Anda di halaman 1dari 12

LAWANG SEWU

Lawang Sewu adalah sebuah bangunan di Semarang, Jawa Tengah, yang merupakan kantor Inggris India Timur Perusahaan Kereta Api atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Mempunyai lokasi di bundaran tugu muda yang disebut Wilhelminaplein. Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Pintu Seribu), karena bangunan memiliki sebuah pintu yang sangat banyak. Bahkan, pintu seribu. Gedung ini mempunyai banyak jendela lebar dan tinggi, sehingga orang sering berpikir bahwa itu pintu. Bangunan tua dan indah dua lantai digunakan sebagai kantor setelah kemerdekaan di gunakan sebagai Departemen Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) atau PT Rail sekarang Indonesia. Juga pernah digunakan sebagai kantor oleh Fasilitas Komando militer (Kodam IV / Diponegoro) Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Selama pertempuran bangunan memiliki catatan sejarah sendiri kejadian selama perjuangan lima hari di Semarang (14 Oktober-19 Oktober, 1945). Ini gedung tua adalah tempat pertempuran besar antara pemuda dan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai AMKA, Jepang. Oleh karena itu Pemerintah Kota Semarang Orde Tidak walikota. 650/50/1992, masukkan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan tua atau bersejarah di Kota Semarang, yang harus dilindungi. Hari ini bangunan tua telah mengalami fase revitalisasi dan pemeliharaan dilakukan oleh Unit pelestarian bangunan bersejarah dan benda-benda PT Kereta Api Terbatas, Departemen Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) Semarang terkenal sebagai salah satu kota yang masih memelihara bangunan tuanya. Deretan bangunan tua berserakan di kawasan kota lama, lainnya berserakan hampir di setiap sudut kota. Salah satu yang paling monumental dan terkenal adalah Lawang Sewu. Tidak sulit untuk mencapai lokasi gedung tua ini karena letaknya berdekatan dengan monumen Tugu Muda di salah satu sudut kota Semarang.

Bangunan monumental dan indah ini di desain mengikuti kaidah arsitektur morfologi bangunan sudut yaitu dengan menara kembar model gotik di sisi kanan dan kiri pintu gerbang utama. Bangunan gedung memanjang ke belakang yang mengesankan kokoh, besar dan indah. Gedung kuno ini menurut catatan sejarah dibangun pada tahun 1903, dan selesai atau diresmikan penggunaannya pada tanggal 1 Juli 1907. Lawang Sewu adalah gedung megah bergaya art deco yang bercirikan ekslusif dan berkembang pada era 1850-1940 di benua Eropa. Bangunan ini salah satu karya dua arsitek Belanda ternama saat itu, yaitu: Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag. Awalnya digunakan sebagai kantor perusahaan kereta api Belanda atau dikenal dengan nama Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij atau dikenal NIS.

Oleh masyarakat setempat bangunan ini disebut Lawang Sewu yang berarti pintu seribu. Nama ini sebagai kiasan yang menunjukkan bahwa bangunan tersebut memiliki banyak pintu. Tahun 1945 tepatnya tanggal 8 september, terjadi pertempuran hebat antara Angkatan Muda Kereta Api Indonesia yang berusaha merebut bangunan ini dari tangan Kempetai dan Kido Butai Jepang. Untuk mengenang jasa-jasa mereka yang gugur dalam pertempuran 5 hari tersebut, di depan Lawang Sewu dibangun sebuh tugu peringatan. Beberapa tahun lalu saat saya berkunjung ke Lawang Sewu, oleh penjaga saya tidak diperbolehkan masuk sebelum mengantongi ijin khusus dari PT. Kereta Api, pihak yang sekarang menjadi pemilik gedung tersebut. Sebelum diambil alih oleh PT. KA, Lawang Sewu pernah dijadikan kantor KODAM Diponegoro dan Kanwil Perhubungan Jawa Tengah. Sekarang Lawang Sewu telah dibuka untuk umum. Ini adalah salah satu bagian dari program pariwisata kota Semarang yang dikenal dengan Semarang Pesona Asia (SPA). Wisatawan yang datang cukup banyak, hanya dengan membayar Rp. 5000,- untuk biaya pemeliharaan dan perawatan gedung kami bisa masuk dan berkeliling dalam kawasan Lawang Sewu. Lawang Sewu ini terdiri dari sebuah bangunan utama yang membentuk huruf U dengan taman terbuka di bagian dalam. Dari pintu utama kita langsung disambut sebuah tangga besar

