Anda di halaman 1dari 16

B A B XII SISTEM UROGENITAL

Sistem urogenital terdiri dari sistem ekskresi (sistem urin) dan sistem genital (sistem reproduksi). Meskipun sistem urin berbeda dengan sistem reproduksi, tetapi salurannya sangat berkerabat dalam hal perkembangan dan fungsinya, sebab berasal dari lapisan lembaga mesoderm intermediet. 12.1 Ginjal dan Salurannya Ginjal dibangun oleh tiga komponen dasar yaitu glomerulus, tubulus, dan duktus. Glomerulus (jamak: glomeruli) merupakan anyaman kapiler darah yang bergelung. Tubulus (jamak: tubuli) jumlahnya banyak, relatif pendek, bermuara ke duktus. Duktus (jamak: dukti) jumlahnya sepasang, relatif panjang, bermuara ke kloaka atau vesika urinaria (kandung kemih). Perkembangan Amfibia, tetapi ginjal vertebrata, Aves, dan tahap Mamalia pertama adalah pronefros, definitif kemudian digantikan oleh mesonefros, sebagai ginjal definitif Pisces dan Reptilia, mempunyai ginjal metanefros. 12.2 Ginjal Pronefros dan Mesonefros Pronefros dibentuk dari bagian anterior nefrotom (jaringan nefrogenik bagian dari mesoderm intermediet), setiap pasang pronefros terdiri dari sekian pasang tubuli pronefros dan sepasang duktus pronefros. Selanjutnya mesonefros akan dibentuk pada bagian posterior pronefros, setiap pasang mesonefros terdiri dari sekian pasang tubuli mesonefros dan sepasang duktus mesonefros (merupakan kelanjutan dari duktus pronefros). mesonefros kematian). Pisces mempunyai ginjal definitif berupa sepasang ginjal mesonefros, urin dari setiap ginjal dialirkan melalui tubuli mesonefros duktus mesonefros papila urogenital lubang urogenital. Amfibia mempunyai ginjal definitif berupa sepasang ginjal mesonefros, urin dari setiap ginjal dialirkan melalui tubuli mesonefros duktus mesonefros vesika urinaria kloaka lubang kloaka. Perhatikan Gambar 12.6 dan 12.7. Pada embrio hewan Amniota (Reptilia, Aves, dan Mamalia), pada bagian posterior mesonefros akhirnya dibentuk metanefros. Tubuli metanefros terdiri dari kapsula Bowman, tubulus proksimal, lengkung Henle, tubulus distal, dan
Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI
116

Setelah

berfungsi

maka

pronefros

akan

berdegenerasi

(mengalami

duktus kolekta,. Duktus metanefros disebut ureter. Setelah metanefros berfungsi, sebagian dari struktur mesonefros mengalami kematian dan sebagian mengalami modifikasi fungsi terutama pada yang jantan. Pada Amniota jantan, sebagian tubuli mesonefros mengalami modifikasi menjadi vasa eferensia, berfungsi menyalurkan sperma dari testis ke epididimis, sebagian bersisa menjadi paradidimis. Sementara duktus mesonefros mengalami modifikasi menjadi vasa deferensia (vas deferen) yang berfungsi menyalurkan sperma dari epididimis ke uretra. Perhatikan Gambar 12.1.

Gambar 12.1 Diagram perkembangan sistem urogenital pada Amniota jantan A. tahap awal B. tahap akhir

Pada Amniota betina, sebagian besar tubuli mesonefros berdegenerasi dan terdapat sisa yang disebut epooforon dan parooforon. Sementara sebagian besar duktus mesonefros berdegenerasi, dan bersisa sebagai saluran buntu yang disebut duktus Gartner. Perhatikan Gambar 12.2. 12.3 Ginjal Metanefros Ginjal metanefros terbagi atas bagian korteks dan medula. Bagian korteks mengandung unit nefron atau badan renalis atau badan Malpighi, yang terdiri atas glomerulus dan tubuli metanefros. Tubuli metanefros terdiri dari kapsula Bowman, tubulus proksimal, dan tubulus distal. Sementara bagian medula dibangun oleh piramid-piramid yang ujungnya menghadap ke kaliks minor dan kaliks mayor. Kaliks menghadap ke pelvis ginjal yang selanjutnya bersambung sebagai ureter. Di dalam piramid terdapat lengkung Henle (pembuluh naik dan pembuluh turun), dan duktus kolekta atau duktus penampung.
117 Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

Perhatikan

Gambar 12.3, 12.4, dan 12.5.

