Anda di halaman 1dari 18

Notulensi Kuliah Virtual Teori Politik Internasional, 11 November 2012.

Medium: Cengkih Presenter: Kishino Bawono Peserta: Dara Niggarwati G (Dara) Ratu Humairoh Balqis (Balqis) Gigih Agung Bagaskara (Gigih) Gusti Hening Pusthikaputra (Gusti) Iqbal Zakky Hasbianto (Iqbal) Farha Kamalia (Farha) Yang tidak hadir: Febe Maryona Tahitu

PERTANYAAN PERTAMA "Ketika bicara mengenai Hugo Grotius, kesan yang sampai apa?" Singkat aja, sederhana saja jawabannya. Silakan, approximately 10-15 menit ini. Jangan lupa, jawaban ditulis di kotak kanan itu, kalau mau memberikan yang lain "bacaan" yang lebih enak, copy-paste ke sini, dengan nulis nama dan konteksnya. Makasih. :D Gusti: Menanggapi Pertanyaan Pertama. menanggapi Mas Kishino, Menurut saya, Grotius ini sekuler, natural law harus diterapkan ke seluruh manusia beserta seluruh agama dan kepercayaannya.dan natural law ini dipakai sebagai pusat hukum, berangkat pada asumsi dasar liberal dan idealis bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Tapi, Grotius juga ada sisi realisnya, dia mengatakan juga bahwa perang tidak dapat dihindarkan dan terkadang perlu untuk menegakkan moral yang dianut suatu negara, tapi harus diatur..ya hal ini memunculkan apa yang kita sebut sekarang sebagai just war dan merupakan awal dari hukum humaniter internasional. Gigih: Menanggapi pertanyaan Pertama: Menurut saya setelah melihat apa yang ada di benaknya Hugo Grotius yaitu konsep moral, natural law dll menandakan bahwa dia adalah seorang liberalis. Bisa dilihat dari kata2nya bahwa manusia itu secara alami baik dan secara moral benar. Kemudian ada Grotius sekuler yaitu natural law harus diaplikasikan ke semua manusia tanpa pandang bulu. Kemudian baik individu maupun negara memiliki hak asasi yang harus diperjuangkan dengan baik. Hal-hal ini menunjukkan bahwa dia adalah liberalis. Namun dia juga tidak menyangkal adanya perang. Namun dia hanya setuju pada konsep just war. Just war ini menurut saya perang yang tidak tercemar oleh unsur2 politis, kepentingan pribadi, kekayaan, dan lain-lain. Perang ya perang(just war/hanya perang) yaitu mempertahankan hak dan kewajiban, mempertahankan kemerdekaan. Untuk memperyahankan kemurnian just war ini, beliau membuat aturan-aturan baku mengenai just war, dan aturan-aturan ini harus ada jika perang dikategorikan sebagai just war. Hugo Grotius menurut saya adalah liberalis, am i right? Dara: Menanggapi pertanyaan pertama Kak Nino. Kesan yang saya dapat ketika membicarakan Hugo Grotius adalah concern nya untuk mengkodifikasikan norma,etika,dan politik dalam tatanan hukum internasional. Hal ini terkait dengan kesadarannya akan konflik yang menyalahi natural law,dalam bentuk konflik antar

individu maupun negara, merupakan hal yang alamiah dan tak terelakkan, sehingga untuk menekan ambiguitas serta relativitas dari natural law,hal yang bisa dilakukan adalah dengan kodifikasi hukum serta konsep just war. Gigih: Komentar tambahan Gigih terhadap pertanyaan pertama. Namun saya sempat ragu. apakah konsep just war ini bisa benar2 diimplementasikan. perang dimana2 pasti ada unsur kepentingan, entah mencari kekuasaan, kekayaan, menjajah, dll. menurut saya konsep just war ini bagus, tp sedikit mengada-ada bagi saya, benarkah? Ini nanti sejalan dengan salah satu pertanyaan yang mau aku ajukan. :) Farha: Menanggapi Kak khisino Ketika bicara mengenai Hugo Grotius, kesan yang sampai pada saya adalah bahwa Hugo Grotius merupakan pemikir yang lebih menekankan pada moral ketika membahas baik dalam level individu maupun level internasional daripada pemikir-pemikir sebelumnya. Hugo Grotius pemikirannya juga cenderung mengarah ke paham liberal. Hal ini terbukti dengan pemikirannya mengenai law, yaitu natural law dan law of nations. Kedua hal tersebut berkaitan erat dengan kebebasan individu dan pelaksanaan hubungan internasional, termasuk perang sekalipun pihak-pihak yang melakukan perang harus taat pada hukum perang yang berlaku. Ratu Humairoh Balqis : menanggapi pertanyaan kak Kishino : Merupakan seseorang yang cerdas terlihat dari prestasinya bahkan sejak ia masih muda, seorang negarawan dan diplomat yang ulung. Selama hidupnya, Grotius juga banyak menulis buku tentang teologi Kristen, dan menghasilkan beberapa karya seni. Hugo Grotius merupakan salah satu pemikir yang menggunakan justifikasi moral dalam melihat hubungan internasional. Pemikiran pertama Grotius adalah pemikiran terkait natural law. Grotius juga memberikan pemikirannya mengenai bagaimana perang itu dilaksanakan, dengan beberapa konsepnya seperti jus ad bellum dan jus in bello. Keduan konsep ini juga akan membantu kita dalam menjustifikasikan apakah perang dilaksanakan secara adil atau jus war. Pemikiran selanjutnya yang dikemukakan oleh Grotius adalah mengenai kebebasan laut. Jadi intinya, Grotius merupakan seorang pemikir yang telah menyumbangkan berbagai pemikiran penting bagi perkembangan hubungan internasional bahkan hingga saat ini.

