Anda di halaman 1dari 12

APLIKASI NANOTEKNOLOGI PADA INDUSTRI AGRO

A. Nanoteknologi Nanoteknologi mencakup pengembangan teknologi dalam skala nanometer, biasanya 0,1 sampai 100 nm (satu nanometer sama dengan seperseribu mikrometer atau

sepersejutamilimeter). Istilah ini kadangkala diterapkan ke teknologi sangat kecil. Artikel ini membahas nanoteknologi, ilmu nano, dan nanoteknologi molekular "conjecture". Istilah nanoteknologi kadangkala disamakan dengan nanoteknologi molekul (juga dikenal sebagai "MNT"), sebuah conjecture bentuk tinggi nanoteknologi dipercayai oleh beberapa dapat dicapai dalam waktu dekat pada masa depan, berdasarkan nanosistem yang produktif. Nanoteknologi molekul akan memproduksi produksi struktur tepat

menggunakan mechanosynthesis untuk

melakukan

molekul. Nanoteknologi akan

molekul, meskipun belum ada, dipromosikan oleh para pendukungnya nantinya memiliki dampak yang besar dalam masyarakat bila benar-benar jadi.

Nano teknologi mengadaptasi pembentukan organisme dari sel.Sel bergabung dan saling bekerjasama menjadi kumpulan sel (jaringan),kumpulan jaringan bekerjasama menjadi organ, kumpulan organ bekerjasama menjadi sistem organ dan kumpulan sistem organ yang bekerjasama menjadi organisme. Jadi dari kumpulan materi yang di mulai dari ukuran 1 nano akhirnya menjadi suatu "organisme buatan" yang memiliki karakteristik tertentu. Ukuran yg lebih kecil dari nano adalah ngstrm. 1 ngstrm= 1/10 nano meter (nm). sedangkan inti dari atom = 0.00001 nm , semua yang ada di alam semesta ini terbuat dari susunan atom. Dan alam telah memiliki ilmu pengetahuan yang sempurna untuk menyatukannya. Sebagai contohnya, tubuh kita terdiri dari jutaan sel hidup yang tersusun secara spesifik.

Gambar 1. Cara kerja nanoteknologi Ilmuan Nano teknologi harus menggunakan alat scanning tunneling microscopes dan atomic force microscopes untuk mengamati material dalam ukuran nano. Scanning tunneling microscopes menggunakan arus listrik lemah untuk men-scan material tersebut. Atomic force microscopes men-scan permukaan dengan ujung yang sangat presisi.

Pada saat ini, ilmuan telah menemukan 2 macam struktur nano. 1. Nano wires (kawat yg diameternya seukuran 1 nm)>>di gunakan untuk membuat transistor super kecil pada chips komputer. 2. Carbon nanotubes (silinder atom carbon dalam ukuran nano). di mana sekarang lebih populer penggunaanya dibanding nano wires. Lembaran atom carbon di gambarkan berbentuk heksagonal. Jika kita menggulungnya, maka akan menjadi tabung carbon nano (carbon nanotubes). Carbon nanotubes ini memiliki kekuatan yang berbeda2, tergantung pola menggulungnya.Dengan penyusunan atom carbon yg tepat, kita bisa menciptakan carbon nanotubes yang kekuatannya beratus ratus kali lebih kuat dari baja, akan tetapi 6 kali lebih ringan. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk pembuatan mobil maupun pesawat. Dari safety semakin meningkat, dan semakin ringan beban. B. Sejarah Perkembangan Nanoteknologi Nanoteknologi merupakan sebuah topik yang menjadi bahan pembicaraan utama oleh komunitas global, terutama karena keterkaitannya dengan hampir segala macam bidang.

