Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MATA KULIAH STUDI HADITS MAKALAH dan PRESENTASI

HADITS MAUDLU
Dosen Pengampu : Musyarrofah

Disusun Oleh : Marsudi Wahyudi Wahdaniya Lailatul Masna

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH

AL IBROHIMY
TANJUNGBUMI BANGKALAN 2012

~1~

KATA PENGANTAR

Puji syukur al-hamdulillah, kami ucapkan atas karunia dan nikmat Allah SWT sehingga kami bisa menyelesaikan tugas makalah kelompok dengan judul Hadis Maudhu ini untuk melengkapi tugas kelompok mata kuliah Studi Hadis. Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Desen Pengampu Ibu Musyarofah. yang telah memberikan bimbingan dan bekal untuk menyelesaikan makalah ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami menyelesaikan makalah ini. Kami sangat menyadari bahwa kami adalah manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan. Begitu juga dengan karya kami ini yang juga jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharap kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikanperbaikan dimasa yang akan datang dan semoga kita senantiasa mendapat petunjuk dan pertolongan Allah SWT. Amin

Tanjunbumi, 8 November 2012

Penulis

~2~

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hadits merupakan sumber hukum yang kedua setelah Al-Quran. Keberadaan hadits merupakan bentuk nyata dari ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Quran. Sedangkan hadits pada hakekatnya adalah penjelasan dan praktek dari ajaran AlQuran itu sendiri. Walaupn hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua, namun hadits tidak seperti Al-Quran yang secara resmi telah ditulis pada zaman Nabi dan dibukukan pada zaman khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq. Hadits baru ditulis dan dibukukan pada masa khalifah Umar bin Abdul Azis (abad ke-2) Kesenjangan waktu antara sepeninggalan Rasulullah dengan waktu pembukuan hadits (hampir 1 abad). Merupakan kesempatan yang baik bagi orangorang atau kelompok tertentu untuk memulai aksinya membuat dan mengatakan sesuatu yang kemudian dinisbahkan kepada Rasulullah dengan alasan yang dibuatbuat penisbatan sesuatu kepada Rasulullah SAW seperti inilah yang kemudian dikenal sebagai hadist palsu atau Hadits Maudhu. Hadits Maudhu sebenarnya tidak banyak disebut sebagai sebuah hadits, karena ia sudah jelas bukan sebuah hadits yang bisa disandarkan pada Nabi SAW. Lain halnya degan Hadits dhaif yang diperkirakan masih ada kemungkinan disandarkan pada Nabi SAW. Hadits Maudhu ini berbeda dengan Hadits Dhaif. Hadits Maudhu sudah ada kejelasan akan kepalsuannya sementara hadits dhaif belum jelas hanya samar-samar. Sehigga karena kesamarannya, hadits tersebut disebut dengan Dhaif. Bagi Hadits Maudhu dan Dhaif ini, sebagaimana hadits shahih telah banyak tersebar dan beredar dalam masyarakat. Disinilah kemudian Hadits Maudhu perlu dimasukan kedalam kajian ilmu hadits.

1.2. Rumusan Masalah Apa pengertian hadits maudlu ? Bagaimana awal munculnya hadits maudlu? Faktor apa saja yang melatarbelakangi hadits maudlu ? Bagaimana kriteria kepalsuan hadits maudlu ? Jelaskan beberapa Kumpulan contoh Hadits Maudlu' dan sebabnya! Bagaimana Usaha para ulama memberantas sebuah hadits ?
~3~

1.3. Tujuan Memahami Pengertian hadits maudlu. Mengetahui Awal munculnya hadits maudlu. Mengetahui Faktor yang melatarbelakangi hadits maudlu. Mengetahui Kriteria kepalsuan hadits maudlu. Mengetahui Kumpulan contoh Hadits Maudlu' dan sebabnya. Mengetahui Usaha para ulama memberantas sebuah hadits.