menuju lantai 2. Di bagian bordes tangga terpasang sebuah kaca grafir yang menutupi jendela dengan ukiran yang indah . Memasuki gedung ini aroma mistis segera menyergap. Lorong-lorong gelap dan kusam tampak cukup menyeramkan. Saya teringat sebuah tayangan reality show bertema mistis beberapa tahun lalu yang ditayangkan oleh Trans TV. Waktu itu dalam segment uji nyali yang berlokasi di Lawang Sewu, kamera sempat menangkap penampakan sebuah bayangan putih yang dipercaya sebagai salah satu penunggu Lawang Sewu. Banyak orang percaya kalau Lawang Sewu memang banyak dihuni oleh mahluk-mahluk halus dari berbagai jenis. Katanya beberapa waktu yang lalu pernah muncul wacana untuk mengubah Lawang Sewu menjadi sebuah hotel. Namun setelah pihak investor meminta bantuan paranormal untuk mengecek keberadaan para penghuni Lawang Sewu, niat tersebut dibatalkan karena sang paranormal sendiri kewalahan untuk membersihkannya. Saya sedikit banyaknya mempercayai tentang keberadaan para mahluk halus penghuni Lawang Sewu tersebut karena aroma mistisnya memang sangat terasa. Dan aroma mistis yang menegangkan makin terasa saat saya mengikuti tur ke penjara bawah tanah Lawang Sewu yang terletak di bagian belakang. Di ruang bawah tanah inilah penampakan yang direkam oleh kamera Trans TV itu berlokasi. Cukup dengan membayar tambahan Rp. 5000,- kita sudah bisa ikut turun ke penjara bawah tanah tersebut. Penjara yang dimaksud berada di kedalaman kurang lebih 3 meter dari permukaan. Suasananya gelap gulita dan sumpek. Begitu masuk kami dibawa menelusuri lorong-lorong selebar 1,5 meter dengan ketinggian langit-langit yang tak lebih dari 2,5 meter dengan bantuan senter besar dari pemandu. Pemandu yang menemani kami menunjukkan kamar-kamar di sebelah kanan dan kiri lorong yang dulunya dijadikan sebagai penjara atau tempat penyiksaan para pejuang kita baik oleh pihak Belanda maupun pihak Jepang.

Lorong menuju penjara bawah tanah Ruangan pertama yang ditunjukkan kepada kami adalah ruangan yang berisi bak-bak beton setinggi 1 m. Dalam bak-bak beton tersebut katanya para pejuang kita dipaksa untuk berjongkok dan direndam air sementara bagian atasnya ditutup jeruji besi. Ruangan ini bernama penjara jongkok. Saya bergidik membayangkan derita para tahanan yang disekap di situ. Selanjutnya ada jejeran sekat batubata menyerupai lemari selebar 1 x 1 meter yang disebut penjara berdiri. Di sekat-sekat yang sempit tersebut dijejalkan 4 sampai 5 tahanan dan ditutup dengan jeruji besi. Katanya tahanan akan dibiarkan di dalam sana sampai mati lemas. Tapi ruang yang paling menyeramkan adalah ruang eksekusi. Di dalam ruangan tersebut terdapat bekas meja baja yang ditanam ke lantai. Katanya di dalam ruangan itulah para tahanan dieksekusi dengan cara dipenggal. Saya hanya mengintip sejenak ke dalam dengan bantuan senter si pemandu, rasanya bulu kuduk saya merinding membayangkan proses eksekusi pada para pejuang kita itu. Setelah mengitari lorong-lorong bawah tanah selama kurang lebih 15 menit kami kami akhirnya kembali ke atas. Rasanya lega sekali bisa menghirup udara di permukaan. Sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan sekaligus menegangkan.

