PENATALAKSANAAN ILEUS OBSTRUKTIF Terapi ileus obstruksi biasnya melibatkan intervensi bedah.

Penentuan waktu kritis serta tergantung atas jenis dan lama proses ileus obstruktif. Operasi dilakukan secepat yang layak dilakukan dengan memperhatikan keadaan keseluruhan pasien (Sabiston, 1995). Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami obstruksi untuk mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan. Menghilangkan penyebab ileus obstruksi adalah tujuan kedua. Kadang-kadang suatu penyumbatan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan, terutama jika disebabkan oleh perlengketan (Sabiston, 1995; Sabara, 2007) Dekompresi pipa bagi traktus gastrointestinal diindikasikan untuk duaalasan (Sabiston, 1995; Sabara, 2007): 1. Untuk dekompres lambung sehingga memperkecil kesempatan aspirasi isi usus. 2. Membatasi masuknya udara yang ditelan ke dalam saluran pencernaan,sehingga mengurangi distensi usus yang bisa menyebabkan peningkatan tekanan intralumen dan kemungkinan ancaman vaskular. Pipa yang digunakan untuk tujuan demikian dibagi dalam dua kelompok (Sabiston, 1995) : 1. Pendek, hanya untuk lambung. 2. Panjang, untuk intubasi keseluruhan usus halus. Pasien dipuasakan, kemudian dilakukan juga resusitasi cairan dan elektrolit untuk perbaikan keadaan umum. Setelah keadaan optimum tercapai barulah dilakukan laparatom (Sabara, 2007). Pemberian antibiotika spektrum lebar di dalam gelung usus yang terkena obstruksi strangulasi terbukti meningkatkan kelangsungan hidup. Tetapi, karena tidak selalu mudah membedakan antara ileus obstruksi strangulata dan sederhana, maka antibiotika harus diberikan pada semua pasien ileus obstruksi (Sabiston,1995) Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan organ-organ vital berfungsi secara memuaskan. Tetapi yang paling sering dilakukan adalah pembedahan sesegera mungkin. Tindakan bedah dilakukan bila (Sabara, 2007) : 1. Strangulasi 2. Obstruksi lengkap 3. Hernia inkarserata 4. Tidak ada perbaikan dengan pengobatan konservatif (dengan pemasangan NGT, infus, oksigen dan kateter) Tindakan yang terlibat dalam terapi bedahnya masuk kedalam beberapa kategori mencakup (Sabiston, 1995) ; 1. Lisis pita lekat atau reposisi hernia 2. Pintas usus 3. Reseksi dengan anastomosis 4. Diversi stoma dengan atau tanap resksi. Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan elektrolit. Kita harus mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus memberikan kalori yang cukup. Perlu diingat bahwa pasca bedah usus pasien masih dalam keadaan paralitik (Sabara, 2007) PENATALAKSANAAN A.Terapiumum 1.Istirahat

com Bagaimana terapi/pengobatan ileus obstruktif yang diberikan secara farmakologis? Pemberian obat-obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai profilaksis. dimenhydrinate.Diet   Pasien puasa Nutrisi perenteral total sampai ada bising usus atau mulai flatus 3. mencegah aspirasi pulmonum bila muntah dan mengurangi distensi abdomen. Pasien yang mengalami ileus obstruksi mengalami dehidrasi dan gangguan keseimbangan ektrolit sehingga perlu diberikan cairan intravena seperti ringer laktat. OBAT ANTIEMETIK • Antagonis reseptor H1 • Antagonis reseptor muskarinik • Antagonis reseptor dopamin • Antagonis reseptor serotonin • Cannabinoid • Steroid Antagonis reseptor H1 • Cinnarizine. NGT digunakan untuk mengosongkan lambung. dehidrasi dan syok. diperlukan juga pemasangan nasogastric tube (NGT).    Dirawat di ruangan gawat darurat Segera pasang sonde lambung (NGT) Selang rectal Pasang kateter 2.infokedokteran. Respon terhadap terapi dapat dilihat dengan memonitor tanda-tanda vital dan jumlah urin yang keluar. promethazine • Tidak dapat digunakan utk mual-muntah krn rangsangan pada CTZ .Medikamentosa Obat pertama :   Prostigmin 3 x 1 sampai IV untuk memacu mobilitas usus Antibiotik Obat alternative : http://www. Antiemetik dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual muntah. cyclizine. Apa yang perlu diperhatikan dalam resusitasi pada pasien dengan ileus obstruktif? Dalam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda – tanda vital. Selain pemberian cairan intravena.