Realita tentang nanoteknologi mampu menghadirkan kita segalanya yang baru, termasuk komputer yang semakin kecil dan semakin cepat, baju yang anti-noda, sensor molekular, dan bahkan terapi kanker yang berpusat pada suatu sel tertentu. Produk-produk yang turut mengimplementasi nanoteknologi juga sedang marak di kalangan masyarakat global, misalnya obat yang mampu menembus kulit hingga bahan material bangunan yang mampu menghadirkan kualitas yang jauh lebih kuat dan tahan lama. Awal dari keseluruhan perkembangan nanoteknologi sebenarnya bermula dari penemuan J.J. Thomson pada tahun 1897 di mana ia menemukan CRT atau cathode ray tube yang mampu digunakan oleh para saintis untuk memisahkan partikel individual yang menyusun atom-atom. Sejak penemuan tersebut, terminologi seperti elektron, nukleus, proton, dan neutron mulai dikenal. Hal ini turut melahirkan pengetahuan tentang molekul, dan bahkan struktur-stuktur kimia. Meski demikian, event atau kegiatan pertama yang memperkenalkan cikal bakal pemikiran tentang nanoteknologi adalah sebuah kuliah berjudul Theres Plenty of Room at the Bottom oleh Professor Richard Feynman pada tanggal 29 Desember 1959. Pada konferensi tahunan American Physical Society di California Institute of Technology (Caltech), ia menjelaskan mengenai sebuah ide mengagumkan mengenai cara memanipulasi dan menguasai benda-benda dalam skala sangat kecil dengan cara membangun dan membentuk atau menyusun setiap atom secara bertahap. Ia juga menjelaskan bagaimana 24 seri Encyclopedia Britannica dapat ditulis di atas kepala jarum pentul, dan tulisan-tulisan tersebut dapat dibaca dengan mikroskop elektron. Idenya cukup sederhana: tuliskan teks-teks yang sangat kecil dan rubahlah skalanya menjadi lebih kecil tanpa mempengaruhi resolusi. Ia menyarankan untuk menggunakan bagian dalam dan bagian permukaan atom untuk menyimpan informasi-informasi tersebut. Feynman pun mengakui bahwa ini merupakan berita lama bagi para biologis karena mereka telah mempelajari sel-sel protein seperti DNA sejak lama. Maka dari itu, Feynman menekankan pada pembaharuan mikroskop untuk merubah sudut pandang dunia. Tidak lama kemudian, Feynman pun mendapatkan Nobel di bidang fisika kuantum bersama dengan Tomonaga dan Schwinger. Tidak mengherankan, Feynman juga disebut sebagai kakek dari nanoteknologi.

C. Perkembangan Nanoteknologi di Indonesia Berdasarkan sejarah perkembangan nanoteknologi, kesimpulan ilmu dan teknologi nano secara garis besar adalah suatu kemampuan para ilmuwan dalam menggunakan implementasi ilmu (khususnya perpaduan antara ilmu fisika dan kimia) dalam rangka mengatur atau memanipulasi susunan molekul atau atom pada skala nano untuk mencapai tujuan tertentu. Realita yang dapat kita saksikan secara nyata di Indonesia adalah bukti nyata upaya miniaturisasi produk dan informasi. Sejak tahun 2008, beragam produk nano telah beredar di sekeliling kita. Implementasiimplementasi dari nanoteknologi ini dapat berupa lapisan pelindung, peralatan, aksesoris otomotif, komputer, hingga makanan dan kemasan. Berdasarkan beragam berita yang beredar dalam masyarakat global, terlihat jelas bahwa para ilmuwan, pelaku industri, dan bahkan lembaga pemerintah maupun masyarakat dunia sedang menaruh perhatian besar pada nanoteknologi, khususnya mereka yang berada di Eropa. Perhatian tersebut tidak hanya ditujukan sebagai upaya untuk mengenal nanoteknologi, namun juga potensi, aplikasi dan bahkan risiko ilmu maupun aplikasi nanoteknologi di berbagai sektor. Namun, patut disayangkan bahwa pemerintah Indonesia belum menunjukkan minat yang besar maupun prioritas terhadap topik ini. Lembaga pemerintah maupun lembaga penelitian yang membahas topik ini pun masih sangat terbatas. Pengembangan nanoteknologi terkesan ditempatkan di bawah ilmu-ilmu lain yang sudah mapan tanpa mempertimbangkan potensi besar yang berada di balik ilmu dan teknologi nano. Meskipun beberapa ilmuwan Indonesia telah berhasil membuktikan kemampuan mereka yang diakui oleh masyarakat global dalam rangka mendukung perkembangan nanoteknologi, namun pihak pemerintah Indonesia tampak kurang memberikan apresiasi yang berarti. Padahal, jika dipertimbangkan kembali, nanoteknologi mungkin saja menjadi solusi yang memajukan bagi Indonesia mengingat beragam sumber daya alam yang berada di Indonesia. Sumber daya alam tersebut dapat menjadi sumber bahan baku yang berarti bagi nanoteknologi. Sementara pada tahun 2001 Presiden Bill Clinton telah meluncurkan proyek NNI (National Nanotechnology Initiative), pemerintah Indonesia terkesan sangat tertinggal dalam menangkap potensi teknologi nano. NNI memiliki tujuan untuk mengkoordinasi beragam penelitian dan perkembangan nanoteknologi antara agen-agen federal di USA. Pada pertengahan tahun 2004, Komisi Eropa juga turut berusaha dalam menyatukan diskusi tentang

nanoteknologi untuk mengusulkan strategi bertanggung jawab dan terintegrasi untuk kepentingan Eropa. Jika berbicara tentang wilayah Asia, maka Jepang adalah salah satu negara yang paling responsif terhadap topik ini. Minister of Education, Culture, Sports, Science and Technology (MEXT) Jepang telah mendirikan nanonet (Nanotechnology Network Centre) sejak lama. Nanonet ditujukan untuk menyediakan akses bagi para peneliti nanoteknologi terhadap beragam fasilitas penelitian yang modern di tiga belas institusi yang turut berpartisipasi dalam nanonet ini. Tidak hanya Jepang, namun negara-negara seperti Korea, Shanghai, dan China pun telah menunjukkan minatnya pada nanoteknologi. Dalam periode pada tahun 2010 sampai 2020 akan tejadi percepatan luar biasa dalam penerapan nanoteknologi di dunia industri dan ini menandakan bahwa sekarang ini dunia sedang mengarah pada revolusi nanoteknologi. Nanoteknologi adalah teknologi pada skala nanometer, atau sepersemilyar meter. Indonesia memiliki peluang untuk mengatasi ketertinggalan dari negara lain melalui pengembangan nanoteknologi. Dengan nanoteknologi, kekayaan sumber daya alam Indonesia dapat diberi nilai tambah guna memenangi persaingan global. Dengan menciptakan zat hingga berukuran satu per miliar meter (nanometer), sifat dan fungsi zat tersebut bisa diubah sesuai dengan yang diinginkan.Dengan nanoteknologi pula, kekayaan alam menjadi tak berarti karena sifat-sifat zat bisa diciptakan sesuai dengan keinginan. Karena itu, kita harus mampu memberi nilai tambah atas kekayaan alam kita. Negara yang tidak menguasai nanoteknologi akan menjadi penonton atau paling tidak akan semakin jauh tertinggal dari negara lain. Nanoteknologi akan mempengaruhi industri baja, pelapisan dekorasi, industri polimer, industri kemasan, peralatan olah raga, tekstil, keramik, industri farmasi dan kedokteran, transportasi, industri air, elektronika dan kecantikan. Penguasaan nanoteknologi akan memungkinkan berbagai penemuan baru yang bukan sekadar memberikan nilai tambah terhadap suatu produk, bahkan menciptakan nilai bagi suatu produk. Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng, peneliti pada Pusat Penelitian Fisika LIPI telah mematenkan alat pembentuk nanopartikel. Temuan ini menjadi terobosan penting dalam mencapai kemajuan di bidang industri dan lingkungan, dengan kata lain untuk mencapai kemajuan teknologi yang lebih efisien, hemat, dan ramah lingkungan