Bukan hanya wisata mistis saja yang bisa kita rasakan di Lawang Sewu. Bagi para pehobi fotografi, Lawang Sewu terlihat sangat fotogenik. Setiap sudutnya seperti menawarkan diri untuk diabadikan dalam kamera. Ketika terakhir ke sana, saya sungguh merasa terpuaskan oleh sudutsudut Lawang Sewu yang saya abadikan. Lawang Sewu hanya satu dari ratusan bangunan tua yang ada di seputar kota Semarang. Bagi anda penggemar arsitektur jaman dulu, berkunjung ke Semarang tentu sebuah keharusan. Mari menikmati peninggalan masa lalu yang meski beraroma mistis, tapi tetap terlihat indah. Wisata Angker di Sewu

Lawang

1 2 3 4 5

(16 votes) Saya perhatikan untuk Koki - Tour hampir semua artikelnya adalah tentang pesona wisata di luar negeri mulai dari New Zealand, Singapore, Texas dan Austria. Padahal di Indonesia banyak terdapat obyek-obyek wisata menarik dan unik yang saya yakin akan sulit ditandingi oleh negara lain.

Oleh karena itu, saat ini saya mencoba berbagi cerita tentang pengalaman berwisata ke suatu obyek wisata unik yang mungkin sebagian Kokiers belum pernah berkunjung kesana. Obyek wisata ini bernama Lawang Sewu. Jika obyek-obyek wisata lain menawarkan keindahan alam berupa pantai ataupun pegunungan maka lawan sewu menawarkan sesuatu yang sangat berbeda yaitu "keangkeran"!

Apakah

Lawang

Sewu

Sebagian Kokiers mungkin bertanya tanya "mahluk" apakah lawang sewu itu?. Lawang sewu adalah sebuah gedung tua peninggalan Belanda yang terletak di kota Semarang Jawa Tengah. Gedung ini terletak tepat di bundaran Tugu Muda yang dahulu dikenal dengan nama Wilhelmina Plein.

Mengapa

disebut

Lawang

Sewu?

Lawang sewu berasal dari dua kata bahasa Jawa yaitu : Lawang yang berarti Pintu dan Sewu yang bermakna seribu. Jadi Lawang sewu adalah gedung yang mempunyai jumlah pintu seribu buah. Walaupun secara kenyataan jumlah pintu yang ada tidak mencapai seribu buah (saya tidak menghitungnya hehe) tetapi karena gedung ini memiliki jumlah pintu yang banyak dan besar maka penduduk setempat memberikan nama lawan sewu.

Sejarah

Lawang

Sewu

Dari penjelasan yang saya dapatkan dari pemandu wisata disana, lawang sewu dibangun pada sekitar tahun 1903 dan pada masa pemerintahan Belanda gedung berlantai dua dan mempunyai ruang bawah tanah ini berfungsi sebagai kantor dari NIS (Nederlansch Indishe Spoorweg Naatschap). Sisa peninggalan Belanda yang masih terlihat jelas pada lawang sewu adalah ornamen khas eropa yang terdapat pada jendela besar di dalam gedung.

Setelah Jepang mengambil alih pemerintahan Belanda di Indonesia pada sekitar tahun 1942, ruang bawah tanah gedung ini yang sebelumnya merupakan saluran

pembuangan air di "sulap" menjadi penjara bawah tanah sekaligus saluran pembuangan air. Gedung ini juga menjadi saksi bisu pertempuran sengit antara rakyat Indonesia dengan penjajah Jepang yang terkenal dengan pertempuran lima hari. Sisa pertempuran ini masih terlihat dari bekas tembakan di salah satu tiang penyangga gedung ini.

Setelah kemerdekaan diraih oleh bangsa Indonesia, gedung ini dipakai sebagai kantor oleh Perusahaan kereta api Indonesia atau KAI.

Penjara

Jongkok

Pada kesempatan itu juga saya menyempatkan diri masuk ke dalam ruang bawah yang oleh Jepang di gunakan sebagai penjara. Karena ruangannya yang sangat sempit dan atapnya rendah penjara-penjara ini dinamakan sebagai penjara jongkok. Sumber cahaya yang sangat minim dan kondisi ruangan yang lembab membuat suasana di dalam penjara jongkok ini cukup membuat merinding bulu kuduk. Pemandu wisata juga menjelaskan bahwa ruang bawah tanah ini sering dipakai sebagai tempat eksekusi para pemuda Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap Jepang dan jasad-jasad mereka dibuang ke kali yang terletak di sebelah gedung ini.