Annisa: menanggapi pertanyaan pertama: Kesan mengenai Hugo Grotius : Menurut saya, Hugo Grotius merupakan tokoh liberalis yang berusaha melihat perkembangan manusia berdasarkan natural law nya merupakan individu yang baik dan ingin melakukan kerjasama namun sering dihadapkan konflik-konflik sosial. Sehingga perang tidak dapat dihindari. Grotius melihat perang dari sudut pandang yang lebih masuk akal. Grotius tidak menampikkan akan kemunculan perang, namun tidak menginginkan perang yang sia-sia. Perang haruslah memiliki alasan yang kuat, yaitu demi perlindungan hak asasi manusia. Grotius pun yakin bahwa manusia masih memiliki etika dan moral sebagai dasar hubungannya dengan individu lain, maka dari itu Grotius berusaha mengkodifikasikan sebuah hokum perang, agar perang yang bertujuan melindungi hak dan kewajiban(just war) tidak menjadi sia-sia. Gusti: menanggapi gigih: menurutku grotius ini juga bingung sebenernya..perang diatur? sekarang apakah ketika sudah benar2 terjun ke ladang pertempuran, bakalan inget konsep just war itu? saya pikir saya setuju bahwa just war ini sedikit mengada-ada...tapi tidak bisa dipungkiri kalau paham liberalis maupun idealis kan harus ada unsur institutional law, dan world order.. Iqbal: Mencoba menjawab pertanyaan pertama dari mas Nino. Kesan yang tersampaikan adalah lahirnya bibit-bibit liberalis. Hugo Grotius mungkin menjadi pionir dalam membentuk fondasi awal liberalisme seperti hukum humaniter. Meskipun belum ada konsep "manusiawi" (karena sebelum PD I konsep "HAM" belum ditemukan), Grotius sudah mulai membahas tentang "manusia yang beradab". INI PERTANYAAN KEDUA: "Natural law, ini apa menurut kalian, dan bagaimana ini memberikan kontribusi bagi penulisan dalam ilmu sosial? Dalam hal ini Hugo Grotius dan tulisannya." Approximately 20-30 menit lah. Silakan. :D Gigih: Menurut saya natural law ini sangat mencerminkan bahwa Grotius adalah seorang yang liberalis. Secara hukum alam (natural law) manusia pada dasarnya memiliki sifat dan

perangai yang baik. Segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat manusia adalah benar secara moral. Jika aad manusia-manusia yang memiliki sifat-sifat yang tak sesuai hukum alam (sifat buruk, sifat jahat), itu semata-mata karena sistem moral yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, alias moralnya buruk. Grotius mengartikan natural law ini sebagai Grotius Sekuler dimana hukum alamiah ini secara otomatis dan harus diaplikasikan kepada seluruh manusia tanpa memperdulikan hal-hal lain. Pemikiran Grotius bagi ilmu sosial menurut saya sebagai penyeimbang bagi adanya pemikiran realisme yang memandang manusia bersifat buruk dan skeptis pada moral. Bagi ilmu sosial, pandangan Grotius ini memberikan rasa optimisme bahwa manusia itu baik, bermoral baik, sehingga janganlah kita ragu bahwa perdamaian takkan ada(seperti pandangan realisme). Pandangan Grotius (dan pandangan liberalisme lainnya) sangat berguna bagi masyarakat sosial untuk terus optimis memperjuangkan perdamaian walupun terkesan sulit (mungkin mustahil). Dengan pandangan liberalisme yang terkesan muluk-muluk dan mengada-ada, tetap saja penting untuk membuat masyarakat memiliki harapan dan memberikan mereka alasan untuk apa mereka berjuang(berperang). Tidak seperti realisme yang cenderung membuat masyarakat menjadi apatis dan skeptis. Gusti : Menanggapi pertanyaan ke2 dari mas kishino, menurut saya natural law itu adalah hukum yang dianut oleh individu, dinalar sendiri oleh individu, dan dijadikan sebagai landasan dan pedoman individu tersebut dalam berkeehidupan sehari-hari..jadi, natural law menurut tiap-tiap orang beda-beda tergantung nilai yang mereka anut, tergantung juga pada penalaran mereka mengenai suatu hukum, dan sangat menekankan pada rights / hak individu untuk menalar, dan menjalankan hukum / aturan berdasarkan pada penalarannya sendiri..ya, jadinya seperti apa yang kita tahu tentang sekularitas saat ini..nah..sedangkan kontribusinya natural law bagi ilmu sosial terutama di tulisan grotius sendiri adalah bahwa pada dasarnya, hukum itu mudah..dan apa yang dilakukan manusia, selama sejalan dengan sifat alamiah manusia, secara moral adalah benar..dan sebaliknya, jika apa yang dilakukan manusia tidak sesuai dengan nature nya manusia, maka secara moral salah..jadi, menurut saya, grotius ini sebenarnya mencoba untuk menyederhanakan kehidupan sosial yang ribet Iqbal: Sepenangkapan saya, natural law Grotius itu terbagi menjadi dua: Hukum yang benarbenar datang dari Tuhan (Agama) dan hukum yang dibuat oleh manusia. Grotius mencoba membelah hukum agama dengan hukum manusia yang kemudian menimbulkan sekularisme. Saya rasa kontribusi natural law besar, seperti yang kita ketahui bahwa daratan Eropa sangat

