Anda di halaman 1dari 36

1 KATION BAB I PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang Analisa kualitatif adalah suatu penyelidikan untuk menentukan jenis zat yang terkandung dalam suatu sampel. Zat-zat yang terkandung dalam suatu sampel dapat berupa anion, kation, atau senyawa kompleks. Dalam praktikum kimia analisa kualitatif ini akan dipelajari cara-cara perlakuan terhadap berbagai macam kation karena setiap jenis kation mempunyai atau menunjukkan reaksi spesifik untuk mengidentifikasi adanya suatu jenis kation. Melihat uraian di atas maka sangatlah tepat jika diadakan praktikum kimia analisa kation karena ini merupakan dasar bagi pengerjaan berbagai hal dalam lingkungan teknik kimia. Tujuan Percobaan Tujuan percobaan ini adalah untuk menganalisa kation-kation yang terkandung dalam suatu sampel secara kualitatif. Manfaat Percobaan Manfaat dari dilakukannya percobaan ini adalah sebagai berikut : a. Mahasiswa dapat memahami dan mengerti menganalisa kation yang terkandung dalam sampel secara kualitatif. b. Mahasiswa dapat melakukan analisa kation secara kualitatif sesuai dengan prosedur praktikum yang benar.

I.2.

I.3.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

2 KATION BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Landasan Teori Yang Mendukung Pengertian Umum Analisa kimia secara kualitatif adalah suatu penyelidikan untuk mengentahui jenis unsur atau ion yang terkandung dalam suatu sampel. Analisa kimia secara kualitatif dibagi menjadi dua, yaitu analisa anion dan analisa kation. Analisa kation adalah suatu penyelidikan yang bertujuan untuk mengetahui jenis kation yang terkandung dalam suatu sampel. Analisa Kation Kation adalah ion yang bermuatan positif. Analisa kation diklasifikasikan dalam lima golongan berdasarkan sifat-sifat kation terhadap reagensia yang ditandai dengan pembentukan endapan dengan reagensia tersebut. Uji Pendahuluan Uji pendahuluan merupakan cara pengenalan zat-zat yang terkandung dalam suatu sampel. Uji pendahuluan ini akan membantu sekali dalam penyelidikan. 1. Uji Kering a. Pemeriksaan Organoleptis Pemeriksaan organoleptis adalah pemeriksaan menggunakan panca indera, berdasarkan : 1) Warna Merah : Pb3O4, As2O3, HgO, HgS, HgI2, CrO3, Cu2O, Sb2S3. Kuning : As2S3, SnS2, PbI2, HgO, FeCl3, nitrat, kromat. Hijau : Cr2O3, Hg2I2, Cr(OH)3, garam besi, garam nitrat. Biru : garam kobalt, anhidrat, garam Cu (II) berhidrat. Coklat : PbO2, CdO, Fe3O4, Ag3AsO4, SnS, Fe2O3, Fe(OH)3. Hitam : PbS, CuS, CuO, HgS, FeS, MnO2, CoS, NiS, Ni2O3. Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

3 KATION

2) Bau Amis : Fe Asam : CH3COO Telur busuk : H2S Ammonia : NH3 3) Rasa dengan Jari Licin : Mg Peret : Fe b. Pemeriksaan Mutu Boraks dan Phospat Mula-mula kawat platina dibakar sampai merah membara dan secepatnya dimasukkan dalam boraks lalu dibakar sampai terdapat mutu boraks yang jenuh. Reaksi yang terjadi : Na2B4O7 2NaBO2 + B2O3 Mutu boraks yang terbentuk didinginkan lalu dibasahi aquadest dan dicelupka dalam senyawa yang akan diselidiki lalu dipanaskan dalam nyala reduksi bawah dan amati warnanya. Nyala oksidasi Nyala reduksi Logam Panas Dingin Panas Dingin Ca biru biru biru biru Ni violet violet Abu-abu Abu-abu Tabel 1.1 Pada mutu phospat mula-mula sama dengan boraks kecuali bahannya NaNH4HPO4.4H2O. setelah pemanasan timbul, mutu tidak berwarna. Reaksi yang terjadi : NaNH4HPO4.4H2O NaPO3 + NH3 + H2O NaPO3 bereaksi dengan logam akan membentuk garam (PO43-) berwarna tertentu. Logam Ca Nyala Oksidasi panas dingin hijau biru Nyala Reduksi panas Dingin Tidak Merah berwarna