Gambar 12.2 Diagram perkembangan sistem urogenital pada Amniota betina A. tahap awal B. tahap akhir

Reptil mempunyai ginjal definitif berupa sepasang ginjal metanefros, urin dari setiap ginjal dialirkan melalui tubuli metanefros ureter vesika urinaria (bila memiliki) kloaka lubang kloaka. Perhatikan Gambar 12.8.

Gambar 12.3 Diagram pandang ventral sistem ekskresi manusia,

Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

118

ginjal kanan disayat frontal

Aves mempunyai ginjal definitif berupa sepasang ginjal metanefros, urin dari setiap ginjal dialirkan melalui tubuli metanefros ureter lubang ureter (wilayah urodeum di dalam kloaka) lubang kloaka. Perhatikan Gambar 12.9.

Gambar 12.4 Ginjal Mamalia sayatan frontal dengan pembuluh darah arteri

Gambar 12.5

Ginjal metanefros Mamalia: Nefron dan duktus kolekta serta

119 Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

pembuluh darah

Mamalia mempunyai ginjal definitif berupa sepasang ginjal metanefros, urin dari setiap ginjal dialirkan melalui tubuli metanefros (tubulus proksimal lengkung Henle tubulus distal duktus kolekta) pelvis ureter vesika urinaria uretra. 12.3.1 Aliran darah ginjal Mamalia Ginjal Mamalia menerima aliran darah dari percabangan aorta dorsalis yaitu arteri renalis, kemudian bercabang-cabang menjadi arteri interlobar arteri arkuata arteri interlobular arteriol Aferen GLOMERULUS arteriol Eferen anyaman kapiler peritubuler (pada permukaan tubulus proksimal dan distal) vasa rekta (pada permukaan lengkung Henle). Selanjutnya aliran balik melalui vena interlobular vena arkuata vena interlobar vena renalis ke vena kava inferior/posterior. Perhatikan Gambar 12.4 dan 12.5. 12.4 Organ Reproduksi dan Gonad Jantan Pada tahap awal embrio yang secara genetis jantan (lelaki) maupun secara genetis betina (perempuan) mempunyai sepasang duktus Muller (duktus paramesonefros) dan sepasang duktus Wolff (duktus mesonefros). Perkembangan selanjutnya bila genetis embrio jantan maka duktus Muller berdegenerasi; tetapi bila genetis embrio betina maka duktus Muller berdiferensiasi menjadi organ reproduksi betina. Perhatikan Gambar 12.1 dan 12.2. Hewan jantan mempunyai sepasang gonad jantan yang disebut testes (tunggal: testis), berfungsi sebagai kelenjar endokrin memproduksi hormon androgen (hormon seks jantan), dan menghasilkan gamet (sel kelamin) jantan yang disebut spermatozoa.
Gambar 12.6 Sistem urogenital dan kelenjar adrenal kodok jantan, pandang ventral.

Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

120

Pada umumnya Pisces jantan, spermatozoa dari testis ditransfer melalui vas eferen duktus mesonefros papila urogenital lubang urogenital. Kodok jantan menyalurkan spermatozoa dari dalam testis melalui rete testis vas eferen duktus mesonefros kloaka lubang kloaka (Gambar 12.6 dan 12.7)

Gambar 12.7 Sistem urogenital kodok jantan, pandang ventral, diperlihatkan sisa duktus Muller berdiferensiasi menjadi oviduk tetapi tidak sempurna, hal ini sangat jarang terjadi Gambar 12.8 Sistem urogenital alligator jantan. A. Pandang ventral, dasar kloaka dilepaskan. B. Penis pandang dorsal, papila genital sebagai muara vas deferen.

