Anda di halaman 1dari 19

(Business Combinations) Merger

Pengambilalihan semua operasi dari sebuah entitas usaha, dan entitas tersebut dibubarkan.
PT. A PT. A PT. B

Konsolidasi
Sebuah perusahaan baru dibentuk untuk mengambilalih aktiva dan operasi dua atau lebih entitas usaha, dan entitas-entitas tersebut dibubarkan.
PT. E PT. D PT. F

Akuisisi Saham
Sebuah perusahaan mengakuisisi saham memiliki hak suara atas perusahaan lain, dan kedua perusahaan tetap beroperasi, sehingga timbul induk-anak perusahaan.
PT. A PT. B PT. A PT. B

1. Harga yang harus dibayar dan persyaratan pembayaran

2. Setoran relatif dan cara penetapan setoran 3. Bantuan manajemen perusahaan, pengacara, akuntan, penilai (appraisal), dan analis keuangan

Dasar pembagian kekayaan kepada pemilik dalam penggabungan usaha: 1. Setoran aktiva bersih relatif 2. Setoran laba relatif

Setoran aktiva dan laba dapat ditetapkan dengan jalan: 1. Penerbitan satu jenis saham 2. Penerbitan beberapa jenis saham

Contoh 1: Para pemegang saham PT. A, PT. B, dan PT. C setuju melakukan konsolidasi dan mendirikan PT. D. Aktiva bersih dan laba rata-rata selama 5 tahun terakhir adalah sebagai berikut:
PT. A Setoran aktiva bersih Prosentase setoran aktiva terhadap total aktiva Setoran laba Prosentase setoran aktiva terhadap total laba 200.000 20% 30.000 30% PT. B 300.000 30% 30.000 30% PT. C 500.000 50% 40.000 40% 100.000 TOTAL 1.000.000

1. Berdasarkan Setoran Aktiva Relatif: Jika PT. D menerbitkan satu jenis saham dalam rasio aktiva bersih, maka para pemegang saham PT. A, B, dan C akan menerima saham dalam rasio masing-masing 20:30:50. Meski adil terhadap kepentingan mereka atas harta ($1.000.000), namun laba $100.000 di masa mendatang akan bertambah bagi pemegang saham dalam rasio aktiva, yang akan menimbulkan KERUGIAN bagi pemegang saham awal PT. A dan KEUNTUNGAN bagi pemegang saham awal PT.C.

2. Berdasarkan Setoran Laba Relatif: Jika PT. D menerbitkan satu jenis saham dalam rasio laba, maka para pemegang saham PT. A, B, dan C akan menerima saham dalam rasio masing-masing 30:30:40.

Meski adil terhadap kepentingan mereka atas laba ($100.000), namun para pemegang saham akan gagal menjaga kepentingan mereka dalam aktiva. Para pemegang saham PT. A akan menerima kepentingan yang MELEBIHI investasi mereka, sedangkan para pemegang saham PT. C akan memperoleh kepentingan yang LEBIH KECIL dari pada investasi mereka.

Untuk menghindari ketidakadilan dari pembagian satu jenis saham, baik menurut rasio aktiva maupun asio laba, pihak2 yang terlibat memutuskan bahwa setoran akan diukur dengan nilai yang ditetap pada aktiva bersih, yang dinaikan dengan goodwill. Disetujui bahwa setoran ini ditentukan dengan cara sebagai berikut: 1. Laba 6% harus dipandang sebagai laba yang layak atas aktiva bersih yang ditetapkan 2. Kelebihan laba harus dikapitalisasi sebesar 20% untuk memperoleh nilai goowill. Maka setoran untuk masing-masing investor dengan memperhitungkan factor aktiva dan laba adalah sebagai berikut:
PT. A Aktiva bersih Goodwill - Laba tahunan rata2 - Laba tahunan normal atas aktiva, 6% - Kelebihan laba tahunan Kapitalisasi atas kelebihan laba, 20% Total Setoran 30,000 (12,000) 18,000 90,000 290,000 30,000 (18,000) 12,000 60,000 360,000 40,000 (30,000) 10,000 50,000 550,000 200,000 1,200,000 200,000 PT. B 300,000 PT. C 500,000 TOTAL 1,000,000

