Anda di halaman 1dari 7

TUGAS INDIVIDU UNIT PEMBELAJARAN 2 BLOK 20 MANAJEMEN KESEHATAN UNGGAS KOMERSIAL

Salah Vaksin

Disusun Oleh : Sarah Rosiana 09/ 283736/ KH/ 6242 Kelompok 15

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012


Unit Pembelajaran 2

Salah Vaksin

I.

Tujuan Pembelajaran (Learning Objectives) A. Mengetahui program vaksinasi pada ayam broiler dan layer. B. Mengetahui hal - hal yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. C. Mengetahui jenis jenis vaksin beserta alasan penggunaannya. D. Mengetahui evaluasi keberhasilan vaksinasi. Mengumpulkan Informasi (Belajar Mandiri) A. Mengetahui program vaksinasi pada ayam broiler dan layer. PROGRAM VAKSINASI AYAM PETELUR ( LAYER ) UMUR VAKSINASI JENIS VAKSIN CARA TERHADAP PEMBERIAN PENYAKIT 1 HARI IB Aktif (live) Tetes mata (TM) 4 HARI ND dan ND aktif dan TM atau suntik Gumboro Gumboro aktif 7 HARI GUMBORO aktif TM 18 HARI ND aktif Air minum 21 HARI GUMBORO aktif Air minum 30 HARI IB aktif Air minum 35 HARI ND aktif Air minum 6 MINGGU ILT aktif Air minum/TM/TH 7 MINGGU SNOT Inaktif Suntik IM FOWL POX Aktif Tusuk sayap 8 MINGGU ND Inaktif Suntik IM 9 MINGGU ND DAN IB aktif Air minum 12 MINGGU ILT aktif Air minum/TH/TM 14 MINGGU ND DAN IB aktif Air minum 15 MINGGU SNOT Inaktif Suntik IM 16 MINGGU ND, IB, EDS-76 Inaktif Suntik IM 20 MINGGU ND DAN IB aktif Air minum Catatan: 1. vaksinasi Mareks disease dilakukan di Breeding farm 2. pada fase produksi beri ND aktif setiap 5-7 minggu 3. vaksinasi AI sesuai anjuran pabrik dan menyesuaikan dengan vaksin lain.

II.

PROGRAM VAKSINASI AYAM BROILER

UMUR

3 HARI 7 HARI 14 HARI 18 HARI

VAKSINASI TERHADAP PENYAKIT ND dan IB Gumboro Gumboro ND

JENIS VAKSIN Aktif Aktif Aktif Aktif

CARA PEMBERIAN Tetes mata Tetes mata Air minum Air minum

B.

Mengetahui hal - hal yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Faktor penyebab keberhasilan dan kegagalan vaksinasi meliputi : Materi, Metode, Mileu/ lingkungan dan Manusia (4M). A. Materi (Vaksin dan Ayam) 1. Vaksin Vaksin berkualitas merupakan syarat mutlak untuk keberhasilan vaksinasi karena berpengaruh langsung terhadap potensi virus vaksin. Dalam mengevaluasi kualitas vaksin perlu diperhatikan pula tanggal kadaluwarsa dan bentuk fisik sediaan vaksin. Vaksin yang baik belum kadaluwarsa, masih tersegel serta tidak ada perubahan bentuk fisik sediaan. Vaksin inaktif bentuk suspensi yang pernah membeku dapat teridentifikasi dengan kecepatan adjuvant mengendap dalam waktu kurang dari 5 menit. Sedangkan pada vaksin inaktif bentuk emulsi relatif sulit dibedakan secara fisik. Vaksin yang sudah kadaluwarsa dan pernah membeku jangan digunakan karena sudah terjadi penurunan bahkan kerusakan potensi vaksin. 2. Kondisi Ayam Kondisi ayam akan berpengaruh terhadap kemampuan pembentukan titer antibodi. Hanya ayam yang sehat yang boleh divaksinasi. Untuk itu diperlukan ketelitian dari peternak untuk melakukan pengecekan terhadap kesehatan ayam. Terdapat beberapa faktor immunosupressant yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh yaitu stres dan penyakit seperti CRD, gumboro, mikotoksin, dll yang dapat mempengaruhi keoptimalan dalam pembentukan titer antibodi. immnunosupressant akan mempengaruhi kelenjar adrenal untuk memproduksi hormon kortikosteroid. Hormon inilah yang akan menghambat kerja organ limfoid (pembentuk kekebalan tubuh) sehingga antibodi yang dihasilkan menjadi tidak optimal. Apabila ayam dalam kondisi sakit, harus dilakukan pengobatan terlebih dahulu untuk mengurangi derajat keparahannya, kemudian baru divaksin. B. Metode 1. Penyimpanan vaksin tidak sesuai (tidak pada suhu 2-8 C) atau beku 2. Terkena sinar matahari langsung 3. Tercemar bahan-bahan kimia seperti desinfektan, kaporit, detergent 4. Tercemar logam-logam berat seperti Zn (seng), Pb (timbal) dan Hg (air raksa)

5. Vaksin inaktif tidak habis dalam waktu 24 jam setelah segel dibuka dan dikeluarkan dari kulkas/marina cooler 6. Setelah dikeluarkan dari kulkas/ marina cooler dan digunakan, vaksin dimasukkan kembali ke kulkas. Vaksin inaktif yang baru dikeluarkan dari kulkas tidak boleh langsung disuntikkan ke ayam. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan range suhu antara tubuh ayam dengan suhu vaksin yang cukup jauh sehingga dapat menyebabkan stres. Untuk meningkatkan suhu vaksin maka sebelum digunakan, vaksin harus terlebih dahulu digenggam-genggam dengan telapak tangan. Vaksin inaktif harus sering dikocok selama pelaksanaan vaksinasi agar bakteri dan adjuvant dapat tercampur secara homogen. Pengocokan yang kurang akan mengakibatkan sebagian ayam hanya mendapatkan adjuvantnya saja dan dengan kata lain ayam tidak mendapatkan 1 dosis vaksin penuh. C. Mileu Mileu merupakan segala sesuatu yang terkait antara lingkungan dengan peternakan. Hal- hal yang dapat memicu tingginya bibit penyakit di lapangan antara lain : 1. Penumpukan feses di kandang 2. Tempat pakan dan minum yang jarang dibersihkan 3. Penyemprotan kandang yang tidak intensif 4. Tidak dilakukan penyemprotan terhadap orang-orang yang akan masuk kandang 5. Lalu lintas orang/kendaraan yang keluar masuk kandang tidak terkontrol 6. Hewan liar/serangga/rodentia yang berperan dalam menularkan bibit penyakit tidak terkendali 7. Pemeliharaan serta managemen yang semrawut antara ayam dewasa dengan ayam kecil 8. Tidak menerapkan sistem all in all out terutama pada ayam petelur D. Manusia Semua orang yang terkait dengan peternakan tersebut memiliki andil yang besar dalam mencegah terjadinya outbreak penyakit. Rendahnya pengetahuan dan kemampuan terutama dalam penanganan dan aplikasi vaksin merupakan titik awal dari berhasil atau tidaknya vaksinasi. Dengan demikian skill dan pengetahuan peternak maupun karyawan perlu ditingkatkan. Peningkatan pengetahuan dapat dilakukan salah satunya dengan mengikuti kegiatan seminar, pendidikan dan pelatihan yang diadakan oleh instansi-instansi terkait. Pelatihan dan pembinaan juga dapat dilakukan secara langsung di lapangan (anonym a. 2011). C. Mengetahui jenis jenis vaksin beserta alasan penggunaannya. Jenis vaksin berdasarkan tipe sediaan : 1. Live Attenuated Vaccines Merupakan vaksin yang diproduksi dari organisme hidup yang telah dilemahkan dalam proses laboratorium sehingga tidak akan menyebabkan sakit. Vaksin ini akan memacu

respon antibody seluler. Organisme dalam vaksin mampu berreplikasi di dalam tubuh hospes. 2. Killed Vaccines atau Innactive Vaccines Produksi vaksin dengan cara membunuh mikroorganisme melalui proses penambahan bahan kimia tertentu, radiasi panas atau matahari. Vaksin jenis ini lebih stabil dan lebih aman juga lebih mudah dalam penyimpanan karena tidak memerlukan pendinginan. Vaksin jenis ini memacu respon imun yang lebih lemah dari vaksin hidup sehingga terkadang memerlukan booster. (Lawheed dan MeeCee, 2005) Perbedaan Live dan Inactivated Vaccine Live Inactivated Kuantitas Ag lebih sedikit, respon vaksinasi Memiliki jumlah Ag yang banyak, tidak dapat adalah kemampuan replikasi di sel hospes. bermultiplikasi setelah pemberian. Dapat diberikan secara massal (air minum, Hampir semua diberikan secara injeksi spray) Adjuvan untuk live vaccines tidak umum Adjuvan diperlukan secara frekuen digunakan Pada burung yang sudah imun, vaksinasi Pada burung imun, penambahan respon booster tidak efektif imun secara frekuen dapat dilihat Menstimulasi imunitas lokal (trachea, usus, Imunitas lokal dapat di restimulasi jika dll) digunakan booster tapi lemah jika bukan merupakan respon sekunder Imunitas yang diperoleh cepat Secara umum onset imunitas lebih lambat Bahaya konaminasi vaksin (EDS, Tidak terdapat bahaya kotaminasi vaksin reticuloendotheliosis virus) Reaksi jaringan dapat dilihat pada berbagai Tidak terdapat replikasi mikroba jaringan sebagai reaksi dari vaksin Mampu dikombinasikan secara terbatas Kombinasi vaksin cenderung mengganggu (Saif, 2003) Jenis vaksin berdasarkan cara pembuatannya : 1. Konvensional : vaksin langsun dikoleksi dari hospes yang terinfeksi. 2. Rekayasa Genetika : mutasi seluruh struktur virus. 3. Rekayasa Genetika Sub unit Virus a. Viral vektor : vaksin yang disisipi antigen virus lain. b. Plasmid vektor : vaksin berupa DNA c. Protein sub unit Jenis vaksin berdasarkan cara pemberian : 1. Vaksinasi In Ovo Vaksinasi in ovo dilakukan selama proses pemindahan telur yang diinkubasi ke penetasan dari setter ke hatcher. Setelah melakukan pelubangan, vaksin marek disuntikkan secara ekstra embryonic. Pemberian vaksin dilakukan ketka TAB berusia 17-

D.

19 hari. Pemberian vaksin 0,05 ml tiap telur dengan tujuan agar ayam terproteksi lebih awal setelah menetas. 2. Subcutan atau Injeksi IM saat menetas Vaksinasi DOC biasanya menggunakan vaksin Marek, pemberian 0,2 ml vaksin secara subcutan di leher belakang atau 0,5 ml secara intramuscular di kaki. Pada mesin vaksin otomatis digunakan jarum berukuran 20 gauge. 3. Spray di Tempat Penetasan Menggunakan box tempat ayam yang dispray dengan ukuran droplet 100-150 mikron (coarse spray) digunakan untuk vaksin ND virus, IB virus, atau vaksin cocci. Vaksin ND-IB biasanya diberikan dalam 7 ml dari distilled water per 100 ayam. Vaksin coccidiosis 2025 ml untuk 100 ayam. 4. Spray di Farm Vaksinasi jenis ini termasuk jenis respirasi vaksin seperti ND dan IB virus. Vaksin ini menggunakan alat yang diadaptasi dari pengunaan insektisida atau pestisida. Cairan vaksin yang digunakan 5 galon untuk 20.000 ayam yang dispray masing-masing kelompok selama 5-10 detik. 5. Intraocular atau Nasal Drop di Tempat Penetasan atau Farm Merupakan metode vaksnasi efektif untuk pemberian vaksin penyakit saluran respirasi seperti ILT. Deposisi vaksin 0,03 ml dari vaksin yang direkonstitusi. Pengecekan vaksin yang telah masuk melalui mulut ayam yaitu di bagian choanae atau ujung lidah. 6. Vaksin Air Minum di Farm Vaksin air minum sebaiknya didahului dengan penyingkiran semua disinfektan seperti chlorine minimal 2 hari sebelum vaksin. Penggunaan buffer akan menetralisir materi yang tidak diinginkan dalam air. Caranya dengan pencampuran susu skim bubuk 1 cup untuk 50 galon air. 7. Wing Web Stab Vaksinasi jenis ini menggunakan alat yang memiliki 2 cabang stainless stell dengan panjang 2 cm dan handle plastik sepanjang 3 cm. Tiap ujung cabang diakhiri dengan jarum. Aplikator yang lain dengan menggunakan grant inoculator. Vaksin ini digunakan untuk vaksinasi Fowl Pox atau Fowl Cholera. Dengan penembusan aplikator ke bagian wing web akan masuk 0,01 ml vaksin. 8. Subcutaneous atau Injeksi Intramuscular di Farm Vaksin ini biasanya digunakan paling tidak 4 minggu sebelum onset produksi telur untuk meminimalisir efek vaksin terhadap performance produksi telur. Vaksinasi SC menggunakan inchi, 18 gauge jarum di area leher. Injeksi IM menggunakan jarum yang berukuran sama dan disuntikkan di bagian dada (facial m. pectoralis) dengan sudut 45o. Dapat pula dilakukan vaksin di bagian kaki dengan lokasi penyuntikan di m. gastroknemius. (Saif, 2003) Mengetahui evaluasi keberhasilan vaksinasi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim a, 2011. Evaluasi Kegagalan Vaksin Koriza. Sumber : http://info.medion.co.id/index.php/component/content/article/2-pengobatan-a-vaksinasi/399-evaluasikegagalan-vaksinasi-korisa (Diakses 10 November 2011) Saif, Y. M. 2003. Diseases of Poultry 11TH Edition. Ames Iowa : Iowa State University Press. Lawhead, J.B. dan MeeCee, B. 2005. Introduction to Veterinary Science. Canada : Thompson Learning Inc.