga ke-4 mulai muncul sedikit endapan. Pada hari ke-5 terjadi perubahan warna dari bening menjadi keruh dan terdapat cukup banyak endapan. Hal ini menyimpang dari teori Lazarro spallanzani, sebab menurut teori seharusnya kehidupan tidak dapat muncul pada tabung yang steril dan tertutup rapat. Penyimpangan ini diduga berasal dari kesalahan yang terjadi pada saat praktikum, yakni pada saat proses pemanasan air kaldu. Tabung sempat terjatuh akibat rusaknya klem kayu, hingga pemanasan terhenti selama beberapa saat. Akibatnya mikroorganisme yang hidup di dalam air kaldu tidak mati secara keseluruhan atau dengan kata lain air kaldu belum benarbenar steril. Pada tabung IV, air kaldu tidak diberi perlakuan apa-apa. Pengamatan pada hari pertama menunjukkan bahwa air kaldu berwarna bening, tidak berbau dan tidak terdapat endapan. Pengamatan pada hari ke-2 dan ke-3 menunjukkan perubahan warna menjadi keruh, terdapat cukup banyak endapan, dan bau yang

cukup menyengat. Pada hari ke-5, air kaldu pada tabung IV mengalami pertambahan jumlah endapan, serta bau yang ditimbulkan semakin menyengat. Hal ini mengindikasikan bahwa di dalam air kaldu pada tabung IV terdapat banyak mikroorganisme. Tabung dan air kaldu yang tidak disterilkan dan tidak ditutup, menyebabkan banyak mikroorganisme yang tumbuh.

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari percobaan ini adalah: 1. Terjadinya perubahan pada kaldu berupa perubahan warna menjadi keruh, terdapat bau dan endapan disebabkan oleh adanya mikroorganisme yang berkembang biak dalam kaldu tersebut. Hal ini disebabkan karena air kaldu terkontaminasi dengan udara luar yang mengandung bibit kehidupan. 2. Mikroorganisme tidak berasal dari benda mati secara spontan seperti yang dikemukakan oleh teori generatio spontanea. B. Saran

1. Sebaiknya praktikan lebih cermat dan berhati-hati dalam melkukan praktikum, untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya kesalahan. 2. Sebaiknya asisten lebih matang dalam berkoordinasi sebelum memberikan arahan, agar tidak terjadi kesimpang siuran informasi yang akan menimbulkan kebingungan bagi praktikan. 3. Sebaiknya pihak laboratorium lebih cermat dalam menyediakan sarana dan prasarana praktikum agar jalannya praktikum tidak terhambat oleh masalah teknis seperti kondisi alat yang sudah tidak baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu., dan A. Supatmo. 1991. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.

Anonim. 2010. http.://id.wikipedia.org/wiki/Lazzaro_Spallanzani. Diakses pada tanggal 4 November 2010. Fried, George H., dan George J. Hademenos. 2000. Teori dan Soal-soal Biologi. Jakarta: Erlangga.

Ristiati, Ni Putu. 2000. Pengantar Mikrobiologi Umum. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Tim Pengajar. 2010. Penuntun Praktikum Biologi Dasar. Makassar: Jurusan biologi FMIPA UNM.