kuat sekularismenya. Lebih jauh lagi, ini menjadi pemisah antara agama dengan negara nantinya (seperti yang dianut AS sekarang). Gigih: - Menanggapi Iqbal - bedanya hukum agama sama hukum manusia apa bal? maksudku menurut pandangan grotius? Iqbal: Mencoba menjawab pertanyaan mas Gigih, hukum agama adalah hukum yang benar-benar mengekspresikan kehendak Tuhan (aku coba kasih contoh Vatikan gitu mungkin ya). Hukum manusia: hukum (manusia) yang ada karena alasan tertentu (mungkin contohnya ya hukum humaniter itu sendiri). Gusti: mau bantuin iqbal deh, hukum Tuhan itu ya apa yang tertera dalam kitab suci...tapi kadang-kadang itu juga dinalar sendiri dan dipersepsikan beda-beda antar individu :| Dara: menanggapi iqbal dan gusti juga,untuk itu grotius mencoba untuk formulasi hukum ke dalam hukum yang lebih logis dan bisa diterima secara universal,karena meskipun hukum setiap agama mengajarkan yang baik-baik tapi agama yang berbeda pun,bisa memberikan interpretasi yang relatif. jadi grotius mau menjadikan hukum yang universal dan normatif-nah ini saya setuju Gigih: klo menurutku sih hukum agama justru memuat semangat liberalisme itu sendiri. kita tahu bahwa semua ilmu agam pasti baik (sesuai paham liberalisme). maslah hukum agama yang negatif itu kan karena interpretasi masing2 individu yang mungkin salah. jadi hukum agama dan hukum buatan Grotius malah sebenarnya sama. Menurut saya kata2 iqbal mengenai AS memisahkan agama dengan negara sepertinya gak deh. pernah dijelaskan mas Rahmat waktu polpem AS klo dalam membuat kebijakan, AS selalu memiliki visi misi yaitu mengenai semangat kristen dan yahudi, tapi saya juga lupa detilnya bal. Iqbal: - Masih terkait dengan hal di atas. Kamu yakin gih? Salah satu isi dari konstitusi AS (persetujuan dengan beberapa negara bagian) bahwa agama harus dipisahkan dari politik. Mungkin persepsi kita beda antara politik dan negara, mungkin ya. Karena ini aku masih punya pdf-nya mas rahmat tentang AS, dan ada di dalam isi konstitusi AS. Dara: Iya bal setuju,bahkan di sekolah-sekolah negeri AS kalo ga salah ada peraturan tentang tidak boleh ada pelajaran agama,supaya konsepsi agama ga berbenturan sama konsepsi hak sipil. but anyway ini jadi ngomongin AS. Farha: Menanggapi yang di atas.

Mau nanggapin dikit, tapi banyak juga sekolah-sekolah di AS meskipun public school tapi mereka jg masih menyelenggarakan ritual keagamaan bareng. Apalagi kalo sekolah yang privat. Gigih: - Masih terkait dengan yang atas. Kalau yang aku pelajari di polpem as mengenai neo cons yang diikuti orang2 macam Bush, dalam menguasai dunia selalu memegang teguh semangat kristiani. kan dalam american dreams itu pasti ada unsur agamanya. ini yang aku tangkap, gak tau benar atau tidak. Iqbal: Yah, kita kan sama-sama belajar gih, haha, gak tau bener atau salah. Sepenangkapanku sih gitu. Tapi masalah neo-cons: penguasaan dunia dengan memegang teguh semangat kristiani (Agama), itu mah udah masuk teori konspirasi menurutku, kesukaannnya Gusti ini mah. Gigih: waduh kok malah nyasar pe AS yha? hehe Dara :menanggapi pertanyaan kedua kak Nino Natural law memiliki esensi dasar akan karakter given dan alami tiap individu yang pada dasarnya adalah baik. Natural Law memiliki elemen-elemen yang kemudian memformulasikan Natural Rights/Human Rights, bahwa karena pada dasarnya manusia memiliki sifat dasar baik,maka ada baiknya untuk menghormati hak satu sama lain agar tercipta kehidupan harmonis. Human Rights yang dikodifikasikan dalam hukum legal formal misalnya pada Declaration of Human Rights, serta penghormatannya tercatat pada Charter of UN, ini diformulasikan untuk sesuai dengan rasionalitas manusia dan pertimbangan konstruksi sosial agar tercipta situasi yang saling menghormati jalannya hak individual baik hak sipil maupun politik. Natural law ini juga berkiblat banyak pada konsepsi akan moral and virtue, dimana saya artikan bahwa dengan menelurkan konsepsi ber-esensi seperti ini,Grotius berarti beranggapan bahwa pada dasarnya karakter positif merupakan given pada manusia,namun secara konstruksi sosial manusia harus dihadapkan pada friksi atau konflik yang tak terelakkan pula karena benturan kepentingan dengan individu lain. Hal ini juga memberikan refleksi bahwa Grotius adalah liberalis, karena prinsipnya yang ingin menstandarisasi universal human rights dan upaya world peace. Annisa-Natural Law :Jangan Natural Law yang dimaksudkan Grotius adalah pemikiran bahwa pada dasarnya manusia adalah individu yang baik yang memiliki moral dan etika. Sehingga dalam berinteraksi invidu akan terus memperhatikan moral dan etika sebagai parameter berlaku. Pemikiran Natural