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

4 KATION Fe Cr Mn Co Ni Kuning merah Hijau violet biru coklat Tidak berwarna hijau violet biru coklat Tabel 1.2 kuning hijau Tidak berwarna biru Abu-abu Tidak berwarna Hijau Tidak berwarna biru Abu-abu

c. Uji Nyala Bunsen Keterangan : 1) Bagian oksidasi atas 2) Bagian reduksi atas 3) Bagian suhu tertinggi 4) Bagian oksidasi bawah 5) Bagian reduksi bawah 6) Bagian suhu terendah

Gambar 1.1 Pembagian Nyala Api : 1) Bagian oksidasi atas : nyala api tidak bercahaya, banyak mengandung oksigen. Fungsi : untuk oksidasi zat-zat yang tidak memerlukan suhu tinggi. 2) Bagian reduksi atas : ujung lengkungan nyala biru, banyak karbon yang belum terbakar. Fungsi : mereduksi oksida logam menjadi logam. 3) Bagian suhu tertinggi : untuk zat yang tidak mudah menguap 4) Bagian oksidasi bawah : untuk zat yang larut dalam mutu dan mudah menguap pada nyala api. 5) Bagian reduksi bawah (lebih kecil dari daya reduksi atas) : untuk mereduksi zat-zat yang terlarut dalam mutu. Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

5 KATION 6) Bagian suhu terendah (terletak pada dasar nyala) : untuk menyelidiki zat-zat yang mudah menguap.

Daerah Nyala : 1) Mantel ADB : mengandung banyak gas yang belum terbakar. 2) Puncak D : puncak bercahaya, akan tampak bila lubang udara nyala diperkecil. 3) Mantel ACBD : gas terbakar dengan sempurna. Prosedur Uji Nyala Bunsen : Kawat platina dicelupkan ke dalam HCl pekat lalu dibakar sampai merah membara. Setelah itu, dicelupkan ke HCl lagi kemudian dicelupkan ke zat yang akan diperiksa. Selanjutnya, kawat dibakar dalam nyala bunsen dan diamati warnanya. HCl pekat digunakan supaya kawat platina bersih sehingga bila dipanaskan tidak memberikan warna pada nyala bunsen. Daftar warna nyala bila menggunakan larutan HCl : unsur Na K Li Te Ca warna Kuning emas Merah lembayung merah hijau Merah kekuningan unsur Ba Cu Sb As Pb Tabel 1.3 warna Hijau kuning Hijau biru Hijau kelabu Biru pucat Biru kelabu

Logam Na akan memberikan warna yang kuat pada nyala api sehingga akan mengganggu warna dari unsur lain (misal K). Untuk melihat warna nyala dari K dapat diatasi dengan menggunakan kaca kobalt atau larutan tawas khrom (K2SO4Cr2(SO4)3.24H2O). Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

6 KATION 2. Uji Basah Dalam uji basah digunakan reaksi yang mudah diamati dengan panca indra. Zat padat yang akan dianalisa dilarutkan dalam pelarut yang sesuai sampai homogen. Reaksi yang terjadi dapat diketahui dengan terbentuknya : Endapan Keluarnya gas Terjadinya perubahan warna Contoh : Gas SO2 : kertas ditetesi K2Cr2O7 menjadi hijau Asetat : dengan indigo test menjadi hijau biru Br- : kertas fluorin menjadi merah Dengan pemeriksaan pH Untuk analisa sampel yang larut dalam air : pH< 7 : diperkirakan mengandung NH4-, Fe, Ag, Hg. ph netral : diperkirakan mengandung Bi, Sb. pH> 7 : diperkirakan ion-ion karbonat, sulfat, tiosulfat.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

7 KATION BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

III.1.