~4~

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Hadits Maudlu' Kata maudlu adalah isim maful dari yang menurut bahasa berarti ( meletakkan atau menyimpan), ( mengada-ada atau membuat buat) dan ( ditinggalkan). Sedangkan secara terminologis, Hadits Maudlu' didefinisikan sebagai berikut: Hadits yang disandarkan kepada Rasulullah SAW. secara dibuat-buat dan dusta, padahal beliau tidak mengatakan, melakukan atau menetapkannya. Ada juga yang mengatakan bahwa Hadits Maudlu' ialah: Hadits yang diciptakan serta dibuat oleh seorang (pendusta) yang ciptaan itu dibangsakan kepada Rasulullah SAW. secara palsu dan dusta baik hal itu disengaja maupun tidak. Ibnu Al-Shalah, yang kemudian diikuti oleh iman Al-Nawawi mendefisinikan Hadist Maudhu sebegai hadits yang diciptakan dan dibuat-buat. Muhammad Al-Jajja Al-Khatib mendefinisikan Hadist Maudhu dengan: hadits yang dinisbahkan (disandarkan) kepada Rasulullah SAW, yang sifatnya dibuat-buat dan diada-adakan, karena Rasulullah SAW sendiri tidak mengatakannya, memperbuat, maupun menetapkannya. Mahmud Al-Tahan, mendefinisikan sebagai: kebohongan yang diciptakan dan diperbuat serta disandarkan kepada Rasulullah SAW. Al-Shalih, yang menyatakan bahwa Hadist Maudhuadalah suatu berita yang diciptakan oleh para pembohong dan kemudian disandarkan kepada Rasulullah SAW, yang sifatnya mengada-adakan atas nama Beliau. Jadi dengan adanya pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa Hadits Maudlu' bukan Hadits yang bersumber dari Rasulullah SAW. akan tetapi suatu perkataan atau perbuatan seseorang atau dari pihak tertentu yang alasan kemudian dinisbatkan pada Rasulullah SAW.

~5~

2.2. Awal Munculnya Suatu Hadits Maudlu' Para ulama berbeda pendapat tentang kapan mulai terjadinya pemalsuan Hadits. Berikut akan dikemukakan pendapat mereka. 1. Menurut Ahmad Amin bahwa Hadits Maudlu' terjadi sejak masa Rasulullah SAW. masih hidup. Alasan yang dijadikan argumentasi adalah sabda Rasulullah SAW.: Barangsiapa yang secara sengaja berdusta kepadaku maka hendaknya dia mengambil tempat di neraka. Menurutnya dengan dikeluarkannya sabda tersebut, Rasulullah SAW. mengira telah ada pihak-pihak yang ingin berbuat bohong pada dirinya. Oleh karena itu, Hadits tersebut merupakan respon terhadap fenomena yang ada saat itu yang berarti menggambarkan bahwa kemungkinan besar pada zaman Rasulullah SAW. telah terjadi pemalsuan Hadits. Sehingga Rasulullah SAW. mengancam kepada para pihak yang membuat Hadits palsu.

Ahmad Amin juga memaparkan satu Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwasannya suatu waktu Basyir al-Adwy menemui Ibn Abbas kemudian mereka berbincang-bincang dan Basyir berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW. ..... Akan tetapi Ibnu Abbas mengacuhkan hadistnya dan tak memperhatikan apa yang dikatakan.

Dalam hal ini dijelaskan bahwa ketika Basyir ingin menyampaikan sabda Rasulullah SAW., maka ia akan segera ke sana. Dan jika orang tersebut tidak bisa menjangkau kebenaran maka ia tidak akan ada periwayatan kecuali memang benar-benar sudah tahu. Ahmad Amin juga memaparkan bahwa semenjak Islam mulai meluas ke berbagai daerah dan berbondong-bondong masuk Islam maka sebenarnya dari situlah potensi melakukan pemalsuan Hadits.

2. Shalhah ad-Din ad-Dabi mengatakan bahwa pemalsuan Hadits berkenaan dengan masalah keduniawian telah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Alasannya adalah Hadits at-Tahawi dan at-Tabrani, dalam kedua Hadits tersebut dinyatakan bahwa pada masa Nabi ada seseorang telah membuat berita bohong dengan mengatasnamakan Nabi. Ia mengaku telah diberi wewenang oleh Nabi
~6~

untuk menyelesaikan suatu masalah yang terjadi pada suatu kelompok masyarakat di sekitar Madinah. Kemudian dia melamar seorang gadis di daerah tersebut. Tetapi lamaran itu ditolak. Utusan dari masyarakat tersebut memberitahukan berita utusan yang dimaksud kepada Nabi. Ternyata Nabi tidak pernah menyuruh orang tersebut dan beliau lalu menyuruh sahabatnya untuk membunuh orang yang bohong seraya berpesan: Apabila ternyata orang yang bersangkutan telah meninggal dunia, maka jasadnya harus dibakar. Hadits ini banyak yang diriwayatkan at-Tahawi (at-Tabrani) memiliki sanad yang lemah (dha'if), karena itu kedua riwayat tersebut tidak dapat dijadikan dalil.

3. Menurut Jumhur al-Muhadditsin. Pemalsuan terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Menurut mereka, hadits-Hadits yang ada sejak zaman Nabi hingga sebelum terjadinya pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu'awiyah bin Abi Sufyan masih terhindar dari pemalsuan. Dengan demikian, jelaslah bahwa pada zaman Nabi, tidak mungkin ada pemalsuan Hadits. Demikian pula pada masa kekhalifahan Abu Bakar ashShiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan. Hal ini dapat dibuktikan dari kegigihan, kehati-hatian, dan kewaspadaan mereka terhadap Hadits.

Pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib mulai terjadi pemalsuan. Pada masa tersebut telah terjadi perpecahan politik antara golongan Ali dan pendukung Mu'awiyah. Upaya ishlah dan tahkim tidak mampu meredam pertentangan mereka. Bahkan semakin menambah ruwetnya masalah dengan keluarganya sebagai pengikut Ali (Khawarij) dan membentuk kelompok sendiri. Golongan yang terakhir ini kemudian tidak hanya memusuhi Ali tetapi juga Mu'awiyah.

Masing-masing golongan, selain berusaha mengalahkan lawannya, juga berupaya mempengaruhi orang-orang yang tidak berada dalam perpecahan. Salah satu cara yang mereka tempuh ialah dengan membuat Hadits palsu. Dalam sejarah dikatakan bahwa yang pertama-tama membuat Hadits palsu adalah golongan Syi'ah.

2.3. Faktor-faktor yang melatarbelakangi


~7~

Pemalsuan Hadits tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam, akan tetapi juga oleh orang-orang non Islam yang berusaha mencemarkan Hadits sebagai sumber ajaran Islam. Dari kalangan Islam sendiri, menurut para ulama, yang mula-mula membuat Hadits semacam ini ialah golongan Syi'ah. Kegiatan yang pengaruhnya sangat jelas pada banyaknya hadits-Hadits ini untuk kepentingan mereka, serta bermunculannya hadits-Hadits palsu yang lainnya dari pihak lawannya.

Adapun beberapa motif pendorong bagi mereka untuk pembuatan Hadits palsu antara lain : a. Pertentangan politik Perpecahan umat Islam yang diakibatkan politik yang terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib besar sekali pengaruhnya terhadap perpecahan umat ke dalam beberapa golongan dan kemunculan Hadits-Hadits palsu. Masingmasing golongan berusaha mengalahkan lawan dan mempengaruhi orang-orang dengan membawa-bawa Al-Quran dan al-Hadits.

Konflik-konflik politik telah menyeret permasalahan agama masuk kedalamnya dan membawa pengaruh juga pada madzhab-madzhab keaamaan. Karena persaingan untuk menonjolkan kelompok mereka masing-masing, maka ketika mencari dalil dalam Al-Quran dan as-Sunnah tidak ada, mereka membuat pernyataan-pernyataan yang disandarkan pada Nabi SAW. Dari sinilah Hadits palsu berkembang. Materi Hadits pertama tentang keunggulan seseorang dan kelompoknya. Menurut Ibnu Abi al-Haddad dalam Syarah Nahi al-Balaghah, sebagaimana dikutip Mustafa al-Siba'i yang pertama membuat adalah kelompok Ibn alMubarak mengatakan:


Agama untuk ahli Hadits, percakapan dan menghayal untuk ahli rayi dan kebohongan itu untuk golongan Rafidah. Hammad bin Salamah pernah meriwayatkan bahwa ada seorang Rafidah berkata: Sekiranya kita pandang baik maka kita jadikan Hadits. Imam Syafi'i juga

~8~

pernah berkata: Bahwa ia tidak melihat pemuas hawa nafsu yang melebihi sekte Rafidah dalam membuat Hadits palsu. Contoh Hadits palsu golongan Syi'ah antara lain:


Wahai Ali sesungguhnya Allah SWT. mengampunimu, keturunanmu, kedua orang tuamu, keluargamu, golongan Syi'ahmu dan orang-orang yang mencintai golongan Syi'ahmu. Golongan Mu'awiyah juga membuat: Tiga golongan yang dapat dipercaya yaitu saya (Rasul), Jibril dan Mu'awiyah. Kamu termasuk golonganku dan aku bagianmu. Sedang golongan Khawarij menurut sejarah tidak pernah membuat Hadits palsu.

b. Usaha kaum Zindik Kaum Zindik adalah golongan yang membenci Islam baik sebagai agama ataupun dasar pemerintahan. Mereka tidak dapat melampiaskan kebenciannya melalui pemalsuan Al-Quran akan tetapi melalui pemalsuan Hadits.

Abd al-Karim ibn Aur di hukum mati oleh muahmmad bin Sulaiman bin Ali karena ia telah membuat Hadits palsu sebanyak 4.000 Hadits. Seorang Zindik mengaku, ia juga membuat ratusan ribu Hadits palsu. Hadits yang dibuat kaum Zindik kata Hammad, berjumlah 12.000 Hadits. Contoh Hadits yang dibuat kaum Zindik:


Melihat wajah cantik termasuk ibadah. c. Fanatik terhadap bangsa, suku, bahasa, negeri dan pimpinan Mereka membuah Hadits palsu karena didorong oleh skap ego dan fanatik buta serta ingin menonjolkan seseorang, bangsa, kelompok atau yang lain. Golongan al-Syuubiyah yang fanatik terhadap bahasa Persi mengatakan:

~9~


Apabila Allah murka, maka Dia menurunkan wahyu dengan bahasa Arab, apabila senang maka akan menurunkannya dengan bahasa Persi, Sebaliknya, orang Arab yang fanatik terhadap bahasanya mengatakan: Apabila Allah murka, menurunkan wahyu dengan bahasa Persi dan apabila senang menurunkan dengan bahasa Arab. Golongan yang fanatik kepada madzhab Abu Hanifah pernah membuat Hadits palsu.


Di kemudian hari akan ada seseorang umatku yang bernama Abu Hanifah bin Numan. Ia ibarat obor bagi umatku. Demikian pula golongan yang fanatik menentang Imam Syafi'i membuat Hadits palsu. Seperti Di kemudian hari akan ada seseorang umatku yang bernama Muhammad bin Idris. Ia akan lebih menimbulkan madharat kepada umatku daripada iblis.

d. Mempengaruhi kaum awam dengan kisah dan nasihat Mereka melakukan pemalsuan hadits ini guna memperoleh simpatik dari pendengarnya dan agar mereka kagum melihat kemampuannya. Hadits yang mereka katakan terlalu berlebih-lebihan dan tidak masuk akal. Sebagai contoh dapat dilihat pada berikut:


Barangsiapa yang mengucapkan kalimat Allah akan menciptakan seekor burung (sebagai balasan dari tiap-tiap kalimat) yang paruhnya terdiri dari emas dan bulunya dari marjan. Imam al-Suyuti mengatakan: Salah seorang pawang yang berkediaman di Baghdad menafsirkan firman Allah SWT.:

) 17 / 71 : (
Dengan arti: Nabi duduk bersanding dengan Allah di atas Arasy-Nya. Riwayat ini sampai kepada Muhammad bin Jarir al-Thabary dan beliau menjadi marah karenanya. Untuk menunjukkan kemarahannya beliau menulis pada pintu rumahnya. Maha suci Allah tidak memerlukan teman yang baik dan tidak pula seorang pun yang duduk menemaninya di Arsy-Nya.
~ 10 ~

Ayub al-Ikhtiyar memberikan komentar terhadap akibat dari pengaruh para tukang cerita dalam merusak Hadits:


Tiada sejelek-jeleknya pembicaraan kecuali (yang berasal) dari tukang cerita. e. Perselisihan madzhab dan ilmu kalam Munculnya hadits-Hadits palsu dalam masalah fiqih dan ilmu kalam ini berasal dari para pengikut madzhab. Mereka berani melakukan pemalsuan Hadits didorong sifat fanatik dan ingin menguatkan madzhabnya masing-masing.

Di antara hadits-hadits palsu tentang masalah ini adalah: Siapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat maka shalatnya tidak sah. Jibril menjadi imamku dalam shalat di Ka'bah. Ia (Jibril) membaca basmalah dengan nyaring. Yang junub wajib berkumur dengan menghisap air tiga kali Semua yang ada di bumi dan langit serta di antara keduanya adalah makhluk, kecuali Allah dan Al-Quran. Barangsiapa yang mengatakan Al-Quran itu makhluk maka niscaya ia kufur kepada Allah yang Maha Agung dan saat itu pula jatuhlah talak kepada isterinya.

f. Membangkitkan gairah beribadah, tanpa mengerti apa yang dilakukan Banyak di antara kaum ulama yang membuat Hadits palsu dari dan bahkan mengira usahanya itu benar dan merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah, serta menjunjung tinggi agama-Nya. Mereka menyatakan: Kami berdosa semata-mata untuk menjunjung tinggi nama Rasulullah dan bukan sebaliknya. Seperti membaca surat-surat tertentu dalam Al-Quran, tentang keutamaan wirid dengan maksud memperluas kalbu manusia, dan lain-lain. g. Mempertahankan madzhab dalam masalah khilafiyah fiqhiyah dan kalamiyah. Mereka yang menganggap tidak syah shalat dengan mengangkat tangan dikala shalat, membuat hadits palsu:


Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat maka tidaklah sah shalatnya
~ 11 ~

h. Menjilat penguasa Ghiyar bin Ibrahim merupakan tokoh yang banyak ditulis dalam kitab Hadits sebagai pemalsu Hadits tentang perlombaan. Matan asli sabda Rasulullah berbunyi:


Kemudian Ghiyar menambah kata dalam akhir Hadits tersebut dengan maksud agar diberi hadiah oleh khalifah al-Mahdi. Lalu khalifah memberikan hadiah 10.000 dirham namun Qiyas hendak pergi, al-Mahdi menegur Aku yakin itu semua sebenarnya merupakan dusta atas nama Rasulullah SAW. Beberapa motif pembuatan Hadits palsu di atas dapat dikelompokkan menjadi: Ada yang sengaja Ada yang tidak sengaja merusak agama Ada yang karena merasa yakin bahwa membuat Hadits palsu diperbolehkan Ada yang karena tidak tahu gila dirinya membuat Hadits palsu. Tujuan mereka membuat hadits palsu ada yang positif dan ada juga yang negatif. Apapun alasannya ditegaskan bahwa membuat Hadits Maudlu' merupakan tercela dan menyesatkan, dengan sabda Rasulullah:


Dan masih banyak lagi motiv-motiv seseorang membuat hadits palsu, diantaranya dengan motiv untuk mencari muka dihadapan penguasa, dan karena memang kejahilan seseorang didalam ilmu agama.

2.4. Kriteria Kepalsuan Suatu Hadits Sebagaimana para ulama menciptakan kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan untuk mengetahui sahih, hasan atau dha'ifnya suatu Hadits, mereka juga menentukan ciri-ciri untuk mengetahui kemaudluan suatu Hadits. Ditentukan ciri-cirinya terdapat pada matan dan sanadnya antara lain sebagai berikut: A. Ciri yang ada pada sanad 1) Pengakuan dari si pembuat sendiri, sebagai pengakuan seorang guru tasawuf ketika ditanya keutamaan ayat Al-Quran menjawab:


~ 12 ~

Tidak ada seorang pun yang meriwayatkan Hadits padaku, akan tetapi serentak kami melihat manusia-manusia sama membenci Al-Quran. Kami ciptakan untuk mereka Hadits ini (tentang keutamaan ayat-ayat Al-Quran), agar mereka menaruh perhatian untuk mencintai Al-Quran. Pengakuan seorang rawi menurut Ibnu Daqiqi belum dapat dipastikan memaudlu-kan suatu Hadits, karena mungkin sekali si rawi itu bohong dalam pengakuannya. 2) Qarinah-qarinah yang memperkuat adanya pengakuan membuat Hadits Maudlu' Seperti yang dilakukan Qiyas bin Ibrahim kepada al-Mahdi:


Tidak sah perlombaan selain: mengadu anak panah, mengadu unta dan mengadu kuda atau burung. Ia menambah burung untuk membenarkan tindakan al-Mahdy yang pada saat itu mengadu burung.

B. Ciri yang ada pada matan 1) Dari segi makna, antara lain bertentangan dengan Al-Quran, Hadits mutawattir, dan ijma' dan dengan logika yang sehat. Contoh yang bertentangan dengan Al-Quran:


Anak zina itu tidak dapat masuk surga sampai tujuh keturunan. Makna Hadits ini bertentangan dengan Al-Quran surat al-Anam: 164:


Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Contoh yang bertentangan dengan Hadits Mutawattir: Bahwa setiap orang dinamakan dengan nama-nama (Muhammad, Ahmad atau semisalnya) ini tidak akan masuk neraka. Hadits tersebut bertentangan dengan sunnah-Sunnah Rasulullah SAW. yang menerangkan bahwa neraka itu tidak dapat ditembus dengan nama-nama tersebut akan tetapi keselamatan dari neraka karena keimanan dan amal saleh.

( )

~ 13 ~

Contoh yang bertentangan dengan ijma': Bahwa Rasulullah tidak menetapkan (menunjuk) seorang penggati sesudah beliau meninggal dunia.

2) Dari segi lafadz yang berlebih-lebihan. Contohnya:


Sesuap makanan di perut si lapar adalah lebih baik daripada membangun seribu masjid jami. C. Dari sumber yang diriwayatkannya Para pembuat Hadits Maudlu' dalam menjalankan tugas-tugasnya, kadang-kadang mengambil dari pikiran sendiri semata-mata dan kadang-kadang menukil dari perkataan orang-orang yang dipandang alim pada waktu itu atau perkataan orang alim mutaqaddimin. Misalnya Hadits Maudlu' yang dinukil dari perkataan orangorang mutaqaddimin: Cinta keduniaan ialah modal kesalahan.

Perkataan ini sesungguhnya adalah perkataan Malik bin Dinar. Tetapi oleh pembuatan Hadits Maudlu' dibangsakan (didakwakan) kepada sabda Nabi Muhammad SAW. 2.5. Kumpulan contoh Hadits Maudlu' dan sebabnya


Cinta keduniaan ialah modal kesalahan. Keterangan : Perkatan ini, orang kataan sebagai hadits Nabi padahal sebenarnya ucapan Junaid. Sesungguhnya bulan pernah masuk dalam saku baju Nabi SAW. dan keluar dari tangan bajunya. Keterangan: Tidak termasuk sabda Nabi

~ 14 ~

Sering dipakai tukang cerita untuk menceritakan perjalanan mauled Nabi, dengan maksud orang tertarik mendengar ceritanya. Perasaan atau keyakinan kata mesti mendustakan isinya karena dapat masuk dalam saku baju yang tidak beda dengan saku dan keluar dari lubang tangan yang besar sudah kita maklumi. Bumi terletak antara sebuah batu yang besar dan batu besar terletak atas tanduk seekor sapi; maka apabila sapi itu menggerakkan tanduknya, bergoyanglah pula batu besar itu. Keterangan: Bukan hadits Nabi Menurut pemeriksaan ahli alam, bahwa bumi kita ini, di sebelah luarnya diliputi oleh semacam udara. Udara itulah yang menahan bumi dari sekalian penjurunya. Selain dari itu tidak ada yang lain lagi isi hadits tersebut bertentangan dengan penyaksian ilmu. Dari kata-kata apabila batu itu bergerak maka bergeraklah semua, dengan kata lain hancur juga, tidak terjadi karena apabila bumi ini gempa pada satu sisinya maka tidak akan di lain tempat akan ikut gempa.

Hadits yang menyatakan bahwa umur dunia ini 7.000 tahun dan .....


Keterangan: Hadits itu memberi arti bahwa Nabi dan juga kita, berarti diketahui waktu hari kiamat. Hal ini bertentangan dengan Al-Quran surat al-Araf 187:

)( terjadinya?" Katakanlah: Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah


"Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku."

2.6. Usaha para ulama memberantas sebuah hadits 1) Mengisnadkan hadits Meminta sanad kepada mereka yang menyampaikan hadits dan akhirnya menetapkan sanad suatu hadits. Sebab sanad bagi hadits bagaikan nasab bagi seseorang. Setelah itu diteliti sanadnya kalau terdiri dari ahli Sunnah diambil jika ahli bidah ditolak. 2) Meningkatkan perlawatan mencari hadits
~ 15 ~

Dengan cara meningkatkan perlawatan mencari hadits dari suatu kota ke kota untuk menemui sahabat yang meriwayatkan hadits. Jika di dengar ada hadits dari selain sahabat mereka mencari sahabat Rasulullah SAW. untuk

memperkuatkannya. 3) Mengambil tindakan kepada para pemalsu hadits Mereka menupas para pemalsu dan melarang mereka meriwayatkan hadits dan menyerahkan pada penguasa. 4) Menjelaskan tingkah laku perawi Dengan cara demikian perawi-perawi dijelaskan biografinya, tingkah laku, kelahiran, kematian, keadilan dan daya ingatnya. 5) Membuat ketentuan-ketentuan umum tentang klasifikasi hadits Membuat ketentuan dan syarat-syarat bagi hadits shahih, hasan dan dha'if. 6) Membuat ketentuan-ketentuan untuk mengetahui ciri-ciri Hadits Maudlu Mereka membuat ketentuan mengenai tanda-tanda Hadits Maudlu baik ciri yang ada pada sanad maupun matan. 2.7. Hukum Meriwayatkan Hadits Maudhu 1. Secara mutlak, ulama sepakat bahwa meriwayatkan hadits Maudhu itu hukumnya haram bagi mereka yang sudah jelas mengetahui bahwa hadits itu palsu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW, Barang siapa yang menceritakan hadits dariku sedangkan ia mengetahui bahwa itu dusta, maka dia termasuk para pendusta. 2. Bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan memberi tahu kepada orang bahwa hadits ini adalah palsu (menerangkan kepada mereka sesudah meriwayatkan atau membacanya) maka tidak ada dosa atasnya. 3. Mereka tidak tahu sama sekali kemudian meriwayatkan atau mereka mengamalkan makna hadits tersebut karena tidak tahu, maka tidak ada dosa atasnya. Kesalahan Sebagian Ahli Tafsir Dalam Menyebutkan Hadits MaudhuSebagian ulama tafsir melakukan kesalahan dengan menyebutkan Hadits Maudhudalam tafsir mereka tanpa menjelaskan kepalsuannya, khususnya riwayat tentang fadhilah Al-Quran surat per surat diantara mereka adalah As-IsaLabi, AlWahidi, Az-Zamakhsyari, dan Al-Badhawi.

~ 16 ~

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1. Hadits Maudhu sebenarnya tidak layak disebut sebagai hadits, karena ia sudah jelas bukan sebuah hadits yang bisa disandarkan pada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwasanya meriwayatkan Hadits-Hadits Maudhu itu hukumnya haram bagi mereka yang sudah jelas mengetahui bahwa hadits itu palsu, kecuali disertai dengan penjelasan dan kemaudhuannya. 2. Hadits Maudhu baru muncul dan berkembang ketika Ali menjabat sebagai khalifah. 3. Pemalsuan hadits ternyata tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang non Islam. 4. Hadits Maudhu dapat diketahui melalui beberapa kriteria, baik dari tanda-tanda yang diperoleh pada sanad maupun dari tanda-tanda yang diperoleh pada matan. 5. Untuk menyelamatkan hadits Nabi Muhammad SAW ditengah-tengah gencarnya pembuatan Hadits Maudhu, para ulama hadits telah merumuskan langkahlangkah yang dapat mengantisipasi masalah Hadits Maudhu ini.

~ 17 ~

DAFTAR PUSTAKA

Ramuwijaya, Untung, 1996, Ilmu Hadis, Gaya Media Pratama, Jakarta. Mudasir, 2008, Ilmu Hadist, Pustaka Setia, Bandung. Suprapto, Munzier, 2002, Ilmu Hadist, PT. Raja Grafindo, Jakarta. Rahman, Fatchur, 1974, Ikhtisar Mustholahul Hadis, PT. Almarif, Bandung. Hasan, Qodhi, 1996, Ilmu Mustholah Hadist, CV. Diponegoro, Bandung.

~ 18 ~