Wisata

Angker

Saat ini, Lawang sewu di kenal oleh penduduk setempat sebagai gedung yang angker dan konon sering terlihat mahluk halus pada malam hari. Menurut saya dari sudut pandang pariwisata, kesan tersebut sebenarnya

merupakan peluang untuk menarik lebih banyak wisatawan baik lokal maupun asing khususnya mereka yang menyukai tantangan berbau mistis dan angker. Saya yakin apabila potensi ini dioptimalkan maka akan lebih banyak wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia dan tentunya tambahan devisa bagi negara ini. Lawang sewu atau seribu pintu dalam bahasa Indonesia adalah bangunan peninggalan Belanda yang dahulu digunakan sebagai kantor perkereta-apian Belanda dan terletak di Jantung kota Semarang, Jawa Tengah, tepatnya adalah di bundaran Tugu Muda. Hanya butuh waktu lima menit apabila ditempuh dari Simpang Lima, atau 20 menit dari terminal

Terboyo. Lawang sewu mempunyai pintu dan jendela yang sangat besar dalam jumlah yang banyak, ukuran jendela yang menyerupai besarnya pintu menjadikan orang yang melihatnya seperti daun pintu sehingga menyebutnya dengan Lawang Sewu. Entah siapa yang menyebutnya sebagai lawang sewu namun hingga kini nama itu sudah terkenal dimana-mana. Jendela besar ini berfungsi sebagai sirkulasi udara dan jumlah jendela yang banyak dimaskud karena didesign untuk bisa melihat view perbukitan semarang atas sekaligus bisa melihat laut Jawa. Balkon yang berada di depan pun bisa langsung menyaksikan tugu muda, taman dan arus lalu lintas semarang. Dibagian depan terdapat dua menara kembar, begitu masuk ke gerbang lawang sewu kita akan menjumpai tangga menuju lantai dua yang terdapat jendela dengan ornament kaca patri. Lawang sewu mempunyai ruangan yang sangat banyak baik di lantai satu maupun lantai dua. Di lantai tiga kita bisa melihat ruangan besar yang dahulu juga dijadikan sebagai ruang pertemuan. Gedung ini juga mempunyai ruang bawah tanah yang memiliki ruangan-ruangan sebagai penjara dan ruang penyiksaan, namun sekarang ruang bawah tanah tersebut tergenang air sehingga pengunjung harus memakai sepatu boot untuk menjelajahi ruangan tersebut. Bangunan yang dibuat tahun 1904 itu sangat beraroma mistis, beberapa stasiun televisi pun sempat menayangkan keangkeran gedung ini dalam acara mistisnya bahkan keangkerannya pun sempat dibuat film layar lebar. Minimnya penerangan dan design dari bangunan yang terdiri dari lorong lorong menambah aroma mistis gedung ini. Sumber: http://id.shvoong.com/travel/budget/2165069-lawang-sewu-seribupintu/#ixzz1qxrKKM8K

Lawang Sewu dalam bahasa Indonesia berarti "Pintu Seribu". Warga Semarang menyebutnya demikian karena gedung ini mempunyai pintu dan jendela berukuran besar menyerupai pintu yang berjumlah sangat banyak. Gedung ini dirancang oleh arsitek Belanda C.Citroen dari Firma J.F. Klinkhamer dan B.J. Quendag pada tahun 1903 dan selesai pada tahun 1907. Gedung ini awalnya digunakan untuk kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, perusahaan kereta api Belada.