Bahan Yang Digunakan 1. Sampel 2. Karbo aktif 3. HCl encer dan HCl pekat 4. K2CrO4 5. NH4OH 6. HNO3 encer dan HNO3 pekat 7. Na stannit 8. Na cobalt nitrat 9. H2C2O4 10. Mg(NO3)2 11. Bubuk FeCl3 12. HgCl2 13. Dimetil glikosin 14. NH4NO3 15. Reagen nessler Alat Yang Digunakan 1. Tabung reaksi 2. Beaker glass 3. Erlenmeyer 4. Corong 5. Pengaduk 6. Pipet tetes 7. Penjepit

16. CH3COOH 17. Ammonia 18. H2O2 3% 19. Gas H2S 20. Larutan H2S 21. KOH 22. NaOH 23. Pb3O4 24. Ammonium klorida 25. Pb asetat 26. NH4Cl 27. NaI padat 28. NaCl 29. PbO2 30. Ca(NO3)2 31. Hg(NO3)2

III.2.

8. Tripot 9. Pemanas bunsen 10. Kasa asbes 11. Cawan porselen 12. Kawat osse 13. Pipa bengkok 14. Kertas saring

III.3.

Gambar Alat

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

8 KATION

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

9 KATION

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

10 KATION

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

11 KATION

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

12 KATION

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

13 KATION

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

14 KATION

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

15 KATION BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

IV.1.

Hasil Percobaan Warna sampel mula-mula : kuning bening Warna sampel + karbon aktif : putih bening Kation yang ditemukan dan ada dalam sampel : Cu2+ Kation yang ditemukan dan tidak ada dalam sampel: Hg22+, Zn2+ Kation yang tidak ditemukan dan ada dalam sampel: Al3+, Mn2+ Pembahasan a. Kation yang ada dan ditemukan dalam sampel Cu2+ Uji nyala bunsen pada ion Cu2+ menghasilkan warna hijau terutama pada kehadiran halida, misalnya dengan membasahkan dengan asam klorida pekat sebelum dipanaskan. Asam klorida pekat digunakan supaya kawat platina bersih sehingga bila dipanaskan tidak memberikan warna nyala pada bunsen. Cu2+ apabila direaksikan dengan KCNS maka akan terbentuk endapan hitam, dengan reaksi : Cu2+ + 2SCN- Cu(SCN)2 (Vogel 232, 235) Nilai kelarutannya adalah : Ksp Cu(SCN)2 = [Cu2+] [2SCN-] 4,0 x 10-14 = [s] [2s]2 4,0 x 10-14 = 4s3 4s3 = 0,04.10-12 s3 = 0,01.10-12 s = 0,215.10-4 s = 2,15.10-5

IV.2.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

16 KATION

b. Kation yang ditemukan dan tidak ada dalam sampel Hg22+ Dari identifikasi yang telah kami lakukan, terdapat dua reaksi dengan dua reagen yang menunjukkan bahwa sampel positif mengandung ion Hg22+. 1) S + K2CrO4 coklat, dipanaskan merah Pada saat sampel ditambahkan reagen K2CrO4 lalu terbentuk endapan coklat. Hal ini sesuai karena jika uji dilakukan dalam keadaan dingin, terbentuk endapan amorf coklat dengan komposisi yang tak tertentu. Dengan reaksi sebagai berikut : Hg22+ + CrO42- Hg2CrO4 (Vogel 215) 2) S + Na2HPO4 putih Pada saat sampel ditambahkan reagen Na2HPO4 terjadi endapan putih. Sehingga kami menyimpulkan terdapatnya ion Hg22+. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : Hg22+ + HPO42- Hg2HPO4 (Vogel 216) Zn2+ Dari percobaan yang telah kami lakukan, pada saat sampel ditambahkan dengan dengan reagen Na2HPO4 terjadi endapan putih. Maka dari itu kami menyimpulkan bahwa sampel mengandung ion Zn2+. Hal ini dikarenakan apabila sampel mengandung ion Zn2+ jika direaksikan dengan reagen Na2HPO4 akan menimbulkan endapan putih. Sesuai dengan reaksi berikut : 3Zn2+ + 2HPO42- Zn3(PO4)2 + 2H+ (Vogel 291)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