Jika PT. D menerbitkan 25.000 lembar saham maka bagian masing-masing investor yang terlibat adalah sebagai berikut:
PT. A PT. B PT. C 290,000 : 1.200,000 360,000 : 1.200,000 550,000 : 1.200,000 24% 30% 46% 6,042 lembar 7,500 lembar 11,458 lembar 25,000 lembar

Sehingga hasil perbandingan setoran aktiva bersih dan laba relative PT. A, PT. B, dan PT. C, serta klaim relative atas aktiva bersih terhadap perusahaan yang baru (PT. D) adalah sebagai berikut:
PT. A Setoran aktiva bersih Setoran laba bersih Klaim atas aktiva bersih dan laba prusahaan baru, PT. D 20% 30% 24% PT. B 30% 30% 30% PT. C 50% 40% 46%

Contoh 2: Diasumsikan setoran kepada PT. D oleh PT. A, PT. B, dan PT. C adalah sebagai berikut:
PT. A Setoran aktiva bersih Setoran laba Tingkat laba terhadap aktiva bersih 200.000 30.000 0,15 PT. B 300.000 30.000 0,10 PT. C 500.000 40.000 0,08 TOTAL 1.000.000 100.000 0,10

Disetujui bahwa: 1. Laba harus dikapitalisasi dengan tarif 8% untuk menetapkan total saham yang diterbitkan. 2. Saham preferen 6% partisipasi penuh dengan nominal @$100, dan preferensi terhadap aktiva sebesar nominal ini, harus diterbitkan dalam penukarannya dengan aktiva bersih yang diserahkan. 3. Saham biasa, dengan nilai nominal @$100, harus diterbitkan untuk masing-masing perusahaan sebesar selisih antara total saham yang menjadi hak masing-masing perusahaan dengan saham preferen yang diterima masing-masing perusahaan. Saham biasa dipandang sebagai pembayaran untuk goodwill.

Maka pembagian saham dilakukan sebagai berikut:


PT. A PT. B PT. C TOTAL

Total saham yang harus diterbitkan (laba : 0,08)


Jumlah saham preferen yg diterbitkan (aktiva bersih) Jumlah saham biasa yang harus diterbitkan

375.000

375.000

500.000

1.250.000

200.000 175.000

300.000 75.000

500.000

1.000.000

Penerbitan saham preferen dan saham biasa untuk memelihara pembagian laba dalam rasio setoran laba. Laba tahunan sebesar $100.000 yang diperoleh oleh perusahaan baru (PT. D), akan memungkinkan pembagian deviden sebesar 8% baik atas saham preferen partisipasi penuh maupun saham biasa. Laba dibagikan dengan cara sebagai berikut:
PT. A Atas saham preferen ($) Atas saham biasa ($) Total Pembagian ($) Pembagian laba semula 8% 8% 16,000 14,000 30,000 30% PT. B 24,000 6,000 30,000 30% PT. C 40,000 40,000 40% TOTAL 80,000 20,000 100,000 100%

Keterangan: $16,000 = $200,000 * 8%, begitu juga untuk yang lain.

KONDISI 1: Pembagian laba tidak boleh lebih kecil dari pada tingkat preferen atas total modal saham jika pembagian harus dilakukan dalam rasio laba semula. Misalnya PT. D memeroleh laba $60,000, maka laba dibagikan dengan cara sebagai berikut:
PT. A Atas saham preferen ($) Atas saham biasa ($) 6% 0% 12,000 PT. B 18,000 PT. C 30,000 TOTAL 60,000 -

Total Pembagian ($)


Pembagian laba semula

12,000
20%

18,000
30%

30,000
50%

60,000
100%

Keterangan: $12,000 = $200,000 * 6%, begitu juga untuk yang lain.