121 Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

Reptil jantan pada umumnya menyalurkan spermatozoa dari testes melalui vas eferen vas deferen papila genital penis. perhatikan Gambar 12.8 sistem urogenital alligator. Aves jantan menyalurkan spermatozoa dari testes melalui rete testis vas eferen epididimis vas deferen papila genital (di dalam kloaka) lubang kloaka (perhatikan Gambar 12.9).
Gambar 12.9 Sistem urogenital ayam jantan, pandang ventral. Perhatikan di dalam kloaka terdapat wilayah urodeum (berhubungan dengan urogenital) dan koprodeum adalah bagian akhir saluran pencernaaan.

Sebagai contoh

1. ureter 2. vas deferen 3. uretra 4 . kelenjar koagulating 5. vesikula seminalis 6. prostat kranial 7. prostat kaudal 8. kelenjar ampularis

Gambar 12.10 Kelenjar asesoris hamster jantan, pandang ventral Vesika urinaria dan uretra dibuka untuk menunjukkan muara dukti.

Mamalia jantan mengeluarkan spermatozoa dari testes melalui rete testis


Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI
122

vas eferen epididimis vas deferen (dukti sperma) uretra. Sperma diangkut melalui saluran tersebut dalam media cair yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris. Contoh pada hamster mempunyai kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat (prostat kranial dan kaudal), kelenjar ampularis, dan kelenjar koagulating (perhatikan Gambar 12.10). Sementara pada kucing mempunyai kelenjar prostat, dan kelenjar bulbouretra (lihat Gambar 12.11).

Gambar 12.11 Diagram sistem urogenital kucing jantan, pandang ventral

12.5 Struktur Histologis Testis Mamalia Struktur histologis testis Mamalia dibangun oleh beberapa lobuli testikular yang dilindungi oleh jaringan ikat disebut tunika albuginea. seminiferus dan di luarnya terdapat jaringan interstisial. Di dalam setiap Pada jaringan lobulus testikular terdapat banyak pembuluh halus berliku-liku disebut tubulus interstisial terdapat sel-sel interstisial atau dikenal sebagai sel Leydig. Fungsi sel Leydig menghasilkan hormon androgen (hormon testosteron dan dihidrotestosteron). Hormon testosteron diperlukan untuk proses spermatogenesis yang terjadi di dalam tubulus seminiferus. Dinding dalam tubulus seminiferus mengandung epitel germinativum atau sel spermatogenik, yang terdiri dari spermatogonia, spermatosit primer, spermatosit sekunder, dan spermatid. Sel-sel tersebut tersusun dari bagian tepi dinding dalam ke arah lumen, berarti di dalam tubulus seminiferus terjadi proses spermatogenesis. Di antara sel spermatogenik itu terdapat sel Sertoli, yang tampak jelas intinya tetapi membran selnya tidak tampak. Sebab sel-sel
123 Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

spermatogenik melekat/menempel pada membran sel Sertoli. Sel ini berfungsi memberikan nutrisi untuk perkembangan sel spermatogenik, dan menghasilkan suatu senyawa protein yang disebut Androgen Binding Protein (ABP). ABP berguna untuk mengikat hormon testosteron dari jaringan interstisial supaya masuk ke dalam lumen tubulus seminiferus, sebab testosteron diperlukan untuk proses spermatogenesis. Tahap selanjutnya spermatid mengalami proses spermiogenesis dan menjadi spermatozoa yang siap dikeluarkan dari tubulus seminiferus. Perjalanan sperma melalui tubuli rekti rete testis vas eferen epididimis vas deferen uretra (perhatikan Gambar 12.12). Sperma berada di dalam epididimis selama beberapa hari untuk proses kematangan fisiologis, supaya bersifat motil. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fungsi testis ada dua, yaitu sebagai kelenjar endokrin penghasil hormon androgen, dan sebagai kelenjar kelamin (gonad) yang menghasilkan spermatozoa.

