Anda di halaman 1dari 17

NUTRISI PADA IBU HAMIL Barbara luke

Pengetahuan tentang gizi dalam kehamilan telah mengalami kemajuan dalam beberapa tahun terakhir, dengan meningkatnya bukti yang menghubungkan pertumbuhan janin dan kesehatan ibu dengan beberapa penyakit metabolik dan vaskular.Untuk janin yang sedang berkembang, pemilihan gizi dalam rahim dapat menyebabkan perkembangan adaptasi yang secara permanen dapat mengubah struktur, fisiologi, dan metabolisme yang mendukung kelangsungan hidup janin, tetapi dengan resiko penyakit metabolik dan vaskular pada saat dewasa. Dan untuk ibu, komplikasi kehamilan seperti diabetes selama kehamilan, pre eklampsia , pertumbuan intra uterin yang terhambat dan melahirkan belum cukup bulan serta gangguan metabolik dan vaskular yang dapat menyebabkan mekanisme yang mendasari suatu penyakit. Nutrisi pada ibu ini memiliki peranan yang penting dalam kesehatan ibu maupun anak baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam bab ini akan dibahas tentang pengetahuan kita tentang nutrisi pada ibu. The Guidelines for perinatal care (5th edition. 2002) menjelaskan tentang konseling nutrisi sebagai komponen dari perinatal care dan merupakan hal yang harus dicapai dengan efektif berdasarkan para ahli gizi atau pakar diet. Mereka merekomendasikan berdasarkan american academy of pediatric and american college of obstetricians dan pakar ginekolog meliputi perawatan pada masa prakonsepsi, nutrisi selama kehamilan, postpartum guidelines, dan nutrisi bayi baru lahir. Makanan Selama Kehamilan Baik kualitas maupun kuantitas pola makan selama kehamilan akan sangat mempengaruhi kesehatan baik dari si ibu maupun anak yang dikandungnya. Kebutuhan energi dan nutrisi akan meningkat selama kehamilan untuk menjaga agar ibu tetap sehat dan mengoptimalkan pertumbuhan janinnya. Dalam kehamilan tunggal, kebutuhan kalori harian adalah sekitar 2730 kcal/kgBB untuk trimester pertama dan 30kcal/kgBB + 200-300 kcal untuk kehamilan trimester dua dan tiga. Pada wanita yang berat badannya dibawah rata-rata, kebutuhan kalorinya juga akan disesuakan berdasarkan berat badannya sewaktu hamil. Distribusi kalori dari makronutrien yang direkomendasikan selama kehamilan jumlahnya sama dengan jumlah kalori yang dibutuhkan oleh orang dewasa sehat lainnya : 20% kkal dari protein , 30-35% kkal dari lemak dan sisanya dari kabohidrat. Kesimpulan dari RDA (recommended dietary allowances) dapat dilihat di tabel 36.1

Table 36.1 ringkasan RDA (recommended dietary allowance) dan referensi asupan untuk wanita tidak hamil, hamil dan menyusui usia 1-50 tahun Wanita tidak Nutrisi hamil 19-30 tahun Folat Tiamin Riboflavin Niacin 400 mcg 1.1.mg 1.1 mg 14 mg Wanita tidak hamil 31-50 tahun 400 mcg 1.1 mg 1.1 mg 14 mg 600 mcg 1.4 mg 1.4 mg 18 mg 500 mcg 1.5 mg 1.6 mg 17 mg Hati, sayur hijau, sereal, jeruk oranges Daging, babi, unggas, kacangan, sereal, roti Produk susu, daging, hati, telur, sereal Daging, hati, unggas, ikan, kacangan, sereal, polong Vit A Vit B6 800 mcg 1.3 mg 800 mcg 1.3 mg 800 mcg 1.9 mg 1300 mcg Sayur hijau gelap, kuning atau orang 2.0 mg Daging, hati, unggas, ikan, kacang, kacang polong, sereal Vit B12 Vit C Vit D* Vit E 2.4 mcg 60 mg 5 mcg 2.4 mcg 60 mg 5 mcg 2.6 mcg 70 mg 5 mcg 2.8 mcg 95 mg 5 mcg Daging, hati, unggas, telur, ikan, produk susu Buah sitrus, tomat, sayur hijau Produk susu yang difortifikasi mg Minyak sayur, biji-bijian, Hamil Laktasi (6 bulan pertama) Sumber makanan

