Anda di halaman 1dari 11

BAB II KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori 1. Definisi Kedisiplinan Siswa Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita tidak akan terlepas dari aktivitas atau kegiatan. Kadang, kegiatan itu kita lakukan dengan tepat waktu, tapi kadang juga tidak. Kegiatan yang kita laksanakan secara tepat waktu dan dilaksanakan secara berkesinambungan dengan cara yang benar akan menimbulkan suatu kebiasaan. Kebiasaan dalam melaksanakan kegiatan secara teratur dan tepat waktulah yang biasanya disebut disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin diperlukan di manapun, karena dengan disiplin akan tercipta kehidupan yang teratur dan tertata. Untuk lebih memahami tentang disiplin, berikut akan diuraikan pengertian disiplin dari beberapa ahli. a. Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan berbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban1. b. Arti disiplin secara lengkap adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan

Prijodarminto, Soegeng, SH. 1992. Disiplin Kiat Menuju Sukses. Jakarta: Pradnya Paramita. Hal. 23

yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapa pun2. Dari kedua definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan keterikatan yang dilakukan secara sadar oleh pelakunya. Dengan demikian dapat pula disimpulkan bahwa kedisiplinan siswa adalah kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang yang berlaku di sekolah tempatnya belajar.

2. Hal-hal yang Mempengaruhi Kedisiplinan Siswa Perilaku disiplin tidak akan tumbuh dengan sendirinya, melainkan perlu kesadaran diri, latihan, kebiasaan, dan juga adanya hukuman. Bagi siswa disiplin belajar juga tidak akan tercipta apabila siswa tidak mempunyai kesadaran diri. Siswa akan disiplin dalam belajar apabila siswa sadar akan pentingnya belajar dalam kehidupannya. Penanaman disiplin perlu dimulai sedini mungkin mulai dari dalam lingkungan keluarga. Mulai dari kebiasaan bangun pagi, makan, tidur, dan mandi harus dilakukan secara tepat waktu sehingga anak akan terbiasa melakukan kegiatan itu secara kontinyu. Menurut Tuu (2004:48-49)3 mengatakan ada empat faktor dominan yang mempengaruhi dan membentuk disiplin yaitu:

Asy Mas`udi. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Yogyakarta: PT Tiga Serangkai, 2000. h. 88. (dalam Sanjaya Ade, 2010). Budiman.2010. Angket Kedisiplinan Siswa. http://chemistrybudiman07.blogspot.com. (diakses tanggal 29 September 2012)

a. Kesadaran Diri Sebagai pemahaman diri bahwa disiplin penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Selain itu kesadaran diri menjadi motif sangat kuat bagi terwujudnya disiplin. Disiplin yang terbentuk atas kesadarn diri akan kuat pengaruhnya dan akan lebih tahan lama dibandingkan dengan disiplin yang terbentuk karena unsur paksaan atau hukuman. b. Pengikutan dan Ketaatan Sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan-peraturan yang mengatur perilaku individunya. Hal ini sebagai kelanjutan dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan dan kemauan diri yang kuat. c. Alat Pendidikan Untuk mempengaruhi, mengubah, membina, dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan. d. Hukuman Seseorang yang taat pada aturan cenderung disebabkan karena dua hal, yang pertama karena adanya kesadaran diri, kemudian yang kedua karena adanya hukuman. Hukuman akan menyadarkan, mengoreksi, dan meluruskan yang salah, sehingga orang kembali pada perilaku yang sesuai dengan harapan. Lebih lanjut Tuu (2004:49-50) menambahkan masih ada faktorfaktor lain yang berpengaruh dalam pembentukan disiplin yaitu.