Law ini menampikkan pemikiran kaum realis yang selalu menyangkal akan eksistensi moral dalam hubungan internasional. Moral menjadi sangat penting dalam hubungan internasional mengingat kemungkinan terjadinya konflik dalam pencapaian kepentingan. Dengan adanya moral, manusia diingatkan untuk menghargai kepentingan satu sama lain. Grotius tidak menampikkan akan kemunculan perang, namun tidak menginginkan perang yang sia-sia. Kemudian lahirlah pemikiran pembahasan Hukum Humaniter Internasional. Perang tidak boleh didasarkan atas kecemasan atau hanya rasa curiga namun harus demi kepentingan perlindungan hak manusia (just war). Sehingga perang diatur dengan moral bersama agar perang tetap sebagai perang bukan dengan alasan politis ataupun kekuasaan. Mengapa moral? Karena moral merpakan hal yang universal yang dipahami bersama oleh seluruh individu di dunia. Sehingga Grotius berharap dengan pengaturan perang, dunia ini akan lebih baik, atas dasar Natural Law tersebut. Farha: - Menanggapi pertanyaan Kedua. Menurut saya natural law adalah hukum-hukum yang ada karena telah dimiliki manusia sejak lahir yang diberikan oleh Tuhan, yaitu mengenai hak-hak yang dimiliki oleh semua manusia karena berkaitan dengan hak individu. Oleh karena natural law merupakan basis dari hak individu, maka hak-hak individu ini bersifat sama dan tidak memandang perbedaan manusia satu dengan yang lain. Sehingga, hukum ini merupakan hukum tertinggi dan dasar hukum untuk sumber hukum-hukum lain karena berasal dari Tuhan. Pemikiran-pemikiran Grotius ini mempunyai kontribusi terhadap ilmu sosial, salah satunya mengenai hal-hal yang berkaitan hak-hak. Manusia menjadi lebih bermoral karena mereka ccenderung untuk menddahulukan hak-hak. Tidak sedikit tulisan-tulisan yang membahas mengenai kebebasan dan hak-hak individu. Pemikiran Grotius juga memberikan kontribusinya terhadap tuisannya sendiri, yaitu mengenaik hukum umum dia antara bangsa-bangsa, termasuk hukum untuk berperang. Balqis : Terkait pertanyaan kedua. Natural law merupakan salah satu pemikiran dari Hugo Grotius. Nature law ini berasal dari natural rights atau yang juga dikenal sebagai hak asasi yang dimiliki oleh manusia. Awalnya nature law ini dikemukakan Hugo Grotius terkait dengan hak untuk melawan tiran yang awalnya hanya merupakan suatu kewajiban agama, Oleh karena itu lah banyak yang berpikir bahwa pemikiran Hugotius ini merupakan pemikiran yang beralih dari pemikiran agamis ke pemikiran sekuler. Hingga akhirnya hak yang ada di nature law ini kemudian berubah menjadi hak moral yang terbentuk dengan persetujuan masyarakat sipil. Nature law

kemudian menjadi suatu hukum yang menjustifikasi benar atau tidak berdasarkan moral. Hak yang dimiliki oleh manusia dari pemberian Tuhan ini juga kemudian mendapat perlindungan atau ditopang oleh hukum itu sendiri. Setidaknya terdapat empat hak dasar yang dimiliki oleh manusia menurut Grotius, seperti hak kepemilikan atau properti tanpa diganggu oleh orang lain, hak untuk mendapatkan keuntungan dari properti yang dimiliki, hak untuk menghormati perjanjian dan terakhir hak untuk menghukum suatu perbuatan yang salah secara moral. Dengan keempat dasar yang telah dijamin dalam natural law yang menjadikan masyarakat itu ada, maka natural law dijadikan sebagai pondasi dari segala hukum yang ada di dunia. Oleh karena itu juga, wajar saja bila kemudian bisa kita katakan bahwa nature law ini telah menjadi sumber bagi kemuculan dalam hukum-hukum lain di dunia sosial sebut saja hukum sipil, hukum publik dsb.

PERTANYAAN KETIGA: Kita tadi sudah bicara mengenai perang, mengenai limitasi dalam perang. Hugo Grotius sendiri juga menulis mengenai itu. Nah, sekarang gini, mengapa ini dianggap penting? Apa kah anda setuju? Kalau tidak setuju juga mengapa? Jadi jawaban yang saya inginkan, adalah apakah limitasi dalam perang itu penting? Setuju atau tidak? Berikan alasannya. Ini yang terakhir, biar yang mau kuliah bisa siap-siap. Dan terpaksa meninggalkan diskusi sebelum berakhir hingga 9.30, jadi mungkin sedikit kehilangan diskusi tambahan saja. Gusti: menanggapi mas kishino yang ketiga kali: Menurut saya, limitasi dalam perang, just war, hukum humaniter itu tidak penting...menurut saya, itu hanya sekedar law, yang bahkan negara-negara liberal pun pada akhirnya juga berperang, dan melanggar prinsip2 humaniter just war seperti contohnya amerika serikat yang mengebom instalasi sipil di Libya.....ya kalau mau perang, pasti ada korban yang mati, dan perang berarti adalah zero-sum game, harus ada yang menang dan kalah, harus ada yang hidup, harus ada yang mati...apakah dengan adanya limitasijust war dan HHI, akan mencegah dan menyelamatkan nyawa kombatan maupun non-kombatan yang memang harus sudah siap mati dalam perang? tidak bisa kan? ya berarti useless lah limitasi dalam perang itu Iqbal: Menanggapi Gusti