8 mg - 8 mg - 10 TE TE 1000 mg 15 mg 320 mg 700 mg 12 mg

mg 12 -TE

-TE

Kalsium Besi

1000 mg 15mg

1000 mg 1000 mg 30 mg 350 mg 700 mg 15 mg 15 mg 310 mg 700 mg 19 mg

Produk susu, salmon Daging, hati, telur, Polong, biji gandum, kacang, sayur hijau Daging, unggas, telur, babi, ikan, produk susu Daging, babi, seafood, telur, polong

Magnesium 310 mg Fosfor Zink Energy 700 mg 12 mg

2200 kkal 2200 kkal 2500 kkal

2700 kkal Protein, lemak dan karbohidrat

Protein

50 g

50 g

60 g

65 g

Daging, unggas, telur, ikan, produk susu

Diadaptasi dari National Academy of Science, Food and Nutrition Board, Recommended Dietary Allowance, 10th edn, 1989, dan Dietary Reference Intakes, 1998 *cholecalciferol, 1 mcg = 40 IU vitamin D

Kegunaan dari suplemen vitamin dan mineral Idealnya, wanita hamil harus mengetahui seberapa banyak nutrisi yang dibutuhkannya dengan pola diet yang teratur. Tetapi, untuk memastikan seberapa intake yang adekuat dari vitamin selama prenatal, wanita hamil tersebut dianjurkan untuk mengikuti kursus tentang kebutuhan vitamin mereka selama prenatal. Dari beberapa survey pola diet nasional, wanita hamil gagal dalam pencapaian RDAs dari 5 komponen nutrisi yaitu : kalsium, magnesium, zinc, vitamin E dan vitamin B6. Dan dampaknya, wanita hamil dengan suplai vitamin yang rendah dapat menyebabkan prematuritas, BBLR, dan gangguan lainnya selama trimester pertama. Suplemen vitamin dan mineral ini memiliki kegunaan yang lebih banyak diantara wanita dengan pria kemudian di antara individu dengan satu atau lebih masalah kesehatan, dan di antara individu lain yang sudah tua. Suplementasi yang berlebihan hingga dua kali lipat dari RDA sedapat mungkin dihindari, karna berpotensi menimbulkan defek pada saat melahirkan. Vitamin-vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A dan vitamin D adalah vitamin yang cukup merusak selama kehamilan. Dari literatur dan data yang didapat, sebuah kasus malformasi dari ginjal pada anak yang ibunya mengkonsumsi 40.000 50.000 IU dari vitamin A selama kehamilan. Bahkan dalam jumlah yang sedikit pun, vitamin A dapat berdampak pada sistem saraf, dan defek prilaku bahkan pendengaran di kemudian harinya. Batas keamanan dari vitamin D lebih rendah dari yang lainnya. Defek pada jantung dan stenosis aorta telah dilaporkan kasuskasusnya baik pada manusia maupun binatang percobaan. Status besi ibu hamil Tidak terdapat kebutuhan yang absolut untuk diet rutin suplemen,dengan kemungkinan pengecualian zat besi. Sebagai contoh kekurangan tidak dapat diperbaiki dengan diet, atau jika wanita memiliki kebutuhan nutrisi yang unik, seperti kehamilan multipel, terdiagnosa hemoglobinopati atau kejang atau kelainan lainnya, suplementasi harian adalah alternatif yang paling rasional.laporan IOM tahun 1990 menganjurkan suplementasi zat besi harian sebanyak 30mg/hari selama trimester kedua dan ketiga, sebagai profilaksis defisiensi besi. Penatalaksanaan anemia defisiensi besi membutuhkandosis harian 60-120mg elemen besi, untuk bisa diserap dengan makanan atau untuk mempermudah diserap saat tidur. Zat besi tidak boleh diserap bersamaan dengan suplemen vitamin dan mineral lainnya, dalam jumlah yang dihambat oleh mineral lain, sehingga zat besi di keluarkan kembali. Untuk mengurangi efek sampingnya, suplemen zat besi tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan snack susu.