a. Teladan Teladan adalah contoh yang baik yang seharusnya ditiru oleh orang lain. Dalam hal ini siswa lebih mudah meniru apa yang mereka lihat sebagai teladan (orang yang dianggap baik dan patut ditiru) daripada dengan apa yang mereka dengar. Karena itu contoh dan teladan disiplin dari atasan, kepala sekolah dan guru-guru serta penata usaha sangatberpengaruh terhadap disiplin para siswa. b. Lingkungan berdisiplin Lingkungan berdisiplin kuat pengaruhnya dalam

pembentukan disiplin dibandingkan dengan lingkungan yang belum menerapkan disiplin. Bila berada di lingkungan yang berdisiplin, seseorang akan terbawa oleh lingkungan tersebut. c. Latihan berdisiplin Disiplin dapat tercapai dan dibentuk melalui latihan dan kebiasaan. Artinya melakuakn disiplin secara berulang-ulang dan membiasakannya dalam praktik-praktik disiplin seharihari. Sedangkan menurut Lemhanas (1997:15) terbentuknya disiplin karena alasan berikut. 1) Disiplin tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkan, dikembangkan, dan diterapkan dalam semua aspek, menerapkan sanksi serta dengan bentuk ganjaran dan hukuman sesuai dengan amal perbuatan para pelaku.

2) Disiplin seseorang adalah produk sosialisasi sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya, terutama lingkungan sosial. Oleh karena itu, pembentukan disiplin tunduk pada kaidah-kaidah proses belajar. 3) Dalam membentuk disiplin ada pihak yang memiliki kekuasaan lebih besar, sehingga mampu mempengaruhi tingkah laku pihak lain karena tingkah laku yang diinginkannya.

3. Bentuk-bentuk Perilaku Disiplin Siswa di Sekolah Dari beberapa definisi disiplin, dapat dipahami bahwa disiplin mengandung arti adanya kesediaan untuk mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku. Kepatuhan disini bukan hanya karena adanya tekanantekanan dari luar, melainkan kepatuhan yang didasari oleh adanya kesadaran tentang nilai dan pentingnya peraturan-peraturan. Kondisi yang dinamis, tertib dan aman adalah merupakan pencerminan dari kedisiplinan atau kehadiran dan kepatuhan, biak itu disiplin kepala sekolah, guru maupun siswa yang didasari oleh kesadaran dalam menjalankan dan melaksanakan peraturan. Secara umum, bentuk-bentuk perilaku disiplin siswa di sekolah dapat disebutkan sebagai berikut:

a. Pelaksanaan tata tertib sekolah dengan baik, meliputi: 1) Patuh terhadap peraturan sekolah/lembaga pendidikan yang terkait. 2) Tidak suka berbohong. 3) Tidak pernah keluar pada jam pelajaran. 4) Tidak melanggar pada peraturan-peraturan yang berlaku. 5) Tidak pernah membolos dalam proses belajar mengajar. 6) Tepat waktu dalam proses belajar mengajar 7) Bersikap yang menyenangkan. 8) Tidak makan saat jam pelajaran. 9) Mengerjakan semua tugas sekolah. 10) Rajin dalam belajar mengajar. b. Taat terhadap kebijakan dan kebijaksanaan yang berlaku, meliputi: 1) Menerima dan menganalisis serta mengkaji berbagai pembaharuan pendidikan. 2) Berusaha menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi pendidikan yang ada. 3) Mengerjakan tugas sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dari guru. 4) Membantu menciptakan proses belajar-mengajar yang kondusif. 5) Disiplin di dalam kelas ataupun diluar kelas. 6) Introspeksi diri.4

Rahma, Nurul. 2011. Bentuk-bentuk Disiplin Sekolah. http://id.shvoong.com (diakses pada tanggal 10 Oktober 2012).