Gambar 12.12 Diagramatis sayatan sagital organ urogenital lelaki v.u. = vesika urinaria, k.b.= kelenjar bulbouretra

Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

124

Gambar 12.13 Diagram sayatan sagital terhadap testis

12.6 Organ Reproduksi dan Gonad Betina Pada masa embrio awal, baik embrio jantan dan betina mempunyai dua pasang bakal saluran reproduksi, yaitu duktus Muller dan duktus Wolff. Duktus Muller akan berdegenerasi pada embrio jantan. Sedangkan pada embrio betina, duktus Muller akan berdiferensiasi. Duktus Muller Pisces dan Amfibi berdiferensiasi menjadi sepasang oviduk yang berliku-liku, bagian posterior membesar menjadi ovisak (kantung telur) yang berfungsi menyimpan telur sebelum dilepaskan. Dinding dalam oviduk kaya akan kelenjar yang menghasilkan lendir untuk melapisi sel telur. Oviduk Pisces bermuara ke lubang urogenital, sedangkan oviduk Amfibi bermuara ke lubang kloaka. Ovarium Pisces berbentuk kantung dan lumennya bersambung dengan lumen oviduk, sehingga telur yang diovulasikan dari lumen ovarium langsung ke lumen oviduk dan bermuara ke lubang urogenital. Ovarium Amfibi juga berlumen, telur diovulasikan ke rongga abdomen lalu dimasukkan melalui ostium ke lumen oviduk, bagian distal oviduk menggembung disebut ovisak, yang berfungsi menampung sementara telur sebelum dilepaskan dari tubuh. Ovisak bermuara ke kloaka, perhatikan Gambar 12.14.

125 Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

Gam 12.14 Sistem urogenital kodok betina, pandang ventral

bar

Duktus Muller Reptil dan Aves berdiferensiasi menjadi sepasang oviduk yang berliku-liku. Tetapi pada buaya, beberapa jenis kadal, dan umumnya Aves hanya mempunyai oviduk kiri, sebab duktus Muller kanan rudimen. Amniota yang ovipar dan ovopipipar, di dalam oviduk mempunyai bagian yang menghasilkan albumen disebut magnum, dan bagian yang menghasilkan cangkang disebut kelenjar cangkang, perhatikan Gambar 12.15.

Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

126

Gambar 12.15 Diagram pandang ventral saluran genital ayam betina

Gambar 12.16 Diagram uterus & struktur yang berhubungan a) marsupial b) kelinci c) monyet

Gambar 12.17 Sketsa sayatan sagital anatomi uterus, perhatikan bipartitus mempunyai dua lumen di bagian badan uterus

Pada Mamalia, duktus Muller menjadi oviduk, uterus, dan bagian proksimal vagina.. Terdapat dua tipe uterus berdasarkan hasil fusi duktus Muller, yaitu tipe dupleks dan simpleks. Disebut dupleks bila mempunyai tanduk uterus dan di dalam tanduk uterus calon individu baru mengalami perkembangan, lumen
127 Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

uterus relatif sempit. Dupleks ada dua macam yaitu bipartitus bila uterus mempunyai dua lumen, dan bikornuatus bila uterus mempunyai satu lumen. Uterus tipe simpleks tanpa tanduk uterus, mempunyai lumen yang relatif besar dan di dalam lumen calon individu baru mengalami perkembangan. Perhatikan Gambar 12.16 dan 12.17 yang menunjukkan gambar skematis uterus dan contoh sketsanya. 12.7 Struktur Histologis Ovarium Mamalia Struktur histologis ovarium Mamalia terdiri atas bagian medula dan korteks. Bagian medula mengandung jaringan ikat yang kaya pembuluh darah. Sedangkan pada bagian korteks terdapat sel-sel stroma ovarium dan sejumlah folikel telur (terdiri dari banyak sel-sel folikel dan oosit primer/oosit I). Secara berkala folikel telur mengalami perkembangan, sewaktu dalam proses perkembangannya disebut sebagai folikel sedang tumbuh (growing

folikel) . Tahap perkembangannya terdiri atas folikel primordial, folikel primer,


folikel sekunder, folikel tertier dan folikel matang.