Kamu pernah gak mikir kalo misalkan adanya limitasi perang membuat rakyat berani untuk mencalonkan diri menjadi kombatan? Karena rule of the game dari perang kan jadi jelas tuh, dia tahu harus bunuh siapa dan gak bunuh siapa, dan di sisi lain dia merasa aman karena tahu bahwa musuhnya juga memikirkan hal yang sama. Contoh para wajib militer deh (mereka kan harus ninggalin keluarga) ntar dia pasti mikir keluarganya gimana-gimana gitu. Di sisi negara, mereka punya kesempatan lebih besar untuk mendapatkan tenaga militer (ketimbang maksa mulu lewat wamil?). Gusti: Menanggapi komentar Iqbal Apa itu berarti bahwa limitasi tersebut bisa membuat seseorang entah itu kombatan maupun non kombatan tercegah dari mati? gak kan? perang pasti ada yang mati bro...sik to aku belum rampung,,.justru aku malah setuju kalo anda mengatakan "jangan ada perang" , jadi, manusia bisa mati dengan cara yang lebih baik..ya kembali ke natural law deh..haha Gigih: untuk menengahi pertanyaan iqbal dan gusti silahkan lihat jawaban saya Menanggapi pernyataan gusti bahwa tak penting sepertinya kurang tepat. walaupun dengan adanya limitasi dan hhi tetap ada yang mati, namun paling tidak hal itu terkendali. dengan adanya limitasi tak ada negara yang seenaknya menggunakan nuklir n depleted uranium di peluru mereka. bayangkan jika limitasi tak penting dan ditiadakan, pasti tu negara2 gila macam AS, Cina, Rusia, Korut dah perang nuklir dari kemarin2 gus. namun tetap saja kekurangan limitasi ini tak bisa mencegah perang. karena perang menjadi bagian dari kehidupan. perang itu selalu ada, dari yang paling sederhana yaitu berantem di sekolah, itu termasuk perang. Iqbal: Ya eyalah pasti ada yang mati gus. Tapi esensinya bukan disana. Yang mau aku tekankan adalah "si negara ini macem MLM gak sih? Dia janjiin limitasi perang (janji manis) padahal mah sama aja, Gusti:"nah PHP kan berarti? berarti sama aja useless dong? Iqbal: Gak useless dong kalo dari sisi negara, kan dia berhasil menarik simpati para kombatan untuk bertempur lebih penuh semangat (karena udah dijanjiin ini itu lewat hukum humaniter). Ini pemikiran realisnya ya mengenai hukum humaniter. Kalo masalah jangan ada perang, nah ini adalah pemikiran yang aku sedang coba kembangkan (wah, berasa S2 aku kayak Upan). Kelak kan hukum humaniter menjadi dua cabang: disarmament dan arms control.

Dara: Yasudah teman-teman, terharu liat chat ini yang begitu panas,intinya limitasi ada untuk membatasi kan tapi ga bisa sepenuhnya menekan apalagi mencegah. jadi kalau pada akhirnya pecah perang ga bisa sepenuhnya menyalahkan ineffectiveness dari HHI juga....toh sudah diberikan pilihan untuk membatasi kerugian perang,decision makernya kembali lagi ke orientasi politik negara Balqis : gak useless juga dong gusti, bayangin kalo gak ada sama sekali? Israel disana pasti bakal dengan sebebas-besas nya nyerang kawasan masyarakat sipil di palestina, korban makin banyak dan perdamaian gak bakal terwujud. Sebaliknya, setidaknya dengan adanya HHI sebagai salah satu bentuk limitasi perang menjadi salah satu jalan untuk mengurangi dampak perang yang begtu merugikan tersebut. arena ketika negara tersebut telah setidaknya menandatangani persetujuan terkait dengan limitasi perang, maka ia memiliki setidaknya tanggung jawab moral untuk menaati nya, dan oleh karena itu pihak internasional atau negara-negara lain dapat juga menekan negara yang melanggar perjanjian internasional terkait limitasi perang itu sendiri (sekalipun negara tersebut belum meratifikasi HHI nya) Gusti:wah salah nih menggunakan contoh israel -_- menurut berita yang sering kubaca dan kudengar di tipi, israel sering "salah sasaran" ke instalasi sipil lo..la pie coba? Gigih: brarti israel bodoh. :P Balqis: Salah sasaran? Terus terjadi berulang-ulang gitu? apakah ada bukti? kalo masalah kayak gini kan lah susah kita mau liat mana yg bener mana yg salah, nah itu makanya harus ada aturan yang mengaturnya. Lgian juga pas kelas HHI dulu, aku pernah bahas tntg israel, ada juga loh serangan yang miapemang sengaja ditujukan ke pihak sipil, dengan dugaan ada pihak hamas yg bersembunyi lah dsb. Nah, kalau sudah jelas ada HHI yang bilang gak boleh nyerang sipil, maka harusnya apapun alasannya israel gak boleh nyerang sipil, dan dengan adanya HHI pihak internasional dapat turun tangan guna membantu permasalahan ini. Kalo masalah efektivitas yang memang gak sepenuhnya maksimal, namun ya lagi kayak kata bu illien " Daripada gak ada ? :""" Mau jadi apa dunia ini? #halah :' Farha: Mau menanggapi Gusti, kalo menurutku dengan adanya limitasi perang mereka akan setidaknya memikirkan moral lho. Lihat sekarang, banyak tentara-tentara khususnya tentara AS yang mati dalam medan perang justru bukan karena mereka mati tertembak peluru dan