4. Bentuk-bentuk Perilaku Pelanggaran Disiplin Siswa di Sekolah Dewasa ini, sangat banyak bentuk perilaku pelanggaran siswa terhadap kedisiplinan di sekolah. Bentuk-bentuk perilaku itu

dikelompokan sebagai berikut.


a. Agresi fisik (pemukulan, perkelahian, perusakan, dan sebagainya). b. Kesibukan berteman (berbincang-bincang, berbisik-bisik, berkunjung ke tempat duduk teman tanpa izin). c. Mencari perhatian (mengedarkan tulisan-tulisan, gambar-gambar dengan maksud mengalihkan perhatian dari pelajaran). d. Menantang wibawa guru (tidak mau nurut, memberontak, memprotes dengan kasar, dan sebagainya), dan membuat perselisihan (mengkritik, menertawakan, mencemoohkan). e. Merokok di sekolah, datang terlambat, membolos, dan kabur, mencuri dan menipu, tidak berpakaian sesuai dengan ketentuan, mengompas (memeras teman sekolah), serta menggunakan obat-obatan terlarang maupun minuman keras di sekolah.

5. Aspek-aspek Kedisiplinan
Secara umum, disiplin memiliki 3 (tiga) aspek. Ketiga aspek tersebut adalah : a. Sikap mental (mental attitude) yang merupakan sikap taat dan tertib sebagai hasil atau pengembangan dari latihan, pengendalian pikiran dan pengendalian watak. b. Pemahaman yang baik mengenai sistem peraturan perilaku, norma, kriteria, dan standar yang sedemikan rupa, sehingga pemahaman tersebut

menumbuhkan pengertian yang mendalam atau kesadaran, bahwa ketaatan akan aturan. Norma, dan standar tadi merupakan syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan (sukses). c. Sikap kelakuan yang secara wajar menunjukkan kesungguhan hati, untuk mentaati segala hal secara cermat dan tertib5.

6. Indikator Kedisiplinan Siswa Menurut Arikunto (1990:137) dalam penelitian mengenai

kedisiplinnannya membagi tiga macam indikator kedisiplinan, yaitu: 1) perilaku kedisiplinan di dalam kelas, 2) perilaku kedisiplinan di luar kelas di lingkungan sekolah, dan 3) perilaku kedsiplinan di rumah. Tuu (2004:91) dalam penelitian mengenai disiplin sekolah mengemukakan bahwa indikator yang menunjukan pergeseran/perubahan hasil belajar siswa sebagai kontribusi mengikuti dan menaati peraturan sekolah adalah meliputi: dapat mengatur waktu belajar di rumah, rajin dan teratur belajar, perhatian yang baik saat belajar di kelas, dan ketertiban diri saat belajar di kelas. Sedangkan menurut Syafrudin dalam jurnal Edukasi (2005:80) membagi indikator disiplin belajar menjadi empat macam, yaitu: 1) ketaatan terhadap waktu belajar, 2) ketaatan terhadap tugas-tugas pelajaran, 3) ketaatan terhadap penggunaan fasilitas belajar, dan 4) ketaatan menggunakan waktu datang dan pulang6.

Prijodarminto, Soegeng, SH. 1992. Disiplin Kiat Menuju Sukses. Jakarta: Pradnya Paramita. Hal. 23-24 6 Fitriadi, Yoza. 2011. Angket Disiplin Sekolah. http://yoza-fitriadi.blogspot.com (diakses pada tanggal 05 Oktober 2012).

Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini penulis membagi indikator disiplin belajar menjadi empat macam, yaitu: a. Ketaatan terhadap tata tertib sekolah. b. Ketaatan terhadap kegiatan belajar di sekolah. c. Ketaaatan dalam mengerjakan tugas-tugas pelajaran. d. Ketaatan terhadap kegiatan belajar di rumah.