Ramah lingkungan karena dengan nanoteknologi sebuah produk dapat dibuat dengan bahan yang sedikit, tetapi berkualitas. Dr. Nurul Taufiqu Rochman mencontohkan hasil penelitian nanopartikel baja yang sedang ditekuninya bahwa nanopartikel baja diarahkan untuk membentuk materi baja yang lebih ringan dan hemat. Tetapi, kualitas baja itu tidak berkurang, bahkan partikel nano dalam baja mampu menambah kekuatannya. Penelitian nanopartikel baja ini dapat mengurangi bobot mobil mencapai 30 persen, tanpa mengurangi kekuatannya. Begitu pula, pengurangan bobot baja tanpa mengurangi kekuatannya sangat bermanfaat seperti pada pengembangan konstruksi-konstruksi bangunan yang terus berkembang saat ini. Di samping itu, bahan dasar pembuat baja yang diperlukan dapat dikurangi setengah dan eksplorasinya dapat ditekan. D. Aplikasi Nanoteknologi pada Industri Agro Nanoteknologi merupakan bidang yang sangat multidisiplin, mulai dari fisika terapan, ilmu material, sains koloid dan antarmuka, fisika alat, kimia supramolekul, mesin penggandadiri dan robotika, teknik kimia, teknik mesin, rekayasa biologi, teknologi pangan dan tekno elektro. Nanoteknologi dideskripsikan sebagai ilmu mengenai sistem serta peralatan berproporsi nanometer. Satu nanometer sama dengan seperjuta milimeter. Karena ukurannya yang teramat kecil, tren dalam nanoteknologi condong ke pengembangan sistem dari bawah ke atas (bukan atas ke bawah). Maksudnya para ilmuwan dan teknisi tidak menggunakan materi berukuran besar lalu memotongnya kecil-kecil, tapi menggunakan atom serta molekul sebagai materi blok pembuatan yang fundamental. Nanoteknologi ini, sudah di aplikasikan dalam bidang teknologi pertanian misalnya dalam Nano-modifikasi benih dan pupuk / pestisida, teknik pengemasan makanan, energy ramah lingkungan dan teknik jaringan, Nanoteknologi dapat membantu untuk mereproduksi atau untuk memperbaiki kerusakan jaringan Tissue engineering yang menggunakan proliferasi sel secara artifisial distimulasi dengan menggunakan nanomaterial berbasis perancah yang sesuai dan faktor pertumbuhan. Teknik jaringan akan menggantikan pengobatan konvensional saat ini seperti transplantasi organ atau implan buatan. Pada sektor pertanian, nanoteknologi digunakan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, pengolahan makanan dan pengemasan. Karbon nanotube telah digunakan untuk mempercepat perkecambahan dan pertumbuhan bibit tanaman tomat. Teknologi nano juga telah diaplikasikan dalam industri obat hewan, dimana model nanopartikel digunakan untuk

membunuh virus. Aplikasi nanoteknologi pada industri pakan diantaranya adalah pemberian pakan ternak ayam yang mengandung partikel nano selenium. Pupuk berbasis nanoteknologi disebutkan dapat menstimulasi pertumbuhan tanaman dengan cepat, ramah lingkungan dan menggunakan proses slow release sehingga dapat mengontrol pupuk dan menghemat biaya. Industri herbal juga telah menggunakan nanoteknologi dengan menambahkan partikel nano kedalam produk obat herbal. Produk partikel nano dari herbal antara lain partikel nano temulawak dan partikel nano kumis kucing. Dengan adanya nano teknologi dalam pertanian akan dapat meningkatkan produktivitas pertanian, kualitas produk, penerimaan konsumen dan efisiensi penggunaan sumber daya. Akibatnya, ini akan membantu mengurangi biaya pertanian, meningkatkan nilai produksi dan meningkatkan pendapatan pertanian. Ini juga akan menyebabkan konservasi dan meningkatkan kualitas sumber daya alam dalam sistem produksi pertanian. 1. Pupuk Berbasis Nanotenologi Badan Litbang pertanian telah melakukan beberapa penelitian dan dapat disimpulkan bahwa teknologi nano sangat dipercaya untuk mendapatkan hasil pertanian yang memuaskan. Teknologi Nano awalnya hanya digunakan pada kosmetika, tetapi karena penelitian yang dilakukan oleh badan Litbang pertanian, teknologi ini juga dapat digunakan dalam bidang pertanian. Teknologi Nano dapat mengembangkan unsur hara dalam tanah yang berukuran nano dan dapat juga digunakan untuk pengendalian hama dan penykit tanaman. Teknologi yang bekerja pada dimensi 10 pangkat minus 9 ini dapat mengembangkan pertanian masa depan. Dan kenyataannya memang pada zaman sekarang ini diperlukan adanya teknologi yang mampu mengembangkan mutu pertanian di Indonesia agar mendapatkan hasil pertanian yang baik dan memuaskan. karena sumber kehidupan manusia juga bergantung pada kualitas pertanian. Pupuk Bio Active Bravo Nature adalah pupuk yang menggunakan teknologi nano yang bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan hara, perlindungan tanaman, serta