17 KATION c. Kation yang tidak ditemukan tetapi ada dalam sampel Al3+ Dari hasil identifikasi yang kami lakukan, dari ketiga reagen tidak menunjukkan hasil positif mengandung ion Al3+. Reagen tersebut antara lain : 1) S + NaOH putih, larut dalam reagen berlebih Pada saat direaksikan yang terjadi adalah terdapatnya endapan coklat kemerahan. 2) S + NaCH3COO bila dipanaskan Pada saat direaksikan yang terjadi adalah timbulnya endapan putih. 3) S + Na2CO3 putih Pada saat direaksikan yang terjadi adalah endapan berwarna coklat. Mn2+ Dari hasil identifikasi yang kami lakukan, dari kedua reagen tidak menunjukkan hasil positif mengandung ion Mn2+. Reagen tersebut antara lain : 1) S + NaOH putih, terkena udara coklat Pada saat direaksikan yang terbentuk bukan endapan putih ataupun coklat, melainkan endapan coklat kemerahan. 2) S + Na2HPO4 merah jambu Pada saat direaksikan, yang terbentuk adalah endapan putih.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

18 KATION BAB V PENUTUP

V.1.

Kesimpulan a. Ion yang ditemukan dan terdapat dalam sampel adalah Cu2+. b. Ion yang ditemukan tetapi tidak terdapat dalam sampel adalah Hg22+ dan Zn2+. c. Ion yang ada dalam sampel tetapi tidak ditemukan adalah Al3+ dan Mn2+. Saran a. Pengerjaan praktikum harus dilaksanakan sesuai prosedur pelaksanaan agar diperoleh hasil yang maksimal. b. Setelah melakukan percobaan, peralatan harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan kembali agar tidak terjadi kontaminasi. c. Pengamatan harus dilakukan secara cermat dan teliti sehingga hasil pengamatan sesuai dengan apa yang diharapkan. d. Dalam praktikum ini diperlukan kerjasama tim dan disiplin yang kuat agar dapat efektif dan efisien.

V.2.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

19 KATION DAFTAR PUSTAKA

Eliftord, A. Happed and Glosset G Hewbrey. Glossary of Chemical Them, 4th edition. New York: Van Harstand Dictionary. Kinbal, John W. 1992. Biologi Untuk Mahasiswa, ed. kelima. Diterjemahkan oleh H. Siksoetarmi. Jakarta: Erlangga. Pudjatmoko. 1955. Jakarta: PT. Kaliman Media Pustaka. Vogel, A. I.. Buku Tas Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Makro. Diterjemahkan oleh Ir. L. Setiono dan dr. A. Hadyono. Weantend Emil, JS. Chemical Prinsiples in the Laboratory with Qualitative

Analysis.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

20 KATION SKEMA KATION SAMPEL SAMPEL + HCl tetes demi tetes Sampai tidak ada Saring Filtrat golongan II-V +H2O2 3% + 0,1 ml HCl +H2S Saring Filtrat golongan III-V +HNO3(p) +NH4Cl(s) +NH4O+ + alkali +NH4OH (e) Panaskan Saring Filtrat golongan III B +H2S Filtrat golongan IV-V +(NH4)2CO3+NH4Cl (buffer) Filtrat golongan V Na+, Mg2+, NH4+ Saring golongan III B Saring golongan IV BaCO3, S, CO3, CaCO3 Uji Nyala Identifikasi golongan III A golongan I

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

21 KATION SKEMA ANALISA KATION GOLONGAN I S + HCl tetes demi tetes sampai tidak ada Saring golongan I Cuci dengan air yang mengandung sedikit HCl didihkan dengan air Saring Filtrat untuk gol. II-V

cuci dengan air + NH3 Saring +NH4CH3COOH +K2CrO4

Filtrat

didinginkan

hitam Hg (+)

Filtrat + HNO3(e)

putih

kuning Pb (+)

putih Pb (+)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

22 KATION SKEMA ANALISA KATION GOLONGAN II A Filtrat + 1 ml H2O2 3% suasana 0,3 80 Saring golongan II + H2S 3 tetes Saring Filtrat untuk gol. III-V + H2S

+KOH 2M

golongan IIA Cuci dengan air + HNO3 aduk Saring

Filtrat II A

cuci dengan air + 5 tetes NaOCl 10 % HCl 1-2 ml SnCl2 hitam NaOH

Filtrat + NH3 excess Saring

Filtrat

Saring

+CH3COOH +1 tetes K3[Fe(CN)6] coklat Cu (+)

+KCN warna hilang+H2S kuning Cd (+)

cuci dengan air +Na2SrO3 hitam Br (+)

filtrat + CH3COOH +K2CrO4 kuning Pb (+)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

23 KATION

SKEMA ANALISA KATION GOLONGAN II B Filtrat II A untuk golongan II B + HCl pekat + H2S (HgS + As2S3, SbS3, SnS2) Cuci dengan air + 2ml HCl pekat cuci dengan HCl Saring (HgF, As2S3) Cuci dengan NaOH Saring + NH3
Fe

Filtrat N(SbCl4)2 N2(SbCl6)

Mg+2 tetes FeCl3 +serbuk +2-3ml C4H4O6 +2-2ml dimetil Glikosin +NH4 sampai basa merah Sn (+) saring putih

hitam

Filtrat + HNO3

+ Na2C2O4 + H 2S

+ NH3 panas +H2O2 Mg(NO3)2 putih

uji Bu + zeot

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

24 KATION

SKEMA ANALISA KATION GOLONGAN III A Filtrat dari golongan II + HNO3 pekat + NH4Cl pekat Saring golongan III A Cuci dengan air+NaBO3.4H2O didihkan Saring, cuci dengan NH4NO3 2% Saring Filtrat golongan III A

Didihkan HNO3 (1:1) +HNO3(1:1) +HCl +HCl +3tetes H2O23% +3tetes H2O23% +K3[Fe(CN)6] +NH4CNS +0,5 gr Pb2O3 didinginkan

Filtrat

Diamkan

+0,02 gr NaBrO3 Kocok larutan ungu Mn (+) Biru larutan merah Fe (+) Fe (+)

Larutan ungu Mn (+)

+ CH3COOH + Pb(CH3COO)2 Kuning Cr (+)

+HCl + HNO3 + NH4OH +amil alkohol Sampai alkali kocok diamkan Saring
putih

lapisan atas biru

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

25 KATION SKEMA ANALISA KATION GOLONGAN III B

Filtrat dari golongan III A + H2S Saring

III B Cuci dengan NH4Cl 1% +H2S Pindah ke labu rebus + HCl (1:10)

Filtrat III B untuk golongan IV V

dilarutkan dalam campuran 1 bagian NaOCl % dari bagian HCl dinginkan + NaF padat +NH4OH alkali
dimetil glikosin

Filtrat
+NaOH+1 mol H2O23%

Dinginkan
+1 ml amil alkohol +2 mg NH4 (u) Kocok saring

Larutan Biru Co (+)

merah larutkan HNO3 Ni (+) +H2O23% PbO2 +HNO3 (p)

filtrat
+CH3COOH + H2S

Larutan Ungu Mn (+)

Putih

Zn (+)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

26 KATION SKEMA ANALISA KATION GOLONGAN IV Filtrat dari golongan III B ditaruh pada cawan porselen +CH3COOH, diuapkan dimasak seperti bubur, dinginkan +HNO3 pekat, keringkan dengan memanasi, dinginkan +HCl 10mol saring +2ml NH4Cl+NH4OH alkali, aduk + NH4CO4 50 - 60 Saring

Endapan IV Cuci dengan CH3COOH, 2N dengan Saringan +1ml K2CrO4 kuning Ba (+) Jika Ba (+) sisa larutan + K2CrO4 Saring Cl cuci dengan H2O panas + NH3 +(NH4)2CO2 excess Cuci, panaskan + CH3COOH 2N (larutan asam) encerkan larutan dengan HCl (p) Uji nyala, hijau Ba2+ (+)

Filtrat untuk golongan V

Jika Ba(-) sisa larutan(3) didihkan


Larutan A/B dinginkan +2ml (NH4)2SO3

+0,2gr Na2CO3 didihkan Saring

cuci dengan H2O Filtrat s/d kertas terbakar (NH4)2CO2 dinginkan panaskan Uji nyala Sn2+(+)
putih

Ca2+(+)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

27 KATION SKEMA ANALISA KATION GOLONGAN V Filtrat golongan IV diuapkan sampai menjadi pasta +HNO3 (p) diuapkan sampai kering cuci dengan H2O Saring

larutkan dalam HCl (e) +H2O 2 3 ml +NH4OH sampai Alkalis +Na2HPO4 putih, Mg2+(+) 2H2S.Mg+2NaOH sampai alkalis

Filtrat +K2H2SbO7 uji nyala +(+) kuning keemasan putih,Na Na+ (+)

biru,

Mg2+(+)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

28 KATION

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

29 KATION

Kimia Tembaga
I. TUJUAN PERCOBAAN Mempelajari pembuatan pembuatan tembaga (I) oksida.