Gambar

12.18

Diagram

sayatan

longitudinal

ovarium

dengan

ilustrasi

perkembangan folikel

Sebagai contoh dijelaskan perkembangan folikel telur manusia. Folikel primordial terdiri dari satu lapis sel-sel folikel yang masih berbentuk pipih (epitel pipih), di bagian tengah terdapat satu oosit I. Setelah sel-sel folikel mengalami
Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI
128

perubahan menjadi bentuk kubus maka disebut sebagai folikel primer. Selanjutnya sel-sel folikel tersebut bermitosis sehingga menjadi berlapis banyak, maka menjadi folikel sekunder. Sementara itu sel-sel folikel menghasilkan cairan antrum yang masih tersebar dan oosit I menyelesaikan meiosis I sehingga menjadi oosit II; maka dalam keadaan demikian disebut sebagai folikel tertier. Cairan antrum bertambah banyak dan menyatu, akibatnya sebagian besar sel-sel folikel terdesak menjauhi oosit II tetapi sebagian terletak di sekeliling dan sebagian lagi menopang oosit II; tahap ini disebut folikel matang atau folikel Grafian (folikel de Graff) . Sel-sel folikel yang terletak di sekeliling oosit II disebut sel-sel korona radiata, sementara yang menopang oosit II disebut selsel kumulus ooforus. Sedangkan sel-sel teka interna dan sel-sel teka eksterna berasal dari sel-sel stroma ovarium -di sekitar folikel sedang tumbuh tersebutmengalami kondensasi. Akhirnya oosit II tahap metafase II dilepaskan, dengan kata lain terjadi ovulasi. Setelah ovulasi folikel matang menjadi korpus luteum.

Gambar 12.19 Diagram perkembangan folikel telur Mamalia 129 Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

Gambar 12.20

Diagram sayatan frontal uterus manusia pandang ventral dan

struktur yang berhubungan (sepasang oviduk dan sepasang ovaria)

Gambar 12.21 Diagram endometrium bagian yang diperbesar dari Gambar 12.20

12.8 Lapisan endometrium uterus simpleks Perkembangan folikel telur ini dikendalikan oleh hormon FSH (Folikel

Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone) berasal dari hipofisis


anterior. Selama proses itu, ovarium menghasilkan hormon estrogen dan
130

Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

progesteron yang akan mempengaruhi kondisi lapisan endometrium. Lapisan endometrium berdasarkan fungsinya terdiri dari dua lapis yaitu lapisan basal dan lapisan fungsional (lapisan sponsa dan lapisan padat). Lapisan basal merupakan lapisan yang aktif bermitosis secara berkala dikendalikan oleh hormon estrogen dan progesteron, membentuk lapisan fungsional. Lapisan fungsional akan mengalami peluruhan secara berkala. 12.9 Perubahan posisi gonad Perubahan posisi gonad Mamalia khususnya manusia dapat dilihat pada Gambar 12.22. Ligamen ovarium adalah homolog dengan gubernakulum. Gambar 12.22 A menjelaskan posisi ovarium semula berada dalam rongga abdomen, lalu mengalami pergeseran ke rongga pelvik. Gambar 12.22 B menjelaskan posisi testis semula dalam rongga abdomen bergeser ke rongga pelvik dan akhirnya keluar dari rongga tubuh utama dan masuk ke dalam kantung skrotum.

Gambar 12.22 Perubahan posisi gonad Mamalia. Tanda panah menunjukkan arah transisi gonad

131 Struktur Vertebrata 2010 Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI