Anda di halaman 1dari 16

Moderator: Ezka Amalia (09/283366/SP/23675) Anggota aktif: Ananta Aldi Willarda Lucky Dwi A.

Felix Prayogo Ridha Iswardhana Rhesa Ayu Putri Fitra Hayatun Nisa Herlambang Aditya Dewa Albert Christian (09/280579/SP/23217) (09/281999/SP/23363) (10/296826/SP/23880) (10/296979/SP/23903) (10/297099/SP/23925) (10/299087/SP/24053) (10/299538/SP/24163) (10/300868/SP/24249)

Pertanyaan Diskusi: 1. Setelah membaca tentang pemikiran Hugo Grotius, menurut teman-teman apa yang

menarik dari pemikiran tersebut? 2. 3. 4. Apakah perang adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari? Jika Grotius konsisten, mengapa tidak secara terang-terangan menolak perang? Bagaimana relevansi pemikiran Grotius terhadap politik kontemporer saat ini?

Essay Report

Hugo Grotius merupakan salah satu pemikir yang berpengaruh terhadap perkembangan teori politik internasional. Lahir di Belanda, Grotius merupakan seorang diplomat dan negarawan yang ulung. Selain itu, beliau juga merupakan seorang pengacara yang diminta pemerintah Belanda membela negaranya terkait klaim Spayol-Portugal dalam monopoli perdagangan. Sebagai seorang pemikir di abad pertengahan, pemikiran Grotius memberikan alternatif baru dalam melihat hubungan internasional. Selama ini pandangan realisme menyatakan bahwa dalam dunia internasional tidak ada tatanan atau aturan yang mengatur tingkah laku baik individu maupun negara serta setiap tindakan tidak pernah didasari oleh alasan moral. Dunia berciri khas

dengan keadaan yang anarkis, chaos, pencapaian kepentingan masing-masing aktor, adanya ketakutan. Grotius memberikan pandangan yang berbeda dimana semua yang ada di dunia diatur oleh suatu hukum alam atau natural law yang dibuat oleh Tuhan, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh aktor harus mematuhi hukum tersebut dan didasarkan pada moral. Dalam pandangan Grotius, kita tidak lagi menemukan struggle for power, balance of power. Menurut Grotius, perang tidak bisa didasarkan pada alasan ketakutan satu pihak terhadap pihak lain. Ketika melaksanakan perang, harus ada alasan-alasan moral yang logis dan yang utama adalah untuk pencapaian perdamaian. Dengan pandangannya yang menyatakan bahwa semua yang ada di dunia diatur oleh hukum, bagi Grotius perang juga merupakan subyek dari hukum dimana alasan dan pelaksanaan perang harus mematuhi hukum perang atau jus war. Perang menurut Grotius memang tidak bisa dihindari. Hal ini mengingat Grotius hidup di masa ketika perang dapat dikatakan sebagai hal yang lumrah atau sering dijumpai. Namun, Grotius menginginkan setidaknya jika perang tidak dapat dicegah, pelaksanaanya harus mematuhi hukum-hukum yang berlaku yang telah disetujui bersama untuk menghindari efek buruk dari perang dan demi kebaikan bersama. Dari hal ini, muncul pertanyaan mengapa tidak menolak perang secara terang-terangan untuk meminimalisir jatuhnya korban maupun kerugian besar yang ditanggung akibat perang? Grotius tidak menolak perang secara terang-terangan karena sekali lagi menurut Grotius perang merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari. Perang yang sudah lumrah terjadi di zaman Grotius dengan kerugian besar yang ditanggung dilihat oleh Grotius sebagai suatu hal yang dapat diminimalisir efek buruknya. Daripada menolak perang yang sudah tidak dapat dihindari karena merupakan alat kebijakan politik, Grotius berusaha mengatur perang tersebut agar lebih tidak merugikan, lebih beradab dan lebih manusiawi melalui hukum yang saat ini kita kenal sebagai hukum humaniter internasional yang didalamnya memiliki prinsip jus ad bellum dan jus in bello. Dengan adanya hukum, politik internasional akan lebih stabil, lebih manusiawi. Jika kita mengaitkan ataupun memperdebatkannya dengan argumen-argumen dari pemikiran Realisme, maka kita tidak akan menemukan suatu titik temu. Pemikiran Realisme masih melekat erat dalam studi hubungan internasional. Misalnya saja terkait hukum internasional saat ini memang terlihat tidak dipatuhi oleh beberapa negara besar, hanya negara-negara kecil yang dipaksa mematuhi hukum tersebut. Padahal kedudukan setiap negara di dunia ini di mata hukum adalah sama. Tetapi setidaknya pemikiran Grotius terkait hukum mampu membuat kita

menyaksikan dunia politik internasional yang cenderung lebih stabil dan damai dibandingkan di masa lalu.

Notulensi Kolom Diskusi:

Muhadi Sugiono: Diskusikan di sini...

Muhadi Sugiono: Dear all, welcome to the thought of Grotius. We will start the class very soon. The initiator has prepared the material to guide your group in the discussion and will lead the discussion with provoking statements and questions. I wish you all a lively and fruitful discussion. Have fun with e-Class of TPI!

Ezka Amalia: Selamat pagi teman-teman kelompok Kenanga. Kita akan memulai diskusi dalam waktu tiga menit lagi.

Muhammad Ridho Iswardhana: test

Muhammad Ridho Iswardhana: pagi mba :)

Ezka Amalia: Pagi Ridho. Yang lain mana ya??

Muhammad Ridho Iswardhana: ada felix sm adit itu online juga

Felix Prayogo: bentar saya refresh dulu, ada kesalahan teknis sepertinya

Felix Prayogo: mba ezka malah ga ada di kotak online

Muhammad Ridho Iswardhana: dimulai aja mba

Ezka Amalia: iya nih. punyaku juga tidak bisa melihat kalian online..

Herlambang Aditya Dewa: sama lix, punyaku juga gitu

Ezka Amalia: Oke deh kita mulai aja ya.

Ezka Amalia: Dari teman-teman adakah yang mau ditanyakan soal pemikiran Grotius?

resha ayu putri: diskusinya disini bgt nih ???

Ezka Amalia: Iya Resha

Ezka Amalia: Jika tidak, maka pertanyaan dari saya untuk teman-teman adalah setelah membaca pemikiran Grotius, menurut teman-teman apa yang menarik dari pemikiran beliau?

Felix Prayogo: kalo boleh, mungkin latar belakang Grotius boleh dijelaskan, utk pandangan awal sblm membahas intisari pemikirannya

Muhammad Ridho Iswardhana: klo ada yg ga bisa baru pindah ke sebelah resh

Ezka Amalia: Beliau lahir di Belanda, merupakan diplomat dan negarawan yang ulung. Beliau juga adalah seorang pengacara

Ezka Amalia: Maaf teman-teman, karena aku tidak bisa mengakses word processing window, jadi kita diskusi di sini ya..

Felix Prayogo: apakah dia seorang idealisme yang menganggap bahwa perang merupakan salah satu alat demokrasi? soalnya melihat dari presentasi mba ezka, menurut Grotius, ada hukum negara dan antar negara yang harus dipatuhi, dan perang merupakan salah satu alat atau masuk dalam kaidah hukum tersebut

Ezka Amalia: Grotius setahuku tidak membicarakn demokrasi. pemikiran Grotius dipengaruhi oleh pemikiran kristiani abad pertengahan yang menyatakan bahwa semua yang ada di dunia diatur oleh hukum, termasuk perang.

Ananta Aldi Ariffianto: selamat pagi, absen dulu ananta aldi 09/280579/SP/23217

Felix Prayogo: menurutku pribadi, berarti secara tidak langsung dia seorang idealisme

Ezka Amalia: Mengapa?

Ezka Amalia: Halo ananta. selamat bergabung!

Felix Prayogo: ya karena dia ingin mengatur bagaimana individu, negara dan sistem internasional berjalan mengikuti kaidah dan aturan (yang kemudian menjadi hukum) yang telah disepakati bersama

Ezka Amalia: Saya masih menunggu jawaban teman-teman terkait setelah membaca pemikiran Grotius, menurut teman-teman apa yang menarik dari pemikiran beliau?

Fitra Hayatun Nisa: kalo menurut saya, sama seperti Felix. Pemikiran Hugo dapat dikatakan modern, pendapat Hugo mengenai "aturan main" perang sepertinya mencoba mengarahkan hubungan antar negara ke arah yang lebih damai.

Felix Prayogo: Grotius bilang perang masih boleh, selama ada alasan yang logis dan ada hal-hal yg dibatasi saat perang itu berlangsung

Muhammad Ridho Iswardhana: kok sepi sih ?

Ezka Amalia: Hal tersebut berarti perang tidak dapat dihindari?

resha ayu putri: kalau menurut saya mengenai hukum internasiona. dan perang terjadi itu bukan lagi karena fear. sama mengenai natural law.

Muhammad Ridho Iswardhana: menurut saya, yang menarik adalah Grotius sangat berbeda dengan para pemikir yg skeptis terhadap moral, dirinya justru mendukung ada moral karena menganggap bahwa semuanya itu butuh tatanan dan aturan sehingga segala hal menjadi bermoral dan berprikemanusiaan yang merepresentasikan bahwa dirinya itu cerdas tapi juga menunjukkan seorang yang idealis dan "saklek" (mungkin karena latar belakang keluarganya yang kaya, terdidik, dan ambisius maupun latar belakang semasa hidupnya Grotius saat Abad Pertengahan yang terpengaruh tradisi pemikiran berdasarkan kepercayaan Kristen saat itu)

Herlambang Aditya Dewa: Hugo Grotius ini menurutku sangat percaya dengan kekuatan hukum, dimana dia percaya semua hal akan teratur jika ada hukum. dan hukum ini sendiri bisa digunakan untuk menopang moral.

Fitra Hayatun Nisa: pemikiran Hugo saya pikir mendobrak pemikiran pemikir eropa abad itu yang cenderung melihat dunia sebagai sesuatu yg chaos dan tidak dpt diperbaiki lagi. karenanya dengan konsep Grotius akan keberadaan hukum internasional menunjukkan kepercayaan Grotius untuk "memperbaiki" situasi dunia

Felix Prayogo: selama ada justifikasi yang logis, iya, perang tidak dapat dihindari

Ezka Amalia: bagaimana dengan teman-teman yang lain? Apakah perang kemudian menjadi hal yang tidak dapat dihindari?

Fitra Hayatun Nisa: perang memang tidak dapat di hindari, tp bisa dibatasi kerusakan yg ada dengan adanya hukum (mnrt grotius). tp grotius juga menyampaikan bahwa perang dapat diakhiri juga. gagasan Grotius juga berperan dalam perjanjian westphalia yg menjadi penanda akhir perang tiga puluh tahun.

Albert Christian: Menurut saya yang menarik dari pemikiran Hugo Grotius adalah soal natural law, serta kemudian memperkenalkan pada jus ad bellum dan jus in bello. Ia menganggap bahwa perang harus dibatasi dengan menggunakan pertimbangan- pertimbangan tertentu, yang mana pemikiran ini agak berbeda dengan pemikir- pemikir sezamannya yang cenderung memiliki perspektif realis. Penggunaan inspirasi dari ajaran Kristen yang terinspirasi mitologi Yunani menjadikan pemikiran Grotius menarik karena dia mencoba mengambil ilham dari salah satu aliran agama. Konsepsi hukum laut juga menjadi salah satu yang menarik karena, memperkenalkan bagaimana Laut dapat diatur untuk digunakan dengan adil.

Willarda Lucky Dwi Ananda: Kalau menurut saya, yang menarik dari Grotius itu adalah bahwa di satu sisi, dia masih sependapat dengan Hobbes, di mana alih-alih individu, aktor utama di dalam politik internasional adalah negara2 yang berdaulat. Namun di sisi yang lain, di mengajukan sebuah pernyataan yang sangat berbeda dengan pernyataan Hobbes, di mana dia menyatakan bahwa negara-negara ini tidaklah berada di dalam perang dan struggle of power tanpa adanya apapun yang mengaturnya. Menurutnya, negara-negara ini terikat oleh natural law, dan oleh sebab itu, Grotius berpandangan bahwa perang dapat direkonsiliasikan dengan hukum.

Herlambang Aditya Dewa: Grotius itu labil. dia ada di tengah-tengah gitu. dia tidak menentang keras perang, tapi tetap ingin mengatur perang itu biar tidak terlalu memberikan damage yang terlalu besar ke masyarakat. tapi,jika stance nya seperti itu dimana dia menjustifikasi perang, maka iya, perang bisa jadi tidak dapat dihindari.

Ananta Aldi Ariffianto: setelah 3 minggu kemarin membahas konsep-konsep realisme saya pikir yang menarik dari pemikiran Grotius adalah bagaimana ia mempunyai prescription lain dimana terdapat asumsi-asumsi dasar seperti tidak ditemukannya lagi konsep-konsep seperti balance of power, struggle for power namun lebih menitikberatkan pada kerjasama dan keseimbangan antar negara atau aktor

resha ayu putri: memang perang tidak dapat dihindari ketika norma2 yang disebutkan hugo grotius dilanggar. perang bisa saja terjadi ketika banyak aspek yang dilanggar bukan hanya sperti

pemikiran sebelumnya mereka melalkukan perang karena karena fear. selain itu juga merupakan pencetus perjanjian westphalia sama yangsepertidikatan fitra

Ananta Aldi Ariffianto: setelah 3 minggu kemarin membahas konsep-konsep realisme saya pikir yang menarik dari pemikiran Grotius adalah bagaimana ia mempunyai prescription lain dimana terdapat asumsi-asumsi dasar seperti tidak ditemukannya lagi konsep-konsep seperti balance of power, struggle for power namun lebih menitikberatkan pada kerjasama dan keseimbangan antar negara atau aktor

Ananta Aldi Ariffianto: dopost, sori

Ananta Aldi Ariffianto: dopost, sori

Willarda Lucky Dwi Ananda: Menurut Grotius, perang bukanlah hal yang dilakukan oleh makhluk yang rasional. Meskipun begitu, Grotius tidak menyangkal bahwa perang merupakan alat untuk memenuhi tujuan alami (natural) manusia, dan oleh karena itu, perang dapat dilakukan apabila memenuhi salah satu dari alasan justifikasi berikut ini: mempertahankan diri, recovery properti, dan hukuman.

Ezka Amalia: Menarik sekali pendapat Lucky. Jika demikian, berarti Grotius masih mempercayai kepentingan namun dengan diselubungi justifikasi moral?

Ananta Aldi Ariffianto: sebenarnya posisi Grotius disini adalah karena ia menolak konsep realisme dan menentang peperangan, oleh karena itu ia kemudian memberikan asumsi mengenai metode-metode dan menjynjung tinggi hak-hak manusia

Muhammad Ridho Iswardhana: Sejak "zaman Nabi" sampai sekarang, perang tidak bisa dihindari karena setiap aktornya memiliki kepentingan tertentu dibalik perang itu, sedangkan Grotius mengatakan bahwa penggunaan kekuatan dalam perang ditujukan untuk melindungi masyarakat ketika hak-hak yang dimiliki oleh mereka dilanggar itu sama saja dia juga mendukung realisme. Hanya saja, yang aneh adalah dirinya juga mengatakan bahwa perang

dilaksanakan secara adil, berarti dia seperti "cari aman" dengan tetap mengakui adanya keadilan dalam perang...

Willarda Lucky Dwi Ananda: emm kalau menurut saya, kata 'diselubungi' itu dalam konteks Grotius ini agak kurang tepat, lebih ke "didasari" oleh justifikasi moral. Dalam hal ini, Grotius menyatakan bahwa dikarenakan sistem internasional yang anarkis, perang dapat digunakan sebagai alat untuk memperjuangkan/mencapai keadilan dan oleh karena itu harus memenuhi syarat-syarat moral. Meskipun begitu, Grotius tetap menyatakan bahwa perang tetap harus dibatasi.

Ezka Amalia: mungkin Ananta berkenan menjelaskan lebih lanjut pendapatnya?

Albert Christian: Seperti yang diungkapkan Grotius, saya melihat bahwa terkadang perang bukanlah hal yang dapat dihindari. Akan tetapi pernag perlu diatur agar korban yang jatuh tidak banyak. Oleh karena itu perlu hukum yang disepakati bersama, yang pada akhirnya dapat mengatur bagaimana perang seharusnya dilaksanakan. Menurut saya konsistensi Grotius tampak dari logika berpikirnya yang berusaha meminimalkan korban perang, karena dari sini tertangkap cerminan penghormatan terhadap kemanusiaan.

Herlambang Aditya Dewa: kalau Grotius konsisten, dan ingin meminimalisir korban perang, kenapa ga dari awal dia menentang keras perang. bukan malah menjustifikasinya asalkan ada alasan-alasan yang dapat diterima itu?

Ananta Aldi Ariffianto: hmm pada dasarnya ia tidak mentah-mentah menolak peperrangan yang ingin saya jelaskan hanya Grotius membawa prinsip-prinsip baru mengenai kesetaraan dan hak-hak manusia yang sebelum-sebelumnya dalam konsep realisme belum pernah ditemukan dalam pemikiran-pemikiran Thucydides, Hobbes, maupun Niebuhr

Ezka Amalia: Menarik sekali pertanyaan Adit. Kita perlu mengingat bahwa Grotius hidup di masa perang merupakan hal yang lumrah atau sering ditemui. Sehingga, menurut saya, perang menjadi hal yang inevitable namun perlu diatur.

Felix Prayogo: well, dalam beberapa kasus, perang yang didasari oleh justifikasi moral terjadi dalam politik internasional kontemporer, seperti AS yang menyerang Irak, Libya (lewat NATO) atas nama preemptive strike dan atas dasar kemanusiaan

Ezka Amalia: Apakah pre-emptive strike dapat dikatakan sebagai bagian dari "fear"?

Albert Christian: Broo adit, konsistensi yang saya lihat dari Grotius adalah bahwa ia ingin tetap meminimalisir korban dalam perang. Setuju sama kak ezka, zaman Grotius, perang merupakan hal yang lumrah. Sehingga hal paling efektif untuk meminimalisir korban adalah bukan dengan menentang perang, tapi mengaturnya. Seperti pernyataan mas ananta bahwa Grotius memang membawa prinsip- prinsip baru dan ini yang membuatnya berpengaruh dalam dunia akademisi.

Willarda Lucky Dwi Ananda: Grotius tidak menolak perang secara sepenuhnya karena Grotius ini bukannya tidak mempercayai adanya clash konflik di antara negara-negara, dan oleh karena sistem internasional yang anarkis, maka akan ada kemungkinan besar di mana perang tidak bisa dihindari. Tapi Grotius juga menyatakan bahwa tidak ada complete clash of conflict, di mana hukum masih mendapatkan posisi di dalam sebuah perang. Jadi Grotius ini seperti mengambil jalan tengah begitu.

Ezka Amalia: Nah jika melihat politik internasional kontemporer, bagaimana teman-teman melihat pelaksanaan perang dan alasan perang yang digunakan negara? Apakah termasuk dalam pemikiran Grotius? Apakah dapat dijadikan justifikasi moral?

Felix Prayogo: bisa saja preemptive strike itu didasarkan pada terganggunya hak2 negara itu, tetapi bisa juga dikatakan bahwa preemtive strike itu fear

Ezka Amalia: Hak-hak seperti apa? jika pre-emptive strike itu fear, maka bukankah Grotius menolak alasan "ketakutan/fear" sebagai alasan perang?

Herlambang Aditya Dewa: orang berantem mana bisa sih diatur? maksudku, dalam kuliah Hukum Humaniter Internasional, banyak sekali kasus yang memanfaatkan celah-celah dalam hukum perang itu sendiri. maka terbukti bahwa hukum itu kurang bisa mengatur perbuatan negara dalam berperang. kondisi perang itu chaos, dimana yang dipikirkan orang yang terlibat hanya bagaimana caranya bisa selamat.

Felix Prayogo: well, sepertinya saya salah, hehe, mari dilanjutkan

Ananta Aldi Ariffianto: dalam melihat fenoma politik internasional kontemporer saya rasa memang ada point-point pemikiran Grotius yang masih relevan seperti adanya organisasi ICRC yang menurut saya buah pemikiran dari Grotius itu dan ratifikasi negar-negara terhadap undangundang mengenai peperangan. namun di lain pihak saya juga melihat irrelevansi dari pemikiran Grotius karena menurut saya kondisi politik internasional kontemporer masih jauh dari justifikasi moral dan konsep-konsep realisme masih melekat erat

Ezka Amalia: Untuk Adit, memang kondisi perang itu chaos. Tetapi mnurut saya, Grotius berpendapat perang itu inevitable, sehingga dia tidak menolak adanya perang. Dia hanya berupaya agar perang itu lebih beradab. lebih menghormati manusia, lebih bisa dikurangi efek buruknya walaupun memang belum tentu efek tersebut dikurangi. Setidaknya dengan pandangan Grotius, kita mampu melihat dunia politik internasional dari alternatif lain.

Fitra Hayatun Nisa: yap bener banget kak Ezka.. Grotius mengatakan walaupun chaos, bukan berarti ga ada jalan untuk mengurangi ke chaosan itu, makanya dia menawarkan keberadaan hukum yang mengatur mengenai perang

Willarda Lucky Dwi Ananda: Menurut saya, di dalam politik internasional, pandangan Grotius inilah yang paling tepat untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi, dan juga untuk preskprisi yang paling tepat untuk menjaga stabilitas politik dan perdamaian. Selain itu, menurut Grotius, pre-emptive war adalah hal yang tidak benar, karena sebagian besar tidak dilancarkan untuk alasan keadilan. Menurutnya, ketakutan (fear) bukanlakh justufikasi yang tepat untuk melancarkan sebuah perang.

Albert Christian: Menurut saya lebih baik ada yang mengatur perang daripada tidak ada yang mangaturnya. Paling tidak itu harus dihargai. Ketika poin penting dari perang, adalah bagaimana caranya survival, maka dengan adanya hukum perang kan juga mengatur bagaimana caranya korban lebih sedikit kan? Bukankah poinnya sama- sama soal survival? Jadi menurut saya usaha untuk meminimalisir korban perang melalui hukum (cara yang tidak koersif) itulah yang harus dihargai. Karena apa yang membuat kita sebagai manusia kalau bukan moralitas dan bukan rasio semata, bukan?

Herlambang Aditya Dewa: di tanggapan mbak Ezka banyak sekali kata yang mencerminkan uncertainty itu. maka dengan banyaknya uncertainty itu bagaimana kemudian Grotius berasumsi bahwa dengan adanya hukum, peperangan tersebut bisa semakin beradab dan teratur seperti itu?

Muhammad Ridho Iswardhana: Menurut saya, sampai kapan pun perang tidak dapat menjadi justifikasi moral. Meskipun Grotius mengatakan bagaimana mengatur perang menjadi sebuah perang yang adil dan berkeprimanusiaan, hanya saja dalam pelaksanaannya toh tetap saja sampai sekarang HKI tidak dapat diimplementasikan secara maksimal, hal tersebut terkesan seperti "manis di mulut saja, tapi pahit di kenyataannya". Mengapa ? Karena setiap negara pasti memiliki kepentingan tertentu yang "terselubung" untuk melakukan perang, meskipun negara tersebut mengatakan bahwa perang ini demi melindungi masyarakat..etc (pencitraan). Contohnya: AS dan Sekutu menyerang Irak dan Libya karena pemerintahnya melakukan kekerasan terhadap rakyat sehingga perlu diserang, sedangkan kebijakan tersebut erat kaitannya dengan kepentingan AS dan Sekutu dalam hal kebijakan energi. Jadi menurut saya, kalau mau berdamai ya berdamai saja, tapi tidak perlu "mengganggu" negara lain atas dasar justifikasi moral toh korban dan akibat perang itu bakal lebih besar ketimbang "kekerasan yang dilakukan suatu negara terhadap rakyatnya"

Willarda Lucky Dwi Ananda: Meskipun banyak pandangan negatif mengenai hukum internasional, namun menurut saya, lebih baik ada hukum internasional daripada tidak ada sama sekali. Kalau ada hukum yang mengatur perang dan konflik saja, masih banyak terdapat mishap

di dalam politik internasional, maka keadaan dunia politik internasional di mana tidak ada hukum sama sekali yang mengatur, saya malah sangat pesimis akan bisa tercapai stabilitas.

Ezka Amalia: Karena menurut Grotius, hukum ada untuk mengatur dunia, dan setiap manusia dan negara wajib mematuhi hukum yang ada dimana hukum yang ada merupakan perjanjian bersama yang dibuat untuk kemaslahatan umat manusia

resha ayu putri: kalo menurutku hugo grotius bukan cuman pengen buat perang itu semakin teratur dan beradap. tapi gimana mereka menggunakan perang u/perdamaian merupakan solusi ketika banyak norma2 yang dilanggar.

resha ayu putri: kalo menurutku hugo grotius bukan cuman pengen buat perang itu semakin teratur dan beradap. tapi gimana mereka menggunakan perang u/perdamaian merupakan solusi ketika banyak norma2 yang dilanggar.

Muhammad Ridho Iswardhana: cc Albert Christian: mengatur perang memang baik dan bijak bert, hanya saja khusus untuk aturan tentang cara berperang yang adil dan berperikemanusiaan itu kok kayanya tetap susah ya dilaksanakan sampai sekarang ? Apa gunanya aturan itu kalau tidak dilaksanakan semua negara ? Terlebih posisi setiap negara itu setara, dan lembaga yang mengatur negara seperti PBB sekalipun langsung "diam dan tak berkutik", ketika yang melakukan perang adalah AS atau Israel, dan tau sendiri bagaimana brutalnya senjata yang dimiliki kedua negara tersebut hingga banyak rakyat sipil menjadi korbannya. Jadi apakah aturan tentang perang yang baik itu murni bisa terlaksana ? Sepertinya hanya sebatas tertulis dan bagi negara kecil saja..

Ananta Aldi Ariffianto: pada dasarnya sama-sama skeptisisme moral namun treatment nya aja yang berbeda antara Grotius dengan yang sebelumnya

Herlambang Aditya Dewa: nah, setuju sekali sama pendapatnya bung Ridho

Ezka Amalia: Bagaimana teman-teman yang lain? ada yang ingin menanggapi pernyataan Ridho?

Albert Christian: Mas Ridho, ketika anda bilang bahwa hukum belum maksimal untuk mengatur bagaimana politik internasional harus dilakukan karena pernag masih terjadi, pernahkah terpikir bahwa paling tidak masih ada hal yang bisa kita lakukan? Apabila dari sejak dahulu dan sekarang setiap orang hanya berpikir bagaimana cara agar kepentingannya tercapai saja (bisa kepentingan positif atau negatif), maka dunia ini akan menjadi chaos. Kita lihat banyak orang yang bertindak tidak semata- mata dengan rasio, dan orang itu bisa merasakan damai (peace). Begitupun dengan yang dilakukan oleh Grotius. Ia memaklumi bahwa perang (mungkin) tidak bisa atau sukar dihindari. Maka ia menawarkan prinsip- prinsipnya yang berguna untuk (paling tidak) agar perang bisa diatur sehingga korban sedikit. Menurut saya, usaha ini loh yang perlu dihargai. Kalau mengkritik terus kan dunia kita kapan jadi baik?? :)

Ezka Amalia: Untuk ananta, treatment berbeda yang seperti apa terkait skeptisme moral?

Felix Prayogo: izin utk meninggalkan diskusi karena ada kuliah setelah ini, Felix Prayogo 10/296826/SP/23880, makasih atas diskusi yang menarik ini

Fitra Hayatun Nisa: mungkin yg jadi masalah disini adalah sepertinya pemikiran kita terbawa sama pemikiran sebelum Grotius. Menurut saya hukum internasiona cukup efektif kok, walaupun memang ada dilema karena bisa jadi tidak semuanya mematuhi. Tapi bisa kita lihat sekarang, dengan adanya hukum dunia jadi lebih damai kan. setiap negara akan berpikir dua kali sebelum melakukan deklarasi perang, peraturan perang membatasi jadi otomatis saat melanggar peraturan tersebut disisi lain ada "citra" yg dilanggar, dan negara yg melanggar peraturan bisa dianggap "tidak beradab" dan bisa jadi kekuasaannya beresiko digulingkan. semacam reaksi berantai. sistem akan mendorong perilaku negara itu.

Herlambang Aditya Dewa: sebelum belajar tentang realisme, kayanya pemikiran saya udah realis duluan. tapi bisalah tanggapan Fitra dijadikan penengah

Muhammad Ridho Iswardhana: Dear Bro Albert Christian: Jujur saja saya skeptis dengan pemikiran Grotius ini ? Mengapa ? Analoginya adalah dirinya hidup di Abad Pertengahan (1300an-1600an) dan dirinya dikatakan sebagai "Father of International Law", sedangkan jarak antara Abad Pertengahan hingga sekarang masih saja terjadi perang, apalagi ada PD I, PD II, Perang Vietnam, Perang Arab-Israel, PerangTeluk, Hingga Perang Libya, harusnya dalam rentang tahun hidup Grotius hingga sekarang jumlah perang dan akibat perang semakin kecil dan minimalisir (seperti kata dirimu), tapi kok malah tetap saja ada perang dan itu korbannya banyak dan manusia juga yang jadi korban ? Menurut saya, alasannya terjadi hal tersebut adalah ketidaktegasan Grotius karena dirinya lebih cenderung "cari aman" dengan berada ditengah tengah antara mendukung perang dan tegas - tegas menolak perang. Sehingga terjadi konstruksi sosial dan internasional bahwa perang itu boleh asalkan .............etc (atas alasan apapun), sehingga negara - negara besar berusaha "menciptakan" perang dengan dalil dan alasan yang sebenarnya hanyalah pencitraan saja. Akan lebih baik apabila, sejak awal perang itu harus dihentikan dan semuanya berdasarkan diplomasi, semua hal yang "menuju / menyebabkan" perang harus diselesaikan bersama sehingga perang bisa

berkurang..berkurang..berkurang..hingga akhirnya damai dapat tercipta.Namun, hal ini membutuhkan aturan yang tegas dan ketat yang dapat mengatur semua dan setiap negara untuk tidak melakukan perang / menyerang negara lain atas dasar maupun alasan apapun. Yang saya tekankan disini adalah ketegasan dan jangan "cari aman", kalau mau berdamai ya berdamai saja, jangan terus mengganggu negara lain dan membolehkan perang dengan alasan mengada-ada (demi perdamaian atau menghentikan kekerasan terhadap rakyat)...

Ezka Amalia: Setuju dengan Fitra. Jika kita memperdebatkan antara pemikiran realisme dengan pemikiran grotius yang idealis, maka tidak akan pernah ada titik temu.

Ezka Amalia: Namun, satu hal yang dapat saya ambil dari diskusi hari ini. Meskipun masih banyak skeptisme terhadap pmeikiran Grotius mengenai huum dan perang, setidaknya Grotius menyediakan sudut pandang baru dalam melihat hubungan internasional dan bagaimana membuat hubungan internasional khususnya dan dunia umumnya terlihat lebih baik.

Muhammad Ridho Iswardhana: Izin meninggalkan diskusi karena harus mengikuti kuliah Polpem AS. Terima Kasih kepada mba Ezka dengan penjelasan Hugo Grotius yang jelas dan runtut dan kepada seluruh teman - teman dalam medium diskusi ini. Muhammad Ridha Iswardhana - 10/296979/SP/23903.

Muhadi Sugiono: As time is slowly coming to an end, could you please preparing to end the session. The initiator or facilitator, please recap your discussion before submitting the work. Thanks for the nice and lively discussion. Have a nice day

Ezka Amalia: Terimakasih teman-teman atas partisipasinya dalam diskusi pagi ini terkait Hugo Grotius. Semoga bermanfaat!

Fitra Hayatun Nisa: terima kasih kak eZka.. :D

Herlambang

Aditya

Dewa:

nulis

NIM

ya

mbak.

Herlambang

Aditya

Dewa

10/299538/SP/24163

Fitra Hayatun Nisa: oiya NIM 10/299087/SP/24053

Herlambang Aditya Dewa: sekalian Albert Christian mbak 10/300868/SP/24249