Anda di halaman 1dari 4

A.

Pendahuluan Fiqih merupakan pengetahuan (ilmu) tentang hukum syariat melalui proses ijtihad, dan ilmu tentang hukum yang tidak melalui proses ijtihad tidak dapat disebut Fiqih. Fiqih dengan pengertian yang bersifat syariat itu lebih spesifik dari pada ilmu. Sedangkan kaidah fiqih merupakan kaidah yang bersifat umum yang mengelompokkan masalah-masalah fiqih terperinci menjadi beberapa kelompok. Menurut pengertian lain fiqih adalah pengetahuan tentang hukumhukum agama yang dihasilkan dengan cara ijtihad. Hukum fiqih memiliki cakupan yang sangat luas, meliputi berbagai peraturan dalam kehidupan yang menyangkut hubungan manusia dengan penciptanya dan hubungan manusia dengan sesama manusia serta semua makhluk, yang dalam pelaksanaannya juga tidak terlepas dari situasi atau keadaan tertentu, maka mengetahui kaidah-kaidah yang juga berfungsi sebagai pedoman berfikir dalam menentukan hukum suatu perkara yang tidak ada nashnya, adalah perlu sekali. Terdapat banyak literatur yang dapat digunakan sebagai pijakan dalam mempelajari kaidah-kaidah fiqih. Adapun kitab tentang kaidah fiqih yang digunakan sebagai referensi utama dalam pembuatan paper halaqoh ini adalah kitab Al-Asybah wa al-Nadhoir karangan al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As-suyuthi. Pembahasan mengenai terdapat dalam kaidah ke-19 dalam bagian ketiga dari kitab Al-Asybah wa al-Nadhoir. Bagian ketiga ini merupakan bagian yang membahas tentang kaidah-kaidah yang diperselisihkan dan tidak dapat dikuatkan salah satunya, karena masing-masing mempunyai dalil yang tidak dapat dikesmpingkan. Secara khusus paper ini akan membahas seputar hukum ijtihad dikaitkan dengan pelakunya (mujtahid). Apakah seseorang masih diperbolehkan melakukan ijtihad dengan berdasar dhonn (prasangka) terhadap suatu perkara, sedangkan dirinya teelah mampu mencapai suatu keyakinan atas perkara tersebut.

B.

Pembahasan a. Pengertian Menurut bahasa, kata ijtihad berasal dari kata jahada-yajhadu yang berarti suatu kemampuan, kesanggupan dan kerja keras untuk mendapat sesuatu yang diinginkan. Menurut Jalaluddin Al-Mahalli dalam kitab Al-Waroqot pengertian ijtihad menurut istilah dapat diartikan mengerahkan segala kemampuan untuk mencapai tujuan yang dimaksud, yaitu untuk mengetahui suatu hukum. Al Quran dan al-Sunnah merupakan sumber utama dalam pemikiran hukum islam. Apabila di dalam Al Quran ditemukan ketentuan hukum yang jelas, maka hukum itulah yang harus diambil. Namun bila tidak ditemukan di dalamnya, maka dicari dalam al-Sunnah. Jika di dalam keduanya tidak ditemukan juga hukum yang sesuai, atau hanya disinggung secarqa samar, maka pencarian hukumnya melalui ijtihad. Pemakaian ketiga sumber hukum islam tersebut harus diaplikasikan secara urut.

b. Uraian tentang Kaidah hukum fiqih tentang memiliki arti bahwa Apakah seseorang masih diperbolehkan melakukan ijtihad dengan berdasar dhonn (prasangka) terhadap suatu perkara, sedangkan dirinya teelah mampu mencapai suatu keyakinan atas perkara tersebut. Pengetahuan tentang hukum-hukum agama dengan cara ijtihad seperti niat dalam wudhu, itu wajib, sholat witir itu sunnah, niat pada waktu malam dalam puasa ramadhan itu suatu syarat, zakat itu tetap wajib atas harta anak kecil dan perhiasan itu tidak wajib, dan kasus-kasus khilafiyyah lainnya. Semua hukum-hukum tersebut diketahui dengan cara ijtihad. Berbeda dengan pengetahuan tentang hukum-hukum yang tidak melalui ijtihad, seperti tentang hukum wajib sholat lima waktu,

hukum keharaman zina dan masalah-masalah qathi (pasti) lainnya. Pengetahuan di sini diartikan Dhonn (dugaan yang lebih cenderung pada kebenaran). Untuk lebih memahami dan mendapatkan jawaban dari pertanyaan di atas, kita bisa memahaminya melalui contoh yang terdapat dalam kitab tersebut serta dalam kitab Al-Qowaidul Fiqhiyah (kaidahkaidah ilmu fiqih) oleh Abdul Mudjib sebagai berikut Contoh 1 Seseorang memiliki dua wadah air, yang satu najis dan yang satu lagi suci. Sedangkan ia pada waktu itu dapat dengan yakin untuk memperoleh air yang suci. Misalkan ia sedang berada di laut. Atau ia memiliki wadah air lainnya yang sudah pasti tidak najis. Atau bisa juga ia menggabungkan air dalam dua wadah tadi sehingga melebihi 2 kullah sehingg air tesebut menjadi suci. Dalam hal ini ia masih diperbolehkan untuk berijtihad, menelitinya berdasarkan dhonn, mana dari dua wadah tadi yang suci. Contoh 2 Seseorang memiliki dua baju. Yang satu najis dan yang satu suci. Dia masih diperbolehkan untuk berijtihad menentukan mana yang suci dan mana yang najis, walaupun ia dapat ganti dengan pakaiannya yang lain yang sudah jelas kesuciannya. Contoh 3 Sholat menghadap Hijir Ismail tidak sah karena dengan yakin dapat menghaadap ke Kabah. Dalam hal ini, seseorang tidak diperbolehkan untuk melakukan ijtihad berdasarkan dhonn, bahwa Hijir Ismail merupakan bagian dari Kabah, kerana riwayat yang menyebutkan bahwa Hijir Ismail termasuk dalah Kabah riwayatnya berbeda-beda.

Dari beberapa contoh di atas, dicantumkan bahwa ijtihad benarbenar dilarang apabila seorang mujtahid telah mendapati nash. Dan dia tidak boleh meninggalkan nash tersebut untuk berijtihad. Atau dengan kata lain ia justru berpaling dari suatu hal yang sudah jelas nashnya pada sesuatu yang sifatnya ijtihad. C. Kesimpulan Fiqih merupakan pengetahuan (ilmu) tentang hukum syariat melalui proses ijtihad, dan ilmu tentang hukum yang tidak melalui proses ijtihad tidak dapat disebut Fiqih. Sedangkan kaidah fiqih merupakan kaidah yang bersifat umum yang mengelompokkan masalah-masalah fiqih terperinci menjadi beberapa kelompok. Menurut bahasa, kata ijtihad berasal dari kata jahada-yajhadu yang berarti suatu kemampuan, kesanggupan dan kerja keras untuk mendapat sesuatu yang diinginkan. Menurut Jalaluddin Al-Mahalli dalam kitab Al-Waroqot pengertian ijtihad menurut istilah dapat diartikan mengerahkan segala kemampuan untuk mencapai tujuan yang dimaksud, yaitu untuk mengetahui suatu hukum. Kaidah hukum fiqih tentang memiliki arti bahwa Apakah seseorang masih diperbolehkan melakukan ijtihad dengan berdasar dhonn (prasangka) terhadap suatu perkara, sedangkan dirinya teelah mampu mencapai suatu keyakinan atas perkara tersebut. Pengetahuan tentang hukum-hukum agama dengan cara ijtihad seperti niat dalam wudhu, itu wajib, sholat witir itu sunnah, niat pada waktu malam dalam puasa ramadhan itu suatu syarat, zakat itu tetap wajib atas harta anak kecil dan perhiasan itu tidak wajib, dan kasus-kasus khilafiyyah lainnya. Semua hukum-hukum tersebut diketahui dengan cara ijtihad.