Anda di halaman 1dari 27

Oleh Kelompok Tujuh Andres Rivaldi Dwi Atika XII IPS 2

SK : Memahami Pembacaan Novel


KD : Menjelaskan Unsur Unsur Intrinstik dari Pembacaan Penggalan Novel
1. 2.

3. 4. 5.

Menjelaskan Pengertian Unsur- unsur Instrinsik Menentukan Unsur Intrinstik dari Penggalan Novel Pengertian Frasa Jenis Jenis Frasa Menentukan Frasa Berdasarkan Jenis dalam

Unsur intrinstik novel adalah unsur penting yang seharusnya ada pada sebuah novel. Unsur unsur tersebut dianggap penting karena mampu membuat sebuah novel menjadi suatu keutuhan. Unsur intrinsik novel justru menjadikan bagian dalam novel sebagai ruh dari cerita yang dihidangkan oleh penulis. Hal hal yang termasuk ke dalam unsur intrinstik novel adalah sebagai berikut :

1. TEMA
tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, sesuatu yang menjiwai cerita, atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita. Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema

Tema dalam sebuah cerita atau novel adalah tema yang diangkat oleh seorang pengarang yang akan menjadi semacam benang merah dalam novel yang ditulis.
Dalam menentukan tema, pengarang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: minat pribadi, selera pembaca, dan keinginan penerbit atau penguasa.

2.TOKOH/PENOKOHAN
Penokohan menggambarkan karakter untuk pelaku. Pelaku bisa diketahui karakternya dari cara bertindak, ciri fisik, lingkungan tempat tinggal. (Drs. Rustamaji, M,Pd, Agus Priantoro, S.Pd) Tokoh adalah individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakuan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, namun dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan.

Adapun menurut Jakob Sumardjo dan Saini KM, ada beberapa cara menyajikan watak tokoh, yaitu:

1.Melalui penggambaran fisik tokoh.

2.Melalui pikiran-pikirannya.

3.Melalui apa yang diperbuatnya, tindakan-tindakannya, terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis.

4.Melalui ucapan-ucapannya. Dari ucapan kita dapat mengetahui apakah tokoh tersebut orang tua, orang berpendidikan, wanita atau pria, kasar atau halus.

3.LATAR (SETTING)

Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, suasana, dan situasi terjadinya peristiwa dalam cerita.

Latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok:

. Latar sosial, mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam cerita. Latar sosial bisa mencakup kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta status sosial. Latar waktu, berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam cerita . Latar tempat, mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam cerita.

SUDUT PANDANG (POINT OF VIEW)

Sudut pandang adalah cara memandang dan menghadirkan tokoh-tokoh cerita dengan

menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Dalam hal ini, ada dua macam sudut pandang yang bisa dipakai:

Sudut pandang orang pertama (first person point of view) Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang orang pertama, aku, narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si aku tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar, dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si aku tersebut. b. Sudut pandang orang ketiga (third person point of view) Dalam cerita yang menpergunakan sudut pandang orang ketiga, dia, narator adalah seorang yang berada di luar cerita, yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti.

5.ALUR (PLOT)
Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita

Alur / plot merupakan rangkaian peristiwa dalam novel. Alur

dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu alur maju (progresif) yaitu apabila


peristwa bergerak secara bertahap berdasarkan urutan kronologis menuju alur cerita. Sedangkan alur mundur (flash back progresif) yaitu terjadi ada kaitannya dengan peristiwa yang sedang berlangsung

6. AMANAT
Amanat adalah segala hal positif yang mengandung pesan. Baik pesan moral maupun spritual yang terdapat dalam sebuah novel. Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh penulis melalui novelnya. Sebagaimana tema, amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku atau peristiwa yang terjadi pada tokoh menjelang cerita berakhir, dan dapat pula disampaikan secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, atau larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.

7. GAYA BAHASA
Merupakan gaya yang dominan dalam sebuah novel (Drs. Rustamaji, M,Pd, Agus Priantoro, S.Pd) Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa oleh pengarang dalam upaya menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah. Pengolahan bahasa harus didukung oleh diksi (pemilihan kata) yang tepat.

Gaya bahasa merupakan cara pengungkapan yang khas bagi setiap pengarang. Gaya seorang pengarang tidak akan sama apabila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya, karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitamya.

FRASA
Frasa adalah satuan yang terdiri atas dua kata atau lebih yang menduduki satu fungsi kalimat. Frasa adalah satuan konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan (Keraf, 1984:138).

Frasa juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1991:222). Menurut Prof. M. Ramlan, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan (Ramlan, 2001:139). Artinya sebanyak apapun kata tersebut asal tidak melebihi jabatannya sebagai Subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan, maka masih bisa disebut frasa

Dari beberapa pendapat diatas tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa frasa bisa terdiri dari satu kata atau lebih selama itu tidak melampaui batas fungsi atau jabatannya yang berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan.

JENIS JENIS FRASA


Jenis frasa dibagi menjadi dua, yaitu : 1.Berdasarkan Persamaan Distribusi dengan Unsurnya (Pemadunya). Berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya, frasa dibagi menjadi dua, yaitu Frasa Endosentris dan Frasa Eksosentris.
Frasa Endosentris, kedudukan frasa ini dalam fungsi tertentu, dpat digantikan oleh unsurnya. Unsur frasa yang dapat menggantikan frasa itu dalam fungsi tertentu yang disebut unsur pusat (UP). Dengan kata lain, frasa endosentris adalah frasa yang memiliki unsur pusat.