Anemia defisiensi besi secara signifikan berhubungan dengan berat bayi lahir rendah, kleahiran preterm, kenaikan berat badan hamil yang tidak adekuat. Dalam studi pada remaja dan hamil muda, anemia defisiensi besi secara signifikan berkaitan dengan pertambahan berat badan hamil yang inadekuat. Anemia defisiensi besi , yang diukur pada usia kehamilan 16-18 minggu (trimester ke 2) dan pada usia kehamilan 25-32 minggu (trimester ke 3), secara signifikan berhubungan kelahiran preterm dengan peningkatan resiko dengan skala OR dari 2,7 sampai 4,3 dan 1,8 sampai 3,5, masing- masing tergantung pada usia dan komposisi rasial pada studi populasi. Kadar serum feritin, yang meningkat pada infeksi akut dan menurun pada defisiensi zat besi, juga berkaitan dengan prematuritas. Serum feritin maternal yang ekstrim, yang diukur pada awal trimester ke 2 (15-17 minggu), juga meningkat pada 24,26 dan 28 minggu telah terkait dengan kelahiran preterm. Ini telah menunjukan bahwa, ketika peningkata kadar serum feritin pada trimester ke 3 terjadi kegagalan penurunan kadar serum feritin, yang signifikan terkait dengan preterm dan kelahiran preterm, dengan anemia defisiensi besi dan kekurangan nutrisi. Status zat besi selama kehamilan juga berkaitan dengan perkembangan janin dan perkembangan penyakit kronis. Rendahnya kadar hemoglobin maternal sangat berkaitan dengan perkembangan plasenta dan rasio berat lahir, yang dilihat sebagai prediksi pemprograman jangka panjang dari hipetensi dan penyakit kardiovaskular. Defisiensi zat besi maternal yang parah mebawa pada hipertropi plasenta adaptif, jatuhnya ke pada sistem metabolisme kortisol, dan menigkatnya resiko hipertensi pada kemudian hari. Karena zat besi yang di anjurkan selama kehamilan melebihi 1 gram, dengan hampir setengahnya kadarnya di dalam sel darah merah meningkat dalam volume darah, prekonsepsi maternal dan status zat besi pada awal kehamilan sangatlah penting. Asupan mineral dan suplementasi Selain sebagai nutrisi yang paling sering sedikit dalam makanan wanita, kalsium, magnesium dan zink telah diidentifikasi memiliki potensi untuk mengurangi komplikasi dan

meningkatkan hasil kehamilan. Suatu tinjauan terbaru dari WHO dapat disimpulkan bahwa nutrisi tersebut akan dievaluasi secara mendalam karena substansi tersebut dapat memiliki efek pada baik gangguan pertumbuhan janin dan juga kelahiran prematur. Kalsium

Selama kehamilan, terjadi peningkatan kebutuhan terhadap kalsium secara fisiologis, sekitar 30 g sampai pertumbuhan bayi aterm, terutama pada trimester ketiga, dimana terjadi osifikasi tulang janin. Diet prenatal yang rendah kalsium dihubungkan dengan penigkatan tekanan darah karena peningkatan reaktifitas otot polos, menghasilkan peningkatan resiko hipertensi dalam kehamilan dan kelahiran prematur. Hampir semua percobaan suplementasi kalsium memperlihatkan terjadi penurunan tekanan darah Hasil dari percobaan suplementasi kalsium pada perempuan dengan risiko tinggi telah menjanjikan, dengan pengurangan yang signifikan dalam kelahiran prematur dikalangan remaja (7,4 % versus 21,1%, P < 0,007) dan secara signifikan (37,4 versus 39,2 minggu, P < 0,01). Studi studi lain memperlihatkan hasil yang tidak konisten dalam penurunan tingkat hipertensi dalam kehamilan, atau tidak ada efek pada persalinan prematur dan kelahiran kecil untuk usia gestasi. Percobaan suplementasi kalsium pada perempuan dengan resiko tinggi (remaja di Baltimor dan wanita dengan asupan kalsium yang sangat rendah di Quito, Ekuador) menurunkan tingkat persalinan prematur. Dikalangan remaja (usia 16 tahun) di Baltimore, dengan asupan kalsium secara keseluruhan sama, grup dengan suplementasi kalsium memiliki insiden persalinan prematur yang lebih rendah daripada grup plasebo (7,4% versus 21,1%, P < 0,007 ). Analisis life table menunjukkan pergeseran ke usia gestasional yang lebih tinggi pada grup dengan suplementasi kalsium. Di Ekuador, lama waktu gestasi meningkat dari 37,4 menjadi 39,2 minggu untuk grup dengan suplemantasi kasium. Disisi lain, percobaan suplementasi kalsium yang besar pada 100 wanita dewa dari Argentina menunjukkan penurunan kehamilan dengan hipertensi, tapi tidak ada efek pada persalinan prematur, dan percobaan multisenter terbaru pada suplementasi kalsium di Amerika pada lebih dari 4500 wanita dewasa menunjukkan tidak ada perbedaan dalam kehamilan dengan hipertensi, persalinan prematur atau kelahiran kecil untuk usia gestasi. Kemampuan suplementasi kalsium untuk menurunkan resiko persalinan prematur mungkin terbatas pada populasi resiko tinggi dimana terdapat asupan kalsium yang sangat rendah, atau seperti dalam kasus remaja dan kehamilan ganda, terdapat peningkatan permintaan untuk nutrisi ini. Suplementasi prenatal mungkin memiliki efek yang lebih jauh dalam kehamilan. Balizan et al mengevaluasi tekanan darah pada anak-anak usia 7 tahun yang ibunya meneria suplementasi kalsium selama hamil. Mereka dilaporkan secara signifikan memiliki tekanan darah sistolik lebih rendah dan memiliki resiko yang lebih rendah untuk hipertensi sistol (relative risk/RR 0.59, 95% CI 0.39 sampai 0.90), khususnya dikalaangan anak-anak yang memiliki kuartil index massa tubuh tertinggi (R 0.43, 95%, CI 0.26 hingga 0.71)

Magnesium Percobaan suplementasi magnesium juga memperlihatkan hasil yang tidak konsisten. Tidak konsistennya hasil ini mungkin karena perbedaan dalam desain penelitian, populasi penelitian, dan penggunaan bersamaan obat lain sepertiagen -simpatomimetik. Studi terbaru memperlihatkan bahwa magnesium tidak hanya efektif sebagai terapi dan profilaksis untuk eklampsia. Pada studi case control yang menilai resiko serebral palsi pada bayi prematur yang terekspos magnesium in utero, Nelson dan Grether melaporkan suatu efek protektif (OR 0.14, 95% CI 0.05 hingga 0.51) terlepas dari apakah magnesium telah diberikan untuk preeklampsia atau sebagai pengobatan untuk persalinan prematur. Dalam studi kohort berbasis populasi paparan magnesium prenatal antara anak-anak yang memiliki berat badan lahir sangat rendah, Schendel et al juga melaporkan efek perlindungan terhadap serebral palsi (OR 0.11, 95%, CI 0.02 hingga0.81) dan mungkin juga terhadap retardasi mental (OR 0.30, 95%, CI 0.07 hingga 1.29). analisis terbaru mengindikasikan bahwa menurunkan morditas jangka panjang dengan eksposur magnesium prenatal adalah tidak mungkin, karena mortalitas selektif pada bayi rentan. Terapi magnesium , sebagai suplementasi prenatal atau sebagai terapi untuk preeklampsia atau persalinan prematur, dapat memegang suatu peran sebagai neuroprotektif Status Zink Maternal Selama masa kehamilan, konsentrasi plasma zink menurun 20%-30% dibandingkan dengan angka non-hamil, hal ini mencerminkan transfer zinc dari ibu ke janin dan perluasan volume normal plasma ibu. Konsentrasi plasma zink dan asupan zink yang tersedia secara signifikan berkorelasi dengan suplementasi zink meningkatkan tingkat plasma ibu. Menggunakan plasma zink sebagai indicator status zink, Neggersetal et al menemukan korelasi positif antara durasi kehamilan dan konsentrasi zink yang masuk kepada perawatan prenatal. Sebuah uji coba secara acak tentang suplementasi zink perempuan dengan tingkat plasma zink dibawah median menunjukkan bahwa suplementasi zink mengakibatkan peningkatan durasi kehamilan kira-kira 0.5 minggu dan peningkatan berat lahir. Tingkatplasma zink dalam kuartil terendah berhubungan dengan frekuensi yang secara signifikan lebih besar dari komplikasi ibu, termasuk infeksi. Nutriture zink ibu, sebagai indeks komposit zink yang diukur dari seluruh darah ibu, rambut, dan kolostrum, telah terbukti berhubungan dengan resiko ketuban pecah dini (premature rupture of membranes / PROM). Wanita dengan PROM

ditemukan memiliki tingkat signifikan zink lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang melahirkan mereka. Scholletal et al mengevaluasi hubungan antara asupan makanan zink dan hasil kehamilan pada kohort-818 berpenghasilan rendah, sebagian besar perempuan minoritas di Camden, NJ, USA. Sebuah asupan zink yang rendah selama kehamilan (< 6 mghari atau <40% dari RDA untuk kehamilan) dikaitkan dengan peningkatan insiden anemia defisiensi besi pada awal untuk perawatan, penggunaan suatu suplemen prenatal yang lebih rendah selama kehamilan, dan insiden yang lebih tinggi dari kenaikan berat badan selama kehamilan yang tidak memadai. Bahkan setelah disesuaikan untuk variable pengganggu lainnya (misalnya asupan energy, usia ibu, etnis, merokok), asupan diet rendah zink dikaitkan dengan dua kali lipat peningkatan resika BBLR (AOR 2,10, 95% CI 0,4-11,47). Disamping itu, ada efek gabungan anemia defisiensi besi yang masuk pada perawatan dan asupan zink yang rendah selama masa kehamilan. Ketika keduanya hadir, ada resiko lima kali lipat peningkatan kelahiran premature (AOR 5,44, 95%, CI 58-18,79). Meskipun bahan nutriture zink secara signifikan telah berhubungan dengan lama masa kehamilan, infeksi, dan resiko ketuban pecah dini (PROM), uji klinis suplementasi zink telah menghasilkan hasil yang samar-samar. Sebuah uji klinis secara acak pada wanita yang diberi suplementasi zink yang levelnya dibawah median melaporkan peningkatan lama kehamilan sekitar 0,5 minggu (p=0,06) dan peningkatan berat lahir, sekitar setengah dari yang dijelaskan oleh durasi yang lebih lama dari usia kehamilan. Konsisten dengan hasil sebelumnya, terdapat peningkatan hasil pada wanita non-obese (pregravid BMI < 26.0). Studi pada zink prenatal melaporkan peningktana dalam perkembangan neurobehavioral janin.

Perubahan lemak tubuh ibu Sebagian besar dari berat badan kehamilan adalah lemak tubuh ibu,yang mana ketika diukur sebagai ketebalan lipatan kulit trisep atau lingkar lengan atas, peningkatan dalam dua trimester pertama dan penurunan pada trimester ketiga mencerminkan pertambahan awal lemak tubuh ibu dan pemanfaatan selanjutnya di akhir kehamilan untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat komponen berat badan ibu khususnya perubahan lemak tubuh mungkin lebih penting dalam menentukan hasil kehamilan dibandingkan berat badan mutlak penelitian sebelumnya dari well nourished women,berdasarkan oksida deuterium dan

underwater weighing serta pengukuran antropometri telah melaporkan pola keuntungan kecil lemak tubuh ibu di awal kehamilan, akumulasi cepat antara 20 dan 30 minggu kehamilan dan tidak ada perubahan antara 30 minggu sampai melahirkan. Sebuah temuan dalam studi dengan kelompok etnis dan ras yang beragam adalah korelasi antara pengukuran lipatan kulit trisep atau MUAC selama trimester kedua dan berat lahir, dengan hilangnya lemak lengan atas atau kegagalan untuk menambah lemak ibu selama trimester kedua terkait dengan pertumbuhan janin yang buruk dan berat lahir rendah berikutnya Memeriksa komponen berat badan pada kehamilan, hediger et al menunjukkan bahwa untuk remaja dan orang dewasa yang berat badan sebelum hamil berada di atas persentil ke-25 untuk usia, hilangnya lemak (> 6,4 cm2) dari 28 minggu sampai 4-6 minggu postpartum (diukur pada pertengahan lengan atas) dikaitkan dengan berat lahir yang lebih tinggi (+144 gr, P<0.01). Pada saat yang sama tampaknya ada sebuah mobilisasi cadangan lemak, terjadi peningkatan di daerah otot lengan. Namun ketika berat badan sebelum hamil berada di bawah persentil 25 untuk usia, hilangnya lemak lengan atas malah dikaitkan dengan berat lahir rendah, menunjukkan bahwa cadangan nutrisi perempuan tersebut mungkin relatif telah habis. Berat badan terus dan peningkatam di daerah lemak lengan atas (>5 cm2 ), disertai dengan hilangnya otot lengan atas juga dikaitkan dengan berat lahir rendah (-123 g,P<0.02). Sehingga perubahan dalam lemak lengan atas merupakan prediktor yang signifikan dari variasi berat lahir bayi dan pemantauan serial dengan antropometri lengan serta berat badan ibu dapat membantu untuk menentukan risiko IUGR Berat Badan yang Menetap Setelah Melahirkan Pertambahan berat badan selama kehamilan merupakan suatu faktor yang paling penting yang mempengaruhi berat badan yang menetap setelah melahirkan, suatu temuan yang sesuai pada seluruh literature kedokteran. Tantangan dengan pertambahan berat badan dalam

kehamilan adalah untuk mendapatkan keseimbangan yang optimal. Yaitu

yang cukup

menguntungkan untuk pertumbuhan janin yang baik, tetapi cukup rendah untuk menghindari berat badan yang menetap setelah melahirkan. Li dan kawan kawan menunjukkan bahwa setiap kilogram pertambahan berat badan ibu dalam trimester kedua dan ketiga berkaitan dengan kenaikan yang signifikan dari berat lahir berturut turut sebesar 62 gr (P < 0.001) dan 26 gr (P< 0.05). Setiap kilogram kenaikan berat badan ibu selama pertengahan kehamilan (tetapi tidak pada akhir kehamilan) juga berkaitan dengan kenaikan yang signifikan dari panjang lahir sebesar 0.24 cm (P < 0.01) dan lingkar kepala sebesar 0.14 cm (P < 0.001). brown dan kawan kawan melaporkan bahwa setiap kilogram pertambahan berat badan ibu selama trimester pertama dan kedua secara signifikan menaikkan berat lahir sebeasar 31 gr (P < 0.0007) dan 26 gr (P < 0.0007), tetapi pertambahan berat badan ibu selama trimester ketiga memiliki efek yang minimal dan tidak signifikan (7 gr, P = 0.40). Penelitian penelitian ini juga melaporkan bahwa setiap kilogram pertambahan berat badan ibu selama trimester pertama, ponderal index bayi baru lahir (dalam kg / m3) meningkat sebesar 0.21 unit ( P < 0.0003) dan setiap pertambahan berat badan ibu pada trimester ketiga, ponderal index bayi baru lahir meningkat sebesar 0.12 unit (P < 0.03), tetapi tidak pada pertambahan berat badan ibu selama trimester kedua. Berat badan bayi baru lahir lebih rendah 211 gr (P < 0.006) dan ponderal index lebih rendah 1.2 unit (P < 0.02) dengan berkurangnya berat badan ibu pada trimester pertama. Demikian juga dengan Strauss dan Dietz, dalam analisis mereka pada National Collaborative Perinatal Project (NCPP) dan Child Health and Development Study (CHDS), melaporkan bahwa pertambahan berat badan ibu < 0.3 kg/minggu pada trimester kedua atau ketiga berkaitan dengan peningkatan risiko IUGR. Rendahnya pertambahan berat badan ibu pada trimester kedua dan ketiga berhubungan dengan resiko relatif IUGR, berturut-turut sebesar 1.8 (95% CI 1.3 sampai 2.6) dan 1.7 (95% CI 1.3 sampai 2.3) dalam penelitian kohort NCPP serta 2.6 (95% CI 1.6 sampai 4.1) dan 2.5 (95% CI 1.7 sampai 3.8) dalam penelitian kohort CHDS. To dan Cheung menunjukkan bahwa wanita yang bertambah berat badannya secara berlebihan setelah pertengahan kehamilan akan mempertahankan berat lebih setelah melahirkan, dan pertambahan berat meraka mempunyai efek yang lebih kurang terhadap berat lahir bayi mereka daripada wanita yang bertambah berat badan di awal kehamilan tetapi tidak bertambah berat badan secara berlebihan di akhir kehamilan. Kac dan kawan kawan dalam penelitian mereka terhadap 405 wanita Brazil usia 18 45 tahun, melaporkan bahwa wanita dengan pertambahan berat badan selama kehamilan paling tinggi dan dengan

lemak tubuh 30% memiliki kemungkinan terbesar untuk berkembang menjadi obesitas maternal. Mereka melaporkan bahwa 35% dari setiap kilogram pertambahan berat bdan selama kehamilan dipertahankan selama 9 bulan setelah melahirkan, bahkan setelah penyesuaian untuk usia, IMT sebelum kehamilan, lemak tubuh, dan tahun sejak pertama kali melahirkan. Dalam studi mekera terhadap wanita kulit putih di Kanada yang sehat dan tidak merokok, Mucati dan kawan kawan melaporkan bahwa pertambahan berat badan selama kehamilan sebesar 12 kg berkaitan dengan berat badan setelah melahirkan yang dipertahankan sebesar 2.5 kg, dan total pertambahan berat badan selama kehamilan lebih berhubungan erat dengan berat badan setelah melahirkan yang dipertahankan daripada berat lahir bayi. Kehamilan Kembar Pada tahun 2002 di U. S. Terdapat 132.535 bayi dari kelahiran kembar, jumlah tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah sistem statistik vital. 82 Insiden kelahiran kembar telah meningkat 65% semenjak 1980 dan meningkat 38% sejak 1990, sedangkan kembar tiga dan kembar-dengan-jumlah lebih-banyak meningkatkan rata-rata sebanyak 13% per tahun dari 1990-1998 dan saat ini menjadi 5% lebih rendah daripada puncak tahun 1998.
83,84 82

Kira-kira

seperempat kenaikan ini terjadi karena usia kehamilan tua, yang dikaitkan dengan frekuensi alamiah kelahiran kembar yang lebih tinggi. Dari hal ini dapat dikatakan bahwa faktor

tunggal paling penting dalam peningkatan angka kelahiran kembar adalah terapi-terapi penambah kesuburan: obat-obat penyubur, inseminasi buatan dan teknologi reproduksi dibantu (TRB). Analisis terbaru oleh CDC memperkirakan bahwa ART berkontribusi sebesar 39-43% atas peningkatan kembar tiga dan kembar-denga- jumlah-lebih-banyak di US sejak 1996, dan sekitar 40% terjadi karena obat-obatan perangsang ovulasi.
85,86

Angka kembar

dua, tiga, dan jumlah-lebih-banyak pada pasien dengan ART diperkirakan menjadi 14 kali lipat dan 54 kali lipat lebih tinggi, berturut-turut, untuk keseluruhan US.
86

Diperkirakan

bahwa ART tercatat lebih dari 40% dari kelahiran kembar tiga tahun 2000 melipatgandakan proporsi kembar tiga dan jumlah-kembar-lebih-banyak yang sudah hamil dengan penggunaan ART tahun 1990. 85 Dari tahun 2000, diperkirakan hanya sekitar 2/3 kembar dan 1/5 kembar-tiga dan kembar-dengan-jumlah-lebih-banyak adalah hamil secara spontan.87 Bayi dari kehamilan kembar tidak sebanding dengan bayi-bayi BBLR (2500g), BBLSR (1500g), kurang bulan (<37 minggu), sangat kurang bulan (<32 minggu) dalam populasi bayi-bayi. (tabel 36.3). perawatan prenatal khusus telah ditunjukkan untuk mengurunkan efek

merugikan dari kehamilan berisiko tinggi ini, termasuk terapi diet bertarget (tabel 36.4) dan rekomendasi penambahan berat badan spesifik-BMI (tabel 36.5)88
Table 36.3 Berat Lahir dan Kehamilan by plurality USA, 2002 Plurality singleton s Jumlah 3889191 125.13 4 Persentase sangat preterm (<32 minggu) Persentase preterm (<37 minggu) Umur kehamilan rata-rata Persentase berat lahir sangat rendah (<1500 g) Persentase berat lahir rendah (<2500 g) Berat lahir rata rata 6.1 % 3332 55.4 % 2347 94.4 % 1687 98.8 % 1309 94.1 % 1105 1.6 % 10.4 % 38.8 % 1.1 % 11.9 % 58.2 % 35.3 % 10.2 % 36.1 % 92.4 % 32.2 % 34.5 % 59.9 % 96.8 % 29.9 % 61.1 % 78.3 % 91.3 % 28.5 % 83.8 % twins triplet s 6898 quadrplet s 434 Quintuplet s 69

Kesimpulan Kemajuan teknologi selama abad 20 akan melanjutkan keberlangsungan hidup. Di decade masa depan nutrisi untuk fertilitas akan menjadikan uterus sebagai alat yang sangat kuat untuk pertumbuhan, perkembangan dan vitalitas. Evaluasi yang berhati-hati dan terapi yang agresif akan menjamin hasil yang positif selama kehamilan dan dasar perkembangan anak. Tabel 36.4 Rekomendasi diet spesifik BMI untuk kehamilan kembar BMI Underweight Normal Overweight <19.8 19.826.0 Kalori Protein (20% dari kalori) 4000 200 gram 3500 175 gram 3250 163 gram 3000 150 gram 26.1-29.0 Obesitas >29

Karbohidrat (40 % dari kalori) 400 gram

350 gram

325 gram

300 gram

Lemak (40 % dari kalori)

178 gram

156 gram

144 gram

133 gram

Susu Biji-bijian Daging Telur Sayuran Buah-buahan Lemak

10 12 10 2 5 8 7

8 10 10 2 4 7 6 8

8 8 6 2 4 6 5

8 8

2 4 6 5

Tabel 36.5. pertambahan berat badan optimal ibu rata-rata dan pertambahan jumlah pertambahan berat badan pada status BMI sebelum hamil Enrollment in local colleges, 2005 IMT sebelum hamil Rata-rata pertambahan BB Kenaikan berat badan total (lbs/week) 0-20 20-28 28 - Sampai 20 Sampai 28 36 38 minggu 25-35 minggu 37 - 49 minggu 50-62

minggu minggu kelahiran Underweight 1.25 1.75 Normal 1 -1.5 - 1.50 1.75 1.251.00 1.25