meningkatkan hasil produktifitas tanaman dengan efisiensi dan penghematan sumberdaya lahan. Mengandung komposisi unsur hara makro mikro, serta zat pengatur tumbuh yang diformulasi dan diproduksi sesuai untuk kebutuhan semua jenis tanaman. Kita ketahui bahwa efisiensi penggunaan nitrogen pada sistem konvensional fertilizer saat ini rendah, kehilangan mencapai sekitar 50-70%. Pupuk nanoteknologi memiliki

peluang sangat besar terhadap dampak energi, ekonomi dan lingkungan dengan cara mengurangi kehilangan nitrogen oleh perembesan, emisi dan pengabungan jangka panjang dengan mikroorganisme tanah. Kelemahan ini bisa diatasi dengan sistem pelepasan pupuk menggunakan nanoteknologi. Pupuk organik cair Nanoteknologi Bravo nature bekerja dengan sistem pelepasan hara, memanfaatkan bagian - bagian tanaman dan enkapsulasi dalam partikel nano. Pelepasan pupuk dengan lambat dan terkendali berpotensi menambah efisiensi penyerapan hara. Manfaat dan Keunggulan: 1. Menghemat biaya produksi serta meningkatkan produktifitas. 2. Merangsang pertumbuhan akar, batang, daun, bunga dan buah. 3. Mengandung unsur hara makro, mikro dan protein tinggi sebagai hasil senyawa organik bahan alami nabati dan hewani yang mengandung sel sel hidup aktif. 4. Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama penyakit sekaligus menekan populasi hama dan penyakit tanaman. 5. Mencegah kelayuan dan kerontokan daun dan buah. 6. Mempercepat panen 7. Aman digunakan karena sangat bersahabat dengan lingkungan dan tidak membunuh musuh alami 8. Dapat digunakan bersaman dengan cairan jenis lain(insektisida) 9. Dapat diaplikasikan pada semua jenis tanaman. 2. Nanoteknologi pada Kemasan Makanan Kesehatan dan makanan merupakan bagian terpenting yang harus diperhatikan oleh semua penduduk di dunia. Apabila makanan yang kita makan tidak bersih, maka akan menyebabkan penyakit dan mengganggu produktifitas suatu negara. Makanan yang bersih berawal dari proses pengolahan dan pengemasannya. Proses pengemasan yang tidak sesuai pada suatu produk olahan makanan atau minuman mengakibatkan menurunnya kualitas dari makanan atau minuman tersebut. Rendahnya kualitas produk ini berbahaya terhadap kesehatan masyarakat yang mengkonsumsi produk tersebut. Sebagai contoh, produk yang akan dikemas adalah susu, bila proses pengemasan tidak sempurna atau material yang digunakan pada kemasan tidak sesuai dengan produk, maka akan memudahkan kontaminan masuk dan