Bagian depan bangunan bersejarah ini dihiasi oleh menara kembar model gothic dan terbagi menjadi dua are, memanjang kebelakang yang mengesankan kokoh, besar dan indah. Arsitektur Lawang Sewu bergaya art deco yang bercirikan ekslusif yang berkembang pada era 1850-1940 di benua Eropa. Bangunan ini menghadap ke Taman Wilhelmina yang sekarang lebih dikenal sebagai komplek Tugu Muda. Di depan Lawang Sewu dulu melintas rel trem kota Semarang, jurusan Bulu Jomblang. Foto udara yang diambil pada tahun 1927 masih memperlihatkan jalur perangkutan ini. Setelah Jepang mengambil alih pemerintahan Belanda di Indonesia pada tahun 1942, ruang bawah tanah gedung ini yang sebelumnya merupakan saluran pembuangan air di "sulap" menjadi penjara bawah tanah sekaligus saluran pembuangan air. Gedung ini juga menjadi saksi bisu pertempuran sengit antara rakyat Indonesia dengan tentara Jepang yang terkenal dengan sebutan Pertempuran Lima Hari di Semarang (14 Oktober 1945 - 19 Oktober 1945). Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut, beberapa tahun kemudian pemerintah membangun sebuah prasasti di halaman Taman Wilhelmina yang sekarang dikenal sebagai Tugu Muida Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Mengingat Lawang Sewu mempunyai nilai sejarah penting, maka Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi. Saat ini Lawang Sewu sedang dalam tahap renovasi untuk memperbaiki bagian-bagian bangunan yang sudah mulai rusak akibat dimakan usia

SEMARANG Di Provinsi Jawa Tengah, ada empat destinasi wisata yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI menjadi Destinasi Utama Nasional, yaitu: Destinasi Wisata Borobudur Dieng, Destinasi Wisata Semarang Karimunjawa, Destinasi Wisata Solo Sangiran, dan Destinasi Wisata Cilacap Pangandaran. Masing-masing destinasi wisata, saat ini sudah, sedang, dan terus dilakukan penataan sub-sub destinasi wisata, termasuk Gedung Lawang Sewu yang menjadi sub destinasi wisata Semarang Karimunjawa.

Provinsi Jawa Tengah sebagai sentral grafitinya pembangunan Indonesia, sedang giat menata diri, khususnya destinasi pariwisata, dan terus membangun tata kehidupan yang semakin sejahtera, dengan disemangati gerakan Bali nDeso mBangun Deso, ujar Gubernur Bibit Waluyo pada saat menyambut kedatangan Ibu Negara Ani Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Herawati Boediyono serta para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, ke Jawa Tengah.

Ibu Negara Ani Susilo Bambang Yudhoyono dalam kunjungan kerjanya di Kota Semarang dalam rangka meresmikan Purna Pugar Cagar Budaya Gedung Lawang Sewu dan Pameran Kriya Unggulan. Ibu Negara juga didampingi para menteri yakni, Menbudpar Jero Wacik, Menteri Perdagangan Mari Eka Pangestu, Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM Syarifudin Hasan beserta rombongan.

Dengan diresmikannya Gedung Lawang Sewu, diharapkan dapat menjadi daya ungkit destinasi wisata Jawa Tengah, sehingga semakin memberikan kekuatan daya tarik untuk suksesnya Visit Jawa Tengah Tahun 2013. Selain itu, penyelenggaraan Pameran Unggulan Kriya Nusantara yang digelar di Lawang Sewu, juga menjadi daya ungkit tumbuhnya kreativitas dan inovasi usaha ekonomi kerakyatan, sehingga mampu menghasilkan produk kriya unggulan yang berkualitas dan layak bersaing di pasar global.

Untuk mendukung kelancaran transportasi ke masing-masing destinasi wisata, juga sedang dilakukan perbaikan dan pengembangan pembangunan infrastruktur transportasi darat, laut dan udara, sehingga mempercepat arus transportasi bagi wisatawan yang berkunjung ke Jawa Tengah, kata Bibit.

Penataan sub-sub destinasi wisata yang menjadi bagian dari 4 (empat) Destinasi Utama Nasional di Jawa Tengah, produk-produk kriya unggulan hasil karya Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, juga terus menggeliat tumbuh, dengan desain dan kualitas produk yang pantas dibanggakan untuk memasuki pasar ekspor.

Produk-produk kriya unggulan Jawa Tengah, seperti : Kerajinan Batik, Bordir, Ukir, Kuningan, dan Kaca, dapat Ibu Negara saksikan dalam Pameran Kriya Unggulan Nusantara di Gedung Lawang Sewu Semarang.

Bibit Waluyo mengungkapkan bahwa penyelenggaraan Pameran Kriya Unggulan Nusantara yang diikuti peserta dari Provinsi seluruh Indonesia, 35 Kabupaten/Kota, unsur Instansi Pemerintah, dan Swasta, serta sajian berbagai jenis kesenian yang diselenggarakan oleh Dewan Kerajinan Nasional tanggal 5 sampai 10 Juli 2011, akan semakin memperkuat Lawang Sewu sebagai pintu gerbang promosi untuk mendorong tumbuhnya kreativitas dan inovasi produk unggulan daerah dan nasional.

Mulai sekarang dan ke depan, Lawang Sewu layak menjadi destinasi wisata unggulan dan media promosi daerah maupun nasional, sebagai daya ungkit tumbuhnya ekonomi kerakyatan untuk kemajuan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, harapnya.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Ny. Hj. Sri Suharti Bibit Waluyo mengucapkan selamat atas selesainya pemugaran Cagar Budaya Gedung A Lawang Sewu yang terletak di Kota Semarang.

Dengan ciri khas bangunan yang artistik, megah dan memiliki nilai sejarah yang mengagumkan, keberadaan Lawang Sewu di Pusat Kota Semarang, bisa menjadi destinasi wisata andalan Jawa Tengah dan Indonesia ungkapnya.

Ditambahkan oleh Ketua Dekranasda Jawa Tengah bahwa corak bangunan yang artistik, indah, dan megah, serta nilai sejarah yang pernah tertoreh dalam aktivitas perkeretaapian serta peristiwa Pertempuran Lima di Semarang, menjadikan Lawang Sewu semakin mengagumkan dan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Usai meresmikan Gedung Lawang Sewu, Ani Yudoyono berkeliling mengunjungi stand-stand yang ada sembari menikmati arsitektur dari bangunan kuno ini. Selain melihat hasil kerajinan dari sejumlah provinsi dan kabupaten/kota, Ibu Negara menyempatkan diri untuk melihat anakanak dari TK Al Muna yang sedang melukis caping.

Kegiatan anak-anak itu diabadikan dalam kamera yang dibawanya. Bahkan dengan seksama ikut membantu anak-anak yang sedang memasukkan tali ke dalam bola-bola kecil sejenis kelereng. SEMARANG ( Pos Kota ) Gedung kuno Lawang Sewu di sekitar bundaran Tugu Muda Semarang yang dikenal sangat angker, Selasa (5/7) disulap menjadi tempat wisata dunia alias tujuan wisata internasional . Gedung kuno peninggalan Belanda yang sudah berulangkali menjadi tempat Uji Nyali tersebut secara resmi diresmikan oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono sebagai tempat wisata internasional . Dalam sambutannya ketika meresmikan Purna Pugar gedung tersebut , Ani Yudhoyono mengatakan, kita akan sangat berdosa bila mensia-siakan dan tidak memelihara warisan budaya seperti gedung Lawang Sewu . Karena itulah ia mengajak masyarakat untuk melihat sisi keluhuran budayanya. Sebab, beberapa waktu lalu sebagian masyarakat seringkali melihat gedung Lawang Sewu dari sisi seramnya. Selain peresmian purna pugar Lawang Sewu, Ibu Negara juga membuka secara resmi Pameran Kriya Unggulan Nusantara yang digelar di tempat tersebut . Pameran ini diikuti oleh 26 provinsi se-Indonesia dan 35 Kabupaten kota se-Jawa Tengah. Dalam peresmian tersebut, Ani Yudoyono didampingi Herawati Boediono (istri Wakil Presiden Boediono), Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Agum Gumelar, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik dan Solidaritas Istri Kabinet Indonasia Bersatu. Sementara itu Jero Wacik sempat mengunggulkan lawang Sewu sebagai bagian dari empat destinasi wisata unggulan yang ada di Semarang. Antara lain Semarang-Dieng, Solo-Sangiran, Cilacap Pangandaran, dan Semarang-Karimunjawa .