sebagainya, tapi banyak dari mereka yang mati karena stress. Setidaknya ini limitasi dari hukum moral itu sendiri. Mereka jadi lebih peka bahwasannya mereka itu melakukan kesalahan. Selain itu, zaman sekarang negara-negara jadi enggan mendeklarasikan perang secara langsung karena mereka sudah lebih sadar mengenai hukum moral dan limitasi itu sendiri. Sebaliknya, dulu negara-negara tidak sungkan untuk mendeklarasikan perang. Gusti: Tanggapan nih..menurutku negara sekarng enggan mendklarasikan perang bukan karena ada HHI..tapi lebih kepada rasionalitas untung rugi suatu negara jika menyerang negara lain...kalau misal bagi AS mereka menyerang Indonesia berarti mendatangkan untung lebih besar, ya mereka gak sungkan..sama aja kayak AS yang menyerang iraq atau afghanistan..entah apapun itu alasan dan justifikasi mereka berperang, itu pasti didsarkan rasionalitas untung rugi, bukan pada HHI nya gigih:realisme sekali bung! nah klo aku malah menganggap bahwa dengan adanya HHI justru membuat AS mendapatkan kerugian lebih besar jika menyerang, jadi jika dihubungkan untung rugi yha nyambung juga. Iqbal: Limitasi perang dengan menggunakan hukum humaniter kan sebenarnya nilai filosofinya ada dalam pencegahan/minimalisir korban. Dari sini kita bisa ambil premis, karena manusia itu dasarnya baik, sangat disayangkan bila mati (apalagi karena perang yang cenderung ditentang oleh kelompok liberal macam Grotius). Mungkin karena Grotius hidup di dataran Eropa yang waktu itu sangat cepat perubahan peta politiknya (sedikit-sedikit perang, sedikit-sedikit perang, perang kok sedikit-sedikit) jadinya hanya terbatas pad limitasi perang. Kalo saya sih, setuju-setuju saja. Siapa sih yang mau mati? Masalah penting atau tidak penting, ya penting. Kelak, pemikiran tentang limitasi perang akan memperkuat agenda perdamaian dan konsepsi perjanjiannya. Balqis: Menurut saya limitasi dalam perang itu tetap penting, setidaknya dengan adanya limitasi tersebut, anggaplah kita tidak dapat menghindari perang, setidaknya kita masih bisa mencegah dampak buruk dari perang itu sendiri, terutama bagi pihak-pihak yang tidak bersalah seperti non kombatan (penduduk yang tidak bersenjata ex : wanita, anak-anak dsb). Selain itu dengan adanya limitasi dalam perang memungkin masuknya intervensi ketika terjadi hak- hak yang dilanggar oleh negara yang berperang. Setuju dengan iqbal, tentunya dengan adanya limitasi ini juga dapat menjadi jalan untuk terciptanya dunia yang lebih

damai, dibandingkan bila tanpa adanya aturan sama sekali terkait dengan adanya perang. Dengan adanya limitasi dalam perang, seperti dengan keberadaan hukum humaniter internaisonal, maka kerugian atau dampak buruk dari perang dapat dikurangi, baik itu korban jiwa maupun harta. Mengapa? karena ketika negara tersebut telah setidaknya menandatangani persetujuan terkait dengan limitasi perang, maka ia memiliki setidaknya tanggung jawab moral untuk menaati nya, dan oleh karena itu pihak internasional atau negara-negara lain dapat juga menekan negara yang melanggar perjanjian internasional terkait limitasi perang itu sendiri (sekalipun negara tersebut belum meratifikasi HHI nya) Farha: Menurut saya limitasi dalam perang merupakan hal penting. Dalam kenyataannya, meskipun telah ada batasan-batasan dalam berperang, seperti harus mematuhi jus ad bellum dan jus in bello namun masih banyak pihak-pihak yang melakukan perang menyalahi aturan tersebut. Mereka dapat membunuh maupun merusak apa saja yang ada di hadapannya layaknya sedang bermain game. Secara logika, apabila tidak ada limitasi dalam berperang, maka pihak-pihak yang melakukan perang akan jauh lebih mengabaikan prinsip-prinsip kemanusiaan. Dengan adanya limitasi pihak-pihak yang berperang akan memikirkan konsekuensinya apabila melanggar karena mereka terikat dengan hukum, setidaknya hukum moral itu sendiri. Dara: Menanggapi pertanyaan ketiga kak Nino. Kalau mau berbicara secara idealis,limitasi dalam perang itu saya anggap sekedar formalitas agar perang memiliki nilai yang menghormati prolegomena,yaitu nilai yang merefleksikan basis penghormatan HAM. Selain itu limitasi dalam perang seakan menjadi opsi framing untuk memberikan citra bahwa manusia (baik secara individual maupun tergabung dalam entitas kenegaraan), bukanlah makhluk yang barbar demi meraih kepentingannya. Pada dasarnya limitasi akan perang menurut pandangan Grotius, saya kira merupakan fusi dari etika serta moral, namun tetap mengindahkan pertimbangan politik. Jadi semuanya berujung pada tak terelakkannya perang sebagai salah satu bentuk contest of power,namun ada opsi beban dan konsekuensi negatif dalam perang untuk dapat diminimalisir,dan memberikan asistensi terhadap korban perang,hanya jika pihak-pihak yang berperang merealisasi Hukum Humaniter Internasional secara konsekuen dan konsisten, seperti yang tertera pada konsep Jus ad Bellum dan Jus in Bello. Saya setuju dengan prinsip Grotius,namun pada praktiknya prinsip ini menjadi tidak efektif karena situasi dalam perang

sesungguhnya mengutamakan survival of the fittest yang sulit untuk menyediakan ruang bagi penghormatan moral and virtue Gigih: Jika membicarakan limitasi perang itu penting itu sangat penting, dan saya setuju itu harus ada. Realisasi dari pemikiran Grotius mengenai limitasi perang bahkan sudah ada dalam hukum humaniter internasional yang secara jelas mengatur bagaimana perang yang ideal. Ideal di sini maksudnya bagaimana menciptakan perang yang menghasilkan korban jiwa, kerugian-kerugian yang minimal. Limitasi ini sangat penting karena mencegah suatu perang yang kebablasan. Maksudnya perang menjadi tidak terkontrol dan terlalu meminta banyak korban jiwa. Contohnya jika suatu perang tak dibatasi, bisa2 negara-negara kuat seperti AS menggunakan senjata nubika (nuclear, biological and chemical) yang sangat mengerikan dampaknya. Efeknya sudah digambarkan dalam film-film (dan kita berdoa saja supaya tak terjadi) seperti misalnya efek senjata biologis membuat dunia jadi penuh zombie (resident evil series). Efek senjata nuklir bisa dilihat di film terminator series. Memang terkesan fantasi, namun ini bisa terjadi sejalan dengan kepintaran manusia yang semakin tinggi. Oleh karena itu perang harus dibatasi. Dibatasi misalnya tak boleh memakai senjata tertentu, pihak mana saja yang tak boleh diserang, bagaimana kiat-kiat berperang yang tak banyak membunuh orang. Dan lain-lain. Limitasi-limitasi ini menuru saya efektif terjadi, karena sejak perang dunia kedua berakhir, senjata2 pemusnah masal digunakan dengan minimal (walaupun masih digunakan, namun paling tidak terkendali). Adanya limitasi-limitasi ini tidak lepas dari kontribusi Grotius mengenai Just war. Namun limitasi perang hanya mentok sampai bagaimana membuat perang yang terkendali. Dia tak bisa benar2 menghentikan perang dan tak bisa mencegah perang-perang yang diisi berbagai kepentingan (seperti teori syarat dan ketentuan berlaku. Suatu program gratisan untuk menawarkan sesuatu pasti ada sesuatu yang dikorbankan atau suatu yang tak bisa dihilangkan. Sama dengan konsep just war, dia menawarkan program limitasi perang, namun dia tetap tak bisa menawarkan program-program lainnya yaitu penghentian perang dan pemurnian perang). Dengan adanya limitasi perang dan hukum humaniter internasional tak mencegah bahwa perang itu diboncengi dengan berbagai kepentingan, entah kekayaan, kekuasaan, penjajahan, dan lainlain. Perang tetap tak bisa benar-benar dihentikan, dan disinilah kekurang limitasi perang. Annisa Limitasi Perang :

Menurut saya penting, karena manusia tidak pernah hidup sendirian sehingga manusia tidak bisa berperilaku dengan cara barbarian di dunia. Moral adalah nilai yang universal jadi pastilah seluruh manusia akan menggunakan moral dalam berperilaku. Jika limitasi mengenai perang ataupun segala aspek kehidupan tidak diberikan maka situasi dunia internasional akan menjadi kacau. Terjadinya pelanggaran dalam pengaplikasian limitasi perang itu sendiri disebabkan oleh penghargaan akan moral bersama yang kurang di level individu. Sehingga yang diperlukan adalah meningkatkan peran international institution untuk menegakkan limitasi tersebut. Jika perang tanpa limitasi maka perang tidak akan berakhir. Adanya limitasi dalam perang pun mencegah atau mengurangi dampak-dampak yang tidak diperlukan terjadi, seperti kerusakan besar atau matinya para non-kombatan dalam jumlah besar. Adanya limitasi ini pu dapat menyeret wrong doers ke dalam pengadilan perang.

Kishino Bawono Nice, ini seru, sekarang closing remarks dari saya. Bukan closing juga sih, masih bisa kalian tanggapi. 1. Ketika bicara tentang Grotius, ya, kita akan bicara soal hukum internasional. Dan cenderung bicara mengenai hukum perang. Mengenai limitasi perang, mengenai pembatasan, mengenai upaya meminimalisir "korban" pasca perang. 2. Ketika bicara tentang nature-law. Apa yang ada? Nature law adalah konsepsi mengenai imaji manusia. Ini berkembang di Eropa, saat itu ini masih dipengaruhi tentang ajaran Gereja (Roma). Dalam ajaran Kristiani, manusia diciptakan menurut penggambaran Tuhan. Tuhan yang bagaimana? Tuhan yang, tentunya menurut orang Kristen, baik. Akibatnya apa? Ini membuat imaji atas manusia itu "mirip" seperti Tuhan, baik. Setelah itu, dalam ajaran Kristiani juga, salah satu tujuan dari manusia adalah untuk "semakin menyerupai Tuhan" dengan cara semakin-baik-dan-semakin-baik. Nah, fungsi hal ini dalam penulisan sosial seperti ini, seperti dalam tulisan Hugo Grotius, adalah memberikan landasan asumsi. Pernah dikatakan bahwa untuk menjelaskan fenomena sosial-politik, orang perlu memberikan asumsi dasarnya atas manusia terlebih dahulu. Mengapa? Karena kita butuh landasan, kita butuh fondasi membangun argumen. Human nature manusia yang menurut natural law, yang dikatakan sebagai baik. Inilah yang mendasari berbagai pemikiran idealis dan liberalis. Ini yang membuat mereka "lebih percaya" bahwa manusia bisa "bicara", manusia bisa "berrembug, bisa "diskusi" terlebih dahulu, sebelum ke hal-hal yang lain. 3. Nah, untuk yang ketiga, soal HHI, soal limitasi. bagaimanapun pelaksanaan, aturan ini tetap penting. No matter what, terlepas useless, nope. Nggak juga. Hukum, itu tetap berguna terlepas pelaksanaan yang amburadul. Terkait mengenai perang, Grotius ini sudah bilang bahwa ini inevitable. Dia bilang bahwa clash of interests, itu adalah wajar. Namun dia tidak berkata secara eksplisit dengan terminologi "interest". Dalam perkembangan manusia, terlepas dia realis atau idealis, manusia itu akan semakin mencoba menutupi "kepentingan" sebenarnya dan memakai "bungkusan" untuk menutupinya. Gampangannya, kamu punya bom untuk disampaikan ke orang, tapi kamu bungkus kado ulang tahun agar tidak dicurigai terlalu banyak. Nah, kalau kita berbicara seperti ini, bagi realis, ya ini nggak lebih dari sebuah bentuk "bungkusan". Contohnya gini, ketika ada aturan