mempengaruhi kualitas produk. Pada tulisan ini kami akan membahas mengenai salah satu teknologi pengemasan makanan dan minuman. Makanan dan minuman yang tersedia di pasaran sekarang ini kebanyakan telah melalui suatu teknik pengemasan tertentu. Tujuan pengemasan adalah untuk melindungi dan mengawetkan makanan, untuk menjaga kualitas dan keamanan makanan, dan untuk mengurangi sampah makanan. Material dan teknologi pengemasan makanan yang ada saat ini telah cukup untuk memegang peranan dalam memberikan keamanan dalam penyuplaian makanan. Namun industri makanan dan minuman selalu mencari teknologi baru untuk bisa menambahkan kualitas, umur dan keselamatan dari produk mereka. Datangnya teknologi nano, yang melibatkan manufaktur dan pengunaan material dalam rentang ukuran sekitar 100 nm, telah membuka peluang-peluang baru untuk pengembangan material baru dengan sifat yang terimprovisasi, yang salah satunya adalah pada material kemasan makanan. Teknologi lain yang saat ini baru berkembang dalam bidang pengemasan makanan antara lain, penggunaan jenis plastik baru, formulasi biodegradable materials, preservasi menggunakan radiasi ionisasi, preservasi menggunakan pemanasan microwave, dan preservasi menggunakan tekanan tinggi. Teknologi-teknologi tersebut perlu dievaluasi untuk mengetahui potensial bahaya dan keuntungannya, begitu juga dengan nanoteknologi. Manfaat teknologi nano-komposit Nano-komposit telah diaplikasi dalam berbagai macam bidang, terutama dalam hal pengemasan pada industri makanan. Pada pengemasan nano-komposit digunakan dalam sistem pengemasan tanpa refrigerasi sehingga dapat mempertahankan kesegaran pada makan untuk beberapa tahun. Selain itu nano-komposit memiliki pencegahan (barrier) terhadap gas luar untuk kontak terhadap bahan makanan di dalamnya, termasuk gas oksigen dan karbondioksida. Hal ini dikarenakan, struktur partikel nano-komposit yang saling menutup dengan pola batu bata. Secara umum nano-komposit mememiliki keuntungan dalam sifat-sifat kimia,

mekanis dan fisiknya. Mengenai sifat-sifat mekanis nano-komposit, telah dikenal luas bahwa nano-komposit memiliki kelebihan dalam stabilitasnya terhadap panas sehingga tidak mengalami distorsi yang signifikan, selain itu tidak menghasilkan emisi gas saat terjadi pembakaran. Nano-komposit juga memiliki ketahanan atau konduktifitas listrik yang baik.

Pada bahan kimia, nano-komposit memiliki resitensi terhadap beberapa zat kimia untuk tidak mengalami korosi. Dengan kelebihan pada sifat-sifat yang dimiliki oleh nano-komposit tersebut, tentu akan memberikan keuntungan dalam aplikasinya dalam pengemasan selain sebagai barrier gas. Dengan resistensinya terhadap panas serta tidak mudah rapuh, memberikan kemampuannya dalam proses pada mikrowave, pasterisasi, serta sterilisasi yang membutuhkan suhu yang tinggi.

Potensi Perkembangan Penelitian Packaging Bio-Nanocomposite di Negara Berkembang. a. Korea Di negara korea sudah mengaplikasikan teknologi packaging bionanocomposites dengan berbagai fungsi seperti antimikroba, self-cleaning, pintar dan cerdas diharapkan menjadi pendorong utama dalam pengembangan teknologi kemasan makanan. Di dalam jurnal Rhim et al. (2006) kitosan berbasis nanokomposit dan diuji aktivitas antimikroba terhadap bakteri gram-positif (Staphylococcus aureus dan Listeria monocytogenes) dan Gram-negatif (Salmonellatyphimurium dan Escherichia coli O157: H7). Mereka menemukan kitosan / organoclay (Cloisite 30B) film nanokomposit memiliki aktivitas bakterisidal kuat terhadap bakteri gram-positif dengan aktivitas bakteriostatik yang jelas terhadap bakteri Gram-negatif. Bionanocomposite memiliki potensi besar sebagai generasi berikutnya bahan kemasan dengan sifat mekanik dan penghalang ditingkatkan tanpa menghilangkan sifat biodegradasi. Nanoteknologi termasuk bionanocomposite akan menjadi pendorong utama dalam pengembangan teknologi kemasan. b. Swedia Swedia, merupakan negara yang memiliki divisi manufaktur dan desain kayu dan bionanocomposite, bekerja sama dengan institut teknologi Grenoble, di Perancis sedang mengembangkan bio-nanokomposit dengan bahan baku selulosa yang memiliki berbagai keuntungan yang signifikan misalnya, biaya rendah dari bahan baku; kepadatan rendah; alam terbarukan; konsumsi energi yang rendah, sifat spesifik yang tinggi ; Biodegradabilitas; ketersediaan hampir tak terbatas. Untuk aplikasi penguatan, nanopartikel selulosa hadir beberapa kelemahan, misalnya, penyerapan kelembaban tinggi, wet ability rendah, ketidakcocokan dengan sebagian besar matriks polimer dan pembatasan suhu dalam