Misalnya PT. D memeroleh laba $70,000, maka laba dibagikan dengan cara sebagai berikut:
PT. A Atas saham preferen ($) Atas saham biasa ($) Total Pembagian ($) Pembagian laba semula 6% 4% 12,000 7,000 19,000 27% PT. B 18,000 3,000 21,000 30% PT. C 30,000 30,000 43% TOTAL 60,000 10,000 70,000 100%

Keterangan: $12,000 = $200,000 * 6%, begitu juga untuk yang lain.

KONDISI 1 (lanjutan) Misalnya PT. D memeroleh laba $75,000, maka laba dibagikan dengan cara sebagai berikut:
PT. A PT. B PT. C TOTAL

Atas saham preferen ($)


Atas saham biasa ($) Total Pembagian ($) Pembagian laba semula

6%
6%

12,000
10,500 22,500 30%

18,000
4,500 22,500 30%

30,000 30,000 40%

60,000
15,000 75,000 100% Sama seperti rasio semula

Keterangan: $12,000 = $200,000 * 6%, begitu juga untuk yang lain.

KONDISI 2: Saham Preferen harus partitipasi jika pembagian laba yang melebihi tingkat preferensi atas total modal saham dilakukan dalam rasio modal semula. Misalnya PT. D memeroleh laba $100,000, maka laba dibagikan dengan cara sebagai berikut:
PT. A Atas saham preferen ($) Atas saham biasa ($) Total Pembagian ($) Pembagian laba semula 6% 16% 12,000 28,000 40,000 40% PT. B 18,000 12,000 30,000 30% PT. C 30,000 30,000 30% TOTAL 60,000 40,000 100,000 100%

Keterangan: $12,000 = $200,000 * 6%, begitu juga untuk yang lain.

KONDISI 3: Dengan mengkapitalisasi laba dengan tarif lebih kecil dari pada 8% (misalnya 5%), memungkinkan para pemegang saham PT. C untuk ikut serta dalam pembagian laba bagi saham biasa.
PT. A Setoran aktiva bersih Setoran laba Tingkat laba terhadap aktiva bersih 200.000 30.000 0,15 PT. B 300.000 30.000 0,10 PT. C 500.000 40.000 0,08 TOTAL 1.000.000 100.000 0,10

Maka pembagian saham dilakukan sebagai berikut:


PT. A Total saham yang harus diterbitkan (laba : 0,05) 600.000 PT. B 600.000 PT. C 800.000 TOTAL Saham 2.000.000

Jumlah saham preferen yg diterbitkan (aktiva bersih)


Jumlah saham biasa yang harus diterbitkan

200.000
400.000

300.000
300.000

500.000
300.000

1.000.000
1.000.000

KONDISI 3 (lanjutan): Misalnya PT. D memeroleh laba $100,000, maka laba dibagikan dengan cara sebagai berikut:
PT. A Atas saham preferen ($) Atas saham biasa ($) 5% 5% 10.000 20.000 PT. B 15,000 15,000 PT. C 25,000 15.000 TOTAL 50,000 50,000

Total Pembagian ($)


Pembagian laba semula

30,000
30%

30,000
30%

40,000
40%

100,000
100%

Keterangan: $10.000 = $200,000 total masing-masing saham * 5%, begitu juga untuk yang lain. 600.000 1) 10.000 = 5% x 200.000 , 15.000 = 5% x 300.000, 25.000 = 5% x 500.000 2) 100.000 50.000 saham preferen = 50.000 saham biasa 3) Atas saham biasa = 50.000 : 1.000.000 atas saham biasa = 5% 4) 5% x 400.000 saham biasa = 20.000 ,. 5% x 300.000 saham biasa = 15.000 dan jg 15.000 untuk PT C

KONDISI 3 (lanjutan): Misalnya PT. D memeroleh laba $100,000, maka laba dibagikan dengan cara sebagai berikut:
PT. A Atas saham preferen ($) Atas saham biasa ($) 5% 6% 10.000 24.000 PT. B 15,000 18,000 PT. C 25,000 18.000 TOTAL 50,000 60,000