mengenai intervensi asing ke dalam negara lain, PBB punya itu kan? Yes. Ada kok. Nah, ini, nggak lebih dari alat yang dipakai untuk intervensi asing. Ini hanya sebagai alat "justifikasi". Nah, kita di sini bisa bicara soal justifikasi. Dan dalam pemikiranku, justifikasi perang itu bukan hanya soal motivasi perang, tapi juga soal bagaimana perang itu dilakukan.Hugo Grotius kan bilang bahwa ada justifikasi untuk perang. nah, hal ini bisa dipakai sebagai alat. Politik itu kejam, ya, politik itu memakai berbagai hal sebagai instrumen untuk mencapai kepentingan. Terlepas bahwa HHI itu "berguna" dengan memberikan "upaya meminimalisir korban", tapi toh itu juga tetap alat bagi politik. Itu dari saya, ada komentar? :) Gusti: tidak adaaaa gigih: super sekali pak Mario, eh pak Kishino. :P di nomer 2 mas nino kan bilang klo manusia ingin menyerupai Tuhan. trus td iqbal juga bilang klo Grotius Sekuler itu ingin memisahkan hukum agama (Tuhan) dengan manusia. yang benar yag mana nih? bingung Kishino, menanggapi Gigih: Gini, yang aku baca dan aku pahami dari Grotius, dia bukan benar-benar memisahkan Tuhan dan manusia. Ini gini, dia dianggap "lebih sekuler" karena dia juga memikirkan hal yang "bukan dari Tuhan". Di bagian awal bacaan, ada konsepsi Kristiani mengenai manusia dan hukum kan? Nah selanjutnya, dalam membuat komunitas/masyarakat dengan normanilai/moralitas tertentu, manusia memakai "voluntarism", orang dengan suka rela ikut dengan kelompok tertentu. Ini ada dalam konsepsi St. Augustine. Namun, ketika sudah masuk ke era Thomas Aquinas, dia berpikir bahwa manusia tidak serta merta seperti itu. Manusia memakai rasio, makanya dia disebut "rationalist". Dan perkembangan pasca Aquinas banyak memunculkan orang-orang yang memakai "rasio" sebagai dasar pembentukan nilai/norma. Lanjutnya, kita langsung ke Grotius. Dia dipengaruhi oleh pemikiran Huguenot, yang dia biacara bahwa kita tidak hanya dibentuk berdasarkan "given" things dari Tuhan (natural law, yang berkata kita ini baik dan bermoral), tapi kita punya moral karena kita punya hak asasi manusia(atau dalam bacaan kita temui sebagai natural rights). Nah, bagaimana ini muncul? Ini kembali ke Huguenots, dia bicara soal right to resist a tyrrant, tirani akan menghilangkan hak asasi kita, dan kita menjadi berhak untuk mengganti dia. Dari sini, Grotius mendasarkan ada "hukum yang mengatur semua (ini basisnya Stoicism, Christianity), dan hukum itu merepresentasikan ajaran awal dari Tuhan dan apa yang ada di manusia (hukum itu mengakomodir landasan bahwa manusia itu baik dan bisa diatur, natural law, sementara di sisi lain, ini untuk menjamin hak asasi manusia kita dan ada sebagai bentuk "diskusi" manusia. In my opinion itu.

Gigih: dengan kata lain Grotius menginginkan manusia yang baik bagaikan Tuhan (agar tercipta perdamaian dll). namun Grotius juga ingin manusia memiliki pemikiran sendiri mengenai HAM jika dirasa ada hal yang tidak beres. Grotius ingin manusia tidak hanya tergantung pada sifat-sifat baik yang melekat pada Tuhan. gtu? Kishino Bawono on Gigih's: Aku g bisa bilang apa yang dia inginkan. Itu domain yang ada di benak dia dan nggak ada yang tahu. Tapi gini, dari yang aku baca, aku tidak menemukan seperti yang kamu katakan, bahwa dia menginginkan manusia itu baik seperti Tuhan ataupun manusia juga punya pemikiran sendiri terkait dengan HAM. No, I can't find the exact answer. Tapi ketika seperti itu, kita perlu menilik lagi lebih jauh latar belakang Grotius, ini yang dibilang teori kritis, yes? Kita menilik ilmu (atau dalam hal ini seorang penulis dan tulisannya) agar tahu apa underlying-motives dari tulisannya dia. Dan jika melakukan ini, berarti kita secara tidak langsung, sadar atau tidak, kita bicara bahwa ilmu itu tidak bebas nilai. Ilmu dipengaruhi penulis, kepentingannya, latar belakangnya, dsb. Dalam hal ini, jika bicara apa yang diinginkan Grotius, ya, lagi harus aku bilang, aku nggak ngerti. Maaf.