B. Kerangka Berpikir dan Paradigma Penelitian Kedisiplinan siswa terhadap segala peraturan dan tata tertib yang ada di sekolahnya merupakan hal pokok yang dapat berpengaruh terhadap berhasil atau tidaknya proses pendidikan di sebuah sekolah. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kedisiplinan siswa akan berpengaruh pada maju atau mundurnya perkembangan sebuah lembaga pendidikan, yang dalam hal ini sekolah. Seperti yang telah disebutkan di atas, banyak sekali hal yang dapat mempengaruhi tingkat kedisiplinan siswa di sebuah sekolah. Bagaimana pun peran sekolah beserta perangkatnya sangat besar pengaruhnya terhadap penanaman dan pembinaan disiplin di sekolah terhadap siswa-siswanya. Jika penanaman dan pembinaan disiplin tersebut dikelola dan diperhatikan dengan sebaik mungkin, maka sudah barang tentu tingkat disiplin siswanya akan tinggi. Begitupun sebaliknya, jika pengelolaan dan perhatian terhadap kedisiplinan ini kurang diperhatikan, maka akan banyak siswa yang melanggar dan menghiraukan kedisiplinan ini.

Kualitas sumber daya manusia pendidik dan tenaga kependidikan yang baik serta kelengkapan sarana dan prasarana untuk penyelenggaraan pendidikan menjadi sebuah keharusan sebagai syarat mutlak yang harus dimiliki sekolah jika kedisiplinan sekolah ingin berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan kepemilikannya, sekolah terbagi menjadi dua, sekolah negeri yaitu sekolah milik umum yang didirikan dan dibiayai negara dengan tujuan memberikan layanan pendidikan ke masyarakat dan mencerdaskan anak bangsa tanpa biaya ataupun dengan biaya. Sedangkan sekolah swasta adalah milik perseorangan atau sekelompok orang tertentu yang bertujuan memberikan layanan pendidikan ke masyarakat dengan memungut uang untuk pembiayaan operasional sekolah, pembayaran gaji guru dan perolehan laba bagi pemilik sekolah tersebut, sehingga biaya pendidikan di sekolah swasta relatif lebih mahal dibandingkan dengan sekolah negeri. Selanjutnya, sebagai efek dari adanya perbedaan antara sekolah negeri dan sekolah swasta baik segi biaya, fasilitas dan lain sebagainya, akan timbul perbedaan-perbedaan konteks pelaksanaan sistem pembelajaran dan proses penyelenggaraan pendidikan di kedua jenis sekolah tersebut. Tentunya perbedaan sistem penyelenggaraan pendidikan dengan sendirinya

menimbulkan perbedaan pada aktivitas pembelajaran peserta didik dari kedua jenis sekolah ini, termasuk adanya perbedaan pola penerapan dan pengembangan kedisiplinan sekolahnya. Hal ini didasarkan pada definisi disiplin sekolah yaitu sebagai kadar karakteristik dan jenis keadaan serba

teratur pada suatu sekolah tertentu atau cara-cara dengan mana keadaan teratur itu diperoleh; pemeliharaan kondisi yang membantu kepada efisiensi fungsifungsi sekolah7.

C. Hipotesis Penelitian Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara tentang masalah penelitian yang harus dibuktikan lagi kebenarannya. Hipotesis dijadikan pedoman bagi penulis dalam melakukan penelitian, menganalisis data, dan membuat kesimpulan atau generalisasi. Di dalam penelitian ini, penulis merumuskan hipotesis alternatif (Ha). Dalam pembuktian, hipotesis alternatif diubah menjadi hipotesis nol (Ho) agar penulis tidak memihak, tidak terpengaruh pernyataan Ha, atau objektif. Lalu Ho dikembalikan lagi pada Ha pada saat pengujian hipotesis. 1. Ha : Terdapat perbedaan tingkat kedisiplinan siswa antara siswa yang bersekolah di sekolah negeri dengan siswa yang bersekolah di sekolah swasta. 2. Ho : Tidak terdapat perbedaan tingkat kedisiplinan siswa antara siswa yang bersekolah di sekolah negeri dengan siswa yang bersekolah di sekolah swasta.

Prijatna, Hendra. 2012. pengaruh Lingkungan terhadap Upaya Pengembangan Sikap Disiplin Siswa di SMP N 3 Subang. http://hendraprijatna68.wordpress.com (diakses pada tanggal 05 Oktober 2012).