pengolahan. salah satu dari bentuk selulosa itu ialah microfibrillated cellulose (MFC). Teknologi dilakukan dengan tekanan yang tinggi hingga partikel nano terbentuk. Namun satu kelemahan yang terkait dengan penggunaan selulosa untuk

nanocomposites polimer adalah kesulitan yang melekat padanya karena untuk memecah mediumnya bersifat non-polar, sedangkan permukaan kutub mereka polar. Dengan kata lain, penggabungan dari nano kristal selulosa sebagai bahan penguat sejauh ini terutama terbatas pada lingkung-an berair atau polar. Terdapat dua teknik yang digunakan untuk menyiapkan polisakarida nanokompositynya yaitu: 1. Air atau penguapan pelarut organik 2. Extrusion dengan beku-kering nanopartikel selulosa. Teknik pertama adalah yang paling umum digunakan. Dari kedua contoh negara di atas potensi untuk mengembangkan bio-nanocomposite dalam aplikasi kemasan di Indonesia sangat memungkinkan. Bila dilihat dari bahan baku yang digunakan penelitian dari negara swedia, negera tersebut menggunakan selulosa. Indonesia merupakan negara yang memiliki bahan selulosa yang melimpah. Namun saat ini dari penelitian yang dilakukan di LIPI . Indonesia bekerja sama dengan universitas di Jepang dan industri otomotif melakukan penelitian dengan target berat badan mobil seringan mungkin namun kuat dan konstruksi bangunan lainnya dengan aplikasi bahan ini. Maka untuk kedepannya diharapkan Indonesia dapat mengembangkan bio-nanocomposite ini dapat di aplikasikan untuk kemasan makanan dan minuman.

DAFTAR PUSTAKA Citra, Sunlita . 2011. Sejarah Perkembangan Nanoteknologi. http://id.shvoong.com/exactsciences/engineering/2159207-sejarah-perkembangan-nanoteknologi/ tanggal 22 Oktober 2012 jam 19.00 Citra, Sunlita . 2011. Perkembangan Nanoteknologi dan Analisa Penerapanya di Indonesia. http://id.shvoong.com/exact-sciences/chemistry/2230991-perkembangannanoteknologi-dan-analisa-penerapannya/ di akses pada tanggal 22 Oktober 2012 jam 19.00 Suhariyono. 2011. Nanoteknologi : Perkembangan dan Teknologi Ramah Lingkungan. http://ibnusulamin.blogspot.com/2011/12/nanoteknologi-perkembangan-dan.html diakses pada tanggal 22 Oktober 2012 jam 19.00 Dienayati , Dara. 2011. Teknologi Nanokomposit pada Proses Pengemasan Makanan. http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/12/20/teknologi-nanokomposit-padaproses-pengemasan-makanan/ di akses pada tanggal 22 Oktober 2012 jam 19.00 Win, Ajie . 2011. Nanotechnology Fertilizer. http://www.facebook.com/notes/ajiewin/nano-technology-fertilizer/10150443713068350 diakses pada tanggal 22 Oktober jam 19.30 diakses pada