II. DASAR TEORI Tembaga adalah logam merah muda yang lunak, dapat ditempa dan liat. Melebur pada 10380C. Karena potensial elektrode standarnya positif, tidak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen bisa larut sedikit. Tembaga yang terdapat di bumi ini tidak melimpah (55 ppm) namun terdistribusi secara luas sebagai logam dalam sulfida, arsenida, klorida dan karbonat. Mineral yang paling umum adalah chalcopyrite CuFeS2. Tembaga diekstraksi dengan pemanggangan dan peleburan oksidatif atau dengan pencucian dengan bantuan mikroba, yang diikuti oleh elektrodeposisi dari larutan sulfat kimiawi tembaga ditemukan sebagai Cu+ dan Cu2+ [1]. Tembaga (Cu) merupakan salah satu logam yang paling ringan dan paling aktif. Cu+ mengalami disproporsionasi secara spontan pada keadaan standar (baku). Hal ini bukan berarti larutan senyawa Cu(I) tidak mungkin terbentuk. Untuk menilai pada keadaan bagaimana mereka ditemukan, yaitu jika kita mencoba membuat (Cu+) cukup banyak pada larutan air, Cu2+ akan berada pada jumlah banyak (sebab konsentrasinya harus sekitar dua juta dikalikan pangkat dua dari Cu+. Disproporsionasi akan menajdi sempurna. Di lain pihak jika Cu+ dijaga sangat rendah (seperti pada zat yang sedikit larut atau ion kompleks mantap), Cu2+ sangat kecil dan tembaga (I) menjadi mantap [4]. Tembaga (I) seperti terdapat dalam CuI dan Cu(CN) memiliki bentuk stereokimia tetrahedral, sedangkan CuII memiliki bentuk yang lebih beragam. Segi empat untuk CuO(s), CuCO , atau CuCl dan oktahedral terdistorsi dalam ikatan trans yang lebih panjang sebagai contoh Cu(H2O) dan CuCl2(s) [5]. Tembaga dalam jumlah yang kecil esensial bagi kehidupan, tetapi akan bersifat racun dalam jumlah yang besar, terutama bagi bakteri, alga, dan fungi. Diantara banyak senyawa tembaga yang digunakan sebagai pestisida adalah asetat basa, karbonat, klorida, hidroksida, dan sulfat. Secara komersil senyawa tembaga yang terpenting adalah CuSO4.5H2O. Selain dalam bidang pertanian, CuSO4 juga digunakan untuk baterai dan Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

30 KATION penyepuhan, pembuatan garam tembaga yang lain, perminyakan, keret, dan industri baja [4]. Secara umum garam tembaga (I) tidak larut dalam air. Senyawa-senyawa tembaga (II), yang dapat diturunkan dari tembaga (II) oksida, CuO hitam. Garam-garam tembaga (II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat, muapun dalam larutan-air. Warna ini benar-benar khas hanya untuk ion tetraakuokuprat (II) [Cu (H2O)4]2+ saja. Garam-garam tembaga (II) anhidrat, seperti tembaga (II) sulfat anhidrat CuSO4, berwarna putih (atau sedikit kuning). Senyawa-senyawa Cu (I) berwarna putih kecuali oksidasinya merah. Sedangkan senyawa Cu (II) hidratnya biru dan anhidratnya abu-abu. Senyawa-senyawa Cu (II) lebih stabil dalam larutan. Mereka beracun dan mengion yang berwarna gelap (biru gelap) yang terbentuk dengan larutan amonia berlebihan. Cu digunakan buat kabel/kawat/peralatan listrik; dalam logam-logam paduan; monel, perunggu

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

31 KATION

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

32 KATION

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

33 KATION

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

34 KATION

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

35 KATION

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I

36 KATION DIPERIKSA NO TANGGAL TANDA TANGAN

KETERANGAN

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I