Anda di halaman 1dari 7

TANATOLOGI: MUMIFIKASI I.

PENDAHULUAN Tanatologi adalah deskripsi atau studi tentang fenomena suatu kematian, termasuk aspek medis, psikologis, dan sosiologis. Dalam bahasa yunani, thanatos berarti kematian.1 Definisi kematian adalah akhir suatu kehidupan atau berhentinya secara permanen dari semua fungsi-fungsi vital.2 Terdapat beberapa jenis kematian yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut; a. Mati somatis (mati klinis atau sistematis) adalah terhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan (sistem pernapasan, sistem kardiovaskular, dan sistem susunan saraf pusat) secara irreversibel sehingga menyebabkan terjadinya anoksia jaringan yang lengkap dan menyeluruh. Jadi stadium kematian ini telah sampai pada kematian otak yang irreversibel (brain death irreversible).3 b. Mati seluler (mati molekuler) adalah berhentinya aktivitas sistem jaringan, sel, dan molekuler tubuh, sehingga terjadi kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak bersamaan, hal ini penting dalam transplantasi organ.3 c. Mati suri (suspended animation, apparent death)

ii

adalah terhentinya ketiga sistem kehidupan diatas yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik, dan tenggelam.3 d. Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskular masih berfungsi dengan bantuan alat.3 e. Mati otak (Mati batang otak) adalah bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang ireversibel, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan.3 Suatu kematian sering dihubungkan dengan menentukan saat kematian atau interval antara saat kematian dan ketika tubuh ditemukan. Dalam menentukan waktu kematian, beberapa tanda kematian boleh didapatkan melalui dua fase, yaitu pada fase awal dan fase lanjutan. Yang mana beberapa tanda kematian pada fase awal adalah sebagai berikut; 3,4 a. b. c. Pernapasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit Sirkulasi berhenti, dinilai selama 15 menit, nadi karotis Perubahan pada kulit (pucat)

(inspeksi, palpasi, dan auskultasi). tidak teraba.

iii

d.

Relaksasi otot dan tonus menghilang. Relaksasi dari otot-

otot wajah menyebabkan kulit menimbul sehingga kadang-kadang membuat orang menjadi lebih awet muda. Kelemasan otot sesaat setelah kematian disebut relaksasi primer, hal ini menyebabkan pendataran daerah-daerah yang tertekan, e. Segmentasi pembuluh darah retina beberapa menit sebelum kematian. Segmen-segmen tersebut bergerak ke arah tepi retina kemudian menetap f. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat dihilangkan dengan meneteskan air. Terdapat tanda-tanda kematian yang pasti yaitu tanda kematian pada fase lanjutan adalah sebagai berikut; a. Lebam mayat (Livor mortis) Nama lain ligor mortis adalah lebam mayat, post mortem lividity, post mortem hypostatic, post mortem sugillation, atau vibices. Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah karena gaya tarik bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak berwarna merah ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang terkena alas keras. Darah tetap cair karena adanya pembuluh darah.4 Livor mortis biasanya muncul antara 30 menit sampai 2 jam setelah kematian. Lebam mayat muncul bertahap, biasanya mencapai perubahan warna yang maksimal dalam 8-12 jam. Untuk mengetahui bahwa lebam mayat belum menetap dapat didemostrasikan dengan melakukan penekanan ke daerah yang mengalami perubahan warna dan tidak ada kepucatan pada titik dimana dilakukan penekanan. Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh tertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi. Selain itu kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan tersebut.4,5 iv

Ada 3 faktor yang mempengaruhi lebam mayat, yaitu: Volume darah yang beredar Lamanya darah dalam keadaan cepat cair Warna lebam

b. Kaku mayat (Rigor mortis) Rigor mortis atau kekakuan dari tubuh mayat setelah kematian dikarenakan menghilangnya adenosine trifosfat (ATP) dari otot. ATP adalah sumber utama dari energi untuk kontraksi otot. Pada ketiadaan dari ATP, filament aktin dan myosin menjadi kompleks yang menetap dan terbentuk rigor mortis. Kompleks ini menetap sampai terjadi dekomposisi. Penggunaan yang banyak dari otot sebelum kematian akan menimbulkan penurunan pada ATP dan mempercepat onset terjadinya rigor mortis, hingga tidak ada ATP yang diproduksi setelah kematian.4 Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan yang bermakna pada ATP menjelang kematian adalah olahraga yang keras atau berat, konvulsi yang parah, dan suhu tubuh yang tinggi. Rigor mortis menghilang dengan timbulnya dekomposisi. Pendinginan atau pembekuan akan menghambat onset dari rigor mortis selama dibutuhkan.4 Rigor mortis biasanya muncul 2-4 jam setelah kematian, dan muncul keseluruhan dalam 6-12 jam. Ini dapat berubah-rubah. Ketika rigor mortis terjadi, menyerang semua otot-otot pada saat yang bersamaan dan kecepatan yang sama. Namun tampak lebih jelas pada otot-otot yang lebih kecil, hal ini disebabkan otot kecil memiliki lebih sedikit cadangan glikogen. Setelah 36 jam pasca mati klinis, tubuh mayat akan lemas kembali sesuai urutan terbentuknya kekakuan, ini disebut relaksasi sekunder.4 Keadaan-keadaan yang mempercepat terjadinya rigor mortis, antara lain aktivitas fisik sebelum kematian, suhu tubuh tinggi, suhu lingkungan tinggi, usia anak-anak dan orang tua, dan gizi yang buruk. v

c. Penurunan suhu tubuh (algor mortis) Algor mortis adalah penurunan suhu tubuh mayat akibat terhentinya produksi panas dan terjadinya pengeluaran panas secara terusmenerus. Pengeluaran panas tersebut disebabkan perbedaan suhu antara mayat dengan lingkungannya. Suhu tubuh pada orang meninggal secara bertahap akan sama dengan lingkungan atau media sekitarnya karena metabolisme yang menghasilkan panas terhenti setelah orang meninggal. Pada jam pertama setelah kematian, penurunan suhu berjalan lambat karena masih ada produksi panas dari proses gilkogenolisis dan sesudah itu penurunan akan cepat terjadi dan menjadi lambat kembali.4,5 Penurunan suhu tubuh dipengaruhi: Faktor lingkungan (media). Keadaan fisik tubuh. Usia. Pakaian yang menutupi. Suhu tubuh sebelum kematian.

d. Pembusukan (dekomposisi) Dekomposisi terbentuk oleh dua proses: autolisis dan putrefaction. Autolisis menghancurkan sel-sel dan organ-organ melalui proses kimia aseptik yang disebabkan oleh enzim intraselular.4 Putrefaction disebabkan oleh bakteri dan fermentasi. Setelah kematian, bakteri flora dari traktus gastrointestinal meluas keluar dari tubuh, menghasilkan putrefaction. Onset dari putrefaction tergantung pada dua faktor utama: lingkungan dan tubuh. Putrefaction dihasilkan oleh hemolisis dari darah dalam pembuluh darah dengan reaksi dari hemoglobin dan sulfida hydrogen dan membentuk warna hijau kehitaman sepanjang pembuluh darah. Lama kelamaan tubuh mayat akan menggembung secara keseluruhan (60-72 jam) diikuti oleh formasi vi

vesikel, kulit menjadi licin, dan rambut menjadi licin. Pada saat itu, tubuh mayat yang pucat kehijauan menjadi warna hijau kehitaman.4 Kegembungan pada tubuh mayat sering terlihat pertama kali pada wajah, dimana bagian-bagian dari wajah membengkak, mata menjadi menonjol dan lidah menjulur keluar antara gigi dan bibir.4 Adakalanya, tubuh mayat yang terdekomposisi akan bertransformasi ke arah adiposere. Adiposere adalah suatu bentuk tetap, berwarna putih keabu-abuan sampai coklat lilin seperti bahan yang membusuk dan berminyak, asam stearat. Ini dihasilkan oleh konversi dari lemak yang netral selama perbusukan ke asam yang tidak dapat dijelaskan. Hal tersebut lebih nyata pada jaringan subkutan, tetapi dapat terjadi dimana saja bila terdapat lemak.4 Manakala, pada lingkungan panas, iklim kering, tubuh mayat akan mengalami dehidrasi secara cepat dan akan lebih mengalami mumifikasi daripada dekomposisi. Pada saat kulit mengalami perubahan dari coklat menjadi hitam, organ-organ interna akan berlanjut memburuk, seringkali konsistensinya menurun menjadi berwarna seperti dempul hitam kecoklatan. Mumifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi, dan waktu yang lama (12 14 minggu).6 II. MUMIFIKASI

Definisi mumifikasi adalah suatu jaringan ikat yang mengerut seperti pada gangren yang kering.2

vii

DAFTAR PUSTAKA 1. Websters New World. Medical Dictionary. In; MedicineNet.com. Definition of thanatology/ Avaiable from: URL; http://www.medterms.com/script/main/art.asp?articlekey=38660. 2. Medical Dictionary. In: Dorlands Pocket 28th edition. 2009. Elsevier Saunders. p. 220. p.536. 3. Bernard Knight. CBE. The Nature and Definitions of death, In: Simpsons Forensic Medicine. 11th Edition. 1997. P.9-11. 4. DiMaio V J, DiMaio, Dominick DiMaio. Time of death. In: Forensic Pathology, 2nd edition. London : CRC Press; 2001.p.43-57. 5. Dolinak D, Matshes E, Lew E, Postmortem Changes. In: Forensic Pathology Principles and Practice. USA: Elsevier Academic Press; 2005. p.551 6. Jay Dix, MD, Robert Calaluce, MD. Time Of Death, Decomposition, And
Identification. In: Guide to Forensic Pathology. CRC Pree: Boca Raton

London New York Washington, D.C. 1998. p. 43-52

viii

Anda mungkin juga menyukai