Contoh: Sejumlah mahasiswa(S) diteras(P). Kalimat tersebut tidak bisa jika hanya Sejumlah di teras (salah) karena kata mahasiswa adalah unsur pusat dari subjek. Jadi, Sejumlah mahasiswa adalah frasa endosentris. Frasa endosentris sendiri masih dibagi menjadi tiga.

- FRASA ENDOSENTRIS KOORDINATIF


Frasa Endosentris Koordinatif, yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang berbeda diantara unsurnya terdapat (dapat diberi) dan atau atau.
Contoh: rumah pekarangan suami istri dua tiga (hari) ayah ibu pembinaan dan pembangunan pembangunan dan pembaharuan belajar atau bekerja.

-FRASA ENDOSENTRIS ATRIBUTIF,


Contoh: pembangunan lima tahun sekolah Inpres buku baru orang itu malam ini sedang belajar sangat bahagia.
yaitu frasa endosentris yang disamping mempunyai unsur pusat juga mempunyai unsur yang termasuk atribut. Atribut adalah bagian frasa yang bukan unsur pusat, tapi menerangkan unsur pusat untuk membentuk frasa yang bersangkutan.

Kata-kata yang dicetak miring dalam frasa-frasa di atasseperti adalah unsur pusat, sedangkan kata-kata yang tidak dicetak miring adalah atributnya.

-FRASA ENDOSENTRIS APOSITIF,


yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang sama. Unsur pusat yang satu sebagai aposisi bagi unsur pusat yang lain.

Contoh: Ahmad, anak Pak Sastro, sedang belajar. Ahmad, .sedang belajar. .anak Pak Sastro sedang belajar. Unsur Ahmad merupakan unsur pusat, sedangkan unsur anak Pak Sastro merupakan aposisi.

Contoh lain: Yogya, kota pelajar Indonesia, tanah airku Bapak SBY, Presiden RI Mamad, temanku.

Frasa Eksosentris, adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat. Jadi, frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai UP. Contoh: Sejumlah mahasiswa di teras.

2.Kategori Kata yang Menjadi Unsur Pusatnya. Berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya, frasa dibagi menjadi enam.

1.Frasa nomina, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori nomina. UP frasa nomina itu berupa:

-nomina sebenarnya contoh: pasir ini digunakan utnuk mengaspal jalan

-pronomina contoh: dia itu musuh saya contoh: Tika itu manis kata-kata selain nomina, tetapi strukturnya berubah menjadi nomina contoh: dia rajin rajin itu menguntungkan anaknya dua ekor dua itu sedikit dia berlari berlari itu menyehatkan kata rajin pada kaliat pertama awalnya adalah frasa ajektiva, begitupula dengan dua ekor awalnya frasa numeralia, dan kata berlari yang awalnya adalah frasa verba.

2.Frasa Verba, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori verba. Secara morfologis, UP frasa verba biasanya ditandai adanya afiks verba. Secara sintaktis, frasa verba terdapat (dapat diberi) kata sedang untuk verba aktif, dan kata sudah untuk verba keadaan. Frasa verba tidak dapat diberi kata sangat, dan biasanya menduduki fungsi predikat.

Contoh: Dia berlari. Secara morfologis, kata berlari terdapat afiks ber-, dan secara sintaktis dapat diberi kata sedang yang menunjukkan verba aktif.

3.Frasa Ajektiva, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori ajektiva. UP-nya dapat diberi afiks ter- (paling), sangat, paling agak, alangkahnya, se-nya. Frasa ajektiva biasanya menduduki fungsi predikat.

Contoh: Rumahnya besar. Ada pertindian kelas antara verba dan ajektifa untuk beberapa kata tertentu yang mempunyai ciri verba sekaligus memiliki ciri ajektifa. Jika hal ini yang terjadi, maka yang digunakan sebagai dasar pengelolaan adalah ciri dominan. Contoh: menakutkan (memiliki afiks verba, tidak bisa diberi kata sedang atau sudah.

4.Frasa Numeralia, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk


kategori numeralia. Yaitu kata-kata yang secara semantis

mengatakan bilangan atau jumlah tertentu. Dalam frasa numeralia terdapat (dapat diberi) kata bantu bilangan: ekor, buah, dan lain-lain.

Contoh:

dua buah

tiga ekor lima biji duapuluh lima orang.

5.Frasa Preposisi, frasa yang ditandai adanya preposisi atau kata depan sebagai penanda dan diikuti kata atau kelompok kata (bukan klausa) sebagai petanda. Contoh: Penanda (preposisi) + Petanda (kata atau kelompok kata) di teras ke rumah teman dari sekolah untuk saya

6.Frasa Konjungsi, frasa yang ditandai adanya konjungsi atau kata sambung sebagai penanda dan diikuti klausa sebagai petanda. Karena penanda klausa adalah predikat, maka petanda dalam frasa konjungsi

selalu mempunyai predikat.

Contoh: Penanda (konjungsi) + Petanda (klausa, mempunyai P) Sejak kemarin dia terus diam(P) di situ. Dalam buku Ilmu Bahasa Insonesia, Sintaksis, Ramlan menyebut frasa tersebut sebagai frasa keterangan, karena keterangan menggunakan kata yang termasuk dalam kategori konjungsi.