dan reaksi psikotik . gangguan GIT Cannabinoid • Nabilone → derivat cannabinol sintetik →menurunkan muntah krn rangsangan pada CTZ • Pemberian : p. drowsiness. fatigue/lemah • Stimulasi release prolaktin → galaktore dan gangguan menstruasi • Efek pada motilitas usus → diare Domperidone • Antagonis reseptor D2 • Antiemetik untuk vomitting postoperatif dan akibat kemoterapi kanker • ES : diare Phenothiazine • Neuroleptik : chlorpromazine. ekskresi via urine dan feses • ES : jarang. mulut kering. menghambat reseptor histamin dan muskarinik • Pemberian p. perubahanmood. mengantuk. atau parenteral Antagonis serotonin • Serotonin (5-hidroksitriptamin) a direlease oleh CNS atau lambung a transmitter emesis • Antagonis serotonin : ondansetron. prochlorperazine. dizziness. absorpsi baik • T1/2 120 menit.• Efektif utk mabuk kendaraan dan mual-muntah krn rangsangan pada lambung • Diberikan sebelum timbul gejala mual-muntah • Puncak antiemetik : 4 jam. hipotensi postural. penglihatan kabur. injeksi IV pelan.. trifluoperazine → dpt sebagai antiemetik • Triethylperazine → hny sbg antiemetik • Dapat digunakan utk vomitting krn rangsangan pada CTZ • Tidak efektif utk muntah krn rangsangan di lambung • Cara kerja → antagonis reseptor D2 di CTZ. infus • T1/2 5 jam • ES : sakit kepala.o.o..o. retensi urin Antagonis reseptor dopamin • Metoklopramid • Domperidone • Phenothiazine Metoklopramid • Bekerja di CTZ • P. halusinasi. Promethazine) Antagonis reseptor muskarinik • Hyoscine • Untuk mual-muntah krn gangguan labirin dan rangsangan lokal di lambung • Tidak dapat digunakan utk mual muntah krn rangsangan pada CTZ • Puncak antiemetik : 1-2 jam • ES : drowsiness. granisetron • Sangat baik utk terapi mual-muntah akibat obat sitotoksik • Pemberian p.o. l. T1/2 4 jam. rektal. bertahan selama 24 jam • KI : wanita hamil trimester I (kec. a. mulut kering. ekskresi via urine • ES : krn blokade reseptor dopamin di SSP →gangguan pergerakan pada anak2 dan dewasa muda.

preparat senna • Meningkatkan peristaltis dengan cara stimulasi mukosa usus • ES : kram abdomen. ispaghula husk • Polimer polisakarida a tidak dapat dipecah • Mekanisme kerja a menahan air di lumen usus merangsang peristaltis a beberapa hari • ES : ringan Osmotic Laxative • Pencahar salin dan laktulosa → cairan yg absorpsinya jelek → meningkatkan volume cairan di lumen bowel→ mempercepat transfer makanan ke usus halus →massa yg sangat besar masuk kolon → distensi →ekspulsi faeces • Pencahar salin → garam MgSO4 dan Mg(OH)2 • Laktulosa → disakarida semisintetik fruktosa dan galaktosa → bakteri di kolon → fermentasi → asam laktat dan asam asetat → osmotik laksatif • Efek baru timbul 1 – 2 hari Faecal Softener • Docusate sodium • Menghasilkan feses yg lebih lumak • Efek stimulan laksatif lemah Stimulant Purgative • Bisacodyl. sterculia. dpt digunakan sendiri atau kombinasi dgn obat lain • Glukokortikoid → deksametason dan metilprednisolon • Mekanisme kerja → blm diketahui • Sinergisme dg ondansetron MOTILITAS GIT 1.o.Steroid • Dosis tinggi.o. • Preparat senna → dosis tunggal → efek laksan dalam 8 jam OBAT YG MENINGKATKAN MOTILITAS GIT DOMPERIDONE • Antagonis reseptor D2 a antiemetik . MENINGKATKAN PERGERAKAN : • PENCAHAR • TANPA EFEK PENCAHAR PENCAHAR • BULK LAXATIVE → meningkatkan volume residu padat yg tidak diabsorpsi • OSMOTIC LAXATIVE → meningkatkan jumlah air • FAECAL SOFTENER →mengubah konsistensi faeces • STIMULANT PURGATIVE →meningkatkan motilitas dan sekresi Bulk Laxative • Metilselulose. bran. jangka panjang → atonia colon • Bisacodyl → p. atau suppositoria → efek laksan 15-30 menit • Sodium picosulfat → p. sodium picosulfat. agar.

id/elib/..ac. atas • Digunakan utk refluks esofagitis dan gangguan pengosongan lambung • Tidak mempunyai efek antiemetik • ES : diare. kram abdomen.• Memblok adrenoreseptor a-1 dan menurunkan efek relaksannya a menurunkan tekanan sfingter esofagus bawah a meningkatkan motilitas GIT • Tidak menstimulasi sekresi asam lambung • Digunakan untuk gangguan pengosongan lambung dan refluks esofagitis kronis • ES : hiperprolaktinemia METOKLOPRAMID • Efek sentral → antiemetik • Efek lokal → percepatan pengosongan lambung tanpa menstimulasi sekresi asam lambung • Efeknya kecil pada motilitas usus bag.uwks. takikardi (jarang) www. bawah • Digunakan untuk refluks gastroesofagus dan gangguan pengosongan lambung • Tidak dapat digunakan untuk ileus paralitik CISAPRIDE • Menstimulasi release ACh pada pleksus myenterik di GIT bag./TRAKTUS%20GASTROINTESTINAL .fk..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful