Anda di halaman 1dari 10

TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT ISLAM

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Studi Filsafat Islam

Disusun Oleh : Marsudi Wahyudi Wahdaniya Lailatul Masna

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH

AL IBROHIMY
TANJUNGBUMI BANGKALAN 2012

PENGANTAR Pemikiran pemikiran filsafat Yunani yang masuk dalam kancah pemikiran Islam lewat terjemahan, diakui oleh banyak kalangan telah mendorong perkembangan filsafat islam menjadi makin pesat. Namun demikian seperti dikatakan Oliver Leaman adalah suatu kesalahan besar jika menganggap bahwa filsafat Islam bermula dari ppenerjemahan texttext yunani tersebut atau hanya nukilan dari filsafat Aristoteles (384-322) seperi dituduhkan oleh Renan, atau dari neo-Platonisme seperti dituduhkan Duhem. Pertama bahwa belajar atau berguru tidak berarti meniru atau membebek semata. Mesti dipahami bahwa kebudayaan Islam menembus berbagai macam gelombang dimana ia bergumul dan berintraksi. Pergumulan dan intraksi ini melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Jika kebudayaan Islam tersebut terpengaruh oleh kebudayaan Yunani, mengapa tidak terpengaruh oleh peradapan India dan Persia misalnya ? Artinya transformasi dan peminjaman beberapa pemikiran tidak harus mengkonsuesikan perbudakan dan penjiplakan. Kedua kenyataan yang ada menunjukkan bahwa pemikiran rasional telah dahulu mapan dalam masyarakat muslim sebelum kedatanga filsafat yunani lewat terjamahan. Mesk karya-karya Yunani telah mulai diterjemahkan pada kekuasaan Bani Umayyah,tetapi buku-bku filsafatnya yang kemudian melahirkan flosof muslim pertama Al-Kindy (801-873 M) baru mulai digarap secara serius pada masa dinasti Abbasiyah. Pada masa-masa ini system berpikir rasional telah berkembang pesat dalam masyarakat intelektual Arab-Islam. Semua itu menunjukkan bahwa sebelum dikenal adanya logika dan filsafat Yunani telah ada model pemikiran filosofis yang berjalan baik dalam masyarakat Islam yakni dalam soal teologis dan kajian hukum. Bahkan, pemikiran rasional dari teologi dan hukum inilah yang telah berjasa menyiapkan landasan bagi diterima dan berkembangnya logika dan filsafat Yunani dalam Islam.

IKHWAN AL-SHAFA
A.

Latar Belakang Dan Keanggotaan Ikhwan al-shafa( persaudaraan suci ) adalah nama sekelompok pemikir islam yang bergerak secara rahasia dari sekte syiah ismailiyah yang lahir pada abad ke 4 H (10 M) di basrah. Kerahasiaan kelompok ini yang juga menamakan dirinya khulan alwafa, ahl al-adl, dan abnaal-hamd. boleh jadi karena tendensi politis, dan baru terungkap setelah berkuasanya dinasti buwaihi di Baghdad pada tahun 983 M. ada kemungkinan kerahasiaan organisasi ini dipengaruhi oleh paham taqiyah, karena basis kegiatannya berada di tengah masyarakat mayoritas sunni. Boleh jadi juga, kerahasiaan ini karena mereka mendukung faham mutazilah yang telah dihapuskan oleh khalifah abbasiyah, al-mutawakkil, sebagai madzhab Negara. Cabang-cabang ikhwan al-shafa berdiri di kota baghdad. Tidak lama kemudian, cabang - cabangnya tumbuh juga disebagian negeri. Yang tidak tahu pasti tahun berdirinya, bisa saja kelompok ini tumbuh sebelumya.1 Para ahli sejarah hanya mengetahui lima nama diantara anggota kelompok ini, yaitu Zaid bin Rifah, Abu Sulaiman Muhammad bin Masyar bin Nashr al-basti yang populer dengan sebutan Al-maqdisi, Abu hasan Ali bin Harun Zanjani, Abu Ahmad Mihrajani, dan Abu Hasan Aufi. Al Qafthi berkomentar tentang mereka dengan menukil pendapat dari abu hayyan at-tauhidi, kelompok ini diperkuat perkawanan, saling berbagi atas dasar persahabatan, serta berkumpul atas dasar keluhuran, kesucian dan ketulusan. Selanjutnya, mereka membuat sebuah madzhab dengan beranggapan bahwa mereka dapat menempuh jalan menuju ridha Allah. Mereka berpendapat bahwa syariat telah dikotori oleh bermacam kebodohan dan berbaur dengan berbagai kesesatan, serta tidak ada cara untuk membersihkannya, kecuali dengan filsafat. Sebab filsafat mengandung sebuah hikmah keyakinan dan maslahat ijtihadiyyah. Mereka beranggapan bahwa filsafat yunani dan syariat arab bersatu, maka kesempurnaan akan terjadi. Mereka menyusun lima risalah di seluruh bidang filsafat, baik yang bersifat teoritis maupun praktis. Mereka membuatkan daftar khusus untuknya dan menamakannya dengan rasail ikhwan ash-shafa. Mereka menyembunyikan nama dan menyebarkannya melalui para penjual kertas buku serta memberikannya kepada orang-orang2 Dalam upaya memperluas gerakan, ikhwan al-shafa mengirimkan orang-

Umar farwakh, ikhwan al-shaffa , cet. III, Beirut: dar al-kitab al-lubnani, 1981, h.18; abdul latif muhmmad al-abd, al-insan fi Fikr alikhwan as-shafa, kairo: maktabah al-anjilu al-mishriyah, 1976, h. 24. 2 Jamaluddin al-qafthi, h. 59. sebenarnyaa merek menyusun sebanyak 52 buku yang sebagimana yang akan kami jelaskan pada pembahasan selanjutnya

orangnya ke kota-kota tertentu untuk membentuk cabang-cabang dan mengajak siapa saja yang berminat kepada keilmuan dan kebenaran, terutama dari orang-orang yang masih muda, yang masih segar dan cukup berhasrat agar mudah di bentuk. Walaupun demikian militansi anggota dan kerahasiaan organisasi tetap mereka jaga. Calon-calon anggota perhimpunan ini dituntut keras untuk berpegang teguh satu sama lain dalam menghadapi segala bahaya, membantu dan menopang satu sama lain dan menjaga diri agar tidak bersahabat dengan persaudaraan yang tercela. Oleh karena itu, ada empat tingkatan anggota, yaitu :
1)

Tingkat I, terdiri dari pemuda cekatan berusia 15-30 tahun yang memiliki jiwa yang

suci dan pikirn yang kuat. Mereka ini berstatus murid, maka wajib patuh dan tunduk secara sempurna kepada guru.
2)

Tingkat II, adalah al- ikhwan al-akhyar berusia 30-40 tahun, pada tingkat ini sudah Tingkat mampu III, memelihara al-ikhwan persaudaraan, al-fudhala pemurah, al-kiram kasih sayang dan siap berusia 40-50 tahun,

mereka
3)

berkorban demi persaudaraan. adalah Merupakan tingkat dewasa. Mereka sudah mengetahui namus al-ilahi sebagai tingkat para nabi.
4)

Tingkat IV, adalah tingkat tertinggi setelah seseorang mencapai usia 50 tahun ke

atas. Mereka pada tingkatan ini sudah mampu memahami hakikat Sesuatu, seperti halnya malaikat al-muqarrabun, sehingga mereka sudah berada diatas alam realitas, syariat, dn wahyu3 Pertemuan dan pengajaran yang bersifat rahasia menimbulkan suatu kecurigaan bahwa menyimpan target politik tidak jelas. Tapi mereka menolak kecurigan itu dan mereka mengaku bhwa target mereka adalah mencerdaskan dan memberi petunjuk kepada setiap orang agar mereka memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat. Mereka berusaha melakukan kompromi antara filsafat yunani dan syariat islam. Hal itu juga menjadi perhatian Al-farabi, ibnu sina, dan ibnu rusyd dengan alasan bahwa filsafat yunani dan syariat islam sama-sama merupakan satu kebenaran. Hanya saja ikhwan al-shafa tidak mengmbil islam sebagaimana yang terdapat di dalam al-quran dan sunnah Nabi, tetapi mereka mencampurkannya dengan berbagai sekte, agama, kepercayaan, dengan anggapan bahwa madzhab mereka mencakup semua madzhab. Akidah Ikhwan al-Shafa menimbulkan keraguan. Berbagai isyarat dan simbol yang mereka gunakan dalam surat-surat merupakan biang tuduhan sesat dari kaum
3

Ahmad amin, zuhr al-islam, juz II (Beirut: Dar al-kitab al-arabi, 1969), hlm. 147.

muslimin terhadap mereka. Dari pendapat-pendapat mereka, tersirat bahwa mereka mengedepankan filsafat atas syariat. Mereka memandang bahwa agama sejati adalah persahabatan yang tulus, pergaulan yang baik, penguasaan ilmu, pendidikan jiwa, dan proses mengikuti awal. Tujuan utama mereka adalah pelurusan jiwa dan perbaikan akhlak.
B.

Karya-Karya Ikhwan al-Shafa Pertemuan-pertemuan yang dilakukan sekali dalam 12 hari di rumah zaid ibn rifah (ketua) secara sembunyi-sembunyi tanpa menimbulkan kecurigaan telah menghasilkan 52 risalah (jumlah hasil tersebut adalah 50 risalah dengan satu ringkasan dan satu lagi ringkasan dari ringkasan), kemudian mereka menamakan karya tersebut dengan rasail ikhwan al-shafa. rasail ini merupakan ensiklopedi populer tentang ilmu dan filsafat yang ada pada waktu itu. Ditilik dari segi isi, rasail tersebut dapat diklasifikasikan kepada empat bidang yaitu:

a)

14 risalah tentang matematika, yang mencakup geometri, astronomi, musik, 17 risalah tentang fisika dn ilmu alam, meliputi geneologi, minerologi, botani,

geografi, teori dan praktek seni, moral dan logika.


b)

hidup dan matinya alam, senang dan sakitnya alam, keterbatasan manusia, dan kemampuan kesadaran.
c)

10 risalah tentang ilmu jiwa, meliputi metafisika madzhab pytagoreanisme dan 11 risalah tentang ilmu-ilmu kehutanan, mencakup kepercayaan dan keyakinan,

kebangkitan alam.
d)

hubungan alam dengan tuhan, keyakinan ikhwan al-shafa, kenabian dan keadaannya, tindakan rohani, bentuk konstitusi politik, kekuasaan tuhan, magic dan jimat. Ringkasan ilmu-ilmu filsafat ini, diibaratkan oleh orang-oarng arab pad abad ke- X dengan sebuah kebun mewah, dan pemiliknya seorang bijak dan pemurah, bahkan meminta setiap orang yang lewat untuk singgah sebentar dan menikmati buah-buahan dan naungan hijau di kebun tersebut. Tetapi, sebagian kecil saja yang benar-benar mengambil keuntungan dari kesempatan ini, karena keraguan dan kebodohan mereka. Agar hilang rasa ragu mereka, pemilik kebun itu memperlihatkan contoh-contoh dari buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan tersebut, dan dengan begitu, terpikatlah orangorang yang lewat didekatnya untuk memasuki dan berbagai kesenangan yang ada di dalamnya.

C.

Lapangan Filsafat al Shafa Bagi golongan ikhwan al-shafa, filsafat itu bertingkat-tingkat. Pertama-tama cinta kepada ilmu; kemudian mengetahui hakikat wujud-wujud menurut kesanggupan manusia dan yang terakhir ialah berkata dan berbuat sesuai dengan ilmu. Mengenai lapangan filasafat, maka dikatakannya ada empat yaitu: matematika, logika, fisika dan ilmu ketuhanan. Ilmu ketuhanan mempunyai bagian-bagian yaitu:

1. 2. 3.

mengetahui tuhan; ilmu kerohanian, yaitu malaikat-malaikat tuhan; ilmu kejiwaan yaitu, mengetahui roh-roh dan jiwa-jiwa yang ada pada bendailmu politik yang mencakup politik kenabian, politik pemerintahan, politik umum ilmu keakhiratan, yaitu mengetahui hakikat kehidupan di hari kemudian; Dari pembagian tersebut kita bisa melihat bahwa golongan ikhwan al-shafa tidak membagi filsafat amalan, melainkan bagian amalan ini keseluruhannya dimasukkan dalam bagian ketuhanan. Mereka juga memasukkan bagian-bagian baru dalam filsafat yaitu politik kenabian dan ilmu keakhiratan..

benda langit dan benda-benda alam;


4.

(politik kekotaan), politik khusus (politik runah tangga), politik pribadi (akhlak);
5.

D. a)

Filsafat al-Shafa Talfiq Ikhwan al-shafa berusaha memadukan atau rekonsiliasi (talfiq) agama dengan filsafat dan juga a n t a r a agama-agama yang ada. Usaha ini terlihat dari ungkapan mereka bahwa syariat telah dikotori bermacam-macam kejahilan dan dilumuri berbagai kesesatan. Satu-satunya jalan membersihkannya adalah filsafat. Kemudian mereka mengklaim bahwa apabila dipertemukan antara filsafat yunani dan syariat arab, maka akan menghsilkan kesempurnaan. Tampaknya ikhwan al-shafa menempatkan filsafat diatas agama. Mereka mengharuskan filsafat menjadi landasan agama yang dipadukan dengan ilmu. kesimpulan ini didukung dengan pendapat mereka dalam bidang agama. Menurut mereka ungkapan al-quran yang berkonotasi inderawi dimaksudkan agar cocok dengan t i n g k a t a n orang arab badui yang berkebudayaan bersahaja. Sedangkan bagi yang memiliki pengetahuan yang lebih tinggi mereka harus memakai takwil untuk melepaskan diri dari pengertian lafdhi dan inderawi. Untuk itulah ikhwan berusaha dengan gigih memadukan filsafat dengan agama dengan menurunkan

metafisika dan ilmu pengetahuan dari puncak spekulatif murni yang tidak dapat dijangkau secara aktif praktis. Dengan demikian harus dimunculkan satu tingkat kepercayaan yang telah ada, tingkat yang cocok bagi orang-orang pilihan dan tingkat yang cocok bagi orang kebanyakan yaitu tingkatan kepercayaan yang cocok bagi keduanya (orang- orang pilihan dan awam), yang berakar pada akal , ditopang oleh kitab suci dan dapat diterima oleh semua kelompok pencari kebenaran. Sebenarnya pendapat mereka mempergunakan takwil dalam memahami ayat- ayat ya n g musytabihat merupakan pendapat yang sama dikalangan para filsuf. Menurut filsuf agama adalah tepat melambangkan secara inderawi (amtsal wa rumuz) agar mudah dipahami oleh kaum awam yang merupakan bagian terbesar umat manusia. Jika tidak demikian, tentu banyak ajaran agama yang mereka tolak karena mereka tidak memahami isinya. Sebaliknya kaum filsuf harus mengambil makna metaforis terhadap teks al-quran yang bernada antropomorphisme. Jika tidak, tentu banyak pula ajaran agama yang mereka tolak karena tidak masuk akal. Dengan cara seperti ini, para filsuf menempatkan nabi sebagai pendusta untuk kepentingan manusia (al-kidzb li mashlahah al-nas)4 Usaha talfiq pemikiran-pemikiran persia, yunani, india dan semua agama, serta menempatkan nabi-nabinya, Nuh, Ibrahim, Socrates, Plato, Zoroaster, Isa, Muhammad dan Ali, adalah keinginan ideal yang tidak pernah ada dalam realitas. Bagaimana mungkin menyatukan sifat manusia yang heterogen secara utuh dan penuh kesadaran, kalaupun hal ini mungkin diwujudkan, tentu menghadapi pemaksaan, dan tidak akan bertahan lama. (ingat halnya Negara komunisme di rusia).
b)

Metafisika Adapun tentang ketuhanan, ikhwan al-shafa melandasi pemikirannya kepada bilangan. Menurut mereka, ilmu bilangan adalah lidah yang mempercakapkan tentang tauhid, al -tanzih dan meniadakan sifat dan tasybih, serta dapat menolak sikap orang yang mengingkari keesaan tuhan. Dengan kata lain, pengetahuan tentang angka membawa kepada pengakuan tentang keesaan tuhan, karena apabila angka satu rusak, maka rusaklah semuanya. Dengan bilangan dapat terbukti bahwa yang esa (tuhan) lebih dahulu daripada yang lainnya seperti dahulunya angka satu daripada angka yang lainnya. Ikhwan al-shafa juga melakukan al-tanzih, meniadakan sifat dan tasybih kepada tuhan. Tuhan adalah pencipta segala yang ada dengan cara al-faidh (emanasi)

Ibn taimiyah, al-rad ala al-manthiqiyin (maktabah al-mukarramah dar al-bazli wa al-nasyr, tt.), hlm.

dan memberi bentuk, tanpa waktu dan tempat, cukup dengan firmannya kun fa kana maka segala yang dikehendakinya terwujud (ada). Berkaitan dengan penciptaan alam, pemikiran ikhwan al-shafa merupkan perpaduan antara pendapat Aristoteles, Plotinus dan Mutakallimin. Bagi ikhwan alshafa tuhan adalah pencipta dan mutlak esa. Dengan kemauan sendiri tuhan menciptakan akal pertama atau akal aktif (al-aql al-faal) secaara emanasi. Dengan demikian, kalau tuhan qadim dan baqi maka akal pertama pun demikian halnya. Pada akal pertama ini lengkap segala potensi yang akan muncul pada wujud berikutnya. Jadi secara langsung tuhan emanasi itu adalah:

berhubungan

dengan

alam

materi,

sehingga

kemurnian tauhid dapat dipelihara dengan sebaik-baiknya. Lengkapnya rangkaian proses Akal pertama atau akal aktif (al-aql al-faal) Jiwa universal (al-nafs al-kulliyah) Materi pertama (al-hayula al-ula) Potensi jiwa universal (al-thabiah al-failah) Materi absolut atau materi kedua (al-jism al-muthlak) Alam planet-planet (alam alAnasir-anasir alam terendh (anashir al-alam al-sufla), yaitu air, udara tanah,

aflak) dan api Materi gabungan, yang terdiri dari mineral, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Proses penciptaan ini menurut ikhwan al-shafa terbagi dua yaitu: penciptaan sekaligus, sebagaimana terdapat dalam alam rohani, yakni akal aktif, jiwa universal, dan materi pertama. Dan penciptaan gradual, sebagaiman terdapat dalam alam jasmani, yakni jism mutlak dan seterusnya, juga alam semesta yang mempunyai awal dan akan berakhir pada masa tertentu. pemikiran al-shafa inilah yang mengagumkan yakni rentetan emanasi kedelapan karena telah mendahului charles Darwin (18091882 M) tentang rangkaian kejadian di alam secara evolusi. c) Jiwa Tentang jiwa manusia, bersumber dari jiwa universal. Dalam perkembangan jiwa manusia banyak dipengaruhi oleh materi. Agar potensi jiwa itu tidak kecewa dalam perkembngannya maka jiwa dibantu oleh akal. jiwa anak pada mulanya seperti lembaran putih yang tanpa coretan. Lembaran putih tersebut tertulis dengan adanya tanggapan panca indra yang menyalurkan ke otak bagian depan kemudian ke otak tengah lalu disalurkan ke otak belakang. Pada tingkat ini seseorang telah sanggup menyimpan

hal-hal yang abstrak. Tingkatan terakhir adalah daya berbicara, yaitu kemampuan mengungkapkan pikiran dan ingatan melalui tutur kata yang bermakna kepada pendengaran.
d)

Moral Adapun tentang moral, ikhwan al-shafa bersifat rasionalistis. Dalam mencapai tingkat yang dimaksud, seseorang harus melepakan diri dari ketergantungan kepada materi. Harus memupuk rasa cinta untuk bisa sampai pada ekstase. Percaya tanpa usaha , mengetahui tanpa berbuat adalah sia-sia. Kesabaran dan ketabahan, kelembutan dan kehalusan kasih sayang, keadilan, rasa syukur, mengutamakan kebajikan, gemar berkorban demi orang lain kesemuanya harus menjadi karakteristik pribadi. Sebaliknya kemunafikan, kasar, penipuan harus di kikis habis agar timbul rasa cinta yang membara 5

e)

Bilangan Adapun tentang bilangan, ikhwan al-sahfa mengakui nichomocus dan phytaghoras. Tujuan ikhwanal-shafa membicarkan bilangan adalah untuk mendemonstrasikan bagaimana sifat-sifat bilangan itu menjadi prototype bagi sifat- sifat sesuatu, sehingga siapapun yng mendalami bilangan dengan hukumhukumnya, sifat dasarnya, akan memahami mempelajari tuahnnya. kuantitas demikian, mempelajari jenis-jenisnya, spesies-spesies, dan sifat-sifat khususnya macam-macam merupakan benda yang beraneka. tentang Dengan dan bilangan pengantar jiwa,

jiwa merupakan dasar pengetahuan tentang tuhan. Hal itu sesuai

dengan ketentuan siapa yang mengenal dirinya (jiwanya), maka ia akan mengenal

Syed amir ali, the spirit of islam (delhi; idarah-i adabiyat-I Delhi, 1978), hlm.443.

DAFTAR PUSTAKA Dunya Sulaiman. 1955. Tahafutul Falasifah. Kairo: Darul Maarif Fakhry Majid. 2001. Sejarah Filsafat Islam. Bandung: Mizan Hanafi Ahmad. 1990. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang http://Halid.nurislami.com Naiati M Ustman. 2002. Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim. Bandung: Pustaka Hidayah Nasition Harun. 1973. Filsafat dan Misticisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang Soleh A Khudri. 2004. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Umar Farwakh, Ikhwan ash-Shaffa, Cetakan III, Beirut: Dar at-Tab al-Lubnani, 1981. Zaqzaq Mahmud