20-30

30-44

40-54

1.75 Overweight 1.001.25 Obese 0.75 - 1 1.001.5 0.751.25 0.75 15-20 21-30 29-38 1.00 20-25 28-37 38-47

KEY POINT 1. Nutrisi yang diubah dalam rahim dapat mengakibatkan adaptasi perkembangan janin yang secara permanen mengubah struktur, fisiologi, dan metabolisme, dan dapat bermanifestasi sebagai penyakit kronis di masa dewasa. 2. Komplikasi-komplikasi kehamilan serta penyakit metabolik dan vaskuler menjadi bagian dari mekanisme umum penyakit yang mendasarinya. 3. Suplementasi yang lebih dari dua kali dari kecukupan gizi yang dianjurkan selama kehamilan harus dihindari, karena berpotensi menyebabkan cacat lahir. 4. Zat besi sebaiknya tidak diambil sebagai bagian dari suplemen vitamin-mineral, karena adanya penghambatan oleh mineral lainnya, begitupun juga karena pelepasan besi yang sedikit. 5. Kadar hemoglobin ibu hamil yang rendah sangat berhubungan dengan perkembangan plasenta besar dan rasio tinggi-berat lahir plasenta, yang dapat dilihat sebagai prediksi pemrograman jangka panjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler. 6. Anemia zat besi pada ibu hamil yang berat dapat menyebabkan adaptasi plesenta berupa hipertropi plasenta, penurunan sistem metabolisme kortisol, dan peningkatan kerentanan hipertensi di kemudian hari. 7. Kalsium secara aktif ditansfer ke fetus selama kehamilan, dan diet yang rendah kalsium dapat berkaitan dengan peningkatan tekanan darah ibu hamil. 8. Kemampuan suplemen kalsium untuk menurunkan risiko kelahiran preterm mungkin terbatas pada populasi berisiko tinggi di mana adanya pembatasan kalsium yang berat dalam diet atau peningkatan kebutuhan untuk zat gizi ini, seperti dalam kasus remaja dan kehamilan ganda. 9. Magnesium bersifat neuroprotektif dan merupakan agen terapeutik yang efektif untuk persalinan preterm. 10. Zinc secara aktif ditransfer ke fetus selama kehamilan, dengan intake ibu yang rendah serta kadar zink yang rendah secara signifikan berkaitan dengan berbagai komplikasi, termasuk infeksi. 11. Banyak peniliti telah mengkonfirmasi hubungan antara berat badan sebelum hamil yang rendah dengan prematuritas dan retardasi pertumbuhan intrauterin. 12. Risiko kelahiran prematur (<32 minggu) disertai berat badan rendah sebelum hamil dalam populasi sebanyak 31 43 %, tergantung dari ras dan etnik. dapat

13. Meskipun berat badan kumulatif atau total merupakan prediktor penting dari berat lahir, pola dan tingkat/kecepatan kenaikan berat badan juga memainkan peran penting dalam memodifikasi berat lahir dan memprediksi kelahiran prematur. 14. Komponen-komponen kenaikan berat badan ibu hamil, terutama oleh perubahan lemak tubuh, bisa jadi faktor penentu hasil kehamilan yang penting dibandingkan kenaikan berat badan absolut. 15. Berat badan kehamilan adalah faktor yang paling penting yang mempengaruhi retensi berat badan postpartum. 16. Kenaikan berat badan saat hamil trimester ketiga memiliki efek yang kurang terhadap pertumbuhan janin dan lebih berefek tehadap berat badan ibu paska melahirkan. 17. Kehilangan berat badan ibu pada trimester pertama dikaitkan dengan berat lahir yang rendah secara signifikan. 18. Jumlah kelahiran kembar di amerika serikat tinggi di semua waktu. 19. Bayi dari kehamilan ganda secara tidak proporsional mewakili antara populasi bayi dengan berat badan lahir rendah dan bayi prematur. 20. Terapi diet yang ditargetkan, penetapan sasaran kenaikan berat badan sesuai BMI, dan perawatan selama kehamilan semuanya telah terbukti meningkatkan hasil pada kehamilan kembar.