Total Pembagian ($)


Pembagian laba semula

34,000
31%

33,000
30%

43,000
39%

110,000
100%

Keterangan: $10.000 = $200,000 total masing-masing saham * 5%, begitu juga untuk yang lain. 1) Cari sisa dari saham preferen 110.000 50.000 saham preferen = 60.000 u/ saham biasa : total aktiva bersih 1.000.000 = 6% 12.000 = 6% x 400.000 total saham biasa 18.000 = 6% x 300.000 total saham biasa 30.000 = 6% x 300.000 total saham biasa

itungan yg bisa berubah ersenan atas am biasa

600.000

Penggabungan usaha berarti penyatuan aktiva dari dua perusahaan atau lebih di bawah kepemilikan atau pengendalian tunggal.

Penggabungan sebagai pembelian (purchase)


Penggabungan yang menyangkut eliminasi bagian yang penting dari kepemilikan semula disebut penggabungan

Penggabungan kepentingan (pooling of interest)


Penggabungan usaha yang menyangkut kelanjutan semua bagian penting dari kepemilikan semula disebut penggabungan kepentingan (pooling of interest)

Diasumsikan PT. D, PT E dan PT. F mempertimbangkan untuk bergabung dalam PT. D. Untuk penggabungan ini, Aktiva, Hutang dan Modal dilaporkan sesuai dengan prinsip2 akuntansi yang berlaku umum dan ditetapkan dengan dasar yang seragam. Pada tanggal 1 Juli 2009 Neraca ke-3 perusahaan adalah sebagai berikut:
PT. D Aktiva Kewajiban Modal Tambahan Modal Laba yang ditahan Total Kewajiban dan Modal Pemegang Saham 2.000.000 750.000 1.000.000 350.000 (100.000) 2.000.000 PT. E 1.250.000 400.000 500.000 150.000 200.000 1.250.000 PT. F 1.000.000 500.000 500.000 100.000 50.000 1.000.000

Pada tanggal ini PT. D mengambilalih semua harta dan menanggung semua kewajiban PT. E dan F dalam penukaranya dengan lembar saham yang akan diterbitkan. Saham PT. D sekarang dijual dengan harga $50 per lembar. Aktiva PT. E dan F harus dinilai dan kedua perusahaan ini harus menerima saham PT. D dengan nilai pasar sebesar nilai pasar aktiva bersih yang diserahkan.

Penukaran lembar saham dengan aktiva bersih ini dikalkulasi sebagai berikut:
PT. E Aktiva per buku (+) Kenaikan aktiva per penilaian Kenaikan aktiva per penilaian (-) Kewajiban Aktiva bersih untuk pertukaran 1.250.000 150.000 1.400.000 400.000 1.000.000 PT. F 1.000.000 100.000 1.100.000 350.000 750.000 Total 2.250.000 250.000 2.500.000 750.000 1.750.000

Jika penggabungan dianggap sebagai PEMBELIAN

Jika penggabungan dianggap sebagai PENYATUAN KEPENTINGAN Aktiva 2.250.000 Kewajiban 750.000 Modal Saham 1.000.000 Tambahan Modal distor 250.000 Laba yang ditahan 250.000 Neraca PT. D, per 1 Juli 20xx Aktiva Kewajiban Modal Saham Tambahan modal disetor Laba yang ditahan Total Kewajiban dan Modal Pemegang Saham 4.250.000 1.500.000 2.000.000 250.000 150.000 4.250.000

Aktiva Kewajiban Modal Saham

2.500.000 750.000 1.750.000

Neraca PT. D, per 1 Juli 20xx Aktiva Kewajiban Modal Saham Tambahan modal disetor Defisit Total Kewajiban dan Modal Pemegang Saham 4.000.000 1.500.000 2.750.000 350.000 (100.000) 4.000.000

SAMPAI DI SINI

Anda